• Tidak ada hasil yang ditemukan

WACANA ISLAM RADIKAL PADA PEMBERITAAN KORAN TEMPO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "WACANA ISLAM RADIKAL PADA PEMBERITAAN KORAN TEMPO"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Sosial (S.Sos.)

Disusun oleh : Lailaturahmah 11140510000198

PROGRAM STUDI JURNALISTIK

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H / 2020 M

(2)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Strata Satu Sosial (S.Sos.)

Disusun oleh:

Lailaturahmah NIM. 11140510000198

Pembimbing:

Dr. Suhaimi, M. Si.

NIP. 1967 0906 1994 031 002

PROGRAM STUDI JURNALISTIK

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H / 2020 M

(3)
(4)
(5)

i

ABSTRACT

Lailaturahmah, Wacana Islam Radikal pada Pemberitaan Koran Tempo, 2020

This study examines the Radical Islamic discourse in Koran Tempo. This study aims to determine how the description of Radical Islamic in Koran Tempo by looking at aspects of the text, discourse practices, and social culture. The data collection process was carried out with document studies and in-depth interviews with the Managing Editor of Koran Tempo, Sunudyantoro. Material obtained from interviews was transcribed and analyzed by researchers. The analysis shows that the Koran Tempo's liberal and open view of Radical Islam, has shown an agreement with the government's statement that a radical is a terrorist. This discourse study is very useful for understanding the actual radical terms.

Keywords: Tempo, Islam, Radical, Radical Islamic, Norman Fairclough

Abstrak

Studi ini meneliti tentang wacana Islam Radikal pada pemberitaan Koran Tempo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran Islam Radikal di Koran Tempo dengan melihat aspek teks, praktik wacana, dan sosial budaya. Proses pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen dan wawancara mendalam dengan Redaktur Pelaksana Koran Tempo, Sunudyantoro. Bahan yang diperoleh dari wawancara ditranskripsikan dan dianalisis oleh peneliti. Hasil analisis menunjukkan bahwa pandangan liberal dan terbuka Koran Tempo tentang Islam Radikal, telah menunjukkan persetujuan terhadap pernyataan pemerintah bahwa seorang yang radikal sudah pasti teroris. Studi wacana ini sangat berguna untuk memahami istilah radikal yang sebenarnya.

Kata kunci: Tempo, Islam, Radikal, Islam Radikal, Norman Fairclough

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Segala puji bagi Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa, Robbul

‘aalamiin, atas limpahan nikmat dan kasih sayang-Nya, peneliti dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Sang Pintu Ilmu, Baginda Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah menjadi cahaya bagi semesta alam dan menjadi teladan kehidupan.

Peneliti ingin berterima kasih kepada pihak yang telah berkontribusi dan membantu peneliti dalam menyusun dan menyelesaikan karya ilmiah ini. Ucapan terima kasih ini diberikan kepada:

1. Ibu dan kakak tercinta, Taslimah dan Khairunisa, juga Muhammad Ismail yang tak pernah lelah mendoakan, mendukung, dan menyemangati peneliti untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

2. Para guru spiritual peneliti: K.H. Muhammad Rojun, K.H.

Zuhri Ali, K.H. Mas’ud Abdul Qodir, K.H. Ahmad Baduhun Badawi, K.H. Hafidzin, K.H. Marzuqi, K.H.

Ahmad Nurhadi, yang telah mendoakan peneliti selama menyelesaikan penelitian ini.

3. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), Suparto, M.Ed., Ph.D.; Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Siti Napsiyah, M.S.W.; Wakil Dekan Bidang Adkum, Dr. Sihabudin Noor, M.A.; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Drs. Cecep Castrawijaya, M.A.;

serta para staf maupun dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan peneliti ilmu dan pengalaman berharga selama perkuliahan.

4. Ketua dan Sekretaris Program Studi Jurnalistik, Kholis Ridho, M.Si. dan Dra. Musfiroh Nurlaili, M.A., yang selalu memperjuangkan Jurnalistik menjadi sebuah program studi mandiri.

5. Pembimbing Akademik Jurnalistik (A) 2014, Ade Masturi, M.A, yang selalu memberikan peneliti arahan dan nasehat dalam penyusunan tema penelitian ini.

(7)

iii

6. Dosen Pembimbing Skripsi, Dr. Suhaimi, M.Si., yang tak pernah lelah memberikan peneliti dukungan dan arahan dalam membimbing penelitian ini.

7. Para penguji sidang munaqoshoh, Dr. Ismail Cawidu, M.Si.

dan Rochimah Imawati, M.Si., yang telah mengoreksi kekurangan dalam penelitian ini dan memberikan peneliti kesempatan untuk melangkah ke jenjang karir berikutnya.

8. Redaktur Pelaksana Kompartemen Nasional dan Hukum Koran Tempo, Sunudyantoro, yang telah bersedia untuk diwawancarai peneliti, juga memberikan informasi dan pencerahan untuk penelitian ini.

9. Staf Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Tempo, Agatha, yang telah membantu peneliti dalam wawancara penelitian ini.

10. Dosen Pembimbing Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2017, Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si., yang telah membimbing peneliti dalam pengabdian masyarakat.

11. Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (BAZIS) Jakarta Selatan, yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

12. Sahabat diskusi, Ikrimah Afifah, yang setia menemani dan menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiran peneliti.

13. Para sahabat seperjuangan Jurnalistik 2014, yang senantiasa menemani dan mewarnai hari-hari peneliti saat duduk di bangku kuliah.

14. Para sahabat KKN 141 ‘Anthophila’, yang senantiasa menemani dan mewarnai hari-hari peneliti saat berada di Desa Leuwibatu.

15. Para sahabat Radio Dakwah dan Komunikasi (RDK) 107,9 FM, yang senantiasa memberikan peneliti pengalaman baru di dunia komunikasi penyiaran dan jurnalistik.

16. Para sahabat LSO Sketsa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), yang senantiasa memberikan peneliti pengalaman baru di bidang Tari Ratoh Jaroe.

17. Para sahabat Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat dan Jakarta Raya, yang senantiasa membimbing dan memberikan peneliti pengalaman baru di dunia kepenulisan.

(8)

iv

18. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Komfakda) Cabang Ciputat, yang telah memberikan peneliti pengalaman baru di dunia perpolitikan.

19. Bani Cokro dan Bani Walad, yang tak pernah lelah mendukung dan mendoakan peneliti dalam penelitian ini.

Peneliti hanya bisa berterima kasih kepada mereka, karena tanpa kehadiran mereka, penulis tak dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Semoga Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa membalas kebaikan mereka.

Jazaakumullaahu ahsanal jazaa’.

