• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ringkasan Tesis Strategi Kontra Terorism

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ringkasan Tesis Strategi Kontra Terorism"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Indonesia

Strategi Kontra-Terorisme Pemerintah Tiongkok dalam Merespon

Gerakan Bersenjata Uighur di Wilayah Xinjiang

Nama Penulis :

Adhe Nuansa Wibisono

Suzie S.S. Sudarman

UNIVERSITAS INDONESIA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

KAJIAN TERORISME DALAM KEAMANAN INTERNASIONAL DEPOK

[email protected]

---

ABSTRAK

Penelitian ini akan membahas mengenai efektivitas strategi kontraterorisme pemerintah Tiongkok terhadap gerakan bersenjata Uighur di wilayah Xinjiang. Pemerintah Tiongkok telah melakukan berbagai kebijakan yang berdimensi sosial-politik-kebudayaan seperti kebijakan migrasi etnis Han ke wilayah Xinjiang, kebijakan keluarga berencana, kebijakan bahasa Mandarin ataupun kebijakan kontraterorisme yang bersifat hard approach seperti kebijakan Kampanye Serangan Keras yang digunakan dalam merespon gerakan bersenjata Uighur. Dari pilihan-pilihan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Tiongkok, penelitian ini mencoba melihat efektivitas dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Tiongkok tersebut.

Kata Kunci : Pemerintah Tiongkok, Gerakan Bersenjata, Uighur, Strategi Kontraterorisme, Kampanye Serangan Keras

ABSTRACT

This research will examine the effectiveness of China’s government counterterrorism strategy toward the Uighur’s armed movement in Xinjiang region. Chinese government has conducted various policies that have socio-political-cultural dimension such as Han ethnic migration policy into Xinjiang region, family planning policy, Chinese language policy or counterterrorism policy which is tend to be hard approach as Strike Hard Campaign policy used in responding to Uighur’s armed movement. Based on optional policies taken by the Chinese government, this research will asses the effectiveness of measures taken by Chinese government.

(2)

Universitas Indonesia

Pendahuluan

Pada 1 Maret 2014, sekelompok sepuluh orang yang bersenjatakan pisau menyerang penumpang orang-orang di sekitar stasiun kereta api di Kunming, ibukota dari propinsi Yunan yang terletak di sebelah barat daya Tiongkok. Dua puluh delapan orang tewas dan 113 orang mengalami luka-luka. Aksi penyerangan ini termasuk dalam serangkaian insiden kekerasan di Tiongkok yang dimana pemerintah mengaitkannya kepada organisasi Islam radikal yang bertujuan untuk mempromosikan apa yang diklaim pemerintah sebagai “terorisme, separatisme dan ekstremisme agama”.1

Menteri Keamanan Publik Tiongkok, Guo Shengkun dan Kepala Komisi Bidang Politik dan Hukum Partai Komunis Tiongkok, Meng Jianzhu langsung turun di Kunming untuk mengkoordinasikan upaya-upaya pemerintah untuk menangani insiden tersebut.2 Kementerian Keamanan Publik Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa “sekelompok teroris yang berjumlah delapan orang yang dipimpin oleh Abdurehim Kurban bertanggung jawab atas serangan Kunming tersebut”.3

Menurut liputan Xinhua akan insiden tersebut, tiga tersangka yang terlibat dalam serangan tersebut telah ditangkap dan empat tersangka lainnya tewas di tempat kejadian.4

1 Nick Holdstock,”Islam and Instability in China’s Xinjiang”, Report

March 2014, NOREF : Norwegian Peacebuilding Resource Centre, (Oslo : NOREF, 2014), hal 4

Berbagai media Tiongkok menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok yang terkait

2 Shannon Tiezzi, “Is the Kunming Knife Attack China’s 9/11”, 4 Maret

2014, diakses dari :

3 Shannon Tiezzi, “Is the Kunming Knife Attack China’s 9/11”, 4 Maret

2014, diakses dari :

4 Xinhua News, “Kunming terrorist attack suspects captured”, 3 Maret

2014,

dengan gerakan separatisme Xinjiang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Qin Gang, mengatakan bahwa bukti-bukti termasuk bendera dari “Kelompok Turkestan Timur”.5 Sampai saat ini belum ada organisasi teroris tertentu yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Kunming tersebut. Beberapa media internasional menyebutkan bahwa serangan Kunming ini merupakan peristiwa penyerangan yang bisa disejajarkan efek sosialnya dengan serangan 9/11 di Amerika Serikat.6

Kelompok Turkestan Timur atau yang disebut sebagai East Turkestan

Islamic Movement (ETIM) adalah kelompok militan Islam yang beroperasi di wilayah administrasi Xinjiang, Tiongkok. Xinjiang yang memiliki perbatasan dengan delapan negara, termasuk Pakistan dan Afghanistan, merupakan tanah air bagi etnis Uighur, yang secara etnik dan budaya dekat dengan Turki dan secara agama menganut Islam, yang membentuk sekitar 40 persen populasi di wilayah ini (Wines & Walsh, 2012). Xinjiang memiliki sejarah dan dinamika yang panjang akan upaya dalam menuntut kemerdekaan.7

Partai Komunis Tiongkok mengambil alih wilayah Xinjiang pada tahun 1949 dan sepenuhnya menyatukannya ke dalam Tiongkok. Pada tahun 1954, pemerintah Tiongkok mulai mendorong etnis Han Cina untuk menetap di Xinjiang, yang kemudian secara cepat mengubah demografi etnis di daerah tersebut (BBC,2014).8

5 Xinhua News, “East Turkistan forces flags found at Chinese station after

terrorist attack”, 3 Maret 2014,

Beberapa kelompok perjuangan Uighur, termasuk ETIM,

diakses pada 6 April 2015

6 Shannon Tiezzi, “Is the Kunming Knife Attack China’s 9/11”, 4 Maret

2014,

7 Zia Ur Rehman, “ETIM’s Presence in Pakistan and China’s Growing

Pressure”, Report August 2014, NOREF : Norwegian Peacebuilding Resource Centre, (Oslo : NOREF, 2014), hal 1

8 BBC News, “Why is there tension between China and the Uighurs?, 26

September 2014,

(3)

Universitas Indonesia menyatakan bahwa pemerintahan

Tiongkok merupakan kekuatan kolonial di wilayah Xinjiang yang berpenduduk mayoritas muslim. Sejak tahun 1990-an sudah terdapat gerakan anti etnis Han dan gerakan separatis di wilayah tersebut, dimana agama dan etnisitas merupakan dua sumber utama separatisme.9

ETIM juga memiliki keterkaitan dengan Turkistan Islamic Party, the East

Turkistan Islamic Party, the East Turkistan Islamic Party of Allah dan the East Turkistan National Revolution Association (Kaung, 2008). Kelompok ini

berjuang untuk pembentukan sebuah Islam merdeka “Turkistan Timur” di Tiongkok. Laporan lain menunjukkan bahwa kelompok ini bertujuan untuk membangun negara baru “Turkistan Timur” yang akan menyatukan bagian dari wilayah Turki, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Pakistan, Afghanistan dan Xinjiang (Xu, 2014). ETIM didirikan pada tahun 1993 oleh Hasan Masoom (Hasan Mahsum), seorang tokoh politik berkebangsaan Uighur dari distrik Kashgar, Xinjiang (BBC, 2013).10

AS, Tiongkok, Afghanistan dan Kyrgyzstan telah menyatakan ETIM sebagai kelompok teroris, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB. Kelompok militan terkait ETIM telah mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan di berbagai kota di Tiongkok, khususnya ledakan bus mematikan di Shanghai dan Kunming pada tahun 2008. Pada tahun 2014, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa ETIM berada di balik penyerangan 22 Mei di Urumqi, penyerangan bom bunuh diri 30 April di stasiun kereta api Urumqi dan penyerangan 1 Maret di stasiun kereta api Kunming.11

9 Zia Ur Rehman, Op.cit., hal 1 10 Zia Ur Rehman, Loc.cit. 11 Zia Ur Rehman, Loc.cit.

Xinjiang adalah wilayah administrasi terbesar di Tiongkok, tetapi dikarenakan geografinya yang berbentuk gurun dan pegunungan, wilayah ini secara relatif memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit dibandingkan wilayah lain di kawasan timur Tiongkok. Pada sensus tahun 2010 di Tiongkok, etnis Uighur menyumbang 44 persen populasi Xinjiang, sedangkan etnis Han Cina berjumlah sebesar 41 persen. Di sebelah utara Xinjiang, yang meliputi wilayah ibukota Urumqi, etnis Han Cina membentuk mayoritas dari populasi, sementara di selatan, di mana Kashgar merupakan pusat kota utama, etnis Uighur lebih mendominasi. Wilayah ini juga secara resmi dibagi kepada sejumlah daerah etnis (misalnya Daerah Otonomi Changji Hui, Daerah Otonom Yili Kazakh).12

Meskipun diperkirakan terdapat sekitar 23 hingga 50 juta Muslim di seluruh Tiongkok (sekitar 1-2 persen dari total populasi), yang terbagi dalam sepuluh kelompok etnis mayoritas muslim, klaim dan perhatian pemerintah Tiongkok terhadap isu separatisme dan terorisme selalu terpusat kepada bangsa Uighur, yang secara geografis terkonsentrasi di wilayah Xinjiang. Terdapat juga populasi Uighur lintas batas yang signifikan di Kazakhstan (220.000), Uzbekistan (55.000) dan Kirgyzstan (49.000).13

Terkait dengan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam merespon gerakan terorisme dan separatisme Xinjiang, sangat penting untuk memahami banyaknya ketidakpuasan yang diserukan oleh bangsa Uighur terhadap kebijakan pemerintah Tiongkok selama tiga puluh tahun terakhir. Terdapat banyak kebijakan pemerintah Tiongkok yang dipertanyakan di Xinjiang, diantaranya adalah : program pengendalian jumlah anak, program

(4)

Universitas Indonesia migrasi etnis Han-Cina ke Xinjiang, isu

pembatasan ekspresi kebudayaan dan isu pembatasan kebebasan beragama di Xinjiang.14

Misalnya, di bawah kebijakan pengendalian jumlah anak, warga beretnis Han hanya boleh memiliki satu anak, sedangkan etnis Uighur (dan etnis minoritas lainnya) di propinsi Xinjiang diperbolehkan untuk memiliki dua anak,

tetapi banyak orang Uighur masih

menganggap kebijakan ini terlalu mengintervensi kehidupan mereka. Keluhan lainnya adalah termasuk peminggiran secara ekonomi terhadap bangsa Uighur, penahanan sewenang-wenang para aktivis dan tokoh-tokoh Uighur, pelarangan bahasa Uighur dalam pendidikan dan adanya penindasan terhadap budaya dan keagamaan Uighur. Contoh terkini misalnya penangkapan terhadap aktivis, penulis, cendekiawan dan musisi Uighur – yang terakhir adalah sejarawan Ilham Tohti, yang dituduh melakukan makar konspirasi untuk melawan negara (South China Morning Post, 2014).15

Selain itu, buku-buku dan karya kesenian musik Uighur juga dibakar secara terbuka oleh pemerintah Tiongkok untuk konten-konten yang diduga mengandung nilai separatisme (Dillon, 2002). Terdapat juga penghancuran secara luas lingkungan kebudayaan tradisional Uighur di seluruh wilayah, terutama di kota tua Kashgar, yang menyebabkan sekitar 80 persen wilayah kota tersebut telah dihancurkan (Holdstock, 2014).16

14 Ibid, hal 4

Pembatasan ekspresi keagamaan adalah sumber utama lain dari ketegangan di wilayah tersebut. Termasuk juga peningkatan pengawasan terhadap

15 South China Morning Post, “Uygur scholar Ilham Tohti accused of

leading group of students in trying to split Chinese state”, 6 Agustus

2014,

April 2015

16 Nick Holdstock, Op.cit., hal 2

muslim selama bulan Ramadhan (terutama terhadap mahasiswa muslim dan kepada mereka yang bekerja di lembaga negara, yang dilarang untuk berpuasa Ramadhan atau mendatangi masjid) dan pelarangan atas aktivitas kebudayaan dengan komponen keagamaan (seperti festival kebudayaan yang diadakan di masjid-masjid lokal). Terdapat juga penangkapan terhadap imam masjid, penutupan masjid-masjid dan pelarangan untuk menyebarkan materi “ekstremisme agama” di internet (BBC, 2013b).17

Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat efektivitas kebijakan dan

strategi kontraterorisme pemerintah

Tiongkok di wilayah Xinjiang, khususnya

dalam merespon gerakan bersenjata

Uighur. Apakah dengan pendekatan kebijakan yang dilakukan pemerintah Tiongkok selama ini melalui program migrasi dan pembauran etnis, pembatasan ekspresi kebudayaan, pembatasan praktik keagamaan dapat menjadi strategi penanggulangan terorisme yang efektif ataukah sebaliknya kebijakan ini kemudian akan semakin meningkatkan sentimen separatisme dan aksi terorisme di wilayah Xinjiang tersebut? Dengan demikian penelitian ini memiliki sebuah rumusan pertanyaan penelitian, “bagaimana efektivitas strategi kontraterorisme pemerintah Tiongkok dalam merespon gerakan bersenjata Uighur di wilayah Xinjiang?”.

Tinjauan Teoritis

Untuk mengetahui bagaimana evaluasi strategi kontraterorisme pemerintah Tiongkok dalam merespon gerakan bersenjata Uighur di wilayah Xinjiang. Penulis akan menggunakan pendekatan globalisme polimorfik sebagai skala dalam menganalisa apakah strategi pemerintah Tiongkok efektif. Kemudian

(5)

Universitas Indonesia kriteria yang dapat digunakan adalah

resistensi, akomodasi dan adaptasi, seberapa jauh Tiongkok dalam menolak, mengakomodasi atau mengadaptasi ide-ide tentang kebangsaan Uighur. Selain itu juga akan diuraikan mengenai pilihan Tiongkok dalam melakukan pendekatan yang lebih dekat kepada pendekatan kontraterorisme yang lebih koersif dibandingkan dengan pendekatan antiterorisme yang lebih persuasif.

Agama dan Bahasa

Dua karakteristik yang paling penting dan khas dari peradaban adalah tradisi keagamaan dan sastranya. Secara sederhana tradisi keagamaan dan sastra menjadi elemen dasar penyusun keragaman tradisi (multiple traditions) yang membentuk kehidupan peradaban. Penggunaan bahasa dan sastra merupakan elemen sentral dalam peradaban.18 Agama merupakan penanda kedua dari peradaban. Samuel Huntington, misalnya mengacu kepada “Agama Barat” daripada “Kristen Barat” sebagai identitas penanda yang melanjutkan “Kekristenan Latin”, pilihan istilah yang digunakan sebelum Abad Pencerahan.19

Keragaman Modernitas

Peradaban keragaman modernitas sebagai konteks yang mencakup semua peradaban yang melekat di dalam peradaban global saat ini. Konteks yang dimaksud bukan merupakan sistem internasional atau mekanisme pasar global. William Mcneill di dalam “The Rise of The

West”, menyebutkan bahwa, peradaban

secara internal bersifat beraneka ragam, secara longgar berinteraksi dan saling berbaur, sistem sosial yang berpusat pada elit yang terintegrasi dalam konteks

18 Peter J. Katzenstein, “Many West and Polymorphic Globalism” dalam

“Anglo-America and Its Discontents : Civilizational Identitites beyond West and East”, (New York : Routledge, 2012), Hal 209

19 Ibid, Hal 210

mekanisme global yang umum.20 Politik peradaban dikarenakan sifatnya yang sinkretis dalam proses interaksi dan pembauran global dan internasional sehingga tradisi-tradisi religius, sekuler dan nasional berbaur menjadi satu.

Membuat peradaban menjadi primordial dapat dikatakan sebagai proyek politik yang bertujuan untuk menciptakan perasaan menerima keadaan akan realitas yang membantu dalam membedakan antara “Diri” dan “Liyan”, dan antara benar dan salah. Hal ini membutuhkan pembentukan kesadaran bahwa peradaban ada di dalam bentuk yang plural dan didasari oleh keragaman tradisi yang menciptakan proses, kebijakan dan praktek yang beragam.21

Globalisme Polimorfik

Kita hidup di dalam keragaman modernitas yang ditandai baik oleh konvergensi praktek-praktek yang muncul dan perbedaan yang berasal dari berlakunya tradisi budaya didasarkan pada

kompleks peradaban yang berbeda.22

Keselarasan antar peradaban tidak mungkin diwujudkan dengan baik hanya melalui tradisi liberal monovocal (tunggal) maupun melalui adanya tradisi dan praktik peradaban yang berbeda. Keselarasan antara peradaban dapat muncul dari proses pertemuan dan interaksi yang terbentuk oleh keragaman tradisi baik relijius dan sekuler yang menandai semua kompleks peradaban.

Globalisme polimorfik kemudian menyebutkan bahwa bukan hanya standar yang berlaku secara umum tetapi juga keinginan yang kuat akan nilai-nilai bersama yang melibatkan gagasan yang

sering bertentangan dalam

20 Ibid, Hal 215

(6)

Universitas Indonesia keanekaragaman. Keinginan dan ekspresi

kebebasan ini berpusat kepada kesejahteraan material dan psikologis semua manusia. Kesejahteraan dan hak-hak dasar manusia bukan lagi merupakan hak prerogatif atau produk dari sebuah peradaban ataupun struktur politik tertentu. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang melayani tujuan ini merupakan proses deteritorialisasi yang telah diambil pada kehidupan mereka sendiri dan memberikan teks kepada seluruh peradaban dan pemerintahan yang ada.23

Resistensi, Akomodasi dan Adaptasi

Resistensi dipahami sebagai “tindakan, perilaku dan sikap sosial yang kontra-hegemonik yang bertujuan melemahkan klasifikasi di antara kategori sosial dan ditujukan terhadap kekuatan dominan dan terhadap orang-orang yang menggerakkannya, memiliki tujuan untuk menyebarkan kekuasaan dalam cara yang lebih berimbang” (Fernandes 1988 : 174).24 Vinthagen dan Lilja menyebutkan resistensi sebagai respon bawahan terhadap kekuasaan, sebuah praktek dapat yang menentang dan melemahkan kekuasaan. Kesadaran atau keinginan untuk melawan adalah tindakan melawan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok dalam posisi subordinat dalam kaitannya dengan kekuasaan (Vinthagen & Lilja 2007a).25

Secara umum, prinsip akomodasi mempromosikan identitas ganda dalam masyarakat dan mengadvokasi kesetaraan hubungan kelembagaan untuk perbedaan (Choudhry, 2008b : 27). Identitas etnis dalam masyarakat tersegmentasi sangat kuat dan tidak rentan terhadap transformasi jangka pendek, walaupun

23 Ibid, Hal 242 24 Ibid, hal 5 25 Ibid, hal 7

identitas juga tidak dilihat sebagai sesuatu yang primordial dan tetap (Bertrand, 2008 : 209; McGarry et al., 2008 : 52). Prinsip akomodasi berusaha untuk memastikan setiap kelompok etnis memiliki ruang publik yang diperlukan untuk mengungkap identitasnya, membuat keputusan sendiri di momen penting dan melindungi diri terhadap mayoritas (McGarry et al., 2008 : 42). Hasilnya adalah desain kebijakan publik yang memungkinkan ekspresi kelembagaan akan perbedaan dalam ruang publik, seperti hak bahasa dan budaya kelompok minoritas.26

Adaptasi mengacu kepada perubahan yang terjadi pada individu atau kelompok dalam menanggapi tuntutan lingkungan sosial. Proses adaptasi ini dapat terjadi baik dalam waktu singkat ataupun jangka panjang. Perubahan jangka pendek selama proses akulturasi terkadang berdampak negatif, namun proses akulturasi setelah beberapa tahap adaptasi jangka panjang umumnya berlangsung secara positif (Beiser et al., 1988).

Kontraterorisme dan Antiterorisme

Operasi kontraterorisme adalah pendekatan taktis yang digunakan oleh pemerintah, militer, penegak hukum setempat dan pihak lainnya dalam penanganan terorisme. Kontraterorisme termasuk dalam penggunaan intelijen dan penggunaan kekuatan dalam mengeliminasi terorisme, dan pada dasarnya adalah strategi yang represif dan supresif. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendefinisikan kontraterorisme sebagai operasi-operasi yang mencakup langkah-langkah ofensif untuk mencegah, menangkal, mendahului dan merespon terorisme (U.S. Department of Defense 2007). Secara mendasar kontraterorisme

26 Aisling Lyon, “Between the Integration and Accomodation of Ethnic

(7)

Universitas Indonesia dipandang sebagai kebijakan taktis,

ofensif, represif, dan supresif yang digunakan untuk mengendalikan krisis yang terjadi pada saat ini dan bukan untuk menghilangkan akar penyebab terorisme.27

Sementara itu antiterorisme adalah upaya jangka panjang dan strategis untuk mengurangi dan mengatasi terorisme hingga ke akar permasalahan dan berusaha untuk mengubah lingkungan yang mendorong munculnya terorisme. “Strategi antiterorisme terdiri dari pengumpulan informasi dan menyebarkan secara luas, mempromosikan wacana publik, melobi pembuat kebijakan untuk mendorong kebijakan dan undang-undang untuk mengurangi kekerasan, melakukan pengadilan sipil terhadap pelaku terorisme dan mengatur lembaga-lembaga sosial

untuk mencapai fungsi tersebut.

Antiterorisme merupakan strategi perluasan demokrasi untuk menghilangkan penyebab dan sumber daya terorisme” (Paul de Armond : 1997).28

Dalam konteks penanggulangan terorisme, Tiongkok melalui Kampanye Serangan Keras yang diwujudkan dalam berbagai tindakan yang ofensif, represif dan supresif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penanggulangan terorisme Tiongkok cenderung kepada penggunaan strategi kontraterorisme yang koersif dibandingkan penggunaan strategi antiterorisme yang lebih persuasif.

Metode Penelitian

Untuk memahami permasalahan dalam penelitian ini maka penelitian ini akan menggunakan pendekatan analisis kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat induktif, yaitu

27 Lauren Harrison, “Counter Terrorism Training and Anti Terrorism

Training : a Blended Approach is Key”, Henley-Putnam University,

diakses dari

28 Lauren Harrison, Op.cit.

penelitian yang dimulai dengan data-data spesifik yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan suatu hasil penelitian atau data baru mengenai topik penelitian tesis. Menurut Regin dalam Neuman W. Lawrence, penelitian kualitatif adalah penelitian yang tepat digunakan untuk memaparkan dan menjelaskan perkembangan data-data penelitian yang ada, karena dengan mengembangkan data penelitian tersebut maka permasalahan yang akan dibahas akan semakin lebih mudah untuk dijelaskan secara lebih baik.

Metode deskriptif analisis yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi atau gambaran secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta dalam hal tentang bagaimana efektivitas strategi penanggulangan terorisme pemerintah Tiongkok terhadap gerakan separatisme-terorisme kelompok Uighur di wilayah Xinjiang, beserta faktor-faktor lain yang berhubungan dari masalah penelitian yang dianalisis dari data-data penelitian yang sudah ada. Deskripsi merupakan salah satu metode penelitian yang dapat memberikan penjelasan mengenai masalah penelitian secara akurat dan spesifik.

Operasionalisasi Konsep

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan keragaman tradisi, keragaman modernitas dan globalisme polimorfik dalam

mengevaluasi strategi penanggulangan

(8)

Universitas Indonesia kemudian menurunkan berbagai

pendekatan tersebut kepada variabel dan indikator yang menjadi konstruksi dalam mendekati masalah penelitian. Secara lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah berikut ini :

Variabel Teori Indikator Keragaman

Tradisi

Peter J. Katzenstein

- adanya pengakuan terhadap etnisitas dan kebudayaan bangsa Uighur - adanya pengakuan terhadap Islam

- adanya pengakuan terhadap adat istiadat bangsa Uighur

- adanya pengakuan terhadap hukum

- adanya pengakuan terhadap hak kesejahteraan material dan hak sosial politik bangsa Uighur

- adanya pengakuan terhadap hak

Pilar kebijakan etnis Tiongkok saat ini adalah otonomi daerah untuk etnis minoritas (minzu quyu zizhi), yang memungkinkan etnis minoritas untuk menduduki posisi penting administratif dan legislatif dan banyak posisi pemerintahan di daerah otonom. Namum beberapa kelompok radikal mengkritisi “otonomi” sebagai suatu kepura-puraan karena di di sebagian besar daerah otonom, pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah Sekretaris Partai yang masih diwakili oleh etnis Han Cina.

Menurut Millward dan Tursun (2004), metode lain untuk menegakkan kendali termasuk : (1) Integrasi politik

dengan gaya administrasi Tiongkok, (2) Pengembangan struktur partai yang didominasi oleh etnis Han Cina, (3) Asimilasi budaya melalui pendidikan Konghucu. Selama periode ini, pemerintah Tiongkok juga fokus dalam mengurangi pengaruh Islam di wilayah Xinjiang.

Kebijakan Migrasi Etnis Han

Imigrasi etnis Han sebagai salah satu taktik yang paling efektif untuk mengimbangi tekanan separatis dari kelompok Uighur di Xinjiang telah mensponsori perpindahan penduduk etnis Han ke wilayah tersebut. Segera setelah Partai Komunis mengambil alih kekuasaan, Dewan Negara menyiapkan rencana untuk memindahkan dua juta orang, dan pada tahun 1950-1978 sekitar tiga juta orang etnis Han pindah ke wilayah Xinjiang, terutama ke daerah pemukiman XPCC. Kebijakan ini berjalan dengan sukses sehingga pada tahun 1978, kelompok etnis Han berjumlah sekitar 40% dari jumlah penduduk Xinjiang dibandingkan jumlah 5% pada tahun 1949.

Hal ini menjadikan orang Uighur sebagai orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Keampuhan strategi ini terlihat dalam menurunnya gejala kerusuhan. Populasi penduduk Han di perkotaan secara efektif meminimalisir pemberontakan Uighur yang berada di pusat-pusat kota dan mencegah kerusuhan ini menyebar ke daerah pedesaan. Ketika etnis Uighur menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri, wilayah Xinjiang tidak lagi menjadi milik bangsa Uighur, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran Han yang lebih luas.

Pembatasan Ekspresi Keagamaan

(9)

Universitas Indonesia dihancurkan di Urumqi. Proses pengadilan

terhadap orang-orang tersebut tidak dipublikasikan. Pihak berwenang juga menerapkan larangan praktek keagamaan pribadi di semua struktur yang dikendalikan negara, siswa di sekolah negeri dan universitas secara resmi dilarang untuk beribadah, dilarang berpuasa selama bulan Ramadhan, atau menunjukkan perilaku keagamaan. Kepemilikan Al Quran secara pribadi dapat menyebabkan sanksi. Di daerah pedesaan, pasukan keamanan melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan bahwa tidak ada “publikasi ilegal” atau “materi keagamaan ilegal”. Kunjungan ke masjid diperiksa secara ketat dan banyak generasi muda Uighur mengatakan mereka takut untuk beribadah di masjid.

Mahasiswa secara terbuka dinyatakan terlarang untuk berpuasa selama bulan Ramadhan atau menunjukkan bentuk peribadatan apapun

(Laporan Human Rights Watch di

Xinjiang, Oktober 2011). Materi khutbah Jumah diperiksa di bawah pengawasan ketat dari otoritas Tiongkok yang memvalidasi semua kutipan dan penerjemahan dari Al Qur’an. Pemerintah juga memutuskan legitimasi dan legalitas dari berbagai kelompok agama, dengan mempertimbangkan berbagai kriteria. Pada Juli 2005 pemerintah Xijiang memutuskan untuk melarang aliran sufi muslim dan menahan 179 orang pengikutnya (Human

Rights Watch, China : A Year After New Regulations, Religious Rights Still Restricted, 1 Maret 2006).

Pemdidikan Bahasa Mandarin

Sejak tahun 2002, Partai Komunis Tiongkok memperkenal kebijakan bahasa “bilingual” di sekolah-sekolah Xinjiang yang secara efektif menghilangkan bahasa Uighur sebagai bahasa pengantar.

Kebijakan ini menjadikan bahasa Mandarin Cina sebagai bahasa pengantar dan penekanan kuat diletakkan pada cara membaca dan menulis Cina. Pada tahun 2004, Partai Komunis Tiongkok memutuskan kewajiban untuk mengajarkan bahasa Mandarin Cina di seluruh sekolah Xinjiang. Semua bahasa lain, seperti bahasa Inggris, juga diajarkan melalui pengantar bahasa Mandarin.

Banyak keluarga Uighur sekarang secara mandiri memilih untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah Han Cina, dikarenakan kefasihan dalam bahasa Mandarin Cina akan meningkatkan prospek pekerjaan mereka dalam dunia ekonomi yang didominasi Han dan membantu mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Xinjiang dengan menegaskan kembali identitas etnis tradisional mereka. Ekspresi dan praktek keagamaan dilarang di semua sekolaj dan diterapkan melalui pengawasan yang ketat.

Pembatasan Ekspresi Kebudayaan

Pada bulan Juni 1991, pihak berwenang Tiongkok melakukan pembakaran buku-buku secara besar-besaran di kasghar, dilaporkan bahwa sekitar “puluhan ribu” buku yang dibakar dan dihancurkan. Penerbitan milik pemerintah Kashgar Uyghur Publishing

House melaporkan 128 salinan buku A Brief History of the Huns and Ancient Literature telah dibakar, dimana pemerintah meihatnya sebagai buku yang mengobarkan separatisme. Pada saat itu juga dibakar salinan buku Ancient Uyghur

Craftmanship, yang diterbitkan di Kashgar

pada tahun 1988.

(10)

Universitas Indonesia tersebut.29 Selain itu, buku-buku dan karya

kesenian musik Uighur juga dibakar secara terbuka oleh pemerintah Tiongkok untuk konten-konten yang diduga mengandung nilai separatisme (Dillon, 2002). Terdapat juga penghancuran secara luas lingkungan kebudayaan tradisional Uighur di seluruh wilayah, terutama di kota tua Kashgar, dimana sekitar 80 persen wilayah kota tersebut telah dihancurkan (Holdstock, 2014).30

Menurut harian Kashgar Daily, penerbitan pemerintah Kashgar Uyghur

Publishing House juga melakukan sensor

terhadap 330 judul buku dan menghentikan proses penerbitan dari volume lainnya yang dianggap bermasalah. Buku-buku serupa juga disita dan diamankan dari toko buku Xinhua, perpustakaan sekolah, perpustaakan perguruan tinggi di seluruh prefektur. Saksi mata melaporkan bahwa buku yang dikumpulkan dari sekolah-sekolah menengah di Kashgar dikumpulkan dan kemudian dibakar. Insiden pembakaran buku di Kashgar ini bukan merupakan kasus yang terisolasi.

Pemimpin demonstrasi harus diidentifikasi dan demonstrasi tidak boleh mengancam persatuan, membahayakan solidaritas suku bangsa atau kompromi dengan kepentingan negara, dan masyarakat umum. Berkenaan dengan pertemuan pribadi, pemerintah Tiongkok pada tahun 1995 melarang mashrap, pertemuan tradisional yang dihidupkan kembali pada tahun 1994 oleh bangsa Uighur untuk menawarkan dukungan dan akuntabilitas untuk melawan kecanduan alkohol dan narkoba.31

Metode mashrap dengan cepat mendapatkan popularitas dan tidak hanya

29 Nicolas Becquelin, “Criminalizing Ethnicity : Political Repression in

Xinjiang”, No. 1, (China Rights Forum, 2004), hal 45

30 Nick Holdstock, Op.cit., hal 2 31 Ibid, hal 25

berhasil dalam mengurangi kecanduan alkohol dan narkoba tetapi juga memberikan rasa pemberdayaan kepada masyarakat. Pemerintah Tiongkok menanggapi perkembangan tersebut dengan melarang pertemuan mashrap dan pada satu momen menangkap pemimpin gerakan masrap, Abdulhelil. Insiden kekerasan di Ghulja pada tahun 1997 bisa dilihat sebagai respon dari represi dan tekanan pemerintahan Tiongkok. Meskipun terdapat dampak positif pertemuan pribadi terhadap masyarakat Uighur, pemerintah Tiongkok tidak mengizinkan setiap organisasi yang tidak berada di bawah kendalinya.32

Kampanye Serangan Keras

Sekitar tahun 1990-an, pemerintah Tiongkok telah menerapkan kampanye serangan keras (da fa) terhadap wilayah manapun yang memiliki simpati dengan gerakan separatisme, termasuk Xinjiang, tanah air bangsa Uighur. Tujuan eksplisit dari kampanye tersebut adalah untuk “memukul di jantung pertahanan musuh, memurnikan masyarakat dan mendidik massa”, dan pada tahun-tahun setelah penerapan awal kebijakan tersebut, pemerintah Tiongkok secara berkala memperbarui kampanye serangan keras-nya, dengan menyebarkan pasukan tambahan ke wilayah tersebut dan mengetatkan pembatasan ekspresi kebudayaan dan praktik keagamaan.

Penyebaran pasukan Tiongkok menunjukkan manajemen pertahanan tenaga kerja dengan PLA yag bertanggung jawab atas pertahanan eksternal dan keamanan wilayah perbatasan, sementara

People’s Armed Police (PAP) bertanggung

jawab untuk keamanan dalam negeri, terutama di daerah perbatasan. Fungsi

32 Jenny L. Phillips, “Uyghurs in Xinjiang: United or Divided Against

(11)

Universitas Indonesia utama PAP adalah penegakan hukum dan

keamanan internal di wilayah perbatasan, upaya kontra intelijen, kontra separatisme dan kontra terorisme, dan dapat mendukung PLA selama masa peperangan. Setidaknya ada 203.000 orang tentara (45 persen dari jumlah personel) dan 239.500 orang infantri (42 persen jumlah personel) yang dikerahkan ke wilayah perbatasan, dan sekitar 100.000 orang pasukan pertahanan perbatasan menurut statistik resmi. Pengamat memperkirakan kekuatan total PAP berjumlah satu juta personel. Dalam masa lalu PLA digunakan untuk meredam keresahan dan pergolakan di kalangan Uighur, namun sejak tahun 1990, PAP yang dikerahkan sementara fungsi PLA adalah untuk proyeksi kekuatan.33

Amnesti Internasional telah mendokumentasikan banyak kasus penahanan sewenang-wenang dan pemenjaraan, pengadilan yang tidak adil, penyiksaan dan eksekusi di luar pengadilam. Sidang pengadilan sering diadakan secara tertutup dan tanpa didampingi oleh pengacara. Dalam beberapa kasus, sidang pengadilan yang digelar di depan ratusan atau ribuan orang sebagai demonstrasi hukuman publik. Mereka yang menerima hukuman mati selama ini selama fase pengadilan publik seringkali dieksekusi segera setelah pengadilan. Amnesti Internasional mencatat setidaknya sekitar 210 hukuman mati ditetapkan di Xinjiang pada tahun 1997 dan 1999 dan sebagian besar yang dieksekusi adalah orang Uighur.34

Sebagai bagian dari Kampanye Serangan Keras, pemerintah lokal telah terlibat dalam beberapa jenis kebijakan seperti : pembakaran literatur sejarah bangsa Uighur, penangkapan dan penahanan penulis dan cendekiawan

33 Brenda Bi Hui Ong, “Hard Love and Empty Promises: China’s

Domestic Counterinsurgency in Xinjiang”, Small Wars Journal, June 2012, (Virginia : Small Wars Foundation, 2012), hal 4

34 Jenny L. Phillips, Op.cit., hal 25

Uighur, pelarangan musik tradisional yang bernuansa Islam, dan melarang pengajaran dalam bahasa Uighur di Universitas Xinjiang, universitas terbesar di wilayah tersebut. Insiden pembakaran literatur budaya tersebut seolah-olah diarahkan kepada literatur yang berisikan konten independensi dan separatisme, hanya beberapa literatur budaya Uighur yang dianggap tidak provokatif yang tidak ikut dibakar.

Pada 10 Mei 2001, menurut laporan resmi pemerintah, pihak berwenang telah mengadili 3.701 kasus dan telah menghancurkan 185 geng, tindakan keras pemerintah ini ditujukan untuk menggoyang arogansi elemen kriminal. Wakil Presiden Pengadilan Tinggi Rakyat Xinjiang, Lu Qifa, menyatakan dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa pelaksanaan hukuman publik yang dihadiri sekitar 300.000 orang telah dilaksanakan di seluruh wilayah. Terlepas dari skala, pelaksanaan Kampanye Serangan Keras menimbulkan keprihatinan serius mengenai proses peradilan dan hak-hak hukum mendasar untuk terdakwa. Tekanan institusional yang dilakukan oleh aparatus negara dan perailan untuk memproses kasus-kasus secara maksimum dalam waktu yang sangat minimum.35

Antara bulan Maret 2002 dan September 2003, para tokoh Uighur di pengasingan menuduh pemerintah bahwa puluhan ribu orang Uighur di pengasingan telah ditahan dengan tuduhan sebagai kelompok “separatis” atau “teroris”. Hasil operasi keamanan di Xinjiang bertujuan untuk menyita atau menghancurkan bahan-bahan literasi tentang Uighur yang dilihat pemerintah sebagai upaya untuk mempromosikan kemerdekaan. Upaya Tiongkok untuk menekan dan mengatur ekspresi kebudayaan Uighur hanya

(12)

Universitas Indonesia memperkuat identitas Uighur,

ketidaksetujuan pemerintah sebagai cap legitimasi kebudayaan Uighur.36

Dalam beberapa tahun terakhir berbagai kampanye untuk memperbaiki tatanan sosial telah menyebabkan

penangkapan sewenang-wenang,

penutupan tempat ibadah, tindakan keras pada kegiatan keagamaan tradisional, larangan praktek keagamaan pribadi di lembaga-lembaga negara yang dikontrol (seperti kantor administrasi, sekolah dan perusahaan), dan penahanan ribuan orang yang dipenjara atau bahkan dihukum mati setelah proses pengadilan yang tidak adil dan singkat. Xinjiang tetap menjadi satu-satunya provinsi di Tiongkok di mana tahanan politik dieksekusi melalui hukuman mati menjadi suatu hal yang umum. Menurut Amnesti Internasional, lebih dari 200 orang telah dieksekusi sejak tahun 1997 dalam lima tahun terakhir di bawah Undang-Undang Keamanan Negara yang diperketat.37

Daftar penangkapan dan kalimat dalam perjalanan Kampanye Serangan Keras meliputi : (a) Di prefektur Aksu, 186 orang ditangkap termasuk orang yang dikatakan dapat “membahayakan keamanan negara”, kemudian juga terdapat penyitaan terhadap “penyebaran publikasi keagamaan ilegal”, (b) Di kota Atush, Akqi dan Akto, sekitar dua puluh empat orang ditahan dan ditangkap, termasuk dua orang yang dijatuhi hukuman mati karena melakukan sabotase ketertiban umum dan stabilitas sosial. Sekitar sepuluh ribu orang menghadiri unjuk rasa menentang hukuman publik tersebut, (c) Di ibukota Urumqi, delapan orang yang dituduh dapat mengancam stabilitas sosial dijatuhi

36 Carver Boehm, “China’s Failed War on Terror : Fanning the Flames of

Uighur Separatist Violence”, Berkeley Journal of Middle Eastern and Islamic Law, Vol. 2, Article 3, (California : Berkeley Law Scholarship Repository, 2009), hal 82

37 Nicolas Becquelin, Op.cit., hal 39

hukuman penjara antara empat dan tiga belas tahun.

Kesimpulan

Kebijakan dan strategi kontraterorisme pemerintah Tiongkok terhadap gerakan bersenjata Uighur di wilayah Xinjiang tidak berjalan secara efektif. Berbagai kebijakan pemerintah Tiongkok tidak berjalan secara efektif. Berbagai kebijakan ini bisa dilihat sebagai bagian dari proses akomodasi yang dilakukan pemerintah Tiongkok walaupun hanya sebagian kecil kepentingan kelompok Uighur yang terwakili. Kebijakan ini awalnya diambil pemerintah Tiongkok dalam upaya untuk mengintegrasikan dan mengasimilasikan bangsa Uighur ke dalam sistem kehidupan masyarakat dan negara Tiongkok, tetapi malah sebaliknya menyebabkan munculnya sentimen negatif bangsa Uighur terhadap etnis Han dan pemerintah Tiongkok.

Pada poin ini bisa disimpulkan bahwa Tiongkok melakukan resistensi terhadap gagasan kebangsaan dan nasionalisme Uighur yang dikhawatirkan dapat menimbulkan semangat separatisme dan tuntutan akan kemerdekaan Uighur. Kebijakan pemerintah Tiongkok juga dinilai semakin meminggirkan bangsa Uighur secara sistematis dan kemudian menguntungkan etnis Han Cina di Xinjiang. Selain itu juga pembatasan ekspresi keagamaan dan kebudayaan bangsa Uighur mencederai sensitivitas bangsa Uighur dan menimbulkan antipati dan sentimen yang meluas baik kepada etnis Han Cina maupun pemerintah Tiongkok.

(13)

Universitas Indonesia

pelarangan tradisi mashrap semakin

mencerabut bangsa Uighur dari akar budaya dan tradisi mereka. Di sisi lain Tiongkok mencoba untuk memberikan otonomi kepada wilayah Xinjiang, menerima etnis Uighur sebagai pegawai pemerintahan, anggota partai, anggota legislatif, kaum muda Uighur diperbolehkan untuk mendaftar di perguruan tinggi di wilayah tersebut. Pada tahap ini Tiongkok melakukan dua tahapan sekaligus yaitu resistensi sekaligus akomodasi. Tiongkok melakukan resistensi terhadap identitas bahasa, karya sastra dan kebudayaan Uighur, kemudian Tiongkok mencoba melakukan akomodasi terhadap bangsa Uighur walau secara terbatas dengan pemberlakuan otonomi terbatas di wilayah Xinjiang.

Kemudian Tiongkok juga memberlakukan kontrol terhadap masjid-masjid, ceramah-ceramah, pelarangan ibadah puasa dan haji menyebabkan munculnya rasa kemarahan dan antipati karena identitas keagamaan sebagai sesuatu yang sakral bagi orang Uighur mendapatkan intervensi dan dicederai oleh berbagai kebijakan pemerintah Tiongkok. Kembali pada poin ini Tiongkok melakukan resistensi terhadap salah satu elemen mendasar dalam identitas bangsa Uighur, yaitu agama Islam. Kondisi-kondisi ini kemudian semakin memperkuat ketidakpuasan bangsa Uighur terhadap pemerintah Tiongkok dan meningkatkan perlawanan bangsa Uighur yang ditandai dengan munculnya beberapa insiden kerusuhan besar pada tahun seperti indisen kerusuhan Baren, insiden kerusuhan Ghulija dan insiden kerusuhan Urumqi.

Strategi kontraterorisme dan

Kampanye Serangan Keras pemerintah Tiongkok terbukti tidak efektif dalam meredam perlawanan gerakan separatisme Uighur dan semakin meningkatkan radikalisme gerakan separatisme Uighur.

Berbagai strategi kontraterorisme

pemerintah Tiongkok menyebabkan

meningkatnya radikalisme gerakan Uighur yang semakin intens dalam penggunaan aksi kekerasan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya intensitas serangan yang dilakukan oleh kelompok separatisme-terorisme Uighur dalam berbagai bentuk penyerangan seperti pengeboman, pembunuhan politik, penculikan dan kerusuhan massa.

Selain itu strategi kontraterorisme dan Kampanye Serangan Keras pemerintah

Tiongkok juga secara jelas juga

merupakan proses resistensi terhadap eksistensi bangsa Uighur. Pelaksanaan Kampanye Serangan Keras terutama terindikasi melakukan banyak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) bangsa Uighur. Penangkapan dan penahanan para demonstran dan aktivis politik Uighur secara sewenang-wenang dan tanpa melalui proses pengadilan yang adil sudah menjadi satu catatan tersendiri.

Belum lagi pelaksanaan eksekusi hukuman mati bagi aktivis politik Uighur tanpa proses pengadilan yang terbuka merupakan bukti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok. Tindakan represif pemerintah terhadap etnis minoritas diperkuat dengan tidak tersedianya sistem hukum yang adil menjadikan bangsa Uighur melihat aksi radikalisme dan terorisme sebagai salah satu jalan paling efektif dalam menunjukkan perlawanannya terhadap pemerintah Tiongkok.

Saran

1. Mengakhiri Kebijakan Migrasi Etnis

Han ke Xinjiang

(14)

Universitas Indonesia memberikan sinyal yang positif kepada

masyarakat Uighur bahwa Beijing menyadari kesalahan mereka dan bersedia melakukan evaluasi dan perubahan kebijakan. Hal ini juga dapat memotong klaim kelompok separatisme Uighur dan dapat mengubah persepsi kelompok separatis bahwa tindakan kekerasan sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan di Xinjiang.

2. Menjamin Pemerataan Akses Pendidikan dan Pekerjaan Terhadap Etnis Uighur

Pemerintah Tiongkok sebaiknya melakukan perubahan kebijakan yang dapat mendorong pemerataan akses pendidikan dan pekerjaan terhadap bangsa Uighur di Xinjiang. Kebijakan pendidikan bahasa Mandarin dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan warga Uighur, tetapi hal ini juga menyisakan masalah lain. Kebijakan pendidikan bahasa Mandarin dianggap sebagai sarana untuk menjauhkan generasi muda Uighur dari akar bahasa dan kebudayaan Uighur.

3. Menjamin Kebebasan Beragama Bangsa Uighur dan Etnis Minoritas Lainnya

Pemerintah Tiongkok harus menjamin praktek kebebasan beragama di Xinjiang seperti yang termaktub di dalam konstitusinya. Dengan demikian pemerintah Tiongkok akan mengurangi sentimen negatif dan antipati bangsa Uighur dan mengurangi semangat perlawanan gerakan separatisme. Selanjutnya pemerintah Tiongkok dapat membangun hubungan yang lebih positif dengan komunitas muslim Uighur.

4. Menjamin Kebebasan Ekspresi Kebudayaan Bangsa Uighur

Tindakan pemerintah Tiongkok yang bersifat represif dan menekan ekspresi kebudayaan bangsa Uighur juga menimbulkan ketidakpuasan yang meluas. Seharusnya pemerintah Tiongkok dapat menjamin kebebasan ekspresi kebudayaan, media dan berserikat bagi bangsa Uighur. Dengan mengurangi penekanan terhadap ekspresi kebudayaan dan menjamin kebebasan pers dan berserikat, pemerintah Tiongkok dapat meredam semangat perlawanan gerakan separatisme Uighur dan mendorong mereka ke dalam proses asimilasi yang lebih baik dengan Tiongkok.

5. Mengendurkan Kampanye Serangan Keras

Pemerintah Tiongkok seharusnya dapat mengendurkan Kampanye Serangan Keras dan menjunjung tinggi prinsip penegakan hukum dalam mengatasi pergolakan dan ketidakpuasan bangsa Uighur. Mendefinisikan terorisme secara jelas dalam mekanisme konstitusi dapat menjadi satu pilihan, sehingga penafsiran yang ambigu tidak menjadi dasar justifikasi pemerintah Tiongkok untuk melakukan penindasan kepada setiap kelompok oposisi politik atau kelompok keagamaan. Seperti yang tercantum dalam Kontitusi Tiongkok pasal 35, seharusnya pemerintah Tiongkok dapat memberikan jaminan kebebasan berbicara, berserikat, berkumpul dan menyampaikan protes secara damai.

Daftar Pustaka

BBC News. Why is there tension between

China and the Uighurs?. 26 September 2014.

2015

Becquelin, Nicolas. Criminalizing

(15)

Universitas Indonesia

Xinjiang. No. 1. (China Rights Forum,

2004)

Boehm, Dana Carver. China’s Failed War

on Terror : Fanning the Flames of Uighur Separatist Violence. Berkeley

Journal of Middle Eastern and Islamic Law. Vol. 2, Article 3. (California : Berkeley Law

Harrison, Lauren. Counter Terrorism

Training and Anti Terrorism Training : a Blended Approach is Key.

Henley-Putnam University, diakses dari :

Juli 2015

Holdstock, Nick. Islam and Instability in

China’s Xinjiang. Report March 2014.

NOREF : Norwegian Peacebuilding Resource Centre. (Oslo : NOREF, 2014)

Katzenstein, Peter J.,ed. Many West and

Polymorphic Globalism dalam Anglo-America and Its Discontents : Civilizational Identitites beyond West and East. (New York : Routledge,

2012)

Lyon, Aisling. Between the Integration

and Accomodation of Ethnic Difference : Decentralization in the Republic of Macedonia. Journal on

Ethnopolitics and Minority Issues in Europe. Vol. 11, No. 3, 2012. (Bradford : University of Bradford, 2012)

Ong, Brenda Bi Hui. Hard Love and

Empty Promises: China’s Domestic Counterinsurgency in Xinjiang. Small

Wars Journal. June 2012. (Virginia : Small Wars Foundation, 2012)

Phillips, Jenny L. Uyghurs in Xinjiang:

United or Divided Against The PRC?.

Thesis for Naval Postgraduate School. (California : Naval Postgraduate School, 2012)

Rehman, Zia Ur. ETIM’s Presence in

Pakistan and China’s Growing Pressure. Report August 2014.

NOREF : Norwegian Peacebuilding Resource Centre, (Oslo : NOREF, 2014)

South China Morning Post. Uygur Scholar

Ilham Tohti Accused of Leading Group of Students in Trying to Split Chinese State. 6 Agustus 2014,

Tiezzi, Shannon. Is the Kunming Knife

Attack China’s 9/11. The Diplomat. 4

Maret 2014, diakses dari :

diakses pada 2 Maret 2015 Scholarship Repository, 2009)

Xinhua News. East Turkistan Forces

Flags Found at Chinese Station After Terrorist Attack. 3 Maret 2014.

diakses pada 6 April 2015

Xinhua News. Kunming Terrorist Attack

Suspects Captured. 3 Maret 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Guru membimbing siswa membuat suatu rangkaian hambatan (bisa juga pakai bola lampu senter) seri dengan besar masing masing hambatannya 2Ohm dengan sumber tegangan disusun

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada tikus wistar hiperkolesterolemia dengan rerata kolesterol total 236 mg/dL yang diberi jus jeruk nipis

Meskipun demikian ada fakta yang menunjukkan bahwa gugus 6, 7 dihidroksi pada cincin A isoflavon dan flavanon (mungkin juga dihidroflavonol) dapat dideteksi dengan adanya

Harapannya setiap calon guru yang dipersiapkan dapat memahami bagaimana proses pembentukan emosi terjadi dan proses perkembangan kognitif pada anak terjadi sehingga

Gaol, M.Si Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Muhammad Shaufi, M.Pd.I Muhammad Shaufi, M.Pd.I

Penggunaan Math Manipulative yang disampaikan secara menarik dan menyenangkan mampu meningkatkan minat, motivasi, keyakinan, dan keterlibatan anak ketika belajar

Disamping itu, berbagai fungsi khusus pada mesin Milling, seperti fungsi koordinasi untuk perubahan bidang interpolasi, fungsi copying yang berperan penting dalam pembuatan

Pada Halaman ini digunakan untuk login calon siswa baru dengan akun yang telah dibuat pada saat mengisi form pendaftaran, dengan cara mengisi Username dan. Password yang