• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 ANALISIS STRUCTURE, CONDUCT, PERFORMANCE (SCP) PASAR KARET RAKYAT

Bab 6 membahas sistem pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi dengan pendekatan structure, conduct, performance (SCP). Struktur pasar yang dianalisis yaitu pangsa pasar, konsentrasi pasar, dan hambatan masuk pasar. Analisis perilaku dilakukan secara deskriptif terkait dengan aktivitas pemasaran, penentuan harga serta kerjasama antar lembaga pemasaran. Analisis kinerja pasar mencakup marjin pemasaran, farmer share, dan integrasi pasar vertikal. Setiap analisis akan dijelaskan secara sistematis terkait dengan tujuan penelitian serta akan di jelaskan hubungan antar variabel struktur, perilaku dan kinerja dalam menentukan pola pembentukan harga dan kaitannya dengan efisiensi pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi.

Analisis Struktur Pasar (Market Structure)

Analisis struktur pasar bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat persaingan yang terjadi dalam pasar karet rakyat di Provinsi Jambi. Identifikasi dilakukan menggunakan analisis pangsa pasar, hambatan masuk pasar dan konsentrasi pasar. Melalui analisis tersebut akan dapat diamati bentuk pasar yang terjadi dalam pasar karet rakyat di Provinsi Jambi. Pangsa pasar dianalisis dengan menggunakan persentase penjualan suatu perusahaan pengolah (eksportir) dengan total penjualan seluruh perusahaan, konsentrasi pasar dianalisis dengan menggunakan konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) dan hambatan

masuk pasar dianalisis menggunakan Minumum Efficiency Scale (MES).

Pangsa Pasar dan Konsentrasi Pasar

Pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi sebagian besar ditujukan pada pasar ekspor dalam bentuk SIR 20 dan SIR 10, karet dari petani berbentuk bokar (bahan olahan karet rakyat) dipasarkan hingga pabrik Crumb rubber sebagai

39 pabrik pengolah dan eksportir kemudian pabrik akan mengolah bokar dari petani menjadi SIR 20 dan SIR 10 untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri dan dalam negeri. Selama tahun 2012 ekspor karet yang berasal dari Provinsi Jambi mencapai 290 ton dan sebagian besar (63.78 persen) diekspor ke negara Jepang, China dan Amerika Serikat. (Disperindagkop Provinsi Jambi 2012). Besarnya volume karet yang dipasarkan ke pasar dunia menunjukkan bahwa eksportir memiliki peran strategis dalam pasar karet di Provinsi Jambi. Saat ini jumlah perusahaan pengolah yang melakukan perdagangan karet ke luar negeri (eksportir) sebanyak 10 unit. Perhitungan pangsa pasar perusahaan diperoleh melalui data realisasi rata-rata penjualan karet per bulan di empat perusahaan karet terbesar terhadap total penjualan karet di Provinsi Jambi. Pada tabel 7 terlihat nilai pangsa pasar pada setiap pabrik crumb rubber di Provinsi Jambi.

Tabel 7 Pangsa pasar dan konsentrasi pasar 10 pabrik crumb di Provinsi Jambi Nama Perusahaan Rata-rata Volume Penjualan Karet (kg/bulan) Pangsa pasar (w) CR4 PT Djambi Waras 10 266 340 0.3124 0.7570 PT Aneka Bumi Pratama 7 730 100 0.2352

PT Remco 3 464 420 0.1054

PT Megasawindo Perkasa 3 415 600 0.1039 PT Batanghari Tembesi 2 160 900 0.0658

PT Hoktong 1 876 000 0.0571

PT Angkasa Raya DJambi 1 731 940 0.0527 PT Anugerah Bungo Lestari 1 632 960 0.0497 PT Golden Energi 463 680 0.0142

PTPN VI 120 960 0.0037

Jumlah 32 862 900 1.0000

Hasil analisis konsentrasi pasar (CR4) menunjukkan bahwa terdapat empat perusahaan terbesar yang menguasai 75.70 persen dari total penjualan karet di Provinsi Jambi. Artinya tingkat persaingan perusahaan ekspor karet di Provinsi Jambi terkonsentrasi dengan tingkat persaingan kecil hal ini dikarenakan terdapat 4 (empat) perusahaan terbesar yang menguasai penjualan karet di Provinsi Jambi. Konsentrasi pasar yang tinggi dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisar antara 60 hingga 80 persen artinya industri semakin terkonsentrasi dan semakin sedikit jumlah produsen yang berada di pasar maka tingkat persaingan kecil, sedangkan semakin rendah rasio konsentrasi pasar artinya konsentrasi pasar yang rendah dan persaingan lebih tinggi (Jaya, 2001).

Kondisi ini juga menggambarkan bahwa pasar karet rakyat di Provinsi Jambi cenderung berada dalam struktur pasar oligopoli ditingkat pabrik dan petani menghadapi pasar oligopsoni. Kohls dan Uhl (2002) menyatakan bahwa apabila CR4 perusahaan terbesar lebih dari 50 persen, maka struktur pasar cenderung berada pada kondisi pasar oligopoli. Pasar oligopoli merupakan bentuk pasar dengan beberapa penjual dalam suatu industri yang memiliki persaingan yakni persaingan harga dan nonharga untuk memperoleh konsumen (Baye, 2010). Konsekuensi bagi petani dalam menghadapi struktur pasar oligopsoni adalah petani cenderung sebagai penerima harga (price taker) dan posisi tawar petani

40

lemah (bargaining position) yakni petani tidak memiliki kekuatan dalam menentukan harga jual karet yang dihasilkan. Hal ini sejalan dengan penelitian Yuprin (2009) dalam pasar karet di Kabupaten Kapuas dan Giroh et al. (2010) dalam pasar karet alam di Nigeria yang menunjukkan bahwa adanya dominasi pelaku pemasaran yang menentukan harga dan petani cenderung sebagai penerima harga (price taker).

Analisis pangsa pasar perusahaan dapat dilihat juga melalui nilai HHI (Herfindahl-Hirschman Index). Baye (2010) menyatakan bahwa nilai HHI dapat dihitung dengan menggunakan jumlah total kuadrat pangsa pasar (market share) dari perusahan yang berada pada suatu industri. Pada tabel 8 terlihat nilai HHI (Herfindahl-Hirschman Index) pada pabrik crumb rubber di Provinsi Jambi. Tabel 8 Herfindahl-Hirschman Index (HHI) pabrik crumb rubber di Provinsi

Jambi Tahun 2012 Nama Perusahaan Rata-rata Volume Penjualan Karet (kg/bulan) Pangsa pasar (w) PT Djambi Waras 10 266 340 0.3124

PT Aneka Bumi Pratama 7 730 100 0.2352

PT Remco 3 464 420 0.1054

PT Megasawindo Perkasa 3 415 600 0.1039 PT Batanghari Tembesi 2 160 900 0.0658

PT Hoktong 1 876 000 0.0571

PT Angkasa Raya DJambi 1 731 940 0.0527

PT Anugerah Bungo Lestari 1 632 960 0.0497

PT Golden Energi 463 680 0.0142

PTPN VI 120 960 0.0037

Jumlah 32 862 900 1.0000

HHI=10000Σwi2 1 878

Berdasarkan Tabel 8 nilai HHI pabrik crumb rubber di Provinsi Jambi bernilai 1 878. Baye (2010) mengemukakan bahwa nilai HHI berada diantara 0 - 10 000. Jika nilai HHI sama dengan 0, maka terdapat perusahaan-perusahaan dalam industri yang sangat kecil. Namun, jika nilai HHI diatas 0 hingga 10 000 mengindikasikan bahwa pangsa pasarnya bernilai 1. Artinya CR4 berada pada sedikit persaingan antara produsen dan konsumen (pasar terkonsentrasi). Hal ini sesuai dengan kesimpulan pada analisis CR4 bahwa pasar karet di Provinsi Jambi menghadapi pasar dengan tingkat persaingan yang kecil dengan konsentrasi tinggi.

Hambatan Masuk Pasar

Perusahaan dalam suatu industri memiliki kekuatan tersendiri sehingga mampu bertahan menghadapi pesaing baru yang akan masuk pada suatu industri tersebut. Setiap perusahaan baru memiliki peluang dan kesempatan untuk bersaing. Persaingan yang terjadi merupakan persaingan alami yang potensial. Namun, perusahaan tersebut menghadapi hambatan pasar yang ada sehingga menimbulkan penurunan kesempatan atau mempengaruhi cepat atau lambat masuknya perusahaan baru dalam suatu pasar. Hambatan masuk pasar dapat dilihat dengan banyak pesaing bermunculan untuk bersaing mencapai target yang diinginkan.

41 Analisis hambatan masuk pasar bertujuan untuk melihat banyaknya lembaga pemasaran yang dapat masuk untuk bersaing merebut pangsa pasar. Hambatan masuk pasar hal yang dimungkinkan terjadi dalam suatu struktur pasar. Adanya kesempatan dan peluang dalam melakukan bisnis memungkinkan banyak perusahaan baru yang masuk untuk menguasai pasar. Masuknya lembaga pemasaran baru akan menimbulkan pesaing sekaligus ancaman bagi lembaga pemasaran yang sudah ada. Hambatan masuk pasar dapat dihitung menggunakan MES (Minimum Efficiency Scale). Nilai MES diperoleh dari volume penjualan karet oleh perusahaan terbesar di Provinsi Jambi terhadap total penjualan karet di Provinsi Jambi. Artinya bila nilai MES > 10 % mengindikasikan terdapat hambatan masuk pasar bagi perusahaan baru (Jaya, 2001). Pada tabel 9 terlihat perkembangan nilai MES (Minimum Efficiency Scale) selama kurun waktu 2007 sampai 2012.

Tabel 9 Nilai MES (Minimum Efficiency Scale) pabrik crumb rubber di Provinsi Jambi Tahun 2007-2012 (%)

Tahun MESa (%) Keterangan

2007 28.72 Ada hambatan masuk

2008 31.34 Ada hambatan masuk

2009 30.27 Ada hambatan masuk

2010 29.64 Ada hambatan masuk

2011 29.13 Ada hambatan masuk

2012 31.24 Ada hambatan masuk

Rata-rata 29.92

a

Persentase penjualan karet terbesar dari suatu perusahaan terhadap total penjualan karet di Provinsi Jambi

Berdasarkan Tabel 9 Nilai MES cenderung berfluktuatif selama lima tahun karena PT. DJambi Waras sebagai perusahaan terbesar di Provinsi Jambi tahun 2007 hingga 20102 menghasilkan produksi karet yang fluktuatif sehingga menghasilkan MES yang fluktuatif pula. Hambatan masuk terbesar yaitu 28.72 persen dan pada tahun 2012 sebesar 30.41 persen. Fluktuasi nilai MES terjadi karena adanya perubahan jumlah penjualan karet yang dilakukan oleh perusahaan. walaupun demikian, nilai MES yang terlihat lebih besar dari 10 persen. Nilai rata- rata MES dari tahun 2007 hingga 2012 mencapai 29.92 artinya nilai MES lebih dari 10 persen. Hal ini mengindikasikan adanya hambatan masuk dalam perdagangan karet di tingkat perusahaan pengolah (eksportir). Artinya angka tersebut merupakan indikator output minimal bagi pesaing baru untuk bersaing dalam industri crumb rubber di Provinsi Jambi. Bagi perusahaan, tingginya hambatan masuk pasar antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu oleh besarnya modal yang dibutuhkan, kerjasama antar perusaaan dan jaringan rantai pasok bahan baku yang kuat dengan pedagang pengumpul dan petani.

Analisis Perilaku Pasar (Market Conduct)

Perilaku pasar karet rakyat di Provinsi Jambi dianalisis secara deskriptif. Analisis perilaku pasar akan menggambarkan perilaku setiap lembaga pemasaran

42

dalam menghadapi struktur pasar yang ada. Adapun elemen yang terdapat dalam perilaku pasar meliputi lembaga dan praktek fungsi pemasaran yang didalamnya akan terlihat kondisi kerjasama antar lembaga pemasaran, saluran pemasaran, mekanisme penentuan harga dan sistem pemasaran.

Lembaga dan Praktek Fungsi Pemasaran

Lembaga pemasaran merupakan badan usaha atau individu yang melakukan kegiatan atau fungsi pemasaran sehingga produk atau jasa akan berpindah dari produsen ke konsumen. Adapun lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi meliputi petani, pedagang pegumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang besar Provinsi, pasar lelang karet, dan pabrik pengolah karet (crumb rubber).

a. Petani merupakan pemilik produk hasil panen yang siap dijual. Petani dalam penelitian ini bukan hanya sebagai pemilik lahan saja tetapi juga petani penyadap yang menyadap batang karet orang lain dengan sistem bagi hasil maupun sistem upahan.

b. Pedagang pengumpul desa atau tauke desa merupakan pedagang yang mengumpulkan bokar (bahan olahan karet) dari petani. Pedagang pengumpul desa hanya mengumpulkan bokar dalam satu desa dan kemudian menjualnya ke lembaga pemasaran lain yaitu ke pasar lelang karet atau ke pedagang besar Provinsi. Lembaga pemasaran ini berdomisili di daerah penelitian.

c. Pedagang pengumpul kecamatan atau tauke kecamatan merupakan pedagang yang mengumpulkan bokar dari petani yang berada di beberapa desa dalam kecamatan yang sama. Pedagang pengumul kecamatan memiliki cakupan pemasaran yang lebih besar dari pedagang pengumpul desa. Lembaga pemasaran ini menjual bokar dari petani ke pedagang besar Provinsi.

d. Pedagang besar Provinsi merupakan pedagang yang memperoleh bokar dari berbagai pedagang di dalam Provinsi Jambi. Penjual biasanya langsung mendatangi pedagang besar Provinsi dalam transaksi jual beli. Lembaga pemasaran ini merupakan kaki tangan pabrik atau orang yang dipercaya oleh pabrik untuk menyuplai bahan baku dari petani. Lembaga ini memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dari pada pedagang lainnya.

e. Pasar lelang karet merupakan sarana bertemunya petani dan pedagang atau pabrikan secara langsung dimana pembentukan harga yang terjadi dilakukan secara transparan tanpa ada kolusi antar pelaku usaha dan tanpa tekanan dari pihak manapun. Pelaku pasar lelang meliputi penjual, pembeli, panitia lelang, lembaga penjamin, perbankan. Pihak penjual dapat meliputi petani produsen individu skala besar, kelompok tani, koperasi/KUD. Sedangkan pihak pembeli dapat meliputi pedagang pengumpul tingkat kabupaten, pedagang pengumpul antar daerah, maupun pabrik crumb rubber.

f. Pabrik crumb rubber (Eksportir). Perusahaan atau lembaga yang mengolah bokar dari petani menjadi SIR 20 atau SIR 10 serta memasarkannya ke negara konsumen. Lembaga ini memperoleh bahan baku dari kelompok tani, pedagang pengumpul maupun dari pasar lelang karet.

Setiap lembaga pemasaran mampu menciptaan nilai secara spesifik untuk produk dan jasa yang ditawarkan (Levens 2010). Penciptaan nilai ini dapat dilakukan melalui fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu fungsi pertukaran (pembelian dan

43 penjualan), fungsi fisik (pengolahan, transportasi/pengangkutan dan penyimpanan) dan funngsi fasilitas (standardisasi, pennanggulangan risiko, pembiayaan dan informasi pasar) (Kohls dan Uhl 2002). Adapun fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga yang terlibat dalam pemasaran karet rakyat akan dijelasakan berikut:

Petani Karet

Petani karet merupakan pemilik bokar hasil panen yang siap dijual. Petani dalam penelitian ini bukan hanya sebagai pemilik lahan tetapi juga petani penyadap yang menyadap batang karet orang lain dengan sistem bagi hasil maupun sistem upahan. Rata-rata petani karet mengolola tanaman karet sebanyak 500-1500 pohon. Semakin tinggi tingkat ekonomi petani karet maka total luas lahan tanam karet akan semakin tinggi dan jumlah tanaman karet akan semakin banyak, begitu sebaliknya. Kebun karet dikelola baik secara intensif maupun non intensif. Budidaya intensif yakni pengelolaan kebun karet dengan memperhatikan kebersihan kebun karet yang dikelola sedangkan budidaya non intensif yaitu kebun karet yang dikelola secara agroforestri (hutan karet) dengan membiarkan tanaman lain tumbuh bersama pada satu lahan.

Para petani karet di Provinsi Jambi saat ini masih banyak yang menggunakan bibit karet cabutan, anakan liar, atau hasil semaian karet dari pohon karet alam yang dibudidayakan sebelumnya. Meskipun demikian, bibit karet unggul sebenarnya sudah dikenal luas oleh petani. Bibit karet unggul dihasilkan dengan teknik okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari karet-karet karet pilihan. Okulasi dilakukan untuk mendapatkan bibit karet berkualitas tinggi. Batang atas dianjurkan berasal dari karet klon PB260, IRR118, RRIC100 dan batang bawah dapat menggunakan bibit dari karet karet klon PB20, GT1, dan RRIC100 yang diambil dari pohon berumur lebih dari 10 tahun.

Perawatan secara rutin dalam pertumbuhan tanaman karet seperti pemangkasan, pemupukan, pengairan atau penyiraman, dan pengobatan kurang dilakukan oleh petani. Untuk ketiga kecamatan yang diamati, perawatan petani terhadap tanaman karet bervariasi. Kecamatan Pelepat dan Kecamatan Bajubang kegiatan perawatan masih relatif rendah, terutama pada pemupukan dan pengobatan. Sedangkan beberapa desa di Kecamatan Muarabulian sudah melakukan proses perawatan yang baik. Petani karet di Provinsi Jambi sebagian besar menyadap batang karet setiap hari dan mencetak bokar 4-7 hari sekali. Penanganan pasca panen karet dan kualitas bokar dijual oleh petani di Provinsi Jambi dipengaruhi oleh tingkat ekonomi petani. Petani yang tingkat ekonominya kurang, akan melakukan penjualan dengan segera mungkin setelah panen dilakukan, hal ini akan berakibat pada rendahnya pendapatan yang diperoleh petani karena KKK masih tergolong rendah.

Petani karet yang berada di Provinsi Jambi menjual bokar kepada beberapa alternatif pemasaran diantaranya pasar lelang karet pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, dan pabrik. Harga karet tergantung pada perlakukan yang telah dilakukan oleh petani karet dan kepada siapa petani menjual bokarnya. Bahan olah karet rakyat atau lateks asalan yang berkembang didaerah sentra produksi karet di Provinsi Jambi adalah bentuk slab tebal (ojol). Ada beberapa cara pengolahan slab yang biasa dilakukan petani yaitu pembekuan slab dengan cuka para, pembekuan slab dengan Pupuk P dan pembekuan slab

44

secara alami. Namun dari hasil pengamatan pembekuan slab dengan pupuk P sudah mulai berkurang karena kelangkaan pupuk dan harga pupuk yang mahal. Apabila dilihat dari kualitas slab yang di produksi yakni dengan semua komponen mutu yaitu: KKK, Po, PRI, kadar abu, dan kadar kotoran masih belum memenuhi persyaratan mutu. Pada tabel 10 menunjukkan fungsi pemasaran yang dilakukan serta kerjasama yang dilakukan oleh petani responden.

