• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tipologi – Klassen

BAB III.METODE PENELITIAN

3.3. Metode Analisis Data

3.3.2. Analisis Tipologi – Klassen

Alat analisis Klassen Typology (Tipologi Klassen) digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah. Tipologi Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah. Melalui analisis ini diperoleh empat karakteristik pola dan struktur pertumbuhan ekonomi yang berbeda, yaitu: daerah cepat-maju dan cepat-tumbuh (high growth ang high income), daerah maju tetapi tertekan (high income but low growth), daerah berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah relatif tertinggal (low growth and low income) (Kuncoro, 2006). Kriteria yang digunakan untuk membagi Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara dalam penelitian kali ini adalah sebagai berikut :

1. Kabupaten/Kota cepat-maju dan cepat-tumbuh, Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibanding Provinsi Sumatera Utara.

2. Kabupaten/Kota yang maju tetapi tertekan, Kabupaten/Kota yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Sumatera Utara .

3. Kabupaten/Kota yang berkembang cepat, Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan perkapita lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Sumatera Utara

4. Kabupaten/Kota relatif tertinggal adalah Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapat per kapita yang lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Sumatera Utara. Dikatakan “tinggi” apabila indikator di suatu Kabupaten/Kota lebih tinggi di bandingkan rata-rata Provinsi Sumatera Utara dan di golongkan “rendah” apabila indikator di suatu Kabupaten/Kota lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 3.1. Klasifikasi Wilayah Menurut Tipologi Klassen

Yi > y Yi < y

ri= Laju Pertumbuhan ekonomi PDRB Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara

Pendapatan perkapita (y) Pertumbuhan

ekonomi (r)

yi= PDRB per kapita Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur provinsi Sumatera Utara

r = Laju Pertumbuhan PDRB di Provinsi Sumatera Utara y = PDRB per kapita Provinsi Sumatera Utara

3.4.Definisi Variable Operasional Penelitian

Definisi Operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Ketimpangan pembangunan ekonomi adalah kondisi dimana pembanguann ekonomi diukur dengan menggunakan rumus Indeks Williamson, dimana pendapatan diukur dengan menggunakan PDRB perkapita atas dasar harga konstan tahun 2000 untuk setiap Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2013.

Sedangkan indeks pembangunan ekonomi ditujukan oleh angka 0 sampai angka 1 atau 0 < IW <1.

2. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar penghitungannya.

3. PDRB Perkapita adalah rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah.

4. Laju Pertumbuhan Ekonomi yaitu ukuran kuantitatif yang menggambarkan suatu perekonomian dalam tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

5. Pengembangan wilayah adalah terjadinya peningkatan nilai manfaat bagi masyarakat suatu wilayah tertentu, mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata membaik, disamping menunjukkan lebih banyak sarana-prasarana, barang dan jasa yang tersedia dan kegiatan usaha-usaha masyarakat.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara

4.1.1. Sejarah Provinsi Sumatera Utara

Di zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement Van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera, dikepalai oleh seorang Gouverneur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah daerah administratif yang dinamakan Keresidenan. Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintahan yaitu Provinsi Sumatera yang dikepalai oleh seorang Gubernur dan terdiri dari daerah-daerah Administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen. Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah, dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-undang No. 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu :

1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.

2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi

3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung.

Dengan mendasarkan kepada Undang-undang No. 10 Tahun 1948, atas usul Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16 Pebruari 1973 No. 4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya tanggal 13 Agustus 1973 No. 19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi Sumatera Daerah Tingkat I Sumatera Utara adalah tanggal 15 April 1948 yaitu tanggal ditetapkannya U.U No. 10 Tahun 1948 tersebut. Pada awal tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda, diadakanlah reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Pada waktu itu, keadaan memerlukan suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu perlu dipusatkan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk sipil dan militer berada dibawah kekuasaan satu pemerintah. Perubahan demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 16 Mei 1949 No. 21/Pem/P.D.R.I., yang diikuti Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 17 Mei 1949 No. 22/Pem/P.D.R.I. jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi komisaris dengan tugas-tugas memberi pengawasan dan tuntutan terhadap pemerintahan, baik sipil maupun militer. Selanjutnya dengan instruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri tanggal 15 September 1949, Sumatera Utara dibagi

