BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 40
D. Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui seberapa cermat suatu pengukuran melakukan fungsi ukurnya. Semakin tinggi validitas suatu fungsi ukur, semakin tinggi hasil pengukuran mengenai sasarannya. Hair (1998) menyatakan bahwa suatu analisis faktor dinyatakan feasible bila memenuhi syarat:
commit to user
· Uji KMO dan Bartlet’s Test di atas 0,5 dan signifikansi di bawah 0,05
· Koefisien Anti Image Matrices sebagai measures of sampling adequacy
(MSA) minimal 0,5.
Berhubung pada penelitian ini variabel bebasnya tidak memiliki dimensi maka tidak perlu dilakukan rotasi dengan metode varimax. Dalam metode Factor Analysis, suatu item dianggap valid jika factor loading-nya diatas 0,4.
Hasil yang diperoleh untuk tiap variabel adalah sebagai berikut : a. Variabel komitmen karir
Hasil uji KMO dan Bartlet’s Test sebagaimana terlihat dalam tabel IV.8 menunjukkan bahwa koefisien KMO sebesar 0,830 (cutting point 0,5) serta Bartlet Test signifikan pada 0,000 (cutting point 0,05). Dengan demikian analisis bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya.
Pengukuran kecukupan sampel (Measures of Sampling Adequacy/ MSA) sebagaimana terlihat dari tabel Anti Image Matrices sebagaimana terlihat pada tabel IV.8 mengindikasikan bahwa tidak ada koefisien MSA yang nilainya di bawah 0,5. Dengan demikian analisis faktor bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya.
commit to user
Tabel IV.8
Hasil Uji Validitas variabel Komitmen Karir
KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .830 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 244.514
df 28.000 Sig. .000 Anti-image Matrices X_1 X_2 X_3 X_4 X_5 X_6 X_7 X_8 Anti-image Covariance X_1 .580 .071 -.096 -.182 .039 .030 -.068 -.144 X_2 .071 .541 -.168 -.014 .056 .058 -.155 -.198 X_3 -.096 -.168 .475 -.032 -.152 -.192 -.040 .026 X_4 -.182 -.014 -.032 .492 -.139 .036 -.143 -.084 X_5 .039 .056 -.152 -.139 .720 -.037 -.013 -.053 X_6 .030 .058 -.192 .036 -.037 .673 -.099 -.137 X_7 -.068 -.155 -.040 -.143 -.013 -.099 .563 .026 X_8 -.144 -.198 .026 -.084 -.053 -.137 .026 .532 Anti-image Correlation X_1 .826a .126 -.183 -.341 .060 .048 -.118 -.258 X_2 .126 .776a -.332 -.027 .090 .096 -.281 -.369 X_3 -.183 -.332 .826a -.065 -.260 -.339 -.078 .051 X_4 -.341 -.027 -.065 .845a -.234 .062 -.273 -.164 X_5 .060 .090 -.260 -.234 .851a -.053 -.020 -.086 X_6 .048 .096 -.339 .062 -.053 .812a -.160 -.230 X_7 -.118 -.281 -.078 -.273 -.020 -.160 .873a .047 X_8 -.258 -.369 .051 -.164 -.086 -.230 .047 .829a a. Measures of Sampling Adequacy (MSA)
Sumber: data primer diolah 2010
Hasil analisis menghasilkan faktor loading untuk tiap item komitmen karir, yang dapat dilihat pada tabel IV.9.
Tabel IV.9
Validitas Item Variabel Komitmen Karir
No Item Faktor Loading Keterangan
X _1 0.682 Valid X_2 0.693 Valid X_3 0.783 Valid X_4 0.764 Valid X_5 0.579 Valid X_6 0.605 Valid X_7 0.736 Valid X_8 0.743 Valid
commit to user
Dengan terpenuhinya dua ketentuan di atas dan semua nilai factor loading pada tabel IV.9 bernilai lebih dari 0,4 maka dapat dikatakan bahwa semua item pertanyaan dikatakan valid dan dapat dipakai dalam analisis data. b. Variabel kepuasan karir
Hasil uji KMO dan Bartlet’s Test yang terlihat dalam tabel IV.10 menunjukkan bahwa koefisien KMO sebesar 0,863 (cutting point 0,5) serta
Bartlet’s Test signifikan pada 0,000 (cutting point 0,05). Dengan demikian analisis bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya. Pengukuran kecukupan sampel (Measures of Sampling Adequacy/ MSA) yang terlihat dari tabel Anti Image Matrices pada tabel IV.10 mengindikasikan bahwa tidak ada koefisien MSA yang nilainya di bawah 0,5. Dengan demikian analisis faktor bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya.
Tabel IV.10
Hasil Uji Validitas variabel Kesuksesan Karir
KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .863
Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 177.517
df 10.000
Sig. .000
Anti-image Matrices
Y2_1 Y2_2 Y2_3 Y2_4 Y2_5
Anti-image Covariance Y2_1 .482 -.099 -.129 -.143 -.111
Y2_2 -.099 .452 -.166 -.128 -.108
Y2_3 -.129 -.166 .514 -.049 -.067
Y2_4 -.143 -.128 -.049 .574 -.062
Y2_5 -.111 -.108 -.067 -.062 .643
Anti-image Correlation Y2_1 .855a -.211 -.259 -.272 -.200
Y2_2 -.211 .839a -.345 -.251 -.201
Y2_3 -.259 -.345 .856a -.090 -.117
Y2_4 -.272 -.251 -.090 .878a -.103
Y2_5 -.200 -.201 -.117 -.103 .903a
a. Measures of Sampling Adequacy (MSA)
commit to user
Hasil analisis menghasilkan faktor loading untuk tiap item kepuasan karir, yang dapat dilihat pada tabel IV.11.
Tabel IV.11
Validitas Item Variabel Kepuasan Karir
No Item Faktor Loading Keterangan
Y _1 0.833 Valid
Y_2 0.846 Valid
Y_3 0.806 Valid
Y_4 0.774 Valid
Y_5 0.732 Valid
Sumber: Data primer diolah 2010
Dengan terpenuhinya dua ketentuan di atas dan semua nilai factor loading
pada tabel IV.11 bernilai lebih dari 0,4 maka dapat dikatakan bahwa semua item pertanyaan dikatakan valid dan dapat dipakai dalam analisis data.
c. Variabel persepsi emosi
Hasil uji KMO dan Bartlet’s Test sebagaimana terlihat dalam tabel IV.12 menunjukkan bahwa koefisien KMO sebesar 0,754 (cutting point 0,5) serta Bartlet Test signifikan pada 0,000 (cutting point 0,05). Dengan demikian analisis bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya.
Pengukuran kecukupan sampel (Measures of Sampling Adequacy/ MSA) sebagaimana terlihat dari tabel Anti Image Matrices sebagaimana terlihat pada tabel IV.12 mengindikasikan bahwa tidak ada koefisien MSA yang nilainya di bawah 0,5. Dengan demikian analisis faktor bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya.
commit to user
Tabel IV.12
Hasil Uji Validitas variabel Persepsi Emosi
KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .754 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 264.848
df 66.000 Sig. .000 Anti-image Matrices M_1 M_2 M_3 M_4 M_5 M_6 M_7 M_8 M_9 M_10 M_11 M_12 Anti-image Covariance M_1 .504 -.179 -.088 -.243 .077 -.133 .005 .083 -.009 -.108 .096 -.098 M_2 -.179 .648 -.029 .060 -.095 .154 -.082 -.103 -.175 .066 -.117 -.027 M_3 -.088 -.029 .690 -.144 -.092 .083 -.040 -.105 .030 .107 -.133 -.075 M_4 -.243 .060 -.144 .576 -.107 .016 .061 -.120 .018 -.017 -.076 .029 M_5 .077 -.095 -.092 -.107 .653 -.157 -.053 .071 -.124 -.006 .018 -.102 M_6 -.133 .154 .083 .016 -.157 .537 -.101 -.134 -.132 -.033 -.195 .069 M_7 .005 -.082 -.040 .061 -.053 -.101 .542 -.205 -.053 -.149 -.051 -.072 M_8 .083 -.103 -.105 -.120 .071 -.134 -.205 .660 .036 -.048 .174 .044 M_9 -.009 -.175 .030 .018 -.124 -.132 -.053 .036 .676 -.058 .041 -.038 M_10 -.108 .066 .107 -.017 -.006 -.033 -.149 -.048 -.058 .703 -.069 -.109 M_11 .096 -.117 -.133 -.076 .018 -.195 -.051 .174 .041 -.069 .749 -.064 M_12 -.098 -.027 -.075 .029 -.102 .069 -.072 .044 -.038 -.109 -.064 .774 Anti-image Correlation M_1 .706a -.314 -.149 -.450 .134 -.256 .010 .143 -.015 -.182 .156 -.157 M_2 -.314 .704a -.043 .098 -.145 .261 -.138 -.157 -.264 .098 -.168 -.039 M_3 -.149 -.043 .776a -.229 -.137 .137 -.066 -.156 .044 .153 -.185 -.102 M_4 -.450 .098 -.229 .724a -.174 .029 .109 -.194 .029 -.027 -.116 .043 M_5 .134 -.145 -.137 -.174 .814a -.265 -.088 .108 -.186 -.009 .026 -.143 M_6 -.256 .261 .137 .029 -.265 .709a -.187 -.225 -.220 -.054 -.308 .107 M_7 .010 -.138 -.066 .109 -.088 -.187 .823a -.342 -.087 -.241 -.080 -.111 M_8 .143 -.157 -.156 -.194 .108 -.225 -.342 .648a .053 -.071 .247 .061 M_9 -.015 -.264 .044 .029 -.186 -.220 -.087 .053 .836a -.084 .058 -.052 M_10 -.182 .098 .153 -.027 -.009 -.054 -.241 -.071 -.084 .827a -.096 -.148 M_11 .156 -.168 -.185 -.116 .026 -.308 -.080 .247 .058 -.096 .651a -.084 M_12 -.157 -.039 -.102 .043 -.143 .107 -.111 .061 -.052 -.148 -.084 .849a a. Measures of Sampling Adequacy(MSA)
commit to user
Dari hasil pengujian validitas diperoleh faktor loading untuk tiap item kepuasan karir, yang dapat dilihat pada tabel IV.13.
Tabel IV.13
Validitas Item Variabel Persepsi Emosi
No Item Faktor Loading Keterangan
M_1 0.665 Valid M_2 0.563 Valid M_3 0.508 Valid M_4 0.576 Valid M_5 0.629 Valid M_6 0.641 Valid M_7 0.689 Valid M_8 0.483 Valid M_9 0.587 Valid M_10 0.557 Valid M_11 0.448 Valid M_12 0.511 Valid
Sumber: Data primer diolah 2010
Dengan terpenuhinya dua ketentuan di atas dan semua nilai factor loading
pada tabel IV.13 bernilai lebih dari 0,4 maka dapat dikatakan bahwa semua item pertanyaan dikatakan valid dan dapat dipakai dalam analisis data.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan dan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dan dengan alat ukur yang sama. Hasilnya ditunjukkan oleh sebuah indeks yang menunjukkan seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan. Untuk mengukur reliabilitas, alat ukur yang digunakan adalah teknik Alpha Cronbach. Taraf signifikansi dengan
a= 5%. Instrument penelitian yaitu kuisioner dapat dikatakan reliabel jika nilai
commit to user
Hasil yang diperoleh dari uji reliabilitas untuk variabel komitmen karir, kesuksesan karir dan persepsi emosi adalah sebagai berkut :
Tabel IV.14 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Alpha Cronbach Keterangan
Komitmen Karir 0,840 Reliabilitas baik
Kepuasan Karir 0,855 Reliabilitas baik
Persepsi Emosi 0,809 Reliabilitas baik
Sumber: Data primer diolah 2010
Dari hasil perhitungan reliabilitas didapatkan nilai Cronbach’s Alpha
untuk kuisioner variable komitmen karir sebesar 0,840 yang dikategorikan sebagai reliabilitas baik. Jadi instrumen untuk variabel komitmen karir memiliki konsistensi sebesar 84% apabila dilakukan pengulangan.
Untuk kuisioner variabel kepuasan karir sebesar 0,855 yang dikategorikan sebagai reliabilitas baik. Jadi instrumen untuk variabel kepuasan karir memiliki konsistensi sebesar 85,5% apabila dilakukan pengulangan.
Untuk kuisioner variabel kepuasan karir sebesar 0,809 yang dikategorikan sebagai reliabilitas baik. Jadi instrumen untuk variabel kepuasan karir memiliki konsistensi sebesar 80,9% apabila dilakukan pengulangan.
3. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan Hierarchical Regression Analysis yaitu analisis regresi yang dilakukan secara bertahap agar dapat diketahui apakah komitmen karir dan persepsi emosi berpengaruh pada kesuksesan karir. Kerlinger (dalam Hamdi, 2008) menyatakan bahwa interaksi dapat terjadi sekalipun tidak semua variabel bebas mempengaruhi variabel terikat secara sendiri – sendiri. Sebaliknya interaksi dapat tidak terjadi sekalipun tiap –
commit to user
tiap variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Hasil
Hierarchical Regression Analysis ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel IV.15
Hasil Regresi Hirarki pada dimensi Tingkat Gaji
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2.081 .268 7.763 .000 Jenis Kelamin .471 .230 .225 2.046 .044 Pengalaman Kerja -.043 .108 -.044 -.397 .692 2 (Constant) .836 1.025 .816 .417 Jenis Kelamin .400 .227 .191 1.766 .081 Pengalaman Kerja -.067 .106 -.068 -.627 .533 Komitmen Karir .080 .033 .285 2.425 .018 Persepsi Emosi -.012 .031 -.045 -.382 .704 3 (Constant) 1.250 1.134 1.103 .273 Jenis Kelamin .396 .227 .189 1.744 .085 Pengalaman Kerja -.056 .107 -.057 -.522 .603 Komitmen Karir .074 .034 .265 2.208 .030 Persepsi Emosi -.009 .031 -.036 -.303 .762 Komitmen karir X Persepsi emosi .000 .001 -.092 -.859 .393 a. Dependent Variable: Tingkat Gaji
Sumber: Data primer diolah 2010
Variabel kendali sebelum dimasukkan dalam model regresi perlu diuji dahulu untuk melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap variabel kesuksesan karir agar tidak terjadi bias. Hasil regresi dari variabel kendali jenis kelamin memberikan nilai koefisien parameter 0,471 dengan tingkat signifikansi 0,044 yang artinya memberikan pengaruh positif terhadap variabel kesuksesan karir. Untuk responden dengan jenis kelamin pria dikodekan 1 sedangkan perempuan dikodekan 0 sehingga bila dilihat dari hasil analisis yang positif dan signifikan,
commit to user
maka dapat dikatakan bahwa kaum pria yang menjadi mahasiswa MM UNS dan sudah bekerja merasa lebih sukses dalam hal tingkat perolehan gaji dibandingkan kaum wanitanya.
Variabel kendali pengalaman kerja memiliki nilai koefisien parameter -0,043 dengan tingkat signifikansi 0,692 yang artinya tidak memberikan pengaruh apapun terhadap variabel kesuksesan karir. Dari hasil yang terlihat dapat dikatakan bahwa pengalaman kerja yang dimiliki responden dengan rentang waktu yang relatif singkat tidak mempengaruhi kesuksesan karir untuk tingkat gaji. Hal ini disebabkan karena gaji yang mereka dapatkan sekarang belum dapat dikategorikan sebagai pencapaian sukses karir dalam hal tingkat gaji.
Variabel kendali jenis kelamin setelah dimasukkan ke dalam model regresi memberikan nilai koefisien parameter 0,400 dengan tingkat signifikansi 0,081 sedangkan variabel kendali pengalaman kerja setelah dimasukkan ke dalam model regresi memberikan nilai koefisien parameter -0,067 dengan tingkat signifikansi 0,533 yang artinya kedua variabel kendali tidak lagi memberi pengaruh terhadap variabel kesuksesan karir sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pemilihan variabel kendali sudah tepat.
Hasil regresi hirarki dari variabel komitmen karir memberikan nilai koefisien parameter 0,080 dengan tingkat signifikansi 0,018 sehingga variabel komitmen karir memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel kesuksesan karir (tingkat gaji). Dengan demikian hipotesis 1.a didukung dalam penelitian ini. Artinya semakin tinggi komitmen karir seseorang akan semakin
commit to user
tinggi pula kesuksesan karir dalam tingkat gaji yang diperolehnya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Poon (2004).
Di samping hasil uji di atas, juga diketahui variabel persepsi emosi memberikan nilai koefisien parameter -0,012 dengan tingkat signifikansi 0,704 sehingga variabel persepsi emosi tidak memberikan pengaruh apapun terhadap variabel kesuksesan karir dalam tingkat gaji. Artinya semakin tinggi tingkat persepsi emosi tidak mempengaruhi kesuksesan karir dalam tingkat gaji seseorang. Hal ini dapat terjadi karena responden pada penelitian memiliki usia relatif muda dan pengalaman kerja yang relatif singkat. Jabatan pekerjaan responden pada umumnya berada pada entry level hal ini dapat juga dilihat dari perolehan gaji mereka yang masih berada dalam batas rata – rata, karena posisi karir yang masih berada pada entry level, sehingga dimungkinkan persepsi emosi pada diri responden tidak berdampak pada kesuksesan karir dalam tingkat gaji.
Hasil regresi hirarki pada interaksi variabel komitmen karir dan persepsi emosi memberikan nilai koefisien parameter 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,393 sehingga persepsi emosi tidak memoderasi antara komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam tingkat gaji. Dengan demikian hipotesis 2.a tidak didukung dalam penelitian ini. Artinya semakin tinggi tingkat persepsi seseorang tidak akan menjadikan hubungan antara komitmen karir dan tingkat gaji menjadi lebih kuat. Dengan jabatan pekerjaan dari responden yang merupakan entry level, belum terlalu melibatkan pengendalian persepsi emosi karena posisi entry level
biasanya cenderung pada tugas – tugas yang bersifat teknis. Oleh karena itu dimungkinkan persepsi emosi tidak memoderasi hubungan antara komitmen karir
commit to user
dengan kesuksesan karir dalam tingkat gaji. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Poon (2004) yang menyatakan persepsi emosi memoderasi hubungan antara komitmen karir dan tingkat gaji.
Tabel IV.16
Hasil Regresi Hirarki pada dimensi Kepuasan Karir
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 13.570 .619 21.929 .000 Jenis Kelamin .609 .531 .128 1.146 .255 Pengalaman Kerja -.193 .250 -.086 -.774 .441 2 (Constant) 5.516 2.187 2.523 .014 Jenis Kelamin .457 .484 .096 .943 .348 Pengalaman Kerja -.224 .227 -.100 -.987 .327 Komitmen Karir .233 .070 .365 3.314 .001 Persepsi Emosi .091 .065 .153 1.394 .167 3 (Constant) 5.802 2.430 2.388 .019 Jenis Kelamin .454 .487 .095 .932 .354 Pengalaman Kerja -.217 .230 -.097 -.942 .349 Komitmen Karir .229 .072 .359 3.178 .002 Persepsi Emosi .093 .066 .156 1.406 .164 XM .000 .001 -.028 -.277 .782
a. Dependent Variable: Kepuasan Karir
Sumber: Data primer diolah 2010
Hasil regresi hirarki dari variabel kendali jenis kelamin memberikan nilai koefisien parameter 0,609 dengan tingkat signifikansi 0,255 yang artinya tidak memberikan pengaruh terhadap variabel kesuksesan karir sehingga dapat dikatakan bahwa responden dengan jenis kelamin pria tidak merasakan kesuksesan karir dalam hal kepuasan karirnya.
commit to user
memberikan pengaruh apapun terhadap variabel kesuksesan karir. Dari hasil yang terlihat dapat dikatakan bahwa pengalaman kerja yang dimiliki responden dengan rentang waktu yang relatif singkat tidak mempengaruhi kesuksesan karir untuk kepuasan karir. Hal ini disebabkan karena pada penelitian ini responden berusia relatif muda dan dengan pengalaman kerja yang relatif singkat, sehingga mereka belum merasakan kepuasaan karir yang sesungguhnya.
Variabel kendali jenis kelamin setelah dimasukkan ke dalam model regresi memberikan nilai koefisien parameter 0,457 dengan tingkat signifikansi 0,348 dan variabel kendali pengalaman kerja setelah dimasukkan ke dalam model regresi memberikan nilai koefisien parameter -0,224 dengan tingkat signifikansi 0,327 yang artinya kedua variabel kendali tetap tidak memberi pengaruh terhadap variabel kesuksesan karir sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pemilihan variabel kendali sudah tepat.
Hasil regresi hirarki dari variabel komitmen karir memberikan nilai koefisien parameter 0,233 dengan tingkat signifikansi 0,01 sehingga variabel komitmen karir memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel kesuksesan karir dalam kepuasan karir. Dengan demikian hipotesis 1.b didukung dalam penelitian ini. Artinya semakin tinggi komitmen karir seseorang akan semakin tinggi pula kesuksesan karir dalam kepuasan karir yang dirasakannya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Poon (2004).
Hasil regresi hirarki dari variabel persepsi emosi memberikan nilai koefisien parameter 0,091 dengan tingkat signifikansi 0,167 sehingga variabel persepsi emosi tidak memberikan pengaruh apapun terhadap variabel kesuksesan
commit to user
karir dalam kepuasan karir. Artinya semakin tinggi tingkat persepsi emosi tidak mempengaruhi kesuksesan karir dalam kepuasan karir seseorang. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh usia relatif muda dan pengalaman kerja relatif singkat yang dimiliki oleh respondennya. Dengan posisi jabatan responden saat ini mereka belum merasakan kepuasan karir karena belum mengalami peningkatan karir mereka secara nyata sehingga dimungkinkan persepsi emosi responden tidak berdampak pada kepuasan karir.
Hasil regresi hirarki pada interaksi variabel komitmen karir dan persepsi emosi memberikan nilai koefisien parameter 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,782 yang artinya persepsi emosi tidak memoderasi antara komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam kepuasan karir. Dengan demikian hipotesis 2.b tidak didukung pada penelitian ini. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat persepsi seseorang tidak akan menjadikan hubungan antara komitmen karir dan kepuasan karir menjadi lebih kuat. Dengan usia relatif muda, pengalaman kerja singkat dan posisi jabatan entry level memungkinkan responden belum mengalami peningkatan karir secara nyata, sehingga dimungkinkan persepsi emosi tidak memoderasi hubungan antara komitmen karir dan kesuksesan karir dalam kepuasan karir . Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Poon (2004) yang menyatakan persepsi emosi memoderasi hubungan antara komitmen karir dan kepuasan karir.
commit to user BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai pengaruh komitmen karir terhadap kesuksesan karir obyektif dan subyektif pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Hasil penilaian untuk komitmen karir memperlihatkan bahwa mahasiswa
MM UNS yang sudah bekerja memiliki komitmen karir yang cukup kuat terhadap karir mereka di organisasinya saat ini.
2. Hasil penilaian untuk kepuasan karir memperlihatkan bahwa mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja merasakan kepuasan terhadap karir yang telah mereka capai hingga saat ini.
3. Hasil penilaian mengenai persepsi emosi memperlihatkan bahwa mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja memiliki tingkat persepsi emosi cukup tinggi.
4. Hipotesis 1.a yang menyatakan bahwa komitmen karir mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan karir obyektif (tingkat gaji) pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja didukung dalam penelitian ini. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien parameter 0,080 dengan tingkat signifikansi 0,018.
5. Hipotesis 1.b yang menyatakan bahwa komitmen karir mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan karir subyektif (kepuasan karir) pada
commit to user
mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja didukung dalam penelitian ini. Hal ini telihat dari nilai koefisien parameter 0,233 dengan tingkat signifikansi 0,01.
6. Hipotesis 2.a yang menyatakan bahwa komitmen karir mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan karir obyektif (tingkat gaji) dengan persepsi emosi sebagai variabel pemoderasi pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja tidak didukung dalam penelitian ini. Hal ini terlihat dari nilai koefisien parameter 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,393.
7. Hipotesis 2.b yang menyatakan bahwa komitmen karir mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan karir subyektif (kepuasan karir) dengan persepsi emosi sebagai variabel pemoderasi pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja tidak didukung dalam penelitian ini. Hal ini terlihat dari nilai koefisien parameter 0,000 dengan tingkat signifikansi 0,782.
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang telah dilakukan memiliki beberapa keterbatasan, yaitu: 1. Responden yang diambil dari beberapa jenis perusahaan yang tergabung
dalam satu universitas, yaitu program MM UNS sehingga generalisasi hasil penelitian bersifat terbatas hanya pada obyek tersebut.
2. Tidak dilakukannya pre-test dalam penyebaran kuisioner mengakibatkan item kuisioner yang tidak valid menjadi tidak diikut sertakan dalam analisis.
commit to user
3. Informasi mengenai besaran gaji diketahui bukan dalam jumlah nominal yang diterima, tetapi dibuat dalam bentuk range. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi responden yang tidak bersedia menuliskan jumlah nominal sebenarnya, sehingga nilai nominalnya dari tiap responden tidak diketahui secara pasti.
C. Saran
1. Saran Akademis
Berdasarkan keterbatasan di atas maka peneliti memberikan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya sebagai berikut :
a. Responden yang diambil sebaiknya lebih dari satu universitas agar generalisasi hasil penelitian menjadi lebih luas.
b. Dilakukannya pre-test dalam penyebaran kuisioner sehingga jika ada item kuisioner yang tidak valid, tidak langsung dihilangkan dari analisis, tetapi dapat diperbaiki lebih dahulu.
2. Saran Praktis
a. Untuk pencapaian kesuksesan karir pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja dapat dilakukan dengan lebih meningkatkan komitmen karir tiap individu pada karir yang telah dipilihnya, sehingga mampu menjadi motivasi untuk memberikan hasil yang terbaik untuk karirnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara lebih fokus pada usaha pengembangan kompetensi diri dalam hal keahlian teknis dan juga
commit to user
kemampuan manajerial yaitu dengan mengikuti pelatihan, mengikuti kursus, mengikuti seminar yang mampu menunjang karirnya.
b. Untuk pencapaian kesuksesan karir pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja dapat dilakukan dengan lebih meningkatkan persepsi emosi pada tiap individu, sehingga mampu mengambil sikap dan tindakan bijaksana yang dapat menunjang dalam proses pengembangan karirnya. Peningkatan persepsi emosi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan ketajaman dan kejelian mata serta hati di lingkungan kerja agar dapat lebih memahami situasi dan kondisi yang terjadi sehingga mampu membuat keputusan atau tindakan dengan sikap tenang dan bijaksana untuk memperoleh hasil lebih obyektif dan tepat sasaran maupun tujuan.