• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Wacana pada Level Praktik Sosial Budaya

BAB V PEMBAHASAN

C. Analisis Wacana pada Level Praktik Sosial Budaya

1. Situasional

Berita tentang “Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme” ini diawali dengan sebuah survei yang dibuat oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kemudian survei itu menunjukkan bahwa kampus dan sekolah rawan terpapar radikalisme. Sedangkan, berita tentang “Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme” dan “Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah” ini menguatkan survei-survei sebelumnya.

Survei pertama, soal radikalisme di kalangan pendidikan, di kampus/SMA, yang dilakukan oleh salah satu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Bambang Pranowo, yang sebenarnya ingin menguatkan peristiwa Bom Surabaya di tahun 2018.66

Pasca-peristiwa pemboman beruntun di Surabaya dan Sidoarjo oleh kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) pada Mei 2018, polisi dan pemerintah memperketat pengawasan baik di jalan ataupun di tempat peribadatan. Orang-orang yang diduga terpapar

66 Wawancara pribadi dengan Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo, Sunudyantoro.

paham radikal langsung diboyong untuk mengikuti program deradikalisasi, agar mendapat pemahaman yang lebih moderat.

Pada 2017, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, melakukan survei tentang bagaimana generasi Z 67 memandang agama, keragaman, dan negara. Survei yang dimulai 1 September - 7 Oktober 2017 itu menyasar 2.181 orang muslim, yang terdiri atas 1.522 siswa, 337 mahasiswa, 264 guru yang tersebar di 34 provinsi, 68 kabupaten, dan kota di Indonesia. Hasil survei tersebut memperlihatkan, sepertiga dari responden setuju bahwa Jihad adalah perang, 1 dari 5 siswa setuju bahwa bom bunuh diri adalah jihad, sepertiga dari mereka juga tidak mempermasalahkan jika orang yang murtad dibunuh, dan sepertiga Generasi Z setuju jika perbuatan intoleran kepada minoritas tidak masalah.

Menurut para responden, sumber rujukan mereka 50,89%

berasal dari media sosial. Hasil survei ini juga mengungkapkan 49% guru dan dosen tidak setuju jika pemerintah melindungi kelompok yang dianggap menyimpang. 86,55% guru dan dosen setuju pemerintah melarang keberadaan kelompok yang dianggap menyimpang.

67Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010, yang disebut juga dengan iGeneration, generasi net atau generasi internet. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian. Dalam satu hari Generasi Z dapat mengakses internet tiga sampai lima jam per hari, 61 persen Generasi Z mengakses internet untuk bermain game dan 90 persen lainnya mengaksesnya melalui ponsel. Dengan kemudahan akses internet, Generasi Z memiliki banyak relasi, tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya.

Hasil survei tersebut memperkuat survei serupa yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pada 2010 lalu.

Lembaga yang dipimpin oleh Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu melakukan survey pada Oktober 2010 hingga Januari 2011. Hasil survei itu mengungkapkan, hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu juga menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2%

membenarkan serangan bom.

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Azyumardi Azra, membenarkan hasil survey itu. Menurutnya, paham radikal -yang menganggap pemahamannya paling benar- juga telah menyusup ke sekolah menengah melalui guru. Ia bahkan mengatakan, bahwa putrinya yang duduk di sebuah sekolah menengah di Jakarta mengungkapkan pengalamannya saat memperoleh pelajaran di kelas. “Saya mengalami sendiri. Putri saya sekolah di sebuah sekolah yang bagus, elite, cukup mahal di Jakarta selatan. Ada satu atau dua gurunya yang kalau mengajar suka menyisipkan pesan-pesan ajaran salafi, yang berpikir hitam putih, atau mengajarkan paham-paham yang kelihatan proradikalisme untuk mengubah keadaan," kata Azyumardi.68

68 Yanuar Jatnika, “Waspadai, Radikalisme Memasuki Ruang Kelas”, https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=

4785 (artikel ini diakses pada 31 Mei 2020, pukul 18.36).

2. Institusional

“Radicalism is one step behind terrorism. Itu yang perlu diwaspadai,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius saat diwawancarai oleh TVOne.69 Isu radikal dan teroris tengah santer digaungkan oleh pemerintah. Bahkan, gerakan menangkal radikalisme menjadi salah satu visi dan misi pemerintah di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Namun, terjadi perbedaan definisi antarinstansi maupun antartokoh, karena pemerintah belum berhasil mendefinisikan apa itu radikalisme. Pada akhirnya tuduhan radikal itu menyasar

69 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri yang ikut kelompok JAD pasca-peristiwa bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018.

Polisi menduga ada pegawai negeri Diawali oleh survei yang dilakukan oleh Bambang Pranowo yang menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Lalu, survei yang dilakukan oleh P3M menunjukkan adanya terpaan radikalisme di masjid pemerintah.

Diawali oleh survei yang dilakukan oleh Bambang Pranowo yang menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Lalu, survei yang dilakukan oleh P3M menunjukkan adanya terpaan radikalisme di masjid pemerintah.

Diawali oleh survei yang dilakukan oleh Bambang Pranowo yang menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Lalu, survei yang dilakukan oleh P3M menunjukkan adanya terpaan radikalisme di masjid pemerintah.

Diawali oleh survei yang dilakukan oleh Bambang Pranowo yang menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Lalu, survei yang dilakukan oleh P3M menunjukkan adanya terpaan radikalisme di masjid pemerintah.

Diawali oleh survei yang dilakukan oleh Bambang Pranowo yang menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Lalu, survei yang dilakukan oleh P3M BNPT membuat sebuah survei yang menunjukkan bahwa kampus dan sekolah rawan terpapar radikalisme.

Gambar 7. 1 Peneliti sedang

mewawancarai Redaktur

Pelaksana Koran Tempo,

Sunudyantoro di Gedung

Tempo, Selasa (7/2).BNPT membuat sebuah survei yang menunjukkan bahwa kampus dan sekolah rawan terpapar radikalisme.

Gambar 7. 2 Peneliti sedang mewawancarai Redaktur

Pelaksana Koran Tempo,

Sunudyantoro di Gedung

Tempo, Selasa (7/2).BNPT membuat sebuah survei yang menunjukkan bahwa kampus dan sekolah rawan terpapar radikalisme.

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 2-3 Juni 2018

“Seleksi Pegawai Negeri Cegah

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Paham Radikal Menular dari

Kampus ke Masjid

Pemerintah”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 10 Juli 2018.

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 30 November 2018.

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 30 November 2018.

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 30 November 2018.

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 30 November 2018.

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme”, headline berita dalam Koran Tempo edisi 30 November 2018.

Tabel 5. 1 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 2 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 3 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 4 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 5 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 6 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 7 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 8 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 9 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 10 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 11 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 12 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 13 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

Tabel 5. 14 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya

kepada satu agama, karena pemerintah tidak memiliki standar seperti apa bentuk radikalisme. Suhardi tidak sepakat bahwa tampilan fisik seperti pria bercelana cingkrang, berjanggut tebal, dan wanita bercadar itu diidentikkan dengan paham radikal. Dalam pemahaman agama Islam, batas aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan. “Jadi, itu hanya masalah budaya saja,”

ujar Suhardi Alius.70

Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, masyarakat Indonesia salah mengartikan makna kata radikal. Ada dua pengertian radikal – negatif dan positif – dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Radikalisme yang positif ini diartikan sebagai upaya untuk mencari alternatif penyelesaian secara benar dengan cara mendalam dan mendasar. Seperti saat Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam melawan kaum Quraisy, juga Soekarno yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, kaum radikal memahami kata radikal sebagai pandangan dan sikap untuk mengubah sistem dengan cara kekerasan.71

Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan

70 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

71 Puti Monarqi, Allizha, “Mahfud MD Jelaskan Beda Makna Radikalisme

Bung Karno dan

Teroris”, https://nasional.kompas.com/read/2020/02/18/07095251/mahfud-md-jelaskan-beda-makna-radikalisme-bung-karno-dan-teroris (artikel ini diakses pada 29 Mei 2020, pukul 18.46 WIB).

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang, yang dimaksud radikal adalah sikap ingin mengubah sistem yang sudah mapan atau telah disepakati dengan cara kekerasan. “Sehingga kalau kita katakan melawan radikalisme, melawan radikal yang diartikan di dalam hukum, bukan radikal yang bagus di dalam filosofi dan pemikiran seperti digagas oleh Bung Karno dan Nabi,” ujar Mahfud kepada Kompas.com.

