• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI VII DPR RI DENGAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ESDM RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI VII DPR RI DENGAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ESDM RI"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

1 RISALAH

RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI VII DPR RI DENGAN DIREKTUR JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ESDM RI

Tahun Sidang : 2014-2015

Masa Persidangan : II

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM RI

Sifat Rapat : Terbuka

Hari/tanggal : Kamis, 15 Januari 2015 Waktu : Pukul 14.41 WIB – 17.54 WIB Tempat : Ruang Rapat Komisi VII DPR RI Ketua Rapat : Ir. H. Mulyadi

Acara : Evaluasi Pelaksanaan Undang-Undang tentang Minerba dan Program Kerja Tahun 2015

Sekretaris Rapat : Dra. Rini Koentarti, M.Si.

Hadir : 37 Orang Anggota Komisi VII DPR RI ... Orang Anggota Izin

A. Anggota DPR RI

1. Pimpinan Komisi VII DPR RI

a. Dr.Ir.H.Kardaya Warnika, DEA (Ketua/F.P. Gerindra)

b. Ir. Satya Widya Yudha, ME, M.Sc. (Wakil Ketua/F-PG)

c. Ir. H. Mulyadi (Wakil Ketua/F-PD)

d. Dr. H.M. Zairullah Azhar (Wakil Ketua/F-PKB)

2. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN

a. Ir. H. Daryatmo Mardiyanto b. H. N. Falah Amru, S.E. c. Dony Maryadi Oekon

d. Mercy Chriesty Barends, S.T. e. Tony Wardoyo

f. Awang Ferdian Hidayat g. Yulian Gunhar, S.H., M.H.

(2)

2 3. FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA

a. H. Dito Ganinduto, MBA

b. Ir. H. Airlangga Hartarto, M.M.T, M.B.A. c. Dr. Hj. Neni Moerniaeni, SPOG

d. DR. Saiful Bahri Ruray, S.H., M.Si. e. Bowo Sidik Pangarso, S.E.

4. FRAKSI PARTAI GERINDRA a. Ir. H. Harry Poernomo b. Aryo P.S. Djojohadikusumo

c. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H. d. Katherine A. Oendoen

e. Ramson Siagian

f. Bambang Haryadi, S.E. 5. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT

a. H. Mat Nasir, S.Sos.

6. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL a. H. Totok Daryanto, S.E.

b. H. Jamaluddin Jafar, S.H., M.H. c. Andriyanto Johan Syah

d. Lucky Hakim

7. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA a. H. Syaikhul Islam Ali, Lc., M.Sos.

8. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA a. H. Hadi Mulyadi, S.Si, M.Si.

b. H. Iskan Qolba Lubis, M.A.

9. FRAKSI PARTAI PERSATUA PEMBANGUNAN

a. H. Achmad farial

b. H. Mustofa Assegaf, M.Si. c. H. Joko Purwanto

10. FRAKSI PARTAI NASDEM a. H. Endre Saifoel

b. DR. Kurtubi, S.E., M.Sp., N.Sc. 11. FRAKSI PARTAI HANURA

a. H. Inas Nasrullah Zubir, BE, SE b. Dewie Yasin Limpo, S.E.

(3)

3 B. Pemerintah:

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM RI. C. Undangan Lain Wartawan JALANNYA RAPAT :

KETUA RAPAT (Ir. H. MULYADI/F-PD):

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang kami hormati Bapak dan Ibu Anggota Komisi VII DPR RI,

Yang kami hormati Dirjen Minerba Kementerian ESDM beserta seluruh jajarannya, serta hadirin sekalian,

Pertama-tama mari kita ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita dapat bertemu dalam laksanakan tugas-tugas konstitusional kita.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas perhatian serta kehadiran Bapak/Ibu Anggota Komisi VII DPR RI, serta undangan yang hadir dalam acara Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR ini.

Sesuai undangan yang telah disampaikan dan berdasarkan jadwal rapat Komisi VII DPR RI pada Masa Persidangan ke-II Tahun Sidang 2014 2015 pada hari ini Komisi VII DPR RI akan melaksanakan rapat dengar rapat dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dengan agenda evaluasi kinerja tahun 2014 dan persiapan pelaksanaan program kerja 2015 serta evaluasi pelaksanaan Undang-Undang Minerba.

Berdasarkan data dari Sekretariat Komisi jumlah Anggota Komisi VII DPR RI yang telah hadir 26 anggota dari 47 anggota, dan telah lebih dari setengah fraksi. Sesuai ketentuan Pasal 246 ayat (1) menyatakan bahwa setiap Anggota DPR bersifat buka dan dinyatakan tertutup apabila anggota meminta tertutup. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya minta izin, meminta persetujuan dari Anggota agar rapat ini dinyatakan terbuka. Setuju?

(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.

(4)

4 Oleh karena itu, dengan mengucapkan bismillahirahmanirrahim maka rapat ini telah kita nyatakan tertutup, dan sebelum, terbuka mohon maaf.

(RAPAT DIBUKA PUKUL : 14.41 WIB)

Dan sebelum kita mulai saya ingin menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan tata tertib kita, tadi memang sebelumnya saya mohon maaf agak terlambat, karena memang aturan tata tertib kita sekarang minimal Pimpinan harus di meja Pimpinan harus ada 2 orang seperti juga Pimpinan DPR RI harus minimal 3 orang. Dan juga mekanisme rapat kita sama masalah waktu tetap waktu untuk pendalaman 3 menit bisa diperpanjang dengan persetujuan Pimpinan, dan juga dapat dilakukan secara interaktif apabila anggota meminta pada saat pendalaman nanti. Sedangkan interupsi mohon kiranya nanti kalau ada interupsi jangan masuk kepada substansi, interupsi hanya masuk terhadap hal-hal yang terkait dengan masalah jadwal rapat dan isu-isu yang akan segera dibahas, yang kita bahas pada rapat hari ini.

Bapak/Ibu yang saya hormati,

Rapat Dengan Pendapat dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM beserta jajaran merupakan rapat yang pertama kali bagi Komisi VII DPR ini tahun 2015 bersama mitra kerja kita. Dan kami berharap kita mengawali masa kerja kita di Komisi VII ini dengan baik dan semoga selanjutnya kita dapat melaksanakan tugas-tugas konstitusional kita dengan lancar demi kepentingan bangsa dan rakyat Indoneia.

Ada berapa hal yang memang menjadi perhatian kita, sesuai dengan undangan yang telah kami sampaikan pada acara rapat pada hari ini adalah evaluasi kerja tahun 2014 dan persiapan perlaksanaan program kerja 2015 serta evaluasi pelaksanaan Undang-Undang Minerba. Selain tema di atas Komisi VII DPR ingin mendapat penjelasan secara detil dan komprehensif dari Saudara Dirjen tentang isu-isu strategis terkait pelaksanaan Undang-Undang Minerba, diantaranya 1. Realisasi penandatanganan amandeman Kontrak Karya dan Perjanjian Karya

Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) hasil negosiasi. 2. Realisasi pengolahan dan pemurinian mineral di dalam negeri. 3. Wilayah pencadangan negara untuk mendapat persetujuan DPR RI. 4. Tindak lanjut rekonsialiasi IUP non Clear and Clean.

5. Wilayah pertambangan perpulau.

6. Peningkatan pendapatan negara dari pajak dan PNBP mineral. 7. Kebijakan ekspor mineral dan batubara.

Sesuai dengan amanat konstitusi kita bahwa kebijakan mineral batubara bertujuan untuk terwujud sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk

(5)

5 efektifnya waktu pembahasan pada Rapat Dengar Pendapat dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM hari ini terkait evaluasi kinerja tahun 2014 dan persiapan pelaksanaan program kerja 2015, serta evaluasi pelaksanaan Undang-Undang Minerba, selanjutnya kami berikan kesempatan kepada Dirjen Minerba Kementerian ESDM untuk menyampaikan paparannya dengan diawali perkenalan. Kami persilakan Pak.

Tolong ada gangguan teknis ini. Oke.

DIRJEN MINERBA (R. SUKHYAR) :

Baik, kami mulai Bapak Pimpinan.

Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Komisi VII DPR RI,

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat siang atau sore,

Salam sejahtera buat kita semua,

Pertama tentunya kami ucapkan selamat atas pelantikan Bapak/Ibu sebagai Anggota Dewan dan juga sebagai Anggota dan Pimpinan Komisi VII DPR RI.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena siang ini kita dapat berkumpul untuk melaksanakan amanah konstitusi yaitu pembahasan mengenai evaluasi kinerja tahun 2014 dan persiapan pelaksanaan program kerja tahun 2015 serta evaluasi pelaksanaan Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009.

Kami nanti akan membahas, karena ini ada tiga isu Pak ya pertanyaan atau pun yang diharapkan Komisi VII tentu kita sekaligus nanti memamparkan tidak disekat-sekat di dalam isu tadi.

Sebelum kami menyampaikan paparan, kami ingin memperkenalkan jajaran atau Pimpinan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Saya sendiri Sukhyar sebagai Direktur Jenderal, dan paling ujung di sebelah kiri saya Direktur Teknik Lingkungan, Teknik dan Lingkungan Minerba, kemudian Pak Bambang Cahyono Direktur Pengusahaan Batubara, kemudian di sebelah kanan saya Direktur Pengusahaan Mineral Bapak Edy Prasodjo, dan paling kanan Ibu Retno Direktur Pembinaan Program. Eselon II tidak hadir pada kesempatan ini karena rapat koordinasi dengan Menko Kemaritiman yaitu Sekretaris Dirjen Bapak Paul Lubis.

Pada kesempatan ini tentunya kami izinkan, izinkan kami menyampaikan paparan ringkasan realisasi kinerja 2014 yaitu kalau kita lihat, lanjut saja, lanjut,

(6)

6 kalau kita lihat produksi batubara dan mineral tentu kita mengambil jenis mineral yang paling penting tentu banyak jenis-jenis mineral lainnya, terutama batubara sebagai sumber energi yang paling penting di Indonesia, sekarang dan akan datang, karena batubara di antara sumber energi yang ada di Indonesia ketersediaannya ini sangat besar. Dan ke depan dengan kebijakan tambahan 35.000 megawatt listrik ini sebagian besar akan dari batubara. Karena kita masih memiliki gap antara produksi dengan penggunaan dalam negeri, sehingga ke depan sekarang dan ke depan peningkatan pemanfaatan batubara dalam negeri ini menjadi prioritas utama.

Tahun lalu produksi batubara kita 458 juta ton dengan ekspor 382 juta ton, dan dalam negeri penggunaannya sedikit, ini sekitar 76 juta ton. Kemudian produksi mineral tentu yang pokok-pokoknya saja mineral yang paling penting tembaga 416.000 ton. Saya kira hampir sama dengan tahun sebelumnya. Kemudian timah 74.000 ton ini kebanyakan dari PT. Timah TBK dan pemegang izin lainnya. PT Timah itu sekitar 25.000 ya sehingga selebihnya adalah pemegang IUP. Kalau tembaga ini sebagian besar dari pemegang Kontrak Karya seperti Freeport dan Newmont. Kemudian feronikel ini diproduksi sebagian besar oleh Aneka Tambang. Ini 15.700, eh angka 15.700 ton. Ini kalau feronikel ini kandungan nikelnya itu sekitar 30 persen, selebihnya besi. Kemudian ada nickle matte, ini sebagian besar adalah nikel yang diproduksi oleh PT. Vale pemegang Kontrak Karya di Sulawesi, ini sebesar 80.000 ton.

Kemudian yang menjadi tolak ukur keberhasilan di subsektor Minerba adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak yaitu dari Minerba ini sebesar 35,4 trilyun tahun 2014, kalau dibandingkan 2013 sebesar 28 trilyun, jadi ada peningkatan sekitar 7 trilyun. Kami sampaikan bahwa di tengah harga batubara itu rendah, kemudian komoditi lain rendah kita bisa menghimpun 35.000, eh 35,4 trilyun PNBP yang terdiri dari royalti dan landrent atau sewa lahan pertambangan. Kemudian investasi Minerba sebesar 7,4 milyar, ini milyar dollar, ini naik dari waktu ke waktu dibandingkan dengan tahun sebelumnya itu sekitar 6 milyar dollar.

Kemudian tadi ditanyakan juga sebagai tolok ukur keberhasilan kita dalam menjalankan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 pembangunan smelter ini yang sudah commisioning dan produksi sejumlah 25 smelter. Ini tahun 2014. Tahun ini kita harapkan tambahan 12 smelter terutama nikel, ini akan sudah berproduksi.

Kemudian kaitan dengan juga mandat Undang-Undang 4 Tahun 2009 tentang penyesuaian terms Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan Undang-Undang 4 prosesnya ada harga negosiasi KKPKP2B tentu isu strategis yang dinegosiasikan pertama adalah luas wilayah kerja, kemudian kelanjutan operasi, kemudian penerimaan negara, khusus untuk penerimaan negara sifatnya harus meningkatkan penerimaan negara. Kemudian kewajiban pengolahan dan pemurnian untuk kontrak karya itu wajib memurnikan, kemudian kewajiban divestasi yang sebenarnya di dalam kontrak karya PKP2B itu tidak wajib sifatnya. Kemudian kewajiban penggunaan tenaga kerja dan

(7)

7 barang jasa pertambangan di dalam negeri. Hasil proses renegosiasi ini yang sudah menandatangani sepakat Issues tadi, terms, terms contract, yang tadi 1, 2, 3, 4, 5, 6. 6 Issues tadi ada 77 kontrak pertambangan terdiri dari 25 kontrak karya dan 52 PKP2B dan sebagian yang setuju ini ada 7 dan 13 tentu ini terus kita lakukan negosiasi dan yang sudah sepakat amandemen. Jadi begini, dari MoU yang disepakati ini langsung kita masukkan ke dalam dokumen amendemen, ini sampai saat ini yang sudah sepakat draft amandemen 9 PKP2B selebihnya belum selesai di dalam perumusan amandemen kontrak. Dan amandemen yang sudah ditandatangani baru satu yaitu Vale, tahun lalu. Vale yang ada di Sulawesi, satu kontrak karya.

Tentu tindak lanjut dari negosiasi penyelesaian permasalahan dasar hukum kita akan revisi PP 9 khusus untuk royalti, kemudian pembahasan renegosiasi yang sisa tadi yang belum sepakat MoU dan juga mengangkat yang sudah sepakat MoU tadi ke dalam amandemen kontrak.

Yang ketiga kaitan dengan penandatangan IUP, ini sangat penting sekali ini isu yang sering kita dengar di media banyak pemegang IUP yang tidak clear dan

clean, ini yang sekarang kita selesaikan. Kami sampaikan bahwa persyaratan clear and clean ini memenuhi azas administrasi tentunya, tidak tumpang tindih dan

dokumen penerbitan sesuai dengan ketentuan. Kemudian secara teknis ada pelaporan eksplorasi, studi kelayakan, dan dokumen lingkungan, termasuk di dalamnya adalah pelunasan reklamasi maupun pasca tambang. Kemudian persyaratan lainnya adalah yang penting keuangan negara, kewajiban membayar royalti dan iuran tetap. Dalam konteks ini juga kami bersama KPK, karena KPK juga masuk di dalam melakukan koordinasi supervisi ke 12 provinsi tahun lalu, bukan 12, 31 provinsi, 12 provinsi itu cluster pertama dan 19 provinsi cluster kedua. Diharapkan sebelum akhir tahun ini paling cepat adalah pertengahan tahun ini masalah clear and clean ini sudah bisa kita selesaikan.

Secara angka-angka, statistik yang ada yang terdata di Minerba secara nasional adalah 10.653 IUP dan 5.999 sudah dinyatakan clear dan clean, dan 4.654 ini non clear dan non clean tentunya. Sebanyak 296 IUP sudah dicabut dan ini akan diproses, prosesnya tengah berjalan, akan ada tambahan menjadi 554 yang akan dicabut. Kita baru mendapatkan angka 258 dari Kalimantan Tengah, sedang diverifikasi untuk dicabut. Tentu dalam konteks ini kami meminta pemerintah daerah khususnya gubernur dan bupati, walikota untuk mencabut IUP yang berstatus non

clean dan non clear. Dan selanjutnya juga kami mau meminta bupati, walikota

menyerahkan semua dokumen berizinan IUP kepada gubernur. Tentu dengan adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dimana kewenangan pertambangan itu tidak lagi di bupati, walikota, sehingga semua dokumen ini harus diserahkan kepada gubernur. Jadi gubernurlah sebenarnya sekarang ini yang akan menyatakan bahwa IUP itu clear ataupun tidak clear. Banyak juga masalah IUP yang kaitan dengan batas wilayah administrasi dan ini merupakan kewenangan Kemdagri,

(8)

8 Kementerian Dalam Negeri dan kami harus berkoordinasi dengan Kementerian dalam Negeri di dalam memastikan wilayah antar kabupaten ataupun antar provinsi.

