• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGOTA F-PG (BOWO SIDIK PANGARSO, S.E.): Terima kasih Pimpinan

Yang saya hormati Direktur Utama Freeport dan jajarannya.

Pertama-tama saya ingin sedikit memperjelas pernyataan Presiden Direktur Freeport dalam pembukaan tadi mengatakan salah satunya sangat bersyukur berdiri di sini bisa mengambdi bagi bangsa dan negara.

61 Freeport ini adalah perusahaan asing, Bapak-bapak yang duduk di depan adalah pekerja Freeport, apapun keputusan Freeport Amerika saya yakin Bapak-bapak akan mengikuti kalau tidak out, ini bisnis, tetapi saya yakin dengan Pak Direktur Utama yang mantan bintang II, mantan BIN punya jiwa nasionalisme saya tantang di sini Pak Jenderal Pak Direktur Utama, berani tidak mundur dari Presdir Freeport kalau memang betul Freeport memaksakan kehendaknya yang merugikan bangsa Indonesia, itu pertanyaan saya. Kalau berani saya angkat jempol buat pernyataan Bapak yang mengatakan bersyukur berada di sini bisa mengabdi bangsa dan negara. Yang kedua, saya sedikit agak kaget dengan pernyataan Bapak yang mengatakan tadi bahwa Saudara-saudara baik Papua, baik Timika bisa hidup di sini karena Freeport salah, salah pernyataan itu Saudara Presdir, pernyataan benar adalah Freeport itu butuh Indonesia, butuh Papua, Papua belum tentu butuh Freeport, tapi Freeport butuh Papua, tolong dikasih tahu, tanpa ada Papua tidak ada Freepot yang ada di Papua, jadi pernyataan tadi mungkin salah tapi tolong dipertegas di jawab nanti, jelas-jelas Bapak mengatakan bahwa Timika bisa hidup karena Freeport, Saudara-saudara bisa hidup karena Freeport, rakyat Papua, tidak. Kita bisa mengusir Freeport bila perlu kalau memang Freeport tidak sesuai dengan kehendak rakyat Indonesia, melanggar undang-undang kita usir, kenapa takut cuma persoalannya tadi kata Pak Kurtubi, kita punya kontrak karya yang sampai tahun 2021 bahkan sampai diperpanjang 20 tahun lagi, tetapi kalau memang kehendak rakyat menghendaki itu kenapa tidak itu jadi dua hal.

Yang ketiga Saudara Pimpinan dan saudara-saudara sekalian. Saya pikir sudah jelas bahwa apapun yang dikatakan Freeport tentang persiapan smelter di Gresik omong kosong, omong kosong, bayangkan mau habis tanggal 24-25 Januari, dia tanggal 22 sudah mengatakan kita sudah punya MoU dengan Gresik, tetapi tadi Saudara kita Mas Dito bertanya soal amdal bagaimana ? belum bisa dijawab, dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui instansi yang berwenang ? bukti pelunasan kewajiban pembayaran, sertifikat clear and clean bagi pemegang operasi-operasi bagaimana ? tadi belum tersedia semua, artinya Pak Direktur kalau memang betul itu belum ada demi merah putih, demi tidak melanggar undang-undang maka Freeport mohon dengan sangat jangan melakukan ekspor dulu. Produksi silakan jangan ekspor kemudian kami DPR RI siap melakukan Perpu usulan dari Pemerintah untuk sama-sama kita bahas demi untuk kelancaran Freeport dan rakyat Jayapura dan bangsa Indonesia, sekian terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak Bowo.

Kelihatannya luar biasa semangatnya hari ini, saya rasa tadi malam tidurnya cukup Pak, biasa pulangnya malam terus, semalam agak cepat, karena tidak kelihatan rapat jam 11 sudah tidak ada. Selanjutnya yang terakhir silakan anggota Banggar kita mau menyampaikan kesimpulan Banggar atau apa ini, mau bertanya silakan Pak.

62 ANGGOTA F-PAN (H. JAMALUDDIN JAFAR, S.H., M.H.):

Baik Pak Ketua terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kawan-kawan anggota DPR RI yang saya hormati. Pimpinan PT. Freeport.

Beliau-beliau ini adalah senior saya kebetulan saya Dapil Papua dan terima kasih kawan-kawan kalau sudah memberi masukan-masukan tentang Freeport ini. Saya terlambat di sini dan mungkin saya tidak ikuti, kalau sudah diangkat oleh kawan-kawan ya mohon maaf tapi saya mungkin memperkuat saja. Yang pertama tentang smelter ada aspirasi dari masyarakat Papua yang disampaikan kepada kita khusus Dapil Papua 10 anggota DPR RI ini dari sana menginginkan itu smelter di Papua alasannya saya pikir banyak tentu meningkatkan pendapatan negara dan daerah. Yang kedua tentu meminimalkan masalah penyimpangan itu kita tidak tahu berapa sebenarnya karena yang mengawasi juga ya saya pikir bisa juga tidur di sana dia dan bisa mengantuk, dan bisa lewat itu barang, bisa Bapak lapor sekian ton tapi bisa juga tidak demikian. Dan yang lain-lain tentu biaya transportasi juga akan lebih rendah tentu menghemat juga PT. Freeport sendiri. Nah berdasarkan daripada itu saya bertanya apa alasan yang mendasar PT. Freeport tidak mau membangun smelter di Papua, lahan saya pikir 3 kali pulau Jawa itu Papua, tidak usah lagi ditanya kalau masalah lahan daripada dari Menteri Pertambangan kemarin itu mengatakan bahwa baru negosiasi lahan dengan Gresik, kita tidak perlu lahan negosiasi lagi memang lahan kita luas di sana, atau apakah karena tidak mau transparan masalah kandungan dan lain sebagainya, ini pertanyaan kita yang selama ini yang rasa-rasanya tidak terjawab. Yang kedua, saya juga menyoroti masalah tenaga kerja, di sini asli Papua itu 34% ya hampir 35%, terus non Papua 63 sekian persen. Asing juga masih cukup banyak ya saya kira kalau tambang tidak perlu lah asing, tenaga kita juga sudah cukup bagus di sana, buktinya Pak Direktur kan juga sudah orang asli Indonesia. Nah pertanyaan saya kapan paling tidak non Papua, Papua itu sudah bisa 60%, jadi kalau ada aspirasi dari kawan-kawan kita masyarakat kita di sana tidak terakomodir ya ini benar juga. Nah kira-kira berapa tahun lagi itu bisa Papua atau tenaga Papua itu bisa di atas 50% bahkan 60%, saya memang juga dari sana ya baru 44 tahun saya di sana, jadi saya juga ngomong begini ya karena itu, Pak ... pasti sudah tahu betul saya dari muda saya di sana, saya kira itu yang dari kami ya, ininya bahwa bagaimana menyeimbangkan tenaga itu tadi, saya kira demikian Pak Ketua, terima kasih.

63 ANGGOTA F-PAN (LUCKY HAKIM):

Interupsi Ketua.

Mohon izin, nama saya malah hilang dari daftar pertanyaan. KETUA RAPAT :

Silakan ini terakhir, anggota yang lain sudah semua. Silakan.

ANGGOTA F-PAN (LUCKY HAKIM):

Dokumen terkait