BAB V. GAMBARAN UMUM
5.2. Gambaran Umum Kawasan Agropolitan Borobudur
Pada tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Magelang mulai merencanakan pelaksanaan konsep agropolitan kawasan Borobudur. Kawasan agropolitan pada kawasan Borobudur direncanakan untuk dilaksanakan di tujuh kecamatan, 103 desa. Rencana kecamatan-kecamatan yang termasuk kedalam kawasan agropolitan Borobudur adalah Kecamatan Borobudur sebagai kota tani utama, Kecamatan Salaman, Kecamatan Tempuran, Kecamatan Kajoran, Kecamatan Mertoyudan, Kecamatan Mungkid, dan Kecamatan Muntilan.
5.2.1. Keadaan Wilayah dan Geografis
Luas lahan total kawasan agropolitan pada kawasan agropolitan Borobudur diperkirakan seluas 12 644 hektar untuk lahan sawah dan 16 143 hektar untuk lahan kering atau tegalan. Kawasan agropolitan Borobudur merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 200-400 meter diatas permukaan laut. Iklim wilayah agropolitan Borobudur merupakan kawasan beriklim tropis.
5.2.2. Kependudukan dan Tenaga Kerja
Jumlah penduduk total di kawasan agropolitan Borobudur keseluruhan diperkirakan 456 060 jiwa. Penduduk dengan struktur mata pencaharian usahatani diperkirakan 57-80 persen dari penduduk total. Di kawasan tersebut terdapat 587 kelompok tani, 29 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), 2 kelompok wanita tani dan 4 kelompok pemuda tani yang tersebar di 103 desa.
5.2.3. Potensi Sebagai Daerah Pengembangan Agribisnis
Kawasan agropolitan Borobudur merupakan kawasan penghasil buah dan ternak. Buah yang mempunyai peluang untuk dikembangkan antara lain pepaya,
rambutan, melon, kelengkeng dan semangka. Ternak yang mempunyai potensi untuk dikembangkan seperti udang galah, ikan, kambing dan kelinci.
5.2.4. Potensi Sebagai Daerah Pengembangan Industri
Industri yang terdapat di kawasan agropolitan Borobudur adalah industri makanan, industri alat rumah tangga dan industri cendera mata. Industri-industri tersebut pada umumnya sudah berjalan dengan skala besar. Selain itu, di Kecamatan Borobudur terdapat investasi agroindustri berupa pengalengan buah-buahan baik buah dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Permintaan buah di Kabupaten Magelang selalu meningkat dari tahun ke tahun, sehingga memperbesar peluang pengembangan buah lokal di kawasan agropolitan Borobudur.
5.2.5. Potensi Sebagai Daerah Pengembangan Pariwisata
Kawasan agropolitan Borobudur sangat potensial untuk dikembangkan sektor kepariwisataan. Obyek wisata yang terdapat pada kawasan ini antara lain obyek wisata air, wisata alam, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner dan desa wisata. Meningkatnya jumlah wisatawan setiap tahun memperbesar peluang dikembangkannya sektor-sektor wisata di kawasan agropolitan Borobudur. Selain itu, di kawasan agropolitan Borobudur memiliki sarana dan prasarana dengan akses yang tinggi.
BAB VI. PELAKSANAAN AGROPOLITAN MERAPI-MERBABU DI KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2003 SAMPAI TAHUN 2008
6.1. Kawasan Agropolitan Pakis 6.1.1. Sistem Agribisnis
A. Subsistem Penyediaan Prasarana, Sarana dan Teknologi Usahatani
Pengadaan bibit dan pupuk diusahakan sendiri oleh petani. Sarana produksi pertanian yang digunakan oleh petani tergolong semi modern seperti mulsa plastik, traktor dan sistem penyemprotan sederhana. Pola penanaman yang digunakan petani pada umumnya adalah tumpang gilir. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di kawasan ini sudah menggunakan green house hasil kerjasama perusahaan swasta dan bantuan pemerintah sebanyak satu unit untuk penanaman tomat. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk kimia. Pupuk kandang diperoleh dari integrasi vertikal ternak dan tanaman yang diusahakan.
Bantuan pemerintah dalam hal penyediaan pupuk, bibit dan obat-obatan diberikan secara tidak kontinyu, sedangkan teknologi baru yang disediakan atau dijual oleh organisasi non pemerintah biasanya merupakan biaya promosi produk tertentu.
Kendala utama dalam penyediaan sarana, prasarana dan teknologi usahatani adalah ketidakmampuan modal petani dalam pembelian teknologi modern dan keterbatasan kemampuan petani dalam menciptakan bibit varietas baru.
B. Subsistem Produksi Usahatani
Komoditas pertanian utama yang diusahakan di kawasan agropolitan Pakis adalah tanaman hortikultura khususnya sayuran dataran tinggi dan ternak sapi potong. Komoditas unggulan kawasan agropolitan Pakis adalah cabai dan tomat dengan produktivitas rata-rata cabai pada tahun 2007 mencapai 9-10 ton per
hektar, sedangkan tomat 18-20 ton per hektar. Masalah utama yang sering dihadapi oleh petani adalah fluktuasi harga produk yang sangat tinggi. Ternak sapi diusahakan oleh hampir setiap rumah dan digunakan untuk kebutuhan pengolahan lahan usahatani.
C. Subsistem Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Kegiatan pascapanen yang dilakukan masih sangat sederhana berupa kegiatan sortasi dan pencucian hasil panen dengan cara manual. Beberapa desa sudah memanfaatkan cold storage untuk menyimpan hasil pertanian sebelum dijual. Pengolahan hasil pertanian yang sudah dilakukan di kawasan agropolitan Pakis adalah usaha perbenihan kentang oleh Gapoktan yang dimulai tahun 2005.
Pengolahan hasil lainnya adalah pembuatan keripik dengan bahan baku singkong dan cabai sebagai bahan pendukung. Kendala subsistem pascapanen dan pengolahan adalah pangsa pasar yang sulit ditembus oleh petani berskala kecil, sehingga petani berskala kecil menjual hasil usahataninya kepada tengkulak.
D. Subsistem Pemasaran
Kawasan agropolitan Pakis mempunyai pasar tani sederhana untuk mengumpulkan hasil pertaniannya. Sebagian petani masih menjual ke pedagang pengumpul atau langsung dijual ke pasar induk. Sebagian besar petani terutama petani berskala besar, menjual hasil panennya di Sub Terminal Agribisnis (STA) Sewukan, Kecamatan Dukun. Usaha perbenihan kentang dipasarkan secara langsung ke Pulau Sumatera dengan sistem kontrak atau perjanjian. Usaha agroindustri keripik, dipasarkan secara langsung kepada pengusaha souvenir dan oleh-oleh; pasar tradisional serta toko makanan di Kabupaten Magelang. Kegiatan promosi, perjanjian atau kontrak dilakukan sendiri oleh petani ataupun Gapoktan.
E. Subsistem Penunjang
Kelembagaan petani yang sudah terbentuk adalah paguyuban petani yang beranggotakan petani di kawasan agropolitan Pakis, Ngablak dan Sawangan.
Kelembagaan yang beranggotakan petani di kawasan agropolitan Pakis antara lain Paguyuban Petani Makmur, Paguyuban Lestari Makmur, Paguyuban Wates Bersatu dan sebagainya. Keberadaan kelembagaan tersebut sangat membantu masyarakat tani di kawasan ini terutama dalam hal kegiatan usahatani dan pemasaran. Lembaga keuangan di kawasan agropolitan Pakis jumlahnya terbatas dan pada umumnya petani tidak memanfaatkan lembaga keuangan yang ada dalam pengadaan modalnya. Hal ini dikarenakan prosedur peminjaman yang sulit dan tingginya bunga bank.
6.1.2. Sistem Agroindustri
Di kawasan ini terdapat sejumlah industri pengolahan produk pertanian menjadi produk makanan, industri pembuatan bibit kentang dan industri perangkaian bunga potong. Produk makanan yang dihasilkan adalah keripik yang dibuat dengan bahan baku singkong dan bahan pendukung cabai serta abon yang dibuat dengan bahan baku daging sapi. Industri yang berjalan di kawasan ini masih berskala kecil atau home industry dengan tenaga kerja 5 sampai 10 orang.
Teknologi yang digunakan dalam pengolahan bahan makanan tersebut masih sederhana. Proses pembuatan makanan secara manual, sedangkan proses pengepakan dengan plastik berlabel.
Industri perangkaian bunga potong pada umumnya merupakan pekerjaan sampingan sebagian petani di kawasan ini. Proses pemasarannya dengan sistem pemesanan atau beberapa petani juga ada yang memasarkan dengan sistem
perjanjian atau kontrak. Selain industri makanan dan perangkaian bunga potong, juga terdapat industri perbenihan kentang yang dijalankan oleh Gapoktan.
Teknologi yang digunakan adalah teknologi semi modern yaitu dengan plastik dan terdapat bangunan khusus perbenihan kentang. Pemasaran bibit kentang sudah cukup luas di kawasan Pakis dan sekitarnya, kawasan sekitar Kabupaten Magelang dan mulai tahun 2005 mampu menembus pasaran di Pulau Sumatera.
Tenaga kerja yang dilibatkan dalam industri perbenihan kentang tersebut adalah pemuda atau usia produktif yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap.
Kendala dalam pengembangan agroindustri di kawasan agropolitan Pakis adalah teknologi industri yang masih tradisional serta pemasaran yang kadang sulit dijangkau oleh pengusaha skala kecil.
6.2. Kawasan Agropolitan Candimulyo 6.2.1. Sistem Agribisnis
A. Subsistem Penyediaan Prasarana, Sarana dan Teknologi Usahatani
Bibit yang digunakan dalam usahatani pada awalnya didatangkan dari Desa Nglumut Kecamatan Srumbung, namun mulai tahun 1993 bibit diusahakan sendiri oleh petani. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dari usahatani ternak kerbau dan sapi. Prasarana yang telah dibangun pemerintah setelah adanya konsep agropolitan dirasa sangat menguntungkan petani seperti adanya jalan usahatani dan jalan poros desa. Sebelum agropolitan, jalan usahatani dan jalan poros desa di kawasan ini berupa jalan tanah dan liat yang sulit menyerap air pada saat musim penghujan. Setelah adanya jalan tersebut, proses pemanenan dan pemasaran produk menjadi lebih mudah. Teknologi agribisnis yang diberikan oleh pemerintah untuk kawasan ini adalah alat sortasi buah, alat pengolahan buah
atau vacum friying, pupuk dan bibit. Bantuan berupa bibit durian montong dan petruk diberikan pada tanggal 14 Januari tahun 2007 sebanyak 1500 batang.
Sistem pendistribusian bantuan bibit durian tersebut diserahkan kepada kelompok tani, kemudian didistribusikan kepada petani di kawasan ini.
B. Subsistem Produksi Usahatani
Komoditas utama yang diusahakan adalah duku, petai, cabai keriting, nangka, salak dan durian serta usahatani ternak kerbau dan sapi. Komoditas unggulan kawasan tersebut adalah komoditas salak dengan produksi sekitar 3 452 kuintal pada tahun 2007. Lahan usahatani salak rata-rata di kawasan ini mencapai 200-300 m² per kepala keluarga. Komoditas yang sedang digalakkan di kawasan ini adalah buah durian. Proses usahatani yang dilakukan masih tergolong sederhana. Petani menggunakan pupuk kandang dari hasil ternak yang diolah secara manual sebagai pupuk. Ternak sapi dan kerbau diusahakan oleh sebagian besar masyarakat dengan skala kecil. Rata-rata jumlah ternak per kepala keluarga sebanyak 2-5 ekor. Pola penanaman dan pemeliharaan tanaman salak dilakukan secara manual berdasar pengalaman petani. Kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan komoditas unggulan durian adalah sumberdaya manusia atau petani belum mampu mengatasi hama dan penyakit pada tanaman durian.
C. Subsistem Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Kegiatan pascapanen yang dilakukan adalah sortasi buah dan pembersihan buah secara manual oleh petani. Petani cenderung lebih memilih sortasi buah dengan cara manual daripada dengan alat sortasi buah karena sortasi manual lebih cepat dan sudah menjadi kebiasaan petani. Pengolahan hasil pemanenan buah
yang diusahakan oleh masyarakat adalah produk makanan berupa keripik salak dan keripik nangka.
D. Subsistem Pemasaran
Pemasaran hasil usahatani buah salak dilakukan dengan sistem ekspedisi yaitu sistem perjanjian dengan perusahaan atau pedagang skala nasional, dijual kepada pengumpul dan dijual langsung ke pasar. Petani dengan skala usahatani salak yang besar menjual hasil usahanya dengan sistem kontrak. Sementara itu, petani dengan skala usaha kecil sampai menengah, menjual hasil panennya secara langsung kepada pengumpul atau langsung dijual ke pasaran. Sampai saat ini, belum ada lembaga atau organisasi yang mengatur penjualan salak di kawasan ini.
Produk olahan berupa keripik nangka dan keripik salak dipasarkan langsung oleh rumah tangga ke pasar tradisional, toko-toko makanan atau instansi-instansi swasta maupun pemerintah.
E. Subsistem Penunjang
Kelompok tani yang terdapat di kawasan ini adalah Kelompok Tani Ngudirejo yang terdiri dari petani salak di kawasan agropolitan Candimulyo.
Kegiatan yang dilakukan kelompok tani tersebut adalah pelatihan dan percobaan teknik budidaya salak. Kelembagaan lain selain kelompok tani adalah lembaga keuangan perbankan dan koperasi. Namun, hanya beberapa orang saja yang memanfaatkan lembaga keuangan tersebut. Sebagian besar petani menggunakan modal sendiri untuk menjalankan usahanya. Kendala yang dihadapi pada subsistem ini adalah kesulitan masyarakat dalam proses peminjaman modal untuk pengembangan usahanya dikarenakan sebagian besar masyarakat tidak mempunyai sejumlah agunan yang menjadi persyaratan perbankan.
6.2.2. Sistem Agroindustri
Kegiatan industri yang diusahakan oleh masyarakat adalah industri pengolahan produk makanan berupa keripik salak dan keripik nangka. Usaha agroindustri tersebut berskala rumah tangga, dengan tenaga kerja anggota keluarga masing-masing. Teknologi yang digunakan dalam pengolahan keripik tersebut adalah teknologi sederhana dan teknologi modern (menggunakan vacum friying). Sebagian besar proses pengepakan dengan menggunakan plastik dan tidak berlabel, tetapi ada juga yang sudah melakukan pengepakan dengan plastik berlabel. Kendala yang sering dihadapi masyarakat adalah sebagian besar pengrajin produk keripik adalah pengrajin dengan skala usaha kecil sehingga mengalami kesulitan dalam penjualan. Harga yang ditawarkan oleh pengrajin pun masih tergolong rendah karena tidak ada sistem pengepakan yang modern.
6.3. Kawasan Agropolitan Sawangan 6.3.1. Sistem Agribisnis
A. Subsistem Penyediaan Prasarana, Sarana dan Teknologi Usahatani
Benih yang digunakan dalam sistem budidaya diusahakan sendiri oleh petani dengan teknologi dan peralatan semi modern. Bantuan bibit dari pemerintah pada umumnya adalah bibit percobaan yang dicobakan di kawasan ini.
Bantuan bibit percobaan yang sudah diterima petani antara lain bibit jagung yang diberikan tahun 2008, bibit kubis, bibit tomat dan bibit cabai. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk kimia. Pupuk kandang diperoleh dari integrasi vertikal antara ternak dan tanaman usahatani. Kendala pada subsistem ini adalah ketidakmampuan petani dalam pengadaan teknologi agribisnis yang modern dan keterbatasan modal petani dalam pembelian bibit sapi sehingga tidak
jarang petani menggunakan sistem gaduhan. Sitem gaduhan yang dimaksud adalah petani mendapat bantuan sapi perah dari pihak pemerintah atau swasta yang dipelihara dan diternakkan oleh petani. Kemudian petani mengembalikan sapi tersebut dalam bentuk sapi atau uang setelah sapi tersebut beranak. Kondisi kandang sapi perah yang kurang memenuhi persyaratan juga menjadi kendala dalam subsistem ini.
B. Subsistem Produksi Usahatani
Komoditas pertanian yang diusahakan di kawasan ini adalah komoditas sayuran dataran tinggi dan ternak sapi perah. Komoditas unggulan kawasan agropolitan Sawangan adalah stroberi. Teknologi usahatani yang digunakan adalah teknologi semi modern seperti mulsa plastik dan green house. Kendala yang dihadapi pada subsistem usahatani adalah kerusakan tanaman yang tidak menentu sesuai pergantian musim, kelebihan air di musim penghujan dan kekurangan air di musim kemarau. Usaha untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah telah mengembangkan sistem pendistribusian air dengan teknologi sederhana dan pembangunan klinik agribisnis di setiap desa. Usahatani ternak sapi diusahakan oleh hampir setiap kepala keluarga. Sebagian besar petani memiliki sapi perah sendiri, tetapi ada juga beberapa petani yang memelihara sapi dengan sistem gaduhan. Produksi rata-rata susu sampai tahun 2007 kurang lebih 10 liter/hari/sapi. Bantuan sapi perah dari Pemerintah Daerah kabupaten Magelang sebesar 13-20 ekor per desa. Sistem distribusi sapi perah tersebut secara bergilir kepada semua petani.
C. Subsistem Pengolahan Hasil dan Pascapanen
Kegiatan pascapanen yang dilakukan adalah kegiatan sortasi dan pencucian hasil usahatani secara manual serta industri pengolahan hasil pertanian menjadi produk makanan. Produk makanan yang dihasilkan adalah saus dengan bahan baku tomat dan cabai, dodol stroberi serta susu sapi.
D. Subsistem Pemasaran
Pemasaran produk usahatani dilakukan dengan memasarkan langsung ke STA Kecamatan Sawangan dan STA Sewukan Kecamatan Dukun serta dijual langsung ke supermarket. Penjualan ke tengkulak jarang dilakukan oleh petani di kawasan ini. Ekspansi pasar meliputi kawasan sekitar Kabupaten Magelang dan daerah sekitar Propinsi Jawa Tengah. Pemasaran produk makanan hasil pengolahan produk usahatani dipasarkan melalui distributor atau dipasarkan langsung ke pasar tradisional, toko-toko makanan atau dijajakan langsung oleh petani di kawasan agrowisata Gardu Pandang. Khusus pemasaran susu, sebagian besar petani memasarkan lewat Koperasi Unit Desa (KUD) sehingga berapapun jumlah produksi ada yang menampung karena KUD melayani penjualan susu setiap hari.
E. Subsistem Penunjang
Lembaga keuangan telah ada dan berfungsi cukup baik meskipun dalam sisi jumlah belum memadai. Namun, petani jarang memanfaatkan fasilitas lembaga keuangan tersebut karena prosedur yang rumit serta bunga yang dirasa cukup tinggi. Lembaga keuangan yang sering digunakan oleh petani di kawasan ini yaitu KUD dan bantuan tanpa bunga oleh pemerintah. Kelompok tani ada di setiap dusun dan Gapoktan ada di setiap desa. Pelatihan mandiri oleh kelompok
tani dan Gapoktan sudah berjalan lancar. Selain itu, terdapat juga paguyuban peternak sapi perah yang sering mendapat bimbingan dari penyuluh dapangan.
6.3.2. Sistem Agroindustri
Agroindustri yang terdapat di kawasan ini adalah industri pengolahan produk pertanian menjadi produk makanan seperti dodol stroberi, saus dan susu sapi serta industri pembuatan pupuk kandang. Industri pembuatan dodol stroberi dan perah susu hampir tersebar di setiap desa, dengan skala kecil atau home industry. Industri pembuatan saus tomat hanya ada di Desa Banyuroto dan diusahakan oleh kelompok usaha industri pembuatan saus yang terdiri dari para ibu rumah tangga yang sekaligus tergabung dalam PKK.
Teknologi yang digunakan dalam pembuatan saus dengan alat modern, bantuan dari pemerintah daerah pada tahun 2006 dalam upaya pengembangan agropolitan. Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok usaha industri pengolah tomat di Desa Banyuroto. Teknik pembuatan dodol stroberi dengan alat sederhana dan modern. Hampir setiap rumah mengusahakan dodol stroberi dengan teknologi tradisional. Teknik pembuatan dengan cara modern hanya dilakukan oleh kelompok usaha di Desa Banyuroto yang juga mendapat bantuan alat pengolah stroberi modern. Susu sapi yang diperjualkan sampai saat ini baru dalam tahap susu segar dan susu siap minum, belum ada pengolahan variasi produk susu.
Proses pengepakan produk dodol stroberi menggunakan plastik mika tidak berlabel. Pengepakan saus menggunakan botol plastik dan sudah berlabel.
Sementara itu, pengepakan susu hanya dengan plastik-plastik dan belum berlabel.
Pemasaran produk-produk tersebut sebagian besar dipasarkan langsung oleh pengusaha di kawasan agrowisata Gardu Pandang yang berada di Desa Ketep
Kecamatan Sawangan, pasar-pasar tradisional dan toko-toko makanan. Ekspansi pemasaran dodol stroberi dan saus belum sampai keluar pulau ataupun ekspor.
Khusus pemasaran susu sebagian besar dipasarkan di KUD yang ada di masing-masing desa. Industri pembuatan pupuk kandang sudah dilakukan dengan teknik modern oleh kelompok-kelompok tani. Alat-alat modern tersebut merupakan bantuan dari pemerintah daerah dan hanya berada di Desa Gantang. Sebelum diolah di Desa Gantang, pupuk-pupuk tanaman yang akan diolah dikumpulkan di bangunan pengumpul pupuk tanaman yang tersebar di tiga desa. Proses pengepakan pupuk dengan karung plastik dan sudah berlabel. Proses pemasaran sebagian besar dengan tujuan pasar lokal dan pasar luar daerah seperti Semarang dan Yogyakarta. Kendala pada sistem agroindustri adalah kesulitan penjualan bagi pengrajin produk makanan berskala kecil yang terbiasa memasarkan langsung produk-produk tersebut tanpa label. Padahal, dengan adanya label nilai jual produk bisa lebih tinggi.
6.3.3. Sistem Agrowisata
Keberadaan agrowisata Gardu Pandang dan Air Terjun Kedung Kayang di kawasan agropolitan Sawangan sangat menguntungkan masyarakat sekitar. Proses perijinan pendirian usaha hanya diperbolehkan untuk masyarakat sekitar obyek wisata sedangkan masyarakat luar tidak diijinkan untuk mengusahakannya. Ketika agropolitan dicanangkan, pemerintah memberikan bantuan bibit kopi dan jeruk kepada petani yang memiliki lahan di pinggir jalan menuju daerah obyek wisata dan bantuan tempat berjualan. Mulai tahun 2007, masyarakat mulai mengembangkan obyek wisata Kebun Stroberi Petik Sendiri.
6.4. Kawasan Agropolitan Ngablak 6.4.1. Sistem Agribisnis
A. Subsistem Penyediaan Prasarana, Sarana dan Teknologi Usahatani
Pupuk dan benih diusahakan sendiri oleh petani, namun ada juga benih yang berasal dari bantuan pemerintah. Teknologi yang digunakan untuk usahatani di kawasan ini sebagian besar merupakan teknologi semi modern seperti mulsa plastik. Sembilan desa di kawasan ini telah menggunakan green house untuk usahataninya. Pembuatan green house mendapat bantuan pinjaman lunak dari perusahaan agribisnis yang ada di Kabupaten Magelang. Pinjaman tersebut mencapai nominal 20 juta rupiah untuk setiap desa. Bantuan pemerintah dalam pelaksanaan konsep agropolitan yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah bantuan bibit dan peralatan pertanian, pembangunan jalan usahatani, pembangunan STA dan pembangunan jalan poros desa. Selain bantuan prasarana, bantuan yang sangat menolong petani yaitu bantuan berupa pinjaman tidak berbunga dari pemerintah. Kendala subsistem ini yaitu ketersediaan teknologi yang masih terbatas dikarenakan ketidakmampuan modal masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan teknologi.
B. Subsistem Produksi Usahatani
Komoditas yang diusahakan adalah komoditas hortikultura dataran tinggi dan ternak sapi potong. Komoditas unggulan kawasan ini adalah komoditas sayuran buncis dengan produktivitas 15-20 ton per hektar, brokoli dengan produktivitas 12 ton per hektar dan kentang dengan produktivitas 20-45 ton per hektar. Sebagian besar kegiatan usahatani di kawasan ini dilakukan dengan teknologi semi modern. Usahatani ternak dilakukan oleh hampir setiap rumah
tangga di kawasan ini. Bantuan pemerintah dalam upaya pengembangan komoditas sapi potong tersebut adalah dengan memberikan bantuan sistem gaduhan 100 sapi untuk setiap desa dan bantuan perbaikan kandang ternak sapi.
Distribusi bantuan sapi tersebut dilakukan dengan sistem bergilir antar petani.
Sistem gaduhan juga diterapkan oleh perusahaan agribisnis swasta luar daerah, tetapi petani merasa dirugikan dengan sistem yang diterapkan oleh perusahaan swasta karena persentase bagi hasil yang diterima petani lebih kecil daripada persentase yang menjadi milik perusahaan. Kendala usahatani yang sering dihadapi petani adalah gangguan pada tanaman tergantung pada siklus musim dan fluktuasi harga yang tidak menentu.
C. Subsistem Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Kegiatan pascapanen yang dilakukan oleh petani adalah pensortiran dan pencucian produk pertanian dengan cara manual dan penyimpanan di cold storage. Kegiatan pengolahan hasil pertanian yang sudah ada sampai saat ini
Kegiatan pascapanen yang dilakukan oleh petani adalah pensortiran dan pencucian produk pertanian dengan cara manual dan penyimpanan di cold storage. Kegiatan pengolahan hasil pertanian yang sudah ada sampai saat ini