• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil dan Analisis Wawancara

Data yang diperoleh oleh penulis dari 10 informan terkait pertanyaan nomor satu ini sebagai berikut. Rata-rata dari 10 informan yang penulis wawancarai mengungkapkan bahwa pernah mengikuti kegiatan katekese namun tidak dengan metode SWOT. Hal ini bisa diperhatikan bagaimana tanggapan I1 dengan spontan dan wajah serius “sebelumnya saya belum pernah mengikuti kegiatan katekese dengan metode SWOT ini, tetapi kegiatan katekese pada umumnya pernah saya ikuti”. I3 tanpa ragu-ragu, juga mengungkapkan hal yang sama: “Saya pernah mengikuti kegiatan katekese semasa SMA yaitu pendalaman iman orang dewasa, kalau katekese analisis sosial dengan metode SWOT dengan metode SWOT ini belum pernah sama sekali”. [Lampiran 6:(21-24)].

Di antara sepuluh (10) informan ada juga yang memberikan jawaban yang berbeda, seperti I5 dan I10. Alasannya, ternyata dua informan ini sama sekali belum pernah mengikuti kegiatan katekese selain yang peneliti laksanakan.

“Kalau saya secara pribadi belum pernah sama sekali ikut kegiatan katekese, terlebih kegiatan katekese yang abang pernah laksanakan” I5. I10 juga menyatakan hal yang sama dengan gaya bicara sedikit jutek “baru kali ini saya mengikuti kegiatan katekese yang saudara laksanakan, online lagi”. Selain ungkapan mereka belum pernah mengikuti kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT, mereka juga mengungkapkan pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan katekese sebelum yang peneliti laksanakan. [Lampiran 6:(21-31)].

I1 dengan mimik wajah yang serius menyatakan: “Pengalaman saya selama mengikuti katekese, pada umumnya lebih terarah pada pendalaman iman

semata terkait penghayatan iman akan ajaran Kristus”. Ada juga yang menyatakan pengalamannya dengan lebih spesifik: “Katekese yang pernah saya ikuti waktu itu, kami semua diajak untuk saling bercerita terkait pengalaman hidup tinggal di asrama, lalu kami diminta hening sejenak dan merefleksikan sebuah ayat yang disiapkan oleh pembawa katekese” I7. Terkait ungkapan pengalaman informan ini, penulis melihat bahwa hampir semua informan menyatakan pengalaman yang kurang lebih sama hanya cara penyampaiannya yang berbeda-beda. Terkecuali dua orang informan yang belum pernah ikut kegiatan katekese sebelumnya I5 dan I10 tidak bisa mengungkapkan pengalaman apa-apa terkait bidang katekese.

[Lampiran 6:(21, 27-26)].

Dari hasil jawaban informan terkait pertanyaan nomor satu dalam kegiatan wawancara ini penulis dapat menyimpulkan bahwa delapan informan dalam wawancara pernah mengikuti kegiatan katekese pada umumnya, namun katekese analisis dengan metode SWOT belum pernah sama sekali selain yang penulis laksanakan. Dua (2) informan lagi sebelumnya sama sekali tidak pernah ikut kegiatan katekese, baru pertama kali mengikuti yang penulis laksanakan. Dari segi pengalaman informan menyatakan bahwa proses katekese kurang lebih sama dengan katekese yang penulis laksanakan, perbedaannya terletak pada analisis SWOT-nya.

2. Bagaimana peran katekese yang pernah Anda ikuti sebelumnya dapat memberikan peneguhan atau motivasi hidup kepada Anda?

Berdasarkan hasil wawancara tentang peran katekese yang informan ikuti sebelumnya dalam memberikan peneguhan kepada mereka diperoleh data sebagai berikut. Delapan (8) informan menyatakan bahwa katekese yang pernah mereka

ikuti membantu memberikan peneguhan secara iman. Hal ini bisa diperhatikan hasil jawaban I1 yang menyatakan peran katekese dalam hidupnya sebagai

“pendalaman iman”, I2 menyatakan: “Saya semakin menyadari pertolongan Tuhan”, I3 berpendapat: “Saya semakin mendalami ajaran Kristiani”, I4 menyatakan: “Saya semakin mampu merefleksikan pengalaman hidup akan Kristus”. I6-8 mereka menyatakan hal yang sama bahwa mereka semakin mampu

“merefleksikan pengalaman hidup melalui terang Injil”. Penulis melihat bahwa katekese yang pernah diikuti oleh informan berperan membantu meneguhkan hidup mereka sesuai dengan konteks permasalahan dan juga tujuan katekese yang pernah mereka ikuti. [Lampiran 6:(21-24, 26-29)]

Dua informan lagi dalam wawancara ini tidak dapat merasakan peran katekese, I5 dan I10 karena sebelumnya belum pernah mengikuti kegiatan katekese sama sekali. Tetapi mereka dapat mengerti tujuan dan peran kegiatan katekese karena mendengarkan sharing teman-teman mereka yang pernah mengikuti kegiatan katekese. Seperti I5 memahami kegiatan katekese sebagai

“pendalaman iman lingkungan ataupun dalam komunitas”. Sedangkan I10 sama sekali tidak bisa memberikan pengalaman apa-apa terkait katekese, karena ia

“belum pernah ada pengalaman dalam mengikuti kegiatan katekese.”. [Lampiran 6:(25, 30-31)]. Berdasarkan keseluruhan jawaban informan soal nomor dua ini, penulis menarik kesimpulan bahwa informan dapat mengerti dengan baik apa itu katekese secara umun dan tujuan pelaksanaan katekese.

3. Sejauh yang Anda tahu, apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Terkait pertanyaan ke tiga ini, penulis mewawancarai 10 informan dan mendapatkan data sebagai berikut. Hampir semua informan menyatakan definisi yang sama mengenai apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT hanya saja dengan penyajian bahasa yang berbeda-beda. Menurut, I1 katekese analisis sosial dengan metode SWOT adalah: “Salah satunya media untuk mengetahui pengaruh atau hambatan yang terjadi dalam sebuah fenomena. Contohnya, ia dapat mengetahui tantangan atau hambatan dirinya. Jawaban lain juga bisa dilihat dari pendefinisian oleh I2 tentang katekese analisis sosial dengan metode SWOT:

“Bertujuan menganalisis lingkungan internal dan eksternal lingkungan hidup kita sehingga mampu merencanakan tujuan hidup dengan perhitungan kemampuan diri dan lingkungan sekitar”. [Lampiran 6:(21-22)].

Definisi yang lebih sederhana juga bisa dilihat pada jawaban I3-9:

“pendalaman iman terkait kehidupan sosial yang kemudian dianalisis dengan metode SWOT”. Di antara 9 informan ini I10 berpandangan lain: “kegiatan ini kayak kegiatan sosialisasi”. Informan ini terlihat kurang memahami secara keseluruhan apa itu kegiatan katekese, karena sebelumnya dia tidak pernah tahu apa itu katekese. Beberapa informan inilah yang menurut penulis cukup mewakili dari keseluruhan informan dalam kegiatan wawancara untuk memberikan definisi katekese analisis sosial dengan metode SWOT sebelum mengikutinya. Dan penulis merasa bahwa informan cukup mengerti apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT dengan baik walaupun ada satu informan yang masih ragu dengan jawabannya. [Lampiran 6:(23-31)].

4. Setelah mengikuti kegiatan dua kali pertemuan katekese analisis sosial dengan metode SWOT, apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Pertanyaan ini ditujukan untuk melihat bagaimana hasil katekese analisis sosial dengan metode SWOT yang sudah dilaksanakan. Penulis mendapatkan informasi bahwa hampir semua informan dalam penelitian ini diwakilkan 10 orang yang dapat mengerti apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dari jawaban I1 yang memahami katekese analisis sosial dengan metode SWOT sebagai pendalaman iman dengan menggali kenyataan sosial”. Definisi yang senada namun dengan penyajian kata yang berbeda juga disampaikan oleh informan I2: “katekese yang memberikan gambaran bagaimana cara menganalisis potensi diri dalam kehidupan sosial”.

[Lampiran 6: (21-22)]

Informan lain kurang lebih menyampaikan definisi yang sama, namun lebih reflektif. Seperti yang dikatakan I3,5-10: “Pendalaman iman yang menggali pengalaman kehidupan sosial kemudian dianalisis dengan metode SWOT”. Tetapi I4 berpendapat lain, katekese ini lebih menekankan sebab dan akibat. I4 ini terlihat lebih sosiologis, memberikan definisi berdasarkan interaksi kehidupan sosial yang dia alami sendiri. Penulis menyimpulkan dari keseluruhan jawaban informan, bahwa mereka dapat mengerti apa itu katekese analisis sosial dengan metode SWOT berdasarkan pengalaman yang mereka alami sendiri selama mengikuti kegiatan katekese yang telah terlaksana [Lampiran 6:(23-31)].

