• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pengertian Puisi

Puisi merupakan salah satu bentuk (genre) karya sastra yang berbeda dengan bentuk prosa atau drama. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, puisi pun terdiri dari beberapa jenis. Sebelum terlalu jauh membicarakan mengenai perihal puisi, ada baiknya jika pengertian mengenai hal itu didahulukan.

Meskipun sampai sekarang orang tidak dapat memberikan definisi setepatnya apakah puisi itu, namun untuk memahaminya perlu diketahui beberapa definisi mengenai puisi. Secara etimologis, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ’membuat’ atau poesies ’pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan ’membuat’, dan menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana tertentu, baik lahiriah maupun batiniah.

Selanjutnya, Hudson mendefinisikan puisi salah satu cabang sastra yang menggunakan kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya (dalam Aminuddin, 1995:134).

Rumusan puisi tersebut, sementara ini diterima karena setiap orang sering diajuk oleh suatu ilusi tentang keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca sebuah puisi.

Menurut Jassin (1953) puisi merupakan penghayatan kehidupan totalitas yang dipantulkan oleh penciptanya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya, dan lain-lain. Selanjutnya, definisi Altenbernd (dalam Pradopo, 1993:5) mengemukakan bahwa puisi ialah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan karya sastra yang mengekspresikan pemikiran, yang membangkitkan perasaan, yang merangsang daya imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama.

Ada beberapa rumusan mengenai puisi ditinjau dari berbagai pendekatan dikemukakan oleh Semi dan Tarigan (dalam Rapi Tang, 2008:18), antara lain: sebuah pandangan oleh Mulyana berdasarkan pendekatan psikolinguistik, ia menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis dari pelbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan pelbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.

Berbeda dengan pendapat Hunt yang memakai pendekatan emotif, ia mengemukakan bahwa ”poetry is imajinative passion” (puisi merupakan luapan atau gelora perasaan yang bersifat imajinatif). Arnold, menggunakan pendekatan didaktis dan mengatakan bahwa ”poetry is the criticism of life” (puisi merupakan kritik kehidupan).

Dalam pandangannya, Ralf Waldo Emerson berpendapat bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit

mungkin. Puisi merupakan usaha yang abadi untuk mengekspresikan jiwa, untuk menggerakkan tubuh kasar, dan mencari kehidupan serta sebab-musabab yang menyebabkannya Situmorang (dalam Rapi Tang, 2008:19).

Pandangan para pakar yang bersumber dari berbagai sudut pandang seperti dikemukakan di atas, tentunya dapat memberi gambaran bahwa betapa luas jangkauan batasan semacam itu. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap puisi penting mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dipandang turut memengaruhi proses penciptaan puisi bersangkutan.

Dalam pandangan struktural, secara garis besar ada dua unsur yang membangun sebuah puisi (Waluyo, 1995:4), yaitu struktur fisik (metode puisi) dan struktur batin (hakikat puisi).

1. Struktur Fisik (Metode Puisi)

Struktur fisik (metode puisi) disebut pula struktur kebahasaan.

Medium pengucapan maksud yang hendak disampaikan penyair adalah bahasa. Bahasa puisi bersifat khas.

Metode puisi merupakan unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu per satu, tetapi unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur itu ialah, diksi (pilihan kata), pengimajian, kata konkret, majas (gaya bahasa), versifikasi, dan tipografi.

Diksi (pilihan kata) sangat penting bagi penyair. Penyair harus cermat memilih kata, sebab kata yang ditulis dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima, dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi.

Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.

Kata konkret adalah kata-kata itu dapat menyarankan arti yang menyeluruh. Pengkonkretan kata berhubungan erat dengan pengimajian, pelambangan, dan pengiasan

Bahasa figuratif (majas) adalah bahsa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan biasa, yakni secara langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Versifikasi (rima, ritma, dan metrum). Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi; ritma sangat erat berhubungan dengan bunyi juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata frasa, dan kalimat;

sedangkan metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap.

Tata wajah (tipografi). Tata wajah atau tipografi berkaitan erat dengan bentuk yang khas sebuah puisi. Bentuk khas sebuah puisi seringkali berperan penting menciptakan makna tambahan yang memiliki kesan yang memikat.

2. Hakikat Puisi

Hakikat puisi ialah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. Hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formalnya, meskipun bentuk formal itu penting. Hakikat puisi apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi.

Ada empat unsur hakikat puisi, yaitu tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada dan suasana (tone), dan amanat (intention).

Keempat unsur itu menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dijelaskan secara ringkas.

Tema adalah gagasan pokok (pokok pikiran) yang dikemukakan oleh penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapan atau penciptaan sebuah karya sastra. Tema mengacu pada penyair.

Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema/amanat puisi tersebut. Karena itu, tema bersifat khusus (diacu dari penyair), objektif (semua pembaca harus menafsirkan sama), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya).

Perasaan (feeling) berkaitan dengan suasana perasaan penyair yang diekspresikan yang mungkin dapat dihayati oleh pembaca.

Suasana perasaan penyair tidak dapat dilepaskan dari tema puisi tersebut.

Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Nada dan suasana yaitu sikap penyair terhadap pembaca, sedangkan suasana merupakan keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan sebuah puisi terhadap pembaca.

Amanat, pesan, atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal (Waluyo, 2005:40). Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang dikemukakan penyair.