• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGROPOLITAN

Salah satu tujuan diberlakukannya agropolitan di Kabupaten Magelang adalah dalam rangka peningkatan kemandirian daerah sehingga dapat mengurangi keterkaitan negatif antara perdesaan dengan wilayah pusat pertumbuhan.

Peningkatan kemandirian wilayah perdesaan tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan cara meningkatkan fasilitas pelayanan publik di kawasan perdesaan.

Dalam menentukan hirarki ketersediaan fasilitas-fasilitas dapat dilihat dengan metode skalogram. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecamatan dengan penduduk yang banyak mempunyai fasilitas pelayanan publik yang relatif lebih lengkap. Hasil analisis skalogram pada Tabel 20 dan Tabel 21 dapat dilihat bahwa pada saat sebelum pelaksanaan agropolitan kecamatan Dukun menduduki peringkat ke-16, Kecamatan Sawangan peringkat ke-14, Kecamatan Candimulyo peringkat ke-17, Kecamatan Tegalrejo peringkat ke-10, Kecamatan Pakis peringkat ke-18, Kecamatan Grabak peringkat ke-4 dan Kecamatan Ngablak peringkat ke-21. Pada tujuh kawasan agropolitan, fasilitas industri sedang dengan jumlah terbesar adalah di Kecamatan Tegalrejo. Hal ini dikarenakan Kecamatan Tegalrejo merupakan sentra industri olahan makanan.

Berdasarkan Tabel 20 dan Tabel 21 diketahui bahwa sebagian besar prasarana publik yang ada adalah sarana kesehatan seperti Puskesmas dan dokter;

prasarana pendidikan; dan prasarana ekonomi seperti pasar umum. Penyebaran fasilitas-fasilitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 20 dan Tabel 21. Tingkat penyebaran tertinggi adalah fasilitas pendidikan seperti SD, kemudian diikuti

fasilitas tenaga kesehatan seperti bidan atau perawat lainnya. Namun, sarana kesehatan seperti Rumah Sakit Uum (RSU) memiliki tingkat penyebaran yang sangat rendah. Keberadaan RSU hanya terdapat pada wilayah-wilayah pusat pertumbuhan.

Pada masa dilaksanakannya agropolitan, tujuh kawasan agropolitan mengalami kenaikan peringkat. Kecamatan Dukun menduduki peringkat ke-15, Kecamatan Sawangan peringkat ke-13, Kecamatan Candimulyo peringkat ke-17, Kecamatan Tegalrejo peringkat ke-7, Kecamatan Pakis peringkat ke-14, Kecamatan Grabak peringkat ke-3 dan Kecamatan Ngablak peringkat ke 20.

Kecamatan Candimulyo menduduki peringkat yang sama dengan sebelum pelaksanaan agropolitan. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat dilaksanakannya agropolitan ketersediaan fasilitas-fasilitas publik mengalami peningkatan.

Ketersediaan prasarana seperti industri sedang dan inidustri besar juga meningkat pada saat pelaksanaan agropolitan.

Pelaksanaan agropolitan telah memberikan indikasi positif terhadap ketersediaan prasarana publik terutama fasilitas industri di tujuh kawasan agropolitan. Agropolitan di Kabupaten Magelang dilandaskan pada tiga sektor unggulan, salah satunya adalah agroindustri. Dengan peningkatan fasilitas agroindustri diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas agroindustri di tujuh kawasan agropolitan dan mempercepat keberhasilan pelaksanaan agropolitan di Kabupaten Magelang.

Kawasan agropolitan yang mempunyai fasilitas terbaik adalah Kecamatan Grabak dan Kecamatan Tegalrejo. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah industri yang ada pada kawasan tersebut. Selain itu, kedua kawasan tersebut berada di

daerah dekat dengan pusat pertumbuhan sehingga ketersediaan fasilitas publik relatif baik. Urutan ketersediaan fasilitas publik sebelum pelaksanaan agropolitan tidak banyak mengalami perubahan pada periode pelaksanaan agropolitan.

Sebelum pelaksanaan agropolitan, urutan ketersediaan fasilitas pada tujuh kawasan adalah Grabak, Tegalrejo, Sawangan, Dukun, Candimulyo, Pakis dan Ngablak. Setelah pelaksanaan agropolitan, semua kawasan mengalami peningkatan peringkat dengan urutan Grabak, Tegalrejo, Sawangan, Pakis, Dukun, Candimulyo dan Ngablak.

Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa pelaksanaan agropolitan berpengaruh secara signifikan terhadap ketersediaan fasilitas publik di tujuh kawasan agropolitan. Peningkatan fasilitas yang terlihat jelas adalah peningkatan fasilitas industri dan pengangkutan seperti terminal. Peningkatan fasilitas industri sangat berpangaruh pada pelaksanaan agropolian karena agropolitan di Kabupaten Magelang didasarkan pada sistem agroindustri, agribisnis dan agrowisata.

Peningkatan jumlah terminal di kawasan agropolitan juga akan mempermudah mobilitas sumberdaya pelaku ataupun barang pada kawasan agropolitan sehingga mendukung pelaksanaan agropolitan di kawasan-kawasan tersebut.

.

Tabel 20. Penyebaran Fasilitas Pelayanan Publik Periode Sebelum Agropolitan (Tahun 2000)

Sumber :BPS Kabupaten Magelang, 2000. Diolah.

No Kecamatan Jumlah

Penduduk PU IS IB PK RSU Pustu RSS RAP Dokter BP TK SD SMP SMA SMK MD PP Terminal JTF JUF Peringkat

1 Salaman 61,799 2 6 1 2 0 4 0 0 8 39 17 40 10 2 2 25 9 1 15 168 3

Tabel 21. Penyebaran Fasilitas Pelayanan Publik pada Saat Agropolitan (Tahun 2006)

Sumber :BPS Kabupaten Magelang, 2006. Diolah

No Kecamatan Jumlah

Penduduk PU IS IB PK RSU Pustu RSS RAP Dokter BP TK SD SMP SMA SMK MD PP Terminal JTF JUF Peringkat

1 Salaman 67,678 3 8 1 2 0 4 1 0 10 42 19 38 10 2 2 27 17 1 16 187 2

BAB IX. STRATEGI PRIORITAS PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KAWASAN AGROPOLITAN BOROBUDUR

Bab ini menjelaskan dua hal yang penting yaitu strategi dalam pengembangan agropolitan kawasan Borobudur dan substrategi atau strategi kegiatan dalam pencapaian tujuan kebijakan. Metode yang digunakan dalam bab ini yaitu kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif yang digunakan yaitu metode AHP. Metode ini diharapkan mampu menangkap persepsi atau pendapat dari responden mengenai strategi prioritas pengembangan agropolitan kawasan Borobudur.

Hasil pendapat gabungan yang telah diolah memiliki nilai Inconsistency Ratio (IR) sebesar 0.02. Nilai ini merupakan nilai gabungan dari 9 responden yang masing-masing mempunyai nilai Inconsistency Ratio (IR) kurang dari 0.1.

Artinya, para responden termasuk konsisten dalam memberikan nilai pembobotan dengan tingkat penyimpangan kecil.

8.1. Pengolahan Horisontal

8.1.1. Strategi Prioritas Pengembangan Agropolitan Kawasan Borobudur Strategi prioritas pengembangan agropolitan kawasan Borobudur yang menjadi fokus penelitian ada tiga, yaitu strategi pembangunan prasarana fisik pendukung agrowisata, pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata dan pengembangan agribisnis. Alasan pemilihan strategi tersebut didasarkan atas kondisi aktual di wilayah lokasi penelitian dan keinginan untuk memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang mengenai strategi prioritas pengembangan agropolitan kawasan Borobudur.

Hasil pendapat gabungan yang telah dilakukan terhadap 9 responden menunjukkan bahwa strategi yang lebih diutamakan terhadap pengembangan agropolitan kawasan Borobudur adalah pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata dengan bobot 0.500. Berdasarkan hasil wawancara, sebagai awal dari berjalannya sebuah program yang terpenting adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia pelakunya. Hal ini disesuaikan juga dengan pengalaman pengembangan program agropolitan kawasan Merapi-Merbabu bahwa kendala yang sering dihadapi adalah pengembangan sumberdaya manusia pelakunya.

Strategi kedua yang menjadi pilihan responden adalah strategi pembangunan prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata dan pengembangan agribisnis dengan bobot yang sama yaitu sebesar 0.250. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata sama pentingnya dengan pengembangan agribisnis yang harus dilakukan setelah pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis dan agrowisata.

Setelah kemampuan sumberdaya manusia pelaku berkembang, pelaksanaan konsep agropolitan harus didukung dengan prasarana dan pengembangan agribisnis yang matang. Pengembangan agribisnis yang dimaksudkan adalah pengembangan produk-produk pilihan untuk diolah dan dikembangkan sesuai dengan subsistem-subsistem dalam agribisnis.

Gambar 3. Nilai Bobot Strategi Pengembangan Agropolitan di Kabupaten Magelang

Keterangan :

I : Pembangunan prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata II : Pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata III : Pengembangan agribisnis

8.1.2. Substrategi Prioritas Pengembangan Agropolitan Kawasan Borobudur Substrategi yang menjadi prioritas secara berurutan dalam strategi pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata adalah pelatihan bisnis dengan bobot 0.800 dan yang kedua pelatihan pemandu wisata dengan bobot 0.200. Pelatihan bisnis merupakan langkah penting yang harus dilakukan untuk mengembangkan agropolitan di Kabupaten Magelang yang berkaitan dengan pengembangan sumberdaya manusia pelaku. Dengan berkembangnya kemampuan masyarakat dalam usaha bisnis diharapkan dapat meningkatkan nilai jual serta kesejahteraan masyarakat. Pelatihan pemandu wisata juga penting dilakukan karena melihat potensi agrowisata maupun wisata budaya dan wisata olahraga di kawasan agropolitan Borobudur.

0.250

0.500 0.250

0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500

1

I II III

Gambar 4. Nilai Bobot Substrategi pada Strategi Pengembangan Sumberdaya Pelaku Agribisnis-Agrowisata

Keterangan :

H : Pelatihan bisnis I : Pelatihan pemandu agrowisata

Dalam pembangunan prasarana fisik pendukung agribisnis agrowisata yang lebih penting dilakukan adalah pembangunan jalan poros desa dengan bobot 0.213. Pembangunan jalan poros desa sangat penting dilakukan guna memperlancar proses pemasaran dan pengadaan input produksi pertanian bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Substrategi kedua yang perlu dilakukan adalah pembangunan jalan usahatani di sentra produksi dengan bobot 0.191. Dengan pembangunan dan perbaikan jalan usahatani, akan mempermudah petani dalam pemasaran produk dan pengadaan sarana pertanian. Substrategi ketiga yang perlu dilakukan adalah pembangunan sub terminal agribisnis-agrowisata dengan bobot 0.167. Pembangunan sub terminal agribisnis-agrowisata diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran bagi petani dan menghilangkan ketergantungan petani untuk menjual produknya kepada tengkulak. Substrategi keempat yang perlu dikembangkan adalah irigasi dengan bobot 0.162. Dengan dibangunnya irigasi diharapkan dapat mengatasi permasalahan distribusi air dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Substrategi yang kelima adalah pasar ikan Gapoktan di kota tani dengan bobot 0.140. Pasar ikan Gapoktan yang ada terbukti sangat membantu petani ikan dalam

0.800 0.200

0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800

I H

penyediaan bibit dan penjualan hasil panen ikan. Penambahan pasar ikan Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan nilai jual ikan dan menyediakan informasi mengenai perlakuan usahatani ikan serta pemasaran ikan. Substrategi yang keenam yaitu sarana wisata kulier ikan, kelinci, kambing, minuman dan sebagainya dengan bobot 0.76. Pengembangan sarana kuliner di kawasan agrowisata diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung kembali dan merasa nyaman berkunjung pada obyek-obyek wisata tersebut. Substrategi yang terakhir adalah trek wisata air arung jeram di Kali Gending, Kali Elo, Kali Progo dan Kali Tangsi dengan bobot 0.050. Peningkatan fasilitas wisata olahraga air tersebut diharapkan dapat memperbanyak jumlah pengunjung dan mendukung proses promosi kepariwisataan Kabupaten Magelang.

Gambar 5. Nilai Bobot Prioritas Substrategi pada Strategi Pembangunan Prasarana Fisik Pendukung Agribisnis-Agrowisata

Keterangan :

A : Sub terminal agribisnis-agrowisata di kota tani utama Borobudur

B : Jalan poros desa (kawasan sentra produksi, kawasan agrowisata, kawasan agroindustri) C : Jalan usahatani di sentra produksi

D : Irigasi (irigasi pompa, irigasi permukaan)

E : Trek wisata air arung jeram di Kali Gending, Kali Elo, Kali Progo, Kali Tangsi F : Sarana wisata kuliner (ikan, kelinci, kambing, minuman, dan sebagainya) G : Pasar ikan Gapoktan di kota tani

Strategi prioritas kedua lainnya adalah strategi pengembangan agribisnis.

Substrategi prioritas utama pada strategi ini yang harus dikembangkan adalah pengembangan industri wisata di desa wisata dengan bobot 0.264. Dengan peningkatan industri wisata di desa wisata diharapkan dapat menambah

0.167

0.000 0.050 0.100 0.150 0.200 0.250

G

ketertarikan wisatawan terhadap obyek wisata yang ada pada kawasan tersebut sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah. Substrategi prioritas yang kedua adalah usahatani ternak kecil dan agroindustri dengan bobot yang sama sebesar 0.197. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua substrategi tersebut sama pentingnya yang harus dilakukan secara bersamaan. Dengan peningkatan usahatani ternak dan agroindustri itu berarti memanfaatkan potensi lokal yang ada untuk peningkatan perekonomian wilayah. Substrategi ketiga yang harus dilakukan adalah usahatani buah dan usahatani ikan dengan bobot yang sama sebesar 0.171. Usahatani buah dan ikan yang memiliki potensi untuk berkembang tetapi belum ada perlakuan yang optimal sehingga usahatani buah dan ikan hanya sebatas skala kecil. Untuk itu perlu pengembangan usahatani tersebut sehingga bernilai jual yang lebih tinggi.

Gambar 6. Nilai Bobot Prioritas Substrategi pada Strategi Pengembangan Agribisnis

Keterangan :

J : Usahatani buah (pepaya, kelengkeng, melon, rambutan, semangka) K : Usahatani ikan (benih, ikan lauk, ikan hias)

L : Usahatani ternak kecil (kambing, ayam kampung, kelinci)

M : Agroindustri (pangan berupa makanan, minuman dan cinderamata berbahan baku produk pertanian)

N : Pengembangan industri wisata di desa wisata (wisata alam, wisata air, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner)

0.171 0.171

0.197 0.197

0.264

0.000 0.050 0.100 0.150 0.200 0.250 0.300

N M L K J

Keterangan :

A : Sub terminal agribisnis-agrowisata di Kota Tani Utama Borobudur

B : Jalan poros desa (kawasan sentra produksi, kawasan agrowisata, kawasan agroindustri) C : Jalan usahatani di sentra produksi

D : Irigasi (irigasi pompa, irigasi permukaan)

E : Trek wisata air arung jeram di Kali Gending, Kali Elo, Kali Progo, Kali Tangsi F : Sarana wisata kuliner (ikan, kelinci, kambing, minuman, dan sebagainya) G : Pasar ikan Gapoktan di kota tani

H : Pelatihan bisnis I : Pelatihan pemandu agrowisata

J : Usahatani buah (pepaya, kelengkeng, melon, rambutan, semangka) K : Usahatani ikan (benih, ikan lauk, ikan hias)

L : Usahatani ternak kecil (kambing, ayam kampung, kelinci)

M : Agroindustri (pangan berupa makanan, minuman dan cinderamata berbahan baku produk pertanian)

N : Pengembangan industri wisata di desa wisata (wisata alam, wisata air, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner)

Gambar 7. Hasil Pengolahan Horisontal Pendapat Gabungan

Pemilihan strategi pengembangan agropolitan di kawasan agropolitan Borobudur

Membangun prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata

0,250

Pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata

8.2. Pengolahan Vertikal

Hasil pengolahan vertikal oleh responden menunjukkan hasil bahwa prioritas setiap elemen pada tingkat hirarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama. Prioritas strategi pengembangan agropolitan Borobudur sama dengan pengolahan horisontal karena hirarki tersebut tepat berada di bawah level tujuan.

Hasil pengolahan terhadap strategi prioritas pengembangan konsep agropolitan Borobudur menunjukkan bahwa substrategi yang paling utama harus dilakukan adalah pelatihan bisnis dengan bobot 0.182. Substrategi kedua yang harus dilakukan adalah pembangunan jalan poros desa dan pengembangan industri wisata di desa wisata dengan bobot yang sama sebesar 0.091. Substrategi prioritas yang keempat adalah pembangunan jalan usahatani di sentra produksi dengan bobot 0.082. Substrategi prioritas yang kelima adalah pembangunan sub terminal agribisnis dengan bobot 0.071. Substrategi prioritas keenam adalah irigasi dengan bobot 0.069. Substrategi prioritas yang ketujuh adalah usahatani ternak kecil dan agroindustri dengan bobot 0.068. Substrategi prioritas yang kedelapan adalah pasar ikan Gapoktan di kota tani dengan bobot 0.060. Substrategi prioritas yang kesembilan adalah usahatani buah dan usahatani ikan dengan bobot yang sama sebesar 0.059. Prioritas substrategi yang kesepuluh adalah pelatihan pemandu wisata dengan bobot 0.046. Prioritas substrategi yang kesebelas adalah sarana wisata kuliner dengan bobot 0.033. Substrategi prioritas yang terakhir adalah trek wisata air arung jeram dengan bobot 0.021.

Gambar 8. Substrategi Prioritas Pengolahan Vertikal Pengembangan Konsep Agropolitan Kawasan Borobudur

Keterangan :

A : Sub terminal agribisnis-agrowisata di Kota Tani Utama Borobudur

B : Jalan poros desa (kawasan sentra produksi, kawasan agrowisata, kawasan agroindustri) C : Jalan usahatani di sentra produksi

D : Irigasi (irigasi pompa, irigasi permukaan)

E : Trek wisata air arung jeram di Kali Gending, Kali Elo, Kali Progo, Kali Tangsi F : Sarana wisata kuliner (ikan, kelinci, kambing, minuman, dan sebagainya) G : Pasar ikan Gapoktan di kota tani

H : Pelatihan bisnis I : Pelatihan pemandu agrowisata

J : Usahatani buah (pepaya, kelengkeng, melon, rambutan, semangka) K : Usahatani ikan (benih, ikan lauk, ikan hias)

L : Usahatani ternak kecil (kambing, ayam kampung, kelinci)

M : Agroindustri (pangan berupa makanan, minuman dan cinderamata berbahan baku produk pertanian)

N : Pengembangan industri wisata di desa wisata (wisata alam, wisata air, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner)

0.182

0.000 0.020 0.040 0.060 0.080 0.100 0.120 0.140 0.160 0.180 0.200 1

Keterangan :

A : Sub terminal agribisnis-agrowisata di Kota Tani Utama Borobudur

B : Jalan poros desa (kawasan sentra produksi, kawasan agrowisata, kawasan agroindustri) C : Jalan usahatani di sentra produksi

D : Irigasi (irigasi pompa, irigasi permukaan)

E : Trek wisata air arung jeram di Kali Gending, Kali Elo, Kali Progo, Kali Tangsi F : Sarana wisata kuliner (ikan, kelinci, kambing, minuman, dan sebagainya) G : Pasar ikan Gapoktan di kota tani

H : Pelatihan bisnis I : Pelatihan pemandu agrowisata

J : Usahatani buah (pepaya, kelengkeng, melon, rambutan, semangka) K : Usahatani ikan (benih, ikan lauk, ikan hias)

L : Usahatani ternak kecil (kambing, ayam kampung, kelinci)

M : Agroindustri (pangan berupa makanan, minuman dan cinderamata berbahan baku produk pertanian)

N : Pengembangan industri wisata di desa wisata (wisata alam, wisata air, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner) Pemilihan strategi pengembangan agropolitan di kawasan agropolitan Borobudur

1.00

Membangun prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata

0,250

Pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis-agrowisata

Rasio Inkonsistensi Keseluruhan = 0,02

Gambar 9. Hasil Pengolahan Vertikal Pendapat Gabungan

BAB 1X. KESIMPULAN DAN SARAN

9.1. Kesimpulan

Sesuai dengan pelaksanaan konsep agropolitan di Kabupaten Magelang yang berdasarkan pada tiga sektor yaitu sektor agribisnis, agrowisata dan agroindustri harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan uraian dari pembahasan sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan agropolitan di Kawasan Merapi-Merbabu masih banyak menemui kendala terutama yang berkaitan dengan pengadaan modal, pengadaan teknologi dan sumberdaya pelaku atau petani yang kurang berkembang.

2. Setelah pelaksanaan agropolitan, kawasan yang memiliki peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk sektor pertanian adalah Kecamatan Dukun, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Candimulyo, Kecamatan Pakis, Kecamatan Grabak dan Kecamatan Ngablak.

3. Setelah pelaksanaan agropolitan, ketersediaan fasilitas publik di tujuh kawasan agropolitan mengalami peningkatan terutama peningkatan pada fasilitas industri dan pengangkutan.

4. Strategi prioritas pengembangan agropolitan Borobudur yang dipilih oleh responden adalah pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis dan agrowisata.

9.2. Saran

Adapun saran yang dapat menjadi rekomendasi kebijakan dalam penelitian ini adalah :

1. Pemerintah seharusnya meningkatkan pemerataan teknologi usahatani dan meningkatkan kualitas sumberdaya petani melalui pelatihan-pelatihan dan meningkatkan jumlah tenaga penyuluh pertanian.

2. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi terutama untuk sektor pertanian dan industri melalui program intensifikasi. Program intensifikasi dapat diwujudkan dengan sosialisasi pengelolaan usahatani dengan teknik-teknik yang lebih efisien serta bantuan pinjaman mandiri kepada kawasan agropolitan.

3. Peningkatan fasilitas publik pada tujuh kawasan agropolitan difokuskan pada fasilitas industri baik industri sedang maupun industri besar dan peningkatan fasilitas pengangkutan sehingga mempermudah proses promosi dan pemasaran produk-produk agropolitan.

4. Dalam rangka pengembangan sumberdaya pelaku agribisnis dan agrowisata di kawasan agropolitan Borobudur, langkah yang perlu dilakukan adalah penambahan jumlah lembaga pelatihan pemandu wisata dan sekolah kejuruan agribisnis di kawasan tersebut. Dengan langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sumberdaya pelaku agribisnis dan agrowisata di kawasan Borobudur.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencanaan Daerah. 2002. Masterplan Kawasan Agropolitan Merapi Merbabu Kabupaten Magelang. Kabupaten Magelang

Badan Perencanaan Nasional 2004. ’Kondisi Ekonomi Makro tahun 2004.’

www.bappenas.go.id

Badan Pusat Statistik Kabupaten Magelang. 2002. Pendapatan Regional Bruto Per Kecamatan Kabupaten Magelang tahun 1999-2002. Kabupaten Magelang __________________________________. 2006. Pendapatan Regional Bruto Per

Kecamatan Kabupaten Magelang tahun 2003-2006. Kabupaten Magelang ___________________________________. 2000. Kabupaten Magelang dalam

Angka 2000. kabupaten Magelang.

___________________________________. 2006. Kabupaten Magelang dalam Angka 2006. kabupaten Magelang.

Badan Pusat Statistik 2003. ’Pendapatan Nasional Indonesia 1999-2002’. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

__________________ 2003. ’Pentingnya Sektor Pertanian’. www.bps.go.id Budiharsono, Sugeng. 2005. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan

Lautan. Cetakan Kedua, Pradnya Paramita. Jakarta.

Departemen Pertanian 2002. ’Agropolitan’. www.agribisnis.deptan.go.id

Direktorat Jendral Penataan Ruang 2007. ’ Kamus Istilah Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah.’ www.pu.go.id/ditjen_ruang

Farida, N.A. 2006. Peranan Dampak Sektor Perikanan dan Kelautan Terhadap Pembangunan Wilayah Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah. Skripsi.

Departemen Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Firdaus, Muhammad dan Farid M.A. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih untuk Manajemen dan Bisnis. IPB Press. Bogor.

Hauser, philip M., Robert W. Gardner., Aprodicio A. Laquin & Salah El-Shakhs,.

1985. Penduduk dan Masa Depan Perkotaan : Studi Kasus di Beberapa Daerah Perkotaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Hengky. 2006. Penerapan Konsep Ekowisata untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Pesisir di Kabupaten Pandeglang Banten. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hermawati, Ricca. 2007. Dampak Pemekaran Wilayah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah : Analisis Kasus Propinsi Sumatera Selatan. Skripsi.

Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

id.wikipedia.org. Agropolitan.2003

_____________. Pertumbuhan ekonomi. 2005

Jiaravanon, Sumet. 2007. Masa Depan Agribisnis Indonesia.Bogor.

Koyano, Shogo. 2001. Pengkajian Tentang Urbanisasi di Asia Tenggara. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Mahardini, Anggi. 2006. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten dan Kota di Propinsi Jawa Barat Periode Sebelum dan Sesudah Pemekaran Wilayah. Skripsi.

Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.

Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Mosher, A.T. 1987. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Yasaguna.

Jakarta.

Ohkawa, Kazushi., Bruce F. Johnston & Hiromitsu Kaneda. 1983. Pertumbuhan Ekonomi dan Pertanian Pengalaman Jepang. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang 2006. ’Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang Tahun 2006’. Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang. Magelang.

Rachman, Haitan. 2007. ‘Pendalaman Decision Making’ www.WordPress.com Rahmawati, D.R. 2005. Faktor Kesiapan Masyarakat Petani dan Strategi

Pengembangan Agropolitan. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Reksohadiprodjo, Sukanto & A.R. Karseno. 1985. Ekonomi Perkotaan. Cetakan kedua. BPFE. Yogyakarta.

Rostow, W.W. 1962. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi. Widyatara. Jakarta..

Rustiadi, et al. 2005. Keterkaitan Desa Kota. Non Publikasi

Rustiadi, Ernan.,Setia Hadi & Widhyanto M.A. 2006. Kawasan Agropolitan Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. Crestpent Press. Bogor.

_____________ & sugimin Pranoto. 2007. Agropolitan : Membangun Ekonomi Perdesaan. Crestpent Press. Bogor.

Saaty, Thomas.L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Seri Manajemen No 134. PT Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Sahara. Modul Kuliah Mata Kuliah Ekonomi Regional. Non Publikasi.

Situs Resmi Pemerintah Daerah Baritokuala. ’Gerakan Pengembangan Kawasan Agropolitan’ www.baritokuala.go.id/Info_Agropolitan

Soekartawi. 2000. Pengantar Agroindustri. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

_________, 2003. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Raja Grafindo Persada.

Jakarta

Sunaryadi, Agus. 2005. ’Permukiman Transmigrasi’. Info Ketransmigrasian, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. vol.1, no.3 dalam www.nakertrans.go.id

Suryanda, A. ’Analitic Hierarchy Process’ www.damandiri.or.id

Wahyuni, Nitta. 2007. Analisis Pertumbuhan Sektor-Sektor Ekonomi Tangerang Pada Masa Otonomi Daerah (2001-2005). Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Bogor.

Zulparina, Oktasepta. 2004. Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Sebelum Otonomi dan Pada Masa Otonomi Daerah.

Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

LAMPIRAN

KUESIONER PENELITIAN

PELAKSANAAN KONSEP AGROPOLITAN DI KABUPATEN MAGELANG

Terimakasih atas perhatian dan kerjasama anda menjadi salah satu responden untuk mengisi kuisioner ini. Kuisioner ini merupakan instrumen penelitian dalam rangka penulisan skripsi program sarjana yang dilakukan oleh : Nama : Nur Fajri Rahmawati

NRP : A14304071

Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas : Pertanian

Universitas : Institut Pertanian Bogor

Nama Responden : ...

Jabatan : ...

Instansi : ...

I. Petunjuk Pengisian

Beri nilai Jika

1 Kriteria/ alternatif A sama pentingnya dengan kriteria/ alternatif B 3 A sedikit lebih penting daripada B

5 A jelas lebih penting daripada B 7 A sangat jelas lebih penting daripada B 9 A mutlak lebih penting daripada B

2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

Beri nilai Jika

1/1 B sama pentingnya dengan A 1/3 B sedikit lebih penting daripada A 1/5 B jelas lebih penting daripada A 1/7 B sangat jelas lebih penting daripada A 1/9 B mutlak lebih penting daripada A

1/2,1/4,1/6,1/8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

II. Perumusan Masalah

Pada tahun 2008, pemerintah Kabupaten Magelang mulai menyusun masterplan pelaksanaan gerakan agropolitan fase 2 yaitu Kawasan agropolitan Borobudur (tahun 2008-2028). Rencana strategi pengembangan agropolitan kawasan Borobudur sebagai berikut :

1. Membangun prasarana fisik pendukung agribisnis-agrowisata, melalui:

a Sub terminal agribisnis-agrowisata di Kota Tani Utama Borobudur.

a Sub terminal agribisnis-agrowisata di Kota Tani Utama Borobudur.

Dokumen terkait