• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebelum membahas mengenai pertanggungjawaban pidana terdakwa dalam korupsi pengadaan barang dan jasa di Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir T.A. 2012 atas nama dr. Haposan Siahaan, M.Kes, maka terlebih dahulu akan dikaji tentang pertanggungjawaban jabatan dan pertanggungjawaban pribadi pelaku oleh karena pertanggungjawaban pribadi akan melahirkan pertanggung jawaban pidana.

Diatas sudah dibahas bahwa yang menjadi parameter adanya pertanggung jawaban pribadi dalam korupsi pengadaan barang dan jasa adalah melakukan perbuatan melawan hukum (wederrechtelijk) dan menyalahgunakan wewenang (detournament de pouvoir). Sedangkan parameter untuk menilai adanya pertanggungjawaban jabatan Pengguna Anggaran (PA), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), atau Panitia Pengadaan adalah penggunaan wewenang. Keabsahan (legalitas) penggunaan wewenang pengadaan barang dan jasa bertumpu pada wewenang, prosedur, dan substansi tindakan pejabat.

Parameter penyalahgunaan wewenang terdapat dalam ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf d Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Juncto Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Juncto Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang meliputi:

a. Bertentangan dengan peraturan Perundang-Undangan

b. Bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik.

Yang dimaksud dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik sebagaimana dalam Penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Juncto Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Juncto Undang- Undang Nomor 51 Tahun 2009 adalah meliputi asas :

a. Kepastian hukum.

b. Tertib penyelenggaraan Negara. c. Keterbukaan.

d. Proporsionalitas. e. Profesionalitas. f. Akuntabilitas.

Bahwa sehubungan dengan fungsi dan kewajiban Terdakwa dalam jabatannya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir, dimana dalam hal pengadaan barang dan jasa Kepala Dinas berkedudukan sebagai Pengguna Anggaran (PA), dalam hal ini tidak ditemukan adanya fungsi dan kewajiban Terdakwa dalam mengumpulkan uang bagi para pihak yang ingin mendapatkan proyek pada Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir, maka oleh karena itu atas adanya perbuatan Terdakwa yang telah menerima uang/dana yang dikumpulkan oleh dr. Wesli Napitupulu sebagai fee proyek, dalam hal ini jelas-

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan telah melakukan penyalahgunaan wewenang (detournament depouvoir) oleh karena perbuatan Terdakwa dalam menerima suap berupa fee proyek sebesar Rp. 950.000.000,- (Sembilan Ratus Lima Puluh Juta Rupiah) bukan merupakan kewenangan Terdakwa baik yang diperoleh melalui atribusi (kewenangan yang di tetapkan oleh peraturan Perundang-Undangan bagi), delegasi (bersumber dari pelimpahan), ataupun mandat (bersumber dari penugasan).

Dalam pekerjaan/proyek pada Dinas Kesehatan Toba Samosir T.A 2012, dimana telah terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi dalam proses atau mekanisme pengadaan barang atau jasa pemerintah. Dalam kedudukannya sebagai Pengguna Anggaran (PA), perbuatan menerima uang suap dalam rangka penunjukan pemenang tender bukanlah tugas pokok dan kewenangan dari Terdakwa.

Dalam Pasal 8 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 disebutkan bahwa salah satu tugas pokok dan kewenangan Pengguna Anggaran (PA) adalah menetapkan pemenang pada Pelelangan atau penyedia pada Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dengan nilai diatas Rp. 100.000.000.000,00 (Seratus Miliar Rupiah) atau pemenang pada Seleksi atau penyedia pada Penunjukan Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Konsultasi dengan nilai diatas Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh Miliar Rupiah).

Memang salah satu tugas pokok Pengguna Anggaran (PA) adalah menunjuk pemenang penyedia barang/jasa pemerintah. Akan tetapi, dalam menetapkan pemenang penyedia barang/jasa tersebut, Terdakwa tidak mempunyai

fungsi dan kewajiban untuk mengumpulkan uang para calon pemenang penyedia barang/jasa sehingga perbuatan Terdakwa menerima uang suap Rp. 950.000.000,- (Sembilan ratus lima puluh juta rupiah) merupakan suatu bentuk penyalahgunaan wewenang oleh karena perbuatan Terdakwa telah bertentangan dengan Peraturan Pengadaan Barang dan Jasa sehingga perbuatan Terdakwa tersebut harus dipertanggung jawabkan secara pribadi.

Pertanggungjawaban pribadi akan melahirkan pertanggungjawaban pidana, dan parameter pertanggungjawaban pidana adalah asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld). Kesalahan adalah dasar untuk pertanggungjawaban pidana. Kesalahan merupakan keadaan jiwa dari sipembuat dan hubungan batin antara sipembuat dengan perbuatannya. Adanya kesalahan pada seseorang, maka orang tersebut bisa dicela. Mengenai keadaan jiwa dari seseorang yang melakukan perbuatan merupakan apa yang lazim disebut sebagai kemampuan bertanggungjawab, sedangkan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya itu merupakan kesengajaan, kealpaan, serta alasan pemaaf. Dengan demikian, untuk menentukan adanya kesalahan seseorang harus memenuhi beberapa unsur, antara lain :

1. Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat

2. Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa) ini disebut bentuk kesalahan; dan 3. Tidak adanya alasan penghapusan kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf.249

Untuk mengkaji pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana korupsi dalam kasus korupsi di Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir T.A. 2012 (Putusan No. 64/ Pid. Sus. K/ 2013/ PN. Mdn), maka akan dikaji dari setiap unsur pertanggungjawaban pidana, yaitu antara lain :

1) Adanya kemampuan bertanggungjawab.

Mengenai rumusan kemampuan bertanggungjawab KUHP tidak memberikan perumusan, dan hanya jika kita temui dalam Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) secara negatif menyebutkan mengenai pengertiann kemampuan bertanggung jawab itu, ada tidak adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat :

a) Dalam hal pembuat tidak diberi kemerdekaan memiliki antara berbuat atau tidak berbuat apa yang oleh Undang-Undang dilarang atau diperintahkan, dengan kata lain dalam hal perbuatan yang dipaksa.

b) Dalam hal pembuat ada dalam suatu keadaan tertentu sehingga ia tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum dan tidak mengerti akibat perbuatannya itu nafsu patologis (pathologische drift), gila, pikiran tersebut, dan sebagainya.250

Dalam KUHP, ketentuan yang menunjuk kearah kemampuan bertanggung jawab ialah dalam buku I Bab III Pasal 44, yang berbunyi:

(1)Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.

(2)Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena

penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.251

Berdasarkan rumusan Pasal 44 KUHP tersebut diatas terlihat jelas bahwa dalam KUHP hanya memberikan rumusan tentang kapan seseorang dianggap tidak mampu bertanggungjawab, dan bukannya kapan seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab.

Dalam kasus ini dapat diketahui bahwa terdakwa dr. Haposan Siahaan, M.Kes memiliki kemampuan bertanggungjawab karena jiwanya tidak cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. Selain itu, terdakwa juga mempunyai kemampuan untuk membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk serta mempunyai kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya suatu perbuatan. Hal ini dapat diketahui dari kedudukan terdakwa yaitu sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir. Oleh karena tidak mungkin orang yang jiwanya cacat atau orang yang tidak bisa membeda-bedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk diserahi tanggungjawab sebagai Kepala Dinas Kesehatan.

2) Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya (kesalahan) yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).

a) Kesengajaan (Dolus)

maksud (opzet als oogmerk), kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheidswustzijn), dan kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij noodzakelijkheids).

b) Kealpaan/Kelalaian (Culpa)

Beda kesengajaan dengan kealpaan ialah bahwa dalam kesengajaan ada sifat yang positif, yaitu adanya kehendak dan penyetujuan yang disadari daripada bagian-bagian delik yang meliputi oleh kesengajaan, sedang sifat positif ini tidak ada dalam kealpaan.252

Dikatakan culpa jika keadaan batin pelaku perbuatan pidana bersifat ceroboh, teledor, atau kurang hati-hati sehingga perbuatan dan akibat yang dilarang oleh hukum terjadi. Jadi dalam kealpaan ini, pada diri pelaku sama sekali memang tidak ada niat kesengajaan sedikit pun untuk melakukan suatu perbuatan pidana yang dilarang hukum. Meskipun demikian, ia tetap patut dipersalahkan atas terjadinya perbuatan dan akibat yang dilarang hukum itu karena sikapnya yang ceroboh tersebut. Hal ini dikarenakan nilai-nilai kepatutan yang ada dalam kehidupan masyarakat mengharuskan agar setiap orang memiliki sikap hati-hati dalam bertindak.253

Berbicara tentang kesalahan, dalam rumusan delik korupsi, dapat saja dalam suatu pasal hanya dirumuskan bentuk kesengajaan (dolus) atau hanya bentuk kealpaan (culpa), ataupun dapat saja dalam suatu pasal kedua bentuk kesalahan tersebut dirumuskan secara alternatif. Tetapi, ada kalanya dalam pasal

yang berisikan rumusan delik, bentuk kesalahan tidak dicantumkan secara eksplisit.

Dalam hal demikian, harus dimaknai bahwa bentuk kesalahan dalam delik tersebut adalah kesengajaan. Terkadang, kata “sengaja” dalam rumusan delik diganti dengan kata-kata “dengan maksud”, “dengan tujuan”, atau “diketahui”. Kata- kata tersebut masing-masing memiliki implikasi hukum yang berbeda dalam hal pembuktian. Jika dicantumkan kata “sengaja”, berarti pasal tersebut meliputi semua corak kesengajaan. Lain halnya jika pasal tersebut mencantumkan kata “diketahui”, maka corak kesengajaan yang ada dalam pasal tersebut mencakup kesengajaan sebagai maksud atau kesengajaan sebagai kepastian. Jika pembentuk Undang-Undang mencantumkan kata-kata “dengan maksud” atau “dengan tujuan”, maka yang harus dibuktikan hanyalah kesengajaan sebagai maksud dan menutup peluang adanya corak kesengajaan sebagai kepastian dan corak kesengajaan sebagai kemungkinan.254

Dalam konteks teoretik, kata-kata “diketahui atau patut diduga” mengandung bentuk kesalahan pro parte dolus pro parte culpa yang berarti sebagian untuk kesengajaan sebagian untuk kealpaan. Artinya, tindak pidana korupsi dalam pasal-pasal tersebut tidak hanya karena kesengajaan, tetapi juga dapat terjadi karena kealpaan.255

Berdasarkan bukti-bukti yang terungkap disidang pengadilan, dari antara ketiga dakwaan (alternatif) sebagaimana yang telah di dakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) yaitu Pasal 5 ayat (2), Pasal 11, Pasal 12 huruf a Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka yang terbukti adalah melanggar Pasal 5 ayat (2) Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 5 ayat (2) tersebut berbunyi :

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).”

Adanya frase “dengan maksud” dalam rumusan Pasal 5 ayat (2) tersebut diatas menandakan bahwa bentuk kesalahan dalam rumusan pasal tersebut adalah kesalahan dalam bentuk kesengajaan, yaitu kesengajaan sebagai maksud. Diatas telah dijelaskan bahwa apabila terdapat frase “dengan maksud” atau “dengan tujuan” dalam suatu rumusan delik, maka yang harus dibuktikan adalah kesengajaan sebagai maksud dan menutup peluang adanya corak kesengajaan sebagai kepastian atau kesengajaan sebagai kemungkinan.

Bahwa perbuatan menerima uang suap oleh terdakwa dr. Haposan Siahaan, M.Kes senilai Rp. 950.000.000,- (Sembilan ratus lima puluh juta rupiah) dari para pemberi suap yang diberikan melalui perantaraan dr. Wesli Napitupulu,

jabatannya selaku kepala Dinas Kesehatan Toba Samosir (sebagai Pengguna Anggaran) pada saat itu akan memberikan proyek pekerjaan yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir T.A. 2012 kepada para pihak yang telah mengumpulkan uangnya kepada dr. Wesli Napitupulu yang telah dibuktikan berdasarkan alat bukti surat, keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa, serta petunjuk sebagaimana tersebut diatas.

3) Tidak adanya alasan pemaaf

Dalam hukum pidana yang termasuk ke dalam alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf antara lain daya paksa atau over macht (Pasal 48 KUHP), pembelaan terpaksa yang melampaui batas atau noodweer ekses (Pasal 49 ayat (2) KUHP), dan pelaksanaan perintah jabatan tanpa wewenang yang didasari oleh itikad baik (Pasal 51 ayat (2) KUHP).

Menurut R. Soesilo, kata “terpaksa” dalam Pasal 48 KUHP harus diartikan baik paksaan lahir, maupun bathin, rohani, maupun jasmani. “Kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan” ialah suatu kekuasaan yang berlebih, kekuasaan yang pada umumnya dianggap tidak dapat dilawan, suatu over macht. Mr. J.E. Jonkers membedakan kekuasaan ini atas 3 (tiga) macam yaitu sebagai berikut :

1. Yang bersifat absolut, dalam hal ini orang itu tidak dapat berbuat lain.

2. Yang bersifat relatif, disini kekuasaan atau kekuatan yang memaksa orang itu tidak mutlak, tidak penuh. Orang yang dipaksa itu masih ada kesempatan untuk memilih akan berbuat yang mana.

yang memilih peristiwa pidana manakah yang ia lakukan itu, sedang pada kekuasaan yang bersifat relatif orang itu tidak memilih, dalam hal ini yang mengambil inisiatif ialah orang yang memaksa.256

Mengenai ketentuan Pasal 49 ayat (2) KUHP, disini harus ada serangan yang sekonyong-konyong dilakukan atau mengancam pada ketika itu juga. Disini batas-batas keperluan pembelaan itu dilampaui. Pelampauan batas oleh Undang- Undang diperkenankan, asal saja disebabkan karena perasaan tergoncang hebat yang timbul lantaran serangan itu.257

Dari ketiga pasal dalam KUHP tentang alasan pemaaf, tidak ada satupun yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk menghapuskan kesalahan Terdakwa, oleh karena perbuatan Terdakwa menerima uang dari dr. Wesli Napitupulu berupa fee proyek yang besarnya Rp. 950.000.000,- (Sembilan ratus lima puluh juta rupiah) bukan merupakan suatu paksaan baik paksaan lahir ataupun bathin, jasmani ataupun rohani, dan seharusnya Terdakwa masih bisa berbuat lain, yaitu tidak menerima pemberian uang suap tersebut. Tidak pula ada serangan yang Ketiga, mengenai rumusan Pasal 51 ayat (2) KUHP, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi agar perbuatan orang itu dikategorikan sebagai alasan pemaaf. Pertama, keadaan batin orang yang diperintah harus mengira bahwa perintah tersebut merupakan perintah yang sah baik dilihat dari pejabat yang mengeluarkan perintah itu maupun dilihat dari macamnya perintah itu. Kedua, perintah yang dilaksanakan itu berdasarkan itikad baiknya harus merupakan bagian dari lingkungan pekerjaannya.

256

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya

sekonyong-konyong yang dilakukan oleh orang lain kepada Terdakwa yang mengancam terdakwa supaya terdakwa melakukan perbuatan suap tersebut. Perbuatan terdakwa juga bukan merupakan sebuah perintah dalam jabatan terdakwa sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Pengguna Anggaran) oleh karena dalam pengadaan barang/jasa pemerintah telah terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh terdakwa. Maka dengan demikian tidak ada satupun alasan yang dapat dijadikan untuk menghapus kesalahan Terdakwa.

Dengan telah dipenuhinya semua unsur-unsur pertanggungjawaban pidana, maka terdakwa dr. Haposan Siahaan, M.Kes dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Oleh karena perbuatan terdakwa telah memenuhi rumusan Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Terdakwa juga dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya, maka pemidanaan terhadap terdakwa adalah pantas dan wajar. Adapun Bentuk pertanggungjawaban pidana yang dijatuhi terhadap pelaku adalah berupa pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) subsider 4 (empat) bulan kurungan.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut :

8. Dasar hukum pengadaan barang dan jasa pemerintah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2010 Jo. Perpres Nomor 35 Tahun 2011 Jo. Perpres Nomor 70 Tahun 2012 Jo. Perpres Nomor 172 Tahun 2014 Jo. Perpres Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, tindak pidana korupsi dapat terjadi mulai dari tahap persiapan pengadaan sampai dengan tahap pelaksanaan kontrak pengadaan barang dan jasa. Bentuk-bentuk penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa yang dapat berakibat pada terjadinya tindak pidana korupsi adalah antara lain tender fiktif, lelang secara tertutup, suap- menyuap antara rekanan (penyedia barang dan jasa) dengan pengelola kegiatan pengadaan barang dan jasa, menggabungkan atau memecah paket pekerjaan, pemalsuan dokumen, serta mengurangi kualitas dan/atau kuantitas barang dan jasa.

9. Dalam menentukan pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang/jasa, terlebih dahulu dikaji apakah perbuatan pelaku masuk dalam kesalahan jabatan ataukah termasuk kesalahan pribadi. Kesalahan jabatan akan menjadi pertanggungjawaban jabatan sedangkan kesalahan pribadi akan menjadi pertanggungjawaban pribadi. Parameter

adanya pertanggung jawaban pribadi adalah melakukan perbuatan melawan hukum (wederrechtelijk) dan melakukan penyalahgunaan wewenang (detournament de pouvoir). Sedangkan parameter pertanggung jawaban pidana adalah asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld) yang terdiri dari beberapa unsur, yaitu adanya kemampuan bertanggungjawab pada sipembuat, kesalahan berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa), serta tidak adanya alasan pemaaf.

10. Dalam kasus korupsi pengadaan barang dan jasa di Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir T.A. 2012 (Putusan PN Medan Nomor 64/ Pid. Sus. K/ 2013/ PN. Mdn), terdakwa telah telah dapat dimintai pertanggungjawaban pidananya, oleh karena terdakwa telah memenuhi unsur-unsur pertanggungjawaban pidana, yaitu adanya kemampuan bertanggungjawab, adanya suatu kesalahan yang berbentuk kesengajaan sebagai maksud, serta tidak adanya alasan pemaaf. Bentuk pertanggungjawaban pidana yang dijatuhi terhadap pelaku adalah berupa pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) subsider 4 (empat) bulan kurungan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis menyampaikan saran yang mungkin dapat berguna pada masa yang akan datang, yaitu :

korupsi, mengingat setiap tahunnya setiap Kementerian/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah/ Instansi Lainnya (K/L/D/I) selalu mengeluarkan anggaran untuk pengadaan barang/jasa di instansi masing-masing. Selain itu, juga diperlukan penyempurnaan terhadap peraturan yang terkait dengan pengadaan barang/jasa supaya lebih dapat meminimalisir peluang terjadinya tindak pidana korupsi.

2. Berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban pidana, memang dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi telah mengakui bahwa subjek hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana adalah setiap orang yaitu “orang-perorangan” dan “korporasi”. Akan tetapi dalam penjatuhan pidana, masih terlihat kekurang seriusan penegak hukum khususnya hakim dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi, hal ini terlihat dari rendahnya pidana yang dijatuhkan terhadap para Terdakwa. Oleh sebab itu, untuk masa yang akan datang, penjatuhan pidana terhadap para pelaku korupsi dalam pengadaan barang/jasa ini kiranya dapat lebih diperberat supaya dapat menimbulkan efek jera.

BAB II

PENGATURAN HUKUM TENTANG PENGADAAN BARANG DAN JASA