BAB 2 Keuangan Pemerintah
2.1.2 Anggaran Belanja Provinsi Kalimantan Barat
Rasio Kemandirian Fiskal Provinsi Kalimantan Barat pada realisasi pendapatan pada triwulan III 2017 berada di level 34,92%, meningkat dibandingkan triwulan III 2016 yang sebesar 34,40%. Hal ini disebabkan oleh peningkatan realisasi PAD (Rp863,92 miliar) pada triwulan III 2017 yang tidak sebesar peningkatan realisasi Dana Perimbangan (Rp1.829,96 miliar), sehingga menunjukkan masih adanya ketergantungan Provinsi Kalimantan Barat terhadap dana dari pusat dalam menjalankan kegiatannya.
2.1.2 Anggaran Belanja Provinsi Kalimantan Barat
Anggaran belanja pada perubahan APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2017 mencapai Rp5,099,79 miliar atau naik 6,65% dari anggaran belanja tahun 2016. Peningkatan terutama terjadi di anggaran belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. Anggaran belanja modal pada tahun 2017 mencapai Rp987,23 miliar atau meningkat 53,27% dibandingkan anggaran belanja tahun 2016. Anggaran belanja pegawai pada tahun 2017 mencapai Rp1.217,03 miliar atau meningkat 43,86% dibandingkan 2016 dan anggaran belanja barang pada tahun 2017 mencapai Rp1.329,89 miliar atau meningkat 23,33% dibandingkan anggaran belanja tahun 2016. Peningkatan anggaran belanja pegawai
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional |November 2017 37
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2017 disebabkan adanya peralihan PNS dari kabupaten/kota ke provinsi sehingga anggaran gaji PNS tersebut dialihkan ke provinsi.
Tabel 2.2 Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2016 dan 2017
*) Data unaudited **)Dalam Rp miliar Sumber: BPKAD Prov.i Kalimantan Barat
Persentase realisasi belanja APBD Provinsi Kalimantan Barat triwulan III 2017 mencapai 55,61%, lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2016 yang mencapai 52,08%. Peningkatan realisasi belanja Provinsi Kalimantan Barat didorong oleh peningkatan realisasi pada seluruh komponen belanja secara nominal. Namun secara persentase terdapat beberapa komponen yang mengalami penurunan realisasi dibandingkan dengan triwulan III 2016.
Realisasi belanja pegawai meningkat baik secara nominal maupun persentase dari Rp539,65 miliar (63,79%) di triwulan III 2016 menjadi Rp868,17 miliar (71,33%) di triwulan III 2017. Komponen lain yang mengalami peningkatan realisasi pada triwulan III 2017 baik secara nominal maupun persentase adalah komponen belanja modal dan bantuan sosial, dengan peningkatan masing-masing sebesar Rp344,63 miliar (34,91%) dan Rp0,45 miliar (62,50%) dari sebelumnya sebesar Rp157,11 miliar (24,39%) dan Rp0,40 miliar (55,56%) di triwulan III 2016.
Sementara itu, komponen belanja barang pada triwulan III 2017 mengalami peningkatan realisasi secara nominal yaitu sebesar Rp440,94 miliar dibandingkan dengan triwulan III 2016 yang sebesar Rp402,12 miliar. Meskipun demikian, secara persentase komponen belanja barang pada triwulan III 2017 mengalami penurunan sebesar 33,16% dari sebelumnya 37,29% pada triwulan III 2016. Demikian halnya dengan pada komponen hibah, meskipun secara realisasi mengalami penurunan dari Rp747,15 miliar di triwulan III 2016 menjadi Rp735,38 miliar di triwulan III 2017, namun secara persentase realisasinya mengalami peningkatan dari 72,18% pada triwulan III 2016 menjadi 79,54% di triwulan III 2017. Secara umum, proporsi realisasi belanja Kalimantan Barat pada triwulan III 2017 didominasi oleh belanja pegawai dan belanja hibah dengan porsi masing-masing sebesar 30,61% dan 25,93%.
Persentase realisasi Transfer ke daerah lain dalam APBD Provinsi Kalimantan Barat pada triwulan III 2017 mengalami peningkatan menjadi 70,38% dari triwulan III 2016 yang sebesar 52,51%. Peningkatan terutama terjadi pada Bagi Hasil Pajak dengan persentase realisasi sama dengan persentase realisasi Transfer ke daerah lain.
*) Data unaudited
Sumber: BPKAD Prov. Kalimantan Barat
Grafik 2.3 Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Provinsi Kalimantan Barat Triwulan III 2013-2017
Rasio realisasi Belanja Modal terhadap total realisasi Belanja pada triwulan III 2017 tercatat sebesar 12,15% atau meningkat dibandingkan triwulan III 2016 yang sebesar 6,31%. Semakin besarnya rasio Belanja Modal terhadap total belanja mencerminkan semakin besarnya perhatian pemerintah untuk penyediaan infrastruktur yang lebih baik di Kalimantan Barat. Ketersediaan infrastruktur yang berkualitas dapat menjadi faktor yang mendorong masuknya investasi serta memperlancar arus distribusi barang dan jasa sehingga diharapkan dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian daerah.
Alokasi APBN di Kalimantan Barat
Selain menyalurkan Dana Transfer, dalam rangka melakukan realisasi APBN di daerah, Pemerintah Pusat juga dapat melakukan belanja langsung di daerah melalui kantor perwakilan di daerah yang dimiliki oleh Kementrian/Lembaga. Kantor Perwakilan Kementrian/Lembaga di Kalimantan Barat pada tahun 2017 memperoleh pagu anggaran sebesar Rp9,14 triliun. Jumlah tersebut meningkat 2,92% dibandingkan pagu anggaran tahun 2016 yang berjumlah Rp8,88 triliun. Peningkatan tersebut disebabkan oleh terjadinya peningkatan pagu anggaran pada pos belanja modal sebesar 8,63% menjadi Rp2,68 triliun dan belanja pegawai yang meningkat sebesar 4,26% menjadi Rp3,14 triliun.
Namun berdasarkan fungsinya, pagu anggaran Kementrian/Lembaga di Kalimantan Barat pada tahun 2017 mengalami penurunan pada hampir seluruh fungsi. Fungsi yang mengalami peningkatan pagu anggaran cukup besar adalah fungsi Lingkungan Hidup dan Agama, dengan persentase peningkatan masing-masing sebesar 25,48% (menjadi Rp278,57 miliar) dan 14,75% (menjadi Rp192,29 miliar). Meskipun Belanja Kementrian/Lembaga mengalami penurunan, tetapi dana transfer ke daerah mengalami peningkatan 2,80% dari Rp19,11 triliun menjadi Rp19,65 triliun sehingga secara keseluruhan total pagu belanja dan transfer APBN di Kalimantan Barat pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 2,84%.
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional |November 2017 39
Tabel 2.3 Anggaran dan Realisasi Alokasi Belanja APBN di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2016 dan 2017
*) Data unaudited **) Dalam Rp miliar
Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Kalimantan Barat
Persentase realisasi belanja Kementrian/Lembaga di Kalimantan Barat pada triwulan III 2017 sebesar 61,06% dari pagu anggaran, menurun dibandingkan persentase realisasi belanja triwulan III 2016 yang sebesar 61,43%. Penurunan tersebut disebabkan penurunan persentase realisasi pos belanja pegawai pada triwulan III 2017 dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 70,70% (sebelumnya 73,77%). Sementara itu, terdapat peningkatan persentase realisasi beberapa pos belanja pada triwulan III 2017 dibandingkan triwulan III 2016 seperti, belanja modal sebesar 54,81% (sebelumnya 53,43%), dan belanja barang sebesar 57,05% (sebelumnya 56,28%). Berdasarkan fungsinya, penurunan realisasi belanja terutama didorong oleh penurunan persentase realisasi fungsi Lingkungan Hidup dari 50,24% di triwulan III 2016 menjadi 23,65% pada triwulan III 2017.
*) Data unaudited
Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Barat
Pembelanjaan dalam fungsi ekonomi memiliki proporsi belanja terbesar dengan porsi mencapai 35,52% dari total belanja. Pembangunan infrastruktur masih menjadi fokus utama pembelanjaan dalam fungsi ekonomi di Kalimantan Barat. Di antara pembangunan tersebut adalah infrastruktur jalan berupa pelaksanaan jalan nasional dan pembangunan jalan paralel perbatasan Nanga Badau-Aruk-Entikong-Temajok. Fungsi lain yang memiliki proporsi belanja besar adalah fungsi Ketertiban dan Keamanan; Pendidikan dan Pertahanan dengan porsi masing-masing sebesar 18,77%, 16,60% dan 13,53%.