Abbott, J.C. dan J.P. Mahekam. 1990. Agricultural Economics and Marketing In The Tropics. Longman. Essex.
Asmarantaka, Ratna Winandi. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian. Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
59 Asni et al. 2009. Identifikasi dan Analisa Mutu Lateks Asalan (slab) di Provinsi Jambi . Jurnal Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi. Jambi Azzaino, Z. 1982. PengantarTataniaga Pertanian. Departemen Ilmu-ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Baye, Michael. 2010. Managerial Economics and Business Strategy. Seventh Edition. McGraw-Hill Irwin.Singapure.
Besanko et al. 2010. Economics of Strategy. Fifth Edition.International Student Version. John Wiley & Sons (Asia).
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Statistik Indonesia. Jakarta (ID): BPS. . 2012. Statistik Perkebunan Provinsi Jambi 2011. Jambi (ID): BPS. Bosena DT, Bekabil F, Berhanu G, and Dirk H. 2011. Structure-conduct-
performance of cotton market: The case of Metema District, Ethiopia. Journal of Agriculture, Biotechnology and Ecology 4 (1): 1-12.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. Pedoman Jaminan Mutu Bokar dalam SNI- Bokar No. 06-2047-2002.
Cramer, Gail L. et al. 2001. Agricultural Economics and Agribusiness. John Wiley & Son. Inc. United States.
Dahl, D.C dan J.W. Hammond. 1977. Market and Price Analysis. Mc Graw Hill. New York.
[DISBUN] Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2012. Sektor Unggulan Perkebunan.[internet] [diakses pada 3 Maret 2013]. Tersedia pada:
http://www.Jambiprov.go.id/? show=direktori&id=perkebunan-karet.
[DISPERINDAG] Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi. 2013. Laporan Tahunan Ekspor Komoditas Unggulan Provinsi Jambi. Jambi. [DITJENBUN] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Peningkatan Produksi,
Produktivitas Dan Mutu Tanaman Tahunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. Downey, David W dan John K.Trocke. 1981. Agribusiness Management.
McGraw-Hill, Inc. US of America.
Fadhla T. 2008. Integrasi Pasar Komoditas Pangan (Beras, Kacang Tanah Kupas dan Kedelai Kuning) di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Agritek Vol.16 No.9 September 2008.
Fathoni, Zakky. 2009. Evaluation Of Market System And Market Integration For Rubber Cultivation In Jambi Province- Indonesia. Thesis Report. Wageningen University and Research.
Funke O, Raphel B, and Kabir S. 2012. Market structure, conduct and performance of gari processsing industry in South Western Nigeria. Europen Journal of Business and Management 4 (2): 99-112.
[GAPKINDO] Gabungan Perusahaan Karet Indonesia. 2011. Statistik Karet Alam Indonesia.GAPKINDO [internet] [diakses pada 3 Maret 2013]. Tersedia pada: http://www.gapkindo.org/index.php/id/berita/163-analisis-pasar.html Giroh D, Umar Y and Yakub W. 2010. Structure, Conduct and Performance of
Farm Gate Marketing of Natural Rubber in Edo and Delta States, Nigeria. African Journal of Agricultural Research 5 (14): 1780-1783.
Hidayati, Wiwiek. 2009. Analisis Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar Rumput Laut Euchema Cottoni: Kasus di Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
60
Hammond, JW and DC Dahl. 1992. Market and Price Analysis: The Agricultural Industry. Newyork (US): McGraw-Hill.
Hobbs, J. E. 1997. Measuring the Importance of Transaction Cost in Catle Marketing. American Journal of Agricultural Economics 79 (4) : 1083 – 1095.
Hudson, D. 2007. Agricultural Markets And Prices. Blackwell Publishing Ltd. USA, UK and Australia.
Jaya, W. K. 2001. Ekonomi Industri. Edisi Kedua. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Kementerian Pertanian. 2012. Laporan Kinerja Kementrian Pertanian Tahun 2011. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Kizito, A.M. 2011. The Structure, Conduct and Performance of Agricultural Market Information Systems in Sub-Saharan Africa [dissertation]. Michigan (US): Michigan State University.
Kohls dan Uhl. 2002. Marketing of Agricultural Products. Ninth Edition. Prentice Hall. New Jersey.
