BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Analisis Struktural dan Semiotik
1. Analisis Struktural
Sajak (karya sastra) merupakan sebuah struktur. Struktur di sini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik, saling menentukan. Jadi, kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung.
Dalam pengertian stuktur ini terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga ide dasar, yaitu ide kesatuan, ide transformasi, dan ide pengaturan diri sendiri ( self-regulations).
Pertama, struktur itu merupakan rangkaian yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua struktur itu berisi gagasan trasformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis. Struktur itu mampu melakukan prosedur-prosedur transformasioanal, dalam arti bahan-bahan baru diproses dengan prosedur dan melalui prosedur itu. Misalnya struktur kalimat : ia memetik bunga. Strukturnya : subjek – predikat – objek. Dari struktur itu dapat diproses : Saya ( Ismar, Wawan, Adi) memetik bunga. Dapat juga diproses dengan struktur itu : ia memetik buah (daun, mawar, melati), atau : ia merangkai (memasang, memotong, menanam) bunga : begitu seterusnya. Ketiga, struktur itu mengatur diri sendiri, dalam arti struktur itu tidak memerlukan pertolongan bantuan dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasinya. Misalnya dlam proses menyusun kalimat : Saya metik bunga, tidaklah diperlukan keterangan dari dunia nyata, melainkan di proses atas dasar aturan di dalamnya dan yang mencukupi dirinya sendiri. Bunga itu berfungsi sebagai objek dalam kalimat bukan karena menunjuk bunga yang nyata ada di luar kalimat itu, melainkan berdasarkan tempatnya dalam struktur itu, maka bunga berfungsi sebagai objek dalam kalimat bukan karena menunjuk bunga yang nyata ada di luar kalimat itu, melainkan berdasarkan
tempatnya dalam struktur itu, maka bunga berfungsi sebagai objek (karena terletak langsung di belakang kata kerja transitif aktif). Jadi, setiap unsur itu mempunyai fungsi tertentu berdasarkan aturan dalam struktur itu. Setiap unsur mempunyai fungsi tertentu berdasarkan letaknya dalam struktur itu..
Strukturalisme itu pada dasarnya merupakan cara berfikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur seperti tersebut di atas. Menurut pikiran strukturalisme, dunia ( karya sastra merupakan dunia yang diciptakan pengarang) lebih merupakan susunan hubungan daripada susunan benda-benda. Oleh karena itu, kodrat tiap unsur dalam struktur itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan maknanya di tentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu.
Dengan pengertian seperti itu, maka analisis struktural puisi adalah analisis puisi ke dalam unsur-unsurnya itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur.
2. Analisis Semotik
Menganalisis sajak itu bertujuan memahami makna sajak.
Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur ang bermakna.
Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang merupakan medium bahasa.
Bahasa sebagai medium karya sastra merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti.
Medium karya sastra bukanlah bahan yan bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa; sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat (bahasa) atau ditrntukan oleh konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-saatuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat.bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik. Begitu juga ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda itu disebut semiotik(a) atau semiologi.
Pertamakali yang penting dalam lapangan semiotik, lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon,
indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya potret orang menandai orang yang dipotret (berarti orang yang dipotret), gambar kuda itu menandai kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya asap itu menandai api, suara itu menandai orang atau sesuatu yang mengeluarkan suara. Simbol itu tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semau-maunya, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan lambang adalah bahasa. Arti simbol ditentukan oleh masyarakat misalnya kata ibu berarti ”orang yang melahirkan kita” itu terjadinya atas konvensi atau perjanjian masyarakat Bahasa Indonesia bahasa Inggris menyebutnya mother, Perancis : la mere.
Bahasa yang merupakan sistem tanda yang kemudian dalam karya saastra menjadi mediunya itu adalah sistem tanda tingkat pertama. Dalam ilmu tanda-tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disbut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat (sastra). Karena sastra (karya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi (atas) kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem
semiotik tingkat kedua. Bahasa tertentu itu mempunyai konvensi tertentu pula, dalam karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra, dengan demikian, timbullah arti baru yaitu arti sastra itu. Jadi, arti sastra itu merupakan arti dari (meaning of meaning). Untuk membedakannya (dari arti bahasa), arti sastra itu disebut makna (significance).
Perlu diterangkan di sini, apa yang dimaksud maka sajak (karya sastra) karya sastra itubukan semata-mata arti bahasanya, melainkan arti bahasa dan suasana, persaan , intensitas arti, arti tambahan (konotasi), daya iris, pengertian yang ditimbulkan tanda-tanda kebahasaan atau tanda-tanda yang lain ditimbulkan oleh konvensi sastra, misalnya tipografi, enjambement, sajak, ulangan dan yang lainnya lagi.
Meskipun sastra itu dalam semiotik tingkatannya lebih tinggi daripada bahasa, namun sastra tidak dapat lepas pula dari sistem bahasa; dalam arti, sastra tidak dapat lepas sama sekali dari sistem bahasa. Hal ini disebabkan oleh apa yang telah dikemukakan, yaiu bahasa itu sudah merupakan sistem tanda yang mempunyai artinya berdasarkan konvensi tertentu. Sastrawan dalam membentuk sistem dan maknanya dalam karya sastranya harus mempertimbangkan juga konvensi bahasanya sebab bila ia sama sekali meninggalkannya, maka karyanya tidak dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca
sebab sudah berada di luar perjanjian yang telah disepakati secara konvensional.
Karena hal-hal yang telah diuraikan itu, mengkaji dan memahami puisi tidak lepas dari analisis semiotik. Puisi secara semiotik seperti telah dikemukakan merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna ditentukan oleh konvensi. Memahami sajak tidak lain dari memahami makna puisi. Menganalisis puisi adalah usaha menangkap makna puisi. Makna puisi adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Dengan demikian, teranglah bahwa untuk mengkaji puisi perlulah analisis struktural dan semiotik mengingat bahwa puisi itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna.
Lebih lanjut diuraikan bahwa studi sastra bersifat sembiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini puisi khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur puisi atau hubungan dalam (internal) antar unsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Satuan-satuan berfungsi itu misalnya alur, setting, satuan-satuan bunyi, kelompok kata, kalimat (gaya bahasa), satuan-satuan visual seperti tipografi, enjambemen, satuan baris (bait), dan sebagainya.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Yang dimaksudkan konvensi tambahan adalah konvensi sastra di luar konvensi kebahasaan; misalnya saja tipografi, enjambement, persajakan, dan konvensi-konvensi yang lain yang ada dalam sastra.
Bagaimanapun juga karena sastra itu karya (imajinatif) yang bermedium bahasa, maka benda-tanda yang utama dalam karya sastra itu adalah tanda-tanda kebahasaan meskipun ada konvensi ketandaan sastra yang lain yang merupakan konvensi tambahan.
Konvensi tambahan itu diantaranya; perulangan, persajakan, tipografi, pembagian baris sajak, pembaitan, persejajaran, makna kiasan karena teks dalam struktur, yang semuanya itu menimbulkan makna dalam karya sastra. Tentu saja tanda-tanda tersebut erat hubungannya dengan tanda kebahasaan. Misalnya saja ulangan tidak terpisahkan dengan kata-kata yang diulang-ulang atu kalimat yang diulang, yang semuanya menimbulkan ulangan bunyi dan menimbulkan efek atau efek liris atau efek yang lain.
Dengan uraian itu, maka dalam analisis sajak terutama dicari tanda kebahasaan dan baru sesudah itu dicari (dianalisis) tanda-tanda (tambahan) yang lain yang merupakan konvensi tambahan dalam puisi.
3. Latar Belakang Sejarah dan Sosial Budaya Sastra
Teori struktural seperti telah diterangkan diatas merupakan teori analisis strukturalisme murni. Analisis struktural murni tidak menghubungkan unsur-unsur struktur dengan sesuatu yang berada di luar strukturnya karena makna disetiap unsur karya sastra itu hanya ditentukan oleh jalinannya dengan unsur lainnya dalam struktur itu sendiri. Setiap karya sastra berdiri otonom, merupakan kesatuan yang utuh, bulat dan mencukupi dirinya sendiri. Maknanya dicukupi oleh hubungan antara unsur yang terjalin dalam struktur sajak itu sendiri.
Dengan anggapan seperti terpapar, sebua karya sastra (puisi) dilepaskan hubungannya dengan sajak atau karya sastra sezaman atau sebelumnya. Di samping itu, sajak juga dilepasakan hubungannya dengan penyair dan masyarakatnya. Padahal pada kenyataannya sebuah sajak dalam karya sastra tidak hadir atau tidak dicipta dalam keadaan kekosongan budaya (Teeuw, 1984;11). Sebuah karya sastra tidak terlepas dari paham-paham yang menuliskannya. Pengarang tidak terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran, atau pandangan dunia pada zamannya ataupun sebelumya. Juga ia tidak lepas dari kondisi sosial budayanya. Semuanya itu tercermin dalam karyanya, tercermin dalam tanda-tanda kebahasaan dan lainnya. Sebuah karya sastra tidak lahir dalam kekosongan karya sastra, tidak lepas dari hubungannya dengan karya-karya sastra sebelumnya. Semua hubungan itu sangat menentukan makna dan pemahaman sebuah
karya sastra (puisi). Oleh karena itu,analisis struktural murni mempunyai keberatan-keberatan, yaitu diantaranya mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejerahannya dan latar belakang sosial budayanya (Teeuw, 1984: 61).
Bagaimanapun keberatannya, analisis struktural ini merupakan prioritas utama sebelum yang lain-lain (Teeuw, 1983: 61). Tanpa analisis yang demikian, kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri tidak akan tertangkap. Makna unsur-unsur karya sastra hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Oleh karena itu, ada usaha untuk mengatasinya yaitu dengan strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983:62). Struktural dinamik adalah strukturalisme dalam rangka semiotik , yaitu dengan memperhatikan karya sastra sebagai sistem tanda. Sebagai sistem tanda karya sastra tidak terlepas dari konvensi massyarakat, baik masyarakat bahasa maupun masyarakt sastra, dan masyarakat pada umumnya yang menentukan konvensi itu. Konvensi merupakan perjanjian yan disepakati masyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis.
Di samping itu, untuk mendapatkan makna sajak secara sepenuhnya, maka analisis sajak tidak dapat dilepaskan dari kerangka sejarah sastranya. Seperti telah dikemukakan, sebuah karya sastra tidak lahir dalam kekosongan sastra. Sebuah karya sastra dapat dikatakan meneruskan tradisi sastra sebelumnya ataupun juga menyimpanginya,
ataupun kedua-duanya, meneruskan sebagian dan menyimpanginya sebagian. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu hasil kreatifitas, para pengarang selalu ingin menciptakan kebaruan-kebaruan.
Begitu juga, karya sastra tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial budaya masyarakat di tempat karya sastra itu dituliskan. Maka untuk mendapatkan makna penuh karya sastra, latar belakang sosial budaya yang melatarinya yang tercermin dalam sistem tanda-tanda sastra dalam karya puisi yang di analisis haruslah diberi pertimbangan.