• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data tentang Hasil Penerapan Metode Kisah dan Penanaman Nilai Keteladanan dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X Pada Mata

BAB IV DESKRIPSI DATA

C. Analisis Data tentang Hasil Penerapan Metode Kisah dan Penanaman Nilai Keteladanan dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X Pada Mata

Pelajaran PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo

Penanaman nilai dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu, tahap transformasi

nilai, tahap transaksi nilai, dan tahap transinternalisasi nilai:214

1) Tahap transformasi nilai: pada tahap ini guru sekedar mentransformasikan

nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata

merupakan komunikasi verbal.

214

Muhaimin M.A., et.al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 178.

2) Tahap tranksaksi nilai, dalam tahap ini guru tidak hanya menginformasikan nilai yang baik dan buruk, tetapi juga terlihat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta untuk memberikan tanggapan yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai tersebut.

3) Tahap transinternalisasi, tahap ini jauh lebih dalam dari sekedar transaksi. Dalam

tahap ini penampilan guru dihadapan siswa bukan lagi sosoknya, tetapi lebih pada sikap mentalnya (kepribadian).

Dari data penelitian lapangan menunjukan bahwa guru-guru PAI di SMKN 1 Jenangan telah melakukan ketiga tahapan penanaman nilai seperti yang disebutkan

diatas. Dalam tahapan transformasi nilai, guru telah mengajarkan dan menuntun

nilai moral siswa, seperti yang dilakukan Bapak Shokib, dimana moral siswa itu tidak lepas dari keteladanan, maka perlu menunjukan kepada anak didik aspek peribadatan, ucapan, dan tingkah laku. Selain itu juga dengan menjadikan baginda Rasulullah contoh atau suri tauladan dalam pembelajaran, agar anak dapat mencontoh sikap serta kepemimpinannya.

Pada tahap transformasi nilai, cara Bapak Muzakky dalam mengajarkan

dan menuntun nilai moral siswa dilakukan melalui cerita/kisah, yakni dengan menceritakan kasus-kasus moral yang sedang terjadi sekarang disertai pemberian contoh nyata, agar siswa dapat menjadikan pelajaran dan menghindari perilaku

buruk tersebut. Sedangkan Bapak Qomarudin dalam tahap transformasi ini

menunjukan kasus alam, semisal bencana longsor di Banaran, lalu mengaitkan perilaku warga Banaran sebelum terjadi longsor. Begitu pun dengan Bapak Anwar

dalam mengajarkan dan menuntun nilai moral siswa dengan memberikan contoh tindakannya, lebih menjaga figur guru, karena setiap tindakannya bisa saja ditirukan murid. Bapak Ihsan dalam mengajarkan dan menuntun nilai moral siswa dengan cara guru harus menjadi barometer peserta didiknya untuk bertindak, serta cara pakaian, dan sikap guru.

Pada tahap transaksi nilai, guru memberikan contoh/amalan nyata kepada

peserta didik, serta adanya tanggapan peserta didik melaksanakannya. Dalam tahap ini guru-guru PAI SMKN 1 Jenangan sudah memberikan contoh/amalan nyata kepada peserta didik, begitu pun peserta didik sedikit mampu menerapkannya.

Semisal pembiasaan sholat dhuha dan membaca asma>ul h}usna pada kelas bapak

Shokib dan bapak Anwar, selain itu adanya amalan-amalan, doa-doa, serta sunah rasul yang diberikan Bapak Muzakky telah dijadikan pengamalan dan pembiasaan siswa.

Pengamalan dan pembiasaan itu sendiri merupakan bagian dari pendekatan penanaman nilai serta pendekatan PAI. Hal ini selaras dengan teori yang mengatakan, dalam pendekatan penanaman nilai yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran antara lain yaitu: pengalaman, pembiasaan, emosional,

rasional, fungsional, dan keteladanan.215 Pendekatan Pembelajaran PAI: Keimanan,

pengamalan, pembiasaan, rasional, emosional, fungsional, keteladanan. 216

215

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), 130-134.

216

Erwin Yudi Prahara, Materi Pendidikan Agama Islam (Ponorogo: STAIN Po Press, 2009), 18-19.

Jadi dapat disimpulkan dalam tahap transaksi nilai, adannya contoh amalan nyata dari guru sampai dengan tanggapan siswa untuk melakukannya merupakan bagian dari pendekatan penanaman nilai serta pendekatan PAI, hal ini bertujuan untuk melatih siswa dalam mengamalkan dan membiasakan dari ilmu yang diperolehnya.

Pada tahap transinternalisasi, Dalam tahap ini penampilan guru dihadapan

siswa bukan lagi sosoknya, tetapi lebih pada sikap mentalnya (kepribadian). Hal ini tidak jauh dengan keteladanan guru atau guru tauladan bagi siswa, dari hasil penelitian lapangan menunjukan bahwa guru-guru PAI di SMKN 1 Jenangan sudah hampir dapat dijadikan guru tauladan, walaupun sebagian masih ada yang kurang dari sikap maupun ucapan guru. Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap acuan siswa dalam meniru segala sikap tingkah laku guru, baik guru memberikan contoh melalui kisah maupun amalan nyata. Siswa akan secara psikologis lebih dapat menerima, karena secara hati mereka sudah menghormati dan mencintai gurunya sebagai guru tauladan, sehingga berpengaruh pada kemampuan dan pemahaman siswa menangkap materi melalui kisah dari data lapangan enam kelas yang diteliti, hasilnya ada yang cukup baik dengan prosentase rata-rata 30-70 %, serta sangat baik dengan prosentase 75-90 %, siswa secara sadar akan berusaha membiasakan sholat

dhuha, membaca asma>ul h}usna, amalan-amalan, doa-doa, serta sunah rasul yang

Menurut data lapangan berkaitan dengan minat siswa di SMKN 1 Jenangan dengan adanya kisah/cerita dapat menambah minat dan semangat siswa. Dari banyak siswa rata-rata menyukai cerita, karena dengan cerita tidak membosankan dan materi bisa lebih mudah dipahami.

Faktor yang mempengaruhi minat siswa lebih pada cara guru mengajar, ada sebagian siswa dari enam kelas yang diteliti mengatakan tidak suka dengan cara mengajar guru, walaupun sebagian mengatakan suka dengan adanya cerita.

Hal tersebut diperkuat dengan teori, Faktor yang mempengaruhi minat belajar menurut Slameto ada dua faktor yang mempengaruhi: 1) Faktor Intern, terdiri dari faktor jasmaniah (seperti faktor kesehatan dan cacat tubuh) dan faktor psikologi (seperti intelegensi, perhatian, bakat, kematangan dan kesiapan). 2) Faktor Ekstern, terdiri dari faktor keluarga (seperti cara orang tua mendidik, relasi antar keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan), dan faktor sekolah (seperti metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar penilaian diatas ukuran, keadaan

gedung, metode mengajar dan tugas rumah). 217

Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi minat tinggi

siswa-siswa SMKN 1 Jenangan adalah faktor intern psikologi (perhatian dan kesiapan

siswa dalam menerima pelajaran), faktor sekolah (metode mengajar, relasi guru

217

Donni Juni Priansa, Kinerja dan Profesionalisme Guru Fokus pada Peningkatan Kualitas Sekolah, Guru, dan Proses Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2014), 284.

dengan peserta didik), sedangkan yang menghambat minat mereka ialah faktor intern faktor jasmaniah (faktor kesehatan).

Dari enam kelas yang diteliti, empat diantarannya sangat menyukai adanya cerita terlebih cara guru mengajar dengan membawakan cerita secara santai dan humor membuat mereka suka terhadap gurunya dan mata pelajaran PAI.

Hal ini diperkuat dengan teori yang menyebutkan bahwa menggunakan humor di ruang kelas memberikan banyak manfaat mencakup mengurangi stres, meningkatkan motivasi, mengurangi jarak secara psikologis antara guru-siswa, dan

meningkatkan kreativitas. 218

Upaya guru untuk mengatasi minat membaca dan belajar rendah yang dilakukan guru-guru PAI SMKN 1 Jenangan Ponorogo dari data penelitian lapangan adalah:

1. Dengan menyuruh siswa uji kompetensi mengerjakan LKS, setelah diberikan

cerita, dan catatan penjelas materi.

2. Dengan menceritakan kisah dan cerita, atau mengajak anak-anak belajar di perpus.

3. Dari awal siswa harus sudah siap/minat belajar, buku sudah dikeluarkan sebelum

pembelajaran dimulai.

4. Menunjuk siswa secara acak untuk membaca dari bagian materi yang dibahas.

218

Darmansyah, Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor (Jakarta: Bumi Aksara, 2011, 80.

5. Memotivasi siswa agar semangat dalam belajarnya, guru harus menjadi barometer. Dari gayanya, dari tindakanya itu seakan-akan meyakinkan peserta didik.

6. Dengan menggunakan internet, karena siswa memang sulit untuk membaca, maka

diberikan tugas untuk didiskusikan dan dicari di internet.

7. Dengan doktrin pentingnya mencari ilmu termasuk menulis, jikalau tidak bisa

harus ada catatan dimasukan hafalan dengan membaca dari tulisan .

Hal ini diperkuat teori yang mengatakan, cara yang dilakukan adalah dengan mengajar yang menyenangkan melalui pemberian kebebasan pada siswa, perlakuan dan memahami pada siswa sehingga terjalin komunikasi yang baik,

pujian-hadiah, serta metode belajar yang menyenangkan.219 Dimana disimpulkan

bahwa guru telah melakukan upaya dari faktor siswa melalui metode pembelajaran yang mereka suka yaitu dengan cerita yang dibawakan secara santai dan humor.

Kesimpulan secara keseluruhan bahwa penggunaan metode kisah dan penanaman nilai keteladanan dalam meningkatkan minat belajar siswa dikatakan cukup berhasil, karena dengan perumpamaan melalui kisah siswa dapat lebih mudah memahami isi materi serta dapat lebih mudah menerapkan ilmu yang dipelajarinya. Hasil terhadap minat siswa melalui kisah dikatakan tinggi, karena siswa menyukai cerita, apalagi faktor guru dalam mengajar dan membawakan cerita secara santai dan humor. Dan hasil terhadap minat belajar dikatakan baik, karena rata-rata siswa mendapatkan hasil nilai diatas 80 dan mencapai nilai 90.

219

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinnya (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), 182.

BAB VI PENUTUP A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang Penggunaan Metode Kisah dan

Penanaman Nilai Keteladanan dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo dapat disimpulkan:

1. Latar belakang penggunaan metode kisah penggunaan metode kisah dan

penanaman nilai keteladanan dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas X pada mata pelajaran PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo karena dengan kisah dapat menyentuh hati, sehingga siswa senang akan adanya kisah dan siswa suka meniru serta meneladani guru. Sehingga dengan rasa suka minat belajar mereka terbangun.

2. Jenis metode kisah dan penanaman nilai keteladanan dalam meningkatkan minat

belajar siswa kelas X pada mata pelajaran PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo,

belum menggunakan metode cerita seperti teori menurut Moeslichatoen,

melainkan menggunakan bentuk metode cerita tanpa alat peraga dengan bercerita secara langsung menggunakan lisan sesekali dibawakan secara humor menceritakan kisah sejarah, kisah nabi-nabi, keimanan, kisah moral dan sosial, serta kisah pengalaman hidup. Menggunakan bentuk metode keteladanan mengunakan keteladanan disengaja dan dan tidak disengaja. Keteladanan disengaja di SMKN 1 Jenangan Ponorogo diantarannya sebagai berikut: menceritakan kisah Rasulullah, pengalaman hidup dan kisah moral, membawa

anak ke masjid untuk sholat dhuha, menjaga tingkah laku guru agar ditiru siswa seperti: menjadi imam sholat, dan kegiatan bakti sosial. Sedangkan bentuk keteladanan tidak disengaja, dari data wawancara siswa dikatakan bahwa guru-guru PAI di SMKN 1 Jenangan sudah hampir dapat dijadikan guru-guru tauladan dari sikap guru yang ramah, baik, humoris, sering menasehati, pemberian ilmu mengenai amalan, doa-doa dan sunah rasul, serta pembiasaan sholat dhuha dan

pembacaan asma>ul h}usna.

3. Hasil penerapan metode kisah dan penanaman nilai keteladanan dalam

meningkatkan minat belajar siswa kelas X pada mata pelajaran PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo, siswa dapat lebih mudah memahami isi materi dan mudah menerapkan ilmu yang dipelajarinya. Hal tersebut dilaksanakan dalam bentuk

pembiasaan sholat dhuha dan membaca asma>ul h}usna, amalan-amalan, doa-doa,

serta sunah rasul. Hasil terhadap minat belajar siswa meningkat, karena siswa lebih suka dan memiliki perhatian lebih dalam belajar, sehingga mengalami peningkatan dalam hasil belajar dengan rata-rata siswa mendapatkan nilai 90, sedangkan sebelumnya rata-rata siswa hanya mendapatkan nilai 80.

B.Saran

1. Diharapkan guru konsisten dalam mengajar menggunakan metode kisah dan

penanaman nilai keteladanan, sehingga anak tidak hanya mendapat pengetahuan saja tetapi ada kesadaran untuk melakukan.

2. Jenis metode kisah dan penanaman nilai keteladanan dalam mata pelajaran PAI yang disampaikan guru sebaiknya lebih banyak lagi ilmu yang diberikan yang disampaikan dengan menggunakan metode yang bervariasi, yang tidak hanya menggunakan lisan agar siswa lebih mudah menerapkan di kehidupan sehari-hari.

3. Hasil penggunaan metode kisah dan penanaman nilai keteladanan dalam

meningkatkan minat belajar siswa, guru harus lebih kreatif dalam menggunakan metode mengajar yang bervariasi dan diharapkan menjadi guru tauldan murid.

4. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini bisa dijadikan