• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Menjumlahkan Data

1.5. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, dan Kelurahan Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Penelitian ini difokuskan pada masyarakat sekitar Sungai Krukut yang terkena dampak program normalisasi sungai. Program pelebaran sungai menyebabkan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai harus meninggalkan tempat tinggalnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran normalisasi Sungai Krukut, mengkaji persepsi masyarakat yang terkena dampak normalisasi sungai, dan mengestimasi nilai ganti rugi tanah dan bangunan yang terkena dampak normalisasi.

9 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Banjir

Banjir adalah peristiwa meluapnya air yang menggenangi permukaan tanah, dengan ketinggian melebihi batas normal. Banjir umumnya terjadi pada saat aliran air melebihi volume air yang dapat ditampung dalam sungai, danau, rawa, drainase, tanggul, maupun saluran air lainnya pada selang waktu tertentu (Rahayu et al. 2009).

Penyebab terjadinya banjir dapat diklasifikasikan dalam dua kategori. Sebab alamiah berupa: curah hujan, pengaruh fisiografi, erosi, sedimentasi, kapasitas sungai, kapasitas drainase yang tidak memadai, dan pengaruh air pasang. Sebab tindakan manusia berupa: berubanya kondisi daerah aliran sungai, sampah, kawasan kumuh, perencanaan sistem pengendalian banjir yang tidak tepat, dan kerusakan bangunan pengendali banjir (Kodoatie dan Sugianto 2002).

Faktor alamiah menyangkut kondisi alam yang menyebabkan terjadinya banjir dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu: faktor kondisi alam yang relatif statis yaitu: geografi, topografi, dan geometri alur sungai antar lain: kemiringan dasar sungai, penyempitan alur sungai, pengaruh kelokan sungai. Faktor peristiwa alam yang dinamis seperti: curah hujan yang tinggi, kondisi pasang surutnya air laut, turunnya permukaan tanah, dan kelongsoran tebing (Siswoko 2002).

2.2. Pengendalian Banjir

Penanggulangan bencana banjir adalah upaya yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat, dan pengambil kebijakan lainnya (stakeholder)

10 dalam rangka menanggulangi bencana banjir baik yang dilakukan sebelum terjadinya banjir, pada saat terjadi, maupun setelah terjadi banjir (Rahayu et al. 2009). Pengendalian banjir merupakan suatu hal yang utama bagi pemerintah DKI Jakarta. Proses pengendaliannya harus dilaksanakan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah karena banjir tidak mengenal batas wilayah administrasi.

Mitigasi banjir adalah semua tindakan atau upaya untuk mengurangi dampak dari suatu bencana banjir. Upaya mitigasi ini biasanya ditujukan untuk jangka waktu yang panjang. Secara umum jenis-jenis mitigasi dapat dikelompokkan kedalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural (Rahayu et al. 2009).

2.2.1 Mitigasi Struktural

Mitigasi struktural adalah upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang lebih bersifat fisik (Rahayu et al. 2009). Upaya-upaya mitigasi struktural banjir yang dilakukan oleh pemerintah antara lain:

a. Perbaikan dan peningkatan sistem drainase.

b. Normalisasi fungsi sungai dapat berupa pengerukan, sudetan, dan pelebaran. c. Relokasi pemukiman di bantaran sungai.

d. Pengembangan bangunan pengontrol tinggi muka air. e. Tanggul, pintu, pompa, waduk dan sistem polder. f. Perbaikan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS). 2.2.2. Mitigasi Non-Struktural

Mitigasi non struktural adalah segala upaya pengurangan risiko bencana yang dilakukan yang bersifat non fisik, organisasional, dan sosial kemasyarakatan

11 (Rahayu et al. 2009). Upaya-upaya mitigasi non struktural banjir yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Membuat master plan pembangunan yang berbasis pengurangan risiko bencana.

b. Membuat peraturan daerah (PERDA) mengenai penanganan risiko bencana banjir yang berkelanjutan.

c. Mengembangkan peta zonasi banjir. d. Mengembangkan sistem asuransi banjir.

e. Membangun/memberdayakan sistem peringatan dini banjir.

f. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bencana banjir melalui pendidikan dan pelatihan.

g. Mewujudkan budaya masyarakat dalam menjaga fungsi sistem pembuangan air (drainase) dan pengendalian banjir.

h. Mewujudkan budaya masyarakat yang tidak membuang sampah/limbah ke sungai.

i. Melakukan gerakan penghijauan/penanaman kembali tumbuh tumbuhan di lahan kosong.

Dahulu mitigasi struktural lebih diutamakan dibandingkan dengan mitigasi non-struktural. Namun, saat ini banyak negara maju mengubah pola pengendalian banjir dengan lebih dulu mengutamakan mitigasi non-struktural lalu mitigasi struktural (Kodoatie dan Sjarief 2008).

2.2.3. Normalisasi Sungai

Normalisasi sungai adalah menciptakan kondisi sungai dengan lebar dan kedalaman tertentu. Sungai mampu mengalirkan air sehingga tidak terjadi luapan

12 dari sungai tersebut (Pemerintah provinsi DKI 2010). Kegiatan normalisasi sungai berupa membersihkan sungai dari endapan lumpur dan memperdalamnya agar kapasitas sungai dalam menampung air dapat meningkat. Hal ini dilakukan dengan cara mengeruk sungai tersebut di titik-titik rawan tersumbatnya aliran air. Upaya pemulihan lebar sungai merupakan bagian penting dari program normalisasi sungai karena meningkatkan kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air ke laut. Kepadatan penduduk yang terus meningkat karena Jakarta menjadi sumber mata pencaharian, menyebabkan berdirinya permukiman ilegal. Bantaran sungai menjadi sasaran utama bagi rumah-rumah ilegal ini. Semakin banyak rumah yang dibangun di bantaran sungai, akan semakin sempit sungai tersebut dan semakin rendah kemampuannya untuk menampung air. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai perlu direlokasi ke tempat lain, sehingga program normalisasi sungai untuk menanggulangi banjir dapat dilakukan.

Menurut Maryono dalam Masyhuri (2007) pengembangan sungai-sungai di Indonesia dalam 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik yang relatif cepat. Pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan, pelurusan, pembuatan tanggul sisi, dan pembetonan tebing, baik sungai kecil maupun besar. Hal ini menyebabkan terjadinya percepatan aliran menuju hilir dan sungai bagian hilir akan menanggung aliran yang lebih besar dalam waktu yang lebih cepat dibanding sebelumnya. Perbaikan sungai akan memberikan pengaruh maksimal dua hingga empat kali lipat, itu pun jika proses pelebaran atau pengerukan sebesar dua kali lipatnya dapat berjalan lancar (Kodoatie dan Sjarief 2008). Pelebaran sungai harus dipertahankan sampai ke lokasi sungai paling hilir. Gambar 1 menunjukan skema sederhana proses normalisasi sungai:

13 b

h

Q1 Q2 b 2b

a. diperlebar dua kali

h debit Q1 debit h debit kembali 2-4Q1 keQ1

2h dikeruk sedimentasi

b b

b. diperdalam dua kali

keterangan: Q1 = debit air (m3/s) h = kedalaman sungai (m) b = lebar sungai (m)

Gambar 1. Skema proses normalisasi sungai 2.2.4. Manfaat Ekonomi Sungai

Daerah aliran sungai (DAS) dapat dipandang sebagai suatu ekosistem yang menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Barang yang dihasilkan oleh komponen sungai dapat diukur berupa produktivitas, sedangkan jasa merupakan produk ekonomis dari sungai yang tidak dapat diukur. Oleh karena itu dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya keseimbangan antara kepentingan ekosistem dengan kepentingan ekonomi sehingga dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

14 Penentuan nilai ekonomi sumberdaya alam merupakan hal yang sangat penting sebagai bahan pertimbangan dalam mengalokasikan sumberdaya alam yang semakin langka. Valuasi ekonomi bermanfaat untuk mengilustrasikan hubungan timbal balik antara ekonomi dan lingkungan (Yunus 2005). Konsep nilai bermacam-macam, karena menyangkut berbagai macam tujuan yang berkaitan dengan keberadaan sumberdaya alam dan lingkungan. Menurut KNLH (2007) Nilai lingkungan secara keseluruhan atau total economic value (TEV) dibagi menjadi: (a) nilai guna (use value) yang terdiri dari direct use value dan indirect use value, (b) nilai berbasis bukan pemanfaatan (non use value) yang terdiri dari option value, existence value, dan bequest value. Ada pun nilai manfaat ekonomi dari sungai yaitu

1. Manfaat langsung (direct use value)

Manfaat langsung adalah manfaat dari barang dan jasa suatu sumberdaya yang secara langsung dapat dimanfaatkan seperti, ikan dan air sungai itu sendiri.

2. Manfaat tidak langsung (indirect use value)

Manfaat tidak langsung merupakan manfaat barang dan jasa yang ada karena keberadaan suatu sumberdaya yang secara tidak langsung dapat diambil dari sumberdaya alam tersebut seperti, manfaat sungai sebagai pencegah banjir dan nilai estetikanya.

3. Manfaat pilihan (option value)

Suatu nilai yang diinterpretasikan sebagai manfaat sumberdaya alam yang potensial dimasa depan, seperti, nilai biodiversity yang terdapat di sungai kemungkinan bermanfaat pada masa yang akan datang.

15 4. Nilai keberadaan (exsistence value)

Nilai yang merupakan nilai yang didasarkan pada terpeliharanya SDAL tanpa menghiraukan manfaat dari keberadaan SDAL tersebut.

5. Nilai warisan (bequest value)

Nilai yang merupakan nilai yang diberikan oleh generasi saat ini terhadap SDAL agar dapat diwariskan pada generasi mendatang.

2.3. Pembebasan Hak Atas Tanah

Pembebasan hak adalah merupakan salah satu cara dalam memperoleh tanah untuk kepentingan pembangunan atau untuk keperluan umum. Pembebasan hak dilakukan mengingat pihak yang memerlukan tanah tidak memenuhi syarat sebagai subjek hak atas tanah yang tersedia. Upaya yang ditempuh adalah dengan cara melakukan pembebasan hak. Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah dengan tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar musyawarah (Perpres no. 36 tahun 2005 pasal 1 ayat 6).

Ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan atau nonfisik sebagai akibat pengadaan tanah kepada pemilik tanah, bangunan, tanaman, dan atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah (Perpres no. 36 tahun 2005 pasal 1 ayat 11).

Menurut pasal 15 ayat 1 Peraturan Presiden No. 36 tahun 2005 disebutkan bahwa dasar perhitungan besarnya ganti rugi didasarkan atas :

16 a. Nilai jual obyek pajak (NJOP) atau nilai nyata seharusnya dengan

memperhatikan nilai jual objek pajak pada tahun berjalan berdasarkan penetapan lembaga/tim penilai harga tanah yang ditunjuk oleh panitia.

b. Nilai jual bangunan yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang bangunan.

c. Nilai jual tanaman yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang pertanian.

Pemerintah dapat menentukan ganti rugi yang sesuai bagi masyarakat. Sesuai dengan 13 ayat (1) Peraturan Presiden No. 36 tahun 2005 disebutkan ganti rugi dapat berupa uang, tanah pengganti, atau pemukiman kembali. Masalah pengadaan tanah pada intinya, kondisi tidak seimbangnya antara tanah yang tersedia dengan kebutuhan akan tanah. Kebutuhan tanah semakin meningkat disebabkan karena jumlah penduduk yang selalu bertambah, serta meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan tanah. Namun, jumlah tanah tetap. Oleh karena itu, dalam pengadaan perlu dilakukan secara transparan dengan tetap memperhatikan prinsip penghormatan terhadap hak-hak yang sah atas tanah.

2.4. Persepsi Terhadap Banjir

Persepsi adalah proses dengan makna kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang akan mempengaruhi indra kita. Persepsi mempengaruhi rangsangan (stimulus) atau pesan apa yang kita berikan kepada mereka ketika mereka mencapai kesadaran (Devito 1997). Hasil penelitian Baskoro (2008) mengenai persepsi dan sikap masyarakat Kota Jakarta terhadap fungsi hutan di daerah hulu dalam pengendalian banjir, 78 % responden mempunyai persepsi yang sedang dan

17 14.3 % responden mempunyai persepsi baik terhadap fungsi hutan sebagai pengendali banjir. Persepsi dibutuhkan untuk mengetahui sampai sejauh mana minat atau opini masyarakat terhadap suatu objek dalam bentuk barang atau suatu kejadian. Persepsi seseorang dapat dipengaruhi oleh pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin, dan pendapatan.