Kemudian berkaitan dengan peningkatan nilai tambah, saat ni progressnya tahapan konstruksi, ada 21 IUP, kemudian di akhir tahap konstruksi ada 5 IUP dan

commissioning dan produksi ada 25 IUP. Ini tahun 2014. Tahun 2015 tentu harapan

kita ada tambahan pemegang IUP yang masuk ke tahap produksi yaitu sekitar 12 IUP kami harapkan. Tentu sebagai tindak lanjut terus kami lakukan verifikasi,

monitoring progres kemajuan perkembangan pembangunan smelter dan juga

melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, PU khususnya untuk beberapa hal kalau ada perusahaan-perusahaan juga mengharapkan insentif fiskal dan juga infrastruktur dan fasilitas pembiayaan. Kemudian juga harmonisasi perizinan dengan Kementerian Perindustrian.

Dalam konteks penataan IUP juga kami terus melakukan integrasi tata base Minerba. Kami sudah memiliki sistem Minerba One Map Indonesia. Kalau ada waktu kami mengundang Bapak/Ibu untuk datang ke Minerba untuk melihat sistem ini. Saya kira ini sistem yang paling bagus, satu-satunya mungkin di Indonesia ya bisa melihat secara live gitu, overlapping antara IUP, KK, PKP2B, dengan blok Migas, dengan hutan, dengan listrik itu kelihatan. Jadi misalkan kalau pemerintah ingin membangun PLTU mulut tambang di satu titik kita akan lihat batubara IUP di sekitar titik tersebut apa saja perusahaan yang ada di sekitar titik itu yang akan bisa memasok batubara. Dan sistem ini terintegrasi juga dengan kementerian lain terutama dengan keuangan, pajak dan Direktorat Jenderal Anggaran dalam konteks pencatatan PNBP. Saat ini sistem ini sudah ditempatkan di 71 titik pemerintahan daerah dan 3 titik di kementerian/lembaga yang bisa mengakses ini, sehingga kita bisa berhubungan secara digital ya.

Hal lain juga kami sampaikan bahwa tahun lalu kita sudah me-reform perizinan, 56 perizinan yang ada di Minerba kita squeeze, peras menjadi 18 perizinan.

Berbicara mengenai program prioritas Tahun 2015 pertama kami masih terus akan menyelesaikan amandemen KK, PKP2B karena ini mandat Undang-Undang Minerba, kemudian terus melakukan penataan IUP terutama yang tidak clear dan tidak clean, kemudian mendorong pembangunan smelter termasuk juga memonitor progres dari pembangunan smelter itu sendiri, kemudian peningkatan investasi, optimalisasi penerimaan negara bukan pajak, kita ditarget 40 trilyun tahun 2015 ini. Kemudian tentunya sebagai aparat pemerintah melaksanakan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan usaha pertambangan baik eksplorasi, produksi, lingkungan, keselamatan kerja, dan hal lain yang penting di dalam kegiatan usaha pertambangan yang harus diawasi. Kemudian pengendalian produksi dan DMO mineral dan batubara, termasuk juga meng-update regulasi di bidang Minerba. Kita tahun ini juga akan merumuskan bagaimana kebijakan peningkatan nilai tambah

(9)

9 batubara yang selama ini kita hanya fokus pada mineral, tahun ini kita akan merumuskan kebijakan peningkatan nilai tambah batubara.

Bapak Pimpinan, Anggota Dewan yang kami hormati,

Demikian penjelasan kami selanjutnya kami kembalikan kepada Pimpinan Komisi VII DPR RI. Terima kasih.

Wasalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Tadi Saudara Dirjen sudah menyampaikan pemaparannya, karena ini adalah rapat pertama apa perlu kita lakukan perkenalan? Saya minta pendapat anggota, kalau perlu dari anggota dulu ya. Silakan kalau Pimpinan belakangan biasanya. Kita mulai dari depan dulu Pak, biar dikenal juga oleh Pak Dirjen satu persatu, dapil dan fraksi. Silakan Pak.

ANGGOTA FRAKSI PARTATAI KEADILAN SEJAHTERA (H. HADI MULYADI, S.Si, M.Si):

Terima kasih.

Saya Hadi Mulyadi dari Fraksi PKS, Dapil Kalimantan Timur. Saya kira banyak Minerba dan Migas di Kalimantan Timur, semoga kerja sama ini lebih baik.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (H. MUSTOFA ASSEGAF, M.Si):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mustofa Assegaf Pak, dari Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi PPP, Dapilnya Jawa Timur II, Nomor Anggota 529.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANG (AWANG FERDIAN HIDAYAT, MM.):

Saya Awang Ferdian Hidayat dari Kalimantan Timur Dapil, dari Fraksi PDI Perjuangan, Nomor Anggota 222.

(10)

10 ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (YULIAN GUNHAR, SH, MH):

Saya di sebelah kiri Pak Awang ini, kayak kelompok capir Ketua. Yulian Gunhar, Dapil Sumatera Selatan II, Fraksi PDI Perjuangan, Nomor Anggota A-136.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT (H. INAS NASRULLAH ZUBIR BE, SEA):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Inas Nasrullah Zubir, Nomor anggota 556, dari Dapil Banten III, Fraksi Hanura.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (BAMBANG HARYADI, SE):

Assalamu'alaikum,

Nama saya Bambang Haryadi dari Dapil Jawa Timur IV, Kabupaten Jember dan Lumajang, Nomor Anggota A-367, Fraksi Partai Gerindra.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (LUCKY HAKIM):

Assalamu'alaikum Warahamatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Lucky Hakim, dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Dapil Kota Bekasi dan Kota Depok. Dan sebelah kanan saya, silakan.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, SH, MH):

Nama saya Supratman Pak, dari Dapil Sulawesi Tengah, A-388, dari Fraksi Partai Gerindra.

(11)

11 ANGGOTA FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (ANDRIYANTO JOHAN SYAH, ST, MM):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Andriyanto Johan Syah, dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Dapil Jawa Tengah X.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (DR. SAIFUL BAHRI RURAY, SH, MSi):

Assalamu'alaikum Pak Dirjen,

Saya Saiful Bahri Ruray dari Dapil Maluku Utara, yang banyak nikelnya tapi belum ada smelter.

Terima kasih Pak Dirjen.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (RAMSON SIAGIAN):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Ramson Siagian, dari Fraksi Partai Gerindra Dapil Jawa Tengah X, Pekalongan, Pemalang, Batang. Saya pikir Direktorat Jenderal Minerba sudah kenal dulu, 10 tahun, bermitra 8 tahun dengan ESDM.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (H. DITO GANINDUTO, MBA):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saya Dito Ganundito, Fraksi Partai Golkar, Dapil Jawa Tengah VIII Cilacap, Banyumas.

(12)

12 ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (Ir. H. AIRLANGGA HARTARTO, M.M.T., M.B.A.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saya Airlangga Hartarto, Dapil Jawa Barat V, Fraksi Partai Golkar.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (H. NASYIRUL FALAH AMRU, SE):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat datang Pak Dirjen dan rombongannya, kalau rombongan itu kan besar. Nama saya Falah Amru dari Fraksi PDI Perjuangan, Nomor Anggota A-203.

Terima kasih. Dapil Jawa Timur X, Lamongan, Gresik.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (H. JOKO PURWANTO):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pekenalkan Pak, nama saya Joko Purwanto, Dapil Jabar III, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Anggota 515.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (BOWO SIDIK PANGARSO, S.E.):

Selamat sore,

Nama saya Bowo Sidik Pangarso, Partai Golkar, A-272, Dapil II Jawa Tengah, Demak, Kudus, Jepara.

(13)

13 ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN ( TONY WARDOYO):

Nama saya Tony Wardoyo dari Fraksi PDI Perjuangan, Nomor Anggota A-31, dari daerah pemilihan Papua. Yang sampai saat ini emasnya diambil tapi belum ada smelternya di Papua, mohon perhatian.

Terima kasih.

ANGGOTA FRASKI PARTAI HATI NURANI RAKYAT (Hj. DEWIE YASIN LIMPO, SE):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saya Dewie Yasin Limpo, A-560, Fraksi Partai Hanura, Terima kasih. Sulawesi Selatan I.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (MERCY CHRIESTY BARENDS, ST):

Selamat sore Pak Dirjen dan rombongan,

Nama saya Mercy Christy Barends, dari Dapil Maluku, A-228. Terima kasih. Partai PDI Perjuangan.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (KATHERINE A. OENDOEN):

Selamat sore Pak Dirjen,

Nama saya Katherina Angela Oendoen, saya dari Fraksi Gerindra, Dapil Kalimantan Barat, Nomor saya A-382.

(14)

14 ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRAT (H. MAT NASIR, S.Sos):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Nama saya Haji Mat Nasir, dari Jatim XI Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Saya dari Partai Demokrat, A-438.

Terima kasih.

ANGGOTA FRASI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (H. ISKAN QOLBA LUBIS, M.A.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Izinkan Pak Ketua, nama saya Iskan Qolba Lubis dari fraksi PKS, Dapil Sumut II, Nomor Anggota A-86.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJAUNGAN (Ir.H. DARYATMO MARDIYANTO):

Selamat sore Ibu/Bapak sekalian, Pak Dirjen,

Nama Daryatmo Mardiyanto, A-170, daerah pemilihan Jawa Tengah II, Demak, Jepara, Kudus, Fraksi PDI Perjuangan.

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (Ir. H. HARRY POERNOMO):

Selamat sore Pak Dirjen dan rombongan,

Perkenalkan nama saya Harry Purnomo, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Dapilnya Jawa Tengah VI, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo.

(15)

15 ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (ARYO P.S. DJOJOHADIKUSUMO):

Selamat sore,

Nama saya adalah Aryo Djojohadikusumo, mewakili daerah pemilihan Jakarta Barat Jakarta, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Tidak ada sumber mineral atau batubara di Dapil saya, kalaupun ada pembebasan lahannya pasti terlalu mahal. Jadi tapi saya ingin banyak belajar dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Saya bersama dengan Pak Ramson, Pak Supratman, darN Ibu Kathrine dan Harry Poernomo juga berasal dari Fraksi Partai Gerindra. Kami semua ini anak buahnya Pak Prabowo, siap bekerja sama. Oh maaf Bambang Haryadi juga satu, dan juga Ketua Komisi VII juga Pak Kardaya, kami semua ini siap bekerja sama dengan Dirjen, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara.

Sekian, terima kasih.

WAKIL KETUA KOMISI VII (Ir. SATYA WIDYA YUDHA, ME, M.Sc./F-PG):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Perkenalkan nama saya Satya Widya Yudha dari Fraksi Partai Golkar, A-290, Dapilnya Jawa Timur IX, Kabupaten Tuban dan Bojonegoro.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Jadi sudah lengkap. Sekarang giliran saya Pak. Biar dikenal juga yang memimpin Pak. Nama saya Mulyadi. Dari Fraksi Partai Demokrat, Nomor Anggota 403, daerah pemilihan Sumatera Barat II, ada 3 kota, 5 kabupaten, kotanya itu adalah Bukit Tinggi, Pariaman, Payakumbuh. Kabupatennya Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Pasaman dan Pasaman Barat, Saya tidak tahu Pak, apa ada tambang di sana atau. Banyak ya. Belum ada melaporkan soalnya.

Jadi demikian perkenalan dari Komisi VII sudah lengkap Pak, mudah-mudahan dicatat. Jadi kalau ketemu di luar atau di jalan jadi bisa bertegur sapa Pak ya.

Tadi dari Pak Dirjen belum memperkenalkan Pak ya. Sudah ya.

(16)

16 Sudah lengkap semua ya. Jadi acara perkenalan sudah selesai, dan acara pemaparan dari Pak Dirjen juga sudah, oleh karena itu, biar waktunya lebih banyak dilakukan untuk pendalaman maka saya langsung buka saja untuk melakukan pendalaman. Sesuai dengan yang tadi saya sampaikan untuk Tatib kita yang baru ini dimungkinkan untuk interaktif, kalau dulu kan tidak. Kalau dulu kita bertanya dulu semua, terus baru dijawab. Sekarang dimungkinkan langsung bertanya dan langsung minta jawab, tapi tetap waktunya dibatasi perorang 3 menit, kalau minta perpanjang maksimal 5 menit harus persetujuan Pimpinan. Jadi oleh karena itu, pertama saya persilakan kepada Falah Amru dari PDIP.

Silakan didaftarkan dengan Sekretariat. Falah Hamru, dan siap-siap setelah Pak Falah, Pak Suratman dari Gerindra.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (H. NASYIRUL FALAH AMRU, SE):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati Bapak Dirjen Minerba, Pak Sukyar, dan seluruh jajarannya, Saya ingin mempernyatakan dan menanyakan sederhana saja sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba memang masih menemukan banyak kendala di lapangan, tadi Bapak sudah menyampaikan sudah ada 25 smelter ya Pak ya, dan 2015 ditambah 12 lagi ya. Tapi kendala hilirisasi ini memang cukup besar, kendala tentang power plant, kendala tentang rumitnya perizinan dan sebagainya. Pertanyaan saya sederhana saja apakah pemerintah sudah memberikan solusi konkrit untuk mengantisipasi hal ini. Kalau misalkan ada perusahaan-perusahaan pertambangan skala kecil, kemudian juga salah satu solusi dari pemerintah adalah bergabung mendirikan smelter di situ juga masih banyak konflik internalnya. Itu satu.

Yang kedua Pak, Pak Dirjen saya ingin menanyakan juga dengan adanya amanat Undang-Undang ini memang tujuan kita ini baik, tujuan kita ke depannya ini sangat sempurna tapi nyatanya juga bahwa penerimaan pajak atas mineral kita pastinya akan turun. Terkait yang disampaikan oleh Pak Dirjen tadi dari 25 smelter tersebut beroperasinya dan apakah juga sudah memberikan kontribusi untuk sektor pajak.

Terima kasih Pak Dirjen.

(17)

17 KETUA RAPAT:

Jadi mungkin sebelum dilanjut Pak Supratman, karena Pak Ketua baru datang tentu harus memperkenalkan diri juga walaupun sudah dikenal termasuk dari ESDM Pak, yang diminta menjadi legislatif. Silakan Pak Ketua.

KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/F-P.GERINDRA):

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mohon izin memperkenalkan nama saya Kardaya Warnika, Nomor Anggota A- 350, dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII yaitu Pantura, Jawa Barat, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon.

Saya kira itu perkenalkan dari saya. Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (H. JOKO PURWANTO):

Interupsi Pimpinan.

KETUA RAPAT: Silakan.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (H. JOKO PURWANTO):

Izin mengingatkan saja tadi belum disampaikan batasan waktu sampai jam berapa kita akan rapat. Terima kasih.

(18)

18 KETUA RAPAT:

Biasanya waktu itu sampai pukul 16.00 Wib ya. Kalau sudah sampai pukul 16.00 WIB kita minta perpanjangan waktu dengan persetujuan anggota. Nanti kalau sudah jam 16.00 baru saya minta persetujuan anggota untuk diperpanjang.

Selanjutnya kami persilakan Saudara Supratman, siap-siap Bapak Lucky Hakim.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (SUPRATMAN ANDI AGTAS, SH, MH):

Terima kasih Pimpinan.

Pertama-tama kita memberi apresiasi atas kinerja Dirjen Minerba dan seluruh jajaran, kalau hasil evaluasi kinerja tahun 2014 ini, ini memperlihatkan suatu hal yang menggembirakan Pak. Tadinya saya pesimis sebenarnya. Karena kalau saya banding data realisasi penerimaan PNBP di tahun 2013, harusnya 2013 logika saya menyatakan harusnya lebih tinggi Pak. Tapi ternyata realisasi di tahun 2014 ini jauh lebih tinggi. Saya tidak tahu apakah karena ini hasil tagihan tunggakan yang lalu atau memang karena produktivitas di sektor pertambangan kita meningkat atau tidak. Ini mungkin yang bisa, tapi saya harap ini bukan tagihan tunggakan, kewajiban dari pengusaha-pengusaha pertambangan. Itu yang pertama.

