VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.4 Analisis Nilai Dual
6.5.2 Analisis Sensitivitas Kendala (RHS)
Analisis sensitivitas Right Hand Side (RHS) menunjukkan besarnya perubahan ketersediaan sumberdaya yang masih diizinkan agar tidak menyebabkan perubahan nilai shadow pricenya. Kepekaan tersebut dapat dilihat pada kolom allowable increase dan allowable decrease. Dalam analisis ini, apabila perubahan yang terjadi masih dalam selang kepekaan, maka kombinasi jumlah produksi setiap bibit tanaman hias dalam perencanaan produksi tidak akan mengalami perubahan. Jika nilai sebelah kanan (RHS) berada di luar selang kepekaan tersebut, maka komposisi perencanaan produkis akan berubah. Analisis Sensitivitas pada nilai ruas sebelah kanan (RHS) dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Analisis Sensitivitas pada Nilai Ruas Sebelah Kanan (RHS)
Right Hand Side
Kendala Current Allowable Increase Allowable Decrease Lahan 2169.30005 INFINITY 1341.43335
Media Tanam 80000.00000 INFINITY 8337.80371
Pupuk Kimia 2400.00000 INFINITY 608.44513
Pupuk Organik 432.00000 INFINITY 402.44357
Larutan HPT 43008.00000 INFINITY 38421.62109
Sekam Bakar 1200.00000 139.24133 1124.15576
Tanaman induk bibit indukan krisan 4320.00000 30059.74023 713.76001 Tanaman induk bibit produksi krisan 61311.00000 INFINITY 27652.99219 Tanaman induk bibit produksi anyelir 1296.00000 9759.90625 81.00000
Tenaga kerja 32448.00000 INFINITY 21566.54297
Kendala Permintaan Bibit Indukan Krisan 10928.00000 2162.90918 INFINITY Kendala Permintaan Bibit Produksi Krisan 1216109.00000 673147.12500 INFINITY Kendala Permintaan Bibit Produksi Anyelir 4050.00000 270.00000 INFINITY
Indukan Botolan Krisan 15620.00000 INFINITY 14247.49805
Indukan Botolan Anyelir 200.00000 INFINITY 191.89999
Tabel 13 menunjukkan bahwa sumberdaya yang memiliki selang kepekaan terbatas yaitu sekam bakar, tanaman induk bibit indukan krisan, dan tanaman induk bibit produksi anyelir. Ketiga kendala ini memiliki nilai batas kenaikan dan
nilai batas penurunan, karena jika terjadi penambahan atau pengurangan di luar selang akan menyebabkan perubahan sebesar nilai shadow pricenya.
6.6 Analisis Post Optimal
Analisis post optimal dilakukan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan dan besarnya perubahan pada solusi optimal atau nilai dual jika terjadi perubahan pada koefisien nilai fungsi tujuan dan nilai ruas kanan kendala. Pada penelitian yang dilakukan, akan dilakukan analisis post optimal yang terfokus pada beberapa skenario, diantaranya:
1. Mengasumsikan harga input berubah yaitu mengalami peningkatan. Nilai input yang diasumsikan berubah yaitu nilai harga bahan kimia untuk pembuatan kultur jaringan. Kenaikan harga input ini didasari oleh harga input yang dipakai perusahaan merupakan harga input untuk pembelian lima tahun yang lalu, padahal pada kenyataannya harga bahan kimia ini telah mengalami peningkatan.
2. Perusahaan mengurangi jam tenaga kerja karena kendala tenaga kerja termasuk kendala yang berlebih. Hal ini dilakukan untuk lebih mengefisienkan jam tenaga kerja yang ada.
Berdasarkan solusi optimal dari skenario post optimal maka diperoleh kombinasi jumlah tanaman dalam satu tahun dan keuntungan maksimum perusahaan sebagai berikut.
6.6.1 Skenario 1
Perubahan harga input produksi yaitu naiknya harga kimia untuk bahan pembuatan media tanam ini dapat mengubah koefisien fungsi tujuan. Selain itu,
total biaya per bibit tanaman hias khususnya untuk bibit botolan akan meningkat. Koefisien fungsi tujuan setelah adanya peningkatan harga media tanam dapat dilihat sebagai berikut:
Maksimun Z
656.47X1 + 75.61X2 + 440.97X3
Perubahan koefisien fungsi tujuan serta meningkatnya total biaya untuk bibit botolan tersebut tidak berpengaruh terhadap kombinasi jumlah bibit yang optimal tetapi dapat berpengaruh pada keuntungan yang diterima perusahaan. Hal ini disebabkan karena perubahan koefisien fungsi tujuan masih berada pada batas sensitivitasnya. Selang sensitivitas untuk kendala bahan kimia untuk media tanam kultur jaringan ini yaitu tidak terbatas untuk batas kenaikannya serta untuk batas penurunannya tidak lebih dari 8337.80371. Selain itu, biaya yang timbul untuk kendala bahan kimia ini sangat kecil yaitu sebesar 0,02 persen dari total biaya yang dikeluarkan untuk satuan bibit yang diproduksi. Sehingga kenaikan harga bahan kimia ini tidak merubah solusi optimal tetapi mengurangi sedikit keuntungan optimal perusahaan.
Keuntungan yang diterima perusahaan untuk skenario satu ini lebih rendah jika dibandingkan dengan solusi optimal. Jumlah keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 101.320.764,46. Selisih keuntungannya lebih kecil Rp 2.051.814,52..
Hal ini disebabkan karena alokasi dana yang harus dikeluarkan untuk kegiatan produksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan total biaya yang harus dikeluarkan pada kondisi optimal. Tetapi keuntungan yang diterima perusahaan setelah terjadi kenaikan harga bahan kimia ini tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi aktual perusahaan. Selisih keuntungannya lebih besar Rp
147.667,85. Kombinasi produksi setelah diterapkannya skenario ini dapat dilihat pada Tabel 14. Hasil output LINDO pada Skenario 1 dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 14. Kombinasi Jumlah Produksi Bibit Tanaman Hias Skenario 1 Jenis Produk Variable Keputusan Skenario 1
Bibit indukan krisan X1 13091
Bibit produksi krisan X2 1226188
Bibit produksi anyelir X3 4320
6.6.2 Skenario 2
Pada analisis nilai dual, salah satu kendala yang berlebih yaitu kendala tenaga kerja. Kelebihan sumberdaya ini harus diefektifkan salah satunya dengan cara mengurangi jam tenaga kerja. Kelebihan jumlah tenaga kerja ini yaitu sebesar 21.566,54jam. Apabila perusahaan mengurangi jumlah jam tenaga kerja sebesar 22.000 jam untuk waktu satu tahun, maka solusi optimal berubah. Perubahan ini dapat dilihat pada Tabel 15. Hasil output LINDO pada Skenario 2 dapat dilihat pada Lampiran 8.
Tabel 15. Kombinasi Produksi Tanaman Hias setelah Post Optimal Skenario 3 Jenis Bibit Tanaman Hias Variabel Keputusan Skenario 2
indukan krisan X1 9545
produksi krisan X2 1231488
produksi anyelir X3 4320
Keuntungan yang dioperoleh perusahaan pada kondisi efisiensi jam tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi aktual perusahaan yaitu sebesar Rp 101.445.825,97. Selisih keuntungan lebih besar Rp 272.729,4.Hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk lebih mengefisienkan jam tenaga kerja adalah dengan mengurangi tenaga kerja atau dengan membagi jam tenaga kerja dengan sistem shift, sehingga jam tenaga kerja bisa lebih efisien.
Hasil olahan untuk ketiga skenario post optimal menghasilkan kombinasi output produksi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Perbandingan Kombinasi Output antara Solusi Optimal dengan Skenario Post Optimal
Jenis Bibit Tanaman Hias Optimal Skenario 1 Skenario 2
Indukan krisan 13091 13091 9545
produksi krisan 1226188 1226188 1231488
produksi anyelir 4320 4320 4320
Keuntungan (Rp) 103.372.579,98 101.320.764,46 101.445.825,97
Tabel 16 dapat dilihat perbandingan kombinasi output yang diproduksi untuk masing-masing skenario post optimal. Dari kedua skenario post optimal tersebut, keuntungan yang diterima oleh perusahaan lebih rendah jika dibandingkan dengan solusi optimal. Keuntungan paling rendah ketika perusahaan mengalami peningkatan salah satu biaya input yaitu biaya bahan kimia.
Kombinasi produksi setelah post optimal tidak berbeda jauh dengan solusi optimal sebelumnya. Ketika perusahaan mengalami peningkatan harga bahan baku yaitu harga bahan kimia, solusi optimal tidak berubah, karena peningkatan harga tersebut masih berada pada selang sensitivitasnya. Selain itu, presentase biaya bahan baku sangat kecil terhadap biaya total sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap solusi optimal. Pada skenario yang kedua, solusi optimal untuk beberapa jenis bibit berubah, diantaranya bibit indukan krisan dan bibit produksi krisan. Jika dilihat dari pemakaian jam tenaga kerja, bibit indukan krisan merupakan produk yang paling banyak menggunakan jam tenaga kerja dibandingkan dengan bibit yang lain sehingga jumlah solusi optimal untuk bibit jenis ini berkurang. Sedangkan untuk jenis bibit produksi krisan menggunakan
jam tenaga kerja paling sedikit sehingga solusi optimal bibit tersebut pada skenario kedua ini mengalami peningkatan.