menjadi dua Daerah Militer Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Tgk. M. Daud Beureuen dan Tapanuli/Sumatera Timur Selatan oleh Gubernur Militer Dr. F.L.Tobing. Selanjutnya, dengan ketetapan Pemerintah Darurat R.I dalam bentuk Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Desember 1949 No.8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Penggati Undang-undang No.5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Agustus 1949 No.8/Des/W.K.P.M tahun 1949 tersebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang meliputi daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya dengan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, pada waktu RIS, ditetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas beberapa daerah-daerah Provinsi, yaitu :

1.Jawa Barat 2.Jawa Tengah 3.Jawa Timur 4.Sumatera Utara 5.Sumatera Tengah 6.Sumatera Selatan 7.Kalimantan 8.Sulawesi 9.Maluku

10.Sunda Kecil

Pada tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-undang No. 24 Tahun 1956 yaitu Undang-undang tentang pembentukan daerah otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Pasal 1 Undang-undang No. 24 Tahun 1956 ini menyebutkan :

1. Daerah Aceh yang meliputi Kabupaten-kabupaten : Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Selatan, Kota Besar Kutaraja, daerah-daerah tersebut dipisahkan dari lingkungan Daerah Otonom Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang No. 5 Tahun 1950 sehingga daerah-daerah tersebut menjadi daerah-daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan nama Provinsi Aceh.

2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai daerah otonom Provinsi Aceh, tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan Undang-undang Darurat No. 7 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No. 8 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No.9 Tahun 1956, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.4 Tahun 1964, Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 17 kabupaten/Kota. Tetapi dengan terbitnya Undang-Undang No. 12 Tahun 1998, tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Undang-Undang No. 4 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Padangsidimpuan, Undang-undang No. 9 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Pakpak

Bharat, serta Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Serdang Bedagai, dan pada tahun 2007 dibentuk Kabupaten Batu Bara melalui Undang-undang No. 5 Tahun 2007, kemudian pada tanggal 10 Agustus 2007 disahkan Undang-undang No. 37 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Padang Lawas Utara, Undang-undang No. 38 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Padang Lawas. Pada tahun 2008 kembali diterbitkan Undang-undang No. 22 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Undang-undang No. 23 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara, Undang-undang No. 45 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Nias Utara, Undang-undang No. 46 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Nias Barat dan Undang-undang No. 47 Tahun 2008 tentang pembentukan Kota Gunungsitoli, dengan demikian wilayah Provinsi Sumatera Utara pada Juli 2009 sudah menjadi 25 Kabupaten dan 8 Kota.

Adapun kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

a. Wilayah Kabupaten: Nias, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Labuhan batu, Asahan, Simalungun, Dairi, Karo, Deli Serdang, Langkat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan,Pakpak Bharat, Samosir, Serdang Bedagai, Batu Bara, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Nias Utara, Nias Barat.

b. Wilayah Kota : Sibolga, Tanjungbalai, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Medan, Binjai, Padangsidempuan, Gunungsitoli.

4.1.2. Lokasi dan Keadaan Geografis

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada garis 10 - 40 Lintang Utara dan 980 -1000 Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Aceh, sebelah Timur dengan Negara Malaysia di Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Luas daratan Provinsi.

