• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil dan Analisis Kegiatan Sarasehan Secara Online

kegiatan-kegiatan yang diadakan kampus maupun di luar kampus. Seperti yang dikatakan I4: “saya akan lebih aktif ikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan kampus maupun di luar kampus”. Selain belajar lebih semangat, aktif dalam kegiatan kampus ada juga yang merasa [Lampiran 6:(21-24)]

Informan lain kurang lebih menyampaikan aksi konkret yang sama, seperti I3 yang mengatakan: “Saya akan meningkatkan keseriusan belajar”, I5 menyatakan hal sama: “Saya akan lebih berpartisipasi dalam berbagai kegiatan”, I6 berpendapat senada dengan informan di atas: “Saya akan menjalin relasi dengan siapa pun”, I7 berpendapat: “Saya akan menambah jam belajar pribadi”, I8 mengungkapkan sikap baru yang akan ia lakukan adalah: “Saya akan mencoba belajar dari aspek-aspek lain”, I9 “tidak menyia-nyiakan waktu” dan I10

“menambah waktu baca buku”. Hal-hal inilah aksi konkret yang informan lakukan sebagai aksi nyata dalam kegiatan katekese ini. Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa katekese analisis sosial dengan metode SWOT berperan penting dalam membantu para mahasiswa Mentawai menumbuh-kembangkan motivasi belajar mereka selama studi di Yogyakarta. [Lampiran 6:(23-31)].

penulis dengan beberapa informan yang ada di dalamnya. Setelah itu penulis langsung menyebarkan lima pertanyaan yang dijawab oleh informan.

Kegiatan ini terlaksana mulai tanggal 26-28 April 2022. Tujuan kegiatan ini adalah agar penulis dapat memastikan konsistensi jawaban dari informan dan agar penulis juga mendapatkan data yang lebih lengkap. kegiatan ini berjalan tidak sesuai dengan perencanaan di awal yang ada di proposal penelitian. Di dalam proposal penulis merencanakan separuh dari jumlah keseluruhan informan yang harus ikut dalam kegiatan ini, kenyataannya tidak demikian yang bersedia hanya 8 informan. Selebihnya tidak bisa ikut karena alasan sibuk mengerjakan tugas kuliah, tidak memiliki kuota internet, mendadak mendapat kegiatan yang sulit untuk ditinggalkan dan alasan-alasan lain yang membuat mereka tidak bersedia ikut. Data lengkapnya bisa dilihat [Lampiran 9:(35-37)]. Adapun hasil kegiatan sarasehan, penulis uraikan di bawah ini.

1. Bagaimana perasaan teman-teman selama mengikuti dua kali kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Ketika penulis menyebarkan panduan pertanyaan dalam kegiatan sarasehan, informan tidak langsung merespons karena masih sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan sebagian dari mereka masih ada yang kuliah. Sekitar 30 menit kemudian satu per satu mulai memberikan jawaban melalui chat group. Setelah semua menjawab, penulis mengumpulkan hasil jawaban informan yang berjumlah sepuluh jawaban terkait soal nomor 1 dan memastikan juga bahwa yang bersedia ikut kegiatan ini adalah 8 orang. Dari semua jawaban yang informan berikan penulis melihat bahwa selama mengikuti dua kali kegiatan katekese informan merasa senang dan mendapat peneguhan. [Lampiran 9:(35-37)].

Hal ini bisa dilihat dari jawaban informan Sermon (di luar informan wawancara) “dia merasa senang dan bersyukur karena termotivasi dalam studi”.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Informan Karlinus Aldi (I8): “Saya merasa senang dan semakin bisa menemukan apa yang ingin saya lakukan ke depannya”. Informan Een (I7) juga menyatakan hal yang sama seperti dua informan di atas “Saya merasa senang karena mendapat pengalaman baru dan dapat termotivasi dalam studi”. Informan Rocky (I9): “Saya merasa senang karena mendapat pengetahuan baru”. Kata yang senada juga diungkapkan oleh Ranti (I1) merasa senang selama mengikuti dua kali katekese analisis sosial dengan metode SWOT. Dan Cici (di luar informan wawancara) juga “merasa termotivasi”.

Penulis merasa beberapa informan ini sudah cukup mewakili semua informan yang ikut kegiatan ini [Lampiran 9:(35-37)].

Sedangkan informan Yosep (I3) memberikan jawaban yang kurang tepat dengan pertanyaan yang ditanyakan “dalam pelaksanaan kegiatan selama dua kali, saya memperoleh sharing terkait pengalaman teman yang beragam”. [Lampiran 9:(35)]. Penulis melihat bahwa informan ini kurang menangkap pertanyaan yang penulis berikan. Penulis menarik kesimpulan dari keseluruhan jawaban informan terkait pertanyaan yang pertama ini sebagai berikut. Secara keseluruhan merasa senang dan gembira mengikuti dua kali kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT, walaupun informan Yosep (I3) tidak memberikan jawaban yang tepat.

2. Pengetahuan apa yang teman-teman dapatkan selama mengikuti kegiatan katekese analisis sosial metode SWOT?

Penulis memperoleh data dari hasil sering informan dalam media chat whatsApp group yang dibuat oleh penulis sebagai berikut. Informan

mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan katekese. Seperti yang sampaikan oleh informan Een (I7): “Saya memperoleh pengetahuan baru tentangan katekese analisis SWOT seperti kekurangan, tantangan dan lain”. Poin yang sama namun dengan narasi yang berbeda juga disampaikan oleh Informan Rocky (I9): “Dengan mengikuti katekese ini saya jadi mengetahui, apa saja kekurangan dan kelebihan yang terdapat di daerahku”. [Lampiran 9:(37)].

Ungkapan yang lebih luas juga disampaikan oleh informan Ranti (I1):

“Melalui katekese SWOT saya menjadi tahu cara melihat sejauh mana Mentawai itu mengalami kemajuan dan kemerosotan. [Lampiran 9:(37)]. Penulis merasa bahwa beberapa informan ini sudah cukup mewakili semua informan dalam memberikan penjelasan mengenai apa saja yang mereka peroleh selama mengikuti kegiatan katekese yang penulis laksanakan. Memang hasil sharing yang diberikan oleh informan masih terlihat abstrak belum dalam bentuk konkretnya, namun penulis meyakini bahwa hal ini akan lebih konkret informan rasakan ketika mereka berhadapan langsung dengan dinamika kehidupan kampus dan dalam berproses selama menjalani studi di kampus mereka masing-masing.

3. Sikap baru apa yang teman-teman dapatkan selama mengikuti kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Terkait pertanyaan nomor tiga ini penulis memperoleh data dari informan sebagai berikut. Informan Ranti (I1) memperoleh sikap baru dalam mengelola

mental sebagai kaum muda untuk memiliki motivasi yang tinggi dalam memajukan Mentawai. Ungkapan yang lebih sederhana juga disampaikan oleh informan Een I7: “Saya semakin menyadari bahwa belajar dengan serius itu amat sangat penting”. Ungkapan yang lebih refleksi disampaikan oleh Informan Cici (luar informan wawancara): “Saya semakin mampu bersyukur atas kesempatan studi yang diberikan kepada saya”. [Lampiran 9:(35-37)].

Dari beberapa jawaban informan di atas penulis menyimpulkan bahwa sikap baru yang informan peroleh selama mengikuti kegiatan katekese bersifat lebih reflektif berdasarkan pengalaman batin mereka selama bergulat dalam proses katekese. Sikap baru yang mau dibangun oleh informan ialah memberikan ruang yang lebih serius untuk belajar, membangun komitmen untuk setia akan tanggung jawab mereka dalam studi dan akan lebih mau bersyukur dalam situasi apa pun yang mereka alami selama studi.

4. Apakah kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT ini menumbuhkan motivasi belajar Anda?

Melalui kegiatan sarasehan yang penulis laksanakan dengan cara chat whatsApp group, penulis mendapatkan data sebagai berikut. Informan Rocky (I9):

“Ya. Saya merasa termotivasi karena saya amat sangat diharapkan membawa perubahan Mentawai”. Informan Karlinus Aldi (I8) juga menyampaikan hal sama

“Ya. Saya merasa termotivasi, karena mulai dari sekarang sudah ada planing ke depannya apa yang akan saya lakukan untuk memajukan Mentawai”. Dan ungkapan yang lebih sederhana lagi disampaikan oleh informan Een (I7): “Saya merasa terbantu dan termotivasi dalam menjalani studi”. [Lampiran 9:(35-37)].

Informan di atas sudah cukup mewakili hasil seharing informan lain yang juga mengungkapkan hal yang sama namun dengan narasi yang lebih sederhana dan juga dengan narasi yang lebih panjang. Rata-rata mereka semua merasakan bahwa katekese analisis sosial dengan metode SWOT membantu informan dalam menumbuhkan motivasi mereka, terutama dalam analisis SWOT. Di mana dalam analisis tersebut mereka boleh mengenal dan melihat kembali diri mereka dalam proses studi yang mereka alami. Sehingga membantu mereka dalam merefleksikan atau memaknai proses itu sebagai bagian yang amat sangat penting perlu mereka jalani dan juga perjuangan demi sesuatu yang lebih penting di masa depan mereka mau pun Mentawai secara luas.

5. Niat apa yang teman-teman akan bangun selama studi di Yogyakarta sebagai tindak lanjuti dari kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Di dalam kegiatan sharing ini penulis mendapat beberapa hal yang sangat menarik dan juga membantu penulis untuk ikut berefleksi secara pribadi. Ada pun hasil seharing itu, sebagai berikut. Informan Yosep (I3), ketika diminta untuk sharing dengan bantu pertanyaan nomor lima ini, menyatakan niat yang akan dibangun adalah “Saya akan rajin ke Gereja terlebih dalam situasi saat ini misa sudah terbuka secara umum tanpa embel-embel kartu”. Penulis melihat bahwa informan ini terlihat tidak hanya mendapat kekuatan dalam hal studi, tetapi juga ia semakin disadarkan disposisi batinnya dengan Tuhan yang barang kali selama pandemi sedikit menjauh. Selain itu informan Ranti (I1) juga mengatakan bahwa niat yang akan dia bangun adalah “Kesetiaan dan komitmen dalam tugas dan tanggung jawab dalam studi”. [Lampiran 9:(35-37)].

Penulis melihat bahwa informan Ranti (I1) ini memiliki wawasan dan harapan yang luas mengenai masa depannya maupun masa depan Mentawai dan terlihat bahwa kesadaran diri pun mulai tumbuh secara perlahan. Narasi lain juga diungkapkan oleh informan Rocky (I9): “Saya akan berusaha dengan sebaik mungkin membawa perubahan di Mentawai”. Sharing informan ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk daerah sendiri mulai tumbuh dengan mencoba membangun niat untuk lebih serius dan fokus dalam hal belajar. Tiga informan ini menurut penulis sudah cukup mewakili informan lain yang ikut dalam kegiatan sarasehan, mereka juga menyatakan hal sama namun dengan penyajian bahasa yang berbeda. Dan dari sini penulis semakin yakin bahwa kesadaran informan pun mulai tumbuh untuk fokus atau motivasi mereka pun semakin terlihat. [Lampiran 9:(35-37)]