HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.4. Analisis Tabel Silang
Analisis tabel silang akan memuat tentang penilaian dan data dalam satu tabel. Analisis tabel silang merupakan salah satu teknik yang dipergunakan untuk menganalisis dan mengetahui variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel yang lainnya, sehingga dapat diketahui apakah variabel tersebut bernilai positif atau negatif. Namun, analisis tabel silang ini tidak dapat disajikan sebagai penentu utama untuk melihat bagaimana penilaian data yang satu dalam
Kumpulan data yang akan disajikan dan dianalisis dalam tabel silang ini adalah : 1. Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Informasi Responden dengan
Tingkat Pengetahuan Responden yang Bertambah
2. Hubungan Antara Kemampuan Penyuluh untuk Memecahkan Persoalan Keragu - Raguan Responden tentang Penyalahgunaan Narkoba dengan Pengetahuan yang Dimiliki responden mampu Menguatkan responden untuk tidak Memakai Narkoba
3. Hubungan Antara Penjelasan yang Disampaikan penyuluh Melalui Gerak - Gerik anggota tubuh dengan Pemahaman Responden Secara Keseluruhan dengan Apa yang Dimaksudkan dengan Penyalahgunaan narkoba
Tabel : 56
Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Informasi Responden dengan Tingkat Pengetahuan Responden yang Bertambah
Tingkat Pemahaman
Informasi Responden
Tingkat Pengetahuan Responden yang Bertambah Total Sangat Bertambah Bertambah Kurang Bertambah Sangat Memahami 11 22.4% 3 6.12% 0 0% 14 28.6% Memahami 19 38.8% 12 24.4% 0 0% 31 63.%3 Kurang Memahami 2 4% 1 2.04% 1 2% 4 8.2% Total 32 65.3% 16 32.7% 1 2.04% 49 100%
Sumber : P 24 dan F C 25, P 37 dan F C 37.
Tabel diatas menujukkan tingkat pemahaman informasi responden terhadap tingkat pemahaman informasi responden. Jumlah responden yang menjawab tingkat pemahaman informasi yang sangat memahami dan juga pada
tingkat pengetahuan yang sangat bertambah ada 11 orang (22.4%). 3 orang (6.12%) yang menjawab pengetahuannya sangat bertambah pada tingkat pemahaman informasi yang disampaikan penyuluh dengan tingkat pengetahuan yang bertambah setelah menerima informasi yang didaptkan. sedangkan yang menyatakan sangat bertambah pada tingkat pemahaman informasi yang didapatkan dengan kurang bertambahnya tingkat penegetahuan pada informasi terdapat 0 responden. Terdapat 19 responden (38.8%) yang menyatakan memahami informasi yang didapatkan dan pengetahuan yang sangat bertambah dari responden. Responden yang menjawab memahami dengan informasi yang disampaikan oleh penyuluh dengan pernyataan responden yang juga bertambah pengethhuannya mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba adalah 12 orang (24.5%). Jumlah responden yang menyatakan kurang paham dengan informasi yang didapatkan dengan sangat bertambahnya pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba adalah 2 orang (4%). Responden yang menyatakan kurang memahami informasi yang didapatkan tetapi pengetahuannya betambah mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba hanya terdapat pada 1 orang (2%). Begitu juga 1 responden (2%) yang menyatakan bahwa reponden tersebut kurang memahami informasi yang didapatkan dan juga menyatakan kurang bertambah penegtahuannya mengenai penyalahgunaan narkoba setelah mengikutipenyuluahn anti narkoba.
