KAJIAN PUSTAKA
A. Katekese Analisis Sosial
2. Analisis Sosial
a. Pengertian Analisis Sosial
Analisis sosial dapat dipahami sebagai “usaha untuk mendapatkan informasi secara lengkap mengenai realitas sosial dengan mempelajari keterkaitan historis dan strukturalnya”. (Henriot, 1986:30). Analisis sosial digunakan sebagai instrumen untuk memahami realitas sosial yang terjadi dari berbagai aspek kehidupan. Aspek yang dimaksud dalam bagian ini adalah aspek historis dan struktural. “Analisis secara historis adalah studi tentang perubahan-perubahan sistem sosial dalam kurun waktu, sedangkan analisis sosial secara struktural menyajikan bagian yang lebih representatif dari kerangka kerja sebuah sistem dalam momen waktu tertentu” (Henriot, 1986:31). Melalui analisis itu, dapat ditemukan berbagai asumsi yang aktif bekerja mempengaruhi kehidupan sosial.
Tujuan utama melakukan analisis sosial adalah melakukan penyembuhan atas kesenjangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat luas.
b. Pengertian Katekese Analisis Sosial
Kaitan analisis sosial dengan katekese sangat erat, terlebih katekese yang kontekstual dengan situasi umat. Hal ini bisa kita lihat dari kehidupan Gereja dan persoalan yang dialami dalam mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Gereja mencakup hidup manusia yang terlahir dari latar belakang budaya yang plural.
Dengan demikian, bisa dipahami bahwa Gereja juga adalah gambaran sosiologi manusia yang saling interaktif satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, diperlukan katekese di tengah kehidupan sosial agar mampu melahirkan Gereja yang melayani. Menurut Banyu Dewa (2018:183), katekese sosial adalah “upaya
berkatekese secara eksplisit berpangkal pada pengalaman kontekstual dan membantu penghayatan iman dalam konteks itu. Katekese sosial diperlukan karena penghayatan iman Kristiani selalu terjadi dalam situasi konkret”.
c. Dimensi Analisis Sosial
Di dalam analisis sosial ada dimensi yang perlu dipahami, agar analisis yang dilakukan dapat difokuskan pada bidang yang jelas. Dimensi-dimensi ini mencakup kehidupan masyarakat yang lebih nyata, misalnya dimensi ekonomi.
Dimensi ini mencakup kehidupan ekonomi, bagaimana terjadi kemiskinan dan pasar bebas dibahas di dalam dimensi ini. Begitu juga dengan dimensi-dimensi sosial lainnya. Di dalam penulisan skripsi ini penulis menyajikan lima bagian dimensi sosial yang tercakup dalam analisis sosial, di antaranya:
1) Dimensi ekonomi
Dimensi ekonomi ini adalah dimensi yang menunjukkan situasi/realitas ekonomi umat, di mana di dalamnya bisa ditemukan banyak persoalan ketidakadilan ekonomi yang terjadi di tengah masyarakat secara luas.
Memahami dimensi ini, fasilitator katekese akan lebih mudah membantu umat agar mampu menemukan refleksi-refleksi yang meneguhkan mereka.
2) Dimensi politik
Dimensi politik menjadi bagian yang menggambarkan penerapan kekuasaan di tengah masyarakat, siapa yang memimpin, yang membuat kebijakan publik dan persoalan hak dan kewajiban sebagai manusia yang memiliki identitas sipil. Seperti yang ditegaskan oleh Lalu (2007:108), bahwa
“katekese mestinya terarah untuk memperhatikan faktor-faktor dimensi ini dalam membangun manusia pada kebebasan dan kematangan lewat rahmat Kristus”.
3) Dimensi sosial
Bagian ini adalah dimensi yang memperlihatkan golongan sosial dalam masyarakat, golongan petani, buru, tuan tanah sampai pada golongan masyarakat kaya. Adanya golongan masyarakat ini membawa kesenjangan sosial yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Salah satunya contoh kesenjangan sosial yang masih terjadi sampai saat ini adalah kesenjangan pendidikan. Menurut Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat (2021:161), kegiatan peserta didik selain aktivitas sekolah juga bekerja mengurus rumah tangga. Selama masa Pandemi Covid-19, presentase peserta didik yang bekerja cenderung menurun jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelumnya.
Pernyataan Badan Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat ini menggambarkan bahwa masih banyak peserta didik yang harus membagi waktu untuk melakukan pekerjaan lain di luar dari aktivitas belajar di sekolah. Maseviciute dalam Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat (2021:165) menyatakan bahwa “terdapat dua alasan mengapa peserta didik bekerja, yaitu karena alasan ekonomi atau untuk mencari pengalaman kerja”.
4) Dimensi kultural
Dimensi ini adalah dimensi yang menggambarkan situasi budaya local yang
memberikan pengaruh dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Di dalamnya juga berkaitan dengan ajaran moral dalam budaya yang telah menjadi pendidikan dasar setiap individu. Lalu (2007:109) menegaskan bahwa bagian ini penting “karena kita perlu melihat apa yang cocok dalam kebudayaan itu dan yang dapat ditingkatkan oleh Roh Yesus, dan apa pula yang ditantang oleh semangat Injil”.
5) Dimensi religius
Dimensi ini adalah dimensi yang amat esensial bagi kehidupan masyarakat manusia secara umum. Melalui dimensi ini status sosial masyarakat menjadi terorganisir dalam kelompok agama yang dianut.
Menurut Lalu (2007:109), “di dalam dimensi ini pertanyaan akhir dan masalah-masalah kehidupan yang terjadi selalu diintegrasikan ke dalam dimensi ini”. Karenanya, dimensi ini mendapatkan perhatian khusus dan bahkan ada yang studi lebih serius untuk mendalami dimensi ini guna memahami lebih lanjut apa itu religiositas populer dalam perspektif evangelisasi.
d. Kerangka Berpikir Analisis Sosial
Proses menganalisis persoalan sosial setiap orang sadar atau tidak memiliki kerangka berpikir tertentu. Kerangka berpikir inilah yang biasa orang sebut sebagai metode, yang kemudian dijadikan banyak orang sebagai pendekatan analisis sosial. Ada pun metode berpikir itu, di antaranya:
1) Model konsensus
Berdasarkan model ini tatanan sosial yang ada merupakan hasil konsensus
bersama dengan semua anggota masyarakat. Ketetapan dan norma yang dianut menjadi penerimaan bersama. (Lalu 2007:114). Pemahaman ini mengandaikan bahwa di dalamnya ada musyawarah bersama dalam menentukan atau mengarahkan situasi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Model konsensus ini juga menunjukkan bahwa terjadinya keseimbangan hidup dalam masyarakat disebabkan karena adanya pandangan hidup yang sama setiap anggota masyarakat.
Maksud dari pandangan hidup yang sama adalah cita-cita dan nilai-nilai kehidupan yang dianut hendaknya dicapai secara bersama. Oleh karena itu, permasalahan sosial yang terjadi dinilai sebagai penyimpangan bersama atas ketetapan awal. Sebab itulah pada model konsensus ini kestabilan sosial tetap terjaga, karena di awal ada konsensus yang ditetapkan secara bersama. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan persepsi terjadi di tengah masyarakat, model konsensus ini menganut dua ideologi: ideologi konservatif dan liberal.
a) Ideologi konservatif:
Kaum penganut konservatif pada dasarnya menjunjung tinggi struktur sosial. Di dalam ideologi konservatif ini orang selalu memandang persoalan sosial yang terjadi disebabkan oleh kesalahan diri sendiri yang tidak mematuhi ketetapan sosial yang telah disepakati. Seperti yang dijelaskan oleh Banyu Dewa (2018:191):
Kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan orang miskin sendiri. Orang miskin dinilai umumnya bodoh, malas, tidak mempunyai motivasi untuk berprestasi tinggi, tidak mempunyai keterampilan hidup.
b) Ideologi liberal:
Menurut Banyu Dewa (2010:192), kaum liberal adalah:
Kaum yang memiliki pandangan bahwa manusia memiliki kebebasan dan dapat mencapai semaksimal mungkin apa yang telah dicita-citakan. Selalu berusaha atas dasar motivasi dan kepentingan pribadi bukan paksaan dari luar serta meyakini akan keefektivan pasar bebas dan hak-hak milik pribadi.
Pandangan ini bisa dipahami bahwa kaum liberal ini menekankan kebebasan pada setiap individu dan juga meyakini setiap pribadi memiliki hak-hak yang perlu diperjuangkan agar setiap individu terlindungi dari tekanan kekuasaan dari luar. Kaum ini juga menanggapi permasalahan kemiskinan sebagai persoalan yang serius yang perlu diselesaikan. Menurut Lalu (2007:116):
Masalah kemiskinan menurut kaum liberal dapat diselesaikan dalam struktur politik, ekonomi yang sudah ada. Yang penting ialah diciptakannya kesempatan yang sama untuk berusaha bagi setiap orang tanpa diskriminasi.
2) Model konflik
Model konflik memandang struktur sosial sebagai hasil pemaksaan sekelompok kecil anggota masyarakat terhadap mayoritas warga masyarakat (Banyu Dewa, 2018:194). Boleh dikatakan bahwa menurut model ini struktur sosial bukanlah hasil konsensus bersama, tetapi karena paksaan dari segelintir orang yang memiliki kuasa lebih besar. Penganut model ini tidak mempermasalahkan bagaimana orang miskin dapat hidup dan memiliki perubahan dalam hidupnya, melainkan mereka selalu mempersoalkan bagaimana struktur sosial yang ada menyebabkan terjadinya kemiskinan. Oleh karena itu, persoalan-
orang miskin dan mentalitas miskin bukan hal yang menarik bagi penganut model konflik melainkan struktur ekonomi dan kekuasaan politik yang sudah ada menjadi penyebab terjadinya ketimpangan sosial. Penganut model ini juga
“memandang perubahan secara positif dan memandang konflik sebagai sumber-sumber potensial bagi perubahan sosial yang progresif” (Lalu, 2007:118).
3. Metode Katekese SWOT (Strength, Weakness, Opportunities dan Threat)