Jakarta, 23 Oktober 2020

Peneliti,

Lailaturahmah

(9)

v

DAFTAR ISI

ABSTRACT ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 7

F. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13

A. Landasan Teori ... 13

1. Analisis Wacana Model Norman Fairclough ... 13

2. Islam, Radikalisme, dan Terorisme ... 49

3. Islam Radikal ... 58

4. Kriteria Nilai Berita dan Narasumber ... 59

5. Jurnalisme dalam Alquran dan Hadits ... 61

B. Kajian Pustaka ... 64

C. Kerangka Berpikir ... 68

... 68

BAB III PROFIL KORAN TEMPO ... 69

A. Sejarah Koran Tempo ... 69

B. Visi dan Misi Koran Tempo ... 75

C. Struktur Redaksi Koran Tempo... 76

D. Komposisi Kepemilikan Saham PT. Tempo Inti Media, Tbk .. 76

E. Rubrik Koran Tempo ... 77

(10)

vi

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 79

1. Analisis Wacana Berita Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme, Edisi 2-3 Juni 2018 ... 79

2. Analisis Wacana Berita Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah, Edisi 10 Juli 2018 ... 87

3. Analisis Wacana Berita Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme, 30 November 2018 ... 94

BAB V PEMBAHASAN ... 106

A. Analisis Wacana pada Level Teks ... 106

B. Analisis Wacana pada Level Praktik Wacana (Discource Practice) ... 117

C. Analisis Wacana pada Level Praktik Sosial Budaya (Sociocultural Practice) ... 129

D. Islam Radikal ... 139

E. Kriteria Nilai Berita dan Narasumber ... 144

F. Jurnalisme dalam Alquran dan Hadits ... 144

BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 146

A. Kesimpulan ... 146

B. Implikasi ... 147

C. Saran ... 147

DAFTAR PUSTAKA ... 148

LAMPIRAN ... 152

(11)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 7. 1 Foto bersama Peneliti dan Redaktur Pelaksana Koran Tempo ... 157 Gambar 7. 2 Wawancara Peneliti dengan Redaktur Pelaksana Koran Tempo ... 161

(12)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Elemen Dasar Model Norman Fairclough ... 19 Tabel 2. 2 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata Bahasa dalam Bentuk Proses ... 23 Tabel 2. 3 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata Bahasa dalam Bentuk Partisipan ... 24 Tabel 2. 4 Representasi dalam Kombinasi Anak Kalimat ... 27 Tabel 2. 5 Kategori Partisipan Utama dalam Media Menurut Norman Fairclough ... 30 Tabel 2. 6 Intertekstualitas Menurut Norman Fairclough ... 34 Tabel 2. 7 Kerangka Berpikir Masalah Penelitian (Sumber: Hasil Analisis Peneliti) ... 68 Tabel 2. 8 Kerangka Berpikir Analisis Penelitian ... 68 Tabel 3. 1 Struktur Redaksi Koran Tempo 2020 ... 76 Tabel 3. 2 Komposisi Kepemilikan Saham PT Tempo Inti Media per Juli 2020, Tbk ... 76 Tabel 5. 1 Situasional dalam Praktik Sosial Budaya... 132

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

“Radicalism is one step behind terrorism. Itu yang perlu diwaspadai,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius saat diwawancarai oleh TVOne.1 Isu radikal dan teroris tengah santer digaungkan oleh pemerintah. Bahkan, gerakan menangkal radikalisme menjadi salah satu visi dan misi pemerintah di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Namun, terjadi perbedaan definisi antarinstansi maupun antartokoh, karena pemerintah belum berhasil mendefinisikan apa itu radikalisme. Pada akhirnya tuduhan radikal itu menyasar kepada satu agama, karena pemerintah tidak memiliki standar seperti apa bentuk radikalisme.

Suhardi tidak sepakat bahwa tampilan fisik seperti pria bercelana cingkrang, berjanggut tebal, dan wanita bercadar itu diidentikkan dengan paham radikal. Dalam pemahaman agama Islam, batas aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan. “Jadi, itu hanya masalah budaya saja,” ujar Suhardi Alius.2

1 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

2 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

(14)

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Muhammad Iqbal menyayangkan narasi terorisme sering terjebak pada stigmatisasi kelompok ajaran Islam dengan narasi radikalisme agama. Menurutnya, akibat kesalahan definisi pada makna radikal, orang Islam sering menjadi korban stigma. Radikal adalah sebuah pikiran atau sikap lompatan melakukan perubahan. Tidak ada masalah pada makna asli radikal. Namun, sikap radikal itu diwujudkan dengan tindak kejahatan yang melawan norma sosial, maka radikalisme menjadi masalah.3

Pada kejahatan internasional, penembakan massal di Amerika hanya disebut sebagai pembunuhan massal dan bukan disebut sebagai tindakan terorisme. Selain itu, berbagai gerakan separatis di Papua dan Maluku juga tidak disebut sebagai teroris, padahal nyata mengancam eksistensi kesatuan negara.

Media sering kali memberitakan peristiwa pemboman sebagai tindakan terorisme. Ketika terjadi peristiwa pemboman di suatu tempat, maka media langsung menstigmakan peristiwa tersebut sebagai ulah dari teroris. Secara terminologi, kata ‘terorisme’ dan

‘radikalisme’ memang berbeda. Terorisme merupakan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Namun,

3 Syaiful, H. (2018). ‘Penanganan Terorisme Berikan Stigmatisasi Kelompok Agama Tertentu’, Antara News. Dapat dilihat di https://www.antaranews.com/berita/710573/penanganan-terorisme-berikan- stigmatisasi-kelompok-agama-tertentu.

(15)

pemerintah dan media terlalu sering melabelkan orang Islam sebagai seorang teroris, radikal, bahkan antitoleran.

Suhardi Alius mengaku telah membuat definisi tentang radikalisme, tetapi definisi itu belum juga dikoreksi oleh pemerintah. Ia membatasi empat gerakan radikalisme yang negatif; 1) Intoleransi; 2) Anti Pancasila; 3) Anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); dan 4) Penyebaran paham takfiri (mengafirkan sesama Muslim).4

Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm dalam bukunya menyatakan bahwa pers bertindak sebagai fourth estate (kekuasaan keempat) dalam proses pemerintahan, yaitu setelah kekuasaan pertama (Lembaga Legislatif), kekuasaan kedua (Lembaga Eksekutif), dan kekuasaan ketiga (Lembaga Yudikatif).5 Media merupakan kaki tangan antarpemerintah dengan masyarakat. Sebagian masyarakat menjadikan media sebagai tolak ukur keakuratan sebuah informasi untuk menyaring berita hoax (berita bohong). Sebagian masyarakat percaya bahwa media menjadi kaki tangan pemerintah. Adapula yang menganggap bahwa informasi di media tidak seratus persen benar dan akurat.

Selama 2017, lebih dari seratus perusahaan media massa, baik berupa media cetak, media televisi, media

4 Hasil wawancara Suhardi Alius dengan Balques Manisang dalam acara Fakta TVOne edisi “Melawan Radikalisme, Siapa yang Radikal?” pada 4 November 2019.

5 Uchjana, Onong, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003. h. 88-89.

(16)

radio, maupun media online yang telah lolos verifikasi administrasi dan faktual oleh Dewan Pers, salah satunya adalah Koran Tempo.6 Koran Tempo dinilai paling independen dibanding tiga media cetak nasional lainnya yang terbit di Indonesia seperti Kompas, Media Indonesia, dan Republika.

Koran Tempo terbit sejak 2001 dan terkenal berkat jurnalisme investigasinya. Selain itu, Koran Tempo menggunakan elemen-elemen layout yang tidak konvensional dan memuat banyak grafik informasi.

Sebanyak 80 persen pembacanya dari kalangan menengah ke atas berumur antara 20-44 tahun. Koran Tempo, seperti juga majalahnya menganggap dirinya sendiri sebagai

“bagian dari ujung tombak modernisasi masyarakat Indonesia”, sebagai “clearing house”, dan juga terkenal di luar negeri sebagai media yang progresif dan demokratis.7

Pada 10 Juli 2018, Koran Tempo menempatkan sebuah berita di halaman muka dengan judul ‘Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah’

dengan mengilustrasikan gambar seorang pria berdasi sedang membuka mulutnya sambil memegang sebuah megafon. Dalam tulisannya, Koran Tempo

6 Salman, M. (2018). ‘171 Perusahaan Media Lolos Verifikasi Faktual Dewan Pers’, Okezone News. Dapat dilihat di https://news.okezone.com/read/2018/01/20/337/1847793/171-perusahaan- media-lolos-verifikasi-faktual-dewan-pers.

7 Keller, Annet, Tantangan dari Dalam: Otonomi Redaksi di 4 Media Cetak Nasional: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Jakarta:

Friedrich Ebert Stiftung, 2009. h. 57.

(17)

mengklasifikasikan antara radikalisme tingkat tinggi, sedang, dan rendah. Dalam pemberitaannya, Koran Tempo berupaya untuk mengatakan bahwa Islam itu radikal, baik pemahaman dengan menggunakan istilah seperti kata

‘nonmuslim’ bahkan dengan kata ‘Allah’ – Tuhannya orang Islam.

Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian.

Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan, serta paham politik.8

Sebuah berita jika diberitakan secara massif, maka akan memengaruhi opini masyarakat. Lebih dari sepekan, Koran Tempo menyuguhkan headline (halaman depan) dengan isu terorisme dan radikalisme beserta ilustrasi gambar yang menarik perhatian khalayak.

Bagaimana bentuk Islam Radikal yang digambarkan oleh Koran Tempo dalam pemberitaannya? Apakah stigma radikal itu disebabkan karena agama atau perbuatan individu? Karena hal itu, peneliti memilih Koran Tempo sebagai subjek penelitian dan merumuskan sebuah judul

“Wacana Islam Radikal pada Pemberitaan Koran Tempo”.

B. Batasan Masalah

Peneliti mengambil berita “Seleksi Pegawai Negeri Cegah Radikalisme” edisi 2-3 Juni 2018, “Paham Radikal

8 Fathurrokhmah, Fita, Ideologi Radikalisme dalam Islam tentang Wacana Homoseksual di Media Massa (Jurnal), 2018.

(18)

Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah” edisi 10 Juli 2018, dan “Kampus dan Sekolah Rawan Terpapar Radikalisme” edisi 30 November 2018

C. Rumusan Masalah

Bagaimana wacana Islam Radikal pada pemberitaan Koran Tempo dari segi teks, praktik, dan sosial budaya?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana wacana Islam Radikal pada pemberitaan Koran Tempo dari segi teks, praktik, dan sosial budaya.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis

Dengan menggunakan beberapa teori komunikasi massa yang telah dikembangkan oleh para pakar komunikasi, peneliti berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu kajian referensi untuk menunjang mata kuliah Jurnalistik.

b. Manfaat Praktis

Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan bagi para calon jurnalis di media massa agar ke depannya tidak asal dalam memberitakan sesuatu. Terlebih jika pemberitaan tersebut mengandung unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Bahkan pemberitaan tersebut harus didahului riset dan klarifikasi mendalam dari kedua belah pihak terkait, sehingga

(19)

pemberitaan tersebut nantinya tidak menjurus pada fitnah.

E. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian

Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan membentuk cara pandangnya terhadap dunia.9 Sebuah paradigma merepresentasikan suatu cara pandang yang mendefinisikan sifat ‘dunia’, tempat atau posisi individu di dalamnya dan jarak kemungkinan hubungan antara ‘dunia’ dengan bagian-bagiannya. Paradigma ini didasarkan pada ontology, epistemology, dan metodology, dapat ditunjukkan sebagai satu set basic beliefs (metafisik) yang berkaitan dengan prinsip-prinsip utama (pokok).

Paradigma dalam penelitian analisis wacana banyak mengacu pada paradigma kritis, dimana perspektif kritis melihat realitas dengan cara yang berbeda dalam memahami realitas sosial. Realitas bukan diciptakan oleh alam (nature), tetapi oleh orang (people). Ini berarti orang- orang mempunyai kekuasaan dalam memanipulasi, mengkondisikan, dan melakukan brain washing terhadap orang lain untuk memahami sesuatu dan menginterpretasikan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

9 Seto, Indiwan, Semiotika Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013. h. 36

(20)

Dalam studi penelitian isi media, pandangan kritis melihat bahwa media bukanlah saluran yang bebas dan netral, melainkan ditunggangi oleh kelompok tertentu dan digunakan untuk mendominasi kelompok yang tidak dominan. Oleh sebab itu, media dipenuhi oleh prasangka, retorika, bahkan propaganda.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif justru dipakai untuk mengetahui dan menganalisis apa yang tidak terlihat yaitu isi komunikasi yang tersirat.10

3. Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, karena lebih mudah menyesuaikannya bila berhadapan dengan kenyataan ganda. Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden.

Metode ini juga lebih peka menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola nilai yang dihadapi.11

4. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah Koran Tempo selaku salah satu media mainstream di Indonesia. Objek penelitian ini pun terkait isu pemberitaan tentang “Islam Radikal”

10 Seto, Indiwan, Semiotika Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013. h. 27.

11 Seto, Indiwan, Semiotika Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013. h. 34-35.

(21)

dengan tampilan visualisasi infografis, gambar, maupun tampilan berita secara umum.

5. Waktu dan Tempat Penelitian a. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan sejak peneliti melaksanakan seminar proposal pada Januari 2019 hingga Mei 2020, dan wawancara mendalam dengan pihak Tempo dilakukan pada 7 Februari 2020.

b. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Redaksi Koran Tempo di Gedung Tempo, Jalan Palmerah Barat Nomor 8, Jakarta Selatan.

6. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode penelitian analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan studi dokumen, yaitu dengan menelaah teks media massa serta sumber-sumber lain yang terkait dengan topik penelitian. Selain itu, pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh keterangan serta menganalisis data sehingga data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai objek yang sedang diteliti. Ada dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder:12

12 Rijal Habibulloh, “Analisis Data Kuantitatif dan Statistik Inferensial”, http://www.rijalhabibulloh.com/2015/03/analisis-data-kuantitatif- dan-statistik.html (diakses pada 24 April 2019, pukul 00.05).

(22)

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data ini diperoleh dari wawancara dan observasi.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari kantor redaksi dengan cara mempelajari catatan tentang dokumen lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti berupa database dan arsip Koran Tempo.

7. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini dikaji sejumlah teks berita – baik berupa teks tertulis, gambar maupun foto – terkait dengan dugaan isu pemberitaan Islam sebagai ladang terorisme yang dilakukan oleh pihak Koran Tempo. Dari begitu banyak berita mengenai “Terorisme dan Radikalisme”, peneliti sengaja mengambil beberapa berita sebagai unit analisis untuk keperluan penelitian ini.

8. Pedoman Penulisan

Pedoman penulisan karya ilmiah ini mengacu pada buku ‘Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)’ melalui Surat Keputusan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2017.

(23)

F. Sistematika Penulisan

Agar penelitian skripsi ini lebih jelas dan terarah, maka peneliti membagi sistematika penulisan menjadi beberapa bab, sebagaimana berikut:13

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini, peneliti akan memaparkan latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini, peneliti akan menguraikan dan menggunakan teori analisis wacana model Norman Fairclough, disertai beberapa kerangka konseptual dan kerangka berpikir yang digunakan untuk menganalisis masalah penelitian.

BAB III PROFIL KORAN TEMPO

Pada bab ini, peneliti akan memberikan beberapa informasi yang berisi profil, sejarah singkat, visi dan misi, dan struktur organisasi Koran Tempo.

BAB VI DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Pada bab ini, peneliti akan menyajikan data dan menguraikan temuan penelitian dari

13 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi), Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2017. h. 19.

(24)

pemberitaan mengenai wacana Islam Radikal di Koran Tempo.

BAB V PEMBAHASAN

Pada bab ini, peneliti akan menguraikan keterkaitan antara latar belakang, teori, dan rumusan teori baru dari penelitian.

BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN Pada bab ini, peneliti akan menguraikan kesimpulan, implikasi, saran, daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan kelengkapan lainnya.

(25)

13

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Analisis Wacana Model Norman Fairclough

Pandangan kritis akan memberikan gambaran jelas bagaimana kepentingan lah yang bermain dalam proses produksi konten media. Menurut McQuail, terdapat lima cabang utama teori kritis tentang media yaitu Marxisme Klasik, Ekonomi Politik, Frankfurt School, Teori Hegemoni, dan Cultural Studies.

Marxisme Klasik melihat media sebagai alat dari kelas dominan dan sarana yang digunakan untuk mempromosikan kepentingan kelompok kapitalis. Media menyalurkan ideologi dari kelas berkuasa yang memungkinkan untuk menekan kelompok-kelompok tertentu. Hal ini berkaitan dengan cara bagaimana sebuah realitas atau teks ditafsirkan dan dimaknai dengan cara pandang tertentu.

Teori Ekonomi Politik Media menyalahkan kepemilikan media sebagai penyebab sakitnya masyarakat.

Isi media merupakan komoditas yang diperjualbelikan di pasar dan informasi yang disampaikan dikontrol oleh kepentingan pasar. Frankfurt School melihat media sebagai sarana untuk mengkonstruksi budaya, memberikan penekanan pada ide daripada barang materi.

(26)

Dalam pandangan mereka, media dilihat sebagai alat untuk mengunggulkan ideologi kelompok elit. Media melakukan manipulasi simbol dan citra untuk keuntungan kepentingan tertentu dari kelompok dominan.

Teori hegemoni melihat bagaimana dominasi dari kepalsuan ideologi terhadap kondisi yang sesungguhnya.

Ideologi tidak disebabkan oleh sistem ekonomi semata, tetapi secara mendalam membonceng pada setiap aktifitas masyarakat. Studi media dalam perspektif kritis menghasilkan beragam pertanyaan yang berusaha mengungkap isi media secara kritis, seperti bagaimana ideologi media bisa diterima oleh khalayak? Bagaimana ideologi mampu menghadirkan kesadaran bagi pengikutnya? Bagaimana media menghadirkan kontestasi kelompok kuat dan marjinal dalam kerangka pemberitaan?

Bagaimana ideologi jurnalis berbenturan dengan ideologi pemilik dan kepentingan ekonomi lainnya? Mekanisme apa yang dilakukan media untuk menampilkan ideologi dominan? Siapa yang diuntungkan dalam pemberitaan dan siapa yang dirugikan?

Pendekatan kritis memandang bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam membentuk subjek berbagai tindakan representasi yang terdapat di dalam masyarakat. Oleh sebab itu, analisis wacana kritis yang juga menggunakan pendekatan kritis menganalisis bahasa tidak saja dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks yang

(27)

dimaksud adalah untuk tujuan dan praktik tertentu.14 Pada dasarnya, analisis wacana ingin memperlihatkan bagaimana kekuasaan saling bertarung.

Analisis wacana lebih memperhitungkan pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori seperti dalam analisis isi. Dasar dari analisis wacana adalah interpretasi.

Analisis wacana model Norman Fairclough ini didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro. Titik perhatian besar dari Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Bahasa secara sosial dan historis adalah bentuk tindakan dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.15

Model yang dikemukakan oleh Fairclough ini sering juga disebut sebagai model perubahan sosial (social change). Karena Fairclough membangun suatu model secara bersama-sama yang mengintegrasikan analisis wacana yang didasarkan pada linguistik, pemikiran sosial, politik, dan secara umum diintegrasikan pada perubahan sosial. Fairclough memusatkan perhatian wacana pada

14 Bidara, Aris, Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media, Jakarta: Kencana, 2012. h. 26.

15 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 285.

(28)

bahasa dan menggunakan wacana untuk menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial.16

Fairclough membagi analisis wacana dalam tiga dimensi, yaitu teks, discourse practice, dan sociocultural practice. Dalam model ini, teks dianalisis secara linguistik dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat. Ia juga memasukkan koherensi dan kohesivitas, bagaimana antarkata atau kalimat tersebut digabung sehingga membentuk pengertian. Semua elemen yang dianalisis tersebut dipakai untuk melihat tiga masalah berikut.

Pertama, ideasional yang umumnya memuat ideologis tertentu. Pada dasarnya, analisis ini ingin melihat bagaimana sesuatu ditampilkan dalam teks yang bisa jadi memuat ideologis tertentu. Kedua, relasi, analisis ini ingin melihat bagaimana konstruksi hubungan di antara wartawan dengan pembaca, apakah teks disampaikan secara formal atau informal, terbuka atau tertutup. Ketiga, identitas, merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas wartawan dan pembaca, serta bagaimana personal dan identitas ini hendak ditampilkan.17

Discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks.

Pada dasarnya, tiap media menghasilkan sebuah teks berita lewat proses produksi teks yang berbeda, seperti

16 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 286.

17 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 286-287.

(29)

bagaimana pola kerja, bagan kerja, dan rutinitas dalam menghasilkan teks. Begitu juga dengan proses konsumsi teks bisa jadi berbeda dalam konteks sosial yang berbeda pula.

Sedangkan sociocultural practice adalah dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks, seperti konteks situasi maupun konteks dari praktik institusi media sendiri dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya dan politik tertentu. Misalnya politik media, ekonomi media, atau budaya media tertentu yang berpengaruh terhadap berita yang dihasilkannya.18

Sebelum ketiga dimensi tersebut dianalisis, kita perlu melihat praktik diskursif dari komunitas pemakai bahasa yang disebut sebagai order of discourse. Order of discourse adalah hubungan di antara tipe yang berbeda, seperti tipe diskursif, ruang kelas, dan kerja, semuanya memberikan batas-batas bagaimana teks diproduksi dan dikonsumsi. Secara sederhana, order of discourse ini seperti layaknya pakaian: pakaian di kantor berbeda dengan ketika tidur, waktu berenang, atau ke pesta. Tentu saja tidak ada larangan memakai pakaian kerja atau renang waktu tidur, tetapi pemakai dibatasi dan disiplinkan lewat bentuk diskursif yang berbeda.19

18 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 287-288.

19 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 288.

(30)

Demikian juga dalam lapangan komunikasi.

Pembicaraan di pasar berbeda dengan pembicaraan di mall;

pembicaraan di rumah berbeda dengan pembicaraan di tempat kerja. Bukan hanya pada struktur wacana dan apa yang dibicarakan, tetapi juga dari pemakaian bahasa yang berbeda pula. Pemakai bahasa menyesuaikan dengan praktik diskursif di tempat dimana ia berada, ia tidak bebas memakai bahasa. Ketika menganalisis teks, perlu dilihat dulu order of discourse dari berita tersebut: apakah berita tersebut berbentuk hardnews, feature, artikel, ataukah editorial.20 Ini akan membantu peneliti untuk memaknai teks, proses produksi dari teks, dan konteks sosial dari teks yang dihasilkan.21

a. Teks

Fairclough melihat teks dalam berbagai tingkatan.

Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana suatu objek digambarkan, tetapi juga bagaimana hubungan antarobjek didefinisikan. Ada tiga elemen dasar dalam model Faircolugh yang dapat digambarkan dalam tabel

20 Dalam teks berita, bentuk dari order of discourse ini terdiri atas beberapa macam seperti artikel, editorial, hardnews, dan feature. Bentuk-bentuk tersebut merupakan pendisiplinan wacana. Editorial dan berita jelas berbeda, yang satu harus objektif sementara yang lain murni opini. Perbedaan dalam praktik diskursif ini akan menghasilkan struktur wacana yang berbeda pada pilihan kosakata, kalimat, atau kutipan. Proses produksi dan konsumsi berita juga berbeda. Bagaimana berita dihasilkan tentu saja umumnya personal. Demikian juga dengan konteks situasi dimana teks tersebut dihasilkan.

21 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 288-289.

(31)

berikut. Menurutnya, setiap teks dapat diuraikan dan dianalisis dari ketiga unsur tersebut.22

Tabel 2. 1 Elemen Dasar Model Norman Fairclough

Menurut Fairclough, representasi dilihat dari dua hal, yakni bagaimana seseorang, kelompok, gagasan ditampilkan dalam anak kalimat dan gabungan atau rangkaian antaranak kalimat.

1. Representasi dalam anak kalimat

Menurut Fairclough, ketika sesuatu tersebut ditampilkan, pemakai bahasa dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, pada tingkat kosakata (vocabulary):

kosakata apa yang dipakai untuk menampilkan dan

22 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 289.

UNSUR YANG INGIN DILIHAT

Representasi

Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apa pun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Relasi

Bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan

digambarkan dalam teks.

Identitas

Bagaimana identitas wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

(32)

menggambarkan sesuatu, yang menunjukkan bagaimana sesuatu tersebut dimasukkan dalam satu set kategori. Apakah peristiwa Ambon dikatakan sebagai pembunuhan, pertikaian, atau konflik?23

Pada edisi 14 Mei 2018, Koran Tempo mengutip sebuah perkataan Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. Sembari merespon tragedi pemboman gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018, Usman menyatakan bahwa pembunuhan secara sengaja terhadap warga sipil tidak pernah dapat dibenarkan. Dari kutipan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa Koran Tempo mengatakan tragedi pemboman gereja di Surabaya sebagai pembunuhan. (Koran Tempo, Tragedi Surabaya Dikecam sebagai Tindakan Biadab, 14 Mei 2018).

Kedua, pilihan didasarkan pada tingkat tata bahasa (grammar). Pemakai bahasa dapat memilih, apakah seseorang, kelompok, atau kegiatan tertentu hendak ditampilkan sebagai sebuah tindakan (action) ataukah sebagai sebuah peristiwa (event). Kata ‘memperkosa’

adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh pelaku.

Bukan sebuah kegiatan atau tindakan ketika kata

‘pemerkosaan’ yang tampil, melainkan sebuah peristiwa.24

Pilihan kosakata yang dipakai ini sangat menentukan bagaimana peristiwa, seseorang,

23 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 290.

24 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 290.

(33)

kelompok, atau kegiatan tertentu dikategorisasikan dalam suatu set tertentu. Karena itu semua berhubungan dengan pertanyaan bagaimana realitas ditandakan dalam bahasa dan bagaimana bahasa itu memunculkan realitas bentukan tertentu. Orang atau kelompok miskin dapat dibahasakan dengan kata miskin, tidak punya, tidak mampu, kurang beruntung, kelompok terpinggirkan, atau bahkan kelompok tertindas. Semua pilihan kata tersebut menimbulkan asosiasi tertentu pada realitas yang diacu. Bukan hanya bagaimana pilihan kata yang dipilih menimbulkan realitas yang berbeda, melainkan juga bagaimana realitas yang sama dapat dibahasakan secara berbeda.25

Pilihan dapat juga dilihat dari pemakaian metafora yang dipakai. Menurut Fairclough, pilihan pada metafora merupakan kunci bagaimana realitas ditampilkan dan dibedakan dengan yang lain. Bukan hanya persoalan keindahan literer, karena metafora bisa menentukan apakah realitas itu dimaknai dan dikategorikan sebagai hal yang positif ataukah negatif.

Pada tingkat tata bahasa, analisis Fairclough memusatkan pada apakah tata bahasa ditampilkan dalam bentuk proses ataukah dalam bentuk partisipan.

Dalam bentuk proses, apakah seseorang, kelompok,

25 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 290-291.

(34)

kegiatan ditampikan dan digambarkan sebagai tindakan, peristiwa, keadaan, ataukah proses mental.

Bentuk tindakan pada umumnya mempunyai anak kalimat dalam struktur transitif (subjek+verb+objek).

Misalnya dalam kalimat, “Oknum polisi memperkosa seorang wanita.”

Bentuk peristiwa pada umumnya mempunyai anak kalimat dalam struktur intransitif (subjek+verb).

Bentuk peristiwa memasukkan hanya satu partisipan saja dalam kalimat, baik subjeknya saja maupun objeknya saja. Misalnya, “Oknum polisi melakukan pemerkosaan” (menghilangkan objek) atau “Seorang wanita mengalami pemerkosaan” (menghilangkan subjek).

Bentuk keadaaan menunjuk pada sesuatu yang telah terjadi. Misalnya dalam kalimat, “Seorang wanita diperkosa” atau “Mahasiswa terbunuh”, hanya menggambarkan keadaan tanpa harus menyebut dan bisa menyembunyikan subjek pelaku tindakan. Bentuk proses mental menampilkan sesuatu sebagai fenomena, gejala umum, yang membentuk kesadaran khalayak tanpa menunjuk subjek atau pelaku dan korban secara spesifik. Misalnya dalam kalimat, “Pemerkosaan terjadi dimana-mana.”

(35)

Tabel 2. 2 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata Bahasa dalam Bentuk Proses

Bentuk Proses

Tindakan Oknum polisi memperkosa seorang wanita.

Peristiwa Oknum polisi melakukan pemerkosaan.

Seorang wanita mengalami pemerkosaan.

Keadaan Seorang wanita diperkosa.

Proses mental Pemerkosaan terjadi lagi di Jakarta.

Bentuk partisipan melihat bagaimana para aktor ditampilkan dalam teks. Apakah aktor ditampilkan sebagai pelaku atau korban dalam pemberitaan.

Sebagai pelaku, umumnya ditampilkan dalam bentuk kalimat aktif, dimana seorang aktor ditampilkan melakukan suatu tindakan yang menyebabkan sesuatu pada objek atau seseorang. Sebagai korban (objek) menunjuk pada sesuatu yang disebabkan oleh orang lain.ada beberapa strategi wacana yang paling umum digunakan adalah kalimat pasif.

Dalam bentuk kalimat pasif, hanya korban saja yang ditampilkan, karena pelaku dapat disembunyikan

(36)

atau dihilangkan dalam pemberitaan. Bentuk lainnya adalah dengan membentuk nominalisasi, dimana yang ditampilkan adalah bentuk dari suatu kegiatan tanpa perlu menunjuk kepada partisipan atau pihak-pihak yang terlibat. Misalnya dalam kalimat, “Kemiskinan penduduk perkotaan sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan”. Di sana tidak ada aktor, siapa atau apa yang menyebabkan banyak rakyat miskin.

Melainkan hanya menunjuk pada gejala atau keadaan kemiskinan dan hanya objek berupa penduduk rakyat miskin.26

Tabel 2. 3 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata Bahasa dalam Bentuk Partisipan

Bentuk Partisipan

Aktif Oknum polisi menganiaya seorang ibu.

Pasif Seorang ibu dan anak dianiaya di mini market.

Nominalisasi Kemiskinan penduduk perkotaan sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan.

26 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 292-294.

(37)

2. Representasi dalam kombinasi anak kalimat Antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain dapat digabung sehingga membentuk suatu pengertian yang dapat dimaknai. Realitas terbentuk lewat bahasa dengan gabungan antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain. Misalnya, ada dua fakta berupa maraknya demonstrasi mahasiswa, dan fakta lain berupa nilai tukar rupiah menurun. Bagaimana dua fakta tersebut ditampilkan dalam teks? Dua fakta itu dapat digabung dalam pengertian banyaknya demonstrasi mahasiswa itu menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Akan tetapi, dapat juga dipandang sebagai dua fakta yang terpisah, turunnya nilai tukar rupiah tidak dianggap sebagai penyebab dan dua fakta itu benar-benar terpisah.

Pada dasarnya dalam proses kerja penulisan berita, wartawan membuat abstraksi bagaimana fakta-fakta yang saling terpisah dan tercerai-berai digabungkan, sehingga menjadi suatu kisah yang dapat dipahami oleh khalayak dan membentuk sebuah pengertian.

Gabungan antara anak kalimat ini akan membentuk koherensi lokal, yakni pengertian yang didapat dari gabungan anak kalimat satu dengan yang lain, sehingga kalimat itu mempunyai arti.

Pada titik tertentu, koherensi ini menunjukkan ideologi dari pemakai bahasa. Misalnya, ada fakta seorang wanita mengalami pemerkosaan, dan fakta lain

(38)

wanita tersebut ternyata seorang janda. Dua fakta itu bisa ditampilkan saling berhubungan tetapi juga dapat ditampilkan terpisah. Kalau dua fakta itu digabung, maka akan membuat asosiasi kepada khalayak bahwa status janda wanita itu mempengaruhi faktor mengapa ia diperkosa. Sebaliknya, kalau dua fakta itu dipisah, maka akan membuat asosiasi bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara status janda dan peristiwa pemerkosaan tersebut. Koherensi antara anak kalimat ini mempunyai beberapa bentuk. Pertama, elaborasi, anak kalimat yang satu menjadi penjelas dari anak kalimat yang lain. Fungsi anak kalimat yang kedua ini untuk memperinci atau menguraikan anak kalimat yang telah ditampilkan pertama. Umumnya, bentuk ini dihubungkan dengan pemakaian kata sambung seperti

“yang”, “lalu”, atau “selanjutnya”.

Kedua, perpanjangan, dimana anak kalimat satu merupakan perpanjangan anak kalimat yang lain. Anak kalimat kedua berfungsi sebagai kelanjutan dari anak kalimat pertama. Perpanjangan ini bisa berupa tambahan (umumnya memakai kata hubung “dan”) atau berupa kontras antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain (umumnya memakai kata hubung “tetapi”, “meskipun”, “akan tetapi”, dan sebagainya) atau juga membuat pilihan yang setara antara satu anak kalimat dengan anak kalimat lain (umumnya memakai kata hubung “atau”).

(39)

Ketiga, mempertinggi, dimana posisi anak kalimat yang satu lebih besar dari anak kalimat yang lain.

Misalnya, anak kalimat satu menjadi penyebab dari anak kalimat lain (umumnya dengan pemakaian kata hubung “karena” atau “diakibatkan”). Koherensi ini merupakan pilihan. Artinya, dua buah anak kalimat dapat dipandang hanya sebagai penjelas, tambahan, atau saling bertentangan, tergantung pada bagaimana fakta satu dipandang saling berhubungan dengan fakta lain. Misalnya dalam contoh dimana antara satu anak kalimat (wanita janda) dan anak kalimat lain (diperkosa oknum polisi) diabstraksikan dalam bentuk hubungan dalam proposisi.

Tabel 2. 4 Representasi dalam Kombinasi Anak Kalimat Tak ada Seorang wanita diperkosa oleh

oknum polisi.

Penjelas Seorang wanita, yang dikenal sebagai janda, diperkosa oleh oknum polisi.

Perpanjangan kontras

Meskipun janda, seorang wanita diperkosa oleh oknum polisi.

Penyebab Karena janda, seorang wanita diperkosa oleh oknum polisi.

(40)

Dari kalimat di atas, terlihat bagaimana pemaknaan bisa berbeda-beda antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh bagaimana satu fakta dihubungkan dengan fakta lain, juga pemakai bahasa akan memakai dan memaknai secara strategis antaranak kalimat tersebut sehingga tercipta sebuah pengertian.27

3. Representasi dalam rangkaian antarkalimat Jika aspek kedua berhubungan dengan bagaimana dua anak kalimat digabung, maka aspek ini berhubungan dengan bagaimana dua kalimat atau lebih disusun dan dirangkai. Representasi ini berhubungan dengan bagian mana dalam kalimat yang lebih menonjol dibandingkan dengan bagian yang lain. Salah satu aspek penting adalah apakah partisipan dianggap mandiri ataukah ditampilkan memberikan reaksi dalam teks berita.28 Rangkuman kalimat itu bukan hanya

27 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 294-296.

28 Menurut Eriyanto, Fairclough membagi tiga bentuk bagaimana pernyataan ditampilkan dalam teks. Pertama, dengan mengutip secara langsung apa yang dikatakan oleh aktor. Kedua, dengan meringkas apa inti yang disampaikan oleh aktor. Ketiga, melalui evaluasi, dimana pernyataan aktor dievaluasi kemudian ditulis ke dalam berita. Pembagian ketiga hal tersebut sangat terlihat, terutama dalam judul dan lead. Bagaimana pernyataan ditampilkan bukan hanya persoalan teknis jurnalistik, tetapi juga membawa konsekuensi ideologis tertentu. Umumnya, koran yang tidak suka dengan wacana tertentu, lebih suka menampilkan evaluasi atas pernyataan seorang aktor.

(41)

berhubungan dengan teknis penulisan, karena rangkaian itu bisa mempengaruhi makna yang ditampilkan kepada khalayak.

Menempatkan susunan kalimat ini secara implisit menunjukkan praktik yang ingin disampaikan wartawan. Apapun yang dipilih untuk ditampilkan oleh media, menunjukkan dalam batasnya yang jauh.

Bagaimana kalimat yang berbeda, pendapat yang berbeda, dapat digabung dan seakan berhubungan oleh wartawan dengan strategi wacana tertentu.29

4. Relasi

Jika representasi berhubungan dengan pertanyaan bagaimana seseorang, kelompok, kegiatan, tindakan, keadaan atau sesuatu ditampilkan dalam teks, maka relasi berhubungan dengan bagaimana partisipan dalam media berhubungan dan ditampilkan dalam teks. Media dipandang sebagai suatu arena sosial, dimana semua kelompok, golongan, dan khalayak yang ada dalam masyarakat saling berhubungan dan menyampaikan versi pendapat dan gagasannya.

Menurut Fairclough, ada tiga kategori partisipan utama dalam media: wartawan (di antaranya reporter, redaktur, pembaca berita untuk televisi dan radio), khalayak media, dan partisipan publik (di antaranya

29 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 296-300.

(42)

politisi, pengusaha, tokoh masyarakat, artis, ulama, ilmuwan, dan sebagainya).

Titik perhatian dari analisis hubungan bukan pada bagaimana partisipan publik tadi ditampilkan dalam media (representasi), melainkan pada bagaimana pola hubungan di antara ketiga aktor tadi ditampilkan dalam teks: antara wartawan dengan khalayak, antara partisipan publik (baik politisi, pengusaha, atau lainnya) dengan khalayak, dan antara wartawan dengan partisipan publik tadi. Semua analisis hubungan itu diamati dari teks.

Analisis tentang konstruksi hubungan ini dalam media sangat penting dan signifikan, terutama jika dihubungkan dengan konteks sosial. Karena pengaruh unik dari posisi-posisi mereka yang ditampilkan dalam media menunjukkan konsteks masyarakat. pengertian tentang bagaimana relasi itu dikonstruksi dalam media di antara khalayak dan kekuatan sosial yang mendominasi kehidupan ekonomi, politik, dan budaya adalah bagian yang penting dalam memahami pengertian umum relasi antara kekuasaan dan dominasi dalam masyarakat yang berkembang.

Wartawan

Khalayak Partisipan

Publik

Tabel 2. 5 Kategori Partisipan Utama dalam Media Menurut Norman

Fairclough

(43)

Analisis hubungan ini penting dalam dua hal.

Pertama, jika dikatakan bahwa media adalah ruang sosial dimana masing-masing kelompok yang ada dalam masyarakat saling mengajukan gagasan dan pendapat, dan berebut mencari pengaruh agar lebih diterima oleh publik, maka analisis hubungan akan memberi informasi yang berharga bagaimana kekuatan-kekuatan sosial ini ditampilkan dalm teks.

Kelompok yang mempunyai posisi tinggi, umumnya ditempatkan lebih tinggi dalam relasi hubungan dengan wartawan dibandingkan dengan kelompok minoritas.

Media dipandang sebagai suatu tempat dimana masing-masing partisipan berusaha menyampaikan pendapat, gagasan, dan idenya, agar pandangannya lebih diterima oleh publik. Analisis relasional bisa menunjukkan kepada kita bagaimana media memperlakukan partisipan tersebut? Dan bagaimana para aktor tersebut dibentuk dalam hubungan tertentu?

Umumnya, kelompk elit atau dominan yang berkuasa lebih diuntungkan dalam pemberitaan.

Kedua, analisis hubungan juga penting untuk melihat bagaimana khalayak hendak ditempatkan dalam pemberitaan. Bagaimana pola hubungan antara wartawan dengan partisipan lain itu ingin dikomunikasikan kepada khalayak. Atau dengan kata lain, bagaimana teks itu membangun relasi antara khalayak dengan partisipan sosial yang dibangun.

(44)

Misalnya, dalam wacana pemberitaan mengenai pemerkosaan. Peneliti bisa menganalisis bagaimana bentuk hubungan antara wartawan, pelaku, dan dokter, antara wartawan dengan korban atau wanita.30

5. Identitas

Aspek identitas ini melihat bagaimana identitas wartawan ditampilkan dan dikonstruksi dalam teks pemberitaan. Menurut Fairclough, bagaimana wartawan menempatkan dan mengidentifikasi dirinya dengan masalah atau kelompok sosial yang terlibat: ia mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok mana? Apakah wartawan ingin mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari khalayak ataukah menampilkan dan mengidentifikasi dirinya secara mandiri? Identitas itu bukan hanya dilekatkan dan berkaitan dengan wartawan, tetapi juga bagaimana partisipan publik dan khalayak tersebut diidentifikasi.31 b. Intertekstualitas

Intertekstualitas adalah sebuah istilah dimana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi lainnya.32 Pengertian Bakhtin yang dikutip

30 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta:

LKiS, 2001. h. 300-303.

31 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta: LKiS, 2001. h. 304-305.

32 Menurut Fairclough, pertanyaan kepada narasumber ini ditentukan oleh bagaimana wartawan mengidentifikasi dirinya, dan bagaimana narasumber diidentifikasi oleh wartawan. Umumnya, jika ia tidak setuju, maka pertanyaan

(45)

oleh Fairclough, semua ungkapan baik tertulis maupun lisan, dari semua jenis teks seperti laporan ilmiah, novel, dan berita dibedakan di antaranya oleh perubahan dari pembicara atau penulis sebelumnya (baik itu laporan ilmiah atau novel). Setiap ungkapan dihubungkan dengan rantai dari komunikasi. Semua pernyataan atau ungkapan didasarkan oleh ungkapan yang lain, baik eksplisit maupun implisit.

Bakhtin menilai wacana itu bersifat dialogis, seorang penulis teks tidak berbicara dengan dirinya sendiri dan menyuarakan dirinya sendiri. Ia berhadapan dengan suara dan teks lain. Pada puisi, penulis menyuarakan dirinya sendiri secara penuh. Sebaliknya dalam novel, penulis berhadapan dengan suara-suara lain. Norman Fairclough menyitir teori intertekstualitas Bakhtin tersebut untuk menggambarkan bagaimana wartawan sebagai pemroduksi teks juga menghadapi gejala yang sama seperti yang ditulis oleh Bakhtin untuk sastra, bagaimana penulis menempatkan dirinya dan suara-suara lain tersebut dalam teks.

Teori intertekstualitas dipakai untuk menghadirkan bagaimana wartawan menghadapi aneka suara itu dan

yang dibuat dan ditujukan dalam bentuk penilaian, kemudian jawabannya diminta kepada narasumber. Misalnya, untuk kasus korupsi, maka pertanyaan yang ditanyakan di antaranya: “Apa tanggapan Bapak dengan berkembangnya kabar Bapak terlibat korupsi?” Sebaliknya, jika narasumber yang diidentifikasi oleh wartawan tidak terlibat korupsi, maka pertanyaan yang diajukan lain lagi, seperti: “Saat ini santer sekali Bapak dituduh korupsi. Kenapa Bapak dijadikan sasaran tuduhan?”

(46)

bagaimana ia menampilkan suara dan pandangan banyak pihak itu dihadapkan dengan suaranya sendiri yang akan ditampilkan dalam teks berita.

Masalah intertekstualitas dalam berita ini di antaranya dapat dideteksi dari pengutipan sumber berita atau narasumber dalam berita. Menurut Fairclough, suara seorang sumber berita yang akan dijadikan berita bisa ditampilkan secara langsung (direct discourse) dan secara tidak langsung (inderect discourse). Misalnya, Amien Rais menyerukan Gus Dur agar ia berhenti membicarakan sesuatu yang menimbulkan polemik. Itu dapat ditampilkan secara langsung dan tidak langsung dalam judul berita sebagai berikut:

Tabel 2. 6 Intertekstualitas Menurut Norman Fairclough

Langsung Amien Rais: “Mulai sekarang Gus Dur harus berhenti bicara politik.”

Tidak langsung

Amien Rais menyerukan Gus Dur agar berhenti bicara politik.

Tidak langsung

Amien Rais mulai berani melarang Gus Dur bicara politik.

Pemilihan pengutipan langsung dengan tidak langsung bukanlah semata-mata persoalan teknis jurnalistik semata, karena sebetulnya pilihan mana yang diambil menggambarkan strategi wacana wartawan dalam menempatkan dirinya di tengah banyak suara yang berada

(47)

di luar dirinya. Pada dasarnya, sumber berita yang merupakan sekumpulan suara dari berbagai peristiwa tidak berbicara langsung kepada khalayak, melainkan melalui wartawan. Wartawan tidak berbicara atas dirinya sendiri kepada khalayak, seperti halnya ketika seseorang menulis puisi. Wartawan berhadapan dengan beragam pandangan, ide, dan berbagai suara yang harus ia tampilkan.

Dalam kutipan langsung, ditandai dengan pemakaian tanda kutip untuk menunjukkan bahwa bagian yang dikurung dengan tanda kutip tersebut adalah ucapan Amien Rais sendiri. Di sini, suara orang lain (Amien Rais) secara eksplisit ditampilkan apa adanya lewat kutipan.

Sebaliknya, dalam kutipan tidak langsung, suara orang lain (Amien Rais) tersebut disuarakan melalui mulut dan suara wartawan, Amien Rais tidak berbicara sebagai dirinya sendiri. Ini ditandai dengan pemakaian kata seperti

“mengatakan”, “menyerukan”, “mengharuskan”, dan sebagainya. Atau dengan pemakaian kata keterangan

“bahwa” yang menegaskan bahwa wartawanlah yang menyampaikan apa yang disuarakan oleh sumber berita.

Pengubahan dari bentuk kutipan langsung ke kutipan tidak langsung juga mengakibatkan perubahan semantik, karena harus menyesuaikan pola kalimat dengan kutipan tidak langsung. Pemakaian kata seperti “sekarang” atau

“saat ini” yang menggambarkan suasana pendapat sebenarnya dari sumber berita saat ia mengucapkan kata- katanya, harus diubah ke dalam kutipan tidak langsung.

(48)

Suasana, waktu, tempat, dan kejadian itu tidak dapat dihadirkan seperti ketika sumber berita katakan, tetapi waktu dan tempat harus disesuaikan dengan tempat dimana wartawan itu menulis atau koran itu diterbitkan. Karena, waktu dan tempat itu tidak dapat dihadirkan kembali, seperti ketika Amien Rais mengatakannya. Kata “di sini”

atau “di tempat ini” tidak dapat dipakai, demikian juga dengan kata yang menunjuk waktu seperti kata “saat ini”

atau “sekarang ini”.

Sering kali terjadi ambiguitas dalam bahasa: di satu sisi, teks menampilkan suara wartawan, di sisi lain menampilkan suara atau teks lain di luar dirinya.

Ambiguitas ini dapat dilihat dari pemakaian kata-kata, kalimat, dan ungkapan yang dipakai dalam berita tersebut.

Peneliti dapat mendeteksi apakah kata-kata atau ungkapan itu merupakan ungkapan yang diberikan oleh sumber ataukah kata-kata itu sudah disuarakan kembali oleh wartawan. Sebab kata-kata sumber tidak hadir begitu saja ke hadapan khalayak, tetapi ia dihadirkan oleh wartawan.

Misalnya, pada kalimat ketiga kutipan di atas, suara yang hadir lebih banyak adalah suara wartawan. Amien Rais tidak pernah menyatakan bahwa ia berani melarang Gus Dur berbicara. Suara Amien Rais disuarakan kembali oleh wartawan dengan menampilkan suara dirinya sendiri.

Intertekstualitas dapat dibagi ke dalam dua bagian besar; manifest intertectuality dan interdiscursivity.

Manifest intertectuality adalah bentuk intertekstualitas

(49)

dimana teks yang lain atau suara yang lain itu muncul secara eksplisit dalam teks. Dalam manifest intertectuality, teks lain hadir secara eksplisit dalam teks misalnya dalam bentuk kutipan. Sebuah teks mungkin menggabungkan teks lain tanpa mengutipnya secara langsung. Ada beberapa jenis intertekstualitas manifes yang dapat digambarkan ke dalam tabulasi berikut:

Representasi Wacana (Discourse Representation)

Representasi wacana digunakan untuk menunjuk suatu istilah bagaimana peristiwa tersebut dilaporkan. Mengapa wartawan memilih jenis laporan atau wacana tertentu dibandingkan yang lain; apa yang ditampilkan tersebut bukan hanya ucapan, tetapi juga tulisan, dan tidak hanya gambaran tata bahasa, tetapi juga tipe wacana tertentu. Bagaimana pendapat, hasil seminar, percakapan, dan wawancara ditampilkan dalam suatu tipe laporan tertentu, dan apa yang ditampilkan tersebut bisa sama sekali berbeda.

Pengandaian (Presupposition)

Pengandaian adalah proposisi yang diterima oleh pembuat teks yang siap diempatkan sebagai sesuatu yang dipandang benar dan ditempatkan dalam organisasi teks secara keseluruhan. Kata-kata seperti “ingat”, “tahu”, “ketahui bersama” adalah contoh dari pengandaian ini. Seperti kalimat:

“Seperti diketahui, Gus Dur ... dan seterusnya” ini mengandaikan ada teks lain bahwa apa yang dikatakan itu benar. Pengandaian umumnya hadir tanpa disadari oleh wartawan, dan diterima sebagai suatu kebenaran. Proposisi ini juga bisa muncul melalui makna yang diterima dan sering

(50)

kali dipertanyakan. Akan tetapi, pengandaian ini hadir sebelum peristiwa, bahkan hadir sebelum penilaian diberikan pada peristiwa dan sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted), sehingga bisa memanipulasi peristiwa karena selalu dihubungkan dengan pengandaian semacam itu.

Negasi (Negation)

Kalimat negasi sering kali digunakan untuk tujuan polemik. Kalimat negasi membawa tipe khusus dari pengandaian dimana juga secara intertekstualitas, masuk dalam teks lain. Misalnya dalam kalimat Gus Dur: “Saya tidak menerima uang sepeser pun,” mengandaikan ia tidak menerima apa pun.

Ironi (Irony)

Ironi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa apa yang dikatakan sebetulnya bukan apa yang ingin diungkapkannya. Itu hanya dimaksudkan untuk menyindir atau untuk tujuan humor, dan sebagainya.

Misalnya, ketika hari mendung dan peneliti mengatakan,

“Liburan yang baik adalah ketika cuaca terang” adalah sebuah ironi, karena keadaan saat itu tengah mendung.

Metadiscourse

Metadiscourse adalah bentuk dari manifest intertectuality dimana pembuat teks memberikan tingkat yang berbeda ke dalam teks yang dia miliki dan membuat jarak dirinya dengan tingkat teks yang lain. Metadiscourse ini umumnya dipakai dengan membatasi objek pembicaraan dengan pengungkapan tertentu seperti “termasuk” atau “tertentu”. Metadiscourse menampilkan pembicara dalam situasi yang dominan dan memposisikan objek pada kelompok yang tidak dominan atau

Gambar

Gambar 7. 1 Foto bersama Peneliti dan Redaktur Pelaksana Koran  Tempo .......................................................................................
Tabel 2. 1 Elemen Dasar Model Norman Fairclough ................. 19  Tabel 2. 2 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata  Bahasa dalam Bentuk Proses .....................................................
Tabel 2. 1 Elemen Dasar Model Norman Fairclough
Tabel 2. 2 Representasi dalam Anak Kalimat pada Tingkat Tata  Bahasa dalam Bentuk Proses
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan perubahan dinamika sosial masyarakat dalam segala aspek kehidupan yang berdampak terhadap keamanan dalam negeri berlangsung dengan cepat, perkembangan

Tujuan diselenggarakannya Rapat Gabungan Forum Kerjasama Daerah Mitra Praja Utama XII Tahun 2012 adalah untuk memantapkan, memadukan dan mensinerjikan usulan program

H: Pengembangan itukan hasil dari training, jadi trainingkan pasti dilakukan terus menerus, dan kalau karyawan sudah di training dan pasti kita akan training lagi, nah training

Sesuai dengan judul dalam penelitian ini, maka yang menjadi sampel penelitian adalah : Wajib Pajak Badan yang melakukan restitusi PPN LB dan Fiskus.. Berdasarkan pada

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai personal branding Bella melalui akun instagram bandung makuta maka ditarik kesimpulan adalah Laudya Cynthia Bella membentuk

(Unsur-unsur lain, misalnya timbre atau warna suara, dan tempo atau cepat-lambat juga penting, tetapi biasanya tidak dianggap dominan.) Kalau kita membicarakan ritme, kita akan

Pengujian kadar COD yang dilakukan oleh peneliti dengan refluk terbuka dan metode titrasi dengan metode iodometri , hasilnya mengacu pada baku mutu yang sudah

Untuk pasar dunia, konsumen minyak sawit yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Cina sebagai negara pengimpor minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa impor sekitar 20