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa tingkat pemahaman Informasi responden dengan tingkat pengetahuan responden yang bertambah. Karena mayoritas responden memahami informasi yang disampaikan oleh penyuluh dan
pengetahuannya yang sangat bertambah menganai penyalahgunaan narkoba, maka yang dibahas hanya jawaban yang sangat bertambah, yaitu :
Sangat Memahami : 11/49 x 100% = 22.4% Memahami : 19/49 x 100% = 38.8% Kurang Memahami : 2/49 x 100% = 4%
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa persentase responden yang menyatakan tingkat pemahaman informasi responden dengan tingkat pengetahuan responden yang bertambah adalah 65.3%. Ini berarti mayoritas siswa/I paham atau mengerti dengan informasi yang disampaikan oleh penyuluh mengenai penyalahgunaan narkoba sehingga siswa/I pengetahuannya juga sangat bertambah mengenai penyalahgunana narkoba.
Tabel : 57
Hubungan Antara Kemampuan Penyuluh untuk Memecahkan Persoalan Keragu - Raguan Responden tentang Penyalahgunaan Narkoba dengan Pengetahuan yang Dimiliki responden mampu Menguatkan responden untuk
tidak Memakai Narkoba
Kemampuan Penyuluh untuk Memecahkan Persoalan Keragu - Raguan Responden tentang Penyalahgunaan Narkoba
Pengetahuan yang Dimiliki responden mampu Menguatkan responden untuk tidak Memakai
Narkoba
Total
Sangat Mampu Mampu Tidak Mampu
Sangat Mampu 12 22.5% 1 2% 0 0% 13 26.5%
Mampu 25 51% 7 14.9% 1 2% 33 67.3%
Kurang Mampu 2 4% 1 2% 0 0% 3 6.12%
Total 39 79.6% 9 18.4% 1 2% 49 100%
Sumber : P 15 dan F c 16, P 37 dan F C 38.
Tabel diatas menunjukkan kemampuan penyuluh untuk memecahkan persoalan keragu - raguan responden tentang penyalahgunaan narkoba dengan pengetahuan yang dimiliki responden mampu menguatkan responden untuk tidak memakai markoba. Jumlah responden yang menjawab sangat mampu penyuluh dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan sangat mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang dimiliki adalah 12 responden (22.5%). Jumlah responden yang menyatakan sangat mampu penyuluh dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang yang dimiliki
adalah 1 responden. (2%) Sedangkan 0 responden yang menyatakan tidak mampu penyuluh dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan tidak mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang dimiliki. 25 responden (51%) menyatakan penyuluh mampu dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan sangat mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang dimiliki. Jumlah responden yang menyatakan penyuluh mampu dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang yang dimiliki adalah 7 responden (14.3%). Jumlah responden yang menyatakan kurang mampu penyuluh dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan sangat mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang dimiliki adalah 2 responden (4%). Responden yang menyatakan penyuluh kurang mampu dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang yang dimiliki adalah 1 responden (2%). Dan yang menyatakan kurang mampu penyuluh dalam memecahkan persoalan keragu – raguan siswa/I mengenai penyalahgunaan narkoba dan tidak mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang yang dimiliki adalah 0 responden.
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa kemampuan penyuluh untuk memecahkan persoalan keragu - raguan responden tentang penyalahgunaan narkoba dengan Pengetahuan yang dimiliki responden mampu menguatkan
responden untuk tidak memakai narkoba. Karena mayoritas responden menjawab sangat mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba, maka yang dibahas hanya jawabanya yang menyatakan sangat mampu, yaitu :
Sangat Mampu : 12/49 x 100% = 22.5%
Mampu : 25/49 x 100% = 51%
Kurang Mampu : 2/49 x 100% = 4%
Berdasarkan hasil tersebut kemampuan penyuluh untuk memecahkan persoalan keragu - raguan responden tentang penyalahgunaan narkoba dengan pengetahuan yang dimiliki responden mampu menguatkan responden untuk tidak Memakai Narkoba adalah 39.6%. Kemampuan penyuluh untuk memecahkan persoalan keragu - raguan responden tentang penyalahgunaan narkoba dengan pengetahuan yang Dimiliki responden mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba. Kemampuan penyuluh untuk memecahkan persoalan keragu - raguan responden tentang penyalahgunaan narkoba dengan pengetahuan yang dimiliki responden mampu menguatkan responden untuk tidak Memakai narkoba. Kemampuan dari seorang penyuluh dalam kemampuannya untuk memecahkan persoalan keragu - raguan siswa/i tentang penyalahgunaan narkoba sangatlah mampu, ketika diwawancara kebanyakan dari siwa/I menjawab stelah mereka mengikuti penyuluhan Anti narkoba, siswa/I merasa smua atasdari keragu – raguan dalam hatinya mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba telah terjawab semuanya dengan informasi yang telah disampaikan oleh penyuluh dengan informasi yang tidak membuat siswa/I tidak ragu – ragu lagi megenai bahaya penyalahgunaan narkoba, otomatis siswa/I juga sangat mampu untuk meghambat
dirinya untuk tidak memakai narkoba dari pengetahuan yang telah didaptkannnya dengan jelas melalui informasi yang didaptkannya melalui penyuluh.
Tabel : 58
Hubungan Antara Penjelasan yang Disampaikan penyuluh Melalui Gerak - Gerik anggota tubuh dengan Pemahaman Responden Secara Keseluruhan
dengan Apa yang Dimaksudkan dengan Penyalahgunaan narkoba
Penjelasan yang Disampaikan penyuluh Melalui
Gerak - Gerik anggota tubuh
Pemahaman Responden Secara Keseluruhan dengan Apa yang Dimaksudkan dengan
Penyalahgunaan narkoba Total
Sangat Paham Paham Kurang Paham Sangat Mengerti 1 2% 6 12.2% 0 0% 7 14.3% Mengerti 7 14.3% 19 38.9% 5 10.2% 30 61.2% Kurang Mengerti 3 6% 6 12.2% 3 6% 12 24.5% Total 11 22.4% 31 63.3% 7 14.3% 49 100%
Sumber : P 24 dan F C 27, P 42 dan F C 43.
Tabel menujukkan Penjelasan yang Disampaikan penyuluh Melalui Gerak - Gerik anggota tubuh dengan Pemahaman Responden Secara Keseluruhan dengan Apa yang Dimaksudkan dengan Penyalahgunaan narkoba. Jumlah responden yang menjawab bahwa penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh sangat mengerti dan sangat paham secara keseluruhan dengan Apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba adalah 1 orang (2%). Responden yang menjawab sangat mengerti dengan penjelasan yang
disampaikan oleh penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dan paham secara keseluruhan dengan Apa yang dimaksudkan dengan Penyalahgunaan narkoba adalah 6 orang (12.2%). Sedangkan responden yang menyatakan mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dan juga sangat paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan penyalahgunaan narkoba adalah 7 responden (14.3%). 19 responden (38.9%) meyatakan mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dan paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba. Dan 5 responden (10.3%) yang menyatakan mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dengan kurang paham dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba. 3 responden (6%) yang menyatakan kurang mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh serta sangat paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba. Jumlah responden yang menyatakan kurang mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dan paham dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba adalah 6 responden (12.2%). 3 Responden (6%) yang menyatakan kurang mengerti dengan penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dan kurang paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba.
Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh dengan pemahaman responden
secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba. Karena responden menyatakan paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba, maka yang dibahas hanya jawaban yang paham, yaitu :
Sangat Mengerti : 6/49 x 100% = 12.2% Mengerti : 19/49 x 100% = 38.9% Jurang Mengerti : 6/49 x 100% = 12.2%
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman responden secara keseluruhan dengan apa yang dimaksudkan dengan penyalahgunaan narkoba adalah 63.3%. ini berarti mayoritas siswa/i sudah mengerti dengan baik penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak - gerik anggota tubuh penyuluh disaat penyuluh melakukan penyuluhan karena gerak – gerik dari anggota tubuh penyuluh memilki pesan yang berarti mengenai apa itu narkoba dan itu juga membantu siswa/I untuk dapat memahami secara keseluruhan dengan apa yang dijelaskan oleh penyuluh.
IV.5. Uji Hipotesis
Dalam penelitian ini, rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah rumus Spearman Rho Koefisien. Sperman Rho Koefisien adalah metode untuk menganalisis data dan untuk melihat hubungan antara variabel yang sebenarnya dengan skala ordinal.
Jika rho < 0, maka hipotesa ditolak Jiks rho > 0, maka hipotesa diterima
Selanjutnya untuk melihat tinggi rendahnya korelasi digunakan skala
Guilford, yaitu sebagai berikut:
< 0,20 = hubungan rendah sekali; lemah sekali 0,20 – 0,39 = hubungan rendah tapi pasti
0,40 – 0,70 = hubungan yang cukup berarti 0,71 – 0,90 = hubungan yang tinggi; kuat
> 0,90 = hubungan yang sangat tinggi; kuat sekali; dapat diandalkan
Tabel : 59
Koefisien Korelasi Spearman Rho
KOMUNIKASI PENYULUHAN ANTI NARKOBA PENINGKATAN KESADARAN MUNIKASI PENYULUHAN ANTI NARKOBA rson Correlation 1 .322* . (2-tailed) .024 49 49 NINGKATAN KESADARAN rson Correlation .322* 1 . (2-tailed) .024 49 49
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Pada perhitungan koefisien korelasi dengan menggunakan Spearman Rho Koefisien didapat hasil .322 yang diartikan sebagai 0,322. Angka tersebut adalah angka koefisien korelasi. Kemudian diambil dua digit terakhir dibelakang koma menjadi 0.32. Angka tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti antara
variabel X dengan variabel Y karena terletak antara 0,20-0,39 yang pada skala Guilford disebut “Hubungan rendah tetapi pasti”. Dengan demikian, dapat diuraikan bahwa terdapat hubungan yang rendah tetapi pasti antara Komunikasi Penyuluhan anti Narkoba dan Peningkatan Kesadaran di MAN 3 Medan. Signifikansi atau nilai penerimaan hasil korelasi Spearman Rho dapat diuji dengan menyusun hipotesis sebagai berikut:
Ho : tidak terdapat hubungan antara dua variabel Ha : terdapat hubungan antara dua variabel
Pengujian dilakukan dua sisi karena yang dicari adalah ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel. Rho > 0 menunjukkan Ha diterima.
Dasar pengambilan keputusan signifikansi: Jika thitung > ttabel , maka hubungannya signifikan Jika thitung < ttabel , maka hubungannya tidak signifikan
Keputusan pada baris baik pada sel kanan atas maupun sel kiri bawah (kedua baris tersebut didapati isinya sama atau lurus dengan baris sig. (2-tailed), angka thitung adalah 0.000 = ttabel. Maka dapat diambil keputusan bahwa apabila
thitung sama dengan 0, maka hubungan antara Komunikasi Penyuluhan Anti
IV.6. Pembahasan
Dalam penelitian ini, setelah melalui tahapan analisis data yang dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan program SPSS 17.0. Hasil menunjukkan bahwa Ha : terdapat pengaruh antara Komunikasi Penyuluhan Anti Narkoba dan Peningktan Kesadaran.
Berdasarkan hasil uji hipotesa yang didapatkan ternyata Komunikasi Penyuluhan Anti Narkoba mempengaruhi Tingkat Kesadaran di MAN 3 Medan yakni dalam bentuk penyuluhan, dimana hubungan tersebut hubungan rendah tapi pasti. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi penyuluhan Anti Narkoba oleh PIMANSU memiliki nilai hubungan rendah tapi pasti terhadap tingkat kesadaran siswa/I kelas 2 MAN 3 Medan.
Seperti yang telah disajikan pada data tabel silang Hubungan tingkat pemahaman informasi responden terhadap tingkat pemahaman informasi responden, diketahui jumlah responden yang memahami informasi yang disampaikan penyuluh adalah sebanyak 19 orang dan 32 responden yang menyatakan sangat bertambah pengetahauannya setelah megikuti komunikasi penyuluhan anti narkoba yang akan memberikan keuntungan bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa informasi – informasi yang disampaikan oleh penyuluhan dapat dipahami semua oleh peserta.
Pada Hubungan Antara Kemampuan Penyuluh untuk Memecahkan Persoalan Keragu - Raguan Responden tentang Penyalahgunaan Narkoba dengan Pengetahuan yang Dimiliki responden mampu Menguatkan responden untuk tidak Memakai Narkoba terbukti dengan adanya 39 responden yang menyatakan penyuluh sangat mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba.
Dan 9 responden yang menyatakan mampu menguatkan responden untuk tidak memakai narkoba. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian besar responden tidak akan pernah melakukan/ memakai narkoba karena bagi mereka narkoba sangat merugikan bagi diri sendiri, lingkungan dan bangsa. Ini semua tidak terlepas dari peran penyuluh yang mampu memberikan informasi – informasi yang kuat dan mudah dimengerti dari peserta penyuluhan sehingga dengan informasi – informasi yang mudah dimengerti/dipahami responden merasa penyuluh sudahj menjawab dengan baik atas semua jawaban keragu – raguan responden yang masih ragu mengenai penyalahgunaann narkoba. Setelah mereka mnegrti lebih baik mngenai narkoba meraka sadar dan mampu menguatkan hati mereka untuk tidak memakai narkoba.
Pada korelasi tabel silang antara penjelasan yang disampaikan penyuluh melalui gerak – gerik anggota tubuh dengan pemahaman responden secara keseluruhan dengan yang dimaksud penyalahgunaan narkoba. 31 responden yang menyatakan paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksud penyalahgunaan narkoba secara keseluruhan. Serta yang menyatakan sangat paham sekali secara keseluruhan dengan apa yang dimaksud dengan penyalahgunaan narkoba terdapat 11 peserta. 7 responden yang menyatakan kurang paham secara keseluruhan dengan apa yang dimaksud penyalahgunaan narkoba. Dari kebanyakan pernyataan responden, banyak yang menyatakan mereka tidak akan memakai narkoba karena mereka sudah paham dan mengerti dengan baik tentang bahaya penyalahgunaan narkoba itu semua dan ini tidak terlepas dari kemampuan penyuluh dalam mempengaruhi responden untuk tidak
memamakai narkoba dengan informasi/pesan – pesan yang mudah dimengerti responden.
Setelah menganalisis setiap data dari hasil kuesioner dengan tabel tunggal, dilanjutkan dengan analisis tabel silang dua variabel X (Komunikasi Penyuluhan Anti Narkoba) dan Y (Peningkatan Kesadaran Siswa/I MAN 3 Medan). Hipotesis diajukan dapat menunjukkan pengaruh Komunikasi Penyuluhan Anti Narkoba dan Peningkatan Kesadaran Siswa/I MAN 3 Medan.
Kemudian untuk mengetahui tingkat signifikasi hasil, maka dilakukan uji hipotesis. Pada perhitungan koefisien korelasi dengan menggunakan Spearman Rho Koefisien didapat hasil .322 yang diartikan sebagai 0,322. Angka tersebut adalah angka koefisien korelasi. Kemudian diambil dua digit terakhir dibelakang koma menjadi 0.32. Angka tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti antara variabel X dengan variabel Y karena terletak antara 0,20-0,40 yang pada skala Guilford disebut “Hubungan rendah tetapi pasti”. Dengan demikian, dapat diuraikan bahwa terdapat hubungan yang rendah tetapi pasti antara Komunikasi Penyuluhan anti Narkoba dan Peningkatan Kesadaran di MAN 3 Medan.