• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN HUKUM TENTANG PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINDAK PIDANA

F. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Pidana, Tindak Pidana, dan Pemidanaan a Pengertian Pidana

Salah satu yang membedakan hukum pidana dengan cabang ilmu hukum yang lainnya adalah disamping mengatur tentang apa-apa saja yang menjadi keharusan-keharusan dan larangan-larangan, hukum pidana juga disertai dengan

sanksi yaitu berupa penjatuhan pidana terhadap siapa saja yang melanggar keharusan-keharusan dan larangan tersebut.

Pidana merupakan karakteristik hukum pidana yang membedakannya dengan hukum perdata. Dalam gugatan perdata pada umumnya, pertanyaan timbul mengenai berapa besar jika ada, tergugat telah merugikan penggugat dan kemudian pemulihan apa jika ada yang sepadan untuk mengganti kerugian penggugat. Dalam perkara pidana, sebaliknya, seberapa jauh terdakwa telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada terdakwa karena telah melanggar hukum (pidana).14

Sudarto sebagaimana dalam buku Mahrus Ali, memberikan pengertian pidana sebagai penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.15 Sedangkan menurut Roeslan Saleh pidana adalah reaksi atas delik yang banyak berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik.16

Jan Remmelink dalam Mohammad Ekaputra17

14

Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana (Edisi Revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), mengemukakan bahwa pidana merupakan suatu pembalasan berupa penderitaan yang dijatuhkan penguasa terhadap seseorang tertentu yang dianggap bertindak secara salah melanggar aturan perilaku, yang pelanggaran terhadapnya diancamkan dengan pidana. Sanksi pidana tersebut dimaksudkan sebagai upaya menjaga ketentraman (keamanan) dan pengaturan (kontrol) lebih baik dari masyarakat.

Adapun unsur-unsur dan ciri-ciri pidana pada pokoknya adalah sebagai berikut18

1) Pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan.

:

2) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang).

3) Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut Undang-Undang.

4) Pidana itu merupakan pernyataan pencelaan oleh Negara atas diri seseorang karena telah melanggar hukum.

Dalam Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), diatur jenis-jenis pidana yang meliputi :

1. Pidana Pokok : a. Pidana Mati b. Pidana Penjara c. Pidana Kurungan d. Pidana Denda e. Pidana Tutupan 2. Pidana Tambahan :

a. Pencabutan Hak-Hak Tertentu b. Perampasan Barang-Barang tertentu c. Pengumuman Putusan Hakim b. Pengertian Tindak Pidana

Sebagaimana diketahui bahwa istilah “tindak pidana” atau “peristiwa pidana” adalah terjemahan dari istilah bahasa Belanda “Strafbaar feit” atau “delict”. Pembentuk Undang-Undang kita telah menggunakan perkataan “strafbaar feit” untuk menyebutkan apa yang kita kenal sebagai “tindak pidana”

didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tanpa memberikan sesuatu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan perkataan “strafbaar feit” tersebut.19 Perkataan “feit” itu sendiri didalam bahasa Belanda berarti “sebagian dari suatu kenyataan” atau “een gedeelte van de werkelijkheid”, sedangkan “strafbaar” berarti “dapat dihukum”, hingga secara harfiah perkataan “strafbaar feit” itu dapat diterjemahkan sebagai “sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum”, yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak akan kita ketahui bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan ataupun tindakan.20

Menurut Vos, peristiwa pidana adalah suatu peristiwa yang dinyatakan dapat dipidana oleh Undang-Undang (Een strafbaar feit is een door de wet strafbaar gesteld feit).

Pengertian tindak pidana penting dipahami untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur tindak pidana ini dapat menjadi patokan dalam upaya menentukan apakah perbuatan seseorang itu merupakan tindak pidana atau tidak.

21

Sementara itu Moeljatno memberikan pengertian tentang perbuatan pidana sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar

larangan tersebut.22 Ketika dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melakukannya, maka unsur-unsur perbuatan pidana meliputi beberapa hal. Pertama, perbuatan itu berwujud suatu kelakuan, baik aktif maupun pasif yang berakibat pada timbulnya suatu hal atau keadaan yang dilarang oleh hukum. Kedua, kelakuan dan akibat yang timbul tersebut harus bersifat melawan hukum baik dalam pengertiannya yang formil maupun materiil. Ketiga, adanya hal-hal atau keadaan tertentu yang menyertai terjadinya kelakuan dan akibat yang dilarang oleh hukum.23

Setiap tindak pidana yang terdapat didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pada umumnya dapat kita jabarkan kedalam unsur-unsur yang pada dasarnya dapat kita bagi menjadi menjadi dua macam unsur, yaitu24

1. Unsur Subjektif

:

Yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri sipelaku atau yang berhubungan dengan diri sipelaku, dan termasuk kedalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur-unsur subjektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :

1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa)

2. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud dalam pasal 53 ayat (1) KUHP.

3. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat dalam pasal-pasal pencurian, penipuan, dan lan-lain.

22 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana (Edisi Revisi, Cetakan Kesembilan), (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 59.

4. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang misalnya terdapat dalam kejahatan pembunuhan menurut pasal 340 KUHP.

5. Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut pasal 308 KUHP.

2. Unsur Objektif

Yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu didalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari sipelaku itu harus dilakukan.

Unsur-unsur objektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah : 1. Sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid.

2. Kualitas dari sipelaku, misalnya “keadaan sebagai seorang pegawai negeri” di dalam kejahatan jabatan menurut pasal 415 KUHP.

3. Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.

c. Pengertian Pemidanaan.

Sebagaimana terjadi di antara ahli filsafat, di antara ahli hukum pidana pun diskusi mengenai pemidanaan masih terus berlangsung. Disadari bahwa terdapat gap antara apa yang disebut pemidanaan dan apa yang digunakan sekarang sebagai metode untuk melaksanakan kepatuhan.25

Sebagian berpandangan, pemidanaan adalah sebuah persoalan yang murni hukum (purely legal matter). J.D. Mabbott, dalam Teguh Prasetyo dan Abdul

Halim Barkatullah26

Jerome Hall berusaha untuk memberi batasan konseptual tentang pemidanaan yang dianggap sebagai kemajuan besar yang telah dicapai. Hall membuat deskripsi yang terperinci mengenai pemidanaan sebagai berikut

, misalnya memandang seorang ”penjahat” sebagai seorang yang telah melanggar hukum, bukan orang jahat. Sebagai seorang retributivis, Mabbott memandang, pemidanaan merupakan akibat wajar yang disebabkan bukan dari hukum, tetapi dari pelanggaran hukum. Artinya, jahat atau tidak jahat, bila seseorang telah bersalah melanggar hukum maka orang itu harus dipidana.

27

Menurut Ted Honderich sebagaimana dalam buku Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, pemidanaan harus memuat 3 unsur berikut

:

Pertama, pemidanaan adalah kehilangan hal-hal yang diperlukan dalam hidup.

Kedua, ia memaksa dengan kekerasan.

Ketiga, ia diberikan atas nama negara, ia “diotorisasikan”.

Keempat, pemidanaan mensyaratkan adanya peraturan-peraturan, pelanggarannya, dan penentuannya, yang diekspresikan dalam putusan.

Kelima, ia diberikan kepada pelanggar yang telah melakukan kejahatan, dan ini mensyaratkan adanya sekumpulan nilai-nilai yang dengan beracuan kepadanya, kejahatan dan pemidanaan itu signifikan dalam etika.

Keenam, tingkat atau jenis pemidanaan berhubungan dengan perbuatan kejahatan, dan diperberat atau diringankan dengan melihat personalitas (kepribadian) si pelanggar, motif, dan dorongannya.

28

26 Ibid.

Pertama, pemidanaan harus mengandung semacam kehilangan (deprivation) atau kesengsaraan (distress) yang biasanya secara wajar dirumuskan sebagai sasaran dari tindakan pemidanaan. Unsur pertama pada dasarnya merupakan kerugian atau kejahatan yang diderita oleh subjek yang menjadi korban sebagai akibat dari tindakan sadar subjek lain. Secara aktual, tindakan subjek lain dianggap salah bukan saja karena mengakibatkan penderitaan bagi orang lain, tetapi juga karena melawan hukum yang berlaku secara sah.

Kedua, setiap pemidanaan harus datang dari institusi yang berwenang secara hukum. Jadi, pemidanaan tidak merupakan konsekuensi alamiah suatu tindakan, melainkan sebagai hasil keputusan pelaku-pelaku personal suatu lembaga yang berkuasa. Karenanya, pemidanaan bukan merupakan tindakan balas dendam dari korban terhadap pelanggar hukum yang mengakibatkan penderitaan.

Ketiga, penguasa yang berwenang berhak untuk menjatuhkan pemidanaan hanya pada subjek yang telah terbukti secara sengaja melanggar hukum atau peraturan yang berlaku dalam masyarakatnya.