• Tidak ada hasil yang ditemukan

DWI NURUL AMALIA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2013

58

tingkat petani. Sedangkan perubahan harga di pasar lelang karet mempengaruhi harga di petani meskipun memiliki integrasi yang lemah baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Saran

Adapun beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini diantaranya diperlukan dukungan dan peran kelembagaan dengan adanya penguatan fungsi organisasi berupa koperasi untuk meningkatkan kinerja pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi yang memiliki fungsi melakukan koordinasi antar seluruh lembaga, dan menyampaikan infomasi secara terbuka mengenai hal-hal yang terkait dengan pemasaran karet rakyat. Untuk meningkatkan pendapatan petani disarankan agar petani karet meningkatkan kualitas bokar dengan cara menggunakan zat pembeku yang dianjurkan dan tidak memasukkan banda asing dalam mncetak bokar (bahan olahan karet) sehingga petani dapat memperoleh harga jual yang lebih tinggi. Serta Pentingnya keterlibatan petani untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tani dan koperasi yang berada di wilayah mereka. Dengan keikutsertaan petani dalam kegiatan kelompok dan koperasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas karet dan mengurangi ketergantungan terhadap pedagang pengumpul. Petani sebaiknya memasarkan bokar melalui pasar lelang karet karena harga yang diberikan lebih tinggi daripada penjualan ke pedagang pengumpul.

Perlunya perhatian pemerintah Provinsi Jambi dalam pengembangan tanaman karet di wilayah mereka, dengan perbaikan sarana infrastruktur, seperti jalan. Selain itu, perlu adanya kerjasama yang baik antara pabrik crumb rubber dengan kelompok tani, dengan pemberian Delivery Order (DO), sehingga kelompok tani mempunyai akses untuk menjual langsung ke pabrik. Dengan adanya kerjasama tersebut, petani juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas kadar karet kering mereka. Selanjutnya pemberian kredit bagi petani karet yang ingin melakukan peremajaan maupun mengkonversi menjadi tanaman perkebunan lain, dengan bunga yang lebih rendah. Pemberian kredit tersebut dilakukan dengan pengawasan kontrol dari pemerintah setempat baik melalui lembaga keuangan formal maupun lembaga keuangan nonformal. Bagi penelitian selanjutnya, rekomendasi yang dapat dilakukan yaitu melakukan penelitian pemasaran karet rakyat di beberapa sentra produksi karet terbesar di Indonesia. Hal ini dapat memberikan alternatif pola pemasaran yang sesuai bagi petani di daerah tersebut yang mendorong pada pengembangan agribisnis karet Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, J.C. dan J.P. Mahekam. 1990. Agricultural Economics and Marketing In The Tropics. Longman. Essex.

Asmarantaka, Ratna Winandi. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian. Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

59 Asni et al. 2009. Identifikasi dan Analisa Mutu Lateks Asalan (slab) di Provinsi Jambi . Jurnal Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi. Jambi Azzaino, Z. 1982. PengantarTataniaga Pertanian. Departemen Ilmu-ilmu Sosial

Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Baye, Michael. 2010. Managerial Economics and Business Strategy. Seventh Edition. McGraw-Hill Irwin.Singapure.

Besanko et al. 2010. Economics of Strategy. Fifth Edition.International Student Version. John Wiley & Sons (Asia).

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Statistik Indonesia. Jakarta (ID): BPS. . 2012. Statistik Perkebunan Provinsi Jambi 2011. Jambi (ID): BPS. Bosena DT, Bekabil F, Berhanu G, and Dirk H. 2011. Structure-conduct-

performance of cotton market: The case of Metema District, Ethiopia. Journal of Agriculture, Biotechnology and Ecology 4 (1): 1-12.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. Pedoman Jaminan Mutu Bokar dalam SNI- Bokar No. 06-2047-2002.

Cramer, Gail L. et al. 2001. Agricultural Economics and Agribusiness. John Wiley & Son. Inc. United States.

Dahl, D.C dan J.W. Hammond. 1977. Market and Price Analysis. Mc Graw Hill. New York.

[DISBUN] Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2012. Sektor Unggulan Perkebunan.[internet] [diakses pada 3 Maret 2013]. Tersedia pada:

http://www.Jambiprov.go.id/? show=direktori&id=perkebunan-karet.

[DISPERINDAG] Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi. 2013. Laporan Tahunan Ekspor Komoditas Unggulan Provinsi Jambi. Jambi. [DITJENBUN] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Peningkatan Produksi,

Produktivitas Dan Mutu Tanaman Tahunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. Downey, David W dan John K.Trocke. 1981. Agribusiness Management.

McGraw-Hill, Inc. US of America.

Fadhla T. 2008. Integrasi Pasar Komoditas Pangan (Beras, Kacang Tanah Kupas dan Kedelai Kuning) di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Agritek Vol.16 No.9 September 2008.

Fathoni, Zakky. 2009. Evaluation Of Market System And Market Integration For Rubber Cultivation In Jambi Province- Indonesia. Thesis Report. Wageningen University and Research.

Funke O, Raphel B, and Kabir S. 2012. Market structure, conduct and performance of gari processsing industry in South Western Nigeria. Europen Journal of Business and Management 4 (2): 99-112.

[GAPKINDO] Gabungan Perusahaan Karet Indonesia. 2011. Statistik Karet Alam Indonesia.GAPKINDO [internet] [diakses pada 3 Maret 2013]. Tersedia pada: http://www.gapkindo.org/index.php/id/berita/163-analisis-pasar.html Giroh D, Umar Y and Yakub W. 2010. Structure, Conduct and Performance of

Farm Gate Marketing of Natural Rubber in Edo and Delta States, Nigeria. African Journal of Agricultural Research 5 (14): 1780-1783.

Hidayati, Wiwiek. 2009. Analisis Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar Rumput Laut Euchema Cottoni: Kasus di Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

60

Hammond, JW and DC Dahl. 1992. Market and Price Analysis: The Agricultural Industry. Newyork (US): McGraw-Hill.

Hobbs, J. E. 1997. Measuring the Importance of Transaction Cost in Catle Marketing. American Journal of Agricultural Economics 79 (4) : 1083 – 1095.

Hudson, D. 2007. Agricultural Markets And Prices. Blackwell Publishing Ltd. USA, UK and Australia.

Jaya, W. K. 2001. Ekonomi Industri. Edisi Kedua. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Kementerian Pertanian. 2012. Laporan Kinerja Kementrian Pertanian Tahun 2011. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Kizito, A.M. 2011. The Structure, Conduct and Performance of Agricultural Market Information Systems in Sub-Saharan Africa [dissertation]. Michigan (US): Michigan State University.

Kohls dan Uhl. 2002. Marketing of Agricultural Products. Ninth Edition. Prentice Hall. New Jersey.

Kotler. 1993. Manajemen Pemasaran: Analisis Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian. Edisi 7. Lembaga Penerbit FE UI. Jakarta.

Lamb, C.W. J.F. Hair dan M. Daniel. 2001. Pemasaran. Terjemahan. Salemba Empat, Jakarta.

Levens, Michael. 2010. Marketing: Defined, Explained, Applied. International Edition. Pearson: Prentice Hall.

Limbong dan Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Melania. 2007. Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar. Eksekutif: Journal of Bisnis and Management: vol 4. No.3 Desember 2007. Surabaya: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBMT.

Mc Kie, J.W. 1970. Market Structure and Function: Performance Versus Behaviour. Industrial organization and economic development. Boston: Houghton Mifflin.

Napitupulu, D.M.T. 2007. Kajian Tataniaga Karet Alam: Sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Petani. Jurnal sosial ekonomi pertanian. Universitas Jambi.

Ngigi, M. 2008. Structure Conduct and Performance of Commodity Markets in South Sudan (SD): Lingkages Food Security. Journal of Agricultural and Social Science 16 (1): 35-46.

[P2HP Kementan] Pengolahan dan Pemasaran Produk Pertanian Kementerian Pertanian. Standar Operasional Pengolahan Bahan Olah Karet.

Purcell. 1979. Agricultural Marketing: System, Coordination, Cash and Futures Prices. A Prentice-Hall Company. Virginia.

Putri, Amelia Mega. 2013. Sistem Pemasaran Kopi Arabika Gayo dengan Pendekatan Structure, Conduct, Performace [Kasus: Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah] [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Rahim dan Hastuti. 2007. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ravallion, M. 1986. Testing Market Integration. American Journal of Agricultural Economics, 68(1): 102-109.

61 Rosiana, Nia. 2012. Sistem Pemasaran Gula Tebu (Cane Sugar) Dengan Pendekatan Structure, Conduct, Performance (SCP)[Kasus : Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Bungamayang] [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sri Haryanto, Eko 2004.Analisis Sistem Pemasaran Apel Manalagi (Malus sylvestris Mill) di Kota Batu Propinsi Jawa Timur. Tesis. Program Studi Manajemen Agribisnis. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Sudiyono. 2002. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhamadiyah Malang. Swastha, Basu. 2005. Menejmen Pemasaran Modern. Liberty.Yogyakarta.

Tarmizi, A. 2009. Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Karet Rakyat di Kabupaten Batanghari. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. Universitas Jambi. Teguh. 2010. Ekonomi Industri. PT. Raja Grafindo. Jakarta.

Tomek, W.G. dan K.L. Robinson. 1990. Agricultural Product Prices. Third Edition. Cornell University Press. Ithaca.

Umar, H.Y, Otitolaiye J.O., and Opaluwa H.I. 2011. Evaluation of Acacia Species (Gum Arabic) market struktur, market conduct, and performance in Borno State, Nigeria. Journal of Agricultural and Social Science 7 (1):17-20. Wahyuningsih. 2013. Sistem Pemasaran Rumput Laut Di Kepualauan Tanekke

Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan: Struktur, Perilau Dan Keragaan Pasar . [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Waldman, DE dan Jensen, EJ. 2007. Industrial Organization. Theory and Practice. Third Edition. United States of America (US): Pearson Education.

Yuprin. 2009. Analisis Pemasaran Karet di Kabupaten Kapuas. Agritek Vol 17 No.6 November 2009.

62

LAMPIRAN

Lampiran 1 Produksi, ekspor dan konsumsi karet alam Indonesia 2005-2011(„000) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Produksi (ton) 2270.8 2637.2 2755.1 2751.3 2440.3 2734.8 3088.4 Ekspor (ton) 2024.6 2286.9 2407.9 2283.2 1991.5 2351.9 2555.7 Nilai (USD) 2582.9 4321.5 4868.7 6023.3 3241.5 7326.6 11762.3 Konsumsi (ton) 246.2 350.3 347.2 468.1 448.8 382.9 532.7

Sumber: Ditjebun dan BPS 2012

Lampiran 2 Produksi karet alam Indonesia tahun 2007-2011 („000 Ton)

Produsen 2007 2008 2009 2010 2011 Perkebunan Rakyat 2177 2174 1942 2179 2486 Perkebunan Negara 277 277 239 266 289 Perkebunan Swasta 301 301 259 289 314 Total Produksi 2755 2751 2440 2735 3088 Produktivitas (Kg/Ha/Tahun) 993 994 901 986 1085

Sumber: Ditjebun dan BPS 2012

Lampiran 3 Rata-rata pangsa luas areal, produksi dan produktivitas menurut Provinsi penghasil utama karet alam Indonesia Tahun 2006-2010 Provinsi Luas Areal

(%/Tahun) Produksi (%/Tahun) Produktivitas (Kg/Ha/Tahun) Sumatera Utara 13.53 16.04 1067.34 Sumatera Selatan 20.16 20.22 975.44 Jambi 12.88 11.12 836.04 Riau 12.15 13.87 956.70 Kalimantan Barat 11.37 9.76 829.76 Kalimantan Tengah 7.76 7.20 993.52 Lainnya 22.15 21.79 995.70

63 Lampiran 4 Luas areal, produksi dan jumlah tenaga kerja pada komoditas karet

di Provinsi Jambi tahun 2005-2011 („000)

Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Jumlah TK (Orang) 2005 622.19 247.56 236.43 2006 630.21 266.26 239.48 2007 636.90 264.67 242.02 2008 644.94 271.75 245.07 2009 645.14 280.62 251.79 2010 646.69 280.92 251.01 2011 649.40 288.98 251.40 Laju Pertumbuhan 3.84% 12.42% 5.97%

64

Lampiran 5 Hasil output analisis integrasi pasar vertikal Model Ravallion:

Keterangan :

= Harga karet di pasar lokal (waktu t) (Rp/kg)

= Harga karet di pasar lokal (waktu t-1) (Rp/kg)

= Harga karet di pasar acuan (waktu t) (Rp/kg)

= Harga karet di pasar acuan (waktu t-1) (Rp/kg)

= Koefisien lag harga di tingkat pasar ke-1 (lokal) pada waktu

t-1

= Faktor-faktor lain yang mempengaruhi HF = Harga karet di tingkat petani

HPDES = Harga karet di tingkat pedagang pengumpul desa HPKEC = Harga karet di tingkat pedagang pengumpul desa HPLK = Harga karet di tingkat pasar lelang karet

HPAB = Harga karet di tingkat pabrik

HPB = Harga karet di tingkat pedagang besar Provinsi 1. Petani dengan Pedagang Pengumpul Desa

Dependent Variable: HF Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HF1 0.963184 0.045140 21.33780 0.0000

HPDESFD -0.044148 0.150019 1.627448 0.1098 HPDES1 0.028468 0.022114 -1.287336 0.2038

C 890.5158 383.5156 2.321981 0.8243

R-squared 0.942545 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 278.8823 Durbin-Watson stat 2.121093

65 2. Petani dengan Pedagang Pengumpul Kecamatan

Dependent Variable: HF Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HF1 0.979056 0.038324 25.54671 0.0000

HPKECFD -0.065651 0.112339 4.145054 0.0001 HPKEC1 0.023848 0.018184 -1.311465 0.6956

C 584.8590 350.3949 1.669142 0.9012

R-squared 0.954357 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 355.4579 Durbin-Watson stat 2.158443

3.Petani dengan Pasar Lelang Karet Dependent Variable: HF

Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HF1 0.057874 0.065475 13.10230 0.0000

HPLKFD 0.672123 0.044792 6.075309 0.0000

HPLK1 0.018698 0.034433 1.658450 0.1034

C 879.7989 379.3976 2.318936 0.8244

R-squared 0.960955 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 418.4000 Durbin-Watson stat 1.843657

66

4. Petani dengan Pabrik Dependent Variable: HF Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HF1 0.859185 0.072926 11.78163 0.0000

HPABFD -0.052866 0.033062 5.228473 0.0000

HPAB1 0.036718 0.025234 1.455108 0.7518

C 698.6638 357.6168 1.953666 0.8562

R-squared 0.956127 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 370.4794 Durbin-Watson stat 1.931389

5. Pedagang Pengumpul Desa dengan Pasar Lelang Karet Dependent Variable: HPDES

Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HPDES1 0.046529 0.016818 56.27978 0.0000

HPLKFD 0.384907 0.052486 1.617703 0.1119

HPLK1 0.011725 0.018282 2.829342 0.0067

C 412.1905 296.4310 1.390511 0.9704

R-squared 0.988311 Mean dependent var 16881.05

67 6. Pedagang Pengumpul Desa dengan Pedagang Besar Provinsi

Dependent Variable: HPDES Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HPDES1 0.095848 0.017890 52.87024 0.0000

HPBFD 0.474345 0.036226 2.052229 0.0453

HPB1 0.031180 0.012839 2.428602 0.0187

C 354.9333 312.9182 1.134269 0.8620

R-squared 0.988173 Mean dependent var 16881.05 F-statistic 1420.434 Durbin-Watson stat 1.608925

7. Pedagang Pengumpul Kecamatan dengan Pedagang Besar Provinsi Dependent Variable: HPKEC

Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HPKEC1 0.065574 0.019998 48.28334 0.0000

HPBFD 0.810590 0.038969 2.837904 0.0065

HPB1 0.014826 0.014760 1.004478 0.3199

C 588.2865 343.0172 1.715035 0.8924

R-squared 0.987082 Mean dependent var 18993.29 F-statistic 1299.000 Durbin-Watson stat 1.948307

68

8. Pasar Lelang Karet dengan Pabrik Dependent Variable: HPLK

Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HPLK1 0.026835 0.085175 9.707451 0.0000

HPABFD 0.642539 0.036605 17.55320 0.0000

HPAB1 0.013900 0.056069 2.031446 0.0474

C 578.0946 378.2335 -1.528407 0.8326

R-squared 0.985566 Mean dependent var 13689.65 F-statistic 1160.762 Durbin-Watson stat 1.990691

9. Pabrik dengan Harga Ekspor Dependent Variable: HPB Method: Least Squares

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HPB1 0.343958 0.119933 4.035227 0.0002

HPABFD 0.840356 0.052368 16.04726 0.0000

HPAB1 0.126896 0.110217 4.245221 0.0001

C 669.6430 509.3136 -1.314795 0.8945

R-squared 0.985358 Mean dependent var 25550.25 F-statistic 1144.074 Durbin-Watson stat 2.324665

RINGKASAN

DWI NURUL AMALIA. Sistem Pemasaran Karet Rakyat di Provinsi Jambi dengan Pendekatan Structure, Conduct, Performance (SCP). Dibimbing oleh RITA NURMALINA dan AMZUL RIFIN.

Komoditas karet merupakan komoditas utama di Provinsi Jambi. Sebagian besar (80%) perkebunan karet yang diusahakan merupakan perkebunan rakyat. Produksi karet yang dihasilkan Provinsi Jambi sebagian besar (95%) di diekspor ke pasar dunia. Namun, tingginya harga jual karet di tingkat dunia belum dirasakan oleh petani karet di Provinsi Jambi. Hal ini ditunjukkan dari pergerakan harga karet selama tahun 2008 sampai tahun 2013, peningkatan harga ditingkat pabrik crumb rubber (eksportir) yang cukup besar tidak diikuti dengan peningkatan harga ditingkat petani. Masalah mendasar yang dihadapi petani karet rakyat di Provinsi Jambi adalah posisi tawar petani lemah dalam penentuan harga. Kondisi pasar yang tidak bersaing mempengaruhi perilaku lembaga pemasaran berupa mekanisme penentuan harga. Namun bagaimana respon dan seberapa cepat perubahan harga tersebut dirasakan pada setiap lembaga pemasaran akan diketahui melalui analisis kinerja pasar.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan analisis sistem pemasaran karet rakyat dengan pendekatan structure, conduct, performance (SCP). Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis struktur pasar karet rakyat di Provinsi Jambi 2) mendeskripsikan perilaku pasar karet rakyat di Provinsi Jambi 3) menganalisis kinerja pasar karet rakyat di Provinsi Jambi. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan kuantitatif dengan pendekatan SCP. Pengolahan data kuantitatif menggunakan Microsoft Excel 2007 dan Eviews 6. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur pasar (market structure) yang dihadapi petani karet di Provinsi Jambi bersifat oligopsoni. Hal ini dikarenakan kondisi pasar ditingkat pabrik crumb rubber (eksportir) sebagai konsumen akhir terkonsentrasi dengan tingkat persaingan kecil (CR4=75.70%). Besarnya market power yang dimiliki pabrik crumb rubber akan mempengaruhi perilaku lembaga pemasaran di tingkat yang lebih rendah yang ditunjukkan pada perilaku pasar (market conduct).

Lembaga dan praktek fungsi pemasaran yang terlibat pada pemasaran karet rakyat yaitu petani karet, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang besar provinsi, pasar lelang karet, dan pabrik crumb rubber. adapun fungsi pemasaran yang dilakukan yaitu fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas. Saluran pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi terdiri atas 5 saluran. Saluran pertama, petani-pasar lelang karet-pabrik crumb rubber (eksportir). Saluran kedua, petani-pedagang pengumpul desa-pasar lelang karet-pabrik crumb rubber (eksportir). Saluran ketiga, petani-pedagang pengumpul desa-pedagang besar provinsi-pabrik crumb rubber (eksportir). Saluran keempat, petani-pedagang pengumpul kecamatan-pedagang besar provinsi-pabrik crumb rubber (eksportir) dan saluran kelima petani-pabrik crumb rubber (eksportir). Besarnya ketergantungan petani terhadap pedagang pengumpul disebabkan keterbatasan petani dalam memperoleh akses permodalan dan informasi pasar. Hal ini menyebabkan posisi tawar petani lemah dalam proses penentuan harga.

Kondisi petani yang menghadapi struktur pasar oligopsoni dan posisi tawar petani lemah dalam proses penentuan harga akan mempengaruhi kinerja pasar. (market performance). Hal ini terlihat dari share harga karet yang diterima petani masih tergolong rendah (< 60%) dengan marjin pemasaran yang relatif tinggi. Kondisi ini disebabkan oleh besarnya ketergantungan petani kepada pedagang pengumpul dan terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki petani sehingga petani tidak melakukan nilai tambah pada karet yang dipasarkan. Disisi lain, analisis integrasi pasar vertikal menunjukkan bahwa pasar karet di tingkat petani tidak terintegrasi dengan harga karet ditingkat pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, maupun pabrik crumb rubber artinya perubahan harga karet di tingkat pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pabrik crumb rubber saat ini dan waktu sebelumnya tidak mempengaruhi harga karet ditingkat petani. Hal ini menunjukkan bahwa pada jangka pendek maupun jangka panjang petani cenderung sebagai penerima harga (price taker).

Pendekatan SCP telah menunjukkan bahwa peningkatan harga ditingkat pabrik crumb rubber (eksportir) yang cukup besar tidak diikuti dengan peningkatan harga ditingkat petani. Kondisi ini menggambarkan bahwa sistem pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi belum efisien dilihat dari marjin pemasaran, farmer share dan integrasi pasar vertikal. Sebagai upaya meningkatkan posisi tawar petani yaitu melalui pemberdayaan kelompok tani secara berkelanjutan. Selain itu peran pemerintah dalam menjamin sarana dan prasarana, pengawasan harga yang sesuai dan menginformasikan perkembangan harga pasar (lokal dan dunia) serta memfasilitasi adanya kemitraan langsung petani dengan pabrik crumb rubber. Walaupun saat ini kerjasama yang dibangun petani dengan pabrik crumb rubber telah ada, namun diharapkan ada peningkatan dan perubahan sehingga dapat memberikan kepastian harga bagi petani karet. Upaya ini dapat dilakukan melalui sistem manajemen pabrik crumb rubber yang profesional dan perbaikan mutu karet ditingkat petani sehingga dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam proses penentuan harga.

Kata kunci: sistem pemasaran, karet rakyat, struktur pasar, perilaku pasar, kinerja pasar, harga

SUMMARY

DWI NURUL AMALIA. The Marketing System of Rubber Smallholders in Jambi Province with Structure, Conduct, Performance (SCP) Approachment. Supervised by RITA NURMALINA and AMZUL RIFIN.

Rubber is the main commodity from Jambi Province. Most (80%) of rubber plantation is smallholders plantation. Most (95%) of rubber production is exported to the world market. In the rubber market, increased price at exporters level is not followed by farmers level. However, the high price of rubber at the world level has not been transmitted by the rubber farmers in Jambi Province. It is shown from the volatility of rubber prices during the year 2008 to the year 2013, the increase in the price level of crumb rubber factory (exporters) are large enough not followed by an increase in the price of farm level. The fundamental problem for majority of rubber farmers in Jambi Province is weak bargaining position of farmers in the pricing process. Market condition will affect the behavior of a marketing agency and the determination of price. However, how to respond and how fast the price changes which are responded by marketing agencies will be identified through analysis of market performance.

Based on these problems, it is necessary to smallholder rubber marketing system analysis approach to structure, conduct, performace (SCP). The aims of this study are to 1) analyze the market structure of rubber smallholders in Jambi Province, 2) describe the market conduct of rubber smallholders in Jambi Province, 3) analyze the market performance of rubber smallholders in Jambi Province. The analysis used are the descriptive and quantitative analysis of SCP approachment. Quantitative data processing use software Microsoft Excel 2007 and Eviews 6. The analysis showed that the market structure that faced by rubber farmers in Jambi Province is oligopsonistic. This is caused the market condition at the exporters level was concentrated with a small level of competition (CR4 = 75.70 %). The amount of market power possessed crumb rubber plant will affect the behavior of a marketing agency in the lower level shown in the behavior of the market (market conduct).

Institution and practices of marketing function involved are farmers, village collectors, subdistrict collectors, province trader, rubber auction market and crumb rubber factory (exporters). The marketing function is exchange function, physical function and facilities function. Rubber marketing channel in Jambi Province consist of 5 channels. The first channel is farmer-rubber auction market-crumb rubber factory (exporters). The second is farmer-village collector- rubber auction market-crumb rubber factory (exporters). The third is farmer- village collector-province trader-crumb rubber factory (exporters). The fourth is farmer-sub district collector-province trader-crumb rubber factory (exporters) and the fifth channel is farmer-crumb rubber factory (exporters). Dependence of farmers on the collector due to the limmitations of the farmer in gainning access to market information and financial source. This causes weak bargaining position of farmers in the pricing process.

Conditions of oligopsony market structure is faced by farmers and the weak bargaining position of farmers in pricing process will affect the performance of the market. It it proved by the share price of rubber received by farmer still low

(< 60%) with relatively high margin. This condition is caused by dependence of farmers to collector and limited facilities and infrastructure owned by farmers with the result that all of farmers do not changed the value added of rubber product. On the other hand, vertical market integration analysis showed that rubber price at the farmer market is not integrated with the rubber price at village collectors, subdistrict collectors and crumb rubber factory market. Its meaning rubber price changes in the level of village collectors, subdistrict collectors and crumb rubber factory at this time and the previous time does not affect rubber price in farmers level. This suggest that farmers tend to be price taker in the short and long term (price taker).

The SCP approachment has shown that the rubber market increased price at exporters level is not followed by price at farmers level. This condition illustrates that rubber marketing system in Jambi Province inefficient showed by marketing marjin, farmer share and vertical market integration. In an effort to improve the bargaining position of farmers is through the empowerment of farmer groups on an ongoing basis. In addition, the role of government in ensuring infrastructure, appropriate price control and inform the development of the market price (local and world) as well as facilitate partnerships with farmers directly crumb rubber factory. Although currently constructed farmers cooperation with crumb rubber factory has been there, but it is expected there is an increase and change in order to provide certainty for farmers rubber prices. This can be done