BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis dan Pembahasan
4.2.2. Analisis Tipologi Klassen
Analisis Tipologi Klassen pendekatan regional digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah.
Tipologi Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan PDRB perkapita daerah. Melalui analisis ini diperoleh empat karakteristik pola dan struktur pertumbuhan ekonomi yang berbeda, yaitu; daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income) berada pada kuadran 1, daerah maju tapi tertekan (high income but low growth) berada pada kuadran II, daerah berkembang cepat (high growth but low income) berada pada kuadran III, dan daerah relatif tertinggal, pada kuadran IV.
Hasil perhitungan dan Analisis Tipologi Klassen masing-masing Kabupaten di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11. Hasil Analisis Tipologi Klassen Menurut Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara tahun 2003-2013.
NO KABUPATEN /
Kondisi letak Kuadran masing-masing Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara berdasarkan perhitungan hasil Analisis Tipologi Klassen 2003-2013 dapat digambarkan dengan matriks berikut ini. Kondisi ini disebut kondisi statis. Berikut disajikan matriks perhitungan Analisis Tipologi Klassen wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003-2013.
Gambar 4.4. Matriks Tipologi Klassen Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003-2013.
Dari tabel dan matriks di atas terdapat satu wilayah berada dikuadran satu, empat wilayah berada di kuadran dua, tiga wilayah berada di kaudran tiga dan empat wilayah berada dikuadran empat dengan uraian bahwa Kota Medan yang menjadi satu-satunya Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara yang termasuk daerah cepat maju dan cepat tumbuh. Kota Medan tersebut memiliki PDRB perkapita dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sepanjang periode penelitian yaitu 2003-2013 dibandingkan dengan rata-rata di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini mendorong pemerintah Provinsi untuk dapat memacu Kota Medan agar dapat mempertahankan atau justru mengembangkan potensi Kota Medan dalam rangka terus menaikkan pendapatan perkapita dan pertumbuhan ekonomi sehingga diharapkan Kota Medan mampu menjadi daerah yang bisa berkontribusi
kepada daerah-daerah yang masih tertinggal yang dalam hal ini daerah yang pendapatan perkapitanya dan pertumbuhan ekonominya masih rendah.
Daerah maju tapi tertekan (kuadran II) terdapat pada Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Binjai. Beberapa wilayah (kabupaten/kota) ini memiliki rata-rata PDRB perkapita lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata PDRB perkapita Provinsi Sumatera Utara, tetapi untuk laju pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tersebut memiliki laju pertumbuhan lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan Provinsi Sumatera Utara.
Hal ini berarti secara keseluruhan pembangunan ekonomi baik tetapi tidak merata pada masing perekonomian masyarakat di wilayah tersebut maka untuk menghindari hal tersebut sebaiknya adanya peningkatan lapangan pekerjaan di wilayah yang masyarakat daerah terpencil bisa tumbuh dengan adanya sarana prasarana yang membaik.
Wilayah atau daerah sedang tumbuh (III) berada pada beberapa daerah Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara yaitu:
Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhan Batu Utara, dan Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Wilayah-wilayah tersebut memiliki rata-rata PDRB perkapita lebih tinggi dibandingkan rata-rata di Provinsi Sumatera Utara, namun memiliki laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dibandingkan rata-rata di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini perlu pengembangan potensi wilayah yang ada pada daerah tersebut agar perekonomian atau laju pertumbuhan ekonominya bisa meningkat.
Wilayah pada Kuadran ke IV adalah wilayah atau daerah relatif tertinggal, hal ini menunjukkan bahwa wilayah yang termasuk di dalam kuadran ke empat ini memang perlu perhatian lebih dari Provinsi Sumatera Utara serta sumbangan kontribusi dari pemerintah pusat maupun daerah atau justru dari wilayah yang lebih maju serta lebih baik pendapatan perkapitanya maupun laju pertumbuhan ekonominya dari pada wilayah ini. Anggota Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita lebih rendah dari pada rata-rata Provinsi Sumatera Utara adalah Kabupaten Langkat, Kabupaten Labuhan Batu, Kota Tebing Tinggi dan Kota Tanjung Balai.
Menurut Sirojuzilam (2015), analisis dari Klassen dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu: analisis yang bersifat statis dan analisis yang bersifat dinamis. Dengan kata lain analisis statis hanya melihat klasifikasi daerah berdasarkan pada periode atau tahun tertentu, sedangkan analisis dinamis lebih melihat perkembangan daerah dengan mengamatinya dari 2 (dua) momentum yaitu momemtum awal dan momentum akhir. Dengan mengetahui kedua momentum tersebut, kemudian dapatlah dilihat arah perkembangan dari masing-masing daerah sekaligus melihat posisi awal dan posisi akhir dari daerah-daerah.
Berikut perkembangan daerah wilayah Pantai Timur dilihat dari 2 momemtum awal (2003-2008) dan akhir (2009-2013), dimana sebelummnya kita sudah mengetahui kondisi wilayah pada tahun 2003-2013 berdasarkan Tipologi Klassen.
Tabel 4.12. Hasil Analisis Tipologi Klassen Menurut Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara tahun 2003-2009
NO
Sumatera Utara 5,80 7.476.148 Sumber : diolah
Kondisi letak kuadran masing-masing Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara berdasarkan Analisis Tipologi Klassen 2003-2009 (pada momentum awal) dapat digambarkan dengan matriks berikut ini.
Gambar 4.6. Matriks Tipologi Klassen Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003-2009
Berdasarkan tabel dan matriks diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa wilayah kabupaten/kota yang jika dilihat pada momentum awal ini kondisi wilayahnya tidak sama dengan jika dilihat secara keseluruhan pada periode tahun tertentu yang ditentukan dalam hal ini tahun 2003-2013, diantaranya yaitu Deli Serdang pada tahun periode 2003-2013 berada pada posisi kuadran ke II( wilayah maju tertekan) sedangkan pada waktu momentum awal ia berada pada posisi kuadran ke IV. Kabupaten Labuhan Batu dan Kota Tanjung
Balai, sebelum pemekaran, posisi wilayah berada pada kuadran ke III, namun pada keseluruhan posisi berada pada kuadran ke IV(wilayah tertinggal). Untuk wilayah lain seperti Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, Batu Bara, Tebing Tinggi, Medan,dan Binjai, posisi kuadran tetap sama pada kondisi apapun.
Tabel 4.13. Hasil Analisis Tipologi Klassen Menurut Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara tahun 2008-2013
NO
Kondisi letak kuadran masing-masing Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara berdasarkan Analisis Tipologi Klassen 2008-2013 (pada momentum akhir) dapat digambarkan dengan matriks berikut ini.
Gambar 4.7. matriks Tipologi Klassen Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2008 – 2013
Pada momentum akhir tahun 2009-2013 juga terjadi banyak perubahan posisi pada wilayah-wilayah tertentu. Langkat, ketika dilihat melalui analisis statis dengan Klassen, posisi wilayah berada pada kuadran ke IV (wiilayah tertinggal).
Begitu juga jika dilihat melalui analisis dinamis, pada momentum awal dan akhir kondisi wilayah tetap berada pada kuadran ke IV (wilayah tertinggal). Sama halnya dengan batu bara dilihat melalui analisis apapun tetap berada pada kuadran ke III (wilayah sedang berkembang). Begitu juga Binjai, tetap berada pada kuadran ke II (wilayah maju tetapi tertekan) dan Medan yang tetap berada pada kuadran I (wilayah cepat maju dan cepat tumbuh). Berbeda dengan wilayah lain yang berubah perkembangan wilayahnya dilihat dari analisis statis maupun dinamis, contohnya Deli Serdang pada momentum awal 2009-2013 berada pada
kseluruhan berada pada kuadran ke II, artinya ada peningkatan mutu kualitas wilayah. Sedangkan Serdang Bedagai justru mengalami penurunan kualitas wilayah karena di awal berada pada kuadran ke II, namun ahir kuadran ke IV.
Begitu juga wilayah lainnya mengalami perubahan seperti Asahan, Tebing Tinggi, dan Tanjung Balai.
4.2.3. Gabungan Analisis Indeks Williamson dan Analisis Tipologi Klassen