Kotler. 1993. Manajemen Pemasaran: Analisis Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian. Edisi 7. Lembaga Penerbit FE UI. Jakarta.
Lamb, C.W. J.F. Hair dan M. Daniel. 2001. Pemasaran. Terjemahan. Salemba Empat, Jakarta.
Levens, Michael. 2010. Marketing: Defined, Explained, Applied. International Edition. Pearson: Prentice Hall.
Limbong dan Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Melania. 2007. Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar. Eksekutif: Journal of Bisnis and Management: vol 4. No.3 Desember 2007. Surabaya: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBMT.
Mc Kie, J.W. 1970. Market Structure and Function: Performance Versus Behaviour. Industrial organization and economic development. Boston: Houghton Mifflin.
Napitupulu, D.M.T. 2007. Kajian Tataniaga Karet Alam: Sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Petani. Jurnal sosial ekonomi pertanian. Universitas Jambi.
Ngigi, M. 2008. Structure Conduct and Performance of Commodity Markets in South Sudan (SD): Lingkages Food Security. Journal of Agricultural and Social Science 16 (1): 35-46.
[P2HP Kementan] Pengolahan dan Pemasaran Produk Pertanian Kementerian Pertanian. Standar Operasional Pengolahan Bahan Olah Karet.
Purcell. 1979. Agricultural Marketing: System, Coordination, Cash and Futures Prices. A Prentice-Hall Company. Virginia.
Putri, Amelia Mega. 2013. Sistem Pemasaran Kopi Arabika Gayo dengan Pendekatan Structure, Conduct, Performace [Kasus: Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah] [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rahim dan Hastuti. 2007. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ravallion, M. 1986. Testing Market Integration. American Journal of Agricultural Economics, 68(1): 102-109.
61 Rosiana, Nia. 2012. Sistem Pemasaran Gula Tebu (Cane Sugar) Dengan Pendekatan Structure, Conduct, Performance (SCP)[Kasus : Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Bungamayang] [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sri Haryanto, Eko 2004.Analisis Sistem Pemasaran Apel Manalagi (Malus sylvestris Mill) di Kota Batu Propinsi Jawa Timur. Tesis. Program Studi Manajemen Agribisnis. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sudiyono. 2002. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhamadiyah Malang. Swastha, Basu. 2005. Menejmen Pemasaran Modern. Liberty.Yogyakarta.
Tarmizi, A. 2009. Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Karet Rakyat di Kabupaten Batanghari. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. Universitas Jambi. Teguh. 2010. Ekonomi Industri. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Tomek, W.G. dan K.L. Robinson. 1990. Agricultural Product Prices. Third Edition. Cornell University Press. Ithaca.
Umar, H.Y, Otitolaiye J.O., and Opaluwa H.I. 2011. Evaluation of Acacia Species (Gum Arabic) market struktur, market conduct, and performance in Borno State, Nigeria. Journal of Agricultural and Social Science 7 (1):17-20. Wahyuningsih. 2013. Sistem Pemasaran Rumput Laut Di Kepualauan Tanekke
Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan: Struktur, Perilau Dan Keragaan Pasar . [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Waldman, DE dan Jensen, EJ. 2007. Industrial Organization. Theory and Practice. Third Edition. United States of America (US): Pearson Education.
Yuprin. 2009. Analisis Pemasaran Karet di Kabupaten Kapuas. Agritek Vol 17 No.6 November 2009.
62
LAMPIRAN
Lampiran 1 Produksi, ekspor dan konsumsi karet alam Indonesia 2005-2011(„000) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Produksi (ton) 2270.8 2637.2 2755.1 2751.3 2440.3 2734.8 3088.4 Ekspor (ton) 2024.6 2286.9 2407.9 2283.2 1991.5 2351.9 2555.7 Nilai (USD) 2582.9 4321.5 4868.7 6023.3 3241.5 7326.6 11762.3 Konsumsi (ton) 246.2 350.3 347.2 468.1 448.8 382.9 532.7
Sumber: Ditjebun dan BPS 2012
Lampiran 2 Produksi karet alam Indonesia tahun 2007-2011 („000 Ton)
Produsen 2007 2008 2009 2010 2011 Perkebunan Rakyat 2177 2174 1942 2179 2486 Perkebunan Negara 277 277 239 266 289 Perkebunan Swasta 301 301 259 289 314 Total Produksi 2755 2751 2440 2735 3088 Produktivitas (Kg/Ha/Tahun) 993 994 901 986 1085
Sumber: Ditjebun dan BPS 2012
Lampiran 3 Rata-rata pangsa luas areal, produksi dan produktivitas menurut Provinsi penghasil utama karet alam Indonesia Tahun 2006-2010 Provinsi Luas Areal
(%/Tahun) Produksi (%/Tahun) Produktivitas (Kg/Ha/Tahun) Sumatera Utara 13.53 16.04 1067.34 Sumatera Selatan 20.16 20.22 975.44 Jambi 12.88 11.12 836.04 Riau 12.15 13.87 956.70 Kalimantan Barat 11.37 9.76 829.76 Kalimantan Tengah 7.76 7.20 993.52 Lainnya 22.15 21.79 995.70
63 Lampiran 4 Luas areal, produksi dan jumlah tenaga kerja pada komoditas karet
di Provinsi Jambi tahun 2005-2011 („000)
Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Jumlah TK (Orang) 2005 622.19 247.56 236.43 2006 630.21 266.26 239.48 2007 636.90 264.67 242.02 2008 644.94 271.75 245.07 2009 645.14 280.62 251.79 2010 646.69 280.92 251.01 2011 649.40 288.98 251.40 Laju Pertumbuhan 3.84% 12.42% 5.97%
64
Lampiran 5 Hasil output analisis integrasi pasar vertikal Model Ravallion:
Keterangan :
= Harga karet di pasar lokal (waktu t) (Rp/kg)
= Harga karet di pasar lokal (waktu t-1) (Rp/kg)
= Harga karet di pasar acuan (waktu t) (Rp/kg)
= Harga karet di pasar acuan (waktu t-1) (Rp/kg)
= Koefisien lag harga di tingkat pasar ke-1 (lokal) pada waktu
t-1
= Faktor-faktor lain yang mempengaruhi HF = Harga karet di tingkat petani
HPDES = Harga karet di tingkat pedagang pengumpul desa HPKEC = Harga karet di tingkat pedagang pengumpul desa HPLK = Harga karet di tingkat pasar lelang karet
HPAB = Harga karet di tingkat pabrik
HPB = Harga karet di tingkat pedagang besar Provinsi 1. Petani dengan Pedagang Pengumpul Desa
Dependent Variable: HF Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HF1 0.963184 0.045140 21.33780 0.0000
HPDESFD -0.044148 0.150019 1.627448 0.1098 HPDES1 0.028468 0.022114 -1.287336 0.2038
C 890.5158 383.5156 2.321981 0.8243
R-squared 0.942545 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 278.8823 Durbin-Watson stat 2.121093
65 2. Petani dengan Pedagang Pengumpul Kecamatan
Dependent Variable: HF Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HF1 0.979056 0.038324 25.54671 0.0000
HPKECFD -0.065651 0.112339 4.145054 0.0001 HPKEC1 0.023848 0.018184 -1.311465 0.6956
C 584.8590 350.3949 1.669142 0.9012
R-squared 0.954357 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 355.4579 Durbin-Watson stat 2.158443
3.Petani dengan Pasar Lelang Karet Dependent Variable: HF
Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HF1 0.057874 0.065475 13.10230 0.0000
HPLKFD 0.672123 0.044792 6.075309 0.0000
HPLK1 0.018698 0.034433 1.658450 0.1034
C 879.7989 379.3976 2.318936 0.8244
R-squared 0.960955 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 418.4000 Durbin-Watson stat 1.843657
66
4. Petani dengan Pabrik Dependent Variable: HF Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HF1 0.859185 0.072926 11.78163 0.0000
HPABFD -0.052866 0.033062 5.228473 0.0000
HPAB1 0.036718 0.025234 1.455108 0.7518
C 698.6638 357.6168 1.953666 0.8562
R-squared 0.956127 Mean dependent var 11448.09 F-statistic 370.4794 Durbin-Watson stat 1.931389
5. Pedagang Pengumpul Desa dengan Pasar Lelang Karet Dependent Variable: HPDES
Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HPDES1 0.046529 0.016818 56.27978 0.0000
HPLKFD 0.384907 0.052486 1.617703 0.1119
HPLK1 0.011725 0.018282 2.829342 0.0067
C 412.1905 296.4310 1.390511 0.9704
R-squared 0.988311 Mean dependent var 16881.05
67 6. Pedagang Pengumpul Desa dengan Pedagang Besar Provinsi
Dependent Variable: HPDES Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HPDES1 0.095848 0.017890 52.87024 0.0000
HPBFD 0.474345 0.036226 2.052229 0.0453
HPB1 0.031180 0.012839 2.428602 0.0187
C 354.9333 312.9182 1.134269 0.8620
R-squared 0.988173 Mean dependent var 16881.05 F-statistic 1420.434 Durbin-Watson stat 1.608925
7. Pedagang Pengumpul Kecamatan dengan Pedagang Besar Provinsi Dependent Variable: HPKEC
Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HPKEC1 0.065574 0.019998 48.28334 0.0000
HPBFD 0.810590 0.038969 2.837904 0.0065
HPB1 0.014826 0.014760 1.004478 0.3199
C 588.2865 343.0172 1.715035 0.8924
R-squared 0.987082 Mean dependent var 18993.29 F-statistic 1299.000 Durbin-Watson stat 1.948307
68
8. Pasar Lelang Karet dengan Pabrik Dependent Variable: HPLK
Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HPLK1 0.026835 0.085175 9.707451 0.0000
HPABFD 0.642539 0.036605 17.55320 0.0000
HPAB1 0.013900 0.056069 2.031446 0.0474
C 578.0946 378.2335 -1.528407 0.8326
R-squared 0.985566 Mean dependent var 13689.65 F-statistic 1160.762 Durbin-Watson stat 1.990691
9. Pabrik dengan Harga Ekspor Dependent Variable: HPB Method: Least Squares
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
HPB1 0.343958 0.119933 4.035227 0.0002
HPABFD 0.840356 0.052368 16.04726 0.0000
HPAB1 0.126896 0.110217 4.245221 0.0001
C 669.6430 509.3136 -1.314795 0.8945
R-squared 0.985358 Mean dependent var 25550.25 F-statistic 1144.074 Durbin-Watson stat 2.324665
69
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jambi, 14 Desember 1989 dari Bapak Ilyas Nurdin, SH dan Ibu Dra. Yusnamar. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pendidikan formal diawali di TK Al-Azhar Kota Jambi pada tahun 1995, kemudian melanjutkan studi di SDN 131 Telanaipura Kota Jambi. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi di SMPN 7 Kota Jambi lulus tahun 2004. Kemudian melanjutkan studi di SMAN 4 Kota Jambi lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan lulus pada tahun 2011. Setelah lulus dari Program Sarjana penulis aktif mengikuti penelitian ilmiah dan berkesempatan menjadi Asisten Matakuliah Riset Operasional pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
Pada tahun 2012 penulis mendapat kesempatan melanjutkan studi Program Magister pada Magister Sains Agribinis Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Program Beasiswa Unggulan Calon Dosen Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2012. Selama masa studi Magister, penulis berkesempatan menjadi asisten peneliti pada Penelitian Unggulan Departemen (PUD) Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2013.
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Komoditas karet merupakan komoditas yang penting bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekonomi yang diperoleh dari komoditas karet antara lain sebagai penyumbang devisa negara dan sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia. Sumbangan devisa negara melalui ekspor karet pada tahun 2012 mencapai 11.13 miliar US$ dengan volume mencapai 2.38 juta ton karet kering. Tujuan ekspor karet Indonesia antara lain Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Unieropa dan negara konsumen lainnya. Pangsa pasar terbesar karet alam Indonesia yaitu Amerika Serikat sebesar 40 persen, Singapura 32.8 persen, Unieropa 7.5 persen, Jepang 3.3 persen dan negara lain sebesar 11.4 persen (Direktorat Jenderal Perkebunan 2012). Laju perkembangan ekspor karet alam Indonesia terlihat pada Lampiran 1 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun hal ini di karenakan meningkatnya produksi karet dalam negeri dan permintaan karet alam untuk industri berbasis karet di negara maju.
Perkembangan produksi karet alam Indonesia dalam kurun waktu 2005- 2011 mengalami pertumbuhan yang pesat. Rata-rata laju pertumbuhan produksi karet alam Indonesia pada kurun waktu 2005-2011 yaitu 5.08 persen. Sebagian besar produksi karet alam Indonesia ditujukan untuk ekspor yaitu sebesar 85 persen, selebihnya digunakan bagi industri domestik. Pada kurun waktu tersebut, produksi tertinggi dihasilkan pada tahun 2012 sebesar 3 272 juta ton karet kering sedangkan produksi terendah dihasillkan pada tahun 2009 sebesar 2 440 juta ton. Penurunan ekspor pada tahun 2009 terjadi karena adanya penurunan hasil produksi pada perkebunan rakyat serta adanya pembatasan ekspor sebesar 16 persen oleh negara konsumen (Direktorat Jenderal Perkebunan 2012).
Produksi karet alam Indonesia sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat selanjutnya dihasilkan oleh perkebunan negara dan perkebunan swasta seperti terlihat pada Lampiran 2. Dapat disimpulkan bahwa banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada komoditas karet baik sebagai petani maupun sebagai pedagang pengumpul. Walaupun produksi yang dihasilkan pada perkebunan rakyat menyumbang total produksi yang besar bagi perkaretan Indonesia, berbagai permasalahan terjadi pada pengelolaanya. Antara lain rendahnya produktivitas karet yang dihasilkan, sistem pemasaran yang belum efisien dan kesejahteraan petani yang belum memadai. Produktivitas karet yang dihasilkan lebih rendah bila dibandingkan dengan perkebunan rakyat di negara produsen lainnya. Produktivitas karet yang dihasilkan yaitu pada tahun 2011 hanya sebesar 1 085 kg/ha/tahun, sedangkan Malaysia mampu menghasilkan 1 430 kg/ha/tahun dan Thailand sebesar 1 690 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan 2012). Namun bila dilihat dari produktivitas karet pada tahun sebelumnya, produktivitas karet tahun 2011 telah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan adanya insentif pemerintah melalui program revitalisasi perkebunan karet.
Penyebaran wilayah produksi karet alam di Indonesia sebagian besar berada pada Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Kedua wilayah ini
2
menyumbang 75 persen dari Pulau Sumatera dan 25 persen dari produksi Pulau Kalimantan. Terlihat pada Lampiran 3 wilayah produksi tertinggi di Pulau Sumatera berada pada Provinsi Sumatera Utara selanjutnya dihasilkan oleh Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Sedangkan di Pulau Kalimantan, daerah produksi berada pada Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Salah satu daerah sentra produksi karet alam di Indonesia yaitu Provinsi Jambi. Provinsi Jambi memiliki luas areal penanaman karet terluas ketiga di Indonesia yang berada pada wilayah produksi Pulau Sumatera. Walaupun luas areal penanaman karet di Provinsi Jambi lebih besar dari pada Provinsi Riau, tetapi produktivitas yang dihasilkan lebih rendah. Hal ini dikarenakan banyaknya tanaman karet yang sudah tua, penggunaan bibit yang kurang baik serta pemanenan yang kurang tepat. Perkembangan perkebunan karet di Provinsi Jambi Tahun 2005-2011 terlihat pada Lampiran 4. Terlihat bahwa laju pengembangan luas areal penanaman karet semakin meningkat dengan tren sebesar 3.48 persen diikuti dengan peningkatan tenaga kerja pada komoditas karet dengan tren peningkatan 5.97 persen.
Komoditas karet merupakan komoditas penting bagi perekonomian Provinsi Jambi, yakni sebagai penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar pada sektor perkebunan dan penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat di pedesaan. Provinsi Jambi merupakan daerah produsen karet alam Indonesia yang memiliki perkebunan rakyat terluas di Indonesia. Kontribusi karet terhadap PDRB Provinsi Jambi tahun 2011 sebesar 17 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 6.3 persen. Selain itu, perkebunan karet melibatkan lebih dari 251 400 orang petani dalam kegiatan produksi, ratusan pedagang perantara dalam kegiatan pemasaran, serta pemasok bahan baku Bokar (Bahan Olahan Karet Rakyat) bagi 10 unit pabrik crumb rubber (Dinas Perkebunan Provinsi Jambi 2012). Dilihat dari volume dan nilai ekspor, komoditas karet menyumbang 30 persen dari total nilai ekspor Provinsi Jambi pada tahun 2011. Perkembangan ekspor karet di Provinsi Jambi terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Perkembangan volume dan nilai ekspor karet Provinsi Jambi
Tahun Ekspor
Volume/kg Nilai (US$)
2007 193 942 016 412 524 398 2008 188 349 660 421 988 483 2009 181 416 296 301 054 026 2010 292 004 560 774 357 592 2011 387 691 340 910 840 224 2012 288 679 832 754 325 980
Sumber: Disperindag Provinsi Jambi (2012)
Perkembangan volume dan nilai ekspor karet di Provinsi Jambi pada periode 2007-2012 mengalami tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 ekspor karet di Provinsi Jambi sebesar 193 942 016 kg hingga tahun 2011 meningkat menjadi 387 691 340 kg. Terlihat pada tabel diatas, volume ekspor Provinsi Jambi tertinggi yaitu tahun 2011 sebesar 387 691 340 dengan nilai 910 840 224 US$ dengan harga di tingkat eksportir yaitu sebesar Rp. 32 000/kg. Meskipun peran komoditas karet cukup berarti dalam
3 perekonomian Provinsi Jambi tetapi peranannya terhadap peningkatan kesejahteraan petani belum signifikan. Masalah mendasar yang dihadapi petani karet di Provinsi Jambi adalah posisi tawar (bergaining position) petani lemah dalam proses penentuan harga karena kurangnya akses informasi harga, keterikatan petani dengan pedagang pengumpul dan belum berfungsinya pasar lelang dengan baik. Keterbatasan sarana dan prasarana, akses permodalan serta akses terhadap informasi pasar menyebabkan petani tidak bisa mengontrol perkembangan harga secara berkelanjutan dan transmisi harga menjadi tidak seimbang (imbalance transmission) (Giroh et al. 2010; Kizito 2011).
Menurut Baye (2010) perubahan harga pada pasar dapat ditentukan oleh struktur, perilaku dan kinerja pasar tersebut. Struktur pasar akan menggambarkan tipe dan jenis pasar yang terbentuk sehingga harga yang tentukan sesuai dengan jenis pasar tersebut apakah monopoli, oligopoli atau persaingan sempurna. Selain itu, harga yang diterima petani memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan tingkat pendapatan yang diperoleh petani, para pedagang dan organisasi bisnis pada umumnya (Umar et al. 2011). Sedangkan perilaku pasar menekankan pada aktivitas bisnis yang dilakukan oleh pelaku pemasaran sehingga akan mempengaruhi margin pemasaran tiap lembaga pemasaran yang tercermin pada kinerja pasar karet tersebut. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa petani yang mengusahakan komoditas perkebunan cenderung menghadapi struktur pasar yang tidak bersaing (Ngigi 2008).
Perumusan Masalah
Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah produksi karet alam di Indonesia. Perkembangan komoditas karet tidak terlepas dari berbagai permasalahan baik dari aspek produksi maupun aspek pemasaran. Permasalahan tersebut pada akhirnya berdampak bagi kesejahteraan petani. Masalah mendasar yang dihadapi petani pada aspek pemasaran adalah posisi tawar petani lemah pada penentuan harga. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi harga yang diterima petani dan kualitas bokar yang dihasilkan relatif kurang baik sehingga berpengaruh terhadap harga jual yang ditentukan oleh pedagang pengumpul. Selain itu, keterikatan yang kuat antara petani dari aspek ekonomi dan aspek sosial sehingga petani mengambil peran sebagai price taker pada kondisi tersebut. Sebenarnya permasalahan pada sistem pemasaran dapat dikurangi dengan adanya pasar lelang dan Koperasi Unit Desa. Namun, pasar lelang belum dapat berfungsi dengan baik dikarenakan volume karet yang dijual petani ke pasar lelang relatif kecil sehingga sulit untuk mengadakan transaksi pada pasar tersebut.
Sistem pemasaran karet tidak terlepas dari penentuan harga. Harga yang ditentukan oleh pedagang pengumpul sebenarnya sangat bergantung pada harga di tingkat eksportir dan pasar dunia. Harga tersebut terbentuk karena permintaan dan penawaran karet oleh negara konsumen. Fluktuasi harga di pasar dunia seharusnya juga berpengaruh terhadap harga jual karet di tingkat petani. Namun tingginya harga jual karet oleh eksportir belum sepenuhnya dirasakan oleh petani. Hal ini ditunjukkan dari pergerakan harga karet selama tahun 2008 sampai 2013, harga di tingkat eksportir mengalami peningkatan yang cukup besar bila dibandingkan dengan harga karet ditingkat petani.
4
Gambar 1 Pola pergerakan harga karet di tingkat petani dan eksportir tahun 2008-2013
Terlihat pada Gambar 1 peningkatan harga di tingkat petani terlihat tidak mengikuti peningkatan harga ditingkat eksportir. Harga ditingkat eksportir meningkat cukup signifikan pada tahun 2008-2011. Sedangkan perkembangan harga di tingkat petani hanya mengalami sedikit peningkatan. Kondisi yang seharusnya terjadi adalah adanya keterkaitan harga di tingkat petani dan eksportir sehingga pergerakan harga ditingkat eksportir sama dengan pergerakan harga ditingkat petani. Mengapa kondisi tersebut terjadi? Bagaimana sebenarnya mekanisme penentuan harga ditingkat petani?. Kondisi tersebut tergambar dari harga yang terjadi ditingkat konsumen tidak ditransmisikan oleh pedagang ke petani (Shumeta et al. 2012). Salah satu upaya mengatasi permasalahan di dalam sistem pemasaran yaitu dengan menganalisis sistem pemasaran menggunakan pendekatan struktur pasar (market structure), perilaku pasar (market conduct) dan kinerja pasar (market performance) (SCP) (Bosena et al.2011; Funke et al. 2012). Secara teoritik harga karet ditentukan oleh struktur pasar, perilaku lembaga pemasaran dan kinerja pasar karet tersebut. Struktur pasar yang terbentuk akan menentukan sistem penetapan harga karet bila dilihat dari banyaknya lembaga yang terlibat dan posisi lembaga tersebut pada pasar. Jika produsen memiliki market power yang cukup besar maka dengan mudah dapat mempengaruhi harga jual karet di pasar, hal ini terkait juga dengan jumlah pedagang yang terlibat pada proses penjualan, apabila hanya terdapat sedikit pedagang pengumpul atau eksportir maka petani cenderung tidak memiliki pilihan saat menjual karet yang diproduksi apalagi harga yang ditetapkan relatif sama. Bagaimana strukur pasar karet di Provinsi Jambi? Dalam proses penentuan harga karet juga tidak terlepas dari keterkaitan antar lembaga pemasaran didalamnya. Keterkaitan tersebut berkaitan dengan fungsi-fungsi yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dan kerjasama yang terjalin antar lembaga pemasaran.
Perilaku pasar dapat berupa praktek penetapan harga, persaingan bukan harga, praktek advertensi dan perluasan pasar (Purcell 1979). Bagaimana perilaku lembaga pemasaran pada pasar karet rakyat di Provinsi Jambi? Apakah terdapat
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Harga j u al (R p /k g)
5 keterkaitan antar lembaga pemasaran?. Akibat dari struktur dan perilaku pasar yang terbentuk maka akan menentukan kinerja pasar seperti besarnya margin pemasaran antar lembaga pemasaran, farmer share serta derajat kepekaan harga ditingkat petani tehadap perubahan harga dipasar acuan. Fluktuasi harga akan berpengaruh pada kemampuan dan keputusan lembaga pemasaran yang terlibat dalam merespon perubahan tersebut melalui penetapan harga. Sehingga kajian sistem pemasaran karet rakyat dengan pendekatan struktur, perilaku dan kinerja pasar sangat penting dilakukan untuk mengetahui proses penentuan harga yang berkaitan dengan kesejahteraan petani karet. Pendekatan ini tepat digunakan karena mampu menangkap kompleksitas permasalahan yang terjadi pada sistem pemasaran karet rakyat.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini secara umum adalah menganalisis sistem pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi serta secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis struktur pasar karet rakyat di Provinsi Jambi. 2. Medeskripsikan perilaku pasar karet rakyat di Provinsi Jambi. 3. Menganalisis kinerja pasar karet rakyat di Provinsi Jambi.