HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6. Analisis Tambahan
Variabel Hasil Uji Korelasi Nilai Sig. Koefisien Korelasi (r) Koefisien Determinasi (r)2 Kesimpulan PF dan PD 0,04 ≤ 0,05 -0,236 0,055 Berkorelasi negatif Keterangan: PF: Perfeksionisme PD: Penyesuaian Diri
Intepretasi tingkat kekuatan nilai korelasi pada penelitian ini berdasarkan kategori tingkat nilai korelasi yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008). Tabel 20 menyajikan kategori tingkat korelasi sebagai berikut.
Tabel 20.
Kategori Tingkat Korelasi.
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 - 0,199 Sangat Rendah 0,20 – 0, 399 Rendah 0,40 – 0,599 Sedang 0,60 – 0,799 Tinggi 0,80 – 1,000 Sangat Tinggi 6. Analisis Tambahan
Analisis tambahan bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara per dimensi perfeksionisme dengan penyesuaian diri. Analisis tambahan ini dilakukan dengan menggunakan one sample independent T-Test dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows.
Analisis pertama adalah uji asumsi yang terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Setelah dilakukan uji asumi, dilakukan uji korelasi untuk
melihat apakah ada hubungan antara perdimensi perfeksionisme dengan penyesuaian diri.
Hasil uji korelasi dimensi standar tinggi personal dengan penyesuaian diri menunjukkan nilai p sebesar 0,166 (p ≤ 0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,087. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan negatif signifikan antara dimensi standar tinggi personal dengan penyesuaian diri.
Hasil uji korelasi pada dimensi standar tinggi personal dengan penyesuaian diri menunjukkan nilai p sebesar 0,091 (p ≤ 0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar -0,120. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan negatif signifikan antara dimensi standar tinggi interpersonal dengan penyesuaian diri.
Hasil uji korelasi pada dimensi persepsi terhadap standar dan penyesuaian diri menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,106 (syarat p ≤
0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar -0,112. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang negatif signifikan antara dimensi persepsi terhadap standar dengan penyesuaian diri.
Uji korelasi pada dimensi terakhir perfeksionisme yaitu dimensi respon terhadap standar dan penyesuaian diri menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p≤ 0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar -0,400. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara dimensi respon terhadap kesalahan dengan penyesuaian diri. Tabel
22 menyajikan hasil uji korelasi dimensi perfeksionisme dengan penyesuaian diri sebagai berikut.
Tabel 22.
Uji Korelasi Dimensi Perfeksionisme dengan Penyesuaian Diri Dimensi Perfeksionisme Variabel Tergantung Koefisien Korelasi (r) Korefisien Determinasi (r2) Sign. Interpretasi Standar Tinggi Personal Penyesuaian Diri -0,087 0,525 0,166 Tidak Berkorelasi Standar Interpersonal -0,120 0,529 0,091 Tidak Berkorelasi Persepsi mengenai Standar -0,112 0,478 0,106 Tidak Berkorelasi Respon terhadap kesalahan -0,400 0,390 0,000 Berkorelasi negatif B. PEMBAHASAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis peneliti diterima bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara perfeksionisme dan penyesuaian diri pada mahasiswa tahun pertama. Korelasi negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi perfeksionisme maka semakin rendah penyesuaian diri pada mahasiswa tahun pertama, begitu pula sebaliknya.
Mahasiswa perfeksionis menjadi terfokus untuk mencapai standar akademik yang ia tentukan bagi dirinya. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Mann (2004) yang menunjukkan hasil bahwa standar tinggi pada mahasiswa perfeksionis membuat dirinya berfokus pada pencapaiannya tanpa memperdulikan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil Focus Group Disscussion. Para mahasiswa tahun pertama
mengatakan bahwa mereka berusaha keras dalam mencapai standar yang telah mereka tentukan sampai memuaskan diri mereka. Usaha mencapai standar tersebut berkaitan negatif dengan penyesuaian sosial yang mana mahasiswa kurang berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Individu perfeksionis sulit menerima kemampuan yang berbeda dari individu lain. Individu perfeksionis juga memiliki persepsi bahwa orang lain mengharapkan kesempurnaan dirinya. Responden perfeksionis penelitian merasa harus memenuhi kewajiban dan komitmennya pada orang lain (Arnett, 2014). Kewajiban ini menyebabkan individu tersebut terfokus pada pemenuhan standar dan ikatan yang diberikan pada dirinya.
Individu perfeksionis berusaha semaksimal mungkin tidak melakukan kesalahan. Kesalahan individu perfeksionis berkaitan dengan persepsi akan kegagalan dalam meraih standar yang ingin mereka capai. Kesalahan juga berkaitan dengan rasa takut akan evaluasi negatif oleh orang lain (Flett, Hewitt, De Rossa, 1996). Hal tersebut membuat individu perfeksionis berusaha keras melakukan sesuatu dengan sempurna.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perfeksionisme memiliki sumbangan kecil pada penyesuaian diri, yaitu sebesar 5,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 94,5% faktor lain memengaruhi penyesuaian diri selain perfeksionisme. Faktor lain berasal dari evaluasi diri inti yang meliputi harga diri, efikasi diri, dan locus of control (dalam Schwarzer, 2014).
Faktor lain yang memengaruhi penyesuaian diri juga berasal dari kecerdasan emosi individu. Individu yang mampu mengelola stres dengan
melibatkan kemampuan untuk mengelola situasi yang penuh dengan tekanan dengan tenang dan proaktif (Parker, Summerfeklt, Hogan, & Majeski, 2004). Faktor lain yang memiliki sumbangan yang lebih besar terhadap penyesuaian diri adalah pola asuh dan hubungan dengan orang tua. Hickman, Bartholomae, dan McKenry (2000) menyatakan bahwa individu dengan pola asuh authoritatif memiliki hubungan dengan dimensi penyesuaian diri akademik yang membuat individu mampu menghadapi tuntutan atau tekanan di masa transisi menuju perguruan tinggi.
Analisis perdimensi perfeksionisme dengan penyesuaian diri menunjukkan hasil bahwa hanya salah satu yang hipotesis diterima yaitu ada hubungan negatif yang signifikan antara dimensi respon terhadap kesalahan dengan penyesuaian diri pada mahasiswa tahun pertama. Semakin rendah dimensi respon terhadap kesalahan maka semakin tinggi penyesuaian diri, sebaliknya semakin tinggi dimensi respon terhadap kesalahan maka semakin rendah penyesuaian diri mahasiswa tahun pertama.
Analisis tambahan pertama menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan signifikan antara dimensi standar tinggi personal dan penyesuaian diri pada mahasiswa baru, namun hasil analisis deskriptif menunjukkan skor yang tinggi pada dimensi standar tinggi personal. Hasil ini didukung oleh hasil kategorisasi skala yang menunjukkan hasil bahwa sebagian besar responden memiliki skor standar tinggi personal yang masuk dalam kategori sedang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa responden memiliki standar tinggi personal dalam dirinya, namun hal tersebut tidak menjadi perfeksionisme yang
maladaptif justru menjadi perfeksionisme yang adaptif. Hasil analisis pada dimensi ini didukung oleh penelitan Mann (2004) yang menunjukkan hasil bahwa Self-Oriented Perfectionism tidak memiliki hubungan dengan penyesuaian diri, meskipun memiliki standar tinggi personal, individu cenderung tidak kaku dan tetap fleksibel.
Hasil Focus Group Disscussion (FGD) yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa sebagian besar respon memiliki standar yang tinggi dalam bidang akademik. Standar tinggi ternyata tidak lantas membuat responden menjadi kaku untuk mencapai apa yang sudah ia tetapkan. Hasil ini terbukti dengan skor penyesuaian diri yang juga tinggi dan menunjukkan bahwa individu perfeksionis terutama pada dimensi standar tinggi personal selalu mengarah pada penyesuaian diri yang buruk.
Analisis tambahan kedua menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan signifikan antara dimensi standar interpersonal dengan penyesuaian diri. Individu dengan standar tinggi pada orang lain, terbukti mampu menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun memiliki standar tinggi pada orang lain, ia tidak selalu menuntut agar orang lain mampu mencapai standar yang ditetapkannya. Individu mampu menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki orang lain dan fleksibel dalam menerima pekerjaan orang lain. Individu juga mampu menerima keadaan lingkungannya dengan baik meskipun lingkungan tersebut tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh individu.
Analisis tambahan ketiga menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan signifikan antara dimensi standar dan penilaian dari orang lain dengan penyesuaian diri. Persepsi terhadap standar adalah kecenderungan individu yang memiliki persepsi bahwa orang lain mengharapkan kesempurnaan dan mengevaluasi dengan kritis kinerjanya tersebut. Persepsi terhadap standar dan penilaian dari orang lain dimiliki oleh individu, namun tidak berkaitan dengan penyesuaian diri. Persepsi yang mereka miliki tidak terbukti benar dan hanya menjadi persepsi bagi diri mereka sendiri.
Dimensi respon terhadap kesalahan memiliki hubungan negatif dan signifikan dibandingkan dengan semua dimensi penyesuaian diri. Hubungan negatif dan signifikan menunjukkan bahwa semakin tinggi skor dimensi respon terhadap kesalahan tinggi, maka semakin rendah skor perfeksionisme dan begitu pula sebaliknya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dimensi respon terhadap kesalahan adalah penyumbang terbesar terhadap variabel penyesuaian diri. Pada mahasiswa tahun pertama, respon terhadap kesalahan berkaitan dengan penyesuaian diri mereka di lingkungan perguruan tinggi.
Pembahasan sebelumnya menyebutkan bahwa individu perfeksionis berfokus untuk mencapai standarnya, sehingga membuat dirinya sulit untuk menerima kesalahan. Individu perfeksionis secara konstan merasa takut mengalami kegagalan ketika sedang berusaha mencapai sesuatu (Shafran, Egan, Wade, 2010). Kesalahan dipandang sebagai hal negatif dan menjadi sebuah kegagalan bagi individu perfeksionis (Stairs, Smith, Zapolski, Combs, & Settles, 2012). Para mahasiswa yang membuat kesalahan merasa dirinya
merasa tidak layak untuk kembali mengejar standar yang telah mereka buat (Hibbard, Davie, 2011). Hal tersebut mengakibatkan individu memandang sebuah kesalahan bukan sebagai kegagalan karena individu tersebut menjadikan kegagalan sebagai sebuah motivasi dirinya. Motivasi mendorong individu untuk kembali meraih standar yang ia tentukan sehingga mampu menyesuaian diri dengan yang baik (Hewitt & Flett, 1991 dalam Mann, 2004).
68 BAB V