• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

5.2 Analisa Kuantitatif

5.2.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif dapat memberikan gambaran terkait persepsi responden terhadap pernyataan dari seluruh instrument yang diteliti dalam penelitian. Analisis yang dilakukan yaitu dengan menghitung rata-rata (mean) yang didapatkan dari jawaban responden pada masing-masing item pengukuran. Interpretasi item pengukuran pada variabel diperoleh dari nilai mean masing-masing item pengukuran dimana nilai mean yang menunjukkan angka mendekati satu menyatakan persepsi responden semakin tidak setuju terhadap pernyataan, sebaliknya jika nilai mean mendekati angka lima maka responden dikatakan semakin mendukung pernyataan yang diajukan.

83 Tabel 5.3

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Implementasi E -procurement

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

X1 Jumlah dokumen 0 0 0 47.7 52.3 4.52 X2 Jumlah pekerjaan yang

dilelang

0 0 25.0 50.0 25.0 4.00 X3 Proses yang dilakukan 0 0 13.6 50.0 36.4 4.22

Respon berdasarkan faktor implementasi e -procurement menunjukkan bahwa penggunaan e -procurement untuk jumlah dokumen memiliki nilai mean sebesar 4.52 artinya responden secara keseluruhan menyepakati bahwa dokumen dalam proses lelang telah diproses secara elektronik melalui layanan SPSE. Ini berarti e -procurement telah membantu proses pengadaan dengan lebih baik terkait kemudahan dalam penyerahan dokumen dengan cara menguploud dan mengirimkan dokumen kembali secara online.

Dari keseluruhan pekerjaan pengadaan barang dan jasa yang ada pada setiap instansi diperoleh rata-rata penggunaan e -procurement untuk kegiatan pengadaan dan jasa antara 60 – 100% dengan nilai mean 4,00. Ini artinya responden menyepakati bahwa jumlah pekerjaan yang ada di instansi sebagian besar dilaksanakan dengan menggunakan layanan e -procurement, walaupun masih terdapat pekerjaan pengadaan barang dan jasa yang tidak dilakukan secara e -procurement. Ini disebabkan karena terdapat beberapa pekerjaan dengan nilai pekerjaan dibawah 200 juta yang menurut Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung. Jumlah tersebut menunjukkan nilai yang cukup baik terhadap penggunaan e -procurement pada kegiatan pengadaan barang dan jasa.

Pada item pengukuran seberapa besar penggunaan e -procurement digunakan dalam proses lelang terhadap semua aktifitas dalam tahapan lelang diperoleh nilai mean 4,22. Artinya e -procurement telah digunakan secara optimal dalam proses pengadaan barang dan jasa, walaupun masih terdapat beberapa proses yang tidak dilakukan melalui e -procurement seperti proses pembuktian dan tanda tangan kontrak, dimana penyedia diharuskan datang

84

langsung untuk dapat menunjukkan beberapa dokumen yang harus diberikan serta melakukan tanda tangan kontrak.

Tabel 5.4

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Efisiensi

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

Y1.1 Pengurangan biaya pembuatan dokumen

0 4.4 22.2 40.0 33.3 4.02 Y1.2 Penghematan anggaran 0 2.2 26.7 48.9 22.2 3.91 Y1.3 Biaya negosiasi 0 0 13.3 33.3 53.3 4.40

Faktor efisiensi diukur berdasarkan tiga item pengukuran yaitu apakah dengan penggunaan e -procurement terjadi pengurangan biaya administrasi pembuatan dokumen, adanya penghematan anggaran terkait harga penawaran, serta pengurangan biaya negosiasi. Pada item pengurangan biaya administrasi pembuatan dokumen menggambarkan bahwa dengan penggunaan e -procurement tingkat efisiensi pada pengurangan biaya pembuatan dokumen cukup baik yang digambarkan dengan nilai mean 4,02. Namun beberapa responden masih menganggap bahwa e -procurement tidak sepenuhnya berdampak signifikan terhadap tingkat efisiensi, hal ini dipandang karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya dokumen tidak menjadi hal yang sangat memberatkan bagi para penyedia. Namun secara keseluruhan menunjukkan bahwa e -procurement dianggap mampu meningkatkan efisiensi dalam hal biaya pembuatan dokumen.

Penghematan anggaran dipersepsikan oleh responden dengan nilai mean 3,91 dan merupakan nilai mean terendah pada faktor efisiensi, namun secara keseluruhan item ini merupakan faktor yang mempengaruhi efisiensi. Biaya negosiasi dipandang dapat meningkatkan efisiensi berdasarkan jawaban responden, hal ini disebabkan karena dengan adanya e -procurement dianggap mengurangi bahkan meniadakan negosiasi dalam perolehan tender oleh penyedia.

85 Tabel 5.5

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Efektifitas

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

Y2.1 Peningkatan proses pembuatan keputusan

0 11.4 20.5 38.6 29.5 3.86 Y2.2 Peningkatan manajemen

penyimpanan berkas

0 4.5 29.5 22.7 43.2 4.04 Y2.3 Penyelesaian pekerjaan

lebih cepat

0 2.3 9.1 27.3 61.4 4.47

Faktor efektifitas dalam penggunaan e -procurement digambarkan dalam tiga item pengukuran yaitu peningkatan proses pembuatan keputusan, peningkatan manajemen penyimpanan berkas dan penyelesaian pekerjaan menjadi lebih cepat. Item peningkatan proses pembuatan keputusan memperoleh nilai mean terendah dari pada item peningkatan manajemen penyimpanan berkas dan penyelesaian pekerjaan. Kondisi ini menggambarkan bahwa peningkatan proses pembuatan keputusan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh penggunaan e- procurement akan tetapi kemampuan sumber daya manusia yang berperan dalam proses pengambilan keputuasan itu sendiri. Hal ini disebabkan bahwa dalam setiap dokumen lelang yang masuk tetap dibutuhkan keahlian tenaga teknis yang berperan dalam menilai layak tidaknya penawaran yang diajukan. Pada item peningkatan manajemen penyimpanan berkaspun menunjukkan respon yang baik dengan nilai mean 4,04. Hal ini menggambarkan faktor peningkatan manajemen penyimpanan berkas merupakan faktor yang berpengaruh dalam efektifitas penggunaan e -procurement. Dari semua faktor yang mempengaruhi tingkat efektifitas penggunaan e -procurement faktor penyelesaian pekerjaan menjadi lebih cepat mendapatkan respon yang paling baik yaitu dengan nilai mean 4,47. Ini artinya tingkat efektifitas pada penggunaan e -procurement dianggap sangat dipengaruhi oleh item penyelesaian pekerjaan yang menjadi lebih cepat terkait waktu dalam setiap proses atau tahapan yang harus dilalui dalam pengadaan barang dan jasa.

86 Tabel 5.6

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Tranparansi dan Akuntabilitas

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

Y3.1 Pelaksanaan lebih akuntabel

0 2.3 15.9 22.7 59.1 4.38 Y3.2 Informasi pelaksanaan

lebih transparan

0 2.3 27.3 43.2 27.3 3.95 Y3.3 Menghilangkan

diskriminasi

0 18.2 15.9 31.8 34.1 3.81 Y3.4 Menjamin tidak adanya

intervensi

0 9.1 15.9 31.8 43.2 4.09

Faktor transparansi dan akuntabilitas secara keseluruhan dapat dipersepsikan dengan baik oleh responden untuk setiap item pengukuran. Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa pada item menghilangkan diskriminasi dalam proses lelang mendapat nilai mean yang paling rendah yaitu 3,81. Pelaksanaan menjadi lebih akuntabel mendapat nilai mean tertinggi yaitu 4,38 yang menandakan bahwa dengan penggunaan e -procurement dapat meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur dalam proses lelang.

Dengan mean 3.95 responden menyepakati bahwa e -procurement dapat menjadikan informasi mengenai pengadaan barang dan jasa menjadi lebih transparan karena diketahui secara luas oleh penyedia yang berminat atau masyarakat pada umumnya terutama mengenai waktu pelaksanaan kegiatan lelang. E -procurement dapat menghilangkan diskriminasi dengan adanya kesamaan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan dalam kegiatan lelang oleh penyedia didukung oleh jawaban responden dengan mean sebesar 3.81. Sedangkan jaminan tidak adanya intervensi oleh oknum dalam proses pengadaan barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik didukung oleh jawaban responden dengan nilai mean 4.09.

87 Tabel 5.7

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Keterbukaan

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

Y4.1 Jumlah keikutsertaan penyedia

0 2.3 11.4 52.3 34.1 4.18 Y4.2 Peningkatan kompetisi 0 9.1 2.3 36.4 52.3 4.31 Y4.3 Mengurangi monopoli 0 0 15.9 38.6 45.5 4.29

Faktor keterbukaan dinilai berdasarkan item pengukuran yaitu penggunaan e -procurement dapat menyebabkan keterbukaan informasi sehingga menambah jumlah keikutsertaan penyedia baik dari dalam maupun dari luar daerah penyelenggaraan, keterbukaan menyebabkan peningkatan kompetisi dalam pelaksanaan lelang dan keterbukaan dapat mengurangi kekuatan monopoli. Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa nilai mean untuk semua item pengukuran menunjukkan tingkat persepsi responden yang cukup baik dengan nilai mean diatas empat. Berdasarkan nilai indeks dapat dilihat bahwa dengan adanya e -procurement dapat menambah jumlah keikutsertaan penyedia dan meningkatkan kompetisi dalam perolehan pekerjaan, hal ini disebabkan dengan terbukanya informasi terkait pengumuman kegiatan lelang mempermudah penyedia baik dari dalam maupun luar daerah untuk dapat memperoleh informasi sehingga jumlah peserta lelang bertambah. Responden juga menyepakati bahwa dengan adanya e -procurement maka dapat mengurangi bahkan menghilangkan kekuatan monopoli, hal ini juga terkait keterbukaan informasi dalam pengumuman kegiatan lelang.

Tabel 5.8

Rangkuman Deskripsi Variabel Faktor Kinerja

Ukuran Respon (%) Mean

1 2 3 4 5

Z.1 Diketahui lelang yang dilakukan 0 0 20.5 43.2 36.4 4.15 Z.2 Diperoleh pemenang lelang 0 0 31.8 47.7 20.5 3.88 Z.3 Peningkatan kompetisi dalam tender 0 0 20.5 40.9 38.6 4.18 Z.4 Menurunnya jumlah sanggah 0 0 25.0 52.3 22.7 3.97 Z.5 Harga terbaik 0 0 20.5 50.0 29.5 4.09

88

Faktor kinerja dalam hal ini adalah peningkatan kinerja sebagai akibat penggunaaan e -procurement dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa itu sendiri diukur dengan menggunakan item pengukuran monitoring kegiatan lelang yang dilakukan, adanya pemenang tender untuk setiap pekerjaan yang dilelang, peningkatan kompetisi dalam perolehan tender terkait peningkatan jumlah peserta tender, penurunan jumlah sanggah dalam kegiatan lelang dan perolehan harga terbaik dalam setiap lelang. Berdasarkan hasil pada tabel dapat diketahui bahwa nilai mean untuk masing-masing item menunjukkan persepsi yang baik oleh responden. Pada item monitoring kegiatan lelang yang dilakukan diperoleh nilai mean 4,15, ini artinya bahwa dengan adanya e -procurement seluruh kegiatan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan secara lelang elektronik dapat dengan mudah dimonitoring khususnya untuk kegiatan yang akan dan telah dilaksanakan. Kegiatan lelang dikatakan berhasil apabila dalam setiap pekerjaan yang dilelang diperoleh pemenang dan berdasarkan tanggapan responden pada item pengukuran perolehan pemenang diperoleh nilai mean 3.88. Hal ini dapat dipersepsikan bahwasannya dari semua pekerjaan lelang yang ditawarkan masih terdapat beberapa pekerjaan yang dalam pelaksanaan lelang tidak diperoleh pemenang. Penyebabnya antara lain adalah jumlah peserta kurang dari tiga, tidak ada penawaran yang lulus evaluasi penawaran, maupun harga penawaran yang terlalu rendah/tinggi sehingga perlu dilakukan lelang ulang.

Peningkatan kinerja pada item pengukuran adanya peningkatan jumlah kompetisi oleh penyedia dalam perolehan tender dipersepsikan oleh responden dengan nilai mean sebesar 4.18. Ini artinya adanya e -procurement dapat mempengaruhi kinerja dalam hal ini adalah adanya perbaikan secara keseluruhan pada proses lelang itu sendiri terkait dengan meningkatnya jumlah peserta dalam setiap kegiatan lelang. Pada item penurunan jumlah sanggah diperoleh nilai mean sebesar 3.97 ini menyatakan bahwasannya dengan adanya e -procurement terjadi penurunan jumlah sanggah oleh penyedia. Hal ini disebabkan karena dengan adanya e -procurement semua ketentuan dalam proses lelang lebih jelas, sehingga penyedia yang mengikuti kegiatan lelang lebih mudah mengetahui prosedur pelaksanaan lelang dengan lebih baik. Perolehan harga terbaik dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa mendapat nilai mean 4.09, hal ini menggambarkan

89

bahwa responden menyepakati bahwasannya dengan lelang yang dilakukan secara elektronik peserta tender berusaha membuat nilai penawaran terbaik untuk dapat bersaing dengan peserta tender yang lain.