1 RISALAH
RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI VII DPR RI DENGAN DIREKTUR UTAMA PT. FREEPORT
Tahun Sidang : 2014-2015 Masa Persidangan : II
Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Direktur Utama PT. Freeport Indonesia
Sifat Rapat : Terbuka
Hari/tanggal : Selasa, 27 Januari 2015 Waktu : Pukul 14.45 WIB –18.17 WIB Tempat : Ruang Rapat Komisi VII DPR RI Ketua Rapat : Ir. H. Mulyadi
Acara : Operasi Penambangan di PT. Freeport Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Minerba
Sekretaris Rapat : Dra. Rini Koentarti, M.Si.
Hadir : 42 orang Anggota Komisi VII DPR RI ... Orang Anggota Izin
A. Anggota DPR RI
1. Pimpinan Komisi VII DPR RI
a. Dr. Ir. H. Kardaya Warnika, DEA (Ketua/F.P. Gerindra)
b. Ir. Satya Widya Yudha, ME, M.Sc. (Wakil Ketua/F-PG)
c. Ir. H. Mulyadi (Wakil Ketua/F-PD) d. Tamsil Linrung (Wakil Ketua/F-PKS)
e. Dr. H.M. Zairullah Azhar (Wakil Ketua/F-PKB) 2. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
PERJUANGAN
a. Ir. H. Daryatmo Mardiyanto b. H. N. Falah Amru, S.E. c. Dony Maryadi Oekon d. Tony Wardoyo
e. Awang Ferdian Hidayat f. Yulian Gunhar, S.H., M.H.
3. FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA a. H. Dito Ganinduto, MBA
b. H. Indro Hananto
c. Ir. H. Airlangga Hartarto, M.M.T, M.B.A. d. Eni Maulani Saragih
2 f. DR. Saiful Bahri Ruray, S.H., M.Si.
g. Bowo Sidik Pangarso, S.E. 4. FRAKSI PARTAI GERINDRA
a. Ir. H. Harry Poernomo b. Aryo P.S. Djojohadikusumo
c. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H. d. Katherine A. Oendoen
e. Ramson Siagian
f. Bambang Haryadi, S.E. 5. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT
a. Eko Wijaya
b. Muhammad Nasir c. H. Mat Nasir, S.Sos.
6. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL a. H. Totok Daryanto, S.E.
b. H. Jamaluddin Jafar, S.H., M.H. c. Andriyanto Johan Syah
d. Lucky Hakim
7. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA a. H. Syaikhul Islam Ali, Lc., M.Sos.
8. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA a. H. Hadi Mulyadi, S.Si, M.Si.
b. H. Iskan Qolba Lubis, M.A.
9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN a. H. Achmad farial
b. H. Mustofa Assegaf, M.Si. c. H. Joko Purwanto
10. FRAKSI PARTAI NASDEM a. H. Endre Saifoel
b. DR. Kurtubi, S.E., M.Sp., N.Sc. c. DR. Achmad Amins, M.M. 11. FRAKSI PARTAI HANURA
a. H. Inas Nasrullah Zubir, BE, SE b. Dewie Yasin Limpo, S.E.
3 B. Pemerintah
Direktur Utama PT. Freeport Indonesia C. Undangan Lain
Wartawan
KETUA RAPAT (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD): Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua,
Yang kami hormati Bapak/Ibu Anggota Komisi VII DPR RI,
Yang kami hormati Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, serta Hadirin sekalian,
Pertama-tama mari kita mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita dapat bertemu guna melaksanakan tugas-tugas konstitusional kita.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas perhatian serta kehadiran Bapak/Ibu Anggota Komisi VII DPR RI serta undangan yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VII DPR RI pada hari ini.
Sesuai undangan yang telah disampaikan dan berdasarkan jadwal, pada hari ini kita melaksanakan Rapat Dengan Pendapat Umum dengan PT. Freeport Indonesia dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan, dengan agenda operasional penambangan PT. Freeport Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Minerba.
Berdasarkan data dari Sekretariat Komisi, Anggota Komisi VII DPR RI telah hadir 27 anggota dari 47 anggota Komisi VII DPR RI, yang terdiri dari 7 fraksi dari 10 fraksi, sehingga telah memenuhi kourum.
Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 246 ayat (1) yang menyatakan setiap rapat DPR bersifat terbuka, kecuali dinyatakan tertutup. Oleh karena itu, saya meminta persetujuan Anggota bahwa rapat hari ini kita nyatakan terbuka untuk umum. Dapat disetujui?
(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.
4 Dengan demikian dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka rapat saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 14.45 WIB) Bapak dan Ibu yang saya hormati,
Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia ini merupakan rapat yang pertama kali pada Masa Persidangan II Tahun 2014-2015 dimana Komisi VII DPR RI sebelumnya sudah mengundang dua kali, dan alhamdulillah hari ini PT. Freeport hadir. Tentu dengan asumsi telah menyiapkan bahan yang lebih lengkap lagi Pak, karena sebelumnya berhalangan, mungkin kita berasumsi menyiapkan bahan-bahan yang lebih komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih lengkap kepada Komisi VII DPR RI.
Tidak dapat kita pungkiri Pak Dirut PT. Freeport ini termasuk yang seksi Pak, termasuk yang seksi, yang menjadi perhatian publik. Oleh karena itu, oleh karena DPR ini adalah representasi dari masyarakat tentu harus merespons, karena kita wakil rakyat apa yang berkembang, atmosfir apa yang terjadi di luar sana itu harus segera direspons oleh DPR. Dan tentu pada hari ini kami mengharapkan ada sesuatu informasi atau sekaligus soslusi-solusi yang selama ini mungkin berkembang di masyarakat akan disampaikan oleh Pak Dirut.
Setidak-tidaknya ada beberapa isu yang kita garis bawahi itu adalah: terkait dengan peningkatan penerimaan negara, progress pabrik pengolahan dan pemurnian mineral yang akan dibangun oleh Freeport, disvestasi saham, serta mengutamakan baran dan jasa di dalam negeri. Kemudian yang kedua adalah sistem keamanan operasional penambangan. Yang ketiga adalah produksi dan penjualan mineral. Empat, pengelolaan lingkungan, penempatan jaminan reklamasi dan pasca tambang. Lima, program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, serta isu-isu strategis lainnya yang dianggap perlu disampaikan oleh PT. Freeport pada kesempatan hari ini.
Karena ini adalah rapat pertama, apa perlu dilakukan perkenalan atau langsung?
Perkenalan dulu ya.
Silakan kita mulai dari sektor kiri Pak Yulian, silakan berputar.
ANGGOTA F-PDIP (YULIAN GUNHAR, S.H., M.H.): Terima kasih Ketua.
5 Bapak Direktur Freeport beserta jajarannya,
Selamat datang. Nama saya Yulian Gunhar, Fraksi PDI Perjuangan, A-136, Dapil Sumatera Selatan II.
Terima kasih Pak.
ANGGOTA F-P.NASDEM (H. ENDRE SAIFOEL): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Endre Saifoel, Nomor Anggota A-06, Fraksi Partai Nasdem, daerah pemilihan Sumatera Barat I.
Terima kasih.
ANGGOTA F-P.NASDEM (DR. KURTUBI, S.E., M.Sp., N.Sc.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat siang, dan Salam sejahtera,
Kenalkan nama saya Kurtubi, saya Anggota dari partai baru Partai Nasdem, Nomor Anggota 26, Dapil Nusa Tenggara Barat. Di NTB juga ada Newmont Pak. Mirip sama dengan Freeport.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PG (Dr. Hj. NENI MOERNIAENI, SPOG): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saya Neni, A-308, Fraksi Partai Golkar, Dapil Kaltim, Kaltara. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (KATHERINE A. OENDOEN): Selamat sore,
Nama saya Katherine Angela Oendoen, saya dari Dapil Kalimantan Barat, dari Fraksi Partai Gerindra, A-382.
6 ANGGOTA F-PG (ENI MAULANI SARAGIH):
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Eni Maulani Saragih, saya dari Fraksi Partai Golkar, Nomor Anggota A-291, Dapil Jatim X, Lamongan, Gresik.
Gresik tempat dimana rencana Freeport membangun smelter, katanya. Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
ANGGOTA F-P.HANURA (DEWIE YASIN LIMPO, S.E.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bapak Presiden Direktur PT. Freeport beserta seluruh rombongan, selamat datang di Komisi VII DPR RI.
Saya Dewie Yasin Limpo dari Fraksi Hanura, Dapil Sulawesi Selatan I, Nomor Anggota A-560.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PD (MUHAMMAD NASIR):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Pimpinan PT. Freeport, Yang saya hormati para Pimpinan,
Saya atas nama Muhammad Nasir, dari Dapil Riau II, Nomor Anggota 405. Terima kasih. Fraksi Partai Demokrat.
ANGGOTA F-PG (BOWO SIDIK PANGARSO, S.E.): Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang saya hormati Pimpinan dan Presiden Direktur PT. Freeport dan jajarannya,
7 Alhamdulillah ahirnya Freeport bisa ketemu kami Komisi VII DPR RI. Nama saya Bowo Sidik Pangarso, A-272, Dapil II Jawa Tengah, Demak, Kudus, Jepara, dari Partai Golongan Karya.
ANGGOTA F-PG (H. INDRO HANANTO):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kenalkan nama saya Indro Hananto, Nomor Anggota A-305, dari Fraksi Partai Golkar, Dapil Kalimantan Selatan I.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
ANGGOTA F-PG( Ir. H. AIRLANGGA HARTARTO, M.M.T, M.B.A.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saya Airlangga Hartarto, Fraksi Partai Golkar, Dapil Kabupaten Bogor. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
ANGGOTA F-PG (H. DITO GANINDUTO, MBA): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saudara Direktur Utama Freeport dan jajarannya,
Ada teman saya di sini Simon Morin, 2004 dulu di sini, sekarang sudah pindah ke sana.
Saya Dito Ganinduto Pak, Fraksi Partai Golkar, Jawa Tengah VIII. Terima kasih.
8 ANGGOTA F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saya perkenalkan nama saya Ramson Siagian dari Dapi Jawa Tengan X, Kabupaten Pemalang, Pekalongan, dan Batang.
Dulu di sini 10 tahun bersama-sama Pak Simon, 1999-2009. Hanya ini saya angkat ini dari PT. Freeport kok owner-nya dari United State tidak datang gitu. Aturan ikut dong.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PD (EKO WIJAYA):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Eko Wijaya, dari Dapil Bangka Belitung, dari Fraksi Partai Demokrat.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PG (DR. SAIFUL BAHRI RURAY, S.H., M.Si.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat sore, dan Salam sejahtera,
Nama saya Syaiful Bahri Ruray dari Maluku Utara, juniornya Pak Simon, dari Fraksi Partai Golkar, Nomor A-321, saya tetangga dekat Papua Pak Dirut, dan wilayah saya wilayah pertama di Indonesia yang memproklamirkan pendukung Irian Barat kembali ke ibu pertiwi pada tahun 1957 sebelum Presiden Soekarno deklarasikan Trikora di Yogya. Jadi Trikora 61, 57 Ternate dan sekitar sudah memproklamirkan sebagai penyangga pendukung Irian Barat kembali ke ibu pertiwi.
Terima kasih Pak Simon dan Pak Dirut. Terima kasih. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
9 ANGGOTA F-PAN (ANDRIYANTO JOHAN SYAH):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih Bapak Pimpinan.
Juga selamat datang Dirut PT. Freeport Indonesia beserta jajarannya. Perkenalkan nama saya Andriyanto Johan Syah. Saya dari Fraksi Partai Amanat Nasional, dari Jawa Tengah X yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Pekalongan Kota.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PD (H. MAT NASIR, S.Sos.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Haji Nasir dari Fraksi partai Demokrat, Jatim XI, Madura, Anggota A-438.
Terima kasih.
F ANGGOTA -PDIP (AWANG FERDIAN HIDAYAT): Interupsi Ketua, saya belum.
KETUA RAPAT:
Silakan yang tertinggal. Yang belum silakan. ANGGOTA F-PDIP (AWANG FERDIAN HIDAYAT):
Saya Awang Ferdian Hidayat dari Kalimantan Timur, dari Fraksi PDI Perjuangan.
ANGGOTA F-PKS (H. HADI MULYADI, S.Si, M.Si.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Perkenalkan saya Hadi Mulyadi, dari Fraksi PKS, A-120, daerah pemilihan Kaltim, Kaltara.
10 ANGGOTA F-PKS (ISKAN QOLBA LUBIS, M.A.):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Iskan Qolba Lubis dari Fraksi PKS, Dapil Sumut II. Terima kasih.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (Ir. H. HARRY POERNOMO):
Harry Poernomo Fraksi Gerindra, A-358, Dapil Jawa Tengan VI, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworedjo.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PPP (H. ACHMAD FARIAL):
Saya Achmad Farial dari Fraksi PPP, Kabupaten Bogor.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, S.H., M.H.):
Supratman, Fraksi Partai Gerindra, A-388, dari Dapil Sulawesi Tengah. Terima kasih.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):
Selamat sore Rombongan dari PT. Freeport Indonesia yang dipimpin oleh Pak Dirut yang baru dan teman baik saya Simon Morin.
Perkenalkan nama saya Tony Wardoyo, Fraksi PDI Perjuangan, Nomor Anggota A-231, dari daerah pemilihan Papua, meliputi satu Provinsi Papua, 28 kabupaten dan 1 kotamadya.
Terima kasih.
ANGGOTA F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO): Terima kasih Ketua dan anggota.
Diperkenalkan nama Daryatmo Mardiyanto, A-170, daerah pemilihan Jawa Tengah II, Demak, Jepara dan Kudus, Fraksi PDI Perjuangan.
11 ANGGOTA F-PDIP (DONY MARYADI OEKON):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Dony maryadi Oekon, A-167, dari Fraksi PDI Perjuangan, Dapil Jawa Barat XI, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasik, dan Kotamadya Tasikmalayaj.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (ARYO P.S. DJOJOHADIKUSUMO): Selamat sore,
Nama saya Aryo Djojohadikusumo, meskipun saya pakai batik warna biru saya bukan dari Demokrat, kebetulan habis batik saya warna merah, sama warna putih. Saya dari Fraksi Partai Gerindra, Nomor Anggota A-342, mewakili DKI III, Jakarta Barat, Utara, dan Kepulauan Seribu.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Dari anggota sudah, dari semua. Silakan dari meja Pimpinan, Pak Tamsil.
WAKIL KETUA KOMISI VII DPR RI (TAMSIL LINRUNG/FRAKSI PKS): Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pak Dirut dan segenap jajaran Freeport,
Saya Tamsil Linrung dari Fraksi PKS, daerah pemilihan Sulawesi Selatan I, Makasar sampai kabupaten Selayar ke arah selatan. Anggota A-121.
Terima kasih.
WAKIL KETUA KOMISI VII DPR RI (WAKIL KETUA KOMISI VII DPR RI): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Satya Widya Yudha, dari Fraksi Partai Golkar, A-290, dari daerah pemilihan Jawa Timur IX, meliputi Kabupaten Tuban dan Bojonegoro,
Terima kasih.
12 ANGGOTA F-PKB (Dr. H.M. ZAIRULLAH AZHAR):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pak Dirut beserta jajaran,
Nama saya Zairullah Azhar, dari Fraksi PKB, Nomor Anggota A-81, daerah pemilhan Kalimantan Selatan II.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Selanjutnya silakan Pak Kardaya memperkenalkan diri.
KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Kardaya Warnika, Nomor Anggota A-350, dari Fraksi Partai Gerindra, mewakili daerah pemilihan Jawa Barat VIII yaitu Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon. Di Komisi VII saya sebagai Ketua Komisi.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Terakhir saya Mulyadi Pak, Nomor Anggota A-403, dari Fraksi Partai Demokrat, daerah pemilihan Sumatera Barat II, yang meliputi kota Bukit Tinggi, Kabupaten Agam, Kota Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat. Jadi ada 3 kota dan 5 kabupaten, cukup luas daerah pemilihannya. Sayang tidak banyak tambangnya di sana Pak. Dari Fraksi Partai Demokrat.
Jadi selanjutnya karena anggota sudah memperkenalkan diri. Masih ada? Oh silakan.
ANGGOTA F-PDIP (H. N. FALAH AMRU, S.E.): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
13 Terima kasih Pimpinan. Terima kasih kepada Bapak Dirut Freeport dan jajarannya.
Nama saya Falah Amru, Nomor Anggota A-203, dari Dapil Jawa Timur X, Gresik, Lamongan.
PDPI Berjuang. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Sudah semua ya anggota?
Selanjutnya kami persilakan kepada PT. Freeport memperkenalkan mulai dari Pak Dirut dan seluruh jajarannya Pak.
Silakan Pak.
DIRUT PT. FREEPORT (MA'RUF SYAMSUDIN): Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat sore, dan
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang kami hormati Pimpinan Sidang, Ketua Panja Mineral Batubara, Bapak Mulyadi, juga Bapak Ketua Komisi VII DPR RI,
KETUA RAPAT:
Mohon maaf Pak Dirut, bukan Ketua Panja Pak, jadi di sini ada Pimpinan komisi dan anggota komisi. Panja belum ada Pak.
DIRUT PT. FREEPORT: Oh maaf Pak.
KETUA RAPAT:
14 DIRUT PT. FREEPORT:
Yang kami hormati Bapak-Bapak/Ibu-ibu dari Komisi VII DPR RI, khususnya Bapak-bapak Wakil Ketua,
Sebelum memulai izinkan juga saya memperkenalkan diri Pak, saya Ma’ruf Syamsudin. Ini atmosfir yang baru saya berada di tengah-tengah lingkungan Bapak-bapak/Ibu-ibu yang background khususnya Minerba. Karena kebetulan saya katakan ini jalan Allah Pak saya bisa mendapatkan kesempatan atau dipercaya memimpin, atau saya mengatakan mengnakhodai PT. Freeport Indonesia pada kesempatan ini. Dan ini betul-betul satu tanggung jawab yang akan saya lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sangat jauh dengan background saya Pak. 34 tahun saya background saya di militer, saya di Angkatan Udara. Kemudian duduk di lingkungan Minerba ini adalah hal satu yang baru, tapi bagi saya setiap hal yang baru, setiap yang memiliki suatu tantangan, apalagi itu untuk kepentingan bangsa dan negara, dengan background saya, saya akan siap menghadapi setiap tantangan itu untuk perbaikan ke depan bagi bangsa dan negara.
Kemudian saya datang kemari dilengkapi juga dengan beberapa staf kemari Pak. Untuk itu saya persilakan masing-masing staf supaya suaranya kedengaran langsung untuk berbicara langsung. Saya mulai dari yang paling ujung sebelah kiri saya silakan.
PT. FREEPORT (HARRY PANCA SAKTI): Terima kasih Pak Ma’ruf.
Mohon izin Bapak Pimpinan, nama saya Harry Panca Sakti, mewakili Divisi Techical Affair dari PT. Freeport Indonesia berkantor di Jakarta.
Terima kasih.
PT. FREEPORT (SIMOR PATRICE MORIN): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pimpinan dan Anggota Dewan yang terhormat,
Nama saya Simon Patrice Morin, saya Senior Advisor di PT. Freeport Indonesia.
15 PT. FREEPORT (KLEMEN TINO LAMURI):
Ibu dan Bapak sekalian selamat sore,
Nama Klemen Tino Lamuri, saya Vice President PT. Freeport Indonesia. PT. FREEPORT (JONATHAN ROMAINUNG):
Yang terhormat Bapak Pimpinan Sidang dan Bapak Ketua Komisi VII DPR RI, beserta Bapak/Ibu sekalian Anggota DPR Komisi VII yang kami hormati,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua,
Izinkan saya perkenalkan diri, nama saya Jonathan Romainung, bekerja di Freeport 22 tahun dan jabatan saat ini adalah sebagai Vice President untuk hubungan industrial di HRD PT. Freeport Indonesia.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Asli dari mana Pak? Dari Papua Pak. PT. FREEPORT (JONATHAN ROMAINUNG):
Asli Papua, tidak ada campur.
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG) : Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Asiroh H. Situmorang Bagian Keuangan PT. Freeport. PT. FREEPORT (RINI GADIH RANTI):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Rini Gadih Ranti, Bagian Perpajakan PT. Freeport Indonesia.
16 PT. FREEPORT (ANDI MUKSIAH):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bapak Pimpinan, Bapak/Ibu yang kami hormati,
Perkenalkan nama saya Andi Muksiah, saya mewakili Divisi Lingkungan Hidup di PT. Freeport Indonesia.
Terima kasih.
DIRUT PT. FREEPORT:
Saya perkenalkan yang di depan saja Pak, ini staf-staf eselon yang saya bawa.
Bapak-bapak/Ibu-ibu, KETUA RAPAT:
Sebentar Pak, sebelum dilanjut Pak, saya dapat surat dari belakang ini, ada Anggota baru Komisi VII DPR RI Pak, PAW yang baru masuk. Perlu saya perkenalkan dulu Pak, Anggota kita yaitu adalah Saudara Arfin Hakim Toha, Nomor Anggota A-53. Tolong berdiri. Jadi ini anggota kita yang baru. Jadi PAW, jadi ini tambahan anggota di Komisi VII DPR RI menjadi 48, yang sebelumnya 47.
Kalau mau memperkenalkan diri silakan Pak, biar lebih lengkap silakan, daerah pemilihan dan lain sebagainya.
ANGGOTA F-PKB (ARFIN HAKIM TOHA): Terima kasih.
Saya Arfin Hakim Toha, dari Fraksi PKB, yang baru tadi dilantik, sekarang masuk di Komisi VII, Dapil Jawa Tengah III, Rembang, Pati, Blora dan Purwodadi.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Arfin.
17 F-P.HANURA (H. INAS NASRULLAH ZUBIR, BE, SE):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama saya Inas Nasrullah Zuber dari Fraksi Partai Hanura, Nomor Anggota A-556, dari Dapil Banten III.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Jadi sudah memperkenalkan diri, Pak Dirut juga sudah memperkenalkan jajaran Direksi PT. Freeport.
Dan sekarang kita masuk kepada pemaparan Pak Ma’ruf. Yang pertama kami garis bawahi tentu mohon ditekankan beberapa yang menjadi isu strategis Pak, yang menjadi sorotan publik. Jadi mungkin saya rasa juga Pak Dirut sudah membaca banyak di media cetak maupun mendengar di media elektronik, sorotan-sorotan yang muncul dari masyarakat. Pada pemaparan pada hari ini, kita harapkan tentu Pak Dirut bisa memberi jawaban dan menyakinkan bahwa operasional penambangan PT. Freeport ini bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Dan dalam perjalannya akan terus diperbaiki dalam proses negosiasi dan sebagainya, tentu akan berbeda daripada pada saat tahun 67 mulai beroperasional di Indonesia.
Kami persilakan Pak. DIRUT PT. FREEPORT:
Terima kasih Bapak Pimpinan Sidang yang terhormat,
Pertama-tama izinkan kami mohon maaf Pak, pada waktu kesempatan tanggal 26 Januari 2015 kami belum bisa memenuhi undangan pada saat itu, karena kebetulan ada masalah-masalah internal dalam rangka persiapan-persiapan berhubungan dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, sedang kami persiapkan. Dan juga saya berterus terang di sini saya baru duduk sebagai Presiden Direktur lebih kurang baru 7 hari, sehingga saya harus betul-betul memanfaatkan waktu 7 hari itu untuk mengenal betul PT. Freeport Indonesia dimana hal-hal yang perlu saya dalami.
Dan isu-isu yang muncul di media saya rasakan itu betul-betul merupakan suatu, saya akan menjadikan suatu energi positif sebagai cermin bagi PT. Freeport bahwa hal-hal yang ingin diketahui saya rasa PT. Freeport tidak boleh bersifat inclusif menghadapi keingintahuan dari publik, karena saya pernah menyampaikan
18 bahwa kekayaan tambang yang dikelola oleh PT. Freeport yang notabene adalah investor PMA, itu adalah milik bangsa dan negara. Yang kebetulan asetnya itu ada di Provinsi Papua sehingga pengelolaan boleh dilakukan oleh PMA, tetapi aset itu tetap milik negara dan bangsa. Sehingga apapun juga konsekwensinya PT. Freeport Indonesia harus patuh pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Tentunya dengan segala perhitungan-perhitungan bisnis yang ada, karena kita semua yakin tidak ada satu unit usaha yang akan merugi, tapi ketentuan dan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku itu harus dipatuhi di manapun kita melakukan kegiatan usaha.
Bapak-bapak/Ibu-ibu yang terhormat,
Pada penyampaian paparan tentang operasi pertambangan PT. Freeport Indonesia ini, ini tentunya diamanatkan kepada Undang-Undang No. 4 Tahun 2009. Kami akan melaporkan juga hambatan-hambatan yang akan dihadapi.
Besar harapan kami dari rapat dengar pendapat ini, Anggota Dewan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kegiatan operasi PT. Freeport Indonesia.
Pimpinan Sidang dan Anggota Dewan yang kami hormati,
Perkenankan kami untuk menyampaikan beberapa perkembangan terkini tentang proses renegosiasi kontrak karya PTFI dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral yang sudah ditandatangani perpanjangan kontrak, nota kesepahaman tentang amandemen kontrak karya.
Dapat kami laporkan sebagian besar dari 6 poin strategis telah mencapai kesepakatan antara lain berkenaan dengan luas wilayah, royalti, disvestasi, dan penggunaan produk dan jasa dalam negeri.
Terkait smelter kami sudah menentukan lokasi dan teknologi smelter di Gresik, Jawa Timur. Dan kami akan terus mengkaji peluang-peluang lain terkait dengan industri pertambangan ini.
Kami terus melakukan pembicaraan intensif dengan pemerintah pusat, kami juga melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah dengan berbagai komitmen, kami untuk mendapatkan masukan dari Provinsi Papua dalam renegosiasi kontrak karya.
Terkait dengan penyampaian saya tentang pembicaraan intensif ini Pak, saya sudah menyampaikan bahwa kurun waktu 6 bulan yang diberikan saat ini, ini merupakan suatu hal yang betul-betul menjadi pekerjaan, tugas, dan tanggung jawab PT. Freeport Indonesia untuk memenuhi ketentuan ataupun peraturan yang berlaku. Jadi selama 6 bulan ini saya sudah mulai mempetakan, mulai menginventarisasi hal-hal apa yang menjadi kewajiban bagi PT. Freeport Indonesia
19 untuk memenuhi ketentuan yang berlaku atau peraturan-peraturan tidak berlaku, sehingga persyaratan-persyaratan selanjutnya itu sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan.
Adapun ke-6 poin strategis yang menjadi pedoman kami selaku pemegang kontrak karya agar menyesuaikan dengan amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 yaitu luas wilayah, penerimaan negara, pengolahan dan pemurnian dalam negeri, disvestasi saham, pengutamaan penggunaan baran dan jasa dalam negeri, dan perpanjangan kontrak. Untuk melengkapi penjelasan ini saya coba memberikan gambaran melalui power point. Silakan.
Ini adalah lokasi dimana PT. Freeport Indonesia berada. Jangan dulu dilewat, kembali. Kalau Bapak dan Ibu yang terhormat melihat peta yang ada, peta Provinsi Papua, titik yang kuning ini adalah dimana lokasi PT. Freeport Indonesia. Itu yang kuning ini. Kalau yang di sebelah sana adalah itu. Jadi dalam titik di Papua ini, titik yang kuning ini pada kontak karya ke-2 itu luasnya waktu itu 2.000.000 hektar, pada saat itu. Kemudian dilakukan amandemen kontrak bulan Juli 2014 itu menjadi 212.000 hektar. Kami sedang mempersiapkan untuk ini sebagaimana ketentuan yang berlaku. Selanjutnya. Ini nanti akan menjadi 90.000 hektar itu wilayah. Jadi sesuai dengan 6 isu strategis yang saya jelaskan di depan bahwa 6 poin strategis antara lain luas wilayah itu nantinya akan menjadi 90.000 hektar, karena ini memang amanat dari peraturan maupun perundang-undangan yang berlaku.
Ini gambaran Kota Tembagapura. Kalau Bapak dan Ibu bisa melihat itu di atas itu, ini ketinggiannya lebih kurang 4.000 meter, maaf dari 2.000 meter, ya kira-kira kalau feet, 6.000 feet, above ground level dari ketinggian tanah.
Kemudian ini wilayah lokasi proyek usaha operasional pertambangan mulai dari atas, turun ke bawah, dari highland, turun sampai ke lowland, ini sudah port, wilayah pelabuhan di bawah. Bisa gambarkan di sana. Jadi dari atas turun sampai ke bawah, ini wilayah pelabuhan.
Lanjut.
Ini coba saya memberikan gambaran mengenai lokasi tadi secara karakteristik umum dari wilayah proyek. Titik nol ada di bawah, ini adalah wilayah dimana pelabuhan berada yaitu portside. Ini. Jadi ini titik nolnya. Kalau kita tarik garis lurus ini ke atas ini jaraknya lebih kurang 100 kilometer, ini. Kemudian naik ke atas sedikit ini adalah Bandara Moses Kilangin yang juga dibangun pada saat itu, tahun berapa, tahun 73. Ini dibangun tahun 73. Pada saat kondisinya dibangun itu adalah untuk kepentingan operasional khusus PT. Freeport tahun 73. Tahun 73. Dengan kalau tidak salah panjang landasannya lebih kurang 2.500 meter. Saat ini Bandara Moses Kilangin sudah digunakan untuk kepentingan-kepentingan juga perekonomian setempat. Bisa Bapak dan Ibu bayangkan kemampuan yang dibangun infrastruktur itu pada tahun 73, tetapi saat ini sudah dipakai untuk, waktu itu belum masuk penerbangan-penerbangan airland dan yang lainnya, kecuali
20 pesawat air fast yang menjadi pesawat yang sering digunakan Freeport. Saat ini sudah dipakai oleh penerbangan-penerbangan baik itu Garuda, Sriwijaya Air, dan juga kepentingan-kepentingan pemerintah dalam hal ini TNI. Ini betapa crowded-nya saat ini.
Kemudian naik lagi ke atas, ini Kota Tembagapura, ini yang tingginya lebih kurang 2.500 meter. Ini kita gambarkan. Ini 4.000 meter di sinilah tempat lokasi wilayah pertambangan ini, ini di atas ini. Sedikit gambaran kalau kita lihat ini ada bukit-bukit, perbukitan, ini menggambarkan ada heat road betapa sulitnya kondisi wilayah proyek kerja operasional pertambangan di atas. Jadi memang untuk membangun wilayah lokasi pertambangan itu di samping tingkat kesulitan geografisnya juga nilai untuk membangun nilai strukturnya juga cukup tinggi. Ini ada cable tram untuk menuju, menghubungkan antar lokasi wilayah pertambangan. Ini cukup lumayan kalau kita naik cable tram melihat ke bawah ketinggiannya cukup lumayan karena menghubungkan dari satu bukit ke bukit yang lain.
Lanjut.
Saya mencoba menggambarkan karateristik umum wilayah proyek, tahun 73, tahun 73, pada awal mulainya operasional Freeport tahun 73 itu ada warna biru naik ke atas, kemudian hijau, kemudian ada angka di atasnya itu menunjukan berapa konsentrat.
KETUA RAPAT:
Maaf berapa biji yang diproduksi itu? DIRUT PT. FREEPORT:
Itu pada tahun 73 awalnya itu per hari. Per hari 4.000 ton, per hari. Kemudian 74 naik 7.000, seterusnya naik.
Nah, kalau kita lihat tahun yang hijau 92 mulai naik sampai dengan terakhir 2013 ini 170.000 ton, sedangkan yang diberikan kepada PT. Freeport sesuai dengan aturan atau peraturan yang berlaku itu 300.000 ton per hari. Dari angka ini PT. Freeport belum pernah memenuhi 300.000 ton per hari.
Dari capaian-capaian itu kalau kita mendapatkan satu kilogram ore atau bijih ini, itu identik atau analog dengan kita baru bisa mendapatkan 6,2 kilogram copper. Berapa emasnya? Emasnya 0,59 gram emas. Itu. Itu jadi anunya, capaiannya. Jadi kalau kita perbandingkan. Ini perhitungan produksi bijih rata-rata ton per hari itu 117.228 ton per hari. Itu nilai presentase tembaganya 0.76%. Berapa emasnya, 0,69%, peraknya 2.99%. Maaf gram perton. Maaf tadi gram perton. Kemudian konsentrat itu 5.530, kemudian persentase tembaganya 21,12%, kemudian emas 17,23 gram perton, dan perak 52,68 ton, gram per ton.
21 Yang biru ini adalah ada proses kontrak karya 1, itu dari 73 sampai dengan 91. Kemudian yang hijau adalah kontrak karya ke-2 sampai dengan 2013.
Ini gambar-gambar yang di atas ini merupakan pengolahan. Lanjut.
Ini sedikit ilustrasi mengenai kompleks wilayah pertambangan. Ini coba kita ambil 3 dimensi dari atas. Kita lihat 3 dimensi dari atas ini. Yang tadi ada gambar heat road. Nah ini. Ini open pit yang di atas. Di atas ini open pit, ini nilainya open pit pembangunan ini 6 milyar dollar.
Kemudian turun ke bawah ini mulai, kita coba memberi gambaran untuk underground. Underground ini pada tahun 2004 sampai dimulai 2004 dengan 2013 ini nilainya 4 milyar US Dollar nilai investasinya. Kemudian proyeksi ke depan untuk mengembangan underground akan datang untuk 2014, mudah-mudahan mendapat persetujuan sampai 2041 itu 15 milyar dollar. Ini di Papua. Jadi investasi ini ada di Papua, ini wilayah pertambangan ini.
Lanjut.
Ini karakteristik proyek atau kondisi geografi dan proses produksi. Kalau kita lihat di sini ada mungkin, maaf gambarnya ini mungkin terlihat tapi tidak jelas ini. Jadi ini wilayah produksi batuan penutup kalau disingkirkan dari satuan bijih melalui teknik pencampuran, jadi kalau kita produksi konsentrat, jadi mulai dari atas. Ini saya mencoba memberikan gambaran perbedaannya dengan tambang-tambang lainnya, antara tambang emas yang kita kelola dengan tambang bauksit, tambang batubara dan seterusnya.
Yang kita kelola ini mulai dari atas yang tadi saya gambarkan mulai pengolahan tadi dari ketinggian 4.000 tadi itu sudah bisa kita sebutkan mulai kelola untuk mengarah pada semi produksi. Itu sudah mulai mengarah pada semi produksi. Dan itu pada pengelolaan kemudian ke bawah itu menjadi konsentrat yang memiliki nilai 3 sampai 4 persen. Itu.
Nah ini kalau kita kelola sampai di atas ini, ini belum ke smelter, pengolahan smelting, itu sudah semua dikelola sampai siap untuk dikirim ke smelter itu nilainya sudah 95 persen. Jadi bukan nol persen yang keluar tapi sudah dikelola bernilai 95 persen.
Sisanya ini ada pembuangkan ke bawah itu menjadi tailing. Di-tailing itu terjadi proses flowtation atau proses fisik, tidak bisa kita katakan prosesnya, tapi proses fisik. Itu tumpukan tailing itu khususnya ada di Mile l 21. Kita sebut Mile 21. Tailing itu bisa dimanfaatkan, dan saat ini kita bekerja sama dengan Universitas
22 Papua dan UGM dan sebagainya itu bisa ditumbuhi tumbuhan, dan sekarang sudah bisa dirasakan juga bisa ditanami jagung dan sebagainya.
Lanjut.
Nah ini mungkin yang sedang ramai juga dipertanyakan masalah berapa prosentasenya yang dikeluarkan oleh yang dari PT. Freeport, berapa yang di dapat oleh negara dan berapa yang di dapat, diterima oleh FCX. FCX itu Freeport McMoRan. Dari PT. Freeport Indonesia setelah dipotong pajak ini. Ini perhitungan dari 1992 sampai 2013 ini nilainya 15,2 milyar dollar. Ini penerimaan negara dari PFI dalam bentuk pajak, royalti, deviden, dan pungutan lainnya. Berapa deviden yang diterima oleh FCX atau McMoRan dari PFI setelah dipotong pajak, itu dari 1992 pada periode yang sama sampai 2013 yaitu 10,8 milyar dollar. Ini 10.8 milyar dollar. Kalau kita lihat perbandingan hijau dan merah itu ya antaran 60-40. Antara 60-40 prosentasenya.
Lanjut.
Ini hitung-hitungannya. Hitung-hitungannya. Untuk hitung-hitungannya saya minta Saudara Asiroha untuk menjelaskan lebih jelas supaya diagram hijau dan merah itu tadi lebih rinci lagi. Silakan.
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG) :
Mohon izin Bapak Pimpinan Rapat. Terima kasih Pak Ma’ruf. Jadi tabel ini menunjukan manfaat ekonomi paling atas itu adalah yang diterima pemerintah Indonesia dalam bentuk deviden sejumlah 849 juta dollar, lalu royalti 1.082.000.000 dollar, lalu export duty yang baru dibayar mulai tahun ini 78 juta, lalu pajak badan dan pajak-pajak lainnya 8.6 juta dollar, totalnya hampir 10.6 juta dollar. Kalau di lihat dari deviden yang diterima FCX milyar dollar, dari tahun yang sama periodenya sekitar 7 juta dollar, lalu prosentase milyar dollar. Lalu prosentase yang diterima oleh pemerintah Indonesia manfaat ekonominya sekitar 60 persen.
KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):
Pimpinan, interupsi sebentar Pimpinan. KETUA RAPAT:
Silakan Pak Kardaya.
KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):
23 Pak, supaya agak jelas ada tidak angka yang dimulai dengan penerimaan kotornya berapa. Jadi dari penerimaan kotor lalu untuk biaya operasi sekian, jadi untuk anunya sekian, pemerintah sekian, untuk ini sekian, jadi mulai dari penerimaan kotor. Kalau ujug-ujug masuk ke berapa keuntungan segala macam kan tidak memberikan gambaran yang clear dari pembagian di sini gitu. Ada tidak ya? PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG) :
Baik, Bapak Pimpinan, mungkin secara slide tidak ada, tapi data itu kami memilikinya dan kami bisa laporkan ke Bapak.
KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):
Maksudnya melaporkan itu sekarang atau? PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG) :
Secara gamblang mungkin karena slide-nya tidak ada, jadi mungkin dari hasil pendapatan perusahaan 2014 yang sekitar 3 milyar dollar, khusus 2014, biaya itu, pendapatan itu akan dikurangi dari biaya-biaya produksi. Biaya produksi kita sekitar 2.4 milyar dollar. Lalu dikurangi lagi biaya administrasi dan dikurangi lagi biaya investasi, dikurangi lagi pembayaran yang tadi di 2014 di sini.
KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):
Mungkin maaf mungkin belum, pertanyaan saya kali jelek tidak nyambung, jadi pertanyaan saya itu kan tiap hari diproduksikan tadi sekian ratus ribu ton, lalu dalam bentuk konsentrat, lalu dijual. Nah itu dari hasil produksi itu dijual itu berapa. Nah setelah itu baru untuk ini, untuk ini, untuk ini, jadi saya ingin dapat gambaran bahwa pemerintah itu total dari pajak, deviden dan lain-lain sebagainya mendapatkan berapa persen dari gross revenue atau produksi penjualan daripada produksi itu. Itu yang biasanya perusahaan-perusahaan lain mempresentasikannya begitu. Jadi sudah masuk dikebiasaan kitanya itu begitu. Jadi kalau seandainya sekarang tidak ada ya tidak bisa dipaksakan, mudah-mudahan besok pagi bisa dikirimkan kayak beginiannya itu.
DIRUT PT. FREEPORT:
Baik Pak, memang saat ini kami tidak bawa itu Pak, tapi besok kami bisa melengkapi.
24 KETUA RAPAT:
Clear Pak ya.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, S.H., M.H.): Pak Interupsi sebentar Pimpinan, sebelah kiri Pak.
KETUA RAPAT: Silakan.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, S.H., M.H.):
Mungkin karena disetujui tadi oleh Presiden Direktur Freeport, mungkin bisa disertakan juga Pak laporan keuangan menyangkut tentang, kan ini McMoRan kan adalah perusahaan publik, terbuka, nah itu pasti agak jauh lebih bagus kalau kita minta laporan keuangan, dan itu pasti hasil audit. Kebetulan di Wallstreet kan itu tempat, itu jauh akan lebih kelihatan kalau itu kita bisa diberikan Pak.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Oke, nanti laporan keuangan dan juga bentuk yang lebih simple-nya Pak yang ditanyakan tadi penghasilan dari penjualan konsentrat berapa, penjualan yang dari smelter berapa, jadi total penerimaan berapa, operasional tadi saya dengar 2 milyar dollar ya, 2.04 milyar. Terus kemudian ditambah lagi administrasi jadi keuntungannya berapa baru dibagikan pajak. Saya rasa itu cukup clear nanti tolong datanya silakan diteruskan Pak.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO): Pimpinan, interupsi Pimpinan.
Pimpinan, sebelah kiri interupsi, sebelum dilanjutkan. KETUA RAPAT:
Pak Tony.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO): Terima kasih Pimpinan.
25 Jadi kan begini Pak dari kepemilikan saham PT. Freeport Indonesia sebagian besar kan dimiliki oleh PT. McMoRan Copper and Gold di Amerika, dan itu ada di dalam stock exchange di Amerika. Jadi kami minta laporan keuangan ini secara menyeluruh, dalam arti kata ini kan jelas akan tertuang di sini berapa banyak barang ini yang terserap di sana, termasuk juga keuntungan di dalam perdagangan sahamnya, berarti itu kan ada suatu bagian yang jelas PT. McMoRan Copper and Gold dapat bagian berapa persen. Sebab setahu saya McMoRan Copper and Gold kurang lebih di atas 80 persen. Coba mungkin Pak Dirut bisa menjelaskan kepemilikan McMoRan Copper di dalam komposisi saham PT. Freeport Indonesia sekarang berapa Pak.
DIRUT PT. FREEPORT:
Itu sekarang sekitar 80.64% Pak. ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):
Oke. Yang lainnya Pak yang 20 persen kurang itu siapa saja yang memiliki? Nah itu yang kita perlu dipaparkan juga Pak, karena itu adalah bagian yang bisa kita audit ke depan, karena ini sangat penting untuk kepentingan, saya juga tidak mau daerah selama ini hanya dapat sebagian kecil. Kemarin gubernur langsung mengatakan dalam pertahun hanya dapat secara equivalent kurang lebih 400 milyar saja, rupiah, sedangkan sementara yang lain dapat keuntungan begitu besar. Jadi kan sangat naif kalau sementara sumber alamnya diambil, hasil buminya diambil, ternyata pemiliknya hanya menikmati sebagian kecil itu. Itulah yang perlu kita sikapi ke depan sesuai dengan semangat yang Pak Direktur katakan tadi kita ingin membangun, memberikan transparansi, keterbukaan di dalam pengolahan ini, keterbukaan juga ingin membangun suatu tantangan yang baik, kepentingan anak bangsa kita semua, seperti begitu kan Pak Presiden?
Oke silakan lanjut, kami serahkan kepada Pimpinan. KETUA RAPAT:
Sudah ya?
Jadi begini, teruskan saja presentasinya Pak, sekaligus juga kalau ada yang kalau hal yang terkait dengan yang direspon tadi, tadi bukan pendalaman tapi presentasi yang lebih lengkap mungkin diminta bisa Bapak tambahkan, tapi selanjutnya kami persilakan dulu Pak yang sudah ada. Silakan.
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG) : Baik, Bapak Pimpinan.
Nanti data yang diminta seperti laporan keuangan kami harus akan submit dan distribusi penjualan.
26 Akuntansi PT. Freeport menganut sistem akuntansi prinsip akuntansi diterima di Indonesia, US gap dan Indo gap, dan juga diaudit secara teratur oleh Ernst and Young, pemerintah Indonesia, Badan Pemeriksa Keuangan Negara Republik Indonesia, Pajak, dan Kementerian Custom juga, perdagangan. Jadi keuangan kami diaudit secara teratur oleh pemerintah dan juga oleh auditor independen Ernst and Young dengan Dllyod tentunya secara tranparan distribusinya.
Demikian Pak Ma’ruf. Terima kasih. ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):
Pimpinan, boleh. Tambahan interupsi Pimpinan. Sebelah kiri Pak. KETUA RAPAT:
Kalau bisa ini Pak Tony, mohon maaf Pak Tony, kalau bisa jangan masuk substansi Pak ya.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO): Tidak, tidak, bukan, bukan substansi. KETUA RAPAT:
Silakan Pak.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):
Begini, justru menurut saya Pak, kalau pemaparan ini terlalu lama dan panjang waktu kita habis, ini kan tidak terlalu kelihatan itunya Pak. Malah saya lebih senang session ini lebih dibuka secara terbuka, dialog yang lebih, itu yang saya rasa lebih itu Pak, karena ini tidak mewakili juga Pak apa yang kita maksudkan Pak ke depan.
Terima kasih Pimpinan, saya mohon bantuan Pimpinan. KETUA RAPAT:
Iya Pak, ini kan baru satu sisi yang dari keuangan Pak, tapi kan ada masalah-masalah lain yang juga pelu disampaikan Pak, yang saya sampaikan tadi yang berkembang di publik tentu juga harus disampaikan oleh Pak Dirut ya.
27 ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):
Itulah maksudnya, itu yang lebih yang kita lebih harapkan, kalau paparan ini kan saya rasa terlalu, tidak bakal terlalu banyak berubah. Ini kan hanya internal di mereka Pak.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Silakan Pak dilanjutkan. Masih kita beri kesempatan dulu ya supaya kita nanti bertanyan ada bahan. Silakan Pak.
DIRUT PT. FREEPORT: Terima kasih Pak.
Dua slide lagi Pak. Kami masuk di ketenagakerjaan Pak, ini juga perlu diketahui bahwa ini masalah sosial, bukan hanya masalah hitung-hitungan bisnis saja, tapi ini masalah sosial.
Jumlah karyawan langsung PT. Freeport Indonesia adalah 12.333 orang. Itu karyawan langsung. Artinya yang bekerja langsung di bawah PT. Freeport Indonesia. Karena di sana juga terdapat karyawan yang kontraktor, itu jumlahnya bisa sampai, signifikan jumlahnya bisa hampir kalau saya tidak salah hampir 20.000, itu.
Karyawan Indonesia yang asli Papua itu 4.296. Itu kalau kita lohat prosentasenya 34.83%. Ini belum lagi kita lihat kalau dari sisi skill dan sebagainya. Itu asli Papua. Dan saat ini kami sudah memiliki vice president asli Papua, dalam posisi vice president.
Kemudian non Papua 7.859 atau sekitar 63.72%. Non Papua ini pendatang dari Sumatera, dari Jawa, dari Sulawesi, dari Nusa Tenggara, dari seluruh Indonesia.
Kemudian expatriat 178, prosentasenya 1.44%. Itu tenaga kerja asing.
Jumlah karyawan PT. Freeport Indonesia plus perusahaan mitra dan kontraktor, ini termasuk Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) per 2013 jumlah 31.694. Jadi di Kuala Kencana, Timika, itu PT. Freeport memiliki Institut Pertambangan Nemangkawi yang di dalamnya itu 80% itu adalah orang asli Papua yang ada sekolah di situ. Itu adalah 80% orang asli Papua yang di Nemangkawi.
Karyawan Indonesia asli Papua 8.045 atau 25.38%, non Papua 22.853 atau 72.11%, tenaga kerja asing 796 orang atau 2.51%. Jadi ini total keseluruhan.
28 Lanjut.
Ini program pengembangan masyarakat, mungkin Bapak-bapak pernah mendengar istilah 1% Pak dari ini, dari penjualan kotor, 1% dari penjualan kotor. Ini Pak angkanya. Ini mulai dari tahun 96. Naik turunnya grafik ini tergantung dari berapa besar juga produksi konsentrat itu. Kalau kita lihat di 2012 turun jauh ke bawah ini karena kejadian waktu itu terjadi pemogokkan besar-besaran tahun 2011, sehingga tahun 2012 dalam perhitungannya sangat rendah.
Ini maksud saya menjelaskan di sini Pak, kalau seandainya PT. Freeport Indonesia tidak bisa melanjutkan operasionalnya karena tidak dapat memenuhi ketentuan peraturan ataupun perundang-undangan yang berlaku, artinya akan drop turun sampai ke bawah, ini ditutup, artinya tidak ada lagi kontribusi-kontribusi yang diberikan dari PT. Freeport Indonesia kepada bangsa dan negara. Ini anunya Pak, itu saya coba memberikan satu visual bukan hanya dari perhitungan ini saja, bisnis, tetapi social cost-nya. Kalau mungkin Bapak pernah ke Timika atau lihat Timika tanpa Freeport Kabupaten Mimika mungkin tidak akan hidup.
Saya mengatakan kepada seluruh karyawan, bahwa kalian harus paham keberadaan kalian ada di Kabupaten Mimika karena ada Freeport tempat kalian mencari makan, seandainya tidak ada Freeport di sini kalian tidak bisa menghidupi keluarga, sehingga ini aset yang harus betul-betul dijaga, aset ini harus bermanfaat kepada kita semua sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
Jadi saya mencoba memberikan kepada semua, semua karyawan, artinya karyawan yang saya berikan itu saya sampaikan baik itu orang asli Papua, baik itu pendatang, maupun expatriat, saya sebut mereka karyawan karena saya sudah mengatakan kepada mereka mulai dari Presiden Direktur sampai yang paling bawah adalah karyawan, tidak ada lagi kelas-kelas di sini, saya tidak mau melihat ada lagi kelas-kelas sehingga timbul eksklusif kehidupan di Freeport, tidak boleh. Karena kalau terjadi ini bisa terjadi hal-hal yang mungkin yang sering muncul di media, kita memberikan sumbangsih-sumbangsih keluar, tidak, semua harus diatur di sini. Dan itu, pernyataan itu saya sampaikan pada saat saya, sedikit keluar Pak, pada saat saya diminta untuk menjadi Presiden Direktur Freeport. Kepada Amerika saya minta komitmen untuk itu, karena background saya komitmen saya kepada negara dan bangsa saya.
Lanjut.
Demikian Pak, paparan saya. Terima kasih. KETUA RAPAT:
29 Terkait dengan agenda rapat kita pada hari ini, saya yakin masih banyak pertanyaan Pak. Tadi juga saya sebetulnya Pak, ini pada awal rapat saya menyampaikan sistem keamanan operasional mungkin belum disinggung, sistem keamanan operasi penambangan, pengelolaan lingkungan, dan isu strategis lainnya, tetapi nanti bisa bisa masuk di pendalaman.
Tadi sebelum kita masuk ke anggota Pak, ini banyak pertanyaan Pak, royaltinya PT. Freeport ke pemerintah itu berapa Pak, apakah dibagi misalnya tembaga berapa, emas berapa dan lain-lain, saat ini berapa Pak?
DIRUT PT. FREEPORT:
Biar keuangan yang Pak yang ini. KETUA RAPAT:
Silakan Pak.
Karena ini informasinya simpang siur ini Pak masalah prosentasenya. PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
Baik, jumlah royalti yang dibayarkan PT. Freeport mulai 2.000, dari 2.000. KETUA RAPAT:
Prosentasenya Pak, bukan uangnya Pak. PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
Oke. Dulu berdasarkan kontrak karya sebesar 3 persen tembaga, lalu 1 persen untuk emas, dan perak juga 1 persen.
KETUA RAPAT:
Jadi 3 persen tembaga, perak dan emas 1 persen. Dari dulu sampai sekarang sama Pak ya?
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
Sekarang setelah pembicaraan di kontrak negosiasi itu naik menjadi 4 poin. KETUA RAPAT:
30 PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
Sudah berlaku. KETUA RAPAT:
Mulai?
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG): Mulai Juli tahun lalu.
KETUA RAPAT:
Oh baru tahun lalu Pak.
Itu dari gross Pak 1 persennya? 1 persen dari apa? PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
1 persen dari penjualan gross dikurangi dengan treatment charges sesuai dengan perhitungan skala yang berlaku di .... (terpotong interupsi).
KETUA RAPAT:
Dikurangi apa Pak?
PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG): Biaya pengolahan.
KETUA RAPAT:
Jadi gross dikurangi biaya pengolahan ya. PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
Treatment and refinery charges. Jadi dapat itu cost-nya atau biaya smelter, dari situ nanti baru dikalikan presentase itu sesuai dengan apa yang ditetapkan diatur di kontrak karya.
KETUA RAPAT:
31 PT. FREEPORT (ASIROHA SITUMORANG):
4 persen tembaga, emas 3.75, dan perak 3.25. KETUA RAPAT:
Oke. Clear ya informasinya.
Pak Kurtubi ini informasinya biar sama. Kita sebentar Pak Kurtubi kita mau masuk pendalaman. Langsung saja kita masuk pendalaman, Pak. Saya yakin Pak Kurtubi sudah banyak yang disiapkan, tapi yang paling pertama terdaftar namanya Pak Supratman Pak. Pak Supratman, siap-siap nomor dua Ibu Hj. Neni Moerniaeni.
Silakan Pak Supratman.
ANGGOTA F-P.GERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, S.H., M.H.): Terima kasih Pimpinan.
Pertama-tama saya ucapkan selamat Pak Ma’ruf atas terpilihnya menjadi Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia dan pada vice president yang lain.
Pertama-tama saya ingin mengapresiasi Pak, saya malah sekarang optimis di bawah kepemimpinan Pak Ma’ruf. Kenapa saya bilang optimis, karena saya yakin di dadanya Pak Ma’ruf pasti merah putih di dalam Pak. Garuda di dalam. Jadi saya yakin betul itu, Insya Allah ini akan membawa keuntungan dan kemashalatan bagi bangsa, terutama kepada Saudara-saudara saya yang ada di Papua. Bagaimanapun di luar kepentingan bangsa dan lebih khusus kepada teman-teman yang ada di Papua PT. Freeport Indonesia harus memberi manfaat yang nyata dan sungguh-sungguh sesuai dengan kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Papua dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Saya selalu menyatakan bahwa PT. Freeport Indonesia itu butuh Indonesia, tapi sebaliknya Indonesia butuh Freeport. Saya juga sering menyatakan bahwa PT. Freeport Indonesia butuh tanah Papua, tetapi Papua juga butuh Freeport. Oleh karena itu, kita berharap bahwa dengan keberadaan PT. Freeport Indonesia, sekali lagi ini bisa memberikan manfaat kepada bangsa Indonesia dan kepada perusahaan ini sendiri untuk bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Karena saya yakin atas pengangkatan Bapak Ma’ruf Syamsudin selaku Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia saya hanya ingin menyarankan satu hal Pak, pertama karena ini adalah sebuah perusahaan publik dan dimiliki sahamnya oleh McMoRan saya yakin PT. Freeport Indonesia pasti akan taat dan patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku utamanya di Negara Republik Indonesia. Kemarin dari hasil rapat kerja kita dengan Menteri ESDM, dan mungkin sebentar malam juga akan tetap dilanjutkan, kami berharap betul bahwa
32 pelaksanaan ekspor konsentrat yang sampai hari ini masih dilaksanakan kalau perlu lewat kepemimpinan Pak Ma’ruf kali ini kita berharap untuk menunda sementara sambil menyesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, karena dasar untuk melakukan ekspor konsentrat hari ini sejak berlakunya Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara itu seharusnya tidak boleh lagi dilakukan. Jadi oleh karena ini, ini menyangkut soal regulai Pak, jadi kita berharap Freeport ini memberi contoh kepada teman-teman yang lain sambil menunggu, bahkan kemarin dari beberapa teman-teman itu menyarankan untuk supaya pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM dan Presiden Republik Indonesia untuk memberi landasan hukum yang pasti dan jelas dalam hal ini kita menyarankan kemarin oleh Komisi VII DPR RI supaya Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Presiden Republik Indonesia untuk mengeluarkan Perpu khusus menyangkut supaya tidak ada undang-undang yang dilanggar Pak. Jadi kita merespons semua untuk kepentingan Freeport, kepentingan Pemerintah Republik Indonesia, juga kepentingan untuk masyarakat Papua.
Yang kedua, saya melihat, saya mohon maaf, saya hanya baca di beberapa media kemarin Pak, saya tidak mengerti kemarin Freeport dalam tiga tahun terakhir itu tidak membayar deviden, tidak membagi deviden. Inilah masalahnya, kenapa, karena kita pemegang saham minoritas yang ada di sana, sehingga kita tidak bisa mengambil manfaat sebagai shareholder, kalau royalti kan itu kewajiban-kewajiban siapapun yang dalam dunia pertambangan, itu kewajiban kepada negara, tetapi hak sebagai shareholder, setahu saya, mudah-mudahan saya salah Pak ya, tapi berita kemarin yang saya baca itu 3 tahun berturut-turut itu belum dibayarkan, karena memang keputusan Rapat Umum Pemegang Saham untuk tidak membagikan deviden. Nah, oleh karena itu, ini menjadi catatan juga dalam periode-periode yang akan datang, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, sebagai shareholder yang ada di sana ini harus, deviden itu juga harus segera diselesaikan Pak.
Dan yang terakhir Pak Ma’ruf, saya menyatakan bahwa mudah-mudahan dengan kepemimpinan Bapak kali ini, kita berharap program disvestasi ini bisa berjalan baik Pak. Karena satu-satunya jalan buat Pemerintah Republik Indonesia termasuk masyarakat Papua dalam hal ini diwakili oleh pemerintah daerah Provinsi Papua kita berharap betul bahwa share yang ada di PT. Freeport itu, itu harus nyata diberikan kepada Pemerintah Provinsi Kabapaten Papua untuk merupakan induk dari beberapa kabupaten yang di sana supaya masyarakatnya betul-betul merasa bahwa mereka ini adalah pemilik yang sah, jadi bukan hanya dibagikan dalam bentuk CSR, karena itu menjadi kewajiban siapapun, itu menjadi kewajiban Pak, tapi kita ingin masyarakat Papua memiliki PT. Freeport itu Pak, soal berapa besar sahamnya kita minta kebesaran hati dari PT. Freeport Indonesia, tentu dalam hal ini harus dibicarakan dengan shareholder yang ada di Amerika menyangkut kegiatan, kalau bisa kita berharap pemerintah provinsi bisa mendapatkan share 10%, dan itu berarti masyarakat Papua Pak yang akan membantu dan menjaga Freeport Indonesia, tidak perlu kita mencari bantuan dari mana-mana untuk mengamankan Freeport yang ada di sana.
33 Mungkin masih banyak hal yang lain, tetapi mungkin dua hal inilah yang saya ingin sampaikan. Sekali lagi saya berharap betul Pak dalam rangka ini dengan kepemimpinan Pak Ma’ruf dan jajaran direksi yang baru terhadap pertambangan yang ada di Papua ini, saya yakin akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Yakin dan percaya kami semua yang ada di sini khususnya saya pribadi tidak punya kepentingan apa-apa terhadap Freeport khususnya yang ada di Papua, tetapi kita komit bahwa sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar kita, ini wajib untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia. Demikian lebih dan kurannya saya mohon maaf.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Selanjutnya kami silakan Bu Neni, siap-siap Pak Saiful Bahri. ANGGOTA F-PG (Dr. Hj. NENI MOERNIAENI, SPOG):
Terima kasih.
Neni, A-308, dari Fraksi Partai Golkar.
Yang disampaikan oleh teman saya betul Pak, bahwa kami cukup dikejutkan dengan adanya menurut keterangan dari Bapak Menteri bahwa bukan perpanjangan kontrak tapi MoU, tapi tadi Bapak mengatakan dalam penjelasan adalah perpanjangan kontrak. Itu yang pertama.
Yang kedua, dari pertemuan kemarin, DPR mengusulkan untuk membatalkan MoU kalau toh itu harus dijalankan kita buat Perpu, pemerintah membuat Perpu.
Tadi Bapak juga sudah menjelaskan kepada kita bahwa ada 6 poin renegosiasi dalam MoU tersebut, yang pertama luas lahan menjadi berkurang 90.000 hektar dari 200.000 hektar, kemudian pembangunan unit pengolahan, smelter, kemudian kenaikan royalti untuk penerimaan negara dan lain sebagainya. Tadi Bapak juga sudah menjelaskan bahwa untuk tembaga naik menjadi 4 persen. Yang saya ingin tanyakan di sini, tadi Bapak menjelaskan, bahwa Freeport akan membangun smelter di Gresik, bukan di Papua, tolong jelaskan. Berarti Bapak atau PT. Freeport ini ingkar janji di dalam kesepakatan tersebut. Kemudian, saya kalau bisa MoU itu bisa tidak dilihatkan kepada kami, kalau bisa karena kami adalah fungsi daripada DPR itu adalah fungsi pengawasan. Apakah perpanjangan MoU ataukah perpanjangan kontrak, tolong jelaskan kepada kita dan berikan itu kepada kami.
Kemudian saya mencatat disini bahwa point pokok dari isi renegosiasi tersebut bahwa PT Free Port bersedia membangun smelter dan memberikan uang jaminan 115 juta US dollar, apakah ini sudah dilaksanakan atau belum. Kemudian mungkin itu cukup. Saya ingin mencermati halaman 8 Pak, saya berpikir karena
34 saya sebelumnya adalah Dokter Kandungan, sekarang saya membidangi kandungan bumi, dipercayakan oleh Partai Golkar untuk di Komisi VII, saya kira sama saja, yang satu kandungan bayi, yang satu kandungan bumi, kandungan alam, saya ingin mencermati disini Pak, saya berpikir bahwa benefit atau kepemilikan saham kita itu tinggi, tetapi ternyata setelah saya melihat kabel ini hanya 9,36%. Kita mempunyai saham hanya 9,36%, saya lihat disini supaya hasilnya itu berimbang antara Pemerintah Indonesia dengan apalagi pihak swasta dalam hal ini tentunya make currens ya, saya lihat disini dalam laporan tahun 2007 sampai tahun 2013 mengapa export duty-nya itu nol, apakah tidak mengekspor atau bagaimana. Apakah ini ingin disejajarkan dengan apalagi deviden untuk apa lah ini currens. Jadi ini mohon penjelasanya. Saya tercengang-cengang ternyata kepemilkan saham Pemerintah Indonesia itu dibawah 10%, hanya 9,36% setelah saya melihat tabel 8. Mungkin itu dari saya Pak.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Selanjutnya saya persilakan Pak Saiful Bahri, siap-siap Pak Ramson. ANGGOTA F-PG (DR. SAIFUL BAHRI RURAY, SH, MSi):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih. Pak Ketua Sidang.
Pak Direktur Utama yang saya hormati,
Saya ada kebanggaan tersendiri sebagai, mohon maaf bukan P Murdiani orang timur yang tetangga dekat Papua bangga dengan paparan Pak Dirut. Kesimpulan dalam otak kecil saya bahwa Papua ini harta karun NKRI yang harus tetap dijaga. Yang ingin saya sampaikan memang oleh Abang saya penanya dari pertama dan kedua tentang smelter juga sudah ditanyakan, saya kira kira keberadaan smelter di Gresik ini memang agak sedikit menggangu pikiran kami di Komisi VII, kenapa tidak dibangun di Papua. Kita tahu bahwa kawasan timur adalah, Indonesia sedang menghadapi MEA 2015 sekarang harusnya kawasan timur itu menjadi beranda Indonesia menuju pasifik Pak Dirut, harusnya menjadi beranda Indonesia, artinya kalau rumah itu beranda, beranda itu harus dipersiapkan sebaik mungkin. Mungkin dalam ongkos produksi saya tidak tahu cara menghitungnya seperti apa, rule material dari Papua diolah di Gresik seandainya dijual ke Asia Timur dan ke Los Angles itu kan fraigth-nya lebih mahal dua kali lipat dibanding misalnya dari Papua langsung ke kawasan pasifik.
35 Yang ingin saya sampaikan bahwa ini sedikit mengganggu karena seandainay smelter itu dibangun di Papua itu dapat menjawab disparitas wilayah, Pak Dirut. Dan kalau tetap dibangun di Gresik itu sosial geleousness dengan kawasan timur sebagai pemilik sumber daya itu akan semakin besar. Saya minta barangkali kearifan untuk bisa mereview kembali kebijakan ini. Kita tahu persis bahwa kalau mau side back ke belakang keberadaan Free Port ini ada sejak pembicaraan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Prof. Wijoyo Nitisastro dan Ali Budiarjo pada tahun 1967 di Genewa dimana menghasilkan draft Undang-undang Penanaman Modal Asing sebagai Undang-undang pertama orde baru dan kita tahu persis mohon maaf, Free Port saat itu adalah perusahaan yang nyaris bangkrut, dia ikut dalam perjanjian Genewa itu sebagai nilai tukar dukungan Jhon F. Kenedy terhadap pengembalian Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Royalti 1%, Pak Dirut, yang dicantumkan dalam perjanjian 67 itu adalah mudah-mudahan data saya keliru karena ini riset jaman mahasiswa Pak Dirut, mudah-mudahan keliru itu kita adalah royalti terkecil, Pak Simon, royalti terkecil di dunia kalau dengan Mozambique dan Angola yang di Afrika, luar biasa. Ini mungkin saya minta penjelasan karena saya bertanya ke Pak Kurtubi ketika naik 3,4% waktu kami di Sumatera Selatan, Free Port itu agak susah karena ada klausul dalam kontrak karya bahwa kenaikan royalti itu harus disepakati oleh kedua belah pihak. Itu memang dimana-mana klausul kontrak selalu begitu. sehingga 3,4% susah di realisasikan. Ini kami minta penjelasan, Pak.
Yang berikut adalah tentang orientasi profit yang demikian besar tadi membanggakan kami namun dengan operasi sekian lama dari tahun 67 tahun 73 operasi sampai sekarang, Pak Dirut, mungkin sudah ada saatnya untuk Free Port juga harus berpikir sosial benefit juga. Minimal ada, kami tadi bangga Pak Dirut memperkenalkan bahwa ada 5 anak Papua dalam jajaran direksi, Alhamdulillah, Pak, Pak Simon, abang saya dan kawan-kawan bisa menjadi direksi ini adalah satu kebanggaan bagi kami orang-orang timur. Sosial benefit ini maksudnya keterlibatan Free Port terhadap masyarakat-masyarakat lokal.
Dari Pak Tony Wardaya, saya mendengar ada 8 komunitas ada disitu yang saya tahu itu ada Komoro dan Dani dan apa Amue itu bisa tidak dilibatkan dalam pembicaraan untuk pemberdayaan mereka. Selama ini adalah suara miring yang didengar oleh berbagai media internasional dan saya bilang ke teman-teman bahwa lebih baik kita mendukung Pak Tony Wardaya daripada bahasa-bahasa ini keluar, mohon maaf, dari misalnya ta’al hamid atau tombeanal, Pak Simon. Ya ini saudara-saudara Pak Simon yang, karena kalau Papua itu bergejolak sedikit, saya kira Pak Dirut sebagai orang mantan petinggi militer itu akan Australia ikut bicara, London ikut bicara dan New York ikut bicara. Eksistensi Papua ini adalah menyangkut kedaulatan Republik Indonesia, ini sudah diperoleh dengan berdarah-darah, orang tua kami adalah sukarelawan, kakek saya adalah juru bicara pengembalian Irian Barat di konstituante hasil Pemilu 55, Pak.
36 Jadi saya kira ini tolong diperhatikan keberdayaa masyarakat ketika Gus Dur itu memberikan harapan baru, Gus Dur tidak memberi duit. Gus Dur hanya memberikan kata-kata yang memberikan harga diri terhadap anak-anak Papua. Kebanggan dia berada sebagian bagian integral dari NKRI. Jadi ada yang mengatakan bahwa Papua bodoh sekarang kita bisa membantah. Prof. Yohanes Suryo di Bogor membuktikan bahwa anak Papua bisa menang olimpiade fisika internasional dan sekarang mahasiswa di Oxford University di Inggris. Jadi menurut Yohanes Surya tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah guru yang salah berkomunikasi.
Saya kira 3 hal ini tolong direspon secara baik masalah partisipasi sosial dan keberadaan 8 masyarakat adat disekitar Free Port, masalah smelter dan masalah royalti.
Terima kasih, Pak Dirut. Kami kembalikan. KETUA RAPAT:
Terima kasih, Pak Syaiful Bachri.
Selanjutnya kami persilakan Pak Ramson Siagian, siap-siap Pak Tony Wardoyo.
ANGGOTA F-PG (H. DITO GANINDUTO, M.B.A.): Pimpinan, di daftar kok bukannya saya duluan. ANGGOTA F-PD (DR. H. KURTUBI, SE.,M.Sp., M.Sc):
Pimpinan, saya protes ya, saya pertama kali masuk ruangan ini, absen pertama kali saya di depan kok mana.
ANGGOTA F-PG (H. DITO GANINDUTO, M.B.A.):
Daftar pertanyaan tidak benar ini, saya sebelumnya Pak Ramson tadi. ANGGOTA F-PD (DR. H. KURTUBI, SE.,M.Sp., M.Sc):
Daftar pertanyaan yang fair dong.
ANGGOTA F-PG (H. DITO GANINDUTO, M.B.A.):
Kalau memang berdasarkan yang datang duluan, yang datang duluan. Ini sekertariat tidak benar ini, tidak jelas ini.
37 ANGGOTA F-PD (DR. H. KURTUBI, SE.,M.Sp., M.Sc):
Ini ada permainan ini. Saya yang pertama kali. ANGGOTA ... (...):
Sekretariat, tolong kasih lah daftar ke Pimpinan. ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN): Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Biar Pak Ramson nanti habis ini klarifikasi, silakan Pak. ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Sementara saya nanti bicara di proses saja. Tadi sama yang minta saya mendaftar itu saya sudah minta tolong Pak Kurtubi yang pertama, siapa tadi itu yang datang ke saya.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO): Pimpinan, interupsi, Pimpinan.
Kalau ini penggantinya saya biar Pak Kurtubi dulu baru berikutnya saya, saya berikan ijin.
Terima kasih, Pimpinan.
ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Tadi yang minta ke saya masuk itu saya sudah minta Pak Kurtubi yang pertama, pertama tadi, lain kali itu. Saya lanjutka ya, habis itu Pak Kurtubi ya, sudah keburu dipersilakan, ibarat kue sudah di dekat mulut.
Saya ulangi lagi.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semuanya.
Pimpinan dan teman-teman Anggota Dewan yang terhormat, Dirut dan jajaran dari PT Free Port yang saya hormati.
38 Tadi sudah jelas disampaikan oleh baik Pimpinan maupun rekan-rekan Anggota yang terhormat. Kemarin juga Bapak Menteri ESDM telah menyampaikan bahwa disepakati ada perpanjangan MoU ini interaktif sedikit Pak Pimpinan, benar ya Pak Dirut ya, perpanjangan 6 bulan itu perpanjangan pembahasan MoU, ya? DIRUT PT. FREE PORT:
Perpanjangan MoU untuk melanjutkan perubahan-perubahan kontrak karya, Pak.
ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Jadi belum ada perpanjangan substantif dari kontrak belum ada Pak ya, hanya untuk pembahasan bisa diperpanjang 6 bulan, pembahasan saja Pak ya? Ya itu supaya clear ke publik seakan-akan kontrak sudah diperpanjang, kalau tidak Pemerintah ataupun Menteri ESDM bisa melanggar hukum dia. Jadi itu jelas bahwa proses pembahasa itu diberikan waktu perpanjangan 6 bulan lagi, gitu ya Pak Dirut ya? Itu jelas catatan Pimpinan.
Terus yang kedua, itu sudah jelas mengenai terkait kontrak masih mau memabahas 6 bulan lagi soal MoU belum ada perpanjangan, itu yang pertama.Yang kedua, soal eksport.
ANGGOTA F-GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA):
Interupsi sedikit, klarifikasi Pak Dirut, itu beda yang disampaikan karena yang disampaikan itu didalam MoU perpanjangan itu ada perpanjangan ijin ekspor, ini yang kalau diluar itu sih, ini yang jadi apakah klarifikasi, apakah ada perpanjangan ijin ekspor.
ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN): Saya lanjutkan dulu Pak.
KETUA RAPAT: Silakan.
ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Pimpinan, itu yang pertama, yang penting catatan belum ada memperpanjang kontrak, belum ada perpanjangan MoU hanya perpanjangan pembahasan MoU kira-kira begitu Pak Dirut ya, supaya publik tidak salah mengerti karena ini sangat sensitif dan ini catatan bagi Komisi VII DPR RI karena kita langsung RDPU dengan Free Port jadi hanya perpanjangan 6 bulan untuk membahas MoU, belum kontrak kerja.