Suhardi Alius mengaku telah membuat definisi tentang radikalisme, tetapi definisi itu belum juga dikoreksi oleh pemerintah. Ia membatasi empat gerakan radikalisme yang negatif;

1) Intoleransi; 2) Anti Pancasila; 3) Anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); dan 4) Penyebaran paham takfiri (mengafirkan sesama Muslim).72

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rumadi Ahmad menilai bahwa mungkin saja stigma radikal itu pemerintah berikan kepada sebuah kelompok. Namun, masyarakat dapat menilai apakah tindakan labeling yang dilakukan oleh pemerintah itu sesuai atau tidak. Istilah radikal itu sering digunakan oleh masyarakat, entah dengan indikasi pelanggaran HAM atau hanya sekedar memberi peringatan. Rumadi menilai semua itu harus dikontrol bersama termasuk kelompok masyarakat. “Jangan kritis

72 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

terhadap pemerintah, lalu disebut sebagai radikal, bukan seperti itu,” ujar Rumadi kepada tirto.id di Jakarta, (24/10).73

Berdasarkan hasil riset yang Tempo temukan, contoh sikap negatif terhadap agama lain yaitu, seperti memandang iman orang lain itu salah, tidak benar, dan kafir. Mereka menyatakan secara ekspresif iman mereka paling tinggi. Menurut Sunu, orang yang mengimani agama mereka paling tinggi itu baik, tetapi itu semua tidak harus diucapkan dan diserangkan kepada orang lain.

“Misalkan, saya muslim, kamu muslim, dia muslim, pasti mengakui Islam sebagai agama yang paling tinggi. Namun, itu tidak perlu dijadikan sebagai alat untuk menyalahkan orang lain atau merendahkan agama orang lain. Nah, ini kira-kira seperti itu,”

jelasnya.

Menurut Tempo, beragama dengan cara yang baik itu lebih kepada bagaimana individu itu menjalankan suatu agama setelah mempersepsinya. Lebih kepada bagaimana cara beragama seseorang, setelah dia menerima ajaran agama itu. Namun, juga ada semacam kajian dan diskusi tentang apakah radikalisme itu perilaku individu atau ada sesuatu yang memicu.

3. Sosial

Sunudyantoro menggambarkan dahulu masyarakat berbicara tentang teroris yang jauh di sana. Namun, saat ini masyarakat

73 Reja Hidayat, “Kabinet Baru untuk Melawan Radikalisme atau Membungkam Demokrasi?”, https://tirto.id/kabinet-baru-untuk-melawan-radikalisme-atau-membungkam-demokrasi-ekk1 (artikel ini diakses pada 31 Mei 2020, pukul 14.39 WIB).

berbicara tentang keponakan, saudara, dan tetangga yang tinggal di sekitar rumah mereka, yang terpapar terorisme atau ekstrimisme beragama.

Sunu memberikan contoh bahwa dirinya pernah tinggal di Surabaya dan Lamongan. Sekarang, dia membicarakan keponakannya, anak dari gurunya yang pintar secara akademis, tetapi kemudian terpapar radikalisme. Tiba-tiba, posisinya sudah berada di wilayah Iraq dan Suriah. Kemudian, ada seorang anak yang suka bergaul dan nongkrong di kafe bersama temannya, menyukai dunia fotografi, dan ikut kelompok fotografi di kampusnya. Akan tetapi, dia juga terpapar radikalisme melalui media sosial seperti facebook. Tiba-tiba, posisinya sudah berada di Iraq juga.

Ada juga seorang pegawai negeri yang bernama Joko. Namanya bukan Muhammad ataupun Ahmad. Belakangan diketahui, dia baru saja belajar agama secara instan. Kemudian, tiba-tiba dia juga sudah berada di Iraq. Nah, situasi-situasi seperti ini yang membuat Tempo merasa berkepentingan untuk memberitakan informasi mengenai ekstrimisme beragama dan terorisme itu, yang dijadikan sebagai cover story di Koran Tempo.

“Kalau kita berdiskusi dengan seseorang seperti Mun’im Sirri, seorang intelektual Islam yang berasal dari Madura, juga seorang dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang saat ini sedang mengajar di Amerika, dia mengatakan bahwa fakta sebenarnya ketika para pelaku teror melakukan perbuatan itu dengan mengatasnamakan agama,” jelasnya.

Faktanya, para pelaku mengutip sebuah ayat di dalam Alquran dan Hadits. Faktanya seperti itu. Artinya, ada sesuatu yang membuat orang itu terinspirasi dan bersemangat untuk melakukan terorisme berdasarkan teks-teks agama itu. Kemudian, untuk orang seperti ini, bisa jadi karena ajaran agama.

Sebagai bentuk pencegahannya itu diperlukan cara untuk mengajarkan ajaran agama dengan metode-metode yang moderat dan pemahaman yang lebih kontekstual. Misalnya, lebih kepada ide-ide tentang revivalisme agama. Agama sebagai nilai, agama berbicara soal keadilan dan demokrasi. Itu betuk penerapan agama sebagai nilai. Nah, kira-kira seperti itu yang didiskusikan oleh Mun’im Sirri.

Kalau berbicara apakah radikalisme dan terorisme itu disebabkan oleh perilaku individu atau faktor agama, faktanya, pelaku teror itu tergerak karena suatu agama ditambah mereka mengutip suatu ayat. Sunu mengambil contoh nyata dari peristiwa bom di Surabaya. Para pelaku jauh-jauh datang ke Surabaya.

Pelaku pemboman itu berasal dari Banyuwangi, tetapi tinggal di Surabaya.

“Di pagi hari setelah sholat shubuh, pelaku berinteraksi dengan keluarganya. Dia melakukan perpisahan dengan anaknya bahwa mereka akan menuju surga. Dia mendoktrin anaknya bahwa bunuh diri itu tidak terasa sakit. Rasanya hanya seperti digigit seekor semut, karena kita akan masuk surga bersama-sama. Kira-kira seperti itu. Mungkin itu perbuatan individu ketika dia mempersepsikan suatu ajaran agama,” ujarnya.

No. Unsur Praktik Sosial

Budaya Hasil Temuan

1. Situasional

Pada Mei 2018, ada peristiwa pemboman beruntun di Surabaya dan Sidoarjo oleh kelompok simpatisan ISIS, JAD. Diduga, ada pegawai negeri yang ikut kelompok ini. Sebelumnya, LaKIP membuat sebuah survei di sekolah menengah yang menunjukkan bahwa 52 persen pelajar setuju dengan aksi radikalisme.

Kemudian, P3M membuat sebuah survei yang menunjukkan bahwa khotib di masjid pemerintahan terpapar paham radikal. Isu radikal dan teroris tengah santer digaungkan oleh pemerintah. Bahkan, gerakan menangkal radikalisme menjadi salah satu visi dan misi pemerintah di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

2. Institusional

Terjadi perbedaan definisi antarinstansi maupun antartokoh, karena pemerintah belum berhasil mendefinisikan apa itu radikalisme. Pada akhirnya tuduhan radikal itu menyasar kepada satu agama, karena pemerintah tidak memiliki standar seperti apa bentuk radikalisme.

Tampilan fisik seperti pria bercelana cingkrang, berjanggut tebal, dan wanita bercadar itu diidentikkan dengan paham radikal. Istilah radikal itu sering digunakan oleh masyarakat, entah dengan indikasi pelanggaran HAM atau hanya sekedar memberi peringatan (mengkritisi pemerintah).

Tempo merupakan media independen yang dimiliki dan dijalankan oleh staf yang mayoritas Muslim. Pemimpin Redaksi Koran Tempo, Malela Mahargasarie merasa tak nyaman dengan istilah “islami”–dan kebanyakan orang Indonesia tidak menganggap Tempo seperti itu–

sebanyak 80 persen anggota staf redaksi lembaga pemberitaan itu adalah Muslim. “Kami tidak mengibarkan bendera Islam,” kata Malela.

Namun, beberapa mantan wartawan Republika lebih suka menekankan hubungan antara Tempo dan Islam kosmopolitan. Malela lebih cenderung menyegmentasi pasar Islam, tetapi namanya bukan Islam.

D. Islam Radikal

Belum ada kesepakatan di antara para ahli untuk menggambarkan gerakan radikal, sehingga memunculkan banyak terminologi, antara lain Neo-Khawarij, Khawarij abad ke-20, Islam radikal (Emmanuel Sivan), dan fundamentalisme. Fazlur Rahman menyebutnya sebagai gerakan revivalisme atau neo-fundamentalisme untuk membedakan gerakan modern klasik

Dia ingin nama Islam diletakkan di latar belakang, bukan untuk dilabeli Islam. Namun, perjuangannya sama.

3. Sosial

Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial, yang dipimpin oleh seorang presiden. Indonesia adalah negara sekuler, yang kebijakan politiknya tidak harus berasal dari ajaran agama dan tidak memiliki satu agama nasional yang resmi. Agama memainkan peran yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Warga negara Indonesia berkewajiban untuk menganut salah satu agama resmi pemerintah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konfusianisme, sedangkan ateisme bukan pilihan.

Indonesia menganut sistem ekonomi demokrasi, yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 45 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah. Sedangkan pers Indonesia menganut paham kebebasan yang bertanggung jawab sosial.

dengan gerakan fundamentalisme post-modernisme sebagai sebuah gerakan anti Barat.74

Adapun Esposito dan Dekmejian menggunakan istilah Islamic Revivalism dibandingkan istilah fundamentalisme yang dinilainya sebagai istilah yang khas Protestan. Al-Jabiri dan Gilles Kepel menyebut gerakan tersebut sebagai ekstremisme Islam, sedangkan el-Fadl menyebutnya gerakan Islam puritan.

Menurut Azyumardi Azra, radikalisme merupakan bentuk ekstrem dari revivalisme. Revivalisme merupakan intensifikasi keislaman yang lebih berorientasi ke dalam (inward oriented), dengan artian pengaplikasian dari sebuah kepercayaan hanya diterapkan untuk diri pribadi. Adapun bentuk radikalisme yang cenderung berorientasi keluar (outward oriented), atau kadang dalam penerapannya cenderung menggunakan aksi kekerasan lazim disebut fundamentalisme.75

Terjadi perbedaan definisi antarinstansi maupun antartokoh, karena pemerintah belum berhasil mendefinisikan apa itu radikalisme. Pada akhirnya tuduhan radikal itu menyasar kepada satu agama, karena pemerintah tidak memiliki standar seperti apa bentuk radikalisme. Tampilan fisik seperti pria bercelana cingkrang, berjanggut tebal, dan wanita bercadar itu diidentikkan dengan paham radikal. Istilah radikal itu sering digunakan oleh

74 Rodin, Dede, “Islam dan Radikalisme: Telaah atas Ayat-ayat

“Kekerasan” dalam al-Qur’an” dalam Jurnal Addin, (Semarang: UIN Walisongo Semarang, 2016), Vol. 10, No. 1, h. 33.

75 Azyumardi Azra, Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 46-47.

masyarakat, entah dengan indikasi pelanggaran HAM atau hanya sekedar memberi peringatan (mengkritisi pemerintah).

Redaktur Pelaksana Koran Tempo, Sunudyantoro tidak memutlakkan bahwa ini disebabkan oleh faktor pribadi atau agama. Namun, faktanya para teroris mengutip suatu ayat. Salah satu ayat dalam Alquran yang sering mereka jadikan pijakan yaitu surat At-Taubah ayat 36:

“... dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Menurut Sunu, diperlukan upaya-upaya untuk melawan situasi seperti itu. Misalnya, media massa dengan cara memberitakan dan mencerdaskan para pembacanya, supaya para pembaca memahami agama dengan cara pemahaman-pemahaman agama yang moderat.

Mereka mengakui adanya ijtihad di kalangan ulama. Mereka memahami agama tidak berdasarkan teks yang seolah-olah hidup di ruang kosong. Ketika teks itu turun ada sesuatu yang bersifat

Mereka mengakui adanya ijtihad di kalangan ulama. Mereka memahami agama tidak berdasarkan teks yang seolah-olah hidup di ruang kosong. Ketika teks itu turun ada sesuatu yang bersifat