Tabel 10 Fungsi-fungsi pemasaran dan kerjasama di tingkat petani

Fungsi pemasaran Keterangan Kerjasama

Fungsi Pertukaran Fungsi Fisik Fungsi Fasilitas Penjualan Transportasi Penyimpanan Penanggungan resiko/susut Pembiayaan Informasi Pasar PPD/PPKec/PLK/Pabrik - - - PPD/PPKec PPD/PPKec/PLK/Pabrik Keterangan:

PPD = Pedagang pengumpul desa PPKec = Pedagang pengumpul kecamatan PLK = Pasar lelang karet

Pasar Lelang Karet

Pasar lelang dibentuk untuk melakukan kontrol terhadap harga yang ditetapkan oleh tauke atau pedagang pengumpul yang membeli karet dari petani secara langsung. Melalui pasar lelang, harga bahan olahan karet (bokar) dibeli dari petani berdasarkan kualitas karet yang diproduksi. Harga yang ditentukan oleh pasar lelang biasanya lebih besar dari harga beli tauke atau pedagang pengumpul yang ada di desa atau kecamatan. Namun, kondisi dilapangan masih banyak petani yang menjual karetnya pada pedagang pengumpul yaitu sebesar 31.77 persen. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu keterikatan hutang atau pinjaman, proses jual beli yang mudah dan keparcayaan pada pedagang pengumpul walaupun harga jual lebih murah dibandingkan dengan harga di pasar lelang. Pada tabel 11 menunjukkan fungsi pemasaran yang dilakukan serta kerjasama yang dilakukan oleh pasar lelang karet.

Tabel 11 Fungsi-fungsi pemasaran dan kerjasama di tingkat pasar lelang karet

Fungsi pemasaran Keterangan Kerjasama

Fungsi Pertukaran Fungsi Fisik Fungsi Fasilitas Pembelian Penjualan Transportasi Penyimpanan Penanggungan resiko/susut Pembiayaan Informasi Pasar Petani/PPD Pabrik - - - Perbankan Petani/PPD/Pabrik Keterangan:

45 Pasar lelang dapat meningkatkan mutu karet petani, mengurangi fluktuasi harga yang terjadi (elastisitas) dan memberikan pengaruh pendapatan petani produsen di sekitar pasar lelang karet. Harga Karet melalui pedagang pengumpul ditentukan secara sepihak oleh pedagang berdasarkan penilaian kadar karet kering (KKK), tanpa adanya perbandingan harga dan mutu sebagai pedoman. Kondisi tersebut meyebabkan posisi tawar petani lemah serta petani cenderung berada pada kondisi price taker (menerima harga).

Pada lokasi penelitian terdapat 3 (tiga) pasar lelang karet (PLK) dan telah terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi yaitu PLK Desa Panerokan, PLK Desa Ladang Peris dan PLK Kecamatan Pelepat. Pertama pasar lelang karet di Pasar lelang di Desa penerokan. PLK ini didirikan pada tahun 1989 yang dikelola oleh KUD Berdikari yang berada di desa tersebut. Pasar lelang penerokan beroperasi setiap hari rabu pada dua minggu sekali. Rata-rata volume perdagangan karet di PLK Desa Panerokan yaitu 8-10 ton perlelang. Kedua, PLK Desa Ladang Peris didirikan pada tahun 2004 yang dikelola oleh pengurus pasar lelang bekerja sama dengan dua kelompok tani yaitu kelompok tani Sido Dadi dan kelompok tani Karya Abadi. Setiap anggota dari kelompok tani tersebut dianjurkan untuk menjual ke PLK ladang peris sehingga pasar lelang ini memiliki petani tetap yang menjual karet. PLK Ladang Peris ini beroperasi dua minggu sekali pada hari senin. Pasar ini beroperasi seminggu setelah pasar lelang di Desa Penerokan. Rata-rata volume perdagangan karet di PLK Desa Ladang Peris yaitu 10-12 ton perlelang.

Ketiga, PLK Kecamatan Senamat didirikan pada tahun 2003 yang dikelola oleh pengurus pasar lelang dan diketuai oleh manajer pasar lelang. Pasar lelang ini merupakan pasar lelang terbesar di Provinsi Jambi dan memiliki menajemen pengelolaan yang baik sehingga peserta lelang bukan hanya berasal dari Kecamatan Pelepat saja tetapi juga dari luar Kabupaten bahkan luar Provinsi Jambi. PLK ini beroperasi dua minggu sekali pada hari rabu. Rata-rata volume perdagangan karet di PLK Senamat yaitu 50-60 ton perlelang. Pemasaran pada PLK dilakukan secara terbuka dengan sebagai berikut, masing-masing pabrik sebagai calon pembeli menetapkan harga bokar yang ditawarkan petani. Kemudian setelah semua calon pembeli menetapkan masing-masing harga untuk bokar petani, petani berhak memilih harga jual bokar dengan penawaran tertinggi sehingga petani dapat memperoleh pedapatan yang lebih baik. Pada satu kali perdagangan di PLK biasanya dihadiri oleh 4-5 pabrik yang menawarkan harga bokar sesuai dengan harga jual yang ditentukan pabrik dan kualitas bokar yang diperdagangkan.Untuk informasi pasar, yang berupa perkembangan harga beli dan harga jual, diperoleh langsung dari pabrik maupun Dinas Perdagangan Provinsi Jambi Adapun sistem pembayaran yang diterapkan pada PLK dari utusan pabrik sebagai pembeli kepada petani sebagai penjual adalah pembayaran secara tunai.

Pedagang Pengumpul Desa

Pedagang pengumpul desa menghubungkan petani karet dengan pedagang- pedagang tingkat selanjutnya. Pedagang pengumpul desa mengumpulkan bokar dari petani yang berada di lingkungan desanya dan sekitar desanya. Pedagang pengumpul desa umumnya bertempat tinggal di lokasi desa yang sama atau bahkan bisa datang dari desa sekitar. Beberapa pedagang pengumpul desa yang terdapat di Provinsi Jambi juga berprofesi sebagai petani. Petani tersebut

46

merupakan petani yang mempunyai modal cukup dalam melakukan kegiatan usaha ini. Pada tabel 12 menunjukkan fungsi pemasaran yang dilakukan serta kerjasama yang dilakukan oleh pedagang pengumpul desa.

Tabel 12 Fungsi-fungsi pemasaran dan kerjasama di tingkat pedagang pengumpul desa

Fungsi pemasaran Keterangan Kerjasama

Fungsi Pertukaran Fungsi Fisik Fungsi Fasilitas Pembelian Penjualan Transportasi Penyimpanan Penanggungan resiko/susut Pembiayaan Informasi Pasar Petani PLK/PBProvinsi - - - Perbankan Petani/PLK/PBProvinsi Keterangan:

PPKec = Pedagang pengumpul kecamatan PLK = Pasar lelang karet

PB Provinsi = Pedagang besar Provinsi

Pedagang pengumpul desa tidak melakukan pengolahan sehingga bokar yang dibeli dari petani hanya disimpan sebelum dijual kembali pada lembaga pemasaran berikutnya. Pada saat musim hujan pedagang pengumpul desa memerlukan modal yang besar untuk membeli bokar dari petani karena pada musim ini bokar yang dihasilkan relatif lebih banyak dari biasanya. Beberapa pedagang pengumpul desa melakukan peminjaman kepada pihak perbankan maupun kepada pedagang dengan tingkat yang lebih besar. Pedagang pengumpul desa memperoleh informasi pasar dari pasar lelang, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul tingkat kabupaten dan pedagang besar. Informasi yang diterima diantaranya mengenai perkembangan harga jual dan juga kualitas bokar.

Pedagang Pengumpul Kecamatan

Pedagang pengumpul kecamatan adalah pedagang yang menampung penjualan bokar masih dalam lingkup satu kecamatan. Sama seperti dengan