HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Analisis Wacana Novel Dimsum Terakhir
IV.1.1 Prolog
PROLOG
Kau disebut perawan sebab kau rawan dan harus berhati-hati. Maka, saat kau beranjak dewasa dan tamumu mulai datang, ibumu lalu girang karena “tamu” telah mengetuk pintu putrinya. Darah merah melambangkan kesuburan lalu tuman datang setiap bulan.
Per 28 hari, lima sampai tujuh hari, apa yang terjadi? Seperti ayam, telurmu tumbuh dalam tubuh.
Ibumu bahagia, bersyukur dan berdoa. Lalu pesannya, “Jagalah bungamu, jangan kau buahi telurmu,
Agar kau suci selalu hingga
menjadi persembahan paling berarti bagi calon suami.” Pagar ayu-pagar ayu…sesuatu yang rawan
sebab kau memang perawan.
Sesuatu yang harus dijaga sebab sakral adalah capnya. Lalu kau menyumpahi dirimu karena kau wanita. Tapi kemudian dirimu matang seperti telurmu yang siap panggang.
Kau siap menjadi pembawa generasi bagi manusia, dan surga ada di telapak kakimu.
(dikutip dari Tabula Rasa---Ratih Kumala, Grasindo 2004)
Butir-butir keringat Anas berjatuhan di dahi ketika bayi itu akhirnya berhasil meluncur keluar dari rahimnya. Kepalanya terempas ke belakang. Nyawanya seakan lenyap sedetik dari raganya. Tapi Anas masih menangkap seruan gembira dokter kandungan.
Aku berdiri di pojok kesayanganku. Televisi menyala di ruang keluarga. Cahayanya berpendar lembut. Suaranya rendah. Aku ingin tahu apakah Nung dapat mendengar suara televisi dari sofa tempatnya berbaring. Mungkin dia tidak terlalu memerhatikan isi berita. Mungkin ada berita lain yang memenuhi kepalanya. Aku tidak tahu.
Dari sini aku mengawasi seluruh isi rumah. Tidak banyak yang berubah. Gorden berwarna hijau dengan motif daun-daun tampak masih sama, namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci. Debu menempel setia disana. Bufet kecil tempat deretan foto berbingkai. Lukisan pemandangan yang menempel di tembok. Beberapa plakat penghargaan tampak usang. Keanggunannya hilang termakan usia.
Seluruh permukaan lantai masih dilapisi keramik yang itu-itu saja. Jika ada insinyur menyempatkan diri datang ke rumah ini, aku tahu apa yang akan dikatakannya. Rumah kuno. Tua renta. Ketinggalan mode. Sudah ringkih. Payah. Bla, bla, bla…
Aku melempar pandangan seluas-luasnya. Dinding bisu menjadi saksi serangkaian perjalanan hidup beberapa jiwa. Warna catnya sedikit kusam, tapi masih bagus dipandang. Nung pasti belum tertarik untuk mengecat ulang. Di pojok dinding sana, tampak kursi goyang tua yang sampai sekarang masih sering digunakan.
Sepuluh tahun telah berlalu. Aku menghela napas.
Meja sembahyang terlihat jelas di ruang keluarga. Abu jatuh dari hio yang sedikt lagi habis terbakar, membuat sebagian meja tampak kotor. Patung Dewi Kwan Im berdiri anggun disana, diapit dua api yang menyala oleh minyak. Seikat bunga krisan berwarna kuning yang diletakkan di dalam vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, disanalah tempat abuku berada.
Sejuta kenangan berhamburan turun. Tubuhku perlahan memudar. Dan setitik air mata meluncur turun di pipi.
Bip.Bip.Bip.
“Ya?” Tanya Siska kesal, menekan tombol speaker phone. Dia sudah berkali-kali memberitahu Donna, sekretarisnya, agar tidak mengganggunya
sekarang. Apakah Donna tidak mengerti bahwa dia sedang menerima klien penting? Prospek bisnis masa depan yang buntut-buntutnya akan membayar gaji Donna selama berbulan-bulan. Plus bonus. Dasar sekretaris tidak becus! Apa sih susahnya menolak orang?
“Maaf, ganggu, Bu. Ini—”
Siska menyambar gagang telepon secepat-cepatnya. Giginya gemeletak menahan kekesalan ketika mulutnya mendesis marah, “Tadi saya kan sudah bilang, saya tidak mau diganggu!”
“Ya, Bu. Tapi---”
“Bilang saja saya sedang keluar. Tidak ada di dalam ruangan! Mengerti?!”
“Mengerti, Bu. Saya---”
Segerombolan anak muda mengintip dari ujung lorong. Sedari tadi, rupanya mereka sedang mengamati tingkah laku Indah.
“Mbak Indah? Mbak Indah Prati?”
Indah berhenti melangkah mendengar panggilan itu. Dia menoleh. Senyumnya mengembang lebar ala iklan pasta gigi. “Ya. Ada apa?”
Empat anak muda yang semuanya mengenakan jins dan berambut semodel bergegas mendatangi Indah. Senyum keempatnya tampak ceria.
“Mbak Indah boleh minta tanda tangannya, ya?”
Keempatnya menyorongkan empat buku ke tangan Indah. Senyum membingkai sempurna di wajah Indah yang sumringah. Tangannya merogoh-rogoh tasnya, mencari-cari bolpoin.
“Untuk siapa saja?” Tanya Indah. Tutup bolpoin ditariknya dengan gigi.
Rosi menutup telepon dengan hati galau. Barusan Indah menelepon, mengabarkan bahwa ayah mereka terserang stroke hari ini. Kesepuluh jari tangan Rosi gemetar hebat sehingga gagang telepon terjatuh keras di pesawatnya.
Di luar terdengar suara gonggongan anjing Labrador hitam miliknya yang bernama Bubu. Tidak berhenti, sambung menyambung menjadi satu, seperti sedang kesurupan. Pikiran Rosi tersungkur seketika ketika dia berjalan bergegas melintasi ruangan menuju suara tersebut. Gonggongan anjing yang ribut selalu membuatnya sedikit senewen.
Dia menyibak tirai, melongokkan kepalanya di jendela. Tubuh besar Bubu hanya terlihat sebagian. Hanya sepasang tungkai belakangnya yang kokoh serta ekornya yang tidak berhenti mengibas-ngibas liar. Anjing itu sedang menandak-nandak, melompat-lompat, dan menyalak nyaring. Tidak terdengar geraman galak ataupun gonggongan mengancam. Melihat dan mendengar kondisi seperti ini, berarti Bubu dalam keadaan gembira.
Rosi berjalan keluar menuju kebun.
Hari ini adalah hari pertama awal bulan. Udara lembap, sedikit dingin, menerpa pipinya. Rosi berjinjit, melewati beberapa bagian tanah basah yang terciprat air dan atap rumah. Hujan mengguyur sedikit-sedikit semenjak kemarin. Suhu cuaca turun sedikit, memberikan suasana alam yang kaku, kerasa, serta beku. Pagi itu tidak terlalu berangin, tapi daun-daun kering terlihat melayang tepat di ujung kaki Rosi.
“Ayahku kena stroke.”
Tangan Tanti berhenti di udara sehingga nyaris menyenggol panik plastik mainan anak-anak yang bertumpuk-tumpuk dari ukuran terkecil sampai yang terbesar.
“Apa katamu?” Pernyataan sahabatnya mengejutkan Tanti dari lamunannya.
“Ayahku kena stroke ulang Novera tenang.
“Kok bisa?” Sejenak Tanti bertanya-tanya sendiri mengapa mulutnya menyemburkan komentar seperti itu. Itu pertanyaan tolol. Tanti menggigit bibir cemas, berharap temannya tidak tersinggung dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya tanpa pikir panjang.
Tanpa terpengaruh reaksi Tanti, Novera menggosok hidung sambil mengamati sepotong krayon kuning. Dalam beberapa detik, terasa
kekosongan menyelinap di ruangan kelas. Tanti menatap sahabatnya dengan mata sedih dan prihatin mengenai pengumuman tersebut.
Aku masih berdiri di pojok kesayanganku. Saat ini Nung tidak berada di sofa favoritnya, tentu saja. Kucing-kucing mengeong-ngeong memelas, mungkin kelaparan karena sudah seharian Nung tidak berada di rumah ini. Kasihan juga melihat mereka. Tapi aku yakin, Nung akan kembali besok. Kucing-kucing manja itu pasti bertahan. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Menurutku sebaiknya mereka juga diet.
Semburat cahaya kuning menembus tirai jendela, menyorotkan bias keemasan ke dalam rumah. Nung pasti akan pulang bersama keempat anak perempuannya. Empat anak perempuan kembarnya…
Betapa menyenangkan.
Kenangan-kenangan itu kembali. Bagai hantu yang tidak mau pergi. Bagai putaran waktu yang mengkristal.
Tabel IV.1.1 Analisis Wacana Novel “Dimsum Terakhir” Prolog
Hal Yang Diamati
Elemen Keterangan
Tematik Topik Situasi hidup 4 orang anak kembar dengan kesibukannya masing-masing dalam lingkup pekerjaan dan tempat tinggal yang berbeda. Kabar sakitnya sang ayah akan membuat mereka berempat untuk berhenti sejenak dari segala kesibukannya. Skematik Story Dimulai dari cerita masa lalu ketika sang ibu, Anas
melahirkan 4 anak kembar perempuan.
Sang ibu selalu dapat mengawasi seluruh isi rumah dari tempat abunya berada, yaitu di meja
sembahyang. Lalu diikuti oleh cerita kehidupan Siska sebagai seorang profesionalisme, kehidupan Indah sebagai seorang penulis, Rosi yang sangat menyukai bunga dan Novera seorang guru TK. Mereka
berempat dikejutkan oleh kabar buruk, yakni Nung, ayah mereka terkena stroke. Terutama Indah yaitu satu-satunya anak Nung yang bertempat tinggal di Jakarta, yang seharusnya lebih dulu mengetahui kondisi papanya ketimbang Siska yang sedang bekerja di Singapura, kemudian kembali pada sudut pandang si ibu yang tetap menjaga rumah, ia sangat menantikan kepulangan Nung bersama keempat anak perempuannya.
Semantik Latar “Sepuluh tahun telah berlalu. Aku menghela nafas…Seikat bunga krisan berwarna kuning yang diletakkan di dalam vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, disanalah tempat abuku berada.” “Sejuta kenangan berhamburan turun. Tubuhku perlahan memudar. Dan setitik air mata meluncur turun di pipi.”
Maksud “Aku berdiri di pojok kesayanganku…Dari sini aku mengawasi seluruh isi rumah. Tidak banyak yang berubah. Gorden berwarna hijau dengan motif daun-daun tampak masih sama, namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci…”
“Seluruh permukaan lantai masih dilapisi keramik yang itu-itu saja…Warna catnya sedikit kusam, tapi masih bagus dipandang. Nung pasti belum tertarik untuk mengecat ulang…”
Prolog Analisis
Tema atau inti pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator adalah mengenai gambaran situasi kehidupan empat anak kembar dengan kesibukannya masing-masing. Hidup dalam lingkup pekerjaan dan tempat tinggal yang berbeda. Kabar sakitnya sang ayah membuat mereka berempat untuk berhenti sejenak dari segala kesibukannya. Tema besar ini dapat dilihat dengan jelas mulai dari penceritaan Siska yang sibuk dengan pekerjaannya, kemudian diikuti dengan penceritaan ketiga karakter selanjutnya.
Dalam hal skema atau urutan wacananya, penceritaan dimulai dari peran sang Ibu yang melihat “semuanya”. Sang Ibu yang selalu berdiri di pojok kesayangannya, yaitu meja sembahyang. Dari tempat tersebut, ia mengawasi seluruh isi rumah. Kemudian dilanjutkan dengan kisah kehidupan Siska yang digambarkan menjadi seorang profesional yang berkarakter koleris. Dilanjutkan dengan kisah Indah yang berprofesi sebagai penulis, Rosi yang tinggal di Puncak, menjalankan usaha sekaligus hobinya, lalu Novera yang bekerja sebagi guru TK. Konflik atau masalah bahwa ayah mereka terkena stroke muncul satu-persatu ketika mengisahkan kehidupan mereka masing-masing. Akhir dari paragraf prolog ini pun menceritakan bahwa sang Ibu selalu memperhatikan seisi rumah dan menantikan suami dan keluarganya untuk berkumpul kembali.
Makna yang ingin dikedepankan dalam wacana ini dapat dilihat dari elemen latar dan maksud. Latar yang dipilih menentukan kearah mana
pandangan khalayak hendak dibawa. Elemen latar dapat dilihat pada kalimat berikut ini:
“Sepuluh tahun telah berlalu. Aku menghela nafas. Meja sembahyang terlihat jelas di ruang keluarga. Abu jatuh dari hio yang sedikit lagi habis terbakar, membuat sebagian meja tampak kotor. Patung Dewi Kwan Im berdiri anggun disana, diapit dua api yang menyala oleh minyak. Seikat bunga krisan berwarna kuning yang diletakkan di dalam vas tampak sedikit mengering. Di sampingnya, disanalah tempat abuku berada.”
Pada bagian prolog novel ini, pengarang ingin menyampaikan latar yang membawa khalayak masuk ke budaya-religi masyarakat Cina. Hal ini merupakan latar utama yang digunakan pengarang dalam keseluruhan cerita dalam novel Dimsum Terakhir. “Aku” sebagai sudut pandang orang pertama menyampaikan bahwa si tokoh memiliki peran sebagai orang yang menonton/melihat peristiwa di dalam rumah tersebut. Deskripsi tersebut mengekspresikan bahwa si pengarang tidak ingin menceritakan secara eksplisit bahwa yang sedang berbicara ini adalah roh. “sepuluh tahun telah berlalu” yang berarti sudah sepuluh tahun si tokoh meninggalkan rumah tersebut. Seseorang yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu, pastilah salah satu dari anggota keluarga tersebut. Deskripsi mengenai meja sembahyang erat sekali dengan tradisi budaya-religi masyarakat Cina yang mengatakan bahwa pihak bumi dapat berkomunikasi kepada pihak langit (orang yang sudah meninggal) melalui sesajen/sembahyang. Hal ini jelas terlihat pada kalimat “Abu jatuh dari hio yang sedikit lagi habis terbakar…” Dalam hal ini manusia yang masih hidup di dunia dapat berkomunikasi dengan leluhur mereka yang sudah lama meninggalkan dunia. Masyarakat Cina mempercayai bahwa para leluhur tetap memperhatikan sanak keluarga
mereka yang ada di dunia. Pihak langit berbicara pada pihak bumi melalui Ramalan/ Kwa Mia/ Ciam si, dan lain-lain. Kepercayaan kepada arwah-arwah leluhur ini masih terdapat dalam masyarakat Cina dewasa ini. Hal ini merupakan salah satu elemen latar yang ingin ditonjolkan oleh pengarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Cina sebelum Khunghucu lahir, sudah menaruh keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan para leluhur yang telah lama meninggalkan dunia tersebut dipandang hidup dalam surga. Oleh karena itu, kisah si tokoh yang bercerita tadi, merupakan gambaran bahwa si tokoh merupakan sosok yang sangat sayang dan perhatian akan orang-orang yang tinggal dalam rumah tersebut. Kalimat yang mengatakan “disanalah tempat abuku berada” merupakan cerminan bahwa seseorang tersebut dikremasi. Sehingga abunya pun diletakan dekat meja sembahyang di ruang keluarga.
Maksud dari bagian ini disajikan secara implisit. Terlihat dari latar yang digunakan. Tokoh yang sudah meninggal, tetapi tetap bisa mengomentari kehidupan di bumi. Pengarang tidak secara langsung memaparkan bahwa siapa yang sedang berbicara tersebut. Khalayak dibiarkan untuk menyimpulkan sendiri, karakter mana yang sedang berbicara. Khalayak dapat menyimpulkan hal tersebut dari munculnya kalimat berikut:
“Aku berdiri di pojok kesayanganku. Televisi menyala di ruang keluarga. Cahayanya berpendar lembut. Suaranya rendah. Aku ingin tahu apakah Nung dapat mendengar suara televisi dari sofa tempatnya berbaring. Mungkin dia tidak terlalu memerhatikan isi berita. Mungkin ada berita lain yang memenuhi kepalanya. Aku tidak tahu...”
Kalimat diatas menjelaskan bahwa tokoh yang sedang berbicara adalah sosok yang dapat melihat segalanya dari satu tempat. Deskripsi ruangan di dalam rumah menandakan bahwa si tokoh sudah lama meninggalkan rumah tersebut. Hal ini dapat dibaca dalam kalimat berikut:
“Dari sini aku mengawasi seluruh isi rumah. Tidak banyak yang berubah. Gorden berwarna hijau dengan motif daun-daun tampak masih sama, namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci. Debu menempel setia disana. Bufet kecil tempat deretan foto berbingkai. Lukisan pemandangan yang menempel di tembok. Beberapa plakat penghargaan tampak usang. Keanggunannya hilang termakan usia.
Seluruh permukaan lantai masih dilapisi keramik yang itu-itu saja. Jika ada insinyur menyempatkan diri datang ke rumah ini, aku tahu apa yang akan dikatakannya. Rumah kuno. Tua renta. Ketinggalan mode. Sudah ringkih. Payah. Bla, bla, bla…
Aku melempar pandangan seluas-luasnya. Warna catnya sedikit kusam, tapi masih bagus dipandang. Nung pasti belum tertarik untuk mengecat ulang. Di pojok dinding sana, tampak kursi goyang tua yang sampai sekarang masih sering digunakan.”
Dari kalimat “namun terlihat sedikit kotor karena jarang dicuci. Debu menempel setia disana.” mendeskripsikan bahwa rumah itu tidak terlalu diurus dan berantakan. Tidak ada seorang pun yang tinggal disana kecuali Nung. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa Nung adalah seorang pria, dan roh yang sedang berbicara adalah tokoh sang ibu yang sudah meninggal. Kalimat “Dinding bisu menjadi saksi serangkaian perjalanan hidup beberapa jiwa.” menggambarkan bahwa rumah tersebut pernah ditempati oleh beberapa orang, yaitu anak-anaknya.
IV.1.2 BAB I
SATU
PESAWAT Novera baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan sempurna. Penerbangan dari Yogyakarta tidak makan waktu lama dan sangat tenang. Tidak ada turbulensi atau guncangan apapun.
Novera berdiri bersama-sama penumpang lain. Pesawat tidak terlihat penuh, hanya ada beberapa kursi yang terisi. Secara teratur dia melangkah keluar dari kabin pesawat bersama penumpang-penumpang lain. Dia melangkah cepat dan efisien menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika tiba di luar, dia menoleh ke sana kemari mencari tumpangan. Seorang sopir taksi gelap menghampirinya.
“Mau kemana, Bu?”
Di Bandara dan gerbang kedatangan yang berbeda, pesawat lain baru saja mendarat. Seperti biasanya, penerbangan dari Singapura selalu berlalu dengan mulus. Siska duduk full gaya di kursi penumpang First Class. Kacamata hitamnya tidak lepas membingkai wajahnya. Hari ini dia mengenakan baju serba cokelat. Bahkan tas jinjingnya pun berwarna senada.
Tapi Rosi senang mendengar komentar itu. Dia tidak ingin jadi perempuan yang berbentuk lembut dengan lekukan tepat di setiap sudut. Rosi bahagia dengan kondisinya. Rosi bersyukur setengah mati.
“Kamu lapar nggak? Bisa kita istirahat sebentar? Kita makan dulu yuk.”
Rosi sadar Dharma sedang bolak-balik memandanginya penuh kekaguman. Mata Dharma sarat akan emosi.
“Oke aja, Babe. Aku nggak keberatan.”
Selain itu, menstruasi Rosi juga terlambat datang. Ketika Siska, Indah, dan Novera mendapat menstruasi pertama pada sekitar usia tiga belas tahun, menstruasi pertama Rosi hadir pada usia dua puluh tahun. Rosi sendiri tidak terlalu peduli pada masalah menstruasi yang terlambat ini. Tapi
Mama sangat…sangat peduli. Rosi dibawa ke sana kemari untuk berobat, mencari tahu apa yang salah dengan ritme tubuhnya. Mulailah petualangan medis Rosi berkunjung ke aneka dokter spesialis, sinshe, sampai terapi alternatif. Untunglah akhirnya Rosi mendapat menstruasinya.
Diatas semua itu, Rosi menyimpan rahasia besar. Rahasia yang tidak pernah dia ungkapkan kepada siapa pun dalam keluarganya. Meski dia mempunyai keinginan kuat untuk membagi rahasia itu kepada seseorang yang dapat mengerti dirinya, ada kekuatan yang menjaga agar perasaan itu tidak diketahui. Rahasia yang membelitnya membuatnya resah sepanjang usia remaja. Rahasia itu sungguh membingungkan pada permulaan dan menjadi semakin rumit ketika dia bertambah dewasa.
Semuanya berawal pada saat payudaranya berhenti tumbuh. Dengan kadar kekacauan emosi tinggi, Rosi tidak merasa dirinya sebagai “dirinya”. Dia tidak merasa tumbuh pada tubuh yang tepat. Justru kebalikannya, Rosi merasa dirinya perempuan. Jiwanya seratus lelaki.
Rosi adalah lelaki yang tumbuh dalam fisik perempuan. Jiwanya lelaki. Tapi tubuhnya perempuan.
Apa istilah asingnya? Transgender. Transeksual. Cewek macho. Cewek kelaki-lakian. Whatever. Apa arti label? Tidak penting.
Yang pasti, Rosi berbeda. Seperti zebra di tengah-tengah kawanan kuda. Seperti gorilla di kawanan simpanse.
Dia tampan tapi juga cantik. Dia maskulin di luar tapi hatinya feminin. Dia Yang, yang kuat, yang terang, yang cerah. Tapi dia terlahir sebagai Yin, yang gelap, yang tenang, yang lembut. Segala perbedaan yang kontras itu jungkir balik. Rosi seperti lukisan yang catnya berantakan.
Lebih gawat lagi, dia dapat menyandang predikat teraneh di antara yang aneh. Paling minoritas diantara yang minoritas. Sudah Cina,
transgender pula. Mana yang lebih gawat daripada itu? Katanya, orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka karena terlalu tertekan di negara ini. Dalam kasus Rosi, lebih mengerikan lagi. Mungkin ini nerakanya neraka.
Apakah ini salah? Jika salah, dimanakah letak salahnya? Apakah kesalahan itu terletak pada perasaan Rosi sendiri? Ataukah kesalahan itu benar-benar terjadi pada dirinya, jiwa yang berdiam tidak pada tempatnya?
Rosi bingung. Rosi sedih. Rosi depresi.
Pelariannya adalah hidup semaunya. Cuek. Tidak peduli. Tidak ingin mendengarkan kata-kata orang… Emangnya gue pikirin? Dia melawan semua peraturan itu apaan sih? Hanya buatan orang-orang sok “normal” saja kok.
Masa-masa ceria Rosi sebagai kanak-kanak lenyap seperti kotoran tersiram air di dalam kakus. Masa-masa puber berlalu dengan gamang. Perasaan suka terhadap lawan jenis tidak tumbuh dalam dirinya. Hanya perempuan berlalu lalang. Oh ya, begitu banyak, Beybeh! Dengan hura-hura,
clubbing, dan pesta-pesta malam yang tiada habis-habisnya, Rosi berharap menemukan kedalaman dalam dirinya.
Peace on earth. Peace in heart.
Dan perempuan terakhir adalah Dharma…
“Saya tidak suka pakai rok!”
“Tapi kan rok ini pemberian tante Lusi. Apalagi sekarang mereka sekeluarga mau datang kemari. Pakailah sekali-sekali, Rosi. Jangan bikin malu Mama.”
“Uuh, Mama juga sih! Kenapa mau nerima barang bekas segala. Kayak orang susah aja.”
“Rosi…Rosi…Jangan ngomong begitu. Bagaimana sih kamu ini? Ingat kata A Kong, jangan pernah menolak pemberian orang. Nanti pemali. Nggak punya hoki. Rezeki nggak akan ngalir pada keturunan kita.”
“Alaaa, Mama. Masih dengerin kata A Kong yang udah mati. Udah ketinggalan zaman tuh. Uzur. Gitu aja mesti bawa-bawa hoki segala.”
“Hus, jangan ngomong kasar seperti itu. Tidak baik. Pokoknya, dengar ya. Kamu harus dengar kata Mama. Kalau Tante Lusi datang, kamu
harus pakai rok. Mama nggak mau lihat kamu pakai kaus dan celana panjang yang itu-itu aja. Cari blus yang warna merah. Masa Imlek pakai baju warna ungu? Kelewatan. Kayak sudah jadi janda, padahal masih perawan. Jangan kaus yang itu-itu aja. Dengar, Rosi? Jangan bantah perkataan Mama.”
Sambil mengentakkan kaki, Rosi keluar dari dapur. Belum lagi