5. Bagaimana perasaan Anda selama mengikuti dua kali kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT yang pernah Anda ikuti?

Hasil wawancara yang dilakukan penulis kepada 10 informan terkait perasaan informan selama mengikuti dua kali pertemuan katekese analisis sosial dengan metode SWOT adalah sebagai berikut. Lima (5) informan menyatakan dengan lugas bahwa senang mengikuti kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT yang penulis laksanakan. Bisa dilihat jawaban I1 ia mengatakan selama mengikuti dua kali katekese ini: “Saya merasa senang dan diteguhkan”.

Perasaan yang sama juga dikatakan oleh I6-9. Jawabannya I6: “Saya merasa senang dan diteguhkan”, I7: “Saya merasa senang dan terbantu menggali potensi diri yang saya miliki”. Begitu juga I8 mengatakan perasaan yang sama: “Saya merasa senang karena selain mendapat peneguhan juga mendapat wawasan baru”

dan I9 menyatakan: “Saya secara pribadi merasa senang dan gembira meskipun masih dilaksanakan secara online”. [Lampiran 6:(21-29)].

Sedangkan I2, I3 dan I5 menyatakan perasaan yang sama namun lebih spesifik. Jawaban I2: “Saya merasa diteguhkan terlebih dalam menghadapi situasi perkuliahan online”, I3 menjawab: “Saya merasa semakin disadarkan akan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa Mentawai” dan I5 merasa lebih tersentuh selama mengikuti dua kali pertemuan katekese: “Saya merasa tersentuh selama mengikuti kegiatan katekese ini”. Dua (2) informan menyatakan perasaan senang, tetapi juga merasa jengkel dan kurang efektif karena kendala jaringan dan metode pelaksanaannya yang masih daring. Jawaban I4: “Sedikit jengkel karena jaringan tidak bersahabat”. I10 juga menyatakan perasaan yang sama, namun ia “merasa kurang efektif karena masih dilaksanakan secara daring”. Melalui data ini penulis dapat menyimpulkan bahwa hampir semua informan dalam kegiatan katekese

yang penulis laksanakan merasa senang dan merasa diteguhkan, meskipun kurang efektif karena kendala jaringan dan pelaksanaannya yang masih menggunakan metode daring [Lampiran 6:(22-25, 30)].

6. Tanggapan apa yang terngiang dalam pikiran Anda selama mengikuti dua kali kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Terkait pertanyaan nomor 6 ini penulis mendapatkan beragam jawaban yang informan pikirkan selama mengikuti dua kali pertemuan katekese. Walaupun beragam, penulis merangkum menjadi beberapa poin penting karena ada jawaban informan yang sama namun dengan penyajian bahasa berbeda-beda. Seperti jawaban I1 ia memikirkan sebuah aksi kongkret yang hendak dilaksanakan sebagai tindak lanjut kegiatan katekese yang penulis laksanakan: “Saya memikirkan aksi konkret sebagai tindak lanjut kegiatan katekese ini”. I3 juga menyatakan hal yang sama namun dengan penggunaan kata yang berbeda dari I1 yaitu: “Saya memikirkan ternyata begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan di daerah Mentawai”. I5 juga memikirkan aksi konkret namun lebih fokus pada aksi yang mau dia lakukan selama studi: “Saya memikirkan sebuah cara supaya cepat lulus kuliah”. Sedangkan I10 memikirkan hal yang lebih besar untuk masa depan Mentawai: “Saya memikirkan masa depan Mentawai 10 tahun ke depan”.

[Lampiran 6:(21, 23, 25, 30)]

Enam informan lainnya memikirkan hal yang sama dengan empat informan di atas, namun aksi yang dipikirkan hanya untuk disharingkan dalam forum katekese I6 dan I7 berpendapat: “Memikirkan apa saja pengalaman yang menarik untuk disharingkan kepada teman-teman dalam forum katekese”, I9 juga

mengungkapkan: “Saya langsung terarah pada poin-poin yang mau saya sharingkan”. I4 dengan tegas mengatakan: “Saya hanya memikirkan bagaimana caranya supaya bisa lulus dengan tepat waktu”. [Lampiran 6:(24, 26-27, 29)].

I8 memikirkan hal yang lain yaitu: “Proses katekese ini seperti pelajaran ekonomi”. Sedangkan I2 malah tidak memikirkan apa-apa selama proses katekese berjalan, karena ia merasa jenuh mengikuti kegiatan yang dilaksanakan secara online. Ia juga mengungkapkan bahwa sembari proses katekese berjalan perasaan

jenuh itu mulai memudar karena ia mulai merasa tertarik. [Lampiran 6:(22, 28)].

Berdasarkan hasil keseluruhan jawaban informan pada soal nomor 6 ini, penulis menyimpulkan bahwa selama kegiatan katekese, informan merespon kegiatan ini dengan serius dan mereka mau terlibat aktif untuk melihat atau pun menemukan motivasi dalam kegiatan katekese yang penulis laksanakan.

7. Apa yang Anda harapkan untuk Anda dapatkan selama mengikuti kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Penulis mendapatkan data sebagai berikut. I1 menyatakan harapan yang mau ia peroleh dalam dua kali pertemuan kegiatan katekese ini: “Membentuk sebuah komunitas yang memiliki komitmen serius dalam belajar”. I2-3, I5-9 menyatakan hal yang sama namun dalam kata yang lebih sederhana seperti I2:

“Saya mengharapkan sebuah peneguhan, motivasi dan semangat baru dalam studi”. [Lampiran 6:(2123, 25-29)]. Sedangkan dua informan lainnya mengharapkan hal yang lain. I4: “Saya mengharapkan sebuah “pengetahuan baru yang dapat membuka cara berpikir baru”. Demikian juga dengan I10 yang mengharapkan peneguhan baru yang dapat membuka mata hati dan kesadaran

baru untuk lebih serius belajar. [Lampiran 6:(24, 30)]. Penulis melihat bahwa harapan informan ini amat relevan dengan tujuan katekese yang dilaksanakan oleh penulis. Masing-masing mereka menyatakan harapan itu dengan sungguh dari hati dan dari kerinduan yang mereka rasakan selama ini.

8. Motivasi apa yang Anda peroleh setelah mengikuti dua kali kegiatan katekese analisis sosial dengan metode SWOT?

Hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada 10 informan yang sudah dipilih, mendapatkan data sebagai berikut. Dengan antusias tinggi, informan menyatakan bahwa dua kali kegiatan katekese yang penulis laksanakan membantu memberikan motivasi bagi mereka untuk terus optimis meraih mimpi-mimpi mereka dalam studi. Hal ini bisa dilihat dari jawaban informan I1 selama mengikuti dua kali pertemuan katekese: “Saya memperoleh inspirasi baru”.

Begitu juga dengan I2-I4 mengungkapkan hal yang sama dengan wajah penuh semangat bahwa mereka dapat: “Termotivasi untuk tetap terus semangat belajar dan berjuang lebih keras dalam studi”. [Lampiran 6:(21-24)]. Selain empat informan di atas, enam informan lainnya juga mendapat motivasi namun dengan ungkapan yang lebih sederhana, seperti I5: “Saya termotivasi”, I6: “Saya termotivasi untuk tetap optimis dalam studi”. I7 mengungkapkan perasaannya:

“Saya merasa termotivasi untuk kembali semangat dari rasa jenuh perkuliahan online”, I8 juga mengungkapkan perasaan yang sama: “Saya mendapatkan kekuatan”. I9 ia merasakan sesuatu yang baru: “Saya mendapatkan semangat baru untuk belajar”. I10 termotivasi untuk mengenal dirinya dan tanggung jawabnya

selama studi: “Saya merasa disadarkan sebagai mahasiswa Mentawai dengan segala tanggung jawab di dalam proses studi”. [Lampiran 6:(25-30)].

Penulis melihat bahwa informan benar-benar memperoleh motivasi baru yang membuat mereka semakin semangat dalam belajar. Terlihat dengan keberagaman cara mereka mengungkapkan. Beberapa informan mencoba menemukan motivasi itu dengan merefleksikan situasi daerah asal mereka. Ada juga karena proses katekese yang menggali potensi-potensi mereka membuat mereka semakin yakin dengan kemampuan diri sendiri yang pada akhirnya mereka merasa termotivasi. Penulis juga ikut menemukan kekuatan bahwa ternyata begitu banyak potensi-potensi mahasiswa Mentawai untuk membawa perubahan bagi diri sendiri maupun daerah masing-masing.

9. Bagaimana katekese analisis sosial dengan metode SWOT ini dapat memberikan motivasi kepada Anda?

Pertanyaan ini sebenarnya hampir sama dengan soal nomor dua, hanya saja pada soal nomor sembilan ini ingin fokus melihat peran katekese analisis sosial dengan SWOT dalam memberikan peneguhan kepada informan. Melalui pertanyaan ini penulis mendapatkan data sebagai berikut. Informan menyatakan, melalui kegiatan analisis SWOT membantu mereka mengevaluasi kembali apa yang menjadi tujuan mereka studi di Yogyakarta. Seperti yang diungkapkan oleh I1: “Melalui analisis SWOT ini saya semakin mampu menempatkan diri dari tanggung jawab saya dalam studi”. [Lampiran 6:(21)]. Selain melalui analisis SWOT juga informan mendapat peneguhan dari hasil sharing peserta lain.

Hal ini dapat dilihat dari ungkapkan informan I2: “Katekese ini amat berperan memberikan peneguhan kepada saya terlebih dalam sharing teman-teman lain”. Selebihnya menyatakan hal yang sama seperti I1 dan I2. I3. “Saya merasa bahwa katekese ini sangat membantu”, I4: “Katekese ini sangat berperan dalam hidup saya”, I5: “Katekese ini membantu saya secara pribadi dalam menumbuhkan motivasi belajar saya”, dan I6: “Katekese ini berperan dalam mengevaluasi diri saya”. I7: katekese ini “keren dan cocok dibawakan untuk adik-adik yang mau kuliah di Yogyakarta maupun ditempat-tempat lain”. I8: katekese ini “membantu saya dalam melihat kembali tujuan awal saya kuliah di kota ini”

dan I10: katekese ini sangat “menarik dan membantu sekali”.[Lampiran 6:(22-30)]. Melalui pernyataan informan di atas, penulis menyimpulkan bahwa analisis SWOT dalam katekese yang penulis laksanakan dapat membantu peserta katekese mengevaluasi diri dan juga menemukan kembali apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman diri mereka untuk mengembangkan diri.

10. Setalah memperoleh motivasi, apa yang Anda niatkan sebagai sikap baru yang akan Anda hidupi (aksi Konkretnya sebagai seorang mahasiswa)?

Penulis melakukan wawancara kepada 10 informan dan mendapatkan data terkait pertanyaan nomor 10 ini sebagai berikut. Aksi konkret yang mau informan hidupi sebagai sikap baru setelah mengikuti kegiatan katekese yang penulis laksanakan, hampir dari mereka semua mau menambah waktu belajar dan belajar lebih serius untuk meningkatkan indeks prestasi kumulatif pada setiap semester.

Seperti yang dikatakan I1 bahwa ia akan “bekerja lebih keras dan serius untuk dapat mempertahankan IPK”. Ada juga informan yang akan lebih aktif ikuti

kegiatan-kegiatan yang diadakan kampus maupun di luar kampus. Seperti yang dikatakan I4: “saya akan lebih aktif ikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan kampus maupun di luar kampus”. Selain belajar lebih semangat, aktif dalam kegiatan kampus ada juga yang merasa [Lampiran 6:(21-24)]

Informan lain kurang lebih menyampaikan aksi konkret yang sama, seperti I3 yang mengatakan: “Saya akan meningkatkan keseriusan belajar”, I5 menyatakan hal sama: “Saya akan lebih berpartisipasi dalam berbagai kegiatan”, I6 berpendapat senada dengan informan di atas: “Saya akan menjalin relasi dengan siapa pun”, I7 berpendapat: “Saya akan menambah jam belajar pribadi”, I8 mengungkapkan sikap baru yang akan ia lakukan adalah: “Saya akan mencoba belajar dari aspek-aspek lain”, I9 “tidak menyia-nyiakan waktu” dan I10

“menambah waktu baca buku”. Hal-hal inilah aksi konkret yang informan lakukan sebagai aksi nyata dalam kegiatan katekese ini. Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa katekese analisis sosial dengan metode SWOT berperan penting dalam membantu para mahasiswa Mentawai menumbuh-kembangkan motivasi belajar mereka selama studi di Yogyakarta. [Lampiran 6:(23-31)].