2.5. Willingnes to Accept

Willingnes to accept (WTA) kompensasi, melalui pengukuran yang terkait dengan surplus konsumen, variasi kompensasi, dan variasi ekuivalen. WTA juga memberikan informasi variasi kompensasi terhadap penurunan kesejahteraan (Hanley dan Spash 1993). Pendekatan WTA dapat memberikan informasi tentang besarnya dana kompensasi yang bersedia diterima oleh masyarakat atas penurunan kualitas lingkungan disekitarnya. Hasil penelitian Buckley et.al (2008), mengenai rencana pembangunan jalan wisata yang melewati lahan pertanian dan peternakan masyarakat di Irlandia. Hasilnya 51 % masyarakat tidak mengijinkan pembangunan tersebut, 21 % masyarakat mengijinkan pembangunan tanpa adanya kompensasi ganti rugi, 28 % masyarakat bersedia mengijinkan pembangunan jalan melewati lahan mereka asalkan mereka mendapatkan kompensasi yang sesuai. Nilai WTA yang diharapkan masyarakat sebagai kompensasi adalah sebesar € 0.46 per m.

18 III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Operasional

Sungai Krukut telah mengalami penyempitan dan pendangkalan. Hal ini menyebabkan masyarakat Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang yang tinggal dipinggir sungai rentan akan banjir. Pemerintah DKI Jakarta berencana melakukan normalisasi sungai untuk mengurangi resiko terhadap banjir. Program normalisasi sungai akan menyebabkan penggusuran terhadap pemukiman yang berada disepanjang bantaran sungai. Masyarakat yang lahannya akan tergusur menuntut adanya ganti rugi dari pemerintah akibat kehilangan tanah dan bangunannya. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian mengenai besarnya nilai ganti rugi yang bersedia diterima masyarakat.

Tujuan pertama dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran bentuk dan manfaat normalisasi Sungai Krukut yang telah direncanakan pemerintah. Hal ini perlu diketauhi terlebih dahulu sebelum mengkaji persepsi dan mengestimasi nilai WTA. Seberapa besar pengaruh normalisasi terhadap pengurangan resiko banjir. Pemerintah DKI mengharapkan dengan menormalisasi Sungai Krukut maka tidak terjadi lagi banjir di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang.

Tujuan selanjutnya yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap program normalisasi Sungai Krukut. Kajian persepsi masyarakat Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang terhadap program normalisasi Sungai Krukut penting, karena untuk untuk mengetahui sejauh mana respon masyarakat terhadap normalisasi sungai. Satu sisi masyarakat juga ingin agar banjir tidak lagi terjadi di wilayah meraka, tetapi disatu sisi

19 masyarakat yang tinggal di pinggir sungai harus merelakan tempat tinggal dan lahannya tergusur. Pematokan lahan atau tanda batas sudah dilakukan. Hal itu untuk mengetahui batas mana yang terkena pembebasan. Namun, sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai mekanisme dan besaran kompensasi dari Pemprov DKI Jakarta kepada masyarakat. Analisis persepsi ini menggunakan analisi deskriptif kualitatif.

Tujuan akhir dari penelitian ini yaitu mencari nilai ganti rugi yang bersedia diterima masyarakat (WTA). Kisaran nilai ganti rugi yang bersedia diterima masyarakat (WTA) atas lahan yang terkena program normalisasi sungai penting untuk diketahui karena untuk kelancaran proses normalisasi. Menurut Alias dan Daud (2007), jumlah kompensasi tidak hanya dapat mewakili nilai lahan yang diambil tetapi juga kerugian lainnya yang diterima sebagai konsekuensi dari akuisisi. Bagi pemerintah nilai ganti rugi terhadap masyarakat merupakan opportunity cost dalam pelaksanaan normalisasi sungai sebagai upaya penanggulangan banjir. Apabila nilai ganti rugi yang diberikan pemerintah tidak disepakati oleh masyarakat maka proses normalisasi sungai akan terhambat.

Asumsi-asumsi yang diperlukan dalam pelaksanaan pengumpulan nilai WTA dari masing-masing responden adalah:

1. Responden merupakan masyarakat Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang yang lokasi tempat tinggalnya terkena dampak normalisasi sungai.

2. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersedia memberikan ganti rugi sebagai kompensasi terhadap masyarakat yang tempat tinggalnya terkena dampak normalisasi sungai.

20 3. Responden dipilih dari penduduk yang relevan dan merupakan kepala

keluarga dari masing-masing rumah tangga.

Hipotesis yang digunakan dalam analisa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTA masyarakat adalah:

1. Luas lahan yang tergusur berpengaruh positif terhadap nilai WTA, semakin luas lahan milik seseorang semakin besar nilai ganti rugi yang diinginkan. 2. Jarak antara lahan atau tempat tinggal berpengaruh negatif dengan nilai

WTA, karena semakin dekat lahan atau tempat tinggal mereka dengan sungai nilai ganti rugi yang diharapkan semakin besar.

3. Lama tinggal berpengaruh positif terhadap nilai WTA, karena semakin lama seseorang tinggal di suatu tempat maka hubungan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terjalin dengan baik sulit untuk berubah.

4. Pendapatan berpengaruh negatif terhadap nilai WTA, karena semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin rendah untuk menuntut ganti rugi yang tinggi.

5. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap nilai WTA, karena semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi nilai ganti rugi yang diharapkan. 6. Jumlah tanggungan berpengaruh positif terhadap nilai WTA, karena semakin

banyak jumlah tanggungan semakin tinggi nilai ganti rugi yang diharapkan. 7. Status kepemilikan lahan, jika lahan yang tergusur merupakan hak milik

pribadi maka akan berpengaruh positif terhadap nilai WTA.

8. Jenis bangunan permanen atau semi permanen, jika responden memiliki bangunan permanen maka akan mengharapkan WTA yang lebih besar.

21 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai besarnya nilai ganti rugi yang diharapkan masyarakat kepada Pemprov DKI Jakarta. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi pemerintah dalam menentukan nilai ganti rugi dan persepsi masyarakat terhadap program normalisasi sungai. Alur penelitian yang lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.

22 Gambar 2. Diagram Alur Kerangka Berpikir

Penyempitan dan pendangkalan Sungai Krukut akibat peningkatan aktivitas penduduk

Menurunya kapasitas aliran sungai

Normalisasi sungai sebagai solusi pengendalian banjir

Timbul masalah:

1. Ganti rugi pemukiman tergusur

2. Nilai ganti rugi yang sesuai menurut masyarakat Mengkaji persepsi masyarakat terhadap program normalisasi sungai Mengestimasi nilai Willingness to Accept

Rekomendasi mengenai kompensasi atas program normalisasi sungai Banjir

Pelebaran sungai Pengerukan sungai

Pemprov DKI Jakarta

Mengetahui gambaran desain dan

manfaat normalisasi sungai

23 IV. METODE PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, dan Kelurahan Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang merupakan lokasi yang terkena dampak program normalisasi sungai. Sungai Krukut yang melintas diantara Kelurahan tersebut rencananya akan dinormalisasi oleh Pemprov DKI Jakarta tahun 2011/2012 sebagai upaya pengendalian banjir. Pengambilan data primer dilaksanakan dari Maret hingga April 2011.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang dibutuhkan meliputi: karakteristik seluruh respoden, respon seluruh responden mengenai persepsinya terhadap program normalisasi Sungai Krukut dan nilai kompensasi yang bersedia masyarakat terima dari Pemprov DKI Jakarta. Data primer pun didapat dari hasil wawancara dengan pihak Balai Besar Ciliwung Cisadane, Lurah Petogogan, Ketua RT dan RW di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang, dan tokoh masyarakat. Data primer ini diperoleh melalui kuisioner dan wawancara langsung.

Data sekunder meliputi data-data kependudukan Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang, data mengenai banyaknya rumah yang terkena dampak, dan semua hal menyangkut rencana normalisasi sungai. Data tersebut dapat diperoleh dari Sudin Tata Air Jakarta Selatan, Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Badan

24 Pertanahan Nasional, dan Balai Besar Ciliwung Cisadane, Kelurahan Petogogan, Kelurahan Pela Mampang.

4.3. Metode Pengambilan Data

Sampling frame dari penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang sehingga digunakan metode Cluster Sampling. Metode ini mengelompokkan populasi ke dalam beberapa kelompok yang lebih kecil, kemudian disampel secara acak hanya dari satu kelompok tersebut. Kelompok yang dimaksud adalah rumah tangga yang akan terkena dampak normalisasi Sungai Krukut. Jumlah sampel yang diambil adalah 50 responden, dimana yang dipilih adalah kepala keluarga dari kelompok yang tempat tinggalnya tergusur akibat normalisasi Sungai Krukut baik dari Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang. Responden dipilih secara acak salah satu rumah sebagai responden pertama kemudian setiap selang dua rumah dipilih sebagai responden selanjutnya. Informasi mengenai kajian normalisasi Sungai Krukut dapat dilakukan dengan metode snowball, yaitu setelah menemui satu responden (instansi), peneliti meminta rujukan kepada responden pertama untuk menentukan responden berikutnya.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dan menggunakan komputer dengan program Microsoftt Office Excel 2007 dan SPSS 15. Tabel 1 berikut ini akan menampilkan matriks metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan-tujuan dalam penelitian ini.

25 Tabel 1. Matriks Metode Analisis Data

4.4.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Program Normalisasi Sungai Krukut Analisis persepsi responden terhadap rencana normalisasi Sungai Krukut bertujuan untuk mengetahui respon masyarakat terhadap rencana normalisasi sungai. Data responden meliputi, seberapa penting normalisasi sungai bagi responden, penilaian responden terhadap kualitas sungai, penilaian responden terhadap perubahan fisik dari sungai, persepsi responden terhadap tingkat kenyamanan daerah tempat tinggalnya, persepsi mengenai seberapa sering pihak terkait memberikan sosialisasi terhadap normalisasi sungai, dan frekuensi banjir di Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang.

Analisis persepsi menggunakan skala perbedaan semantik. Skala perbedaan semantik ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu konsep atau objek apakah sama atau berbeda. Responden diminta untuk menilai suatu konsep atau objek dalam suatu skala

No Tujuan Penelitian Sumber Data Metode Analisis Data 1 Mengetahui gambaran desain dan manfaat normalisasi Sungai Krukut

Data sekunder dari instansi terkait Analisis deskriptif 2 Mengkaji persepsi masyarakat terhadap rencana program normalisasi sungai krukut

Data primer melalui kuisioner dan wawancara dengan masyarakat yang menjadi responden Analisis deskriptif kualitatif dengan Microsoftt Office Excel 2007 3 Mengestimasi WTA masyarakat dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tersebut

Data primer melalui kuisioner dan wawancara dengan masyarakat yang menjadi responden Analisis regresi berganda dengan SPSS15

26 bipolar dengan lima buah titik. Skala bipolar adalah skala yang berlawanan seperti baik-buruk, penting-tidak penting, bersih-kotor, dan sebagainya. Alternatif jawaban misalnya, nilai 5 untuk ”sangat bersih”, nilai 4 untuk “ bersih”, nilai 3 untuk “biasa saja”, nilai 2 untuk “kotor”, nilai 1 untuk “sangat kotor” (Nazir, 1988).

4.4.2. Analisis Nilai WTA dari Masyarakat Terhadap Program Normalisasi Sungai Krukut

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai ganti rugi (WTA) yang bersedia diterima masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tersebut. Pendekatan CVM akan digunakan untuk mengetahui nilai WTA masyarakat dalam penelitian ini. Walaupun yang menjadi objek dari WTA adalah lahan yang memiliki harga pasar, namun belum ada standar atau rumus mengenai penentuan nilai ganti rugi yang bersedia diterima sehingga dalam penelitian ini menggunakan metode WTA. Pendekatan CVM dalam penelitian ini terdiri dari