Sumatera Utara adalah 71.680,68 km2, sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias, Pulau-pulau Batu, serta beberapa pulau kecil, baik di bagian barat maupun bagian timur pantai Pulau Sumatera. Berdasarkan luas daerah menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, luas daerah terbesar adalah Kabupaten Mandailing Natal dengan luas 6.620,70 km2 atau sekitar 9,24 persen dari total luas Sumatera Utara, diikuti Kabupaten Langkat dengan luas 6.263,29 km2 atau 8,74 persen, kemudian Kabupaten Simalungun dengan luas 4.386,60 km2 atau sekitar 6,09 persen. Sedangkan luas daerah terkecil adalah Kota Sibolga dengan luas 10,77 km2 atau sekitar 0,02 persen dari total luas wilayah Sumatera Utara. Berdasarkan kondisi letak dan kondisi alam, Sumatera Utara dibagi dalam 3 kelompok wilayah/kawasan yaitu Pantai Barat, Dataran Tinggi, dan Pantai Timur. Kawasan Pantai Barat meliputi Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kota Sibolga dan Kota Gunung Sitoli. Kawasan dataran tinggi meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir,

Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Samosir, dan Kota Pematang Siantar. Kawasan Pantai Timur meliputi Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, Kota Medan, dan Kota Binjai. Lebih jelasnya digambarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1. Pembagian Wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Wilayah Pantai Barat Wilayah Pantai Timur Wilayah pegunungan/

Dataran tinggi

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara 4.1.3. Iklim

Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara tergolong dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 34,20C, sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada daerah ketinggian yang suhu minimalnya bisa mencapai 20,00 C.

Sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Juni sampai dengan September dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Maret, diantara kedua musim itu diselingi oleh musim pancaroba.

4.1.4. Pertumbuhan Penduduk

Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat yang terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.(BPS Propinsi Sumatera Utara).

Tabel 4.2. Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003 – 2013.

NO

KABUPATEN /

KOTA JUMLAH PENDUDUK (JIWA)

WILAYAH

PANTAI TIMUR 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Langkat 936.925 940.601 955.348 970.433 1.013.849 1.027.414 1.042.523 1.057.768 967.535 976.582 976.885 2 Deli Serdang 2.041.121 2.054.707 1.523.881 1.569.638 1.634.115 1.686.366 1.738.431 1.788.351 1.790.431 1.807.173 1.845.615 3 Serdang Bedagai 583.071 588.176 605.630 618.656 630.728 642.983 594.383 599.941 604.026 4 Asahan 987.244 990.230 1.009.856 1.024.369 1.038.554 676.605 688.529 700.606 668.272 674.521 677.876

5 Batu Bara 373.836 382.474 389.510 375.885 379.400 381.023

6 Labuhan Batu 905.258 910.502 933.866 951.773 987.157 1.007.185 1.027.964 417.584 415.110 418.992 424.644

7 Labuhan Batu Utara 351.620 330.701 333.793 335.459

8 Labuhan Batu

Selatan 280.562 277.673 280.269 284.809

9 Binjai 224.244 225.535 232.236 237.904 244.256 248.256 252.652 252.652 246.154 248.456 250.252 10 Medan 1.972.248 1.979.340 2.010.676 2.036.185 2.067.288 2.083.156 2.102.105 2.102.105 2.097.610 2.117.224 2.122.804 11 Tebing Tinggi 132.306 132.760 134.382 135.671 137.959 139.409 141.059 141.059 145.248 146.606 147.771 12 Tanjung Balai 143.836 144.979 149.238 152.814 156.475 159.932 163.679 163.679 154.445 155.889 157.175

JUMLAH 7.343.182 7.378.654 7.532.554 7.666.963 7.885.283 8.020.815 8.170.144 8.288.479 8.063.447 8.138.846 8.208.339

Sumber : BPS Sumatera Utara 2003-2014

Laju pertumbuhan penduduk dari 12 kabupaten/kota yang termasuk wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2003 sampai dengan 2013 akan dijelaskan pada grafik berikut ini.

Gambar 4.1. Laju Pertumbuhan Penduduk 2003-2013

Berdasarkan tabel dan grafik diatas, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk Wilayah Pantai Timur dari tahun ke tahun secara garis besar meningkat, artinya jumlah angka kelahiran lebih banyak dari pada angka kematian sehingga memyebabkan laju pertumbuhan penduduk meningkat, walaupun pada tahun 2011 sedikit menurun jumlah seluruh penduduk Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan jumlah penduduk pada tahun 2013 masing-masing Kabupaten/Kota adalah dapat diuraikan sebagai berikut. Pada tabel berikut terlihat bahwa jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara sebesar 13.326.307 jiwa dengan luas Wilayah Provinsi Sumatera Utara yakni 71.680,69 dan tingkat kepadatan penduduknya adalah sebesar 186 jiwa/km.

6.800.000 7.000.000 7.200.000 7.400.000 7.600.000 7.800.000 8.000.000 8.200.000 8.400.000

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

JUMLAH PENDUDUK

TAHUN

LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK

Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara tahun 2013.

Kabupaten/Kota Luas Wilayah Jumlah Penduduk

Kepadatan Penduduk

Nias 980,32 133388 136

Mandailing Natal 6.620,70 413475 52

Tapanuli Selatan 4.352,86 268824 62

Tapanuli Tengah 2.158,00 324006 150

Nias Selatan 1.625,91 295968 182

Padang Lawas Utara 3.918,05 232746 59

Padang Lawas 3.892,74 237259 61

Nias Utara 1.501,63 129053 86

Nias Barat 544,09 82854 152

Sibolga 10,77 85981 7983

Padang Sidempuan 114,65 204615 1785

Gunung Sitoli 469,36 129403 276

Wilayah Pantai Barat 26.189,08 2537572 97

Persentase 36,54 19,04

Labuhan Batu 2.561,38 430718 168

Asahan 3.675,79 681794 185

Deli Serdang 2.486,14 1886388 759

Langkat 6.263,29 978734 156

Serdang Bedagai 1.913,33 605583 317

Batu Bara 904,96 382960 423

Labuhanbatu Selatan 3.116,00 289655 93

Labuhanbatu Utara 3.545,80 337404 95

Tanjung Balai 61,52 158599 2578

Tebing Tinggi 38,44 149065 3878

Medan 265,10 2123210 8009

Binjai 90,24 252263 2795

Wilayah Pantai Timur 24.921,99 8276373 332

Persentase 34,77 62,11

Tapanuli Utara 3.764,65 286118 76

Toba Samosir 2.352,35 175069 74

Simalungun 4.368,60 833251 191

Dairi 1.927,80 276238 143

Karo 2.127,25 363755 171

Humbang Hasundutan 2.297,20 176429 77

Pakpak Bharat 1.218,30 42144 35

Samosir 2.433,50 121924 50

Pematang Siantar 79,97 237434 2969

Wilayah Dataran Tinggi 20.569,62 2512362 122

Persentase 28,70 18,85

Sumatera Utara 71680,69 13326307 186

Sumber : Sumatera Dalam Angka,(2014).

Jumlah penduduk wilayah Pantai Timur Sumatera Utara menunjukkan kecenderungan masyarakat Sumatera utara lebih banyak yang lebih tertarik

62,11%,dari seluruh penduduk Sumatera Utara. Ketertarikan masyarakat tersebut diasumsi karena adanya anggapan wilayah Pantai Timur lebih maju dari wilayah lainnya di Sumatera Utara walaupun luas wilayah Pantai Timur sedikit lebih kecil dari wilayah Pantai Barat yaitu 24.921,99 km atau sama dengan 34,77% dari seluruh wilayah Sumatera Utara. Hal ini dapat digambarkan pada peta berikut.

Gambar 4.2. Peta jumlah penduduk dan persentase jumlah penduduk

masing-4.2. Analisis dan Pembahasan

4.2.1. Analisis Disparitas dengan Metode Indeks Williamson

Untuk mengukur kesenjangan antar wilayah digunakan ukuran Indeks Williamson. Pengukuran didasarkan pada variasi hasil-hasil pembangunan ekonomi antar wilayah yang berupa laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita. Kriteria pengukuran adalah semakin besar nilai indeks yang menunjukkan variasi produksi antar wilayah semakin besar pula tingkat perbedaan ekonomi dari masing-masing wilayah dengan rata-ratanya, sebaliknya semakin kecil nilai ini menunjukkan kemerataan antar wilayah yang baik (Rustiadi, Saefulhakim dan Panuju).

