• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Menjumlahkan Data

6.3. Analisis Willingness to Accept 1. Membangun Pasar Hipotesis

Seluruh responden diberi informasi bahwa sehubungan dengan perbaikan kondisi Sungai Krukut, maka Pemprov DKI Jakarta berencana akan melakukan program normalisasi sungai. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kualitas lingkungan yang lebih baik dengan mengurangi resiko terjadinya banjir. Kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik dengan syarat bahwa masyarakat yang tinggal di bantaran sungai bersedia untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta akan memberikan kompensasi sebagai ganti rugi bagi masyarakat yang tempat tinggalnya tergusur.

2. Memperoleh nilai WTA (obtaining bids)

Besarnya nilai WTA didapatkan dari hasil wawancara kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan dalam kuisioner. Metode yang digunakan untuk memperoleh nilai WTA adalah bidding game, dimana responden ditawarkan harga yang semakin menurun sampai tingkat minimum mereka bersedia terima. Pertama responden diberikan kebebasan untuk menyebutkan nilai WTA yang diharapkan, lalu peneliti menawarkan nilai WTA yang semakin menurun sampai responden tidak mau menerima. Rata-rata nilai WTA (Y) yang pertama kali disebutkan sebesar Rp 2 000 000 -

60 2 500 000, lalu peneliti menawarkan nilai yang semakin menurun (Y-100 000) dan seterusnya sampai responden tidak mau menerima.

3. Menghitung Dugaan Nilai Rataan WTA (Estimating Mean WTA)

Dugaan nilai rataan WTA responden dihitung berdasarkan data distribusi WTA responden. Data distribusi WTA responden dapat dilihat pada Tabel 8. Nilai rataan WTA sebesar Rp 2 110 000/m2 tanah dan bangunan. Nilai ini mencerminkan nilai ganti rugi tanah dan bangunan. Masyarakat mengklaim bahwa nilai tersebut cukup untuk mereka mencari tempat tinggal di wilayah lain.

Tabel 8. Distribusi Rataan WTA Responden di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

No Nilai WTA (Rp) Frekuensi Frek. relatif Jumlah

1 1 400 000 1 0.02 28 000 2 1 500 000 2 0.04 60 000 3 1 600 000 2 0.04 64 000 4 1 700 000 2 0.04 68 000 5 1 800 000 6 0.12 216 000 6 1 900 000 5 0.10 190 000 7 2 000 000 6 0.12 240 000 8 2 100 000 2 0.04 84 000 9 2 200 000 2 0.04 88 000 10 2 300 000 5 0.10 230 000 11 2 400 000 7 0.14 336 000 12 2 500 000 7 0.14 350 000 13 2 600 000 3 0.06 156 000 Jumlah sampel 50 1 2 110 000

Sumber: Data primer (diolah)

Nilai WTA ini dipengaruhi oleh nilai jual objek pajak (NJOP) di kedua keluranan tersebut. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat, NJOP untuk lahan berkisar antara Rp 1 100 000-1 500 000 per m2. Nilai rataan WTA hasil perhitungan, tidak berbeda jauh dengan nilai ganti rugi yang telah dibayarkan

61 oleh Pemprov DKI Jakarta kepada masyarakat di Kelurahan Rawa Barat sekitar tahun 2009. Nilai ganti rugi yang diberikan berkisar Rp 1 000 000-2 000 000 per m2. Perbedaan nilai ini tergantung dari kualitas bangunan masing-masing warga. Semakin baik kualitas bangunan maka nilai ganti ruginya akan semakin besar.

3. Menduga Kurva WTA (Estimating Bid Curve)

Kurva WTA responden dibentuk berdasarkan nilai WTA responden terhadap nilai ganti rugi yang diinginkan atas tanah dan bangunan untuk melaksanakan program normalisasi Sungai Krukut. Kurva WTA ini menggambarkan hubungan tingkat WTA yang diinginkan (Rp/m2) dengan jumlah responden yang bersedia menerima pada tingkat WTA tersebut (orang). Berdasarkan jawaban responden, didapatkan kurva WTA yang dapat dilihat pada Gambar 14.

Sumber: Data primer (diolah)

Gambar 14. Dugaan Kurva WTA Responden di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang Tahun 2011

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 3000000 1 3 5 7 13 18 24 26 28 33 40 47 50 W T A ( R p .) Jumlah Responden WTA

62 4. Menentukan Total WTA (Agregating Data)

Hasil perhitungan total WTA dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai total WTA responden sebesar Rp 24 279 400 000. Namun, untuk nilai total WTA di dua kelurahan tersebut belum dapat di estimasi karena data jumlah KK dan luas total tanah yang akan tergusur belum tersedia. Proses ini sedang dilakukan inventarisasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta dan Panitia Pengadaaan Tanah (P2T). Tabel 9. Total WTA Responden di Kelurahan Petogogan dan Pela

Mampang Tahun 2011 No Nilai WTA (Rp/m2) Frekuensi Luas tanah (m2) Total (Rp) 1 1 400 000 1 6 8 400 000 2 1 500 000 2 23 69 000 000 3 1 600 000 2 37 118 400 000 4 1 700 000 2 38 129 200 000 5 1 800 000 6 162 1 749 600 000 6 1 900 000 5 172 1 634 000 000 7 2 000 000 6 155 1 860 000 000 8 2 100 000 2 90 378 000 000 9 2 200 000 2 73 321 200 000 10 2 300 000 5 142 1 633 000 000 11 2 400 000 7 290 4 872 000 000 12 2 500 000 7 592 10 360 000 000 13 2 600 000 3 147 1 146 600 000 Jumlah sampel 50 1927 24 279 400 000

Sumber: Data primer (diolah)

6.4 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Willingness To Accept

Pengolahan data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTA dalam penelitian ini dengan memasukan beberapa variabel bebas. Variabel yang dimasukan kedalam model yaitu, luas lahan yang akan terkena normalisasi (X1), jarak tempat tinggal ke pinggir sungai (X2), pendapatan per bulan (X4),

63 pendidikan (X5), jumlah tanggungan (X6), dummy status kepemilikan lahan (D1), dan dummy jenis bangunan permanen/semi permanen (D2). Namun, setelah dilakukan pengolahan data maka didapat model yang terbaik secara ekonomi dan statistik yaitu hanya variabel X1, X2, X4, X5, D1, dan D2 yang dimasukan kedalam model. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, maka didapat model untuk faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTA responden. Hasil analisis faktor-faktor yang mempengeruhi nilai WTA dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai WTA

Varibel Koefisien P-value VIF

C 13.557 0.000 X1 0.088 0.000* 1.503 X2 0.073 0.001* 2.448 X4 -0.035 0.490 3.062 X5 0.096 0.039* 1.751 D1 0.159 0.000* 1.423 D2 0.074 0.006* 1.967 R squared 90.3 % Adjusted R squared 88.9 %

Ket: nyata dalam * taraf nyata 5% Sumber: Data primer (diolah)

Berikut model hasil analisis regresi berganda yang merupakan fungsi nilai WTA: LnWTA = 13.557 + 0.088 LnX1 + 0.073 LnX2 – 0.035 LnX4 + 0.096 LnX5 +

0.159 D1 +0.074 D2 ………... (6.1) Nilai Adjusted R square yang dihasilkan pada model ini sebesar 88.9 %, artinya keragaman yang mampu dijelaskan oleh faktor-faktor penjelas dalam model ini sebesar 88.9 % sedangkan sisanya 11.1 % dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model. Taraf nyata yang digunakan dalam model ini adalah 5 %.

Variabel bebas yang berpengaruh pada kesediaan menerima adalah luas tanah yang terkena normalisasi, jarak rumah dengan sungai, pendidikan, dummy status kepemilikan tanah, dan dummy jenis bangunan. Masing-masing variabel ini

64 memiliki P-value 0.000, 0.001, 0.039, 0.000, dan 0.006. Semua variabel tersebut memiliki P-value < 0.05. Hal ini menyatakan bahwa kelima variabel tersebut berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf

α

= 5 % , atau dengan kata lain kelima variabel bebas berpengaruh nyata pada tingkat selang kepercayaan 95 %.

Model yang dihasilkan dari analisis regresi berganda tersebut telah diuji normalitas, multikolinieritas, dan heteroskedastisitas. Uji autokorelasi tidak perlu dilakukan karena dilihat dari datanya yaitu termasuk cross section. Pemeriksaan asumsi sisaan menyebar normal dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Pada output SPSS 15 dengan melihat Asymp. Sig (2-tailed) menunjukan nilai 0.946 (Lampiran 3). Nilai tersebut berada di atas 0.05, hal ini menunjukan bahwa galat menyebar normal. Pemeriksaan asumsi homoskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser. Hasil uji Glejser menunjukan nilai 1.00 > taraf nyata (α) 5 %. Berdasarkan hasil ketiga uji tersebut, tidak diperoleh pelanggaran. Pemeriksaan asumsi untuk menguji masalah multikolinearitas didasarkan pada nilai VIF. Pada Tabel 10 menunjukan nilai VIF masing-masing variabel bebas memiliki nilai kurang dari sepuluh (VIF<10) (Lampiran 3). Hal ini mengindikasikan tidak terjadinya pelanggaran multikolinearitas. Beberapa variabel yang secara nyata dan tidak nyata berpengaruh terhadap nilai WTA responden adalah sebagai berikut: 1. Luas tanah yang terkena normalisasi

Variabel luas tanah memiliki P-value 0.000, artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf nyata 5 %. Koefisien positif (+) berarti bahwa ada hubungan positif antara luas lahan yang terkena normalisasi dengan besarnya nilai WTA yang diharapkan responden. Artinya diduga semakin besar luas tanah yang terkena normalisasi maka nilai WTA/ganti

65 rugi yang diharapkan responden cenderung semakin besar. Nilai WTA mencerminkan semakin besar tanah yang harus dikorbankan oleh responden untuk kepentingan umum. Selain itu, semakin besar tanah responden yang terkena dampak normalisasi semakin besar peluang responden kehilangan tempat tinggalnya. Hasil penelitian Sadikin (2009), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi land rent pemukiman adalah luas lahan, luas bangunan, total penerimaan, dan biaya operasional. Koefisien variabel luas lahan yang terkena normalisasi sebesar 0.088 memiliki arti bahwa setiap peningkatan 1 % tanah yang terkena normalisasi maka diduga akan meningkatkan WTA sebesar 0.088 %, cateris paribus.

2. Jarak rumah/tempat tinggal dengan sungai

Variabel jarak rumah dengan sungai memiliki P-value 0.001, artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf nyata 5 %. Variabel ini memiliki koefisien positif (+), berarti terdapat hubungan positif antara jarak rumah ke sungai dengan nilai WTA yang diharapkan responden. Artinya semakin jauh jarak rumah dengan sungai maka semakin tinggi nilai WTA/ganti rugi yang diharapkan responden. Hal ini karena warga yang tinggal semakin jauh dari sungai cenderung tidak ingin rumahnya tergusur/masuk dalam rencana normalisasi bila dibandingkan dengan warga yang rumanhya sangat dekat dengan sungai. Sungai Krukut rencananya akan dilebarkan 20 m bila seandainya lebar sungai awal 5 m, maka sisi kanan dan kiri akan dilebarkan 7.5 m. Warga yang tinggal 0 m dari sungai cenderung akan lebih rela tergusur dibandingkan dengan warga yang tinggal 7 m dari sungai, sehingga warga yang lebih jauh cenderung menginginkan nilai ganti

66 rugi yang lebih besar. Koefisien variabel jarak rumah dengan sungai sebesar, 0.073 artinya setiap peningkatan 1 % jarak rumah dengan sungai maka diduga akan meningkatkan nilai WTA sebesar 0.073 %, cateris paribus. 3. Pendapatan

Variabel lama tinggal memiliki P-value 0.490, artinya variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap nilai WTA. Variabel pendapatan memiliki koefisien negatif (-), artinya semakin tinggi pendapatan maka semakin rendah nilai WTA yang diharapkan. Nilai koefisien dari variabel pendapatan sebesar -0.035, artinya semakin tinggi pendapatan sebesar 1 % maka diduga akan menurunkan nilai WTA sebesar 0.035 %, cateris paribus. Variabel pendapatan diduga tidak berpengaruh nyata karena mata pencaharian di lokasi penelitian relatif sama, sehingga pendapatannya pun relatif homogen. Selain itu, pendapatan tidak berpengaruh nyata karena rata-rata semua orang baik miskin maupun kaya cenderung menginginkan ganti rugi setinggi-tingginya. Hal ini diungkapkan oleh Garrod dan Willis (1999), bahwa nilai WTA harus sama besarnya atau mendekati dengan nilai dari barang penggantinya dan pengaruh dari pendapatan itu kecil.

4. Tingkat pendidikan

Variabel tingkat pendidikan memiliki P-value 0.039, artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf nyata 5 %. Nilai koefisien positif (+), berarti terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan nilai WTA yang diharapkan responden. Semakin lama responden dalam mengenyam pendidikan maka semakin tinggi nilai WTA yang diharapkan. Hal ini menunjukan semakin lama seseorang dalam mengenyam pendidikan,

67 maka semakin tinggi pengetahuannya. Banyak hal yang akan responden dikorbankan untuk kepentingan umum, sehingga WTA yang diharapkan akan semakin besar. Koefisien variabel tingkat pendidikan sebesar 0.096, artinya setiap peningkatan tingkat pendidikan 1 % diduga akan meningkatkan nilai WTA sebesar 0.096 %, cateris paribus.

5. Status kepemilikan tanah

Variabel status kepemilikan tanah dibagi dua (dummy), yaitu jika responden memiliki surat kepemilikan tanah apapun jenisnya maka diberi nilai 1 dan jika sebaliknya diberi nilai 0. Variabel ini memiliki P-value 0.000, artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf nyata 5 %. Variabel status kepemilikan tanah memiliki koefisien positif (+) sebesar 0.159, artinya diduga rata-rata perbedaan nilai WTA antara responden yang memiliki surat kepemilikan tanah dengan yang tidak memiliki sebesar 0.159 %, cateris paribus.

6. Jenis Bangunan

Variabel jenis bangunan dibagi dua (dummy), yaitu jika jenis bangunan rumahnya permanen diberi nilai 1 dan jika semi permanen diberi nilai 0. Variabel ini memiliki P-value 0.006, artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap nilai WTA pada taraf nyata 5 %. Variabel jenis bangunan memiliki koefisien positif (+) sebesar 0.074, artinya diduga rata-rata perbedaan nilai WTA antara responden yang jenis bangunan rumahnya permanen dengan yang semi permanen sebesar 0.074 %, cateris paribus. Jenis bangunan (kualitas) sangat mempengaruhi nilai ganti rugi. Sesuai dengan Perpres No.36 Tahun 2005 pasal 12, menyatakan bahwa ganti rugi dalam rangka pengadaan

68 tanah diberikan untuk hak atas tanah, bangunan, tanaman, dan benda lain yang berkaitan dengan tanah.

Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTA/ganti rugi dalam normalisasi Sungai Krukut adalah luas tanah, jarak rumah/tempat tinggal dengan sungai, pendapatan, pendidikan, status kepemilikan tanah, dan jenis bangunan. Menurut Sumarjono (2001), ganti rugi sebagai suatu upaya mewujudkan penghormatan kepada hak-hak dan kepentingan perseorangan yang telah dikorbankan untuk kepentingan umum, dapat disebut adil apabila hal tersebut tidak membuat seseorang menjadi lebih kaya atau lebih miskin dari keadaan sebelumnya.

69 VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Sungai Krukut di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang akan dilebarkan sebesar 20 m yang saat ini hanya 3-5 m dan diperdalam menjadi 3 m. Rencananya pinggir sungai akan dibangun tanggul sebagai penahan air, karena muka tanah di Petogogan dibawah muka air saat banjir. Ketika sungai dilebarkan menjadi empat kali, maka debitnya pun akan meningkat sampai empat kali. Hal ini akan meningkatkan kapasitas daya tampung sungai, sehingga resiko terjadinya banjir di kedua kelurahan ini akan semakin kecil. 2. Kondisi Sungai Krukut telah banyak mengalami perubahan fisik dan

kondisinya buruk. Hal ini ditunjukan oleh persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa sungai ini telah mengalami penyempitan dan pendangkalan. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan perilaku masyarakat terhadap sungai karena penurunan manfaat ekonomi dari sungai itu sendiri. Masyarakat ingin Sungai Krukut segera di normalisasi agar tempat tinggal mereka terbebas dari banjir.

3. Nilai rata-rata WTA responden adalah Rp. 2 110 000 per m2 untuk tanah dan bangunan. Nilai total WTA responden adalah Rp. 24 279 400 000. Nilai WTA responden dipengaruhi oleh faktor luas tanah dan bangunan, jarak tempat tinggal dengan sungai, pendidikan, status kepemilikan tanah, dan jenis bangunan.

70 7.2 Saran

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian maka dapat disarankan: 1. Pemerintah DKI harus secepatnya melaksanakan pengadaan lahan untuk

pembangunan normalisasi Sungai Krukut. Hal ini diperlukan karena kondisi sungai sudah sangat buruk sehingga rentan terjadi banjir. Terutama menjelang banjir lima tahunan yang diperkirakan terjadi pada tahun 2012. Banjir lima tahunan umumnya akan merendam hampir seluruh wilayah di Kelurahan Petogogan. Hal ini berpotensi mengakibatkan kerugian sosial dan ekonomi yang cukup besar.

2. Pemerintah DKI Jakarta diharapkan dapat memperbaiki Sungai Krukut dan menjaga ekosistem yang terdapat pada sungai dengan baik. Hal ini diperlukan agar nilai manfaat ekonomi dari sungai ini dapat lebih dirasakan oleh masyarakat. Sungai tidak lagi dianggap sebagai sumber bencana tetapi dianggap sebagai sumberdaya yang memberikan manfaat.

3. Terkait dengan proses ganti rugi tanah dan bangunan, sebaiknya pemerintah DKI memberikan nilai ganti rugi yang sesuai dengan harapan masyarakat yaitu sebesar ± Rp. 2 110 000 per m2. Pemerintah sebaiknya tidak hanya menghitung kerugian secara fisik namun, juga secara non fisik seperti, kemungkinan hilangnya pekerjaan, sumber penghidupan, dan budaya masyarakat. Pemerintah harus menjamin warga yang kehilangan tempat tinggalnya diberikan ganti rugi yang layak, sehingga tidak menurunkan tingkat kesejahteraan mereka.

PENILAIAN EKONOMI GANTI RUGI LAHAN PADA