Pengolahan dan Analisis Data
B. Deskripsi Hasil Stud
3. Analisis Strategi Pemasaran a Analisis Lingkungan Internal
Dari hasil analisis mengenai lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan LKM Swamitra Mina, didapatkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan, yaitu :
1) Kekuatan
i. Kejujuran dan dedikasi yang tinggi dari pihak pengelola LKM Swamitra Mina, yang merupakan kunci utama bagi berkembangnya LKM tersebut, karena tanpa adanya kejujuran akan ditemui banyak kecurangan yang merugikan nelayan akibat adanya kepentingan pribadi di dalam LKM. Sedangkan dedikasi akan memacu petugas dan pengelola LKM untuk terus memikirkan kepentingan nelayan dan mencukupi kebutuhan nelayan melalui LKM, sehingga diharapkan dengan adanya dedikasi tersebut agar kehidupan nelayan semakin membaik dan LKM terus berkembang.
ii. Dana LKM yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga ada jaminan kontinuitas dana. Tanpa
71
adanya jaminan kontinuitas dana, maka hal ini merupakan hal yang sia-sia, karena tidak ada juga jaminan untuk kemajuan nelayan. Dengan adanya jaminan kepastian aliran dana, maka nelayan juga akan semakin percaya dan mantap untuk memanfaatkan fasilitas/produk LKM Swamitra Mina.
iii. Adanya sistem bagi hasil antara pengelola dengan penerima dana Dari keuntungan bersih yang diperoleh setiap akhir tahun dibagikan kepada anggota dihitung pershare. Bertujuan sebagai antisipasi dari penawaran pinjaman yang dilakukan rentenir dan dapat merangsang masyarakat nelayan untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disimpan di LKM Swamitra Mina.
iv. Penyediaan fasilitas dan kebutuhan nelayan oleh LKM Swamitra Mina yang merupakan bukti nyata dari kepedulian LKM Swamitra Mina terhadap kebutuhan dan kemajuan nelayan, serta perbaikan ekonomi masyarakat nelayan.
v. Pemberian reward kepada nelayan dengan performa baik. Hal ini merupakan kegiatan promosi yang menarik bagi nelayan di Kabupaten Cirebon, sehingga dengan adanya sistem reward
tersebut, nelayan akan semakin terpacu untuk bekerja dengan giat, sehingga terjadi peningkatan kinerja dalam hal pelunasan pinjaman.
vi. Adanya program pengentasan kemiskinan.
Secara periodik LKM Swamitra Mina bekerjasama dengan BUKOPIN meluncurkan dana murah yang diperuntukan untuk nelayan dengan permodalan terbatas, yaitu pinjaman dengan tingkat bunga paling murah dengan rerata tingkat bunga 4,5 % per tahun.
2) Kelemahan
i. Sistem pemasaran tidak dilakukan secara sporadis, tetapi hanya berita dari mulut ke mulut/ketok tular.
72
ii. SDM kurang handal terutama dalam hal mengelola keuangan di LKM Swamitra Mina. Uang yang sudah mengendap hanya sebagai deposito saja dan tidak dirotasikan kembali, padahal uang tersebut berpotensi untuk disalurkan melalui SBI, Deposit on Call (DOC).
iii. Produk LKM hanya berupa produk simpan pinjam, sedangkan kebutuhan dari masyarakat cukup beragam antara lain perlunya pemberian bantuan secara fisik, misalnya pemberian jaring untuk menangkap ikan.
iv. Pencatatan keuangan dilakukan secara sederhana
Pembukuan dan laporan keuangan masih dilakukan stand alone, dan masih terdapat registrasi cash flow dilakukan secara manual, meskipun telah tersedia perangkat
v. Hal ini kadangkala menyebabkan kesulitan dalam pengurusan administrasi peminjaman dan pelunasan, sehingga pengurusannya membutuhkan waktu lama yang menyebabkan nelayan kadang enggan dan lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan pinjaman walaupun kadang berisiko tinggi.
vi. Pembinaan hanya diberikan kepada nelayan perwakilan yang mengakibatkan adanya perbedaan pengetahuan dan ketrampilan, karena apa yang disampaikan oleh LKM terhadap nelayan perwakilan biasanya tidak sama dengan apa yang diberikan nelayan perwakilan tersebut kepada anggota kelompok yang lain akibat hilangnya beberapa informasi.
vii. Bantuan sebagian besar diberikan kepada nelayan-nelayan yang dikenal oleh pengelola, sehingga dari kejadian ini, timbul persepsi ketidakadilan dan juga terjadi ketimpangan antara nelayan pemanfaat dan non-pemanfaat terutama dari segi ekonomi.
b. Analisis Lingkungan Eksternal
Hasil analisis lingkungan eksternal berupa peluang dan ancaman, maka lingkungan eksternal yang dihadapi oleh LKM Swamitra Mina adalah :
73
1) Peluang
i. Hasil tangkapan yang cukup potensial.
ii. Dengan masih berlimpahnya potensi perikanan dan perairan di Kabupaten Cirebon, maka semakin terbuka lebar peluang nelayan untuk berusaha dan terus mendapatkan uang untuk memutar modal dan terutama melunasi pinjaman dari LKM.
iii. Kemudahan dalam menjalin kerjasama dengan bank-bank, antara lain Bank Bukopin dan saat ini meluas kepada bank-bank pembangunan daerah dalam hal pendanaan
iv. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelola yang sudah mulai tumbuh, hal ini dibuktikan dengan kenaikan simpanan masyarakat nelayan pada LKM Swamitra Mina dari tahun ke tahun.
v. Meningkatnya kebutuhan modal para nelayan dapat dilihat dari PYD pada laporan keuangan tahun 2004 dan 2005 dengan rerata peningkatan 300 %, sedangkan pada tahun 2006 sedikit mengalami penurunan.
vi. Dicanangkannya pola makan sehat melalui program makan ikan, melalui penyuluhan dari tingkat desa sampai kabupaten.
vii.Dukungan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan serta Pemerintah Daerah setempat, termasuk kelurahan dan kecamatan yang semakin memantapkan nelayan untuk memilih menjadi nasabah LKM Swamitra Mina. Diharapkan dengan adanya dukungan dari pihak-pihak tersebut, maka kebutuhannya akan semakin diperhatikan.
2) Ancaman
i. Adanya rentenir di masyarakat dilatar belakangi oleh wawasan masyarakat nelayan yang masih sempit serta kebutuhan akan modal yang mendesak bahwa meminjam kepada rentenir lebih mudah prosesnya dibandingkan kepada Bank atau LKM.
74
ii. Sistem ijon yang masih berjalan dari tengkulak, masyarakat nelayan lebih memandang bahwa telah terjadi hutang budi kepada pemilik dana yang merasa dibantu kebutuhannya pada saat paceklik.
iii. Program serupa yang menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan, biasanya banyak ditawarkan oleh para tengkulak untuk memenuhi kebutuhan sekunder dari masyarakat nelayan, dimana pembayarannya diperhitungkan dengan hasil tangkapan yang akan dijual kepada tengkulak tersebut.
iv. Wawasan masyarakat yang masih sempit, pembinaan dan sosialisai mengenai koperasi dan LKM dari instansi terkait masih sangat kurang.
v. Lemahnya kelembagaan sosial ekonomi masyarakat, kurangnya perhatian Pemda setempat untuk pemberdaayn LKM dan Koperasi, Selama ini, baik LKM maupun Koperasi dapat berjalan beredasarkan ketokohan.
vi. Kenaikan harga BBM yang terus melambung, hasil tangkapan yang tidak menutupi dengan harga BBM yang terus meningkat, menjadi peluang bagi para pelaku rente dan ijon.
3.3. Analisis SWOT
Analisis SWOT digunakan sebagai marketing framework untuk membantu LKM meningkatkan eksistensi LKM dan mencapai kesuksesan. Kekuatan (S) dan Kelemahan (W) adalah faktor internal yang dapat dikontrol oleh perusahaan. Sedangkan Peluang (O) dan Ancaman (T)adalah faktor eksternal yang tidak dapat dikontrol.
