BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.4. Strategi Pembangunan Agropolitan
Dalam karyanya, Rustiadi dan Hadi (2007) menyebutkan pada prinsipnya strategi pembangunan agropolitan adalah mendorong kegiatan sektor pertanian dan sektor komplemennya di wilayah perdesaan melalui pembangunan agropolitan (kota kecil di lingkungan pertanian) atau mikropolitan (kota menengah-kecil) atau merupakan pembangunan pusat-pusat pelayanan pada kota-kota kecil yang diberikan beberapa perlengkapan infrastruktur fasilitas publik perkotaan. Fasilitas publik tersebut antara lain seperti air bersih, tenaga listrik, pusat pasar, pusat hiburan (amenities), lembaga perbankan dan keuangan, sekolah menengah sampai cabang universitas bersama pusat pendidikan dan latihan serta terdapat bangunan-bangunan lain, ruang terbuka dan taman, saluran pembuangan (sewerage) fasilitas tersebut diperlukan guna mendorong dan mendukung dalam mencapai keberhasilan strategi pembangunan pertanian dan ekonomi perdesaan yang dapat menyumbang kepada peningkatan kinerja sistem perekonomian nasional.
3.1.5. Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Ohkawa (1983), suatu fase pertumbuhan adalah suatu segmen waktu tertentu yang lain dari yang lain dalam pertumbuhan jangka panjang, yang ciri-ciri uniknya dapat ditunjukkan dengan indikator-indikator tertentu. Definisi pertumbuhan ekonomi (economic growth) suatu negara menurut Prof. Simon Kuznets dalam Solihin (2005) adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan), dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.
Menurut Solihin (2005), terdapat tiga faktor utama pertumbuhan ekonomi, yaitu : 1. akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia; 2.
pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja; serta 3. kemajuan teknologi.
Berdasarkan informasi yang didapat dari id.wikipedia.org, keberhasilan pertumbuhan ekonomi lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan.
3.3. Kerangka Pemikiran Operasional
Pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara perdesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal dengan kota sebagai pusat kegiatan ekonomi.
Ketidakseimbangan proses interaksi antara perdesaan dengan kota menyebabkan keadaan yang saling memperlemah antara kedua wilayah tersebut. Wilayah perdesaan dengan kegiatan utama sektor pertanian mengalami permasalahan produktivitas yang stagnan, rendah dan nilai tukar produk menurun akibat
beberapa permasalahan, disisi lain wilayah perkotaan sebagai tujuan pasar dan pusat pertumbuhan menerima beban berlebih (over urbanization) sehingga memunculkan ketidaknyamanan akibat permasalahan-permasalahan sosial (konflik, kriminal, dan penyakit) dan lingkungan (pencemaran dan buruknya sanitasi lingkungan permukiman).
Munculnya permasalahan antara wilayah perdesaan dengan perkotaan tersebut pada intinya adalah tingginya tekanan pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan berkurangnya pendapatan tenaga kerja relatif terhadap modal dan lahan. Dua sektor yang dianggap mampu menampung perluasan lapangan kerja tersebut adalah sektor pertanian dan industri-industri kecil dan menengah serta pengelolaan sektor jasa lingkungan di wilayah perdesaan. Wilayah perdesaan masih mempunyai banyak potensi yang perlu dikembangkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembangunan tersebut.
Salah satu ide pendekatan pengembangan perdesaan adalah mewujudkan kemandirian pembangunan perdesaan yang didasarkan pada potensi wilayah desa itu sendiri, dimana keterkaitan dengan perekonomian kota harus bisa diminimalkan (Rustiadi dan Pranoto, 2007). Konsep agropolitan merupakan salah satu konsep pembangunan wilayah yang dikembangkan oleh John Friedman dan Mike Douglass tahun 1975 yang menyarankan suatu bentuk pendekatan sebagai aktivitas pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah perdesaan dengan jumlah penduduk antara 50 ribu sampai 150 ribu orang.
Sesuai dengan kondisi geografi, aktifitas penduduk dan lingkungannya, Kabupaten Magelang menetapkan sektor pertanian, industri berbasis pertanian, dan pariwisata sebagai tiga sektor unggulan yang disinergikan. Sinergi ketiga
sektor tersebut kemudian melahirkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian menuju agroindustri yang maju, agrowisata yang menarik dan industri wisata yang melibatkan banyak pelaku. Gabungan ketiga sektor tersebut menjadi dasar gerakan pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Magelang.
Penerapan konsep agropolitan di Kabupaten Magelang mulai dilaksanakan tahun 2003. Pelaksanaan konsep agropolitan di Kabupaten Magelang dibagi kedalam empat fase. Fase pertama adalah kawasan agropolitan Merapi-Merbabu (tahun 2003-2023), fase kedua adalah kawasan agropolitan Borobudur (tahun 2008-2028), fase ketiga adalah kawasan agropolitan Sumbing (tahun 2011-2031) dan fase terakhir merupakan fase gabungan dari semua kawasan (tahun 2014).
Tujuan pelaksanaan agropolitan seperti yang disebutkan dalam masterplan agropolitan Kabupaten Magelang adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pengembangan wilayah; mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi; peningkatan kemandirian kawasan sehingga tidak bergantung pada wilayah pusat pertumbuhan
Setelah pelaksanaan konsep agropolitan di Kabupaten Magelang dari tahun 2003 sampai tahun 2008, penelitian ini akan mendeskripsikan pelaksanaan konsep agropolitan di masing-masing wilayah agropolitan. Deskripsi tersebut didasarkan pada sektor agribisnis, sektor agroindustri dan sektor agrowisata pada masing-masing wilayah. Wilayah yang menjadi cakupan penelitian adalah pada tujuh kecamatan agropolitan yaitu Kecamatan Grabak, Pakis, Ngablak, Tegalrejo, Candimulyo, Sawangan dan Dukun.
Menurut Kepala Bidang Usahatani Dinas Pertanian Kabupaten Magelang ( Soekam, Desember 2007), selama tiga tahun berjalan, gerakan pengembangan kawasan agropolitan Merapi-Merbabu telah menunjukkan kinerja yang baik.
Tetapi hal tersebut hanyalah tahap inisiasi dari sebuah wujud berjalannya sistem agribisnis. Untuk mewujudkan masyarakat tani kawasan yang benar-benar mampu melakukan agribisnis, dalam kawasan yang agropolis dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun, untuk itu gerakan agropolitan harus diteruskan.
Melihat keberhasilan pelaksanaan gerakan agropolitan Merapi-Merbabu, dalam penelitian ini akan menganalisis seberapa besar pengaruh pelaksanaan konsep agropolitan sampai tahun 2006 terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah di tujuh kawasan agropolitan Merapi-Merbabu. Analisis tersebut akan dilakukan dengan model pendekatan shift share. Variable yang digunakan dalam analisis shift share adalah PDRB semua kecamatan Kabupaten Magelang sebelum agropolitan dilaksanakan dan periode pada saat agropolitan dilaksanakan. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis penyebaran fasilitas publik di tujuh kawasan agropolitan Merapi-Merbabu setelah pelaksanaan agropolitan. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis skalogram.
Pada tahun 2008, pemerintah Kabupaten Magelang mulai menyusun masterplan pelaksanaan gerakan agropolitan fase 2 yaitu kawasan agropolitan Borobudur (tahun 2008-2028). Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis untuk menilai prioritas strategi pengembangan agropolitan di kawasan agropolitan Borobudur. Penilaian prioritas strategi untuk diterapkan di kawasan agropolitan Borobudur melibatkan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang yang
berkompeten dalam masalah perencanaan konsep agropolitan. Analisis tersebut dilakukan dengan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Keterangan :
Ruang lingkup penelitian
Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Operasional
Ketimpangan desa-kota
Agropolitan sebagai strategi pengembangan wilayah
Pelaksanaan konsep agropolitan di Kabupaten Magelang
Fase 1 : Kawasan agropolitan Merapi-Merbabu tahun 2003-2023
Fase 2 : Kawasan agropolitan Borobudur tahun 2008-2028
Fase 3 : Kawasan agropolitan Sumbing
tahun 2011-2031
Fase 4 : Gabungan semua kawasan mulai
tahun 2014 Pengaruh pelaksanaan
konsep agropolitan terhadap pertumbuhan
ekonomi
Prioritas strategi pengembangan agropolitan kawasan agropolitan Borobudur
Sektor agribisnis Sektor agroindustri Sektor agrowisata
Deskripsi pelaksanaan agropolitan Kabupaten Magelang sampai tahun
2008
Ketersediaan fasilitas publik setelah
pelaksanaan agropolitan Analisis shift share Skalogram
Analitical Hierarchy Process
BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Magelang. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Magelang merupakan salah satu wilayah agropolitan. Agropolitan di Kabupaten Magelang mulai dikembangkan pada tahun 2003, karena Kabupaten Magelang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi wilayah agropolitan.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dan dikumpulkan langsung dari responden dan informan kunci di lapangan melalui penyebaran kuisioner dan wawancara.
Wawancara yang dilakukan mencakup respon responden mengenai gambaran pelaksanaan agropolitan di tujuh kawasan agropolitan Kabupaten Magelang.
Respon yang dimaksud mencakup pada sektor agribisnis, agroindustri dan agrowisata. Strategi pemerintah daerah untuk mengembangkan agropolitan kawasan Borobudur diperoleh dengan data primer melalui kuisioner. Kuisioner yang digunakan adalah pertanyaan terstruktur yaitu pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberi jawaban kepada beberapa alternatif saja ataupun kepada satu jawaban saja. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat nasional dan daerah Kabupaten Magelang, Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Magelang, pustaka serta instansi terkait yang sesuai dengan penelitian.
4.3. Metode Penarikan Sampel dan Pengumpulan Data
Teknik pemilihan responden dalam wawancara pelaksanaan agropolitan Merapi-Merbabu di tujuh kawasan agropolitan dipilih secara puposive sampling atau pemilihan secara sengaja yang memposisikan responden sebagai aktor dalam pelaksanaan agropolitan Merapi-Merbabu. Responden yang dimaksud adalah responden yang terlibat langsung atau dianggap mengerti permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan agropolitan Merapi-Merbabu.
Selain itu, responden dalam analisis strategi prioritas pengembangan agropolitan kawasan Borobudur adalah restricted random sampling yang menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu dengan metode cluster sampling.
Metode cluster sampling dilakukan dengan cara purposive sampling atau pemilihan secara sengaja yang memposisikan responden sebagai pihak perencana, leader dan kelompok kerja. Responden yang dipilih adalah orang yang berkompeten dalam pengembangan agropolitan di Kabupaten Magelang. Untuk keperluan analisis AHP digunakan 9 responden, dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Daftar Responden Analisis AHP
No Instansi Tujuan Penelitian (Responden)
Jumlah (orang) 1 Perencana Kabupaten Magelang
• Badan Perencanaan Daerah 1
2 Leader pelaksanaan agropolitan Kabupaten Magelang
• Dinas Pertanian 1
• Dinas Perindustrian dan Perdagangan 1
• Dinas Pariwisata dan Kebudayaan 1
3 Kelompok kerja pelaksanaan agropolitan Kabupaten Magelang
• Dinas Pertanian 1
• Dinas Perindustrian dan Perdagangan 1
• Dinas Pariwisata dan Kebudayaan 1
• Pemerintah Kecamatan Borobudur 2
Total Responden 9
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan secara deskriptif dari data yang diperoleh untuk mengetahui pelaksanaan agropolitan Merapi-Merbabu dalam sistem agribisnis, agroindustri dan agrowisata. Analisis kuantitatif bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelaksanaan konsep agropolitan terhadap pertumbuhan ekonomi di tujuh kawasan agropolitan Kabupaten Magelang, mengetahui ketersediaan fasilitas publik di tujuh kawasan agropolitan setelah pelaksanaan agropolitan dan mengetahui prioritas strategi pengembangan agropolitan Borobudur. Analisis kuantitatif tersebut menggunakan metode analisis shift share dan skalogram yang kemudian diolah dengan software microsoft exell 2003, dan Analitic Hierarchy Process (AHP) kemudian diolah dengan bantuan perangkat lunak expert choice 2000. Penyajian secara ringkas mengenai matriks pengumpulan data penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tujuan Penulisan, Informasi yang Dibutuhkan, Jenis Data dan Alat Analisis Penelitian.
No Tujuan Penelitian Informasi yang
Dibutuhkan Sumber Data Metode Analisis 1 Mendeskripsikan
pelaksanaan agropolitan di Kabupaten Magelang sampai tahun 2007
• Pelaksanaan konsep agropolitan pada tujuh wilayah agropolitan
• Indikasi program pembangunan
Data sekunder : Bappeda, Dinas
Data sekunder : BPS Kabupaten
Data sekunder : BPS Kabupaten Magelang, BPS Nasional
Analisis kuantitatif (skalogram)
4 Menganalisis strategi pengembangan kuisioner kepada 9 responden
Analisis kualitatif dan kuantitatif (AHP)
4.4.1. Shift Share
Menurut Budiharsono (2005), analisis shift share pertama kali diperkenalkan oleh Perloff et all pada tahun 1960. Analisis shift share adalah salah satu alat analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber pertumbuhan ekonomi baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi tenaga kerja pada suatu wilayah tertentu. Melalui analisis shift share dapat diketahui bagaimana perkembangan suatu sektor di suatu wilayah jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya, apakah bertumbuh cepat atau lamban.
Dalam penelitian ini, analisis shift share digunakan untuk membandingkan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi per kecamatan Kabupaten Magelang dalam dua periode yaitu periode sebelum agropolitan dilaksanakan (1999-2002) dan periode pada saat agropolitan dilaksanakan (2003-2006). Variabel yang digunakan dalam analisis ini adalah PDRB per kecamatan Kabupaten Magelang.
Keungulan utama dari analisis shift share adalah dapat melihat perkembangan produksi atau kesempatan kerja di suatu wilayah hanya dengan menggunakan dua titik waktu data. Data-data yang digunakan juga mudah diperoleh dan relatif tersedia di setiap wilayah. Analisis shift share mempunyai banyak kegunaan, diantaranya adalah untuk melihat :
1. Perkembangan sektor perekonomian di suatu wilayah terhadap perkembangan ekonomi wilayah yang lebih luas.
2. Perkembangan sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya.
3. Perkembangan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya, sehingga dapat dibandingkan besarnya aktivitas suatu sektor pada wilayah tertentu dan pertumbuhan antar wilayah.
4. Perbandingan laju sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor-sektornya.
Terdapat tiga komponen utama dalam analisis shift share yaitu komponen national share, komponen proportional shift dan komponen differential shift.
a. Komponen Pertumbuhan Nasional (National share)
Komponen pertumbuhan nasional adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi atau kesempatan kerja nasional, perubahan kebijakan ekonomi nasional atau perubahan dalam hal-hal yang mempengaruhi perekonomian semua sektor dan wilayah.
)
b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (Proportional shift component)
Komponen pertumbuhan proporsional tumbuh karena perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan mentah, perbedaan dalam kebijakan industri (seperti kebijakan perpajakan, subsidi dan price support) serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar.
)
c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Differential shift component)
Komponen pertumbuhan pangsa wilayah timbul karena peningkatan atau penurunan PDRB atau kesempatan kerja dalam suatu wilayah dibandingkan
dengan wilayah lainnya. Cepat lambatnya pertumbuhan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya ditentukan oleh keunggulan komparatif, akses ke pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut.
)
Pertumbuhan perekonomian pada setiap sektor dapat diperinci atas pengaruh dari national share, proportional shift dan differential shift.
⎟⎟
X = Nilai total aktifitas dalam total wilayah
X = Nilai total aktifitas tertentu dalam total wilayah i
X = Nilai aktifitas tertentu dalam unit wilayah tertentu ij
t1 = Titik tahun akhir t0 = Titik tahun awal
Kemampuan teknik analisis shift share dalam memberikan informasi mengenai pertumbuhan di suatu wilayah tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan analisis shift share antara lain adalah :
1. Persamaan shift share hanyalah identity equation dan tidak mempunyai implikasi-implikasi keperilakuan. Metode shift share tidak untuk menjelaskan mengapa, misalnya pengaruh keunggulan kompetitif adalah positif dibeberapa wilayah, tetapi negatif di daerah-daerah lain. Metode shift share merupakan teknik pengukuran yang mencerminkan suatu sistem perhitungan semata dan tidak analitik.
2. Komponen pertumbuhan nasional secara implisit mengemukakan bahwa laju pertumbuhan suatu wilayah hendaknya tumbuh pada laju nasional tanpa memperhatikan sebab-sebab laju pertumbuhan wilayah.
3. Kedua komponen pertumbuhan wilayah (proportional shift dan differential shift) berkaitan dengan hal-hal yang sama seperti perubahan penawaran dan permintaan, perubahan teknologi dan perubahan lokasi, sehingga tidak dapat berkembang dengan baik.
4. Teknik analisis shift share secara implisit mengambil asumsi bahwa semua barang dijual secara nasional, padahal tidak semua demikian.
Metode Back Casting
Metode back casting digunakan untuk merubah harga konstan PDRB berdasarkan laju pertumbuhan. Metode back casting akan merubah harga konstan PDRB dengan menggunakan laju pertumbuhan sektor. Metode ini hanya merubah harga pasar dari suatu komoditas tanpa merubah kuantitas komoditas. Metode ini dirumuskan sebagai berikut :
PDRB T+1(f)
PDRB T(f) = Laju T+1(p)+100 (100) Keterangan :
T(f) = Tahun dasar akhir T (p) = Tahun dasar awal 4.4.2. Skalogram
Metode skalogram dapat digunakan untuk menentukan peringkat pemukiman atau wilayah dan kelembagaan atau fasilitas pelayanan. Tahapan metode skalogram untuk menyusun hirarki peringkat kecamatan-kecamatan dalam suatu kabupaten adalah sebagai berikut :
1. Kecamatan-kecamatan disusun urutannya berdasarkan peringkat jumlah penduduk
2. Kecamatan-kecamatan tersebut disusun urutannya berdasarkan jumlah jenis fasilitas tersebut.
3. Fasilitas-fasilitas disusun urutannya berdasarkan jumlah wilayah yang memiliki jenis fasilitas tersebut.
4. Peringkat jenis fasilitas disusun urutannya berdasarkan jumlah total unit fasilitas.
5. Peringkat kecamatan disusun urutannya berdasarkan jumlah total fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing wilayah tersebut.
Metode skalogram mempunyai beberapa kelebihan (Budiharsono, 2001), antara lain :
1. Memperlihatkan dasar diantara jumlah penduduk dan tersedianya fasilitas pelayanan.
2. Secara cepat dapat mengorganisasikan data dan mengenal wilayah.
3. Membandingkan permukiman-permukiman dan wilayah-wilayah berdasarkan ketersediaan fasilitas pelayanan.
4. Memperlihatkan hirarki pemukiman atau wilayah.
5. Secara potensial dapat digunakan untuk merancang fasilitas baru dan memantaunya.
4.4.3. Analitic Hierarchy Process (AHP)
Proses Hirarki Analitik (Analitic Hierarchy Process) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun 1970-an untuk mengorganisasikan informasi dan judgement dalam memilih alternatif yang paling
disukai (Marimin, 2004). Dengan menggunakan AHP, suatu persoalan yang akan dipecahkan dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisir sehingga memungkinkan dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya.
Analisis ini berguna untuk menentukan pengambilan keputusan berdasarkan imaginasi, kompetensi dan pengalaman seseorang atau kelompok.
Menurut Firdaus dan Afendi (2008) Analitic Hierarchy Process (AHP) adalah struktur teknik yang digunakan untuk memperkirakan keputusan yang kompleks.
Metode analisis data yang digunakan adalah menggunakan Analitic Hierarchy Process (AHP) yaitu suatu pendekatan yang digunakan berdasarkan analisis kebijakan yang bertujuan untuk memecahkan konflik yang terjadi sehingga mendapatkan lokasi yang tepat dan optimal bagi pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan (suistinable).
Menurut Saaty (1993) terdapat tiga prinsip yang digunakan dalam memecahkan permasalahan dengan analisis logika eksplisit, yaitu :
1. Prinsip menyusun hirarki
Untuk memperoleh pengetahuan secara rinci, realitas yang kompleks disusun kedalam bagian yang menjadi elemen pokoknya dan kemudian bagian ini dimasukkan kedalam bagiannya lagi dan seterusnya secara hierarki.
2. Prinsip menetapkan prioritas
Penetapan prioritas yang dimaksudkan adalah peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya.
3. Prinsip konsistensi logis
Konsistensi logis adalah menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis.
Tahapan penyelesaian persoalan dengan prinsip kerja AHP menurut Marimin (2005) adalah sebagai berikut :
1. Perumusan masalah
Untuk menyelesaikan masalah perlu dilakukan penentuan sasaran yang ingin dicapai, penentuan kriteria pemilihan dan penentuan alternatif pilihan.
Informasi mengenai sasaran, kriteria dan alternatif tersebut kemudian disusun dalam bentuk diagram
2. Pembobotan kriteria
Menggunakan prinsip kerja AHP, yaitu perbandingan berpasangan (pairwise comparisions), tingkat kepentingan (importance) suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain dapat dinyatakan dengan jelas. Tabel 7 merupakan nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan, menurut Saaty dalam Marimin (2005).
Tabel 7. Nilai Skala Banding Berpasangan
Nilai Keterangan 1 Kriteria/ alternatif A sama pentingnya dengan kriteria/ alternatif B
3 A sedikit lebih penting daripada B 5 A jelas lebih penting daripada B 7 A sangat jelas lebih penting daripada B 9 A mutlak lebih penting daripada B
2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan
Sumber : Saaty dalam Marimin (2005)
Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi dengan nilai perbandingan B dengan A.
3. Penyelesaian dengan manipulasi matriks
Matriks yang dihasilkan diolah untuk menentukan bobot dari kriteria, yaitu dengan jalan menentukan nilai eigen (eigenvector). Prosedur untuk mendapatkan nilai eigen adalah :
• Kuadratkan matriks tersebut.
• Hitung jumlah nilai dari setiap baris, kemudian lakukan normalisasi.
• Hentikan proses tersebut jika perbedaan antara jumlah dari dua perhitungan berturut-turut lebih kecil dari suatu nilai batas tertentu.
4. Pembobotan alternatif.
Menyusun matriks berpasangan untuk alternatif-alternatif bagi setiap kriteria. Langkah pembobotan alternatif sama dengan langkah pembobotan pada kriteria.
Pengolahan horisontal
Pengolahan horisontal dimaksudkan untuk menyusun prioritas elemen keputusan setiap tingkat hirarki keputusan. Tahapannya menurut Saaty dalam Marimin (2004) adalah sebagai berikut :
a. Perkalian baris (z) dengan rumus : z1 = ij
j a
=1
π
b. Perhitungan vektor prioritas atau vektor eigen
eVP1 =
eVPi adalah elemen vektor prioritas ke-i c. Perhitungan nilai eigen maksimum
VA = aij x VP dengan VA = (Vai)
VB = VA/VB dengan VB = (Vbi) VA=VB =Vektor antara
d. Perhitungan indeks konsistensi (CI) :
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang akan berpengaruh kepada kesahihan hasil, rumusnya sebagai berikut :
CI =
Untuk mengetahui apakah CI dengan besaran tertentu cukup baik atau tidak, perlu diketahui rasio yang dianggap baik, yaitu apabila CR ≤ 0,1. Rumus CR adalah sebagai berikut :
CR = CI RI
Nilai RI merupakan nilai random indeks yang dikeluarkan oleh Oakridge Laboratory yang berupa tabel berikut :
Tabel 8. Nilai Random Indeks
Sumber : Oakridge National dalam Marimin (2004) Pengolahan vertikal
Pengolahan vertikal digunakan untuk menyusun prioritas setiap elemen dalam hierarki terhadap sasaran utama. jika NPpq didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama, maka : NPpq =
∑
NPpq = nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama
NPHpq = nilai prioritas elemen ke-p pada tingkat ke-q
NPTt = nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat q-1 6. Consistency Ratio (CR)
Consistency Ratio merupakan parameter yang digunakan untuk memeriksa apakah perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak.
Seharusnya nilai CR tidak lebih dari 0,10 jika penilaian kriteria telah dilakukan dengan konsisten.
7. Penggabungan pendapat responden
Pada dasarnya AHP dapat digunakan untuk mengolah data dari satu responden ahli. Namun demikian dalam aplikasinya penilaian kriteria dan alternatif dilakukan oleh beberapa ahli multidisiplioner. Konsekuensinya pendapat beberapa ahli tersebut perlu dicek konsistensinya satu persatu. Pendapat yang konsisten kemudian digabungkan dengan menggunakan rata-rata geometrik.
XG = n n i
i x
=1
π
XG = rata-rata geometrik n = jumlah responden
Xi = penilaian oleh responden ke-i
Hasil penilaian gabungan tersebut kemudian diolah dengan prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Menurut Rachman (2007) beberapa keuntungan AHP antara lain :
1. AHP memberikan satu model yang mudah dimengerti, luwes untuk macam-macam persoalan yang tidak terstruktur.
2. AHP mencerminkan cara berpikir alami untuk memilih elemen-elemen dari satu sistem ke dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur
2. AHP mencerminkan cara berpikir alami untuk memilih elemen-elemen dari satu sistem ke dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur