Strategi Pemerintah Indonesia Mempertahankan Kedaulatan di Wilayah Terdepan (Studi pada Wilayah Kepulauan Natuna Tahun 2009-2017)
TESIS
OLEH :
INDRA PANDAPOTAN 167054010
PROGRAM PASCASARJANA ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU – ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Strategi Pemerintah Indonesia Mempertahankan Kedaulatan di Wilayah Terdepan (Studi pada Wilayah Kepulauan Natuna Tahun 2009-2017)
TESIS
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Magister Ilmu Politik
INDRA PANDAPOTAN 167054010
PROGRAM PASCASARJANA ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU – ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Telah diuji pada
Tanggal : tanggal, bulan, tahun
PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Nama penguji Anggota : 1. Nama penguji
2. Nama penguji 3. Nama penguji 4. Nama penguji
Strategi Pemerintah Indonesia Mempertahankan Kedaulatan di Wilayah Terdepan (Studi pada Wilayah Kepulauan Natuna Tahun 2009-2017)
ABSTRAK
Sebagai sebuah Negara yang perairannya lebih luas dibandingkan daratannya, Indonesia harus berhadapan dengan ancaman – ancaman yang terjadidi perairan Indonesia, baik itu pelanggaran kedaulatan wilayah, illegal fishing, perompak, penyelundupan dan lain sebagainya. Tahun 2009, ZEE Indonesia yang berada di kepulauan Natuna di klaim secara sepihak oleh pemerintah Tiongkok didalam peta yang berisikan Sembilan garis imajiner yang menunjukkan kekuasaan Tiongkok di Laut Cina Selatan.
Fokus dari penelitian ini adalah analisis ancaman – ancaman yang terjadi di Kepulauan Natuna dan strategi pemerintah Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan kepulauan Natuna. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif-analitif, yaitu mencoba menggambarkan berbagai situasi, kondisi, atau berbagai realitassosial yang ada dalam masyarakat yang menjadi obyek penelitian, dan berupaya menarikrealitastersebutkepermukaan sebagai suatu ciri atau karakter tentang fenomenatertentu.
Didalam penelitian ini juga menggunakan teori dan konsep yang dapat dijadikan sebagai panduan didalam melakukan penelitian. Teori-teori tersebut adalah Teori Kepentingan Nasional oleh Morgenthau, kemudian Securitization yang dikemukakan oleh Barry Buzan, Teori Soft Power yang dikemukakan oleh Nye, dan Konsep Pertahanan dan Keamanan. Hasil dari pada penelitian ini adalah Dalam mempertahankan kedaulatan kepulauan Natuna, pemerintah Indonesia menerapkan 2 strategi yaitu diplomatik dan strategi pertahanan. Strategi diplomatik. Diantara kedua strategi tersebut, Strategi yang cukup berhasil didalam mempertahankan kedaulatan kepulauan Natuna adalah strategi pertahanan.
Kata kunci :Kepulauan Natuna, Strategi Pertahanan, Diplomatik, MEF
PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-NYA kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan Tesis dengan judul: “Strategi Pemerintah Indonesia Mempertahankan Kedaulatan di Wilayah Terdepan (Studi pada Wilayah Kepulauan Natuna Tahun 2009 - 2017”. Tesis diajukan untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik, Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannnya penulisan Tesis ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H, M. Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Dr. Muriyanto Amin. S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik;
3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP USU;
4. Bapak Prof. Subhilhar, P.h.D. Selaku dosen pembimbing Tesis yang dengan sabar dan tulus serta bersedia meluangkan banyak waktu ditengah kesibukannya untuk memberikan saran, masukan dan bimbingan kepada penulis hingga selesainya penulisan Tesis ini;
5. Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA., Ph.D. Selaku dosen pembimbing Tesis yang telah meluangkan banyak waktu ditemgah kesibukannya serta memberikan semangat agar penulis dapat menyelesaikan Tesis ini;
6. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Magister Ilmu Politik FISIP USU yang telah memberikan banyak ilmunya kepada penulis
sehingga penulis mendapatkan pengetahuaan yang kelak akan penulis gunakan untuk masa depan;
7. Keluarga Besar Magister Ilmu Politik, terkhusus kawan-kawan stambuk 2016 yang telah menjadi sahabat selama menjalani perkuliahan;
8. Bapak dan Mamak yang tiada hentinya selalu mendoakan dan memberikan segala kasih sayang kepada penulis. Serta memberikan dukungan baik moral maupun material, agar Tesis ini dapat diselesaikan;
9. Abang dan Kakakku: Nur Intan Nasution, Zulkifli Nasution dan Hotmarito. Terimakasih atas segala dukungannya yang tak terkira untuk penulis menyelesaikan Tesis ini;
10. Farah Fadillah, teman bahagia yang Insya Allah sesurga-Nya.
Allahumma Aamiin.
Demikian ucapan syukur dan terimakasih penulis kepada semuanya yang telah berkontribusi dalam penulisan Tesis ini, penulis sadar masih banyak kekurangan dalam penulisan Tesis ini, penulis berharap Tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juli 2019
Indra Pandapotan
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ORISINALITAS i
PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH ii
PENGESAHAN TESIS iii
HASIL PENGUJIAN iv
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
PRAKATA vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Pertanyaan Penelitian 10
1.3. Batasan Masalah 10
1.4. Tujuan Penelitian 10
1.5. Manfaat Penelitian 11
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. PenelitianTerdahulu 12
2.2. Kepentingan Nasional 16
2.3. Pertahanan dan Keamanan Negara 17
2.4. Konsep Keamanan 22
2.5. Soft Power 23
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1. JenisPenelitian 26
3.2. Sumber Data 27
3.3. TekhnikPengumpulan Data 27
3.4. InstrumenPengumpulan Data 28
3.5. TekhnikAnalisis Data 28
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Pulau – Pulau Terluar Indonesia 30
4.2. Profil Natuna 32
4.3. Ancaman di Natuna 36
4.4. Strategi Pemerintah Indonesia mempertahankan Kedaulatan 40
4.4.1 Strategi Diplomatik 40
4.4.2 Strategi Pertahanan 46
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 63
5.2. Saran 65
Daftar Pustaka 66
Daftar Tabel
Halaman
Tabel 2.1 Perbandingan Soft Power dan Hard Power ... 27
Tabel 4.1 Alutsista TNI AD ... 52
Tabel 4.2 Alutsista TNI AL ... 53
Tabel 4.3 Alutsista TNI AU ... 54
Daftar Gambar
Halaman
Gambar 1.1 Posisi Silang Indonesia ... 1
Gambar 1.2 Peta Sea Lane of Communication (SLOC) ... 3
Gambar 1.3 Peta Wilayah KekuasaanTiongkok di LautCina Selatan... 5
Gambar 1.4 Kronologis Penangkapan Kapal Nelayan Tiongkok ... 8
Gambar 4.1 Industri, Pertambangan dan Energi di Kabupaten Natuna ... 35
Gambar 4.2 Sembilan garis imaginer dalam Passport Tiongkok ... 36
Gambar 4.3 Pemanfaatan Gas Bumi Indonesia 2018... 48
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikarunia oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan memiliki 17.504 pulau dimana 16.056 pulau diantaranya telah diakui oleh PBB (Prasetya, 2017).
Dengan banyaknya jumlah pulau ini pula, Indonesia dijuluki sebagai negara kepulauan dan dikenal dengan sebutan Nusantara (Van der Kroef, 1951 : 166).
Luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta Km2 yang terdiri dari 2,01 juta Km2 daratan, 3,25 juta Km2 lautan, dan 2,55 juta Km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) (BPHN, 2015). Wilayah yang luas ini didiami oleh sekitar 258,7 juta jiwa (BPS, 2017 : 2).
Letak Indonesia sendiri sangat strategis, (Putra dkk, 2017 : 6037) dilewati oleh garis ekuator dan berada diantara dua benua dan dua samudera, yaitu benua Asia dan benua Australia. Sedangkan dua samudera yang mengapit Indonesia adalah samudera Pasifik dan samudera Hindia.
Gambar 1.1 Posisi Silang Indonesia
Sumber : Atlas Indonesia, 2014
Letak Indonesia yang strategis ini memberikan dampak positif dan negatif kepada Indonesia. Dampak positif yang diterima Indonesia dengan posisi tersebut adalah, Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya, ras, suku, dan agama sehingga Indonesia disebut sebagai negara mulitkulturalisme (Rahayu, 2017 : 3).
Selain itu juga Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang tidak semua negara memilikinya.
Kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara mega-biodiversity (Badan Karantina Ikan, 2015 : 1). Indonesia diperkirakan memiliki 25% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia atau merupakan urutan negara terbesar ketujuh dengan jumlah spesies mencapai 20.000 spesies, 40% merupakan tumbuhan endemik atau asli Indonesia (Kusmana dan Hikmat, 2015 : 188). Indonesia dilewati oleh garis ekuator, oleh sebab itu Indonesia memiliki iklim tropis (Wiswayana, 2014 : 18)
Sedangkan untuk hewan atau fauna, Indonesia menjadi salah satu negara marine mega diversity (Triyono, 2013 : 14) berdasarkan keanekaragaman jenis hewan yang hidup dan tumbuh di Indonesia seperti; Keanekaragaman mamalia dengan 515 jenis yang 99% diantaranya adalah endemik. Kemudian keanekaragaman reptil (511 jenis, 150 endemik), keanekaragaman burung (1531 jenis, 397 endemik), keanekaragaman ikan tawar (1400 jenis) dan keanekaragaman amfibi (270 jenis, 100 endemik).
Selain letak yang strategis, Indonesia merupakan negara yang luas. Menjadi negara dengan garis pantai kedua terpanjang didunia setelah Kanada. Berdasarkan UNCLOS 1982, total luas wilayah laut Indonesia seluas 5,9 juta km2, terdiri atas 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif, luas tersebut belum termasuk landas kontinen. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar didunia dan dikaruniai dengan banyak pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai dengan Merauke (Lasabuda, 2013 : 92).
Luasnya lautan Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki jalur-jalur pelayaran perhubungan laut atau yang biasa dikenal dengan SLOC (Sea Lanes of Communication). Jalur-jalur inilah yang digunakan oleh negara-negara besar untuk melangsungkan kehidupan industri serta perdagangan yang sangat dibutuhkan oleh negaranya (Pant, 2010 : 2). Dari beberapa selat
strategis di dunia, empat selat berada diwilayah kedaulatan Indonesia yaitu: Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. Sedangkan tiga selat lainnya adalah Selat Boshporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dengan Asia serta menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Serta Selat Hormuz yang terletak antara Teluk Oman dan Teluk Persia (Sobaruddin, 2017 : 105).
Gambar 1.2. Peta SLOC (Sea Lane Of Communication)
Sumber: Pant, 2010 : 2
Menurut hasil identifikasi pulau-pulau yang telah dilakukan, terdapat 16.056 pulau yang telah diberikan nama di seluruh Indonesia dan jumlah ini telah dilaporkan kepada PBB (BPS, 2018 : 3). Dari keseluruhan jumlah pulau tersebut, terdapat 67 pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, 11 pulau diantaranya perlu mendapat perhatian khusus, karena terletak di perbatasan pulau terluar. Kesebelas pulau terluar tersebut adalah Pulau Sekatung dan Pulau Natuna di Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Marore dan Pulau Miangas di Provinsi Sulawesi Utara, Pulau Fani dan Pulau Fanildo serta Pulau Behala di Provinsi Papua, Pulau Rondo di Nangroe Aceh Darrusalam (NAD), Pulau Berhala di Provinsi Sumatera Utara, Pulau Batek di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pulau Nipa di Provinsi Riau (Adianto, 2007 : 52) Akibat lokasinya yang sulit
untuk dijangkau, pulau – pulau terluar di Indonesia sering terabaikan sehingga keberadaanya tidak diketahui oleh masyarakat luas dan pulau–pulau ini juga tidak tersentuh oleh pembangunan pemerintah yang mengakibatkan pulau-pulau ini tertinggal (Sabarno, 2003 : 15). Kurangnya perhatian pemerintah di daerah perbatasan juga menyebabkan kedaulatan Indonesia dilanggar oleh negara lain dengan cara mengakui bahwa pulau yang berada dibawah kekuasaan Indonesia adalah milik negara lain.
Seperti pulau Berhala yang dimasukkan Malaysia kedalam sebuah produk iklan dengan tujuan untuk menarik wisatawan datang ke Malaysia (Wattimena dkk, 2014 : 433). Selain pulau Berhala, Singapura juga pernah memasukkan pulau Semakau kedalam peta wilayah kekuasaan Singapura. Pulau Semakau letaknya berdekatan dengan kota Batam dan jarak antara Singapura dengan pulau ini hanya 5 Kilometer (Arsana, 2013). Setelah kasus Semakau mereda, kini kedaulatan Indonesia kembali dipertaruhkan dengan dimasukkannya pulau Natuna kedalam sembilan garis imajiner (Nine Dash Lines) di Laut Cina Selatan yang dibuat oleh Tiongkok.
Dalam peta yang dibuat oleh Tiongkok tersebut, wilayah Kepulauan Natuna menjadi bagian dari kekuasaan Tiongkok (Korkut dan Kang, 2017 : 429). Nine Dash Lines atau Sembilan Garis Imajiner adalah garis pembatas (demaracation line) yang dibentuk oleh pemerintah Tiongkok sekitar tahun 1949 untuk mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan (Riegl dkk, 2014 ; 66-69).
Pada mulanya tahun 1947, pemerintah Tiongkok mengumumkan garis imajiner yang membentuk huruf U dengan jumlah sebanyak sebelas garis putus – putus (Shicun, 2013). Namun kemudian pemerintah Tiongkok menghapus dua garis imajiner yang berada di Teluk Tonkin sehingga jumlah dari garis tersebut berkurang dari sebelas menjadi sembilan garis putus – putus(Brown, 2009).
Walaupun konflik di Laut Cina Selatan telah lama terjadi namun sampai saat ini belum ditemukan titik damai untuk menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan (Samosir, 2016). Dalam konflik Laut Cina Selatan, Indonesia tidak mengambil bagian didalamnya (Ramadhani, 2015 : 388). Peran Indonesia hanyalah sebagai mediator didalam konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan (Hiebert, 2014 : 6).
Sebagai sebuah negara yang berdaulat dan menjunjung tinggi perdamaian sesuai
dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia berada pada posisi netral dan tidak memihak pada negara manapun didalam konflik yang terus terjadi di Laut Cina Selatan (Weatherbee, 2016 : 4-6).
Namun Indonesia harus mempertahankan kedaulatannya (Shabrina, 2017 : 133). Tahun 2009, Tiongkok menyerahkan sebuah peta kepada PBB yang dibentuk oleh Tiongkok. Peta ini berisikan garis imajiner yang bertujuan memperlihatkan wilayah kekuasaaan Tiongkok di Laut Cina Selatan. Beberapa negara seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia secara resmi juga telah melakukan protes terhadap claim sepihak yang dilakukan Tiongkok.
Hal ini diperlukan agar kejadian Sipadan dan Ligitan tidak lagi terjadi kepada Indonesia. Kehilangan pulau berarti kehilangan kedaulatan Indonesia.
Gambar 1.3 Peta wilayah kekuasaan Tiongkok di Laut Cina Selatan
Sumber : Diolah dari beberapa sumber
Kepulauan Natuna adalah kepulauan yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan ini berada ditengah laut Cina Selatan. Kepulauan Natuna telah menjadi bagian dari Indonesia sejak tahun 1956, setelah sebelumnya pernah menjadi bagian dari wilayah Malaysia (Tampi, 2017 : 4). Kepulauan Natuna luasnya mencakup 264.198,37 Km2, dimana 2.001.30 Km2 adalah daratan sementara 262.197.07 Km2 adalah perairan. Kepulauan ini bukan merupakan
sebuah provinsi, melainkan salah satu dari tujuh kabupaten yang berada di Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna (Seta, 2010 : 18 – 19).
Lokasi kepulauan Natuna yang posisinya menjorok ke utara yang terletak di Laut Cina Selatan bagian selatan menyebabkan kepulauan Natuna menjadi salah satu pulau yang strategis setelah kepulauan Spratly dan kepulauan Paracel.
Kepulauan Natuna menjadi strategis dikarenakan perairan Natuna merupakan jalur transportasi laut bagi perdagangan di Asia Tenggara. Perairan Natuna adalah lalu lintas internasional yang menghubungkan samudera Pasifik dan samudera Hindia. Selain itu perairan Natuna juga merupakan jalur utama menuju kota – kota utama di Asia Timur (Sitohang, 2008).
Selain menjadi jalur strategis, perairan Natuna juga menyimpan cadangan minyak bumi dan gas alam yang terbanyak di kawasan Asia Pasifik. Kekayaan perairan Natuna dibuktikan dengan adanya kandungan gas alam pada salah satu ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km disebelah utara kepulauan Natuna yang menyimpan 112.356.680 barrel total cadangan dengan volume sebesar 222 trillion cubic feet (TCT). Ditambah dengan cadangan minyak minyak bumi di kepulauan Natuna yang diperkirakan mencapai 14.386.470 barrel (Purwatiningsih dan Masykur, 2012 : 64).
Dewasa ini minyak dan gas bumi adalah hal yang paling dibutuhkan bagi negara – negara yang ada didunia. Terlebih lagi pada negara – negara maju yang industrinya membutuhkan banyak pasokan minyak dan gas bumi. Maka negara tersebut akan menggunakan cara apapun demi mendapatkan sumber daya alam tersebut.
“Natural resources have been targets or instruments of warfare in the past and will remain so in the future. Warring parties need money and they take it wherever they can find it. Yet the character of a resource can certainly influence the prosecution of a war” (Gupta, 2013 : 2)
Dengan jumlah pasokan minyak dan gas bumi yang banyak maka negara tersebut dapat menghemat dan mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak. Ini karena negara dapat menghemat pengeluaran dalam belanja minyak serta gas bumi untuk pasokan industrinya. Adanya pasokan minyak serta gas bumi tersebut dapat menghasilkan pendapatan negara melalui industri yang ada dinegaranya.
Dengan kandungan sumber daya alam yang dimiliki oleh kepulauan Natuna serta lokasinya yang strategis menjadikan kepulauan Natuna sangat rentan terjadi konflik demi memperebutkan sumber daya alam yang terkandung didalamnya.
Selain itu, perairan Natuna menyimpan beragam jenis ikan. Banyaknya jumlah ikan yang berada di perairan Natuna menyebabkan perairan Natuna sering mendapatkan ancaman – ancaman seperti illegal fishing dan pelanggaran batas kedaulatan negara. Nelayan Cina sering melakukan kegiatan memancing dengan memasuki perairan Indonesia di Natuna. Fakta ini juga dikaitkan dengan kehadiran militer Cina dan penjaga pantai yang beroperasi di wilayah Natuna selama lebih dari 18 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman Tiongkok terhadap Indonesia terletak pada sumber daya laut Indonesia. Illegal fishing yang dilakukakan oleh nelayan Tiongkok di perairan Natuna pada tahun 2016 terjadi pada tanggal 19 Maret, 28 Mei, dan 16 Juni (Komeini dkk, 2018 : 74).
Tanggal 19 Maret Kapal patroli Indonesia menahan 8 anggota dari kapal Nelayan Tiongkok. Kapal nelayan Tiongkok ini telah melakukan illegal fishing di perairan Natuna. Dalam penangkapan tersebut, ditemukan 2 ton ikan yang didapat dari perairan Natuna. Penahanan yang dilakukan oleh kapal patroli Indonesia ternyata mendapatkan tanggapan yang tidak baik dari Tiongkok. Kapal penjaga pantai Tiongkok turut campur tangan ketika ABK asal Tiongkok hendak dibawa menuju Saban oleh patrol Indonesia. Tiongkok tidak setuju dengan penangkapan yang dilakukan oleh Indonesia terhadap nelayan Tiongkok. Pihak Tiongkok meminta Indonesia untuk melepaskan nelayannya yang telah ditahan oleh Indonesia (Suryowati, 2016).
Kapal penjaga pantai milik Tiongkok melewati batas wilayah Indonesia tanpa adanya izin dari pemerintah Indonesia. Hal ini menunjukkaan bahwa adanya pelanggaran kedaulatan Indonesia yang dilakukan oleh Tiongkok. Tidak hanya melanggar kedaulatan wilayah Indonesia, kapal penjaga pantai milik angkatan laut Tiongkok juga menabrak dan menarik paksa kapal yang ditangkap oleh Indonesia (Damastuti dkk, 2018 : 52).
Gambar 1.4. Kronologis Penangkapan Kapal Nelayan Tiongkok
Sumber : Supriyanto, 2016
Pelanggaran kedaulatan yang dilakukan oleh Tiongkok membuat pemerintah Indonesia melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia melayangkan protes terhadap pemerintah Tiongkok. Namun tanggapan pemerintah Tiongkok terhadap protes yang dilayangkan oleh pemerintah Indonesia adalah Nelayan Tiongkok tidaklah melakukan kesalahan apapun, nelayan-nelayan tersebut hanya melakukan rutinitas melaut di tempat penangkapan ikan tradisional Tiongkok (Suryadinata, 2017 : 3). Tempat penangkapan ikan tradisional yang dimaksudkan oleh Tiongkok berdasarkan peta nine dash lines yang bersumber dari faktor sejarah Tiongkok.
Setelah pelanggaran kedaulatan yang dilakukan oleh Tiongkok, Malaysia juga melanggar kedaulatan udara Indonesia. 25 Juni 2016 pesawat TUDM jenis C-130 dengan bendera Malaysia memasuki wilayah kedaulatan udara Indonesia tanpa meminta izin terlebih dahulu. Pesawat milik Malaysia tersebut melintas diatas territorial Indonesia dengan rute Sabang – Kinabalu. Falcon Flight diturunkan untuk mengusir pesawat militer Malaysia keluar dari wilayah serta ZEE Republik Indonesia (Munir, 2016).
Adanya pelanggaran kedaulatan oleh negara – negara tetangga dan kemudian mendapatkan tanggapan yang tidak baik dari pemerintah Tiongkok, maka
pemerintah Indonesia demi mempertahankan kedaulatannya mengambil tindakan seperti melakukan pembangunan pangkalan militer di Natuna yang didalamnya termasuk pembangunan bunker kapal selam, bunker jet tempur, penempatan UAV, radar serta penambahan pasukan. Selain itu, telah dilakukan berbagai latihan militer di Natuna. (Sulaiman, 2017).
Sebagaimana yang dikatakan oleh Mentri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu (Catra, 2016 ; 8) anggaran pertahanan yang diterima kementeriannya dan TNI saat ini sebagian diprioritaskan untuk penguatan pangkalan militer di Natuna. Sementara sisa anggaran digunakan untuk perbaikan Alat Utama Sistem Pertahanan (ALUTSISTA) seperti penggantian suku cadang dan mesin peralatan perang. Pangkalan militer di Natuna akan dilengkapi tiga kapal perang TNI Angkatan Laut, kapal selam, satu pesawat tempur, radar, dan drone penangkis serangan udara. Pelabuhan di Natuna juga akan diperbaiki, sedangkan landasan pacunya diperlebar untuk tempat mendarat pesawat tempur.
Dari segi penguatan personel, Ryamizard akan menambah satu kompi marinir dan satu kompi Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI Angkatan Udara. Satu kompi Korpaskhas terdiri dari 150 sampai 200 personel. Satuan ini memiliki kemampuan tempur darat, laut, dan udara sekaligus. Sementara TNI Angkatan Darat di Natuna akan dilengkapi dengan satu Batalyon Raider yang merupakan salah satu pasukan elite Tentara Nasional Indonesia.
Dengan demikian alasan menjadikan Strategi Pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan berdaulat dalam mempertahankan kedaulatan dengan studi kasus di Kepulauan Natuna sebagai bahan penelitian karena empat hal yaitu :
Yang pertama adalah Kepulauan Natuna adalah gerbang utama Indonesia.
Lokasinya yang terletak paling depan, menjadikan kepulauan Natuna sebagai gerbang utama yang harus dilalui sebelum memasuki wilayah Indonesia. Selain itu Kepulauan Natuna juga menjadi pintu bagi perdagangan Asia Tenggara dan juga menjadi pintu penghubung ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Kedua adalah Mutiara Energi. Kandungan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kepulauan Natuna telah teridentifikasi sebagai sumber daya alam berupa minyak bumi dan gas alam yang jumlahnya terbanyak di kawasan Asia Pasifik.
Sumber daya alam minyak bumi dan gas alam ini merupakan anugerah yang tidak semua negara didunia dapat memilikinya dan harus dapat dipertahankan oleh Indonesia.
Ketiga adalah Kepulauan Natuna terdiri dari pulau – pulau kecil yang dikelilingi oleh pantai – pantai yang cantik. Selain itu kepulauan Natuna dikelilingi oleh laut yang terhubung langsung dengan Laut Cina Selatan.
Meskipun pantai – pantai dan kepulauan Natuna belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas, namun keindahan pantai serta pulau – pulaunya tidak kalah dengan pulau Bintan yang ada di Riau serta Bali dan juga Lombok yang terkenal karena memiliki pantai dan keindahan bahari yang tersimpan dibawah laut.
Keempat adalah kepulauan Natuna merupakan wilayah kedaulatan Indonesia yang saat ini masih sering terlupakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah.
Sehingga keadaannya tertinggal dan tidak terperhatikan. Dengan demikian kepulauan Natuna sangat rentan untuk di claim oleh negara lain. Terlebih pada tahun 2009 Tiongkok telah mengeluarkan peta yang berisikan sembilan garis putus - putus imajiner kepada PBB. Hal ini seharusnya membuat Indonesia semakin waspada dan juga sadar akan pentingnya kepulauan Natuna bagi Indonesia.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan yang akan diangkat didalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah ancaman – ancaman yang terjadi di pulau Natuna dari tahun 2009 - 2017?
2. Bagaimana strategi Pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan berdaulat dalam mempertahankan kedaulatan Kepulauan Natuna ?
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak melebar maka penelitian ini hanya akan membahas pulau Natuna dari tahun 2009 – 2017, dimana pada periode ini dinamika tantangan Geopolitik dan Geostrategi pulau Natuna menjadi semakin kompleks akibat adanya konflik global di laut Cina Selatan.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan gambaran tentang dinamika yang ada di pulau Natuna sebagai bahan pembelajaran bagi para pembaca, Selain itu, penelitian ini dapat pula dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut dengan cakupan yang lebih komprehensif dan representatif.
Secara spesifik, penelitian ini bertujuan :
1. Menganalisis ancaman - ancaman yang terjadi di pulau Natuna dari tahun 2009 - 2017.
2. Untuk mengetahui Strategi Pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan berdaulat dalam menjaga keamanan serta kedaulatan wilayah Indonesia khususnya di Kepulauan Natuna.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, penelitian ini merupakan salah satu kajian Ilmu Politik yang membahas tentang Strategi Ketahanan Nasional, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam Ilmu Politik tentang kajian Ketahanan Nasional.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi kepada pembaca mengenai pulau Natuna dan pernan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya dengan begitu diharapkan dapat menjadi bahan kajian akademik sebagai pembelajaran konflik dan politik di negara Timur Tengah.
3. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas wawasan kajian ilmu politik, serta menganalisis kejadian-kejadian yang sedang terjadi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran, setidakanya ada empat penelitian terdahulu yang telah membahas Kepulauan atau Kabupaten Natuna. Pertama, penelitian yang dilakukan Chairil N Siregar dengan judul “Peran Sosial, Ekonomi, Dan Budaya Masyarakat Dalam Meningkatkan Keamanan Di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau” Kedua,penelitian yang dilakukan Nurul Fitri Zainia Ariffien dengan judul “Upaya Diplomatik Indonesia Terhadap China Dalam Menyelesaikan Potensi Konflik Landas Kontinen Natuna Di Laut China Selatan”.
Ketiga, Penelitian yang ditujukan untuk penulisan skripsi oleh Rani Purwani Ramli dengan judul “Sengketa Republik Indonesia – Republik Rakyat Tiongkok Di Perairan Natuna”. Keempat, Penelitian yang dilakukan oleh Akmal dan Pazli yang berjudul “Strategi Indonesia Menjaga Keamanan Wilayah Perbatasan Terkait Konflik Laut Cina Selatan pada Tahun 2009-2014”.
2.1.1 Strategi Indonesia Menjaga Keamanan Wilayah Perbatasan Terkait Konflik Laut Cina Selatan pada Tahun 2009-2014
Penelitian yang dilakukan oleh Akmal dan Pazli yang berjudul “Strategi Indonesia Menjaga Keamanan Wilayah Perbatasan Terkait Konflik Laut Cina Selatan pada Tahun 2009-2014”. Fokus dalam penelitian ini adalah ingin melihat bagaimana strategi Indonesia dalam menjaga keamanan terkait daerah perbatasan konflik laut Cina selatan dari tahun 2009 – 2014 (Akmal dan Pazli, 2016 : 1).
Teori yang digunakan didalam penelitian ini adalah strategi keamanan kemudian konsep keamanan. Didalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode deskripsi kualitatif. Selain itu penulis juga menggunakan paradigma realis yang menjadikan negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional yang akan mempertimbangkan cost dan benefit dari setiap tindakannya.
Hasil dari penelitian ini adalah Pesimis adalah sebuah kata bagi paradigma realis memandang keamanan internasional. Keamanan internasional hanya bisa dicapai apabila semua negara memiliki kekuatan persenjataan dan keamanan yang
sama kuatnya. Jika aada negara yang lemah maka negara tersebut akan menjadi sasaran bagi negara – negara yang memiliki kekuatan lebih dibandingkan negara lemah tersebut. Maka dari itu menurut peneliti, strategi Indonesia yang dapat dilakukan agar dapat mempertahankan keamanannya dengan cara menambah jumlah alutsista yang dimilikinya.
Dengan menambah jumlah alutsista, kekuatan Indonesia tidak berbeda jauh dengan negara – negara sekitarnya. Dengan begitu, kedaulatan Indonesia tidak dengan mudah dilanggar oleh negara lainnya. Saran yang diberikan oleh penulis adalah selain dengan terus menambah jumlah alutsista yang dimiliki oleh Indonesia, Indonesia juga harus enyiapkan strategi – strategi dan juga kebijakan yang konkret demi mempertahankan keberlangsungan kehidupan bernegara dan penduduknya serta mempertahankan stabilitas negara.
2.1.2 Upaya Diplomatik Indonesia Terhadap China Dalam Menyelesaikan Potensi Konflik Landas Kontinen Natuna Di Laut China Selatan
Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fitri Zainia Ariffien berjudul “Upaya Diplomatik Indonesia Terhadap China Dalam Menyelesaikan Potensi Konflik Landas Kontinen Natuna Di Laut China Selatan”. Didalam penelitian tersebut menggunakan metodeeksplanatif, yang menjelaskan tentang upaya diplomatik Indonesia dan China dalam menyelesaikan potensi konflik landas kontinen Natuna di Laut China Selatan. Data-data yang dipaparkan adalah telaah pustaka yaitu penelitian yang berdasarkan data serta informasi dari berbagai literatur seperti buku-buku, artikel, jurnal, majalah, media massa, media internet dan referensi lainnya(Ariffien, 2014 : 831 – 842).
Teori yang digunakan didalam penelitian tersebut adalah teori diplomasi dan negosiasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fitri adalah didalam menangani potensi konflik antara Indonesia dengan Cina, pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomasi sebagai jalan untuk menyelesaikan sengketa wilayah di laut Cina selatan. Diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia mendapat tanggapan yang baik dari Cina dan juga negara-negara lain yang berkonflik agar dapat menahan diri dalam konflik tersebut serta dapat
berpatisipasi dalam satu forum, mendorong diskusi dan dialog, dan juga menjajaki berbagai kemungkinan dan cara bekerjasama di bidang-bidang yang menjadi perhatian bersama.
Saran yang diberikan penulis adalah Indonesia harus terus berpartisipasi serta mendorong Cina dan negara-negara yang bersengketa agar konflik territorial di kawasan laut Cina selatan dapat menemukan jalan keluar demi keamanan di kawasan laut Cina selatan terutama keamanan bagi Indonesia di perairan kepulauan Natuna.
2.1.3 Sengketa Republik Indonesia – Republik Rakyat Tiongkok Di Perairan Natuna
Rani Purwani Ramli melakukan penelitian sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana strata 1 Hubungan Internasional di Universitas Hasanuddin. Didalam penelitiannya yang berjudul “Sengketa Republik Indonesia – Republik Rakyat Tiongkok Di Perairan Natuna”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui sejauh mana sengketa Republik Indonesia atas klaim Republik Rakyat Tiongkok di perairan Natuna.
Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif yang bersumber dari literatur seperti buku, jurnal, artikel, situs resmi, surat kabar, insititusi, lembaga terkait dan sumber pendukung lainnya.Selain itu penulis juga menggunakan metode deduktif didalam metode penulisan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa klaim Tiongkok terhadap perairan Natuna tersebut, menganggu kedaulatan Indonesia karena terjadi tumpang tindih dengan perairan Natuna yang berada dibawah kekuasaan Indonesia. Dan hal ini seharusnya menjadi tanda bagi Indonesia agar Indonesia lebih memperhatikan wilayah perbatasan dan wilayah terluar Indonesia. Saran yang diberikan penulis adalah Indonesia harus lebih meningkatkan keamanan yang ada di Natuna untuk memperkuat kedaulatan wilayah lautnya sehingga terhindar dari klaim negara- negara asing yang ingin memanfaatkan dan mendapatkan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia. Serta pemerintah Indonesia harus lebih mampu untuk menggunakan dan memanfaatkanpotensi alam yang ada secara maksimal.
2.1.4 Peran Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat di Kabupaten Natuna
Penelitian yang dilakukan oleh Chairil N Siregar berjudul “Peran Sosial, Ekonomi, Dan Budaya Masyarakat Dalam Meningkatkan Keamanan Di Kabupaten Natuna Privinsi Kepulauan Riau”. Penelitian itu menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dalam pengumpulan data (kualitatif). Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif (Siregar, 2010 : 945 – 956)
Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada kondisi sosial masyarakat, kondisi ekonomi masyarakat, budaya masyarakat, dan kondisi Keamanan di Kabupaten Natuna. Untuk mendapatkan data tentang kondisi sosial masyarakat Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau, sumber datanya diperoleh dari masyarakat di tempat. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan wawancara dengan masyarakat dan Pemda setempat.
Dalam penelitian tentang peran Sosial, Ekonomi, Dan Budaya Masyarakat Dalam Meningkatkan Keamanan Di Kabupaten Natuna Privinsi Kepulauan Riau diperoleh kesimpulan :
a. Perubahan sosial sangat lambat, bahkan statis di kepulauan. Hal ini disebabkan struktur sosial yang tidak berpihak pada masyarakat.
b. Kegiatan ekonomi masyarakat Kabupaten Natuna, yaitu nelayan dan berkebun. Yang ada di pulau-pulau sekitarnya adalah nelayan, pada umumnya nelayan tradisional, dengan pola hidup sederhana.
c. Keterbatasan alat tangkap, kurangnya permodalan, banyaknya wilayah tangkapan yang sudah tercemar, dan perubahan cuaca yang tidak menentu membuat masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhannya.
d. Masyarakat nelayan memiliki sikap mental yang telah melembaga dan terbentuk sebagai suatu sistem nilai yang sukar di ubah.
Dalam saran-sarannya, Chairil menyebutkan bahwa Pemerintah daerah perlu mensosialisasikan kearifan lokal yang dimilikinya kepada masyarakat daerah, luardaerah, maupun mancanegara, kemudian mendorong agar terjadinya perubahan sosial di kalangan masyarakat Kabupaten Natuna, khususnya masyarakat nelayan, yang lebih cepat ke arah perubahan yang bersifat positif,
dengan melalui program pemerintah mengenai perubahan mental dan moral.
Dengan perubahan ini diharapkan masyarakat nelayan memiliki percaya diri yang tinggi, dan sanggup bersaing sehingga tidak bergantung pada nasib. Selain itu menurut Chairil perlu kiranya membangun kembali lembaga adat yang memiliki nilainilai kelokalan yang bersifat spritualistik, dan humanistik yang tidak terlalu formalistik, yang dapat membangun kembali budaya yang sudah dilupakan oleh masyarakat Kabupaten Natuna dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
2.2 Kepentingan Nasional
Kepentingan Nasional adalah tujuan mendasar dari penentu utama yang mendasari para pembuat keputuasn dalam membuat sebuah kebijakan berupa politik luar negeri. Kepentingan Nasional suatu Negara khas dengan konsep umum yang didalamnya terdapat bagian – bagian yang paling penting bagi sebuah Negara. Didalamnya terdapat panjagaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, integritas territorial keamanan militer dan kesejahteraan ekonomi.
Konsep kepentingan nasional merupakan dasar untuk menjelaskan perilaku luar negeri suatu Negara. Para penganut realis menyamakan kepentingan nasional sebagai upaya Negara untuk mengejar kekuatan dimana kekuatan adalah segala sesuatu yang dapat mengembangkan dan memelihara kontrol atas suatu Negara terhadap Negara lain. Pengendalian ini dapat melalui teknik paksaan, atau kerjasama (cooperation). Karena itu, kekuasaan nasional dan kepentingan nasional dianggap sebagai sarana dan sekaligus tujuan dari tindakan suatu Negara untuk bertahan hidup dalam politik internasional (Finnemore, 1996 ; 32)
Menurut Hans J. Morgenthau, kepentingan nasional (national interest) merupakan pilar utama bagi teorinya tentang politik luar negeri dan politik internasional yang realis. Didalam bukunya disebutkan bahwa
“The national interest is the ability of the state minimum to protect, and defend the physica identity, politics, and culture of the interference of other countries. From this review the country’s leaders to lower specific policies on other countries that are cooperation or conflict”
Kepentingan nasional adalah kemampuan minimum Negara untuk melindungi, dan mempertahankan identitas fisik, politik dan kultur dari gangguan
Negara lain. Dari tinjauan tersebut para pemimpin Negara menurunkan kebijakan spesifik terhadap Negara lain yang sifatnya kerjasama atau konflik (Morgenthau, 1951 ; 43)
Teori yang dikemukakan oleh Morgenthau menjelaskan bahwa untuk kelangsungan hidup suatu Negara , maka Negara harus memenuhi kebutuhan negaranya, dengan kata lain mencapai kepentingan nasionalnya. Dengan tercapainya kepentingan nasional maka Negara akan berjalan dengan stabil, baik dari segi politik, ekonomi, social maupun pertahanan keamanan. Singkatnya jika kepentingan nasional terpenuhi maka Negara akan tetap bertahan karena kepentingan nasional tecipta dari kebutuhan suatu Negara.
Kepentingan ini dapat dilihat dari kondisi internalnya, baik dari kondisi politik – ekonomi, militer dan social budaya. Kepentingan juga didasari akan suatu „power‟ yang ingin diciptakan sehingga Negara dapat memberikan dampak langsung bagi pertimbangan Negara agar mendapatkan pengakuan dunia. Peran suatu Negara dalam memberikan bahan sebagai dasar dari kepentingan nasional tidak dipungkiri akan menjadi kacamata masyarakat internasional sebagai Negara yang menjalin hubungan yang terlampir dari kebijakan luar negerinya. Dengan demikian, kepentingan nasional secara konseptual dipergunakan untuk menjelaskan perilaku politik luar negeri dari suatu Negara (Anthonius Sitepu, 2011)
2.3 Pertahanan dan Keamanan Negara
2.3.1. Pengertian Pertahanan dan Keamanan Negara
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pertahanan berasal dari kata tahan yang berarti tetap dalam keadaan, atau tetap dalam kedudukannya (KBBI : 567) . Maka dengan demikian pertahanan berarti mengupayakan supaya tetap tidak berubah dari keadaan semula, atau menjaga dan melingdungi supaya selamat.Sementara yang dimaksud dengn pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara , keutuhan wilayahnegara, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara (Bakrie, 2007 : 49).
Menurut UU No.34 tahun 2004Tentang Tentang Tentara Nasional Indonesia pasal 1 ayat 5 Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), dan melindungi segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara, disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Sedangkan Keamanan berasal dari kata dasar aman, dalam kamus besar bahasa Indonesia kata aman diartikan sebagai tenteram yaitu tidak merasa cemas atau takut, merasa bebas dari bahaya dan terlindungi. Keamanan adalah melambangkan suatu keadaan yang tentram atau kondisi aman, sedangkan keamanan nasional adalah kemampuan suatu bangsa melindungi nilai-nilai nasionalnya dari ancaman luar (KBBI : 29).
2.3.2. Landasan Pertahanan dan Keamanan Negara
Landasan hukum pertahanan dan keamanan negara Indonesia diatur dalam Undang-Undang sebagai berikut:
Undang – Undang Dasar 1945
Didalam Undang – Undang Dasar 1945, pertahan dan keamanan negara diatur dalam :
- Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945
Landasan hukum pertahanan dan keamanan negara dalam pembukaan UUD 1945 terdapat pada alinea pertama dan ke empat, berbunyi sebagai berikut:
1) Alinea Pertama “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” (MPR RI, 2015 : 2).
2) Alinea ke empat “Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpahdarah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamain abadi dan keadilan sosial (MPR RI, 2015 : 3).
- Pasal 27 Ayat (3) UUD 1945
Pasal 27 ayat (3) berbunyi: “Bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara” (MPR RI, 2015 : 153)
- Pasal 30 Ayat (1) UUD 1945
Pasal 30 ayat 1 berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”(MPR RI, 2015:161)
- Pasal 30 Ayat (2) UUD 1945
Pasal 30 ayat 2 berbunyi “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung” (MPR RI, 2015 : 162)
Undang – Undang
Adapun landasan hukum pertahanan dan keamanan negara dalam Undang- Undang adalah sebagai berikut:
- Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.
Dalam Undang-Undang Kepolisian No. 2 tahun 2002 yang menjelaskan tentang pemiliharaan keamanan negara sebagai bentuk operasional di bidang keamanan negara terdapat dalam :
a) Pasal 1 Ayat (6) yang berbunyi : “Keamanan dalam negeri adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum serta terlenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”
b) Pasal 2 yang berbunyi : “Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan pada masyarakat.”
- Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Adapun peraturan dalam Undang - Undang No. 3 Tahun2002 tentang pertahanan negara adalah sebagai berikut:
a) Pasal 1 Ayat (1) berbunyi : “Pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara”
b) Pasal 9 Ayat (1) berbunyi : “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”.
c) Pasal 9 Ayat (2) berbunyi : “Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara sebagaimanan dalam ayat (1), diselenggarakan
melalui : Pendidikan Kewarganegaraan,pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela dansecara wajib, dan, pengabdian sesuai profesi”.
- Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
Adapun pasal yang berkaitan dengan pertahanan negara dalam Undang - Undang No. 34 tahun 2004 adalah sebagai berikut:
a) Pasal 1 Ayat (5) berbunyi “ Pertahanan negara adalah segala usaha untuk menegakkan kedaulatan Negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan melindungi segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara, disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulaun.”
b) Pasal 5 berbunyi “ TNI berperan sebagai alat negara dibidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakkan dan keputusan politik negara”
c) Pasal 7 Ayat (1) berbunyi “Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara”.
Ketatapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR)
Landasan hukum pertahanan dan keamanan negara dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang masih berlaku sampai sekarang adalah Tap MPR No. VI tahun 2000 tentang pemisahan TNI dan POLRI pasal 2 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
- Pasal 2 ayat (1) “Tentara Nasional Indonesia adalah alat negara yang berperan dalam pertahanan negara”
- Pasal 2 ayat (2) “Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang berperan dalam pemiliharaan keamanan”
Peraturan Pemerintah
Berdasarkan amanat Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan dan keamanan negara pasal 13 ayat 2 menjelaskan “Bahwa presiden menetapkan kebijakkan umum pertahanan negara yang menjadi acuan bagi perencanaan, penyelenggaraan, dan pengawasan sistem pertahanan negara”. Adapun peraturan pemerintah tentang kebijakkan umum pertahanan negara tahun 2015-2019 disusun dalam PP No. 97 tahun 2015, sebagai berikut:
a) Kebijakan Pembangunan Pertahanan Negara
Pembangunan pertahanan negara diperlukan untuk membangun kekuatan pertahanan tangguh yang memiliki kemampuan penangkalan sebagai negara kepulaun dan negara maritim sehingga Indonesia memiliki posisi tawar dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta keselamatan segenap bangsa Indonesia.
b) Kebijakan Pemberdayaan Pertahanan Negara
Pemerdayaan pertahanan negara diarahkan untuk memilihara dan mengembangkan seluruh kekuatan dan potensi pertahanannegara secara terpadu dan terarah yang melibatkan seluruh warga negara, pemanfaatan seluruh sumber daya nasional dan sarana prasarana nasional serta seluruh wilayah negara untuk selalu siap operasional.
c) Kebijakkan Pengarahan Kekuatan Pertahanan Negara
Pengarahan kekuatan pertahanan negara diselenggarakan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam menghadapi ancaman pertahanan dan kondisi tertentu untuk kepentingan nasional.
2.4. Konsep Keamanan
Menurut Buzan (1991 ; 45), dalam konsep keamanan terdapat sekuritisasi (securitization), bahwa setiap isu dapat dianggap sebagai isu keamanan, terutama jika isu tersebut diupayakan untuk diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu yang mengancam kondisi keamanan mereka. Sekuritisasi menurut buzan adalah :
“… is the move that take politics beyond established rules of the game and frames the issue either as a special kind of politics or as above politics. Securitization can thus be seen as amore extreme version of politicization”
Dengan kata lain, isu-isu yang sebenarnya bukan isu keamanan dapat menjadi isu keamanan jika terdapat unsur-unsur yang berkaitan dengan ancaman terhadap objek-objek tertentu. Dengan begitu dapat diketahui bagaimana menghadapi isu- isu tersebut yang dapat mempengaruhi kedaulatan dan integritas negara, baik ancaman dari luar maupun dari dalam negeri.
Menurut T.H.Tan dan Boutin (2001) “Securitisation is concerned with how idea of security is conceived and how it is “politicized” or assigned within a specific “objectives” framework”. Dari pengertian yang diberikan oleh Tan dan
Boutin dapat dikatakan bahwa sekuritisasi berkaitan dengan keamanan, dimana keamanan tersebut dipolitisasi
Menurut Barry Buzan (Buzan dkk, 1998 ; 35-36), terdapat unit analisis dalam mengkaji proses sekuritisasi saat ini yaitu : • Referent object: things that are seen to be existentially threatenend and that have a legitimate claim to survival • Securitizing actor: actors who securitize issues by declaring something • Functional actors: actors who affects a dynamic of sector. Dalam permasalahan Natuna ini yang menjadi aktor adalah Pemerintah Indonesia yang memiliki kedaulatan wilayah yang sah di Kepulauan Natuna. Sedangkan referent object adalah negara yang terganggu dengan adanya klaim dari negara lain yaitu Indonesia. Dan Functional actor adalah Republik Rakyat China dimana pada tahun 2009, RRC memberikan sebuah peta yang didalamnya terdapat Sembilan Garis Imajiner (nine dash lines) kepada PBB dengan tujuan mendeklarasikan wilayah kekuasaan yang dimilikinya.
Menurut Buzan, konsep keamanan terdapat di dalamnya politik yang berperan penting dalam menjustifikasi penggunaan militer, maupun intensitas peran pemerintahan. Keamanan sendiri bukan hanya permasalahan militer, namun bersinggungan dengan berbagai bidang kehidupan seperti : lingkungan, ekonomi, sosial dan juga politik (Buzan, 1997)
2.5. Soft Power
Soft Power adalah sebuah teori yang dilahirkan oleh seorang berkebangsaan Amerika bernama Josep Nye pada tahun 90-an. Teori ini lahir akibat ketidakpuassan terhadap pola realisme yang sangat menonjolkan hard power.
Padahal menurut Nye, dewasa ini budaya, kebijakan – kebijakan, nilai – nilai menjadi semakin penting dalam menyelesaikan permasalahan. Nye berpendapat
“soft power is the ability of the cultural recognition and guide others to follow, and this powers stems from the attractiveness of the culture and sense of value of a nation” (Lin dan Leng, 2017 ; 69). Selain itu, Nye juga berpendapat “The soft power affects, attracts, and persuade others to believe and admit the rule, sense of value, life style and social system through the spiritual and morality requirements.” Dengan demikian menurut Nye, Soft Power adalah sebuah
kemampuan yang mempengaruhi lainnya agar mengikuti, percaya dan mengakui peraturan, nilai – nilai yang dibutuhkan.
Menurut Nye, dengan adanya soft power sebuah Negara tidak memerlukan kekerasan untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai. Soft power tidak hanya kemampuan untuk mengajak dan meyakinkan namun juga mengandung kekuatan yang atraktif. Sehingga terjadi perbedaan yang signifikan jika menggunakan soft power jika dibandingkan dengan hard power.
Tabel 2.1. Perbandingan Soft Power dan Hard Power
Hard Power Soft Power
Tipe Perilaku
Memerintah Menyiapkan kerjasama
Stress Menarik
Induksi Menyerap
Sumber Daya Yang Paling Disenangi untuk
digunakan
Kekerasan Nilai – Nilai Politik Tansaksi Sistem Institusional
Sanksi Budaya
Sogok menyogok Kebijakan Luar Negeri Sumber : (Lin dan Leng, 2017 ; 70)
Dari tabel 2.1 diperlihatkan bahwa sumber daya yang digunakan oleh soft power adalah sebagai berikut :
- Budaya. Josep Nye membagi budaya menjadi 3 bagian yaitu budaya universal, budaya etnis, dan juga budaya yang hanya dimiliki oleh sekumpulan orang tertentu saja. Jika terdapat suatu budaya universal didalam sebuah Negara dimana kebijakannya diterima oleh Negara lainnya, maka kepentingan daripada Negara tersebut akan semakin mudah untuk dipenuhi melalui atraksi dan juga rasa saling percaya. Inilah yang menarik dari soft power menurut Nye.
- Nilai – Nilai Politik. Menurut Nye, nilai – nilai politik dapat membantu sebuah Negara untuk meraih tujuannya dengan cepat dengan catatan, nilai politik dari Negara tersebut tidak boleh bertentangan dengan Negara lain. Sehingga jika terjadi persamaan nilai diantara Negara – Negara tersebut maka akan terjadi hubungan diplomatik. Selain itu, Nye juga berpendapat bahwa jika suatu Negara ingin berperan dalam agenda politik dunia, maka Negara tersebut harus
medominasi aturan – aturan internasional, dengan demikian Negara tersebut dapat mempengaruhi pemahaman serta preferensi dari Negara lain terhada kepentingan nasionalnya sendiri.
- Kebijakan Luar Negeri. Menurut Nye, nilai – nilai yang diterapkan oleh suatu Negara baik dalam urusan dalam maupun luar negeri mampu untuk mempengaruhi pandangan dari Negara lainnya. Tindakan – tindakan yang dilakukan oleh pemerintah di suatu Negara juga dapat menyebabkan ketertarikan dari Negara – Negara lainnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
Menurut Sugiyono (2013:2), Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Menurut Darmadi (2013:153), Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri - ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitif. Sugiyono (2010:15), menjelaskan bahwa:
“Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekan makna dari pada generalisasi”
Menurut Singarimbun (1989:4), penelitian deskriptif dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu, misalnya perceraian, pengangguran, keadaan gizi, preferensi terhadap politik tertentu dan lain-lain.
Menurut Sukmadinata (2009:53-60), penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, presepsi, dan orang secara individual maupun kelompok. Sukmadinata (2009:18), menyatakan bahwa penelitian deskriptif bertujuan mendefinisikan suatu keadaan atau fenomena secara apa adanya.
Dengan demikian berdasarkan pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mnegukur ataupun menjabarkan sebuah fenomena ataupun peristiwa yang terjadi.
Itulah alasan mengapa penelitian ini menggunakan jenis penelitian deksriptif kualitatif agar dapat menjabarkan fenomena atau kejadian serta aktivitas yang terjadi di kepulauan Natuna dimulai dari tahun 2009 – 2017.
3.2 Sumber Data
Menurut Arikunto (2006:144), sumber data adalah subjek dari mana suatu data dapat diperoleh. Menurut Sutopo (2006:56-57), Sumber data adalah tempat data diperoleh dengan menggunakan metode tertentu baik berupa manusia, artefak, ataupun dokumen-dokumen. Sedangkan menurut Moleong (2001:112), pencatatan sumber data melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya. Dalam penelitian ini sumber data akan berasal dari sumber data sekunder. Sumber data sekunder yang dipakai adalah sumber tertulis berupa cetak maupun online seperti buku, majalah ilmiah, dan dokumen-dokumen dari pihak yang terkait mengenai masalah kepulauan Natuna.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Maryadi dkk (2010:14), Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah teknik yang memungkinkan diperoleh data detail dengan waktu yang relatif lama. Menurut Sugiyono (2014 : 62), Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi.
Berikut ini akan dijelaskan teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti sebagai berikut.
Dokumentasi. Menurut Hamidi (2004:72), metode dokumentasi adalah informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan. Dokumentasi penelitian ini merupakan pengambilan gambar oleh peneliti untuk memperkuat hasil penelitian. Menurut Sugiyono (2013:240), dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumentel dari seseorang.
Dokumentasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan dipenelitian ini, dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen dari sumber terpercaya yang mengetahui tentang objek penelitian. Metode dokumentasi menurut Arikunto (2006:231) yaitu mencari data mengenai variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk mencari data tentang profil kepulauan Natuna.
3.4 Instrumen Pengumpulan Data
Menurut Sanjaya (2011:84), Instrumen penelitian adalah alat yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi penelitian. Menurut Sugiyono (2014 : 102), instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur kejadian (variabel penelitian) alam maupun sosial yang diamatiBerdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Model ini ada 4 komponen analisis yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Menurut Moleong (2004:280- 281), Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan tempat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Langkah-langkah analisis data menurut Miles dan Huberman (1992:15-19), adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan data melalaui dokumentasi dengan menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan untuk menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikutnya.
2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi, pemfokusan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang ada di lapangan langsung, dan diteruskan
pada waktu pengumpulan data, dengan demikian reduksi data dimulai sejak peneliti memfokuskan wilayah penelitian.
3. Penyajian data, yaitu rangkaian organisasi informasi yang memungkinkan penelitian dilakukan. Penyajian data diperoleh berbagai jenis, jaringan kerja, keterkaitan kegiatan atau tabel.
4. Penarikan kesimpulan, yaitu dalam pengumpulan data, peneliti harus mengerti dan tanggap terhadap sesuatu yang diteliti langsung di lapangan dengan menyusun pola-pola pengarahan dan sebab akibat.
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Pulau – Pulau Terluar Indonesia
Bukan tanpa alasan Indonesia disebut sebagai sebuah Negara kepulauan. Hal ini dikarenakan Indonesia tersusun atas rangakain pulau – pulau. Namun banyaknya pulau – pulau yang dimiliki Indonesia mengakibatkan tidak meratanya perhatian pemerintah terhadap seluruh pulau yang dimilikinya. Terlebih lagi pulau – pulau yang letaknya berada di perbatasan dengan Negara lain ataupun letaknya yang cukup sulit untuk dijangkau. Belum seluruhnya pulau – pulau yang dimiliki oleh Indonesia memiliki nama serta didaftarkan oleh pemerintah Indonesia kepada PBB. Inilah yang menyebabkan Indonesia sering kehilangan pulau – pulau yang dimilikinya terlebih pulau – pulau terluar Indonesia. Jika ditelaah keberadaan pulau – pulau terluar Indonesia berdampak langsung pada luas geografis Indonesia. Pulau – pulau terluar Indonesia menjadi acuan bagi batas wilayah kelautan Indonesia (Baihaqi, 2016 ; 186)
Pulau – pulau terluar Indonesia berada pada lokasi yang strategis. Hal ini dikarenakna posisinya yang berada di jalur perdagangan internasional. Selain jalur perdagangan internasional, pulau – pulau tersebut umumnya memiliki sumber daya alam melimpah, namun biasanya kondisi dari pulau – pulau tersebut cukup memprihatinkan seperti perekonomian yang lemah, pembangunan yang jauh tertinggal bahkan pulau – pulau terluar Indonesia ada yang tidak berpenghuni.
Pulau – pulau terluar Indonesia, jika dianalogikan merupakan pagar dari sebuah rumah (Adiyanto dkk, 2007 ; 52) dengan demikian pemerintah seharunya dapat memberikan perhatian lebih terhadap pulau – pulau terluar Indonesia.
Keberadaan pulau – pulau terluar Republik Indonesia tercantum didalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No.78 Tahun 2005. Terdapat 92 pulau – pulau terluar Indonesia. 23 pulau berbatasan dengan Australia, 22 pulau berbatasan dengan Filipina. Berdasarkan provinsinya pulau – pulau terluar Indonesia berada pada Provinsi Kepulauan Riau, berjumlah 20 pulau, Provinsi Maluku berjumlah 18 pulau dan Sulawesi Utara 11 Pulau (Erwin, 2011 ; 184).
Diantara 92 pulau – pulau terluar tersebut, 31 pulau berpenduduk sedangkan 61 pulau tidak berpenduduk (Ditjen Pengelolaan Ruang Laut ; 2013)
Berikut ini beberapa pulau – pulau terluar di Indonesia yang kondisinya cukup memprihatinkan yaitu :
Pulau Lirang di Maluku
Pulau Lirang adalah pulau kecil terluar yang berada di Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku. Kondisi pulau ini terbilang memprihatinkan. Untuk mencapai pulau ini aksesnya cukup sulit baik melalui jalur laut maupun jalur udara. Melalui laut, untuk mencapai pulau Lirang menggunakan kapal perintis dimana jadwal keberangkatannya cukup lama yaitu hanya satu kali didalam seminggu ataupun dua kali dalam sebulan. Pulau ini sering diterjang oleh pasang – surut sehingga, dermaga pelabuhan tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Sehingga kegiatan bongkar muat yang dilakukan oleh kapal yang membawa barang dari dan menuju pulau Lirang sulit untuk beroperasi. Sulitnya akses dari dan menuju pulau Lirang menyebabkan perekonomian di pulau tersebut terhambat dan sulit untuk berkembang (Hanifah dkk, 2016 ; 574)
Pulau ini berada di kecamatan Wetar yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Jumlah penduduknya sekitar 1.118 jiwa. Masyarakat pulau ini mayoritas bekerja sebagai nelayan. Hasil dari tangkapan masyarakat lebih banyak dijual ke Timor Leste. Pulau ini memiliki keindahan alam yang menakjubkan.
Laut yang masih jernih dengan ekosistem yang masih baik memberikan nilai ekonomis terhadap pulau ini. Namun sayang, masih perlu ada perhatian dari pemerintah karena daya beli masyarakat dipulau ini rendah dikarenakan perekonomian yang sulit, sehingga masyarakat di pulau Lirang bergantung pada Timor Leste untuk menjual hasil tangkapannya dikarenakan jarak ke Timor Leste cukup dekat (Simorangkir, 2017)
Pulau Nipa di Kepulauan Riau
Pulau Nipa adalah pulau yang dapat dibilang tidak berpenghuni karena hanya dihuni oleh satuan petugas pengaman perbatasan. Pulau ini berada di Desa Pemping, Kecamatan Belakangpadang Kota Batam Provinsi Riau. Pulau ini berbartasan langsung dengan Singapura. Hal ini menjadikan pulau Nipa sangat strategis mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan Singapura dan terletak di jalur perdagangan terpadat di dunia yang perharinya 100 kapal melewati jalur tersebut. Selain itu, pulau Nipa memegang peranan penting bagi
Indonesia dikarenakan pulau Nipa adalah titik garis perbatasan Indonesia dengan Singapura (Armandos dkk, 2017 ; 41). Pulau ini tidaklah luas, selain itu pulau ini hampir tenggelam jika tidak dilakukan reklamasi pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri (Nurdin, 2015). Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pulau Nipa pada ahirnya menyebabkan pulau Nipa hampir tenggelam akibat Abrasi. Jika pulau Nipa terus mengalami pengikisan akibat air laut, maka batas wilayah Indonesia akan berkurang dikarenakan pulau Nipa memegang batas wilayah Indonesia.
Pulau Sebatik di Kalimantan
Pulau Sebatik berada di Nunukan Kalimantan. Pulau ini terbagi dua dimana setengah dari pulau ini berada pada wilayah Malaysia dan sebelah berada pada wilayah Indonesia. Berbatasan langsung dengan Malaysia menyebabkan ketimpangan yang cukup signifikan di pulau Sebatik. Sebagian dari pulau Sebatik yang berada pada wilayah Malaysia masuk didalam daerah Sabah. Adanya kedekatan dengan Malaysia menyebabkan barang – barang yang beredar di Pulau Sebatik didominasi oleh barang – barang produksi Malaysia. Kedekatan antara Indonesia dengan Malaysia menyebabkan terjadi hubungan perdagangan transnasional antara masyrakata Sebatik dan Nunukan dengan masyarakat di pulau Tawau. Sehingga peredaran uang Ringgit di pulau Sebatik lebih banyak dibandingkan peredaran rupiah. Hal yang sama juga terjadi dengan barang – barang kebutuhan sehari – hari. Barang kebutuhan sehari – hari dari Malaysia lebih mudah untuk ditemukan dibandingkan dengan barang – barang produksi dari Indonesia (Siburian, 2012 ; 55)
4.2 Profil Natuna
Natuna pada awalnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau. Natuna dahulu terkenal dengan wilayah pulau tujuh yang merupakan gabungan dari tujuh kecamatan kepulauan yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan yaitu Jemaja, Siantan, Midai, Bunguran Barat, Bunguran Timur, Serasan dan Tambelan. Enam kecamatan kecuali Tambelan merupakan cikal bakal wilayah Kabupaten Natuna (BPS Natuna, 2016 ; 3). Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia No.9/Deprt tanggal 18 Mei 1956, Propinsi Sumatera