• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG BUDAYA MUSIK, TRANSKRIPSI, DAN ANALISIS

5.5 Analisis Siklus Ayat-ayat Amrit Kirtan Halaman 363

Dibawah ini merupakan hasil analisis ayat-ayat Amrit Kirtan halaman 363 berdasarkan urutan dinyanyikannya dan berapa kali dinyanyikan.

Ayat 5 : dinyanyikan secara lengkap 2 kali dan separuh bagian pertama dan kedua 4 kali.

“Amret Namo Parmeser Tera Jo Simereh So Jiwe”

Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua Lengkap

Ayat 6 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 4 kali dan separuh bagian kedua 2 kali.

“Jes Nu Kerim Perapete Howe So Jan Nermel Tiwe Separuh bagian pertvcama Separuh bagian kedua

Ayat 5 : dinyanyikan secara lengkap 2 kali. Diselingi musik saja 16 bar.

Ayat 1 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 2 kali dan separuh bagian kedua 2 kali.

“Par Berm Hoa Shai Kba Kirtn Suke Dahi “

Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Diselingi musik saja 4 bar.

Ayat 2 : dinyanyikan secara separuh bagian separuh pertama 2 kali dan separuh bagian kedua 4 kali

“Gur Pure Ki Bani Jap Anande Keroh Nit Parni”

Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Ayat 5 : dinyanyikan secara lengkap 2 kali. Diselingi musik saja 7 bar.

Ayat 3 : dinyanyikan secara lengkap 1 kali dan separuh bagian kedua 3 kali.

“Har Saca Simeroh Phai”

Separuh bagian kedua Lengkap

Diselingi kadensa “Waheguru” 4 kali.

“Waheguru...Waheguru...Waheguru Ji..Waheguru..”

Ayat 4 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 2 kali dan separuh bagian kedua 4 kali.

“Sadeh Sangh Seda Sok Paiyeh Her Biser Na Kabehu Jaih”

Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Ayat 5 : dinyanyikan secara lengkap 2 kali. Diselingi musik saja 13 bar.

Ayat 7 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 4 kali dan separuh bagian kedua 4 kali.

“Begen Benasen Sabe Doke Nasen Gor Cereni Mano Laga Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Diselingi musik saja 4 bar.

Ayat 8 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 2 kali dan separuh bagian kedua 4 kali.

“Gone Gawte Acote Abe nasi Ane deno Her Range Jaga”

Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Ayat 5 : dinyanyikan secara penuh 2 kali, separuh bagian kedua 3 kali dan secara penuh kembali 2 kali.

Diselingi musik saja 13 bar.

Ayat 9 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 4 kali dan separuh bagian kedua 4 kali.

“Mou Iceh Sehi Vele Pae Har Ke Ketah Suheli”

Ayat 10: dinyanyikan secara separuh bagian pertama 2 kali dan separuh bagian kedua 4 kali.

“Adeh Ant Nide Nanek Koh So Prbe Howa Beli Separuh bagian pertama Separuh bagian kedua

Ayat 5 : dinyanyikan secara separuh bagian pertama 3 kali, separuh bagian kedua 7 kali dan secara lengkap 2 kali.

Kirtan diakhiri dengan mengucapkan oleh seluruh peserta Ibadah ”Waheguru Ji Ka Khalsa, Waheguru Ji Ki Fateh”.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Sikh merupakan agama termuda ke 5 terbesar di dunia. Perkembangannya sangat pesat yang dimulai dari Amritsar India ke seluruh dunia dan juga Indonesia. Masuk ke Indonesia melalui pedagang dan juga prajurit yang dibawa oleh tentara Inggris pada awal abad 19. Di Indonesia Sikh belum menjadi agama resmi, mereka hanya diakui sebagai suatu kepercayaan dan berada di bawah naungan Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Masyarakat Sikh tersebut membawa serta ajaran agama dan kebudayaan mereka, dan salah satunya adalah Kirtan. Kirtan merupakan nyanyian yang diiringi instrumen musik India yang isinya merupakan pujian kepada Tuhan dan riwayat para Guru pembawa ajaran mereka. Kirtan dinyanyikan pada waktu-waktu tertentu dan merupakan kegiatan ritual rutin Masyarakat Sikh. Saat mereka mengadakan acara pernikahan, kematian ataupun syukuran, Kirtan merupakan hal wajib yang akan dilaksanakan dalam acara tersebut.

Sama seperti agama-agama atau kepercayaan yang lain, Sikh juga melakukan ritual rutin setiap minggunya yang diadakan pada hari minggu dan disini juga Kirtan dinyanyikan oleh Pendeta, pemain musik dan masyarakat yang hadir. Ibadah berlangsung di Gurdwara Tegh Bahadur Polonia yang dimulai sejak jam 09.00 WIB sampai jam 13.00 WIB.

Lirik-lirik Kirtan berasal dari Guru Granth Sahib; kitab suci Sikh dan diturunkan ke buku Amrit Kirtan sedangkan melodi atau musiknya berdasarkan perasaan atau pembawaan oleh pemain musik tersebut dan disesuaikan juga pada

buku Amrit Kirtan hal 363 yang ditulis oleh Guru Nanak. Teksnya berisi tentang puji-pujian kepada Tuhan.

Kirtan yang dibahas dalam tulisan ini terdiri dari 10 ayat. Bentuk atau pola nyanyiannya adalah stropic atau gaya nyanyian yang diulang dengan teks yang baru atau berbeda. Dengan kata lain, pembacaan Kitab ini adalah nyanyian yang lebih mementingkan kata-kata daripada melodi atau disebut dengan logogenic. Gaya musik vokal yang dipakai dalam pujian ini adalah melismatis dan juga sillabis.

Melismatis adalah apabila satu suku kata dinyanyikan dengan beberapa nada. Sedangkan silabis adalah apabila setiap nada dipakai untuk setiap silabel atau suku kata.

6.2 Saran

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam membuat tulisan ini. Untuk itu, bagi para peneliti selanjutnya diharapkan untuk semakin menyempurnakannya.

Bagi para peneliti selanjutnya, peneliti juga berharap supaya mengkaji kegiatan-kegiatan ritual, musik dan kebudayaan oleh suku Punjabi atau agama Sikh ini. Karena dalam bidang ilmu etnomusikologi masih sangat sedikit yang membahas tentang kebudayaan dari masyarakat ini.

Bagi pemilik kebudayaan ini yaitu masyarakat Sikh, penulis berharap dapat memberikan pengetahuan tentang eksistensi atau keberadaan budayanya. Dan penulis berharap supaya masyarakat Sikh tetap mempertahankan dan meningkatkan kesatuan komunitas dengan menjalankan kebudayaan-kebudayaan yang ada pada masyarakat itu sendiri.

Demikian saya menyelesaikan tulisan ini, semoga dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif terhadap apresiasi budaya dan pengetahuan terhadap ilmu pengetahuan secara umum dan bidang etnomusikologi secara khusus.

Dokumen terkait