Kepulauan Natuna merupakan bagian dari Kabupaten Natuna yang terletak di Provinsi Riau. Secara geografis, Kabupaten Natuna terletak pada 1016‟ Lintang Utara – 7019‟ Lintang Utara dan 1050 oo‟ Bujur Timur – 11100oo‟ Bujur Timur.
Kabupaten Natuna mempunyai luas 264.198,37 Km2, dimana sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan, yaitu seluas 262.197,07 Km2 dan sisanya daratan yang berbentuk kepulauan seluas 2.001,3 Km2. Kabupaten Natuna secara administratif berbatasan dengan Pada tahun 2009, pemerintah Tiongkok menyerahkan sebuah peta yang berisikan wilayah kekuasaan Tiongkok atas Laut Cina Selatan. Didalam peta tersebut, perairan Indonesia tepatnya di perairan Zona Ekonomi Eksklusif kepulauan Natuna, turut serta didalamnya (Korkut dan Kang, 2017 : 429).
Lokasi kepulauan Natuna yang posisinya menjorok ke utara yang terletak di Laut Cina Selatan bagian selatan menyebabkan kepulauan Natuna menjadi salah satu pulau yang strategis setelah kepulauan Spratly dan kepulauan Paracel.
Kepulauan Natuna menjadi strategis dikarenakan perairan Natuna merupakan jalur transportasi laut bagi perdagangan di Asia Tenggara. Perairan Natuna adalah lalu lintas internasional yang menghubungkan samudera Pasifik dan samudera Hindia. Selain itu perairan Natuna juga merupakan jalur utama menuju kota – kota utama di Asia Timur (Sitohang, 2008).
Selain menjadi jalur strategis, perairan Natuna juga menyimpan cadangan minyak bumi dan gas alam yang terbanyak di kawasan Asia Pasifik. Kekayaan perairan Natuna dibuktikan dengan adanya kandungan gas alam pada salah satu ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km disebelah utara kepulauan Natuna yang menyimpan 112.356.680 barrel total cadangan dengan volume sebesar 222 trillion cubic feet (TCT). Ditambah dengan cadangan minyak minyak bumi di kepulauan Natuna yang diperkirakan mencapai 14.386.470 barrel (Purwatiningsih dan Masykur, 2012 : 64).
Kekayaan alam yang dimiliki oleh Natuna menjadikan Natuna sebagai sebuah kepulauan yang bernilai ekonomis. Maka tidak mengherankan jika Tiongkok menginginkan kepulauan Natuna. Karena Tiongkok menggunakan jalur perairan yang dimulai dari Selat Malaka kemudian melalui perairan Natuna untuk melakukan jalur perdagangan dan juga import minyak. Selain itu, di perairan Natuna yang di klaim oleh Tiongkok terdapat timbunan gas Alpha D yang terbesar se Asia, sedangkan Tiongkok membutuhkan pasokan gas Alam dan juga minyak bumi yang sangat banyak demi menyokong kegiatan perindustrian dan alutsista yang dimiliki oleh Tiongkok. Tercatat bahwa pada tahun 2017, Tiongkok melakukan impor minyak sebesar 67% dari dari total keperluannya. Sedangkan untuk gas alam, Tiongkok harus mengimpor sebesar 34% dari total yang dibutuhkan oleh Tiongkok. Tahun 2017, 80 % dari impor minyak Tiongkok dan juga 13% impor gas alam Tiongkok transit di selat Malaka dan Laut Cina Selatan (Departemen Pertahanan AS, 2018 ; 54). Tampak jelas kepentingan Tiongkok di Laut Cina Selatan yang berasal dari kebutuhan – kebutuhan dalam negeri Tiongkok.
Adanya kepentingan yang harus dipenuhi oleh Tiongkok menyebabkan Tiongkok harus mengamankan wilayah Laut Cina Selatan. Maka dari itu, Tiongkok menempatkan militernya di Laut Cina Selatan. Hal ini dibuktikan dengan kucuran dana militer Tiongkok yang setiap tahunnya meningkat dengan rata – rata 8,5% dari tahun 2007 – 2016 (Departemen Pertahanan AS, 2017 ; ii).
Selain itu, pada tahun 2016, Tiongkok tengah disibukkan dalam pemabngunan di pulau Spratly. Tiongkok melakukan reklamasi di Laut Cina Selatan. Hal ini dilakukan agar pulau Spratly menjadi base dari militer Tiongkok (Departemen Pertahanan AS, 2017 ; 9). Untuk menjaga wilayah Laut Cina Selatan, Tiongkok menempatkan kapal patrol yang diberikan nama CCG (China Coast Guard). CCG bertugas menjaga wilayah yang diklaim sepihak oleh Tiongkok, menjaga agar tidak terjadi penyelundupan, melindungi sumber daya perikanan dan menegakkan hukum. Selain itu untuk di wilayah Laut Cina Selatan, Tiongkok telah mempersiapkan alutsista angkatan lautnya berupa : 4 kapal selam yang dilengkapi dengan rudal balistik, 2 kapal selam yang dilengkapi dengan rudal, 16 kapal selam mesin diesel yang dilengkapi dengan senjata, 7 kapal penghancur, 12 kapal
corvetes, 3 kapal amfibi, 11 kapal pengangkut tank, 8 kapal pengangkut ukuran sedang, dan 35 kapal patrol rudal (Departemen Pertahanan AS, 2017 ; 27).
Dengan ditempatkannya militer Tiongkok di Laut Cina Selatan menyebabkan terjadi ancaman – ancaman di perairan Natuna diantaranya adalah tahun 2010, Indonesia mendapatkan ancaman yang serius melalui kapal patroli Tiongkok (Currie, 2010). Sejak Tiongkok menyerahkan peta wilayah kekuasaannya di Laut Cina Selatan, Tiongkok secara perlahan – lahan menempatkan militernya untuk menjaga wilayah Laut Cina Selatan, seperti ingin mengamankan wilayah tersebut dan menjaga Laut Cina Selatan agar tidak ada yang melanggar batas wilayah kekuasaan Tiongkok termasuk wilayah perairan Natuna. Ketika kapal patroli Indonesia melakukan penangkapan terhadap kapal milik Tiongkok karena melakukan pelanggaran dengan menangkap ikan secara ilegal dan akan di proses secara legal, kapal boat Tiongkok yang dilengkapi dengan senjata berat mengarahkan tembak mesin berkaliber besar dan mengancam kapal patroli Indonesia jika tidak melepaskan tahanan Tiongkok yang telah diamankan oleh petugas Indonesia. Dan kejadian ini terjadi berulang selama tahun 2010. Kerugian yang ditanggung oleh Indonesia akibat adanya illegal fishing di perairan Natuna sebesar US$ 25.000.000.000 per tahun. Natuna sendiri diperkirakan menghasilkan 500.000 ton ikan per tahunnya (Supriyanto, 2015 ; 2)
Tiongkok seakan ingin memperlihatkan kepada dunia internasional bahwa Tiongkok adalah pemilik sah daripada Laut Cina Selatan sehingga Tiongkok tidak menginginkan jika Negara lain melanggar batas dan mengganggu wilayah kekuasaannya. Dan keseriusan Tiongkok untuk mendapatkan Laut Cina Selatan dibuktikan oleh pemerintah Tiongkok ketika tahun 2011 pemerintah Tiongkok menyebutkan dalam buku putih Tiongkok untuk pertama kalinya core interest of China yaitu :
“China is firm in upholding its core interests which include the following: state sovereignty, national security, territorial integrity and national reunification, China's political system established by the Constitution and overall social stability, and the basic safeguards for ensuring sustainable economic and social development.” (Republik Rakyat Tiongkok, 2011)
Pernyataan yang diberikan oleh pemerintah Tiongkok menyebutkan bahwa inti kepentingan nasional Tiongkok salah satunya adalah integritas wilayah dan reunifikasi nasional. Sehingga Tiongkok berusaha dengan berbagai cara untuk mempertahankan wilayahnya dan mengembalikan wilayah kekuasaan Tiongkok pada zaman dahulu, sehingga pada tahun 2012, pemerintah Tiongok mengeluarkan passport baru yang didalamnya berisikan gambar peta wilayah Laut Cina Selatan yang berada dalam garis putus – putus dibagian kiri atas passport tersebut (McDonald, 2012).
Dengan dikeluarkannya passport yang berisikan peta wilayah Laut Cina Selatan, pemerintah Tiongkok secara tidak langsung telah mengumumkan bahwa wilayah tersebut adalah resmi bagian dari wilayah kekuasaan Tiongkok. Hal ini sontak mendapatkan protes keras dari Negara – Negara yang berselisih paham terhadap Tiongkok seperti : Vietnam, Taiwan, dan Filipina. Ketiga Negara tersebut menolak mengakui peta yang berada didalam passport yang dicetak oleh pemerintah Tiongkok.
Taiwan yang telah lama bersitegang dengan Tiongkok dikarenakan Tiongkok mengakui bahwa Taiwan adalah bagian dari Negara Tiongkok, bahkan tidak mengakui passport tersebut, dan menyatakan para wisatawan Tiongkok yang ingin berkunjung ke Taiwan harus memiliki dokumen perjalanan khusus (The Guardian, 2012)
Gambar 4.2 Sembilan Garis Imajiner di Laut Cina Selatan didalam passport terbaru Tiongkok
Sumber : McDonald, 2012
Pada tahun 2013, Kapal patroli Indonesia mengamankan sebuah kapal milik Tiongkok yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal. Ketika awak kapal akan digiring ke daratan, kapal milik Tiongkok Yuzheng 310 mengikuti kapal patroli Indonesia selama beberapa jam. Kapal Yuzheng 310 diketahui adalah sebuah kapal yang dilengkapi tembak mesin, meriam berukuran ringan, dan sensor elektronik. Dan kapal ini mengancam kapal patroli Indonesia dan meminta untuk melepaskan para tahanan dan mematikan sirene kapal patroli. Kapal patroli Indonesia pada saat itu tidak dapat meminta bantuan karena alat komunikasi milik kapal patroli Indonesia tidak dapat berfungsi setelah kedatangan kapal Yuzheng 310 dan dapat berfungsi kembali dengan benar setelah kepergian kapal Yuzheng 310 (Bentley, 2013). Ahirnya tahanan yang akan dibawa oleh patroli Indonesia untuk di proses dilepaskan dengan alasan demi keselamatan awak kapal Indonesia.
Pada 19 Maret 2016, Kapal Patroli Hiu 11 mengejar KM Kway Fey yang sedang melakukan pencurian ikan di perairan laut Natuna pada kawasan wilayah teritorial kedaulatan Republik Indonesia. Saat kapal asal Tiongkok sedang ditahan dan 8 awaknya ditangkap, mendadak muncul kapal Coast Guard China yang menabrakkan kapalnya kearah kapal Kway Fey. Hal tersebut dilakukan, kemungkinan besar sebagai upaya agar kapal pencuri tidak dapat dibawa dan ditenggelamkan (Hakim, 2016).
4.4 Strategi Pemerintah Indonesia didalam mempertahankan Kedaulatan