BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Menurut pendapat Wellek dan Warren (1993:79) unsur luar (ekstrinsik) adalah unsur yang berada di luar cerita yang ikut memengaruhi kehadiran karya sastra. Misalnya faktor sosial, konflik
memuncak ekonomi, kebudayaan, politik, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat.
Perubahan budaya yang terjadi di Indonesia mengakibatkan semakin dangkalnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai religius, moral, dan sosial di samping prilaku dan kebijakan politik. Kebijakan dan perilaku politik yang mengabaikan nilai-nilai religius, moral, dan sosial, telah menimbulkan dampak yang sangat luas. Dampak dalam kehidupan bernegara, korupsi, nepotisme, selingkuh birokrasi, penyalahan wewenang dan tanggung jawab. Dalam kehidupan bermasyarakat terjadi pembunuhan, penculikan, perkosaan, perampokan, pembakaran, perampasan, penyiksaan, pelecehan seksual, dan kemiskinan. Sebagian besar fenomena tersebut di atas dideskripsikan oleh Chairil Anwar dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu.
Sehubungan dengan itu, Jatman (1985:182) mengatakan untuk dapat mencetak manusia yang memiliki kesadaran moral yang tinggi, kepribadian yang kuat, dan budi pekerti yang luhur, puisi sebagai salah satu mediator yang dapat mengubah manusia menjadi manusia-manusia yang berbudi, bercita rasa mulia, yang pada akhirnya menjadi manusia sejati yang menghayati sekaligus dapat mempraktekkan makna kemanusiannya melalui kesadarannya. Dengan demikian, puisi dapat mengubah manusia berperilaku manusia yang jelek menjadi baik. Jadi, puisi memiliki nilai religius, nilai moral, dan memiliki nilai sosial yang tinggi
yang dapat menjadikan manusia dapat memeroleh kematangan dan kedewasaannya dalam memahami eksistensinya di dunia ini.
Unsur ekstrinsik inilah yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini meliputi nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial.
Untuk menganalisis unsur ekstrinsik (nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial) kumpulan puisi DCD tentulah menjadi sistem bahasanya sebagai fokus utama. Sebagaimana pendapat Atmazaki (1990: 4) penelitian sastra yang berobjek pada bahasa difokuskan pada nilai-nilai, manfaat atau kegunaan karya sastra tersebut dalam kehidupan manusia.
Jadi, dalam konteks ini fakta-fakta linguistik sebagai sistem tanda (bunyi, kata, kalimat) dalam DCD sebagai sasaran analisis. Untuk itu kajian yang relevan untuk menganalisis hal tersebut adalah struktural dan semiotik, yang bertujuan memahami makna sajak, berusaha menangkap serta memberi makna kepada teks sajak.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan memberikan konstibusi berarti terhadap khazanah sastra Indonesia kita tentang puisi yang bernilai religius, moral, dan sosial yang terdapat dalam kumpulan puisi (DCD) karya Chairil Anwar, melalui kajian semoiotik.
Setelah data (puisi) dianalisis secara keseluruhan melalui analisis struktural dan semiotik, maka melalui uraian berikutnya dideskripsikan unsur-unsur ekstrinsik, meliputi nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial.
Langkah ini, merupakan tahap terakhir dalam kajian kumpulan puisi DCD
yang menggunakan kajian struktural dan semiotik. Adapun deskripsi makna setiap puisi yang dianalisis dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
1. Puisi “ Aku”.
(Nilai Sosial dan Nilai Moral)
Pemahaman puisi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan budayanya. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah sajak, selain sajak dianalisis struktur intrinsiknya (secara struktural) dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, diantaranya dengan intertekstual, maka analisis tidak dapat dilepas dari kerangka sosial budayanya Teeuw (dalam Pradopo, 1993:254). Karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya Abrams (dalam Pradopo, 1993:254). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat, maka ia tidak dapat lepas darinya. Seorang penyair tidak dapat lepas dari pengaruh sosial budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam karya sastra.
Kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan puisi. Corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan itu dapat
beranekaragam. Mungkin berupa adat kebiasaan, pandangan hidup, maupun perilaku suatu masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan masalah politik, tetapi berhubungan dengan masalah kehidupan sosial (Aminuddin, 1995:188).
Dari analisis Puisi “ Aku” sangat jelas nilai sosial yang terdapat dalam puisi “Aku”. nilai yang terkandung di dalamnya adalah penderitaan, kesakitan, dan kesedihan karena adanya siksaan, halangan, rintangan, dan siksaan serta tembusan peluru oleh penjajah. Aku tak pernah diberikan kebebasan dalam memiliki, memilih, dan menentukan nasib mereka, kepentingan rakyat (aku) selalu terabaikan. Sementara itu, para penguasa telah berbuat sewenang-wenang dengan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Tetapi bagaimanapun sulitnya kehidupan rakyat (aku) dan tetap berusaha melakukan perlawanan, ia tetap akan meradang, menerjang, melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya dan ada satu orang pun yang dapat menghalanginya.
Selain nilai sosial yang terdapat dalam puisi “Aku” juga terdapat nilai moral, hal ini dapat dilihat pada bait : ‘Aku mau hidup seribu tahun lagi’. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya atau menyatakan semangat yang bernyala-nyala untuk merasakan hidup yang sebanyak-banyaknya.
2. Puisi “ Selamat Tinggal”.
(Nilai Moral dan Nilai Religius)
Konsep moral/etika menurut pandangan Barat tidak sama dengan pandangan Timur. Moral/etika Barat bersifat antroposentrik (berpusat pada manusia). Kebalikannya, moral/etika Timur bersifat theosentrik (berpusat pada Tuhan). Dalam moral/etika Timur, terutama sudut pandang agama Islam, suatu perbuatan selalu dihubungkan dengan amal saleh, pahala atau siksa, surga dan neraka, dan lain-lain. Hal tersebut berbeda dengan moral/etika Barat. Peursen (1985:86), menambahkan bahwa moral/etika pada dasarnya adalah kemampuan menerobos teknik dan membuka suatu dimensi transenden, dimensi harapan, evolusi kritis, dan tanggung jawab.
Oleh sebab itu, melalui nilai moral/etika dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan nilai-nilai filosofis ke dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Sebab, di dalam nilai moral/etika dijabarkan hal-hal yang menuntut manusia agar bertingkah laku yang santun, saling menghormati, hidup bergotong royong, dan lain-lain. Jadi, faktor penting yang memungkinkan tindakan manusia bersifat susila sesuai dengan aturan formal yang berlaku ialah kesadaran moral.
Dari analisis struktural dan semiotik puisi “Selamat Tinggal” jelas menggambarkan nilai-nilai religius, dan nilai sosial. Nilai religius dapat di lihat pada, ‘ Muka penuh luka’ berarti keadaan diri yang penuh dengan dosa-dosa. Nilai sosial juga dapat di lihat pada ‘ suara seru menderu,
segala menebal’, yang menggambarkan bahwa si aku tengah di lilit persoalan yang membingungkan serta banyaknya penderitaan hidup.
Sedangkan nilai moral di gambarkan dengan si aku yang merasa putus asa karena dililit banyak persoalan yang menumpuk dan tak dapat di hindari (hal ini menggambarkan banyaknya persoalan yang dihadapi manusia) dan kadang persoalan itu susah untuk di pecahkan. Sebagai individu atau manusia seharusnya mampu memecahkan semua masalah dan jangan berputus asa.
3. Puisi “ Doa”.
(Nilai Religius dan Nilai Moral)
Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Di pihak lain, religiusitas melihat aspek yang ada di lubuk hati, riak getaran nurani pribadi, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih dari agama yang tampak, formal, dan resmi. Jadi nilai agama erat kaitannya dengan nilai religius, meskipun keduanya mempunyai pengertian yang berbeda.
Agama sebagai jalan kehidupan mengandung nilai-nilai spritual yang di dalamnya diletakkan adanya iman terhadap sumber kehidupan Yang Maha Besar, yaitu Tuhan yang menjadi sumber segala kehidupan.
