5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Analisis Total Amoniak Nitrogen (TAN)
Amoniak adalah bentuk utama ekskresi nitrogen oleh kebanyakan hewan akuatik. Ikan- ikan teleostei mengekskresikan 60 % sampai 90 % nitrogen dalam bentuk amoniak ke perairan dan sebagian besar dikeluarkan oleh insang. Bentuk lain dari ekskresi nitrogen adalah urea, kreatin, kreotenin, trimetilalanin oksida dan asam amino. Amoniak yang masuk ke perairan adalah sebagai hasil katabolisme protein. Laju amoniak akan meningkat dengan cepat sebagai respon terhadap penambahan protein pakan atau protein bahan yang dimasukkan ke dalam perairan (Saridewi, 1998).
Rougley (1974) vide Wirianata (1982) menyatakan bahwa sifat hiu yang sering dimanfaatkan dalam teknik penangkapan adalah reaksinya terhadap bau darah. Hal serupa juga diungkapkan oleh Engel (1979) vide Hendrotomo (1989) bahwa meskipun ikan hiu berburu sendiri-sendiri, namun bau darah cukup untuk mengumpulkan kawanan hiu. Ikan- ikan hiu tidak akan memperdulikan resiko, bila salah satu hiu terluka maka hiu lainnya dengan seketika akan berbalik menyerang hiu yang terluka tersebut.
Tabel 14. Hasil pengukuran kadar TAN dalam darah. TAN dalam Darah (ppm) Ulangan ke-
Sapi Hiu Tuna Cakalang Tongkol Pari Layur 1 308,3 223 150,5 118,3 110,8 113,2 119,2 2 304,2 143,9 150,7 123 124,5 99,7 98,7 3 291,7 119,4 117,3 109,3 102,9 120,3 97,8 Rata-rata 301,4 162,1 139,5 116,87 112,73 111,07 105,23 Simpangan Baku 7,06 44,21 15,70 5,68 8,92 8,54 9,88
Tabel 14 dan gambar 12 diatas menyajikan hasil pengukuran Total Amoniak Nitrogen (TAN) dari sampel-sampel darah yang diidentifikasi dan histogramnya. Darah sapi memiliki rata-rata kadar TAN tertinggi yaitu sebesar 301,4 ppm
59 0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 300.00 350.00 ppm
Sapi Hiu Tuna Cakalang Tongkol Pari Layur
jenis darah
dibandingkan dengan jenis sampel-sampel darah yang lain. Sampel darah ikan hiu dan darah ikan tuna memiliki rata-rata kadar TAN tertinggi kedua dan ketiga, masing- masing sebaesar 162,1 ppm dan 139,5 ppm, sedangkan sampel darah ikan cakalang, tongkol, layur dan pari memiliki rata-rata kadar TAN yang konsentrasinya tidak berbeda jauh masing- masing sebesar 116,9 ppm, 112,7 ppm, 105,2 ppm dan 111,1 ppm, atau berkisar 105,2 – 116,9 ppm. Semakin tinggi kadar TAN semakin tinggi pula “bau” yang ditimbulkannya, dengan demikian dapat dinyatakan untuk sementara bahwa darah sapi memiliki kadar bau yang lebih tinggi dibandingkan sampel-sampel darah lainnya.
Gambar 12. Rata-rata kadar TAN yang diukur dari beberapa jenis darah Hendrotomo (1989) menjelaskan bahwa umpan daging hiu setelah direndam dalam air laut, warnanya menjadi putih, teksturnya mengeras dan bau amis dari darah segar berganti dengan bau pesing. Kondisi umpan seperti ini diduga dapat menyebabkan umpan daging hiu kurang menarik perhatian ikan hiu untuk mendekat. Zat yang dapat dijadikan indikator bau pesing tersebut adalah amoniak. Wibowo dan Susanto (1995) menambahkan bahwa amoniak berasal dari urea yang mengangkibatkan bau yang sngat khas yaitu bau pesing.
Sehingga dari penjelasan Hendrotomo diatas, dapat dinyatakan bahwa darah yang memiliki kadar bau pesing yang tinggi akan memberikan pengaruh daya tarik yang lemah terhadap ikan hiu, sebaliknya jika darah yang memiliki kadar bau pesing yang rendah akan memberikan pengaruh daya tarik yang lebih kuat terhadap ikan hiu.
60 Berdasarkan hasil analisis TAN (Tabel 14), darah sapi ditinjau dari kadar bau pesingnya, diduga memiliki daya tarik yang lebih lemah bagi hiu dibanding sampel- sampel darah lainnya. Sampel-sampel darah yang memiliki kadar bau pesingnya rendah berkisar antara 105,2 – 116,9 ppm seperti darah layur, darah pari, darah tongkol dan darah cakalang diduga memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi hiu.
Tabel 15. Analisis sidik ragam kadar TAN pada jenis sampel darah yang berbeda Sumber Keragaman (SK) db Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT) F-hitung F-tabel Sampel Darah 6 87554,78 14592,46 26,88 2,85 Galat 14 7599,99 542,86 Total 20 95154,77
Berdasarkan analisis sidik ragam menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) diperoleh F- hitung (26,88) lebih besar dari F-tabel (2,85) (Tabel 15). Dapat dinyatakan bahwa jenis-jenis darah yang berbeda berpengaruh secara nyata terhadap kadar TAN darah pada taraf á = 5 %.
Untuk mengetahui perbedaan rata-rata setiap perlakuan jenis sampel darah yang berbeda maka dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) terhadap kadar TAN dalam darah (Tabel 16).
Tabel 16. Uji beda nyata terkecil (BNT) pengaruh sampel darah yang berbeda terhadap rata-rata kadar TAN
Keterangan : * = berbeda nyata pada taraf á = 5 % ** = berbeda sangat nyata pada taraf á = 1 % tanpa tanda * = tidak berbeda
Selisih Perlakuan BNT (á)
Sampel
Darah Cakalang Tongkol Tuna Layur Pari Hiu Sapi 0,05 0,01 Cakalang - 4,13 22,63 11,63 5,80 45,23* 184,53** Tongkol - - 26,77 7,50 1,67 49,37* 188,67** Tuna - - - 34,27 28,43 22,60 161,90** Layur - - - - 5,83 56,87** 196,17** Pari - - - 51,03* 190,33** Hiu - - - 139,30** Sapi - - - - 40,35 53,47
61 Berdasarkan hasil analisa uji BNT pada tabel 16, diketahui bahwa secara umum nilai kadar TAN darah sapi bila dibandingkan dengan nilai kadar TAN darah- darah sampel yang lain adalah berbeda sangat nyata pada taraf á = 1 %. Nilai kadar TAN darah hiu bila dibandingkan dengan kadar TAN darah sampel-sampel lainnya adalah beragam. Pada taraf á = 1 %, kadar TAN darah hiu adalah berbeda sanga t nyata hanya terhadap nilai kadar TAN darah layur, sedangkan pada taraf á = 5 % kadar TAN darah hiu adalah berbeda nyata terhadap kadar TAN darah cakalang, darah tongkol dan darah pari. Sebaliknya, nilai kadar TAN darah hiu adalah tidak berbeda bila dibandingkan dengan nilai kadar TAN darah tuna.
Keterangan : (1), (2), (3) …. = urutan langkah B1 = berbeda nyata pada taraf á = 1 % B2 = berbeda nyata pada taraf á = 5 % S = tidak berbeda pada taraf á = 1 % = garis hubungan
Gambar 13. Tingkatan dugaan ketertarikan hiu terhadap kadar bau darah menggunakan analisis pengelompokan
Untuk perbandingan nilai kadar TAN masing- masing darah seperti darah tuna, cakalang, tongkol, pari dan layur adalah tidak berbeda nyata pada taraf á = 5 %. Hasil dari uji BNT diatas didapatkan 3 kelompok sampel darah yang memiliki kadar TAN berbeda: (1) darah sapi adalah yang tertinggi, (2) kedua tertinggi adalah darah hiu, (3) terendah adalah darah tuna, darah cakalang, darah tongkol, darah pari atau darah
Sapi 301,4 ppm Hiu 162,1 ppm Layur 105,23 ppm Pari 111,07 ppm Tongkol 112,73 ppm Tuna 139,50 ppm
Kelompok 1 Kelomp ok 2 Kelompok 3
Cakalang 116,87 ppm
(1) B1
(2) B1 (3) S
62 layur. Sehingga, dapat dinyatakan bahwa darah tuna, darah cakalang, darah tongkol, darah pari atau darah layur ditinjau dari kadar TAN memiliki karakteristik bau yang sama dan memiliki bau yang paling rendah dibanding terhadap darah hiu dan darah sapi.