• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Wacana pada Level Praktik Wacana (Discource

BAB V PEMBAHASAN

B. Analisis Wacana pada Level Praktik Wacana (Discource

Unsur Praktik Diskursus Hasil Temuan 1. Produksi Teks (Pihak Media)

a) Sisi individu wartawan

Delapan belas tahun berkarier di Tempo, Sunudyantoro selalu mendeklarasikan dirinya sebagai Muhammadiyah dan NU, karena ia dekat dengan keduanya dan lebih memilih beragama

dengan jalan moderat.

Meskipun Sunudyantoro mengaku sebagai golongan putih dalam Pemilu Pilpres 2014 dan 2019, tetapi ia menegaskan bahwa Tempo dan dirinya lebih menolak Prabowo dan lebih mendukung Joko Widodo.

61 Manajemen Media Penyiaran, “Organisasi Media”, https://mmp8blog.wordpress.com/2017/02/27/organisasi-media/ (artikel ini diakses pada 1 Juni 2020, pukul 14.18 WIB).

b)

Sisi hubungan wartawan dengan struktur organisasi media

Saat ini, Sunudyantoro menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo.

c)

Praktik kerja saat produksi berita dimulai dari pencarian berita, penulisan, editing, hingga menjadi sebuah tulisan di media

Tema dan angle berita diusulkan oleh seluruh awak redaksi melalui rapat redaksi secara online pada 08.00. Kemudian, tema dan angle yang telah diusulkan oleh awak redaksi, dikontribusikan ke para reporter di lapangan untuk dicari bahan berita.

Para reporter bisa menulis berita di mana saja, tidak harus di kantor redaksi. Para reporter mulai mengirimkan berita sekitar pukul 16.00 untuk diedit oleh redaktur dan editor. Waktu redaktur untuk mengedit berita dimulai pukul 18.30 ketika semua bahan sudah terkumpul. Lalu, semua naskah berita diharapkan sudah masuk pada 22.00-23.00.

d) Individu dan profesi jurnalis

Sunudyantoro lahir pada 1971. Ia mengenyam pendidikan dasar hingga menengah akhir di Trenggalek, dan mengambil jurusan Hubungan Internasional di UGM. Ia memulai profesi sebagai wartawan pada 1997. Dua tahun pertama, dia menjadi wartawan di Surabaya Pos. Pada tahun berikutnya, dia menjadi wartawan tabloid Detak.

Lalu pada 2002, dia menjadi wartawan Tempo.

Struktur organisasi Tempo berbentuk heterarki (horizontal). Dalam hal ini, semua anggota memiliki otoritas dan kekuasaan yang sama.61

Semua anggota dapat mengajukan tema berita dan semua tema berita diputuskan dalam rapat redaksi.

2) Bagaimana promosi kenaikan jenjang itu berdasarkan rapor dengan nilai 3 A. Tempo menggunakan marriage system atau merit system, yang penilaiannya berdasarkan profesionalisme.

3) Bagaimana proses pengambilan

keputusan yang dibuat?

Pengambilan keputusan dilakukan melalui rapat redaksi yang melibatkan semua kru dan kompartemen di redaksi melalui whatsapp group online untuk menentukan tema berita, angle, dan cover yang menjadi unggulan tiap desk.

f)

Pola dan rutinitas pembentukan berita di meja redaksi

Pada 08.00, Tempo mengadakan rapat redaksi yang melibatkan semua kru dan kompartemen di redaksi melalui whatsapp group online untuk menentukan tema berita, angle, dan cover yang menjadi unggulan tiap desk. Tempo mengutamakan kepentingan publik untuk menurunkan suatu berita.

2. Konsumsi Teks (Pihak Khalayak)

Bagaimana teks tersebut dikonsumsi oleh khalayak?

Selama ini tidak ada protes dari para pembaca.

Sebagai media massa, semua orang mengetahui bahwa posisi Tempo itu independen, lebih memilih jalan moderat, dan melawan semua bentuk radikalisme dan terorisme.

Semua wartawan di Koran Tempo diberikan kesempatan untuk mengusulkan tema berdasarkan narasumber yang ia temui, bisa sesuatu yang ia lihat, seperti rapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), rapat kementerian, dan rombongan presiden yang ia ikuti.

Usulan itu bisa diusulkan dan disampaikan oleh para wartawan kapan saja.62

Ketika mengusulkan topik di rapat redaksi, seorang wartawan politik paling tidak sudah harus memiliki 30 persen dari seluruh cerita yang sudah diverifikasi, bukan usulan yang kosong sama sekali. Ketika topik telah disetujui, wartawan tinggal melakukan konfirmasi saja di tahap berikutnya, seperti keterlibatan aktor-aktor tertentu dalam sebuah kasus yang didadalangi oleh para pemegang kekuasaan atau hak narasumber untuk menyangkal meskipun wartawan telah memiliki data yang menguatkan sebuah tuduhan. Data pendukung fakta menjadi penting dan wartawan harus memiliki minimal 30 persen informasi dari keseluruhan peristiwa. Porsi ini disebut sebagai daging cerita, yang bisa digali untuk membentuk rangkaian narasi. Usul tanpa daging cerita, niscaya akan ditolak di rapat-rapat redaksi Tempo.63

“Keesokan pagi, pukul 08.00 WIB, kami adakan rapat redaksi yang melibatkan semua pihak kru di redaksi melalui Whatsapp Group online. Di situ, misalnya ada kompartemen nasional, metropolitan, ekonomi dan bisnis, seni budaya, dan luar negeri. Kemudian, kami buat perencanaan terutama untuk cover utama dan di dalam ada cover untuk desk

62 Wawancara pribadi dengan Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo, Sunudyantoro.

63 Tempo Institute, Jurnalistik Dasar: Resep dari Dapur Tempo, Jakarta:

Tempo Institute, 2017, h. 141.

nasional, ekonomi dan bisnis, dan lainnya. Cover ini adalah unggulan dari tiap desk itu, yang diusulkan pada pukul 08.00 WIB. Dengan mempertimbangkan tema apa yang ingin diambil, seperti kurang tajamnya angle dalam pemberitaan, kurang tepatnya informasi yang digali oleh wartawan, dan kurang tepatnya narasumber,” ujar pria yang akrab disapa Mas Sunu ini.64

Kemudian, Sunudyantoro menjelaskan bahwa hasil dari rapat itu didistribusikan ke Staf Redaksi, lalu ke Reporter di lapangan untuk mencari bahannya. Untuk Senin dan Selasa, para redaktur melakukan rapat pukul 13.00 WIB. Sedangkan Rabu, rapat dilakukan oleh para redaktur pada pukul 15.00 WIB, karena pada pukul 13.00-14.00 WIB ada rapat opini. Adapun Jumat, rapat biasanya dilakukan kurang lebih satu setengah sampai dua jam, dimulai pada pukul 14.00 WIB.

Sejak pagi, para redaktur mengirim tugas ke para wartawan di lapangan untuk mengecek seperti apa bahannya, apakah bahan dan angle-nya kurang tajam. Angle mana yang lebih baik untuk diangkat menjadi cover berdasarkan bahan itu. Bisa jadi, para wartawan sudah punya bahan, karena mereka bekerja setiap hari, jadi ada perkembangan.

“Kita memperbarui bahan yang sudah didapat sebelumnya dan diperkaya dengan perkembangan hari ini.

Sejak pagi, mereka sudah menghubungi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kementerian, istana, dan lainnya. Biasanya pada sore hari, bahannya sudah mulai mereka konfirmasi.

Mereka dapat menulis berita dimana saja, karena teknologi saat ini sudah sangat maju. Dulu, mereka harus pergi ke

64 Wawancara pribadi dengan Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo, Sunudyantoro.

kantor untuk menulis berita. Namun, saat ini mereka dapat menulis dimana saja, seperti di kantor, DPR, dan kafe.

Biasanya, mereka sudah mulai menulis sekitar pukul 17.00 WIB dan saya mendapat jatah untuk mengedit berita setelah maghrib, karena naskah sudah mulai masuk sekitar pukul 19.00 WIB. Sekitar pukul 22.00-23.00 WIB, semua naskah untuk desk Nasional dan Politik itu diharapkan sudah masuk,” jelas pria kelahiran 71 ini.65

Sunudyantoro menjelaskan bahwa desk Nasional dan Politik yang ia tangani memiliki empat halaman ditambah tiga halaman untuk cover story. Jadi total semua ada tujuh halaman di Koran Tempo untuk jatah desk Nasional dan Politik. Jumlah halaman Koran Tempo yaitu ada 32 halaman. Ada desk softnews, yang bisa diturunkan atau diproses lebih awal, seperti apa performa pertandingan sepak bola antara Manchester United dengan Liverpool. Biasanya, sebagian naskah softnews sudah selesai pukul 17.00 WIB. Namun, untuk cover story pasti para redaktur menunggu informasi yang paling terbaru (update) sampai malam hari.

Berita dengan judul “Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme” edisi 2-3 Juni 2018, ditulis oleh Hussein Abri Dongoran dan Ahmad Faiz. Berita dengan judul “Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah” edisi 10 Juli 2018, ditulis oleh Arkhelaus Wisnu. Sedangkan, berita dengan judul

“Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme” edisi 30 November 2018, ditulis oleh Arkhelaus Wisnu dan Indri Maulidar.

65 Wawancara pribadi dengan Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo, Sunudyantoro.

Berita tentang “Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme” ini diawali dengan sebuah survei yang dibuat oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kemudian survei itu menunjukkan bahwa kampus dan sekolah rawan terpapar radikalisme. Sedangkan, berita tentang “Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme” dan “Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah” ini menguatkan survei-survei sebelumnya.

Survei pertama, soal radikalisme di kalangan pendidikan, di kampus/SMA, yang dilakukan oleh salah satu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Bambang Pranowo, yang sebenarnya ingin menguatkan peristiwa Bom Surabaya di tahun 2018.

“Kami perhatian (concern) terhadap isu ini karena terorisme adalah kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime), yang menjadi musuh kita semua. Sehingga ini menjadi agenda siapa pun, tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia pada tingkat global, agar ada upaya-upaya dan mekanisme untuk mencegah radikalisme itu.”

Nah, faktanya ada banyak temuan dan peristiwa yang dikuatkan dengan sebuah survei bahwa sekolah itu adalah tempat paling rawan dan paling sering dijadikan sebagai ajang untuk penanaman radikalisme itu. Seperti sikap-sikap yang tidak toleran belakangan diketahui di antaranya melalui lembaga rohani Islam (Rohis).

Dahulu, lembaga rohis ini bernama Sesi Kerohanian Islam (SKI).

Secara dampak (impact), daya tarik (magnitude), dan ketertarikan (interest) orang terhadap isu radikalisme, itu yang kemudian menjadi alasan Tempo untuk menurunkan cover yang

berkaitan dengan radikalisme di Koran Tempo. Menurut Sunudyantoro, radikalisme ini lebih tepat disebut sebagai ekstrimisme beragama.

Dalam pemberitaan ini, Tempo ingin mengingatkan publik tentang bahaya ekstrimisme beragama, yang di antaranya menjadi cikal bakal terjadinya kegiatan atau tindakan terorisme. Dilihat dari sisi substansi materi pemberitaan; pertama, ada newspage hasil penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang adanya dugaan radikalisme. Kedua, baru saja ada peristiwa bom bunuh diri di Surabaya. Para pelaku pemboman menyebarkan pemahaman ke warga dan mendeklarasikan diri mereka sebagai pendukung Islamic State Iraq and Syria (ISIS), dan mengancam kelompok minoritas. Itu yang membuat Tempo ingin menyadarkan masyarakat agar berhati-hati terhadap pemaparan paham itu.

Evaluasi dan penilaian terhadap pernyataan narasumber itu pasti. Kalau Tempo mengutip semua perkataan masukan narasumber ke dalam berita, pasti tidak muat. Namun yang jelas, ada proses bagaimana narasumber itu dijadikan sebagai pijakan informasi di koran itu.

Karena berita ini berbasis survei, Tempo berusaha menjadikan survei itu sebagai basis utama laporan atau tulisan. Tempo ingin memberikan warna suara lain, yang barangkali dapat mengimbangi (counterbalance) dan mempertanyakan dari sisi metodologi atau sisi sampling. Hal-hal kritis seperti itu tetap Tempo munculkan dalam pemberitaan. Supaya ada diskursus, disfungsi, dan berbagai

dialog cerdas, ketika Tempo menampilkan atau mengetengahkan berita-berita.

Basis pemberitaan ini merupakan basis penelitian. Pasti ada sesuatu yang dominan di dalamnya. Ketika para wartawan bertemu dan mewawancarai narasumber, wartawan harus menantang (challenge) narasumber, apakah informasi ini benar seperti itu atau tidak. Supaya ada proses diskusi dan dialog untuk saling mengadu gagasan (discourse). Tidak mungkin jika wartawan hanya diam sambil merekam pembicaraan, itu semua hanya akan menjadi bahan mentah saja.

Kalau sudah membicarakan hal seperti ini, pasti Tempo membicarakan soal perspektif. Jadi independensi berita itu juga menunjukkan perspektif. Tempo pasti tidak akan menyediakan ruang dan tidak akan setuju dengan berbagai pandangan yang pro terhadap radikalisme. Media massa pasti tidak setuju dengan berbagai pandangan orang yang mendukung gerakan terorisme. Itu pasti, karena posisi pers adalah sebagai edukator masyarakat untuk melawan itu semua.

Yang dimaksud dengan media itu netral atau independen adalah para awak redaksi bisa menentukan pilihan-pilihan berita berdasarkan perspektif atau persepsi yang dimiliki newsroom itu.

Semua yang kontra terhadap wacana ini tetap Tempo dengarkan, tetapi bukan berarti itu menjadi sesuatu yang bersifat dominan dalam wacana pemberitaan ini. Karena Tempo ingin mengedukasi masyarakat agar tidak menjadi bagian dari gerakan radikalisme atau terorisme itu.

Menurut Sunu, publik sering salah mempersepsikan bahwa media itu harus netral dan objektif. Artinya, pernyataan yang pro dan kontra harus seimbang. Misalnya, perkataan seseorang yang pro terhadap radikalisme itu 5.000 sampai 50.000 karakter.

Sebaliknya, perkataan seseorang yang kontra terhadap radikalisme itu 5.000 karakter.

Dari awal, Tempo memang sudah mengambil posisi dan perspektif terhadap bagaimana ketika sebuah agama itu masuk kepada seseorang atau diajarkan kepada orang lain dengan persepsi tentang Islam damai, Islam moderat, dan Islam toleran. Tempo pasti tidak akan memberikan ruang untuk berbagai pandangan yang bersifat pro terhadap gerakan radikalisme atau terorisme.

Tidak ada urgensi bagi Tempo untuk memberikan ruang kepada kelompok radikal untuk berbicara tentang penelitian ini. Namun, yang lebih memiliki urgensi untuk berbicara adalah dari pihak kampus maupun pemerintah.

Tempo menemukan sebuah studi, survei, dan penelitian seperti ini. Apa yang Anda lakukan sebagai mahasiswa? Masyarakat sama-sama menolak tindakan radikalisme dan terorisme. Sebagai Menteri Agama, apa yang Anda lakukan? Ada sebuah survei yang mengungkapkan bahwa BUMN dan masjid di kantor pemerintah menjadi sarang penyemaian ide-ide radikal dan ekstrem dalam beragama. Apa yang Anda lakukan sebagai Menteri BUMN, agar tempat Anda tidak dijadikan sebagai tempat untuk menyebarkan nilai-nilai ekstrem dalam beragama?

Menurut Sunu dan Tempo, perkara cover both side bahkan multi side penelitian ini bukan kepada kelompok yang tidak setuju

terhadap kelompok yang pro radikal, melainkan kepada lembaga ataupun institusi yang berkaitan dengan penyebaran radikalisme atau ekstremisme beragama itu.

Pernyataan dari pihak kampus dan lembaga pendidikan seperti Sekolah Menengah Atas (SMA) perlu Tempo minta, karena dianggap sebagai tempat penyebaran paham tersebut. Seperti itulah bentuk dari cover both side yang kami sajikan, bukan terhadap kelompok yang pro radikalisme. Pernyataan dari Kementerian Agama, Staf Ahli Kementerian BUMN, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pengurus Pusat Muhammadiyah, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), itu yang lebih relevan, dibandingkan pernyataan orang yang pro terhadap gerakan radikalisme itu. Yang mana, tidak ada dampak edukasi publik.

Di antara fungsi media adalah untuk mengedukasi publik.

Supaya publik memiliki perspektif yang benar, dapat membuat keputusan yang masuk akal, dan semua hal memiliki nalar. Seperti itulah fungsi edukasi. Jadi dalam pemberitaan ini, tidak ada urgensi dari kelompok yang pro terhadap radikalisme, karena ini adalah hasil kajian.

Menurut Sunu, model media seperti Tarbiyah.net dan Eramuslim.com, yang bernafaskan Islam, mungkin merasa berkepentingan untuk memberitakan kajian ini secara berimbang.

Namun, bagi Tempo sebagai media mainstream atau umum, yang tidak bercirikan agama apapun, menilai tidak ada urgensi terhadap orang yang pro terhadap radikalisme. Mengapa Tempo memberikan peluang kepada kelompok yang pro terhadap gerakan

terorisme, yang masyarakat lawan bersama? Jadi unsur cover both side bahkan multi side pemberitaan ini ada di pertanyaan kepada Kementerian Agama, Kementerian BUMN, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pengurus Pusat Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), pihak sekolah maupun kampus.

Tempo pasti menolak mewawancarai narasumber tunggal (one sided). Keragaman narasumber dan perspektif itu penting, supaya menambah kekayaan cara pandang, perspektif, dan informasi.

Posisi wartawan itu bukan netral, melainkan independen.

Independen itu adalah memberitakan sebuah berita tanpa tekanan oleh kelompok lain. Misalnya, dia tidak dipengaruhi oleh pemilik modal, tidak ditekan oleh militer, tidak diminta oleh kementerian agama. nah, itulah contoh dari independen dari independensi media massa.

Independen itu adalah para wartawan memberitakan suatu berita karena tidak dipesan oleh pemilik modal, Front Pembela Islam (FPI), Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Mereka memberitakan itu karena ada kepentingan publik di situ, kepentingan untuk mengedukasi masyarakat.

Sedangkan, netral itu dapat digambarkan sebaliknya, wartawan dipengaruhi oleh pihak lain, tetapi dia tidak bersikap. Misalnya, ketika ada tindakan radikalisme dan terorisme, dia bersikap netral.

Dalam sebuah pemberitaan, wartawan meletakkan pernyataan orang yang pro terhadap radikalisme di kolom sebelah kanan, dan dia juga memberikan kesempatan pelaku pemboman untuk

bersuara di kolom sebelah kiri. Seperti itulah bentuk dari netral.

Tidak pada posisi kemudian bersikap. Sedangkan media massa itu bersikap. Jadi titik poinnya bukan pada netralitasnya, melainkan kepada independesinya.

C. Analisis Wacana pada Level Praktik Sosial Budaya