Iman terhadap Tuhan Yang Maha Agung ini merupakan sumber bagi manusia untuk memperoleh kekuatan dalam menjalani kehidupan agar
mencapai kehidupan yang sehat dan bahagia. Komitmen spritual yang berupa iman merupakan esensi dari kehidupan manusia, sebab melalui iman, maka manusia dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang kehidupan. Berdasarkan iman pula, maka manusia memperoleh kekuatan untuk mengatasi permasalahan dan memperoleh kebahagiaan dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan.
Dari kajian puisi “Doa” sangat jelas nilai religius yang ada yaitu bagaimana si aku berdoa, memuji Tuhan, sembahyang yang di tunjukkan pada bait,’ di pintuMu aku mengetuk’. Selain itu puisi “ Doa” juga sarat dengan nilai moral, hal ini ditunjukkan si aku yang dalam keterasingannya, kebingungannya, dan keragu-raguannya senantiasa mengetuk pintu Tuhan atau berdoa dan berserah diri kepada Tuhan, ‘ Tuhanku, Aku….menyebut namaMu, Kau penuh seluruh, cahayaMu, Tuhanku, aku hilang bentuk, Tuhanku aku mengembara, Tuhanku – di PintuMu aku mengetuk pintumu’.
4. Puisi “Kepada Peminta-minta”.
(Nilai Sosial dan Nilai Religius)
Kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan puisi. Corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan itu dapat beranekaragam. Mungkin berupa adat kebiasaan, pandangan hidup, maupun perilaku suatu masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan
masalah politik, tetapi berhubungan dengan masalah kehidupan sosial (Aminuddin, 1995:188).
Salah satu penyair yang dikenal dengan puisi-puisi sosialnya yang tajam, dan seringkali tanpa begitu peduli pada capaian estetika tinggi yang merupakan obsesi kebanyakan penyair, dengan kedekatan penyair dengan alam dan lingkungan sosial budaya masyarakatnya, adalah yang pertama yaitu Taufiq Ismail.
Dari pengkajian puisi “Kepada Peminta-minta” secara semiotik dan struktural di atas terdapat nilai sosial. Nilai sosial yang terdapat dalam puisi di atas yaitu kita seharusnya tak menyia-nyiakan orang miskin (peminta-minta), mereka seharusnya di perhatikan, di bantu, dan di sayangi agar mereka bisa keluar dari penderitaan (kemiskinan) yang membelenggunya. Selain nilai sosial yang terdapat pada puisi “ Kepada Peminta-minta” juga terdapat nilai religius, hal ini terlihat pada kiasan, yaitu orang yang meminta si aku untuk ingat kepada Tuhan, untuk menyembah tuhan (Dia), sebab manusia itu diciptakan dan hamba Tuhan.
Seruan peminta-minta tersebut diterima si aku sehingga si aku akan menghadap Dia dan menyerahkan segala dosanya. Ia sudah sangat sadar akan segala dosanya itu sehingga si aku jangan serlalu diperingatkan saja (ditentang). Hal ini akan membuat dara si aku beku oleh rasa dosa yang sangat hebat, oleh ketakutan akan dosanya.
5. Puisi “ Sajak Putih”.
(Nilai Moral)
Objek moral/etika sebagai ilmu adalah manusia. Manusia dipandang dari segi baik-buruk perilakunya, diukur dengan kriteria tertentu. Menurut Suseno (1987:232), moral/etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas, dihasilkan secara langsung, bukan hanya berupa kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.
Dalam sastra Indonesia, nilai-nilai moral/etika dapat ditemukan baik dalam sastra tradisional (daerah) maupun sastra modern. Nilai-nilai moral/etika yang dimaksud adalah tindakan manusia yang bernilai ”baik”
atau ”buruk” dalam kehidupannya, baik sebagai individu, anggota masyarakat, dan bahkan sebagai warga negara. Oleh karena itu, setiap manusia akan mengimpikan kehidupan yang bernilai ’baik” dan menghindari kehidupan yang bernilai ’buruk’. Sejumlah fenomena tersebut dapat pula terefleksikan melalui karya sastra.
Oleh sebab itu, melalui nilai moral/etika dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan nilai-nilai filosofis ke dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Sebab, di dalam nilai moral/etika dijabarkan hal-hal yang menuntut manusia agar bertingkah laku yang santun, saling menghormati, hidup bergotong royong, dan lain-lain. Jadi, faktor penting yang memungkinkan tindakan manusia bersifat susila sesuai dengan aturan formal yang berlaku ialah kesadaran moral.
Sajak Putih memberikan pesan-pesan moral, bahwa dalam menjalin asmara atau percintaan seharusnya cinta itu benar-benar disampaikan dengan sejujur-jujurnya, setulus-tulusnya,serta dengan keikhlasan, bukan bohong. Karena cinta yang disertai dengan ketulusan dan kesucian itu akan bertahan lama bahkan sampai maut memisahkan bahagia selamanya.
6. Puisi “Sebuah Kamar”.
(Nilai Sosial dan Nilai Religius)
Kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan puisi. Corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan itu dapat beranekaragam. Mungkin berupa adat kebiasaan, pandangan hidup, maupun perilaku suatu masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan masalah politik, tetapi berhubungan dengan masalah kehidupan sosial (Aminuddin, 1995:188).
Dari kajian puisi “Sebuah Kamar” dengan pendekatan struktural dan semiotik jelas menggambarkan nilai sosial yang terdapat dalam puisi “ Sebuah Kamar”. Puisi di atas menggambarkan keadaan sebuah keluarga yang keadaan ekonominya sangat menyedihkan, keluarga yang miskin dan berkekurangan, dan mempunyai banyak anak serta tinggal di tempat yang sangat sempit (kamar ukuran 3 x 4), sangat tak layak untuk ditempati. Puisi ini menggambarkan potret sosial bahwa pada masa itu
masih banyak orang yang miskin dan hidup serba kekurangan dan tinggal di tempat yang sangat tak layak. Nilai religius juga terdapat dalam puisi ini, hal ini tergambar ketika Ayah si aku sendiri tak dapat berbuat apa-apa, hanya terbaring saja dengan kejemuannya. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanya berdoa, menatap orang terselip (tersalib) di batu, yaitu gambar Kristus / patung Kristus dan salib batu.
7. Puisi “Catetan Th. 1946”.
(Nilai Sosial dan nilai Moral)
Dari kajian puisi “Catetan Th. 1946” terdapat nilai sosial. Nilai sosial itu dapat di lihat ketika Indonesia dalam suasana perang dengan Belanda.
Lebih-lebih lagi Indonesia sehabis dijajah oleh pemerintah militer Jepang.
Keadaaan serba sukar, tak ada istirahat, orang tak sempat memikirkan kedamaian, tak merasakan ketentraman. Yang ada hanyalah serba ketakutan dan kegelisahan. Sedangkan nilai moral tergambar pada bait kelima: ‘penamu asah-mau basah’, yang artinya dalam suasana seperti ini (zaman penjajahan) orang harus bergerak dan bertindak cepat, harus bekerja keras, dan menentang maut. Berbeda jika negeri ini sudah merdeka, orang bisa bebas bekerja dengan tentram dan damai serta hidup makmur.
8. Puisi “Cerita Buat Dien Tamaela”.
(Nilai Sosial dan Nilai Moral)
Karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya Abrams (dalam Pradopo, 1993:254). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat, maka ia tidak dapat lepas darinya. Seorang penyair tidak dapat lepas dari pengaruh sosial budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam karya sastra. Kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan puisi.
Corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan itu dapat beranekaragam.
Puisi yang berjudul “ Dien Tamaela” menggambarkan nilai sosial.
Maluku dan rakyatnya yang memiliki kejayaan (berwibawa dan gagah berani), memiliki kebudayaan dan kesenian yang sangat terkenal.
Kejayaaan Indonesia itu sangat spektakuler ke Negara-negara lain di dunia. Nilai moral tergambar pada nama pattirajawane secara berturut-turut di ulang dari bait pertama sampai bait keempat baris pertama diamping itu, ulangan tersebut untuk memberi gaya mantera juga untuk menonjolkan tokoh Pattirajawane. Penonjolan ini sesungguhnya
menjelaskan karakter tokoh yang mempunyai kepribadian kuat, mempunyai harga diri, dan kepercayaan kepada diri sendiri.
9. Puisi “ Tuti Artic”
(Nilai Moral)
Dalam sastra Indonesia, nilai-nilai moral/etika dapat ditemukan baik dalam sastra tradisional (daerah) maupun sastra modern. Nilai-nilai moral/etika yang dimaksud adalah tindakan manusia yang bernilai ”baik”
atau ”buruk” dalam kehidupannya, baik sebagai individu, anggota masyarakat, dan bahkan sebagai warga negara. Oleh karena itu, setiap manusia akan mengimpikan kehidupan yang bernilai ’baik” dan menghindari kehidupan yang bernilai ’buruk’. Sejumlah fenomena tersebut dapat pula terefleksikan melalui karya sastra.
Oleh sebab itu, melalui nilai moral/etika dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan nilai-nilai filosofis ke dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Sebab, di dalam nilai moral/etika dijabarkan hal-hal yang menuntut manusia agar bertingkah laku yang santun, saling menghormati, hidup bergotong royong, dan lain-lain. Jadi, faktor penting yang memungkinkan tindakan manusia bersifat susila sesuai dengan aturan formal yang berlaku ialah kesadaran moral.
Dari kajian puisi “ Tuti Artic” berdasarkan pendekatan struktural dan semiotik di temukan pesan-pesan moral bahwa kebahagiaan tidak selamanya bertahan,kadang kebahagiaan itu berganti menjadi
kekecewaan dan kesedihan begitupun dalam kehidupan percintaan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan dan kesedihan itu sudah menjadi rahasia oleh-Nya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Fokus persoalan yang dideskripsikan dalam penelitian ini ialah nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial yang terdapat pada sembilan puisi yang telah ditetapkan sebagai sumber data. Data dalam penelitian ini adalah sembilan puisi yang dianalisis per bait, untuk menemukan makna utuh puisi. Setelah memahami keseluruhan hasil dan pembahasan terhadap keseluruhan puisi di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pertama, representasi nilai-nilai religius terdapat pada dua puisi yang berjudul: (3) Doa, nilai yang terkandung di dalamnya adalah tiada daya dan upaya yang lain kecuali hanya kembali memohon ampun kepada-Nya, dan dalam keterasingan,keragu-raguan,dia mengetuk pintu Tuhan karena hanya Tuhanlah satu-satunya tempat untuk berserah diri sehingga kita semua masih tetap diterima dan tetap mendapat pengakuan dari-Nya untuk tetap menjadi hamba-Nya. Akhirnya, kita pun tetap menjadi pengikut-Nya yang setia dan sebenarnya. (4) Si Peminta-minta, nilai yang terkandung di dalamnya adalah si aku menyadari dosa-dosanya yang telah menelantarkan atau menyia-nyiakan si peminta-minta (orang miskin).
Kedua, representasi nilai-nilai moral yang ditemukan terdapat dalam dua puisi yang berjudul: (2) Selamat Tinggal, nilai yang terkandung
di dalamnya adalah si aku yang merasa putus asa karena dililit banyak persoalan yang menumpuk dan tak dapat di hindari (hal ini menggambarkan banyaknya persoalan yang dihadapi manusia) dan kadang persoalan itu susah untuk di pecahkan. Sebagai individu atau manusia seharusnya mampu memecahkan semua masalah dan jangan berputus asa.. (2) Sajak Putih, nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa dalam menjalin asmara atau percintaan seharusnya cinta itu benar-benar disampaikan dengan sejujur-jujurnya, setulus-tulusnya,serta dengan keikhlasan, bukan bohong. Karena cinta yang disertai dengan ketulusan dan kesucian itu akan bertahan lama bahkan sampai maut memisahkan bahagia selamanya. (3) Tuti Artic, nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kebahagiaan tidak selamanya bertahan,kadang kebahagiaan itu berganti menjadi kekecewaan dan kesedihan begitupun dalam kehidupan percintaan. Karena sesungguhnya kebahagiaan dan kesedihan itu sudah menjadi rahasia olehNya.
Ketiga, representasi nilai sosial, yang ditemukan terdapat dalam dua puisi yang berjudul: (1) Aku, nilai yang terkandung di dalamnya adalah penderitaan, kesakitan dan kesedihan karena adanya siksaan,halangan,rintangan, dan siksaan serta tembusan peluru oleh penjajah. Aku tak pernah diberikan kebebasan dalam memiliki, memilih, dan menentukan nasib mereka, kepentingan rakyat (aku) selalu terabaikan. Sementara itu, para penjajah telah berbuat sewenang-wenang dengan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Tetapi
bagaimanapun sulitnya kehidupan rakyat (aku) dan tetap berusaha melakukan perlawanan, ia tetap akan meradang, menerjang, melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya . (4) Kepada Peminta-minta, nilai yang terkandung di dalamnya adalah kita seharusnya tak menyia-nyiakan orang miskin (peminta-minta), mereka seharusnya di perhatikan, di bantu, dan di sayangi agar mereka bisa keluar dari penderitaan (kemiskinan) yang membelenggunya. (6) Sebuah Kamar, nilai yang terkandung di dalamnya adalah menggambarkan keadaan sebuah keluarga yang keadaan ekonominya sangat menyedihkan, keluarga yang miskin dan berkekurangan, dan mempunyai banyak anak serta tinggal di tempat yang sangat sempit (kamar ukuran 3 x 4), sangat tak layak untuk ditempati. Puisi ini menggambarkan potret sosial bahwa pada masa itu masih banyak orang yang miskin dan hidup serba kekurangan dan tinggal di tempat yang sangat tak layak.(7) Catetan Th. 1946, nilai yang terkandung di dalamnya adalah ketika Indonesia dalam suasana perang dengan Belanda. Lebih-lebih lagi Indonesia sehabis dijajah oleh pemerintah militer Jepang. Keadaaan serba sukar, tak ada istirahat, orang tak sempat memikirkan kedamaian, tak merasakan ketentraman. Yang ada hanyalah serba ketakutan dan kegelisahan. Dalam suasana seperti ini orang harus bergerak dan bertindak cepat, harus bekerja keras, dan menentang maut. Berbeda jika negeri ini sudah merdeka, orang bisa bebas bekerja dengan tentram dan damai serta hidup makmur. Orang-orang pada saat itu sangat mendambakan kedamaian.(7) Cerita Buat Dien
Tamaela, nilai yang terkandung di dalamnya adalah Maluku dan rakyatnya yang memiliki kejayaan (berwibawa dan gagah berani), memiliki kebudayaan dan kesenian yang sangat terkenal. Kejayaan Indonesia itu sangat spektakuler oleh negara-negara lain di dunia.
B. Saran
Perubahan budaya yang terjadi di Indonesia mengakibatkan semakin dangkalnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai religius, moral, dan sosial disamping kebijakan dan perilaku politik. Kebijakan dan perilaku politik yang mengabaikan nilai-nilai religius, moral, dan sosial, telah menimbulkan dampak yang sangat luas. Untuk itu disarankan kepada peneliti lainnya perlu dilakukan penelitian lanjutan yang mendalam mengenai kajian unsur ekstrinsik yang meliputi nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain maupun penyair lain, atau teks-teks sastra lainnya sehingga khazanah nilai kehidupan
Perubahan budaya yang terjadi di Indonesia mengakibatkan semakin dangkalnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai religius, moral, dan sosial disamping kebijakan dan perilaku politik. Kebijakan dan perilaku politik yang mengabaikan nilai-nilai religius, moral, dan sosial, telah menimbulkan dampak yang sangat luas. Untuk itu disarankan kepada peneliti lainnya perlu dilakukan penelitian lanjutan yang mendalam mengenai kajian unsur ekstrinsik yang meliputi nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain maupun penyair lain, atau teks-teks sastra lainnya sehingga khazanah nilai kehidupan