75
Tabel 13. Matriks IFE
A. FAKTOR INTERNAL Bobot
(a)
Rating (b)
Skor (a x b) 1. Kejujuran dan dedikasi yang tinggi dari pihak
pengelola 0,077 3,611 0,278
2. Jaminan kontinuitas dana 0,088 3,889 0,342 3. Adanya sistem bagi hasil dengan pengelola 0,057 1,556 0,089 4. Penyediaan fasilitas dan kebutuhan nelayan 0,085 3,722 0,316 5. Pemberian reward kepada masyarakat nelayan
dengan performa baik 0,074 2,889 0,215
6. Pembuatan program pengentasan kemiskinan 0,084 3,611 0,302 7. Sistem pemasaran tidak sporadis 0,083 3,611 0,301 8. SDM kurang handal 0,065 2,944 0,192 9. Produk LKM hanya simpan pinjam 0,069 1,500 0,104 10. Pencatatan keuangan dilakukan secara
sederhana 0,052 1,222 0,063
11. Pembinaan hanya diberikan kepada nelayan
perwakilan 0,083 4,000 0,333
12. Bantuan hanya diberikan kepada nelayan-
nelayan yang dikenal oleh pengelola 0,090 4,000 0,361
Jumlah (A) 3,265
Faktor kelemahan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah pembinaan yang hanya diberikan kepada nelayan perwakilan dan sistem pemasaran yang tidak sporadis. Hal ini tentu saja harus ditangani dengan serius, karena model pembinaan yang seperti itu akan menyebabkan keterlambatan pengembangan kemampuan dan keterampilan nelayan- nelayan lain. Langkah yang dapat diambil untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah perlu adanya pelatihan secara berkala untuk seluruh anggota nelayan pemanfaat dan perlu adanya buku panduan secara lengkap yang akan lebih melengkapi proses pembelajaran seluruh nelayan.
Sistem pemasaran yang hanya melalui cara ketok tular atau dari mulut ke mulut (word of mouth), menyebabkan kurang efektifnya
76
program promosi yang dilakukan oleh LKM Swamitra Mina. Hal ini akan berpengaruh terhadap nelayan karena tidak semua nelayan mengetahui adanya LKM tersebut dan pada akhirnya program peningaktan mutu hidup nelayan tidak merata. Hal ini harus segera diperbaiki dengan melakukan kegiatan promosi secara lebih agresif.
Tabel 14. Matriks EFE
B. FAKTOR EKSTERNAL Bobot
(a)
Rating (b)
Skor (a x b) 1. Hasil tangkapan yang cukup potensil 0,119 3,556 0,422 2. Kemudahan dalam menjalin kerja sama dengan
Bank- bank 0,120 4,000 0,481
3. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelola
yang sudah mulai tumbuh 0,109 3,556 0,389 4. Meningkatnya kebutuhan modal para nelayan 0,098 3,111 0,306 5. Dicanangkannya pola makan sehat melalui makan
ikan yang meningkatkan gairah nelayan 0,067 3,111 0,209 6. Adanya rentenir yang masih ada di masyarakat 0,078 4,000 0,312 7. Sistem ijon yang masih berjalan dari tengkulak 0,082 4,000 0,328 8. Program serupa yang menawarkan berbagai fasilitas
dan kemudahan 0,065 3,667 0,237
9. Wawasan masyarakat yang masih sempit 0,080 3,833 0,308 10. Lemahnya infrastrutur kelembagaan sosek
masyarakat 0,083 3,722 0,307
11. Kenaikan harga BBM yang terus melambung 0,098 4,000 0,394 12. Dukungan DKP dan Pemda 0,092 4.000 0,369
Jumlah (B) 3,694
Dari hasil pengamatan lingkungan di luar LKM Swamitra Mina, didapatkan hasil adanya peluang yang dapat dimanfaatkan oleh LKM Swamitra Mina, yaitu peluang terbesar adalah kemudahan dalam menjalin kerjasama dengan bank-bank yang nantinya dapat membuka tingkat kepercayaan masyarakat yang besar terhadap pengelola LKM, misalnya semakin meningkatnya simpanan masyarakat sejak tahun 2004 diakibatkan peningkatan nyata pada pertengahan sampai akhir tahun 2006. Dengan demikian merupakan celah untuk meningkatkan ekspansi
77
pinjaman dan peluang untuk mengembangkan produk yang telah ada di LKM Swamitra Mina dimana produk simpanan tidak hanya terbatas pada simpanan biasa dan simpanan berjangka.
Ancaman yang berpengaruh paling besar adalah kenaikan BBM yang terus melambung, BBM merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat nelayan, karena daya beli terhadap BBM sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan, baik secara mutu maupun kuantitasnya, karena kenaikan BBM merupakan kebijakan pemerintah pusat dan sulit dihindari maka sebaiknya Pemerintah Kabupaten atau Pemerintah Kodya Cirebon memberikan bantuan semacam subsidi silang, khususnya untuk masyarakat nelayan menengah ke bawah atau pemerintah sudah mulai mengenalkan bahan bakar alternatif sebagai salah satu solusi menjawab kenaikan BBM.
Jika diperhatikan dari Tabel 15, dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi kekuatan utama bagi LKM Swamitra Mina adalah adanya dukungan dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Hal ini tentu saja berpengaruh sangat besar, terutama terhadap kelancaran dan pengembangan LKM tersebut. Diharapkan dengan adanya dukungan tersebut, maka terjadi kemajuan di dalam LKM, terutama dari segi pelayanan dan penyediaan fasilitas bagi nelayan yang pada akhirnya akan mempengaruhi perbaikan dan peningkatan mutu hidup kelompok nelayan. Secara langsung, dengan adanya dukungan ini terjadi jaminan kontinuitas dana bagi LKM Swamitra Mina dan tentu saja bagi nelayan.
78
Tabel 15. Matriks SWOT
IFAS
EFAS
Strengths (S)
1. Kejujuran dan dedikasi yang tinggi dari pihak LKM.
2. Ada jaminan kontinuitas dana. 3. Sistem bagi hasil pengelola dengan
nelayan
4. Pemberian penghargaan kepada nelayan
Weaknesses (W) 1. Sistem pemasaran tidak sporadis 2. SDM kurang handal
3. Produk LKM hanya berupa produk simpan pinjam
4. Pencatatan keuangan secara sederhana
5. Pembinaan hanya kepada perwakilan
6. Bantuan hanya untuk nelayan yang sudah dikenal
Opportunities (O) 1. Hasil tangkapan cukup
potensil
2. Kemudahan menjalin kerja sama dengan Bank-bank 3. Tingkat kepercayan mulai
tumbuh 4. Meningkatnya kebutuhan modal nelayan 5. Dukungan DKP dan Pemda 6. Pembuatan program pengentasan kemiskinan 7. Dicanangkannya program makan ikan
• Memperluas jaringan kerjasama dengan pihak pemerintah dan bank untuk mengembangkan LKM (S1, S2, O1, O2)
• Peningkatan jumlah kredit (S2, O2- O5, O6, O7)
• Promosi berkelanjutan (S3, S4, O3)
• Ekspansi pinjaman secara meluas S4,O3,O4)
• Program pembelian ikan oleh LKM dengan harga yang bersaing (S4, O4,O5)
• Perbaikan sistem pemasaran, terutama promosi merata dan berkeadilan (W1, W6, O3, O4, O5)
• Mengedukasi pengelola melalui pelatihan-pelatihan dan pembinaan (W2, W4, O2, O5)
• Pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan nelayan (W3, O2)
• Pembinaan menyeluruh secara berkala untuk semua anggota anggora kelompok nelayan pemanfaat (W5, O3)
Threats (T) 1. Adanya rentenir yang di
masyarakat
2. Sistem ijon dari tengkulak 3. Program serupa yang
menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan 4. Wawasan masyarakat masih
sempit
5. Lemahnya infrastruktur kelembagaan sosial ekonomi masyarakat 6. Kenaikan BBM yang terus
melambung
• Sosialisasi yang lebih agresif dan meluas mengenai keuanikan dan kelebihan program-program LKM Swamitra Mina (S1-S6, T1-T4)
• Penataan infrastruktur kelembagaan masyarakat dengan bantuan pihak Pemerintah (S3, T5)
• Pengenalan bahan bakar alternatif sebagai salah satu solusi menjawab kenaikan BBM oleh Pemerintah/pihak yang kompeten (S3, T6)
• Perlu diadakan pendekatan personal yang lebih intensif untuk membuka wacana dan meningkatkan kesadaran nelayan (W1, T1, T2, T4)
• Peninjauan kembali regulasi yang memberatkan dan menghambat kemajuan nelayan (W2, W3, T5, T6)
• Pengembangan dan peningkatan mutu program LKM Swamitra Mina (W3, W4, W5, W6, T3)
Matriks di bawah ini menggambarkan nilai skor IFE 3,265 dan EFE 3,694 (Gambar 2) sehingga posisi LKM Swamitra Mina berada pada kuadran I yang berarti dapat terus dikembangkan/dibangun. karena posisi perusahaan berada pada kuadran I, maka strategi yang harus dilakukan adalah growth-oriented strategy atau pengembangan pasar
79
yang intensif dengan menggalang kekuatan pihak luar dalam mendukung modal dan kelembagaan. Matriks ini juga menggambarkan bahwa LKM Swamitra Mina mempunyai tingkat keunggulan dalam faktor internal, terutama kekuatan (jumlah total skor 1,911) namun juga menghadapi ancaman yang dinilai cukup tinggi oleh responden (jumlah total skor 1,887) . Dengan diketahuinya faktor yang mendominasi, maka hal yang paling penting bagi LKM Swamitra Mina adalah bagaimana menggunakan kekuatan untuk menghadapi ancaman yang ada.
(3,265:3,694) GROWTH II GROWTH III RETRENCHMENT STABILITY V GROWTH/SBLT VI RETRENCHMENT VII GROWTH VIII GROWTH IX RENTRENCHMENT
Keterangan : I, II, IV = Grow and build
III, V, VII = Hold and maintain
VI, VII, IX = Harvest and divesture
Gambar 2. Posisi LKM Swamitra Mina berdasarkan Matriks SWOT
Sedang Kuat Lemah Tinggi Lemah Rata-rata 1,0 Total Skor EFE
Total Skor IFE
3,0 2,0 1,0 2,0 3,0 4,0 IV
80
3.4. Analisis diagram Radar
Diagram radar (spider chart) merupakan cara sederhana untuk menentukan apakah suatu sebab akibat terjadi di antara dua peubah. Diagram ini berguna untuk menunjukkan hubungan antara titik-titik yang dipetakan dan menggambarkan hubungan antara dua peubah. Diagram ini juga membantu memeriksa korelasi dari penyebab yang kontinyu terhadap suatu karakteristik mutu. Diagram radar digunakan untuk membandingkan analisis pemasaran pada LKM Swamitra Mina secara eksternal dan internal (Gambar 3). Sebuah radar chart digunakan untuk menunjukkan ukuran gap lima sampai sepuluh area kinerja organisasi (Gambar 3 dan 4). Gambar diagram ini menunjukkan kategori penting sebuah kinerja dan membuat konsentrasi yang nyata tentang kekuatan dan kelemahan lembaga keuangan.
0 50 100 150 200 250 A B C D E LKM Non LKM
Sumber : DKP, 2006 (data diolah kembali).
Gambar 3. Diagram Radar Rasio Keuangan LKM Swamitra Mina dan Non LKM di Kabupaten Cirebon
Keterangan :
A = Rasio total pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan diberikan B = Rasio total pembiayaan terhadap total dana yang diterima dari anggota C = Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) D = Rasio laba tahun berjalan terhadap aset
E = Rasio laba tahun berjalan terhadap total modal
Dari Gambar 3 di atas terlihat jelas bahwa dalam operasionalnya LKM Swamitra Mina lebih efisien dari non LKM. Demikian pula halnya dengan kemampuan
81
menghasilkan laba, LKM Swamitra Mina mempunyai kemampuan menghasilkan laba yang lebih Tinggi dibandingkan dengan Non LKM.
0 200 400 600 800 1000 SM1‐2004 SM2‐2004 SM1‐2005 SM2‐2005 5M1‐2006 SM2‐2006 LKM Non LKM
Sumber : DKP, 2006 (data diolah kembali)
Gambar 4. Diagram Radar rasio total modal terhadap simpanan pada LKM Swamitra Mina dan Non LKM di Kabupaten Cirebon
Rasio total modal terhadap simpanan merupakan cerminan kemampuan lembaga keuangan untuk menarik nasabah. Dari Gambar 4 terlihat bahwa LKM Swamitra Mina semakin terlihat memperoleh kepercayaan dari nasabahnya. Sedangkan Gambar 5 memperlihatkan perkembangan struktur modal, efisiensi operasi dan kemampuan menghasilkan laba yang semakin baik dibandingkan dengan non LKM. 0 200 400 600 800 1000 L K M 2005 L K M 2006 N O N L K M 2005 N O N L K M 2006 S T R U K T U R MO D A L B O P O R O E
Gambar 5. Diagram Batang struktur modal, BOPO dan ROE
Pada LKM Swamitra Mina dan Non LKM di Kabupaten Cirebon
Da
la
m
juta r
82
Kinerja pemasaran lembaga keuangan dapat dilihat dari kemampuan menambah nilai perolehan dan jumlah nasabah.atau kemampuan menambah jumlah simpanan dan kredit yang disalurkan baik dari sisi nilai maupun jumlah nasabah yang terlibat
Gambar 6. Diagram Batang jumlah pinjaman yang disalurkan dan jumlah simpanan pada LKM Swamitra Mina semester I 2005 s/d semester II 2006 di Kabupaten Cirebon (dalam Jutaan Rupiah).
Dari Gambar 6 dan 7 terlihat bahwa meskipun lebih baik dari non LKM, kemampuan LKM Swamitra Mina pada periode semester I 2005 s/d semester II 2006 mengalami penurunan dalam hal kemampuan menyalurkan kredit dan penurunan jumlah simpanan baik dari sisi nilai rupiah maupun jumlah nasabahnya.
6702,80 7024,28 3183,87 5438,55 3183,87 5438,55 500,97 1027,74 0,00 1000,00 2000,00 3000,00 4000,00 5000,00 6000,00 7000,00 8000,00 S M1‐2005 S M2‐2005 S M1‐2006 S M2‐2006
P injaman yang dis alurkan J umlah S impanan
8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Jumlah transa k si (j uta r p)
83
Gambar 7. Diagram Batang jumlah peminjam dan penabung pada LKM Swamitra Mina semester I 2005 s/d semester II 2006 di Kabupaten Cirebon
Eskpansi pemasaran yang efektif akan menyebabkankan kepercayaan yang tinggi para nasabah untuk cenderung menggunakan LKM. Pemasaran yang efektif akan berpengaruh terhadap tingkat efisiensi keuangan yang dipergunakan untuk memasarkan produk. Secara keseluruhan pada Gambar 5 menunjukkan bahwa LKM lebih efisien dalam mengelola keuangan yang salah satu bagiannya adalah aspek pemasaran. Keberhasilan pemasaran juga akan terlihat dari kemampuan Lembaga untuk menghasilkan laba. Kedua lembaga diatas tidak terlalu nyata perbedaannya terhadap tingkat laba namun LKM lebih baik.
Strategi pemasaran yang disusun dalam pelaksanaannya perlu diuji untuk mengetahui tepat atau tidak, hal yang dimaksud tersebut, Hal ini akan tercermin dari tingkat penjualan, pangsa pasar yang dikuasai dan biaya yang dikorbankan. Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan strategi pemasaran yang disusun, maka dibutuhkan kesiapan organisasi LKM dan pelaksanaannya. Dalam rangka itu perlu dibuat kerangka organisasi yang jelas, efisien dan memuaskan bagi personalianya. Selanjutnya personalia organisasi LKM harus diseleksi dengan baik untuk mendapatkan tenaga yang benar-benar bermutu, terampil dan mempunyai kemampuan.
Ju
ml
ah Nas
a
84
Diagram radar dapat dijadikan rekomendasi tentang konsep pemasaran yang seharusnya dijalankan LKM, yaitu konsep berwawasan pemasaran. Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan industri terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien daripada saingannya. Konsep berwawasan pemasaran bersandar pada empat pilar utama, yaitu pasar sasaran, kebutuhan nasabah, pemasaran yang terkoordinir dan keuntungan.
Dalam menjamin kemampuan suatu LKM bertahan di era global, khususnya mencari pasar, perlu diterapkan Manajemen Mutu Total yang didasarkan pada tiga hal, yaitu Voice of Customer, Voice of Employee dan Voice of Process.Voice of Customer, manajemen mutu total yang melihat nasabah sebagai salah satu aset usaha terpenting. Bahkan dapat dikatakan bahwa suatu LKM ada karena diterima oleh nasabah, maka persaingan usaha adalah dalam kemampuarmya mendengarkan " Voice of Customer" dan mencoba memenuhinya secara lebih baik.
Selaras dengan falsafah mengenai pelanggan. maka manajemen mutu total juga memberikan perhatian yang luar biasa dalam pemberdayaan karyawan (empowerment). diantaranya penghapusan atas atasan-bawahan, keterbukaan atas rahasia LKM dan mengembangkan setiap karyawan agar dapat bertindak sebagai pengusaha atau presiden direktur melalui pengelolaan voice of employe sebagai prediktor yang baik dan efisiensi industri (future costs).
Setelah voice of customer dan voice of employee dapat dipenuhi melalui
proses kerja organisasi yang memadai, atau lebih tepat dapat mengantisipasi masa depannya (future sales – future costs = future profit), maka diperlukan voice of process yang dapat mengintegrasikan potensi-potensi dari pengelolaan kedua
voice sebelumnya kedalam sistem kerja yang mempunyai tatacara, kinerja, target dan ambisi yang maksimal.
85