• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Teknik Analisis Data

2. Analisis Shift Share (SS)

Untuk mengkaji kinerja berbagai sektor ekonomi yang berkembang di suatu daerah dan membandingkannya dengan perekonomian regional maupun nasional digunakan teknik analisis Shift-Share. Dengan teknik ini, selain dapat mengamati penyimpangan dari berbagai perbandingan kinerja perekonmian antar daerah, maka keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) suatu daerah juga dapat diketahui melalui analisis Shift-Share ini (Mukti, 2008: 35).

Pada dasarnya, analisis Shift Share menggambarkan kinerja dan produktifitas sektor-sektor wilayah yang lebih besar (Propinsi/nasional). Analisis ini membandingkan laju pertumbuhan sektor-sektor ekonomi regional (Kota/Propinsi) dengan laju pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi tingkatannya (Propinsi).

Dengan menggunakan analisis Shift Share dapat diketahui perubahan stuktur ekonomi selama periode pengamatan tertentu. Data yang digunakan adalah PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan.

Komponen Share sering juga disebut komponen National Share sementara komponen Shift adalah penyimpanan atau (Deviation) dari national Share dalam pertumbuhan ekonomi regional. Dimana penyimpanganya positif pada daerah-daerah yang tumbuh lebih lambat dibanding pertumbuhan pada regional yang lebih besar (Propinsi/National). Tujuan analisis ini adalah analisis ini di gunakan untuk menentukan kinerja

sektor ekonomi dan identifikasi sektor-sektor ekonomi potensial suatu daerah kemudian membandingkannya dengan daerah yang lebih besar (Regional/Nasional).

Analisis ini memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam 3 bidang yang berhubungan satu sama lain (Lincolin Arsyad 2010:389). Tiga bidang yang saling berhubungan ini meliputi;

a. Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara melihat nilai PDRB daerah anlisis sebagai daerah pengamatan pada periode awal yang dipengaruhi oleh pergeseran prtumbuhan perekonomian Propinsi, sehingga diketahui perubahan-perubahan dan perbandingannya.

b. Pergeseran proporsional (Proportional Shift) digunakan untuk mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan, pada daerah dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar yang dijadikan acuan. Pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada industri-industri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan acuan.

c. Pergeseran diferensial (Differential Shift) digunakan untuk membantu dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan acuan. Oleh karena itu jika pergeseran diferensial dari satu indrustri-indrustri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan acuan.

Pertumbuhan suatu daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh ketiga bidang yang telah diuraikan sebelumnya yaitu: share national, proposional Shift dan Differensial Shift. (Ghalib, 2005:175). Menurut Glasson (1990:95 96) dalam (Dini, 2007:45), metode analisis ini diawali dengan formulasi:

Gj = Yјt - Yјo (Nј+Pј+Dј) = Yјo (Yt/ Yo) - Yјo (P+D) j = Yјt-(Yt/ Yo) Yjo

= ∑i [(Yit/Yio)-(Yt/Yo)] Yiјo = ∑t [Yiјt - (Yit / Yio) Yiјo]

= (P + D) ј –Pј

Dimana:

Gј = Pertumbuhan PDRB total wilayah analisis Nј = Komponen Share

(P+D) j = Komponen NetShift

Pj = Proportional Shift wilayah analisis Dj = Differential Shift wilayah analisis YJ = PDRB Total wilayah analisis

Y = PDRB Total Propinsi wilayah analisis O,t = Periode awal dan periode akhir

Catatan: Simbol E (tenaga kerja) dalam buku asli, diganti dengan simbol Y (PDRB) karena data yang diteliti adalah PDRB.

Jika Pj > 0, maka wilayah analisis akan berspesialisasi pada sektor yang di tingkat Propinsi wilayah analisis tumbuh lebih cepat. Sebaiknya jika Pj < 0, maka wilayah analisis akan berspesalisasi pada sektor yang ditingkat Propinsi tumbuh lebih lambat.

Bila Dj > 0, maka pertumbuhan sektor i diwilayah analisis lebih cepat dari pertumbuhan sektor yang sama di Propinsi wilayah analisis dan bila Dj < 0, maka pertumbuhan sektor i diwilayah analisis relatif lebih lambat dari pertumbuhan sektor yang sama di Propinsi wilayah analisis.

Apabila nilai Pj maupun Dj bernilai positif, menunjukan bahwa sektor yang bersangkutan dalam perekonomian didaerah menempati posisi yang baik untuk daerah yang bersangkutan. Sebaiknya bila nilainya negatif menunjukan bahwa sektor tersebut dalam perekonomian masih memukinkan untuk diperbaiki dengan membandingkannya terhadap struktur perekonomian Propinsi (Harry W. Richardson, 1978, 202).

Untuk sektor-sektor yang memiliki differential shift yang positif maka sektor tersebut memiliki keunggulan dalam arti komparatif terhadap sektor yang sama didaerah lain. Dan untuk sektor-sektor yang memiliki proportional shift positif berarti bahwa sektor tersebut konsentrasi di daerah dan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan daerah lainnya.

Apabila negatif maka tingkatan pertumbuhan sektor tersebut relatif lamban. Pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional disebut pengaruh pangsa (share). Pertumbuhan atau perubahan perekonomian suatu daerah dianalisis dengan melihat pengaruh pertunbuhan ekonomi nasional terhadap variabel regional sektor/industri daearah yang diamati. Hasil perhitungan tersebut akan menggambarkan peranan nasional yang mempengaruhi pertumbuhan perekonomian daerah. Diharapkan bahwa apabila suatu Negara mengalami pertumbuhan ekonomi maka akan berdampak positif terhadap perekonomian daerah.

Secara umum nilai Pj dan Dj tidak dapat bernilai sama dengan nol, hal ini disebabkan nilai sama dengan nol menunjukan bahwa pertumbuhan total PDRB. Sektor pada daerah tersebut tidak mempunyai nilai atau sama dengan nol.

Hal ini kemungkinan sangat kecil karena total PDRB sektor daerah tersebut bernilai negatif, hal itu menunjukan bahwa bahwa sektor pada daerah tersebut mengalami kebangkrutan.

Menurut Lincolin Arsyad (2010:390), kelemahan dari analisis Shift Share antara lain analisis ini hanya dapat digunakan untuk analisis ex-post, masalah benchmark berkenaan dengan homothetic change, apakah t atau (t+1) tidak dapat dijelaskan dengan baik, terdapat pada priode waktu tertentu di tengah tahun pengamatan yang tidak terungkap. Analisis ini tidak handal sebagai alat peramalan, mengingat bahwa regional shift tidak konstan

dari suatu priode ke periode lainnya, analisis ini tidak dapat dipakai untuk melihat keterkaitan antar sektor dan tidak ada keterkaitan antar daerah.

3. Tipologi

Karakteristik tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi daerah berdasarkan Klassen tipologi digunakan untuk mengetahui pola dan struktur petumbuhan ekonomi masing-masing daerah.

Gambaran tentang tipologi di gunakan untuk daerah yang akan di amati menurut (Saerofi, 2005:66), Tipologi sebagai berikut:

a. Tipologi I: Sektor tersebut adalah sektor basis dengan LQ rata-rata >1 dan pertumbuhan di Kota/Propinsi analisis lebih cepat dibandingkan Propinsi (Dj rata-rata 0) meskipun di tingkat Propinsi pertumbuhannya cepat (Pj rata-rata >0).

b. Tipologi II: Sektor tersebut adalah sektor basis dengan LQ rata-rata >1 dan pertumbuhan di Kota/Propinsi analisis lebih cepat dibandingkan dengan Propinsi (Dj rata-rata > 0) karena ditingkat Propinsi pertumbuhannya lambat (Pj rata-rata < 0).

c. Tipologi III: Sektor tersebut adalah sektor basis dengan LQ rata-rata > 1 dan di Kota/Propinsi analisis pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Propinsi (Dj rata-rata < 0).

d. Tipologi IV: Sektor tersebut adalah sektor basis dengan LQ rata-rata > 1 dan di Kota/Propinsi analisis pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan

Propinsi (Dj rata-rata < 0) padahal ditingkat Propinsi pertumbuhannya juga lambat (Pj rata-rata < 0 ).

e. Tipologi V: Sektor tersebut adalah sektor non basis dengan LQ rata-rata < 1 dan pertumbuhannya di Kota/Propinsi analisis lebih cepat dibandingkan pertumbuhannya di tingkat Propinsi (Dj rata-rata > 0) padahal di Propinsi sendiri pertumbuhannya juga cepat (Pj rata-rata > 0). f. Tipologi VI: Sektor tersebut adalah sektor non basis dengan LQ rata-rata

< 1 dan pertumbuhannya di Kota/Propinsi analisis lebih cepat di bandingkan pertumbuhan di tingkat Propinsi (Dj rata-rata > 0) meskipun di Propinsi sendiri pertumbuhannya lambat (Pj rata-rata < 0).

g. Tipologi VII: Sektor tersebut adalah sektor non basis dengan LQ rata-rata < 1 dan pertumbuhan di Kota/Propinsi analisis lebih lambat di banding Propinsi (Dj rata-rata < 0) meskipun di Propinsi sendiri pertumbuhannya lambat (Pj rata-rata > 0).

h. Tipologi VIII: Sektor tersebut adalah sektor non basis dengan LQ rata-rata < 1 dan pertumbuhan di Kota/Propinsi analisis lebih lambat di banding Propinsi dengan Dj rata-rata < 0 meskipun di tingkat Propinsi sendiri pertumbuhannya lambat (Pj < 0).

Table 3.1

Makna tipologi sektoral ekonomi

Tipologi LQ Rata-rata Dj Rata-rata Pj Rata-rata Tingkat Kepotensial I (LQ > 1) (Dj > 0) (Pj > 0) Istimewa/Unggulan II (LQ > 1) (Dj > 0) (Pj < 0) Baik sekali/Potensial I III (LQ > 1) (Dj < 0) (Pj > 0) Baik/Potensial II IV (LQ > 1) (Dj < 0) (Pj < 0) Lebih dari Cukup/Potensial III V (LQ < 1) (Dj > 0) (Pj > 0) Cukup/potensial IV VI (LQ < 1) (Dj > 0) (Pj < 0) Hampir dari Cukup/Potensial V VII (LQ <1) (Dj < 0) (Pj > 0) Kurang/Potensial VI VIII (LQ < 1) (Dj < 0) (Pj < 0) Kurang Sekali/Potensial V Sumber: Dini (2007:71)

Dokumen terkait