Yang kedua Pak Dirjen dan seluruh jajaran Dirjen Minerba, ada satu yang menggelitik di hati saya Pak menyangkut sampai hari ini CNC sampai hari ini belum

clear. Saya kalau meminta data, mencermati data yang di sampaikan oleh Pak

Dirjen Minerba dengan jajarannya, logika saya harusnya bukan 200 sekian IUP yang dicabut Pak, karena kalau Dirjen Minerba itu konsisten terhadap clear and clean maka saya yakin dalam rekonsiliasi IUP yang pertama dan yang kedua itu yang dijadikan pegangan harusnya tidak sebanyak ini IUP yang diterbitkan dan diterbitkan sertifikasi clear and clean-nya. Kenapa? karena di dalam rekonsiliasi IUP yang pertama itu saya yakin rekonsiliasi IUP yang pertama itu yang dibuat oleh Dirjen Minerba yang lalu, itu saya yakin yang betul-betul IUP yang resmi itu Pak. Tapi begitu rekonsiliasi kedua DIbuat, dan sampai hari ini juga masih dibuat clear and

clean maka saya yakin pasti banyak IUP-IUP yang terbit yang mungkin bupatinya

sudah berhenti tapi masih bertanda tangan untuk menerbitkan IUP, dan ini yang menjadi problem. Oleh karena itu, harus ada tenggang waktu yang tepat untuk melihat kapan sebenarnya clear and clean itu harus kita segera akhiri Pak. Karena kalau sampai hari ini tetap anu, saya yakin nanti malah ada bupati ataupun pejabat bupati yang sudah meninggal, tapi masih tetap bertanda tangan. Oleh karena itu, kalau mau gunakan data yang benar dan itu pasti sangat mudah buat Dirjen Minerba untuk melihat, gunakan saja rekonsiliasi IUP itu yang pertama, khususnya itu yang menjadi pegangan Pak, karena kalau berikutnya itu masih terjadi, saya yakin itu sudah suatu hal itu patut didugalah, patut diduga, itu anu saya.

(19)

19 Yang kedua Pak Dirjen, menyangkut kemarin kita menerima Asosiasi Bauksit, kalau tidak salah, Asosiasi Pengusaha Bauksit, ini juga menjadi hal yang harus dijelaskan oleh jajaran Dirjen Minerba tentang larangan ekspor khusus untuk komoditas bauksit. Karena dari pemaparan teman-teman dari anggota asosiasi kemarin itu menyatakan bahwa bauksit yang ada saat ini itu adalah merupakan hasil olahan Pak. Dan kemarin ada data pembanding yang dibuat oleh teman-teman dari asosiasi menyatakan bahwa Institut Teknologi Bandung ya itu kemarin kita dipaparkan kayak seperti itu. Kemarin saya juga sampaikan bahwa pemahaman saya bauksit itu pasti dia adalah raw material, tapi ternyata itu ada proses pengolahan yang bisa dilakukan oleh mereka mulai dari apa namanya, raw material, kemudian ada crushing, kemudian ada washing, sampai peningkatan kadar yang cukup signifikan hampir 10 persen peningkatan kadar dari bauksit itu. Oleh karena itu mohon penjelasan Pak kenapa ini menjadi, bauksit ini kok dianaktirikan, tidak sama dengan mineral yang lain, padahal teman-teman di asosiasi juga sudah punya progress yang cukup dalam dalam rangka membangun smelter Pak. Oleh karena itu mohon penjelasan Pak Dirjen.

Untuk sementara saya pikir demikian. Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Supratman.

Selanjutnya kami silakan Pak Lucky Hakim, siap-siap Pak Ramson.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (LUCKY HAKIM): Terima kasih Pimpinan.

Saya ingin menanyakan sedikit saja gitu, seandainya kita memang bercita-cita memiliki smelter yang banyak apakah kita punya cukup power untuk bisa, artinya mengoperasikan smelter-smelter yang ada, apakah itu benar-benar mampu tidak. Karena beberapa waktu yang lalu ada beberapa pertemuan yang menyatakan seandainya kita punya pun untuk menyalakan itu kita tidak punya energinya, batubara kita tidak mungkin bisa di ekspor lagi ke luar, jadi hanya habis untuk dipakai di dalam negeri, dan saya ingin kejelasan akan hal itu. Jadi seandainya punya banyak smelter kita energinya itu dapat dari mana gitu.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

(20)

20 ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA (RAMSON SIAGIAN):

Terima kasih Pak Ketua. Pak Dirjen dan jajarannya,

Ini selamat ini Pak Dirjen, sudah tinggi jabatannya ya. Zaman dulu masih Kabag, sekarang sudah Dirjen. Waktu periode pertama lagi. Jadi makanya saya ucapkan selamat kan gitu.

Pak Dirjen ini kemarin kita diberikan data oleh Asosiasi APB3I Pengusaha Bauksit. Tadi juga sedikit sudah dikemukakan teman saya anggota yang terhormat, itu ada Permen, peraturan menteri yang memberikan otoritas ataupun memberikan peluang ke berapa produk atau ke komoditi untuk bisa di ekspor yaitu tembaga, biji besi, pasir besi, mangan, timbal, dan seng, sementara nikel dan bauksit tidak. Kalau kita lihat di Undang-Undang Miberba bahwa 2014 semua sudah harus diolah. Nah itu tolong dijelaskan oleh Pak Dirjen yang seharusnya ini, nanti kita akan pertanyaan ke Pak Menteri, tetapi tentunya karena ini dalam skopnya Dirjen Minerba, jadi tolong dijelaskan background-nya. Karena ini sebenarnya bertentangan dengan Undang Minerba, Kalau tanpa diolah itu tidak boleh diekspor. Terkecuali Undang-Undang itu kita amandemen dulu gitu. Ini yang saya heran kok tiba-tiba ada Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 yang memperbolehkan lima jenis komoditi untuk bisa diekspor sementara yang dua tidak bisa ekspor, padahal sesuai dengan undang-undang itu semua sama.

Terus yang kedua saya juga menyesalkan bahwa pada saat Undang-Undang Minerba ini berlaku akhir 2009, kebetulan saat itu saya mulai pensiun dari DPR RI, memproses RUU itu saya masih ikut sebagian, seharusnya pada saat itu pemerintah, Kementerian ESDM proaktif bahwa ada waktu 5 tahun sesuai perintah undang-undang untuk membangun smelter agar hasil-hasil tambang, mineral ini bisa diolah dulu. Tetapi saya lihat tidak ada kebijakan strategis dari pemerintah khususnya Kementerian ESDM sehingga pada saat tertentu Menteri ESDM mengeluarkan peraturan menteri yang melarang ekspor terhadap beberapa komoditi dari hasil tambang mineral. Ini, sehingga dampaknya pada saat itu banyak perusahaan-perusaan tambang, mineral yang bangkrut. Terus yang kedua neraca perdagangan kita menjadi defisit. Karena selama ini kita cenderung, artinya surplus kita punya neraca perdagangan bukan karena keunggulan industri manufacturing kita tetapi lebih banyak karena ekspor hasil-hasil tambang, termasuk sebagian juga minyak, biarpun kita impor minyak cukup banyak juga, minyak dan gas. Nah ini yang mengakibatkan mungkin setahun lebih neraca perdagangan kita defisit. Nah itu otomatis juga mempengaruhi dari sisi moneter, rupiah kita melemah. Ini yang waktu itu kelemahan dari Permen yang mendadak membuat keputusan tersebut. Seharusnya dari 2009 sudah ada strategi yang pro aktif menghadapi 2014 bagaimana strateginya agar smelter-smelter tersebut sudah dibangun pada saat perintah undang-undang harus direalisasikan. Ini yang saya sesalkan dari

(21)

21 Kementerian ESDM tentunya sebagai bawahannya Kementerian ESDM yang bergerak ataupun yang mengurus masalah-masalah ini, Direktorat Jenderal Minerba seharusnya memberikan masukan-masukan ke Kementerian ESDM. Sehingga sekarang dampaknya sangat besar terhadap perekonomian nasional. Di satu sisi kecenderungan para pengusaha-pengusaha sektor pertambangan ini akan melanggar undang ataupun menterinya yang akan melanggar undang-undang, karena dari awal tidak proaktif strateginya. Banyak kita punya sumber daya yang bisa di-manage untuk bisa melaksanakan undang-undang itu kalau itu dimulai dari awal. Artinya sudah proaktif dari saat undang-undang itu mulai direalisasikan 2009, menghadapi 2014, ada waktu 5 tahun. Nah ini tidak ada.

Sekarang, tadi ini dilaporkan bahwa ada pembangunan smelter menurut Asosiasi Bauksit bahwa baru satu yang dalam proses, kemarin itu. Itupun membutuhkan waktu sampai tahun tahun 17, di sini diberitahukan bahwa ada 37 unit smelter yang sedang dibangun, tolong dijelaskan ini untuk jenis-jenis komoditi yang mana ini, apa ini bersifat umum, karena menurut Asosiasi Bauksit hanya satu yang masih dalam proses. Itu yang ingin saya sampaikan, mohon dijelaskan mengenai smelter tersebut.

Terus yang kedua tolong juga dijelaskan dari IUP-IUP yang ada sekarang baik mineral, baik batubara itu yang dikeluarkan bupati itu berapa banyak dari sekian banyak 10.653 IUP-IUP mineral dan batubara. Jadi tolong dijelaskan oleh Pak Dirjen untuk sebagai referensi buat Komisi VII untuk pembahasan selanjutnya, karena kita akan membahas nanti RUU ataupun amandemen terhadap Undang-undang Minerba.

Demikian Pak Ketua. Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Ramson.

Selanjutnya kami persilakan Pak Yulian Gunhar. Oh lagi keluar ya. Terus Pak Tony Wardoyo. Wah keluar terus. Selanjutnya Bu Dewie Yasin Limpo.

ANGGOTA FRASI PARTAI HATI NURANI RAKYAT (Hj. DEWIE YASIN LIMPO, SE):

Baik terima kasih.

Pak Dirjen Minerba yang saya hormati dan seluruh rombongan,

Saya Dewie Yasin Limpo dari Fraksi Hanura saya perkenalkan kembali. Pertanyaannya adalah pertama kita dalam 2 hari ini menerima beberapa asosiasi

(22)

22 pengusaha baik itu dari Hiswana migas maupun dari pengusaha bauksit, nah kelihatannya pengusaha bauksit ini memang pengusaha yang dulunya sudah menerima IUP, sudah menambang tapi tiba-tiba distop, tidak bisa mengirim OR-nya, harus dengan smelter, namun kelihatannya karena ini pengusaha lokal, pengusaha anak bangsa kita, ini tentunya kita tidak bisa juga membiarkan mereka mengalami kerugian yang begitu besar, kemudian juga tetap diwajibkan membayar landrent, pajak dan lain-lain dan juga telah banyak yang pada akhirnya mem-PHK-kan karyawannya. Ini harus menjadi satu perhatian mungkin kepada Pak Dirjen dan juga kita Komisi VII, solusi apa yang kira-kira yang bisa membawa mereka ini kepada sesuatu yang bisa menjanjikan dan tidak mengurangi asset ataupun keberadaan para penambang ini tanpa smelter. Mereka mengharapkan bahwa mungkin apakah kita bisa memberikan solusi, memberikan dulu, karena mereka terlanjur menambang OR-nya dan kemudian menumpuk dan mengalami kerugian, sementara masih ditagih terus harus membayar landrent dan lain-lain, sehingga apakah kita tidak bisa memberikan satu dispensasi atau bagaimana terkait dengan kerugian mereka. Mereka berharap bahwa apakah masih bisa ada jalan keluar untuk sampai 2017 bisa mengirim OR, dan setelah itu kita wajibkan untuk tetap membangun smelter. Itu.

Yang kedua adalah pertanyaan saya Pak, status kerja sama pemerintah dengan PT. Freeport Indonesia ini bagaimana, sejauh mana, sampai di mana perpanjangannya? Karena masyarakat yang ada di Papua itu mengharapkan bahwa sebaiknya pemerintah jangan melakukan perpanjangan kalau memang PT.Freeport ini tidak membangun smelter. Itu harapan mereka. Nah ini kelihatannya juga kita sedikit mungkin harus merenung atau berpikir karena dari kemarin ini ada beberapa diskriminasi kita terhadap mineral-mineral yang lain, yang lain boleh tapi yang ini tidak, misalnya PT.Freeport bisa saja, Newmont bisa, di sisi lain bauksit, nikel yang oleh pengusaha-pengusaha kayak kita ini tidak boleh gitu. Nah ini mungkin mohon penjelasan dari Bapak Dirjen Minerba.

Kemudian itu tadi karena kami, Komisi VII DPR dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan kerja ke di Papua, Ini takutnya menjadi pertanyaan gituloh. Mereka mengharapkan bahwa jangan ada perpanjangan kalau memang belum ada kesepakatan membangun smelter itu kapan, gitu loh. Demikian yang ingin saya sampaikan. Terima kasih.

Wassamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

(23)

23 ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (MERCY CHRIESTY BARENDS, ST):

Barends Pak.

Ya terima kasih Pak Pimpinan. Pak Dirjen dan jajaran, saya punya beberapa hal yang pertama dari sisi data data yang dipaparkan di sini tadinya harapan saya itu dia covering nya semuanya, mulai dari total cadangan kita yang tersedia berapa. Karena di sini ada estimasi untuk 2015. Saya takut pas kita bangun smelter cadangan kita sudah habis Pak. Mestinya ini dipaparkan dari awal kita punya cadangan. Harapan kita bukan cuma estimasi cadangan tetapi fixed cadangan berdasarkan hasil survei atas eksplorasi. Itu yang pertama.

Yang kedua berkaitan dengan data indikator kinerja, saya butuh kejelasan lebih konkrit dalam paparan di sini seluruh data yang berkaitan dengan eksplorasi kecuali feronikel dengan nickle matte itu yang mengalami peningkatan sedikit, sisa yang lain mengalami penurunan Ini cukup luar biasa, sementara PNBP-nya meningkat cukup signifikan bertambah sekian trilyun. Sehingga saya ingin tahu ini hitung-hitungannya bagaimana, jangan sampai terjadi hitung salah itu Pak. Dengan demikian saya butuh penjelasan rinci berkaitan dengan indikator kinerja, table yang paling pertama ini dijelaskan. Kalau ini saja sudah salah mungkin kita untuk ke selanjutnya ini mungkin juga akan mengembangkan rencana kinerja ke depan, program-program kerja ke depan ini dengan data yang juga hitung-hitungannya masih debatable seperti itu.

Yang ketiga ini berkaitan dengan data IUP, saya sangat stres, stressing benar di data IUP yang sampai dengan hari ini masih morat marit. Berapa yang sudah melewati fase CNC dan beberapa yang tidak melewati fase CNC. Data yang dipaparkan di sini 296 dicabut resmi. Sementara Kalimantan Tengah itu 200 sekian itu juga akan dicabut berikutnya. Mestinya harus ada data terpilah yang lebih clear dari 296 yang total keseluruhan termasuk Kalimantan Tengah 200 sekian itu, berapa yang dicabut karena habis cadangan, jadi kita clear kalau mau CNC berikut lagi yang sudah selesai stok cadangannya tidak dikeluarkan lagi gitu loh. Yang kedua yang tidak clear CNC-nya karena memang nakal gitu loh, tidak memenuhi persyaratan amdal dan lain-lain, terjadi kerusakan amdal dan lain-lain. Dan yang ketiga pencabutan izin amdal yang berkaitan dengan faktor-faktor lain, kami belum tahu ini apa, apa alasannya seperti itu. Jadi kalau ada data terpilah soal ini, ini jauh lebih clear, dan kalau covering-nya meliputi 33 provinsi yang ada kita jadi lebih fix, masing kita jadi ikut bertanggung jawab kalau pulang ke dapil kita masing-masing gitu loh. Itu yang ketiga.

Yang keempat ini berkaitan dengan peningkatan kualitas pertambangan, kualitas nilai tambah terhadap produksi material pertambangan. Di dalam data terpilah yang disampaikan dalam tabel Bapak, itu untuk smelternya itu digabung, pengolahan dengan pemurnian. Kemarin kita tarik menarik cukup alot dengan

(24)

24 bauksit, sementara data di sini itu digabung pengolahan pemurnian. Data yang dikeluarkan dari asosiasi kemarin satu saja sudah syukur banyak itu Pak, data yang ada di sini 5. Total covering semua dari atas ke bawah kita butuh penjelasan juga lebih clear, berapa yang memiliki smelter sampai ditahapan pemurnian, berapa saja yang sampai ditahapan pengolahan. Jadi kalau kita gebraknya juga lebih tajam gitu loh, lebih clear, kita menggebrak itu pada material-material yang mana seperti itu.

Yang berikut, ini berkaitan dengan safeguard Pak. Karena ini berkaitan dengan pertambangan mestinya evaluasi clear dari pihak Kementerian, Dirjen ESDM, termasuk di dalamnya isu dampak lingkungan. Dirjen ESDM sendiri penataan safeguard-nya seperti apa berkaitan dengan seluruh perusahaan pertambangan yang sudah menambang di Indonesia. Dari ujung ke ujung yang kita dengar banyak sekali persoalan safeguard yang berkaitan dengan kerusakan amdal dan lain-lain. Kita ingin tahu sampai sejauh mana persoalan ini mendapat perhatian serius dari Dirjen ESDM karena ini juga berkaitan dengan khalayak hidup orang banyak yang ada di lingkungan sekitar penambangan.

Yang terakhir Pak ini berkaitan dengan rekapitulasi pemantauan pemanfaatan CSR dari seluruh perusahaan-perusahaan penambangan ini, itu juga tidak ter-cover dalam data evaluasi kita. Kemarin di dalam pertemuan di Makasar, ini pertemuan kedua kita dengan Pak Dirjen, dengan PT. Vale itu kita cukup itu kita tutup sangat ini sekali detail sekali membicarakan soal implementasi berdasarkan undang-undang total 4 persen atau berapa persen itu ya, setahu saya 4 persen dari apa itu, CSR yang harus diberikan seperti itu. Apakah memang demikian, seberapa jauh tingkat pemantauan Dirjen ESDM berkaitan dengan perolehan CSR yang dimanfaatkan bagi community development pengembangan masyarakat yang ada di sekeliling wilayah penambang.

Yang terakhir saya memperkuat apa yang disampaikan oleh Ibu Dewie hasil pembicaraan kita kemarin dengan Asosiasi Bauksit Pak, buat saya ini anomali yang sangat luar biasa terjadi, undang-undang mensyaratkan pembatasan ekspor, tetapi kemudian diterjemahkan di tingkat Permen yaitu terjadi diskriminasi ekspor pada tingkat OR atau pengolahan tahap kedua. Diskriminasi yang kedua juga terjadi dari sisi raw materialnya. Untuk yang lain-lain bisa diekspor kecuali untuk bauksit, nikel, ya kalau saya tidak salah seperti itu. Pertanyaan kami kenapa ada terjadi diskriminasi seperti ini, apa latar belakangnya dari pihak ESDM, kemudian menterjemahkan bahasa undang-undang bahwa yang ini bisa dan yang ini tidak bisa, mestinya ini harus diberlakukan sama. Kemarin ada usulan walaupun ini masih debatable, tapi kita minta pertimbangan juga dari ESDM, bahwa ini bauksit sudah telanjur, sudah terlanjur ada ini sekarang sudah diproduksi ke luar tidak bisa, ke dalam juga tidak tahu mau diapakan, syukur-syukur kalau jadi makanan kita bisa makan. Bauksit yang sudah ada ini, ini harus dicari jalan keluar. Satu tahun mereka sudah tidak produksi. Kalau tadi usulan Ibu Dewie untuk ada beberapa hal itu mereka minta keringanan seperti pembayaran landrent dan lain-lain seperti itu, tetapi mungkin ada ruang terbatas, celah kecil kita minta mungkin ada pertimbangan di

(25)

25 dalam ESDM untuk ada bridging policy, policy jembatan, buka ruang sedikit, produksi yang sudah terlanjur ada ini dari pada jadi bahan rongsokan di dalam negeri, ini harus diselesaikan, dikeluarkan, apa bentuknya. Karena kemarin ada yang sudah dalam tahap OR dan, dan ada dalam tahap metalurgical grade. Kalau ini bisa dikeluarkan kemudian kita tutup lagi celah ini dan kemudian diatur di tingkat undang-undang dan seterusnya sampai dengan smelter ini siap.

Saya kira ini beberapa hal yang bisa saya sampaikan Pak Pimpinan. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bu Mercy.

Selanjutnya kami persilakan, Pak Yulian sudah masuk? Belum ya. Pak Tony juga belum. Silakan langsung ke Pak Harry Poernomo.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (Ir. H. HARRY POERNOMO):

Terima kasih Pimpinan.

Saya singkat saja. Dari tadi saya pelajari isu yang panas adalah smelter. Saya ingin mengajak baik Pak Dirjen dan kawan-kawan juga, rekan-rekan yang saya hormati anggota Komisi VII, coba kita berpikir yang out of the box, saya yakin pembangunan smelter ini sangat visible oleh karena itu kenapa kok kita tidak pernah terpikir kalau memang ini visible, tujuannya baik, memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, kita invest-lah melalui BUMN kita, Aneka Tambang atau siapapun. Kalau perlu kita create perusahaan publik kita jual saham ke publik membangun smelter, apakah itu nikel, apakah itu bauksit, apakah itu tembaga, emas, dan sebagainya. Kita kaji studi kelayakannya. Kalau banyak tambang bauksit ya dipilih lokasi yang strategis. Katakanlah kalau Freeport kita bangun saja smelter di Timika. Aneka Tambang yang invest atau pemerintah yang invest. Kalau ini dipikir

visible kenapa bukan kita yang bangun, kenapa harus mereka. Karena

bagaimanapun orang usaha itu pasti akan mencari celah kelemahan dan biasanya birokrat kita sangat lemah dalam hal negosiasi. Oleh karena itu, tolong dipikirkan mumpung sekarang pemerintah ini fokus kepada infrastruktur apa salahnya kalau infrastuktur untuk pertambangan ini juga masuk program-program itu. Tolong jadikan kajian ini. Sudah kita bangun sajalah. Berapa sih biaya smelter? Kalau visible berapapun investasinya uang kembali, fine.

Yang kedua dari paparan Pak Dirjen ini sangat tidak informatif. Buat saya tidak ada artinya jumlah smelter yang selesai, ini progress atau pun belum ada

progress sama sekali. Tolong dilengkapi in terms of capicity dari tiap smelter ini

(26)

26 produksi masing-masing. Karena dari situ kita bisa melihat mereka itu bangun smelter hanya sekedar memenuhi syarat atau kau betul-betul akan memenuhi harapan kita untuk menaikan nilai tambah. Jangan sampai membangun smelter ini hanya untuk syarat saja mendapatkan izin ekspor. Oleh karena itu, tolong dilengkapi. Mungkin bagi Pak Dirjen dan kawan-kawan atau mungkin rekan-rekan yang saya hormati Anggota Komisi VII yang sudah pengalaman duduk di sini sudah paham smelter mana yang in progres, selesai atau sama sekali tidak. Oleh karena itu tolong dilengkapi dalam satuan kapasitas. Contoh sajalah katakan smelter dari mana Vale atau mana tadi saya kurang paham apakah betul-betul mereka membangun unit smelter yang sesuai dengan kapasitas penambangan mereka. Kalau di bawah kapasitas kabur tidak ada artinya. Oleh karena itu, sekali lagi saya yakin bangun smelter ini sangat visible, kalaupun ada 10 penambang bauksit kita tidak perlu membangun 10 smelter, cukup saja diambil satu lokasi di mana yang paling dekat dengan lokasi-lokasi tambang. Karena di manapun lokasi smelter tetap akan visible karena mereka mengekspor bahan mentah ke luar itu juga visible. Katakanlah bauksit diekspor ke Cina masih visible. Kalau dibangun di Kalimantan, di Sulawesi pasti akan lebih visible. Karena transport cost-nya akan lebih rendah. Ini sekedar saya ingin memancing saja kita berpikir yang lebih cerdaslah, kita sudah capek pemerintah selama ini hanya berwacana saja. Alhasil buntutnya melanggar aturan yang kita sepakati. Kita revolusi mental, berpikir yang lebih cerdas, tapi jangan revolusi mental seperti yang tadi kita apa, revolusi mental dalam rangka fit

and proper test Kapolri.

Itu saja Pak Dirjen. Dan mudah-mudahan kawan-kawan yang saya hormati juga sepakat, kita bangun smelter sendiri melalui BUMN atau perusahaan swasta lain yang kita bentuk. Kita buka perusahaan publik, kalau perlu kita-kita punya saham di situ, seluruh rakyat Indonesia, karena tambang ini kekayaan rakyat. Tidak ada salahnya kalau anggota DPR juga ikut invest sebagai perusahaan publik, apa yang salah?

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Harry.

Selanjutnya kami persilakan Pak Aryo.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (ARYO P.S. DJOJOHADIKUSUMO):

Terima kasih Pimpinan. Bapak Dirjen dan jajaran,

(27)

27 Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan, pertama-tama ada dua pihak yang oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 terkena kewajiban melakukan pengolahan dan pemurnian mineral. Pertama yang oleh Pasal 103 secara langsung diwajibkan melakukan pemurnian dan pengolahan yaitu pemilik IUP, IUPK dan lain-lain. Pihak kedua yang diberi waktu hingga tahun 2014 untuk melakukan pemurnian yaitu para pemilik kontrak karya. Melalui ketentuan Pasal 170 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009. Pertanyaan saya yang pertama, prakteknya negara dirugikan karena pihak pertama yaitu pemilik IUP dan IUPK hingga kini tidak melaksanakan kewajiban pemurnian dan pengolahan. Nah bagaimana pengawasan Dirjen Minerba selama ini. Yang kedua di mana fungsi pengaturan yang diemban oleh Dirjen Minerba terhadap pihak kontrak karya yang hingga tahun ini tahun 2015 belum seluruhnya melaksanakan pemurnian. Bahkan di tahun 2010 ada ketidakkonsistenan eksekutif dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 yang hanya mewajibkan pemurnian dilakukan oleh pihak IUP dan IUPK. Pemilik kontrak karya dikecualikan dari kewajiban tersebut, dan hanya diwajibkan mengutamakan kebutuhan dalam negeri. Peraturan pemerintah ini melanggar undang-undang, kalau tidak salah ini sudah sempat disebut, disinggung oleh Pak Ramson pada kemarin pada waktu rapat dengar pendapat umum dengan Asosiasi Pengusaha Bauksit, peraturan pemerintah ini melanggar undang-undang. Terkait itu, bagaimana sebenarnya sikap dan pandangan pemerintah saat ini terhadap kewajiban undang-undang itu. Kami ingin tahu nanti peraturan pemerintah berikutnya seperti apa.

Pertanyaan saya yang ketiga hingga sekarang belum ada peraturan yang jelas dan terang mengenai batas atau persentase kadar produk mineral olahan dan/atau yang telah dimurnikan. Padahal menurut Pasal 6 ayat (1) butir c pemerintah wajib membuat standar nasional dan kriterianya. Hal ini jelas mencederai prinsip kepastian hukum yang harusnya dijunjung oleh Indonesia sebagai negara yang berdasarkan hukum sesuai oleh Undang-Undang Dasar 1945. Sejauh mana upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk memperjelas hal tersebut.

Pertanyaan saya yang berikut, ada diskriminasi antara pemegang kontrak karya dimana peraturan pemerintah, maaf Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 menyatakan untuk mineral bukan logam dan mineral batuan ekspor dapat dilakukan setelah melakukan pengolahan. Tapi untuk mineral logam ekspor hanya boleh dilakukan setelah diolah dan dimurnikan, padahal Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 berlaku untuk seluruh mineral logam, bukan logam dan batuan. Dalam hal ini, bagaimana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melakukan fungsi

regulatory. Pertanyaan saya yang berikut mengenai Domestic Market Obligation, di

migas ada batas DMO sebesar minimal 25 persen, saya ingin tahu apakah ada batas DMO dalam mineral dan batubara, tolong dijelaskan secara jelas di sini. Dan pertanyaannya saya yang terakhir bagaimana kelanjutan pemerintah mengupayakan adanya realisasi divestasi, contohnya untuk Freeport, karena yang setelah saya

(28)

28 baca di presentasi Bapak di halaman 4 isu strategis renegosiasi nomor 5 adalah kewajiban divestasi. Ini bagaimana kelanjutannya dan kejelasannya sampai saat ini tolong dijelaskan.

Terima kasih. Sekian saja Pimpinan.

KETUA RAPAT: Terima kasih.

Selanjutnya silakan Pak Totok.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (H. TOTOK DARYANTO, S.E.):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama soal yang terkait dengan smelter, saya ingin menyampaikan tanggapan bahwa sebenarnya memang saya melihat sampai sekarang ini belum ada data-data yang akurat, dan pemerintah itu belum optimal di dalam melakukan langkah-langkah supaya smelter itu bisa dilaksanakan di seluruh pertambangan kita sesuai dengan undang-undang. Kami ingin supaya pemerintah melakukan kajian terhadap setiap jenis-jenis pertambangan berkaitan dengan perintah undang-undang. Itu kalau, jadi kalau kita mencari solusi apapun juga tentunya itu harus punya data-data yang akurat kita jangan hanya mau menerima satu sisi saja, misalnya adanya keberatan dari asosiasi atau dari pelaksana di bidang pertambangan terhadap hal-hal yang dianggap itu tidak tidak menguntungkan dalam, tidak visible di dalam membangun smelter milsalnya. Karena perlu juga itu misalnya diungkapkan bahwa sebetulnya selama ini para pengusaha-pengusaha pertambangan itu sudah menikmati kekayaan alam Indonesia ini sudah terlalu lama dan ibaratnya perutnya sudah terlalu gendut, tapi mengabaikan tanggung jawabnya ketika undang-undang memerintahkan seperti itu. Ini kan sudah lima tahun yang lalu. Komisi sudah mengingatkan berkali-kali, pemerintah juga ya menurut saya kurang, kurang di dalam pengawasannya juga, sehingga pada akhir 2014 itu terjadilah semacam pendadakan seperti itu. Maka, yang penting sekarang stop tidak boleh lagi ada ekspor.

Nah, jadi dan juga kami tidak menyarankan bahwa pemerintah membangun smelter, undang-undangnya tidak memerintahkan pemerintah itu, undang-undang memerintahkan bahwa yang diekspor itu harus sudah dimurnikan, diolah dan dimurnikan. Soal yang punya smelter pemerintah atau swasta, apakah pihak

(29)

29 penambang itu sendiri, itu persoalan lain, tapi sebenarnya menurut saya tidak, tidak adil malahan, kalau pemerintah sekarang dituntut harus membangun smelter, tidak adil. Wong yang menikmati kekayaan bukan pemerintah, pemerintah kan menerima pajaknya saja, justru sekarang banyak kerusakan lingkungan yang menjadi beban pemerintah, mengapa harus sekarang pemerintah yang harus membangun smelter. Menurut saya tidak bisa begitu. Tapi bahwa pemerintah harus mengambil tanggung jawab, mengkordinasikan, mendorong, membuat regulasi-regulasi, supaya akhirnya bisa teralisir ya itu memang yang harus dilakukan. Jadi saya tidak menyarankan, tidak menganjurkan, pemerintah membangun smelter. Tapi kalau pemerintah itu mengundang investor-investor supaya mau, lah itu memang tugas pemerintah, apakah diberikan insentif, apakah diberikan kemudahan lainnya supaya mereka mau bangun smelter di Indonesia. Tapi intinya bahwa pembangunan smelter itu harus dilaksanakan dan kita dorong supaya pemerintah mempunyai kajian-kajian dan data-data yang akurat di setiap sektor pertambangan yang berkaitan dengan smelter.

Kemudian yang terkait dengan pemilik IUP dan yang kontrak karya yang PKP2B, memang persoalannya bagi yang kontrak karya, Indonesia ini sudah diikat di dalam perjanjian kontrak karya itu dimana ketika undang-undang diputuskan itu tidak ada dalam kontrak karyanya, mestinya nanti pada renegosiasi dan juga ketika ketika kontraktor-kontraktor ini yang melakukakan kontrak karya, investor yang melakukan kontrak karya kepada kita itu meminta perpanjangan-perpanjangan ini harusnya dikaitkan Pak. Jadi bagaimana para investor itu harus, para pelaku pertambangan besar ini dia harus terikat dengan undang-undang di Indonesia. Di kontraknya harusnya dicantumkan. Kita ini sebetulnya ya saya tidak tahu, dulu ini yang buat kontrakkan dulu, sebetulnya agak aneh bahwa negara ini berkontak dengan perusahaan asing, dan kita sudah tidak ada klausul lain untuk mengikuti itu, kalau tidak, kita digugat di abritase internasional, biasanya kita kalah. Nah, itu sebenarnya problemnya untuk membangun smelter untuk yang kategori kontrak karya. Tapi saya lihat ada beberapa perusahaan yang nampaknya sudah mulai condong untuk mau melaksanakan karena mereka tahu bahwa mereka, karena mereka punya kepentingan mereka mau memperpanjang. Untuk itulah, kami sangat-sangat menghimbau, sangat-sangat mengingatkan atau lebih keras lagi, apa ya namanya, meminta atau setengah memaksa pemerintah jangan mudah-mudah memberi perpanjang. Ingat begini, rapat kerja ini, ini bukan rapat kerja ya, RDP ini ada usulan dari komisi jangan mudah-mudah memperpanjang kontrak karya kalau tidak dikaitkan dengan satu ketaