ANGGOTA F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Pimpinan, itu yang pertama, yang penting catatan belum ada memperpanjang kontrak, belum ada perpanjangan MoU hanya perpanjangan pembahasan MoU kira-kira begitu Pak Dirut ya, supaya publik tidak salah mengerti karena ini sangat sensitif dan ini catatan bagi Komisi VII DPR RI karena kita langsung RDPU dengan Free Port jadi hanya perpanjangan 6 bulan untuk membahas MoU, belum kontrak kerja.
39 Terus yang kedua, soal ekspor jelas bahwa didalam Undang-undang No. 4 tahun 2009 sejak diundangkan diberikan waktu 5 tahun kepada semua industri pertambangan mineral untuk mempersiapkan diri karena 5 tahun sesudah itu hanya bisa mengekspor raw material yang telah dimurnikan, yang telah diolah. Itu ada dibeberapa pasal, Pasal 130 sekian dan Pasal 174. Kebetulan saya juga dulu Pak Dirut, ikut memproses RUU itu sekitar 70%. 30% lagi saya pindah ke komisi keuangan itu periode 2004-2009. Memang saya ingat betul itu apa point atau tujuan dari agar 5 tahun diberikan persiapan untuk sesudah itu ada proses pengolahan, ada proses pertambahan ada nilai tambah juga untuk menambah keuntungan atau benefit bagi negara, bagi rakyat dan juga bagi perusahaan yang bersangkutan sehingga tidak opportunies, sebenarnya itu pointnya. Cuma yang proses pembuatan undang-undang itu ya waktu saya tidak setuju memberikan ijin atau otoritas yang besar kepada Bupati, Kepala Daerah memberikan ijin usaha pertambangan operasinya. Itu yang saya waktu itu tidak sependapat dalam perdebatan tapi saya kalah dalam hal itu. Sehingga IUP itu bisa dikeluarkan oleh Bupati karena waktu itu saya melihat itu terlalu jauh diberikan otoritas itu kepada Bupati tapi itu telah menjadi undang-undang dan namanya undang-undang semua warga negara terikat. Jadi artinya bahwa Bupati bisa memberikan IUP jadi terikat siapapun terpaksa melaksanakan undang-undang itu termasuk Free Port juga harus melaksanakan undang-undang itu bahwa selama 5 tahun harus mempersiapkan smelter untuk memproses refinery dari raw material.
Kemarin kita sudah Raker dengan Menteri ESDM sebelumnya dengan Dirjen Minerba, sudah kita ingatkan bahwa kita melihat ada Permen ESDM No. 1 tahun 2014 yang memeberikan kesempatan kepada pemegang IUP untuk mengekspor raw material tanpa diolah. Disatu sisi sebelumnya ada Permen ESDM No. 7 tahun 2012. Ini sebenarnya salah, karena tahun 2012 belum boleh dilarang untuk mengekspor raw materialnya karena batasnya sampai 2014, itu salah. Tetapi Permen ESDM No. 1 tahun 2014 memperbolehkan, itu salah, itu yang nanti malam ini akan menjadi keputusan politik Komisi VII DPR RI dengan Pemerintah Menteri ESDM dan itu menjadi hukum. Keputusan politik tertinggi menjadi hukum adalah konstitusi UUD 45. Keputusan politik dibawahnya lagi yang menjadi hukum undang-undang, Undang-undang No. 4 tahun 2009 harus dilaksanakan Presiden sampai rakyat kecil harus melaksanakannya, corporate juga harus melaksanakannya terkecuali ada jalan keluar seperti sudah dikemukakan teman juga sudah dalam pembahasan di Komisi VII DPR RI adalah jika Pemerintah mengeluarkan Perpu sehingga pasal-pasal tertentu dengan waktu-waktu tertentu bisa dimasukan didalam Perpu itu, tanpa ada itu, semua itu akan melanggar hukum termasuk Permen ESDM No. 1 tahun 2014.
Yang ketiga, didalam laporan ini, halaman 8 bahwa untuk tahun 2014 total untuk penghasilan Pemerintahan Indonesia benefit to goverment of Indonesia itu 484 US dollar. Namanya benefit juga artinya hasil tenaga kerja dari rakyat Indonesia yang bekerja juga dipajak disitu jadi tidak murni kalau yang dari royaltis hanya 119 US dollar.
40 Sebelumnya dari 2007 didalam data ini sampai 2013, export duties-nya nol zero tapi 2014 78 juta US dollar. Ini Pimpinan dan teman-teman Anggota Dewan yang terhormat menjadi catatan berarti ada export duties 78 juta US dollar. Ini kompensasi terhadap melanggar undang-undang, ini harus kita kejar ini pemerintah. 78 juta US Dollar itu ada export duties karena melanggar undang-undang. Diberikan lagi otoritas untuk mengekspor, tapi diberikan pajak eksport, padahal di Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 dilarang sebelum diolah dia. Ini harus dikejar dengan Menteri ESDM nanti dan pemerintah, bila perlu kita panggil juga Menteri Keuangan di sini dengan seizin Komisi XI. Ini tidak boleh melanggar undang-undang. Kita harus taat. FCX owner daripara Freeport mereka juga melanggar, apa, melaksanakan, bukan melanggar, taat terhadap undang-undang yang ada di United State. Itu harus kita contoh. Freeport di sini juga harus mencontoh mereka yang taat terhadap undang-undang di Amerika Serikat. Ini harus kita biasakan. Ini otokritik juga terhadap pemerintah. Dan semua stakeholder yang terkait harus membaca undang-undang itu. Ini juga yang harus ditekankan kepada Menteri ESDM yang baru, harus membaca semua undang-undang, jangan sampai kebijakan-kebijakannya melanggar undang-undang. Ini yang berbahaya bagi negara ini kalau melanggar undang-undang, harus di dalam role undang-undang.
Saya masih ingat dulu Pak Adam Malik mengatakan boleh zig-zag katanya, tetapi jangan keluar dari jalur jalan itu. Begitu juga di dalam manufer-manufer bisnis, manufer-manufer politik boleh zig-zag tapi jangan keluar jalur, jangan keluar dari perundang-undangan atau mekanisme yang ada. Itu sebagai catatan nanti Pimpinan menjadi keputusan politik kita.
Jelas sepanjang masih berlaku Undang-Undang No. 4 Tahun 2009, Permen ESDM No. 1 Tahun 2014 harus dicabut, berarti belum bisa eskpor raw material, belum bisa ekspor sepanjang belum diolah, hanya dibangun pun tidak boleh kalau menurut undang-undang ini, kan ini masih mau membangun. Yang boleh diekspor itu kan yang sudah diolah, yang sudah dimurnikan. Kalau misalnya nanti besok mau dibangun smelternya agar bisa mengekspor harus ada undang-undang, harus diamandemen Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 karena itu sudah jelas di situ ada waktunya, malah 2012 masih bisa tidak diperbolehkan.
Itu saja Pimpinan supaya sebagai catatan bahwa kita Komisi VII DPR RI mengajak pemerintah, mengajak stakeholder, mengajak Freeport taat terhadap undang-undang. Demikian, terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Sudah selesai Pak ya?
Selanjutnya kita mengacu ke catatan yang absen ini Pak, Pak Kurtubi Pak. Ternyata sekali ini benar Pak Kurtubi, Pak.
41 ANGGOTA F-P.NASDEM (DR. KURTUBI, S.E., M.Sp., N.Sc.):
Terima kasih Pak Pimpinan.
ANGGOTA F-PDIP (TONY WARDOYO):