Tabel 4.4. Hasil perhitungan Indeks Williamson antar Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003 – 2013.

NO

Dari tabel di atas terlihat bahwa kesenjangan regional secara umum masing-masing kabupaten/kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara

mengalami perubahan nilai Indeks Williamson yang fluktuatif. Lebih jelasnya dapat digambarkan pada diagram berikut.

Gambar 4.3. Nilai Indeks Williamson antar Kabupaten / Kota di wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara tahun 2003-2013

Terlihat jelas bahwa terdapat 6(enam) kabupaten/kota jika dilihat selama 10 tahun masa penelitian(2003-2013), nilai Indeks Williamsonnya mengalami kecenderungan menurun yaitu Serdang Bedagai 0,0533 pada tahun 2004 menurun menjadi 0,0364 pada tahun 2013, Khusus daerah Kabupaten Serdang Bedagai hanya bisa dilihat 9 tahun terakhir karena berdirinya kabupaten tersebut pada tahun 2004. Kabupaten Asahan, pada tahun 2003 sebesar 0,1381 menurun menjadi 0,0364 pada tahun 2013. Kabupaten Labuhan Batu, pada tahun 2003 sebesar 0,1103 turun menjadi 0,0384 pada tahun 2013. Kabupaten Batubara, pada

0,0000

Diagram Indeks Williamson antar Kabupaten/Kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara 2003 – 2013

2003

tahun 2007 dimulai saat berdirinya kabupaten tersebut sebesar 0,2657 dan turun menjadi 0,2236 pada tahun 2013. Kabupaten Labuhan Batu Selatan, pada tahun 2009 ketika kabupaten tersebut berdiri, Indeks Williamsonnya menurun dari 0,0251 menuju angka 0,0144 pada 2013. Berikutnya Kota Tajung Balai, pada tahun 2003 sebesar 0,0106 turun menjadi 0,0079 pada tahun 2013.

Penurunan nilai Indeks Williamson masing-masing keenam kabupaten/kota yang termasuk anggota Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara ini menunjukkan bahwa dari tahun 2003-2013 tingkat diparitas pembangunan ekonominya semakin tahun semakin mengecil artinya bahwa pemerataan pandapatan regional dan pembangunan ekonomi di enam wilayah tersebut (Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Kota Tanjung Balai) semakin membaik.

Sementara kabupaten/kota yang mengalami kenaikan nilai Indeks Willimson terdapat juga 6(enam) kabupaten/kota yaitu langkat sebesar 0,0432 pada tahun 2003 menjadi 0,0635 pada tahun 2013. Kabupaten Deli Serdang sebesar 0,0273 pada tahun 2003 menjadi 0,0455 pada tahun 2014, Kabupaten Labuhan Batu Utara sebesar 0,0023 pada tahun 2009 menjadi 0,0109 pada tahun 2013, Kota Binjai sebesar 0,0177 menjadi 0,0181 pada tahun 2013, Kota Medan sebesar 0,3519 pada tahun 2003 menjadi 0,4569 pada tahun 2013. Kota Tebing Tinggi sebesar 0,0127 pada tahun 2003 menjadi 0,0152 pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan di sebagaian Wilayah Pantai Timur Provinsi

Sumatera Utara meningkat dan sebahagian Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara justru kesenjangannya menurun.

Dari hasil penelitian tersebut perlu dilihat beberapa faktor penyebab perbedaan kesenjangan wilayah antar Kabupaten/ Kota di Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara, selain dari pada Kondisi Laju pertumbuhan Ekonomi dan PDRB perkapita yang tertera pada bab I, adalah sebagai berikut:

1. Sarana/prasarana pendidikan

Tabel 4.5. Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Sekolah Dirinci Menurut Kabupaten/Kota, 2011-2013

NO Kabupaten/Kota

Murid Sekolah Dasar (SD/MI) Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs)

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa masing-masing kabupaten/kota memiliki perbedaan jumlah fasilitas dan jumlah murid dan guru yang mengindikasi terjadinya disparitas.

2. Sarana Prasarana Kesehatan

Tabel 4.6. Banyaknya Pusat Kesehatan Masyarakat dan Sejenisnya Menurut Kabupaten/Kota (unit), 2010 - 2013 Sumber : Sumut Dalam Angka 2014

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa kabupaten/kota yang memiliki sarana/prasarana paling banyak adalah terdapat di Kota Medan dengan Jumlah 3120 buah sarana / prasarana kesehatan, menyusul Deli Serdang 2329 buah, Langkat 1989 buah, Serdang Bedagai 1594 buah, Asahan 1341 buah, Labuhan Batu 868 buah, Labuhan Batu Utara 728 buah ,Batu Bara 739 buah, Labuhan Batu Selatan 620 buah,Binjai 316 buah, Tebing Tinggi 248 buah. Kemudian yang paling sedikit memiki sarana/prasarana kesehatan adalah Kota Tanjung Balai sebanyak 214 buah.

3. Sarana Pemerintahan Umum

Tabel 4.7. Banyaknya Kecamatan dan Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/

Kota, 2013

Sumber : Sumut Dalam Angka 2014

Dari tabel diatas terlihan bahwa kabupaten/kota yang memiliki sarana pemerintahan umum paling banyak adalah Deli Serdang dengan jumlah banyaknya kecamatan kelurahan dan desa sebesar 394 unit. Dan yang paling sedikit adalah Tanjung Balai sebanyak 31 unit pemerintahan. Kondisi ini juga dapat melihat bahwa adanya kesenjangan antar kabupaten/kota di Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara.

4. Perbedaan kondisi Demografis

Faktor lain yang mendorong terjadinya kesenjangan pembangunan antar wilayah demografis yang cukup besar antar daerah. Kondisi demografis tersebut adalah bilamana terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan dan struktur kependudukn, perbedaan tingkat-tingkat penddidikan dan kesehatan, perbedaan

kerja yang dimiliki masyarakat daerah bersangkutan. Kondisi demografis ini akan dapat mempengaruhi kesenjangan pembangunan ekonomi. Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi sehingga akan mendorong peningkatan investasi. Sebaliknya bila kondisi demografis suatu wilayah buruk, maka akan menyebabkan relatif rendahnya produktivitas kerja masyarakat yang rendah sehingga pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut akan lebih rendah, (Sjafrizal, 2008). Berikut jumlah penduduk dibagian Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara berdasarkan luas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8. Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten / Kota Luas Wilayah Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk

(1) (2) (3) (4)

Labuhan Batu 2.561,38 430718 168

Asahan 3.675,79 681794 185

Deli Serdang 2.486,14 1886388 759

Langkat 6.263,29 978734 156

Serdang Bedagai 1.913,33 605583 317

Batu Bara 904,96 382960 423

Labuhanbatu Selatan 3.116,00 289655 93

Labuhanbatu Utara 3.545,80 337404 95

Tanjung Balai 61,52 158599 2578

Tebing Tinggi 38,44 149065 3878

Medan 265,10 2123210 8009

Binjai 90,24 252263 2795

Wilayah Pantai Timur 24.921,99 8276373 332

sumber : Sumatera Utara Dalam Angka (2014)

Dari total Jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara sebanyak 13.326.307 jiwa, Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara memiliki lebih dari setengah

luas wilayah seluruhnya Provinsi Sumtera Utara 76.680,69km2 dan total luas Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara sebesar 24.921,99km atau hanya kurang lebih sepertiga dari luas wilayah keseluruhan Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kepadatan penduduk Wilayah Pantai Timur sebesar 332jiwa/km.

Hal ini menunjukkkan bahwa Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara

Hal ini menunjukkkan bahwa Wilayah Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara