DAFTAR PUSTAKA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011
2. TINJAUAN PUSTAKA
4.2. Analisis Spasial Parameter Kualitas Air 1. Suhu Perairan
Suhu merupakan salah satu parameter yang memegang peranan penting dalam penentuan lokasi budidaya. Suhu perairan yang tidak sesuai akan mengakibatkan terganggunya biota yang dibudidaya seperti gangguan
metabolisme, pertumbuhan biota menjadi terhambat, serta meningkatkan jumlah karbondioksida diperairan. Toleransi suhu untuk budidaya yaitu berkisar antara 28 sampai 30 oC. Sebaran nilai suhu perairan di wilayah Kepulauan Seribu diperoleh melalui hasil interpolasi dari data hasil pengukuran lapang. Hasil interpolasi suhu perairan dapat dilihat pada Gambar 15.
Sebaran suhu perairan di Kepulauan seribu pada wilayah penelitian berkisar antara 28 sampai 31 oC. Jika dilihat dari suhu perairan pada wilayah ini sebagian besar dapat dikategorikan sangat sesuai untuk dijadikan kawasan budidaya keramba perikanan laut. Suhu pada kisaran 31 sampai 32 oC
dikategorikan sesuai, sedangkan kisaran suhu pada < 28 dan > 32 oC tidak cocok untuk kegiatan budidaya.
Wilayah Kepulauan Seribu jika dilihat dari sebaran suhu perairan pada umumnya sesuai untuk kegiatan budidaya keramba perikanan laut. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 16 wilayah sangat sesuai digambarkan dengan warna hijau sedangkan wilayah yang sesuai ditunjukkan dengan warna kuning. Jika dilihat dari persebarannya wilayah yang sangat sesuai berada pada sekitar gugusan Karang Congkak dan Karang Lebar.
Gambar 16. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan Suhu Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.2.2. Salinitas
Salinitas perairan merupakan kadar garam yang terkandung dalam satu kilogram air laut. Toleransi kisaran salinitas untuk budidaya yaitu antara 30 -35 ppt, salinitas yang tidak sesuai akan mengakibatkan tidak maksimalnya tingkat produksi dari kegiatan budidaya tersebut. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ikan akan terganggu serta menyebabkan gangguan keseimbangan dari biota yang dibudidayakan, maka dari itu dalam penentuan kawasan budidaya keramba perikanan laut tidak disarankan pada wilayah yang dekat dengan daratan sebab pada wilayah tersebut banyak terdapat masukan air tawar yang dapat
menyebabkan salinitas pada wilayah tersebut tidak sesuai
Kisaran salinitas diperairan Kepulauan Seribu yaitu antara 32 – 34 ppt (Gambar 17). Nilai salinitas semakin tinggi ke arah laut lepas, hal ini ini disebabkan pada perairan dekat dengan daratan adanya masukan air tawar dari darat. Kisaran nilai salinitas perairan yang cocok dalam kegiatan budidaya keramba perikanan laut yaitu 32 ppt yang dikategorikan wilayah sangat sesuai. Nilai salinitas antara 32 – 35 termasuk kedalam kategori sesuai, sedangkan pada kisaran salinitas < 27 dan > 35 ppt wilayah perairan tersebut dikategorikan tidak sesuai untuk kegiatan budidaya. Dilihat dari kisaran nilai salinitas tersebut perairan Kepulauan Seribu merupakan wilayah yang sesuai dijadikan kawasan budidaya. Berdasarkan hasil pembobotan salinitas perairan, wilayah yang sangat sesuai berada pada sekitar Karang Bongkok serta Goba Karang Lebar. Peta Kesesuaian budidaya keramba perikanan laut berdasarkan salinitas perairan ditunjukkan pada Gambar 18.
Gambar 18. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan Salinitas Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.2.3. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen yang terlarut dalam air, yang diukur dalam unit satuan miligram per liter (mg/l). Kadar oksigen dapat
menggambarkan tingkat produktivitas primer dari suatu perairan, semakin tinggi kadar oksigen terlarut disuatu perairan maka semakin tinggi juga tingkat
produktivitas primer perairan tersebut. Jumlah kadar oksigen diperairan menjadi faktor pembatas bagi kehidupan organisme atau biota yang dibudidayakan, jika jumlah oksigen terlarut kadarnya berlebihan juga akan menyebabkan kematian pada biota yang dibudidayakan.
Kadar oksigen terlarut yang disarankan dalam kegiatan budidaya yaitu antara 5 – 8 mg/l, karena pada nilai kisaran tersebut ikan atau biota dapat hidup dengan baik. Nilai kisaran kadar oksigen terlarut pada lokasi penelitian diperoleh melalui hasil interpolasi data pengukuran lapang. Nilai kadar oksigen pada lokasi penelitian berkisar antara 5 – 8.6 mg/liter (Gambar 19), dari nilai kisaran tersebut perairan Kepulauan Seribu dikategorikan sangat sesuai untuk kegiatan budidaya. Kelas kesesuaian zona budidaya dari nilai kadar oksigen terlarut dibagi kedalam tiga kelas yaitu pada nilai > 5 mg/liter perairan dikategorikan sangat sesuai, nilai oksigen terlarut pada kisaran 3 – 5 mg/liter dimasukan kedalam kategori sesuai, sedangkan perairan yang memiliki nilai kadar oksigen < 3 mg/liter tidak cocok untuk dilakukan kegiatan budidaya pada wilayah tersebut, sehingga wilayah tersebut dikategorikan tidak sesuai. Pada wilayah kajian Kepulauan Seribu nilai sebaran DO termasuk kedalam zona sangat sesuai yaitu pada nilai > 5 mg/l. Sebaran spasial oksigen terlarut dapat dilihat pada.Gambar 20.
Gambar 20. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan DO Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.2.4. Potential of Hydrogen (pH)
Potential of Hydrogen (pH) merupakan konsentrasi ion hidrogen di dalam air, Kadar pH perairan merujuk kepada aktivitas ion hydrogen didalamnya. Pada saat pH bernilai 0 sampai 7, hal ini merupakan suatu larutan pada kisaran asam, sedangkan pada kisaran 7 sampai 14 menunjukan kisaran basa. Nilai pH perairan pada umumnya berkisar antara 6.5 sampai 9. Kondisi perairan dengan pH netral sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan air laut.
pH optimum perairan bagi pertumbuhan biota yaitu antara 7 – 8.5. Secara umum nilai pH pada perairan Kepulauan Seribu yaitu berkisar antara 7 – 8.9, pola persebaran nilai pH pada lokasi penenlitian didapat dari hasil interpolasi titik-titik oengukuran, adapun sebaran spasial hasil pengukuran pH dapat dilihat pada Gambar 21. Nilai pH 7.5 – 8 dikategorikan wilayah sangat sesuai, nilai pH pada kisaran 7 – 7.5 dan 8 – 8.5 termasuk kedalam kategori sesuai, sedangkan perairan yang memiliki nilai pH < 7 dan > 8.5 tidak sesuai untuk dijadikan kawasan budidaya sehingga perairan ini dimasukkan kedalam kategori tidak sesuai, dari hasil pengukuran pada perairan kepulauan seribu tidak ada yang termasuk kategori yang tidak sesuai.
Wilayah Kepulauan Seribu berdasarkan pembobotan parameter pH sebagian besar wilayahnya termasuk kedalam kelas sangat sesuai, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 22. Warna Hijau menunjukkan wilayah sangat sesuai untuk kegiatan budidaya keramba perikanan laut, sedangkan warna kuning pada peta menunjukkan wilayah yang sesuai.
Gambar 22. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan pH Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.2.5. Total Dissolved Solid (TDS)
TDS adalah ukuran dari gabungan dari semua bahan organik dan anorganik yang terkandung dalam cairan. Konsetrasi TDS mengambarkan kualitas perairan yang ada. Sumber primer TDS di perairan Kepulauan Seribu banyak didapat dari limbah rumah tangga. Konsentrasi TDS sangat
mempengaruhi tingkat kecerahan dari suatu perairan, perairan yang tingkat kecerahannya tinggi mengindikasikan perairan tersebut cukup jernih dan layak untuk lokasi budidaya. Sebaliknya perairan dengan tingkat kecerahan yang rendah mengindikasikan tingginya bahan organik terlarut, selain itu nilai TDS berbanding lurus dengan nilai konduktivitas serta salinitas perairan. Semakin tinggi nilai TDS maka semakin tinggi pula nila dari konduktivitas serta salinitas perairan.
Nilai kandungan TDS pada lokasi penelitian berkisar antara 32 – 33 g/liter (Gambar 23), menandakan bahwa perairan di lokasi penelitian cukup sesuai untuk kegiatan budidaya. Umumnya nilai TDS cenderung tinggi di dekat daratan
berkurang seiring menjauhi daratan. Nilai TDS yang paling sesuai untuk kegiatan budidaya yaitu < 25 yang dikategorikan wilayah sangat sesuai, sedangkan kisaran antara 25 – 80 g/liter dikategorikan kelas sesuai. Suatu wilayah perairain
dikatakan tidak layak untuk kegiatan budidaya jika mempunyai nilai TDS > 80 g/liter. Nilai TDS di Wilayah Kepulauan Seribu jika diklasifikasikan berada pada kelas sangat sesuai yang ditandai dengan warna hijau pada peta. Peta kesesuaian budidaya keramba perikanan laut berdasarkan TDS dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan TDS Terlarut Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.3. Kedalaman Perairan
Kedalaman merupakan merupakan faktor yang turut serta berperan dalam penentuan budidaya laut karena dengan adanya stratifikasi kedalaman
berpengaruh terhadap jumlah nutrient. Selain itu kedalaman perairan berperan dalam penentuan desain konstruksi keramba baik jaring apung maupun keramba jarring tancap. Dalam penentuan lokasi budidaya keramba perikanan laut
kedalaman perairan sebaiknya tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dangkal, sebab jika perairan terlalu dangkal maka akan menyebabkan kegiatan budidaya tidak akan optimal. Pada perairan yang dangkal proses pengadukan akan menyebabkan material sedimen akan terangkat ke permukaan dan menyebabkan gangguan pada biota yang dibudidayakan, selain itu pada kegiatan budidaya di laut berbeda dengan budidaya yang dilakukan pada air tawar. Pada perairan laut dipengaruhi oleh pasang surut maka untuk itu perlu dipertimbangkan pasang surut pada lokasi.
Pada perairan yang dalam proses perencanaan budidaya akan tidak optimal, sebab konstruksi yang dibuat akan lebih banyak mengeluarkan biaya dalam pembuatannya. Selain itu pula pada perairan yang dalam akan sulit menentukan serta penempatan jangkar keramba. Kepulauan Seribu memiliki kedalaman yang relatif dangkal yaitu berkisar antara 1 - 50 m yang semakin bertambah dalam seiring menjauhi daratan. Pulau-pulau di Kepulauan Seribu pada umumnya terdapat gosong karang disekitarnya yang memiliki kedalaman 1-5 m. Sedangkan pada goba kedalamannya dapat mencapai 10 m, pada wilayah ini dikelilingi oleh gosong karang dan terdapat banyak terumbu karang sehingga pada wilayah ini sesuai untuk dijadikan lokasi budidaya. Peta kedalaman perairan Kepulauan Seribu dapat dilihat pada Gambar 25.
Gambar 25. Kedalaman Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Gambar 26. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan Kedalaman Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Berdasarkan kedalaman perairan wilayah yang sesuai untuk dijadikan lokasi budidaya keramba perikanan laut yaitu pada sekitar gosong karang dan goba yang memiliki kedalaman 1 - 20 m, selain itu pada wilayah tersebut terlindung dari arus serta gelombang yang besar. Kedalaman perairan yang dikategorikan sangat sesuai dalam kegiatan budidaya keramba jaring apung dan jaring tancap yaitu berkisar antara 10 - 30 m. sedangkan pada wilayah yang memiliki kedalaman antara 4 - 10 m dikategorikan sesuai. Perairan yang memiliki kedalaman < 4 m dan > 30 m tidak cocok dijadikan wilayah budidaya, sehingga dikategorikan tidak sesuai
Pada Gambar 26 merupakan peta kesesuaian lokasi budidaya keramba perikanan laut, dapat dilihat bahwa warna hijau menandakan wilayah tersebut termasuk kedalam kelas sangat sesuai, warna kuning menandakan kelas sesuai, sedangkan warna biru merupakan wilayah yang tidak sesuai untuk kegiatan budidaya. Zona atau wilayah yang sangat sesuai tersebar diseluruh pulau pada wilayah kajian, wilayah ini berada di sekitar gosong karang dan goba yang
kedalamannya tidak terlalu dalam yaitu sekitar 10-30 m. Wilayah sesuai berada di dalam gosong karang sebelum tubir. Pada wilayah ini kedalamannya relatif lebih dangkal dari kelas sangat sesuai. Sedangkan wilayah yang termasuk tidak sesuai berada di laut lepas yang mempunyai kedalaman lebih dari 30 m.
4.4. Kecepatan Arus
Kecepatan arus perairan sangat penting dalam media budidaya untuk menjaga kondisi berada pada kondisi yang optimum. Pada umumnya biota yang dibudiadayakan menyukai kondisi perairan yang bersih dan kondisi perairan yang
stabil (Aslianti, 2010). Oleh karena itu arus berfungsi dalam transfortasi masa air sekaligus membersihkan kotoran, mengurangi organisme menempel pada
keramba yang digunakan, mengurangi dekomposisi pakan-pakan yang tidak termakan dari biota yang dibudidayakan serta menjaga kestabilan distribusi kandungan oksigen terlarut dalam air.
Pada umumnya kecepatan arus dipengaruhi oleh pasang surut dan angin. Pada penelitian ini kecepatan arus diperoleh dari hasil pengolahan data pasang surut, angin, serta kedalaman perairan. Tipe pasang surut di Perairan Kepulauan Seribu adalah harian tunggal (diurnal) dimana terjadi satu kali pasang dan satu kali surut. grafik pasang surut dapat dilihat pada Gambar 27.
Sumber: Data Ramalan Pasang Surut DISHIDROS Tahun 2010
Gambar 27. Grafik Pasang Surut Perairan Kepulauan Seribu
Data pasang surut tersebut digunakan dalam meramalkan atau
memodelkan pola arah dan kecepatan arus pada lokasi penelitian. Dimana arah dan kecepatan arus tersebut dibangkitkan melalui data pasang surut serta data
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 14 -O k t-10 15 -O k t-10 16 -O k t-10 17 -O k t-10 18 -O k t-10 19 -O k t-10 20 -O k t-10 21 -O k t-10 22 -O k t-10 23 -O k t-10 24 -O k t-10 25 -O k t-10 26 -O k t-10 27 -O k t-10 28 -O k t-10 29 -O k t-10 30 -O k t-10 31 -O k t-10 E le v a s ( m ) Waktu
angin. Wilayah Kepulauan Seribu memilki kecapatan arus perairan tinggi pada saat musim Barat yang dapat mencapai 0.43 m/s. Kecepatan Arus yang diperoleh dari hasil model yaitu berkisar antara 0.1-0.26 m/detik. Berdasarkan hasil
simulasi niali kecepatan arus terbesar berada pada wilayah bagian timur daerah kajian, dimana pada wilayah ini langsung berhadapan dengan laut lepasatau dalam berada pada wilayah yang tidak terlindung sehingga pada perairan wilayah ini sebagian besar arus dipengaruhi oleh angin yang bertiup. Peta sebaran kecepatan arus seperti yang terdapat pada Gambar 28.
Kecepatan arus yang disarankan untuk kawasan budidaya perikanan laut yaitu berkisar antara 0.2-0.4 m/s sehingga dikategorikan wilayah sangat sesuai. Sebagian besar wilayah Kepulauan Seribu berdasarkan pada Gambar 28 termasuk kedalam kategori sesuai, kategori ini memiliki kisaran arus sebesar 0.05-0.2 m/s. Sedangkan pada kisaran nilai <0.05 dan >0.4 m/s tidak layak dijadikan lokasi budidaya. Kecepatan arus yang terlalu besar tidak baik untuk lokasi budidaya sebab dapat merusak media yang digunakan pada kegiatan budidaya yang pada umumnya menggunakan keramba jaring apung maupun keramba jaring tancap. Arus dan gelombang besar biasanya terjadi pada musim Barat dimana angin bertiup sangat kencang sehingga dapat membangkitkan arus permukaan yang cukup besar. Peta kesesuaian budidaya keramba perikanan laut berdasarkan kecepatan arus ditunjukkan pada Gambar 29.
Gambar 28. Sebaran Kecepatan Arus Permukaan Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Gambar 29. Klasifikasi Kesesuaian Berdasarkan Kecepatan Arus Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
4.5. Analisis Lokasi Kesesuaian Budidaya Keramba Perikanan Laut Pemodelan kawasan budidaya keramba perikanan laut (KJA dan KJT), dilakukan dengan menspasialkan data setiap parameter yang didapat baik dari hasil interpolasi maupun dari hasil penurunan citra setelah itu dilakukan
klasifikasi ulang untuk memudahkan dalam pengkodean. Pengkodean dari setiap sel atau piksel dilakukan secara otomatis berdasarkan nilai setiap selang kelas. Overlay dilakukan untuk menggabungkan semua parameter baik kimia maupun fisika yang telah dikelaskan. Metode overlay yang digunakan dalam penelitian ini yaitu weight overlay.
Berdasarkan hasil overlay zona kesesuaian budidaya keramba perikanan laut dibagi kedalam tiga kelas yaitu sangat sesuai (S1), dimana pada lokasi ini tidak terdapat faktor pembatas sehingga dapat memenuhi persyaratan minimal dalam melakukan kegiatan budidaya keramba secara optimal. Kelas yang kedua yaitu sesuai (S2), pada kawasan ini cukup berbermanfaat untuk dikembangkan untuk kegiatan budidaya, namun wilayah ini mempunyai faktor pembatas yang berpengaruh terhadap kegiatan budidaya. Faktor pembatas tersebut dapat
meningkatkan biaya yang diperlukan untuk melakukan kegiatan budidaya. Kelas Tidak Sesuai (S3), dimana pada kawasan ini tidak dapat diusahakan untuk
kegiatan budidaya meskipun dilakukan penambahan perlakuan sekalipun.
Peta kawasan budidaya keramba perikanan laut wilayah Kepulauan Seribu dapat dilihat pada Gambar 30. Pada gambar terlihat dengan metode berbasis sel dapat dibentuk spot-spot zona potensial yang direpresentasikan dengan warna hijau dan kuning, sedangkan untuk zona tidak potensial atau tidak sesuai
merah melambangkan kegiatan budidaya keramba perikanan laut yang sudah ada pada wilayah Kepulauan Seribu.
Hasil survey lapang diambil titik lokasi budidaya keramba yang telah ada sebelumnya, ini berguna sebagai perbandingan lokasi budidaya yang sudah ada dengan wilayah yang akan dikembangkan berikutnya. Seperti yang terdapat pada Gambar 30 terdapat point atau titik berwarna merah yang melambangkan keramba yang sudah ada, jika dilihat pada umumnya lokasi keramba yang sudah ada berada pada wilayah potensial. Jumlah pembudidaya keramba baik jaring apung dan keramba jaring tancap pada wilayah kajian masih terpusat pada sekitar wilayah Pulau Panggang dan Gosong Karang Lebar.
Hasil pemodelan kawasan budidaya perikanan diperoleh bahwa pada umumnya lokasi potensial untuk budidaya banyak terdapat pada wilayah sekitar gosong karang dan goba seperti yang terdapat pada goba karang lebar dan goba Pulau panggang. Sedangkan kawasan yang tidak sesuai terdapat pada perairan yang relatif dangkal dan wilayah laut lepas, karena pada wilayah laut lepas sangatlah tidak terlindung dari pengaruh faktor oseanografis seperti arus dan gelombang besar yang dapat merusak, serta mengganggu dalam kegiatan budidaya.
Zona yang sangat sesuai berada pada goba atau sekitar gosong karang, hal ini memungkinkan bahwa pada wilayah tersebut faktor pendukung dalam
melakukan kegiatan budidaya sangat besar. Pada wilayah sekitar goba banyak terdapat terumbu karang yang dapat menyokong kehidupan habitat di sekitarnya, selain itu pada wilayah ini pula sangat terlindung dari faktor alam seperti arus serta gelombang yang besar.
Gambar 30. Kesesuaian Budidaya Keramba Perikanan Laut Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Luas dari wilayah kajian dalam penelitian ini yaitu sekitar 14723.76 ha dimulai dari Pulau Air di Sebelah Selatan hingga Pulau Kelapa Dua di sebelah Utara. Dari kajian ini diperoleh daerah potensial untuk pengembangan lokasi budidaya perikanan laut yang luasnya mencapai sekitar 2305.46 ha. Luas keseluruhan kawasan potensial tersebut terdiri dari lokasi yang dikategorikan sangat sesuai memiliki luas sekitar 351.89 ha, serta wilayah yang termasuk kedalam kategori sesuai memiliki luas sekitar 1953.57 ha seperti yang tercantum pada Tabel 4.
Tabel 4. Luas Wilayah Potensial Budidaya Keramba Perikanan Laut
No Nama Pulau
Luas (Ha)
Sangat Sesuai Sesuai
1 Pulau Air 30.42 113.18
2 Pulau Bongkok 11.28 263.99
3 Pulau Harapan dan Kelapa 9.47 180.92
4 Pulau Kaliage Besar 42.14 30.73
5 Pulau Kaliage Kecil 1.31 18.93
6 Pulau Karang Congkak 72.63 224.19
7 Pulau Karya dan Panggang 44.87 223.11
8 Pulau Kelapa Dua 8.24 107.88
9 Pulau Kotok Besar 3.46 77.73
10 Pulau Kotok Kecil 0.42 31.14
11 Pulau Opak Besar 9.72 71.47
12 Pulau Opak Kecil 4.52 30.58
13 Pulau Pramuka 3.23 83.62
14 Pulau Sekati 0.26 22.01
15 Pulau Semak Daun 109.71 462.84
16 Pulau Semut 0.216 11.25
Tabel 4 menjelaskan mengenai luasan zona potensial dari setiap pulau pada wilayah kajian, berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat hampir disetiap pulau pada wilayah kajian dapat dilakukan kegiatan budidaya. Pulau yang memiliki area terluas dalam pengembangan kegiatan budidaya yaitu pada sekitar Pulau Semak Daun yang memiliki luasan potensial sekitar 109.71 ha untuk zona sangat sesuai serta 462.84 ha untuk zona sesuai. Luasan wilayah potensial budidaya perikanan laut yang didapat dari hasil pemodelan secara spasial ini belum merupakan luasan yang dapat dijadikan wilayah budidaya, dikarenakan pada penelitian ini belum dimasukan faktor-faktor pendukung lainnya seperti dari aspek sosial.
Pengembangan budidaya keramba jaring apung dan keramba jaring tancap berpeluang cukup besar sebab area yang belum termanfaatkan masih cukup luas. Namun dalam proses pengembangan usaha budidaya perlu diperhatikan prinsip kelestarian dan berkelanjutan. Untuk itu, potensi yang ada sebaiknya tidak
dimanfaatkan seluruhnya , tetapi disediakan untuk penyangga yang berguna dalam mengurangi efek penurunan kualitas lingkungan. Untuk itu diperlukan penataan dalam mendirikan keramba-keramba agar pada lokasi tersebut tidak terlalu padat.
70
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Perairan Kepulauan Seribu merupakan wilayah yang berpotensi untuk dijadikan kegiatan budidaya perikanan air laut (keramba jaring apung dan tancap), hal ini terlihat dari jumlah luasan wilayah potensial yang mencapai 15% dari luas wilayah kajian. Berdasarkan hasil penelitian ini didapat luasan zona potensial budidaya perikanan laut sebesar 351.89 ha untuk kategori sangat sesuai sedangkan kategori sesuai sebesar 1953.57 ha. Zona potensial berada pada sekitar goba dan gosong karang, pada wilayah ini faktor pendukung dalam melakukan kegiatan budidaya sangat besar seperti banyak didapati terumbu karanng pada wilayah tersebut serta terlindung dari pengaruh faktor oseanografis.
Perairan sekitar Pulau Semak Daun dan Karang Congkak mempunyai luas wilayah yang paling besar untuk kegiatan budidaya perikanan laut baik keramba jaring apung maupun keramba jaring tancap, luas potensial untuk wilayah ini yaitu 109.71 ha untuk zona sangat sesuai serta 462.84 ha untuk zona sesuai. Sementara itu keramba yang telah ada pada kawasan jika diplotkan kedalam peta kesesuaian hamper keseluruhan berada pada wilayah potensial.
5.2. Saran
Pada penelitian ini hanya dilakukan analisis data pada satu waktu saja yaitu pada bulan saat pengambilan data, maka untuk itu dalam penentuan kawasan potensial budidaya perikanan laut hendaknya dilakukan data pengamatan secara time series untuk mengetahui perubahan kualitas air pada musim yang berbeda yaitu musim barat dan musim timur. Selain itu perlu dipertimbangkan pula faktor lain seperti sosial ekonomi masyarakat sekitar, ketersediaan bibit, jalur
72
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., D. K. Miharja, dan S. Hadi. 1994. Kursus Intensif Oseanografi Bagi Para Perwira TNI-AL. Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat dan Jurusan Geofisika dan Meteorologi Institut Teknologi Bandung. Bandung. Aslianti, T. 2010. Pemeliharaan Gelondongan Kerapu Sunu (Plectropomus
leopardus) dengan Persentase Pergantian Air. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 2(2): 26-33.
Balai Budidaya Laut Lampung (BBL). 2001. Petunjuk Teknis Pembesaran Kerapu Macandan Kerapu Tikus. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
BPS. 2010. Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta
Boyd, C.E. 1982. Water Qualitymanagement for Fond Fish Culture Development in Aquaculture and Fish Scine, vol 9. Elsevier Pub. Comp. Amsterdam. Canada Center for Remote Sensing (CCRS). 2003. Fundamental of Remote
Sensing. Natural Resourses Canada. Ottawa.
Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta. 2010. Studi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dinas Perikanan DKI Jakarta. Jakarta.
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2009. Luas Lahan Perikanan Budidaya