• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen TESIS OLEH : INDRA PANDAPOTAN (Halaman 42-46)

Teknik analisis data yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Model ini ada 4 komponen analisis yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Menurut Moleong (2004:280-281), Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan tempat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Langkah-langkah analisis data menurut Miles dan Huberman (1992:15-19), adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan data melalaui dokumentasi dengan menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan untuk menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikutnya.

2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi, pemfokusan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang ada di lapangan langsung, dan diteruskan

pada waktu pengumpulan data, dengan demikian reduksi data dimulai sejak peneliti memfokuskan wilayah penelitian.

3. Penyajian data, yaitu rangkaian organisasi informasi yang memungkinkan penelitian dilakukan. Penyajian data diperoleh berbagai jenis, jaringan kerja, keterkaitan kegiatan atau tabel.

4. Penarikan kesimpulan, yaitu dalam pengumpulan data, peneliti harus mengerti dan tanggap terhadap sesuatu yang diteliti langsung di lapangan dengan menyusun pola-pola pengarahan dan sebab akibat.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Pulau – Pulau Terluar Indonesia

Bukan tanpa alasan Indonesia disebut sebagai sebuah Negara kepulauan. Hal ini dikarenakan Indonesia tersusun atas rangakain pulau – pulau. Namun banyaknya pulau – pulau yang dimiliki Indonesia mengakibatkan tidak meratanya perhatian pemerintah terhadap seluruh pulau yang dimilikinya. Terlebih lagi pulau – pulau yang letaknya berada di perbatasan dengan Negara lain ataupun letaknya yang cukup sulit untuk dijangkau. Belum seluruhnya pulau – pulau yang dimiliki oleh Indonesia memiliki nama serta didaftarkan oleh pemerintah Indonesia kepada PBB. Inilah yang menyebabkan Indonesia sering kehilangan pulau – pulau yang dimilikinya terlebih pulau – pulau terluar Indonesia. Jika ditelaah keberadaan pulau – pulau terluar Indonesia berdampak langsung pada luas geografis Indonesia. Pulau – pulau terluar Indonesia menjadi acuan bagi batas wilayah kelautan Indonesia (Baihaqi, 2016 ; 186)

Pulau – pulau terluar Indonesia berada pada lokasi yang strategis. Hal ini dikarenakna posisinya yang berada di jalur perdagangan internasional. Selain jalur perdagangan internasional, pulau – pulau tersebut umumnya memiliki sumber daya alam melimpah, namun biasanya kondisi dari pulau – pulau tersebut cukup memprihatinkan seperti perekonomian yang lemah, pembangunan yang jauh tertinggal bahkan pulau – pulau terluar Indonesia ada yang tidak berpenghuni.

Pulau – pulau terluar Indonesia, jika dianalogikan merupakan pagar dari sebuah rumah (Adiyanto dkk, 2007 ; 52) dengan demikian pemerintah seharunya dapat memberikan perhatian lebih terhadap pulau – pulau terluar Indonesia.

Keberadaan pulau – pulau terluar Republik Indonesia tercantum didalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No.78 Tahun 2005. Terdapat 92 pulau – pulau terluar Indonesia. 23 pulau berbatasan dengan Australia, 22 pulau berbatasan dengan Filipina. Berdasarkan provinsinya pulau – pulau terluar Indonesia berada pada Provinsi Kepulauan Riau, berjumlah 20 pulau, Provinsi Maluku berjumlah 18 pulau dan Sulawesi Utara 11 Pulau (Erwin, 2011 ; 184).

Diantara 92 pulau – pulau terluar tersebut, 31 pulau berpenduduk sedangkan 61 pulau tidak berpenduduk (Ditjen Pengelolaan Ruang Laut ; 2013)

Berikut ini beberapa pulau – pulau terluar di Indonesia yang kondisinya cukup memprihatinkan yaitu :

 Pulau Lirang di Maluku

Pulau Lirang adalah pulau kecil terluar yang berada di Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku. Kondisi pulau ini terbilang memprihatinkan. Untuk mencapai pulau ini aksesnya cukup sulit baik melalui jalur laut maupun jalur udara. Melalui laut, untuk mencapai pulau Lirang menggunakan kapal perintis dimana jadwal keberangkatannya cukup lama yaitu hanya satu kali didalam seminggu ataupun dua kali dalam sebulan. Pulau ini sering diterjang oleh pasang – surut sehingga, dermaga pelabuhan tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Sehingga kegiatan bongkar muat yang dilakukan oleh kapal yang membawa barang dari dan menuju pulau Lirang sulit untuk beroperasi. Sulitnya akses dari dan menuju pulau Lirang menyebabkan perekonomian di pulau tersebut terhambat dan sulit untuk berkembang (Hanifah dkk, 2016 ; 574)

Pulau ini berada di kecamatan Wetar yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Jumlah penduduknya sekitar 1.118 jiwa. Masyarakat pulau ini mayoritas bekerja sebagai nelayan. Hasil dari tangkapan masyarakat lebih banyak dijual ke Timor Leste. Pulau ini memiliki keindahan alam yang menakjubkan.

Laut yang masih jernih dengan ekosistem yang masih baik memberikan nilai ekonomis terhadap pulau ini. Namun sayang, masih perlu ada perhatian dari pemerintah karena daya beli masyarakat dipulau ini rendah dikarenakan perekonomian yang sulit, sehingga masyarakat di pulau Lirang bergantung pada Timor Leste untuk menjual hasil tangkapannya dikarenakan jarak ke Timor Leste cukup dekat (Simorangkir, 2017)

 Pulau Nipa di Kepulauan Riau

Pulau Nipa adalah pulau yang dapat dibilang tidak berpenghuni karena hanya dihuni oleh satuan petugas pengaman perbatasan. Pulau ini berada di Desa Pemping, Kecamatan Belakangpadang Kota Batam Provinsi Riau. Pulau ini berbartasan langsung dengan Singapura. Hal ini menjadikan pulau Nipa sangat strategis mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan Singapura dan terletak di jalur perdagangan terpadat di dunia yang perharinya 100 kapal melewati jalur tersebut. Selain itu, pulau Nipa memegang peranan penting bagi

Indonesia dikarenakan pulau Nipa adalah titik garis perbatasan Indonesia dengan Singapura (Armandos dkk, 2017 ; 41). Pulau ini tidaklah luas, selain itu pulau ini hampir tenggelam jika tidak dilakukan reklamasi pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri (Nurdin, 2015). Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pulau Nipa pada ahirnya menyebabkan pulau Nipa hampir tenggelam akibat Abrasi. Jika pulau Nipa terus mengalami pengikisan akibat air laut, maka batas wilayah Indonesia akan berkurang dikarenakan pulau Nipa memegang batas wilayah Indonesia.

 Pulau Sebatik di Kalimantan

Pulau Sebatik berada di Nunukan Kalimantan. Pulau ini terbagi dua dimana setengah dari pulau ini berada pada wilayah Malaysia dan sebelah berada pada wilayah Indonesia. Berbatasan langsung dengan Malaysia menyebabkan ketimpangan yang cukup signifikan di pulau Sebatik. Sebagian dari pulau Sebatik yang berada pada wilayah Malaysia masuk didalam daerah Sabah. Adanya kedekatan dengan Malaysia menyebabkan barang – barang yang beredar di Pulau Sebatik didominasi oleh barang – barang produksi Malaysia. Kedekatan antara Indonesia dengan Malaysia menyebabkan terjadi hubungan perdagangan transnasional antara masyrakata Sebatik dan Nunukan dengan masyarakat di pulau Tawau. Sehingga peredaran uang Ringgit di pulau Sebatik lebih banyak dibandingkan peredaran rupiah. Hal yang sama juga terjadi dengan barang – barang kebutuhan sehari – hari. Barang kebutuhan sehari – hari dari Malaysia lebih mudah untuk ditemukan dibandingkan dengan barang – barang produksi dari Indonesia (Siburian, 2012 ; 55)

Dalam dokumen TESIS OLEH : INDRA PANDAPOTAN (Halaman 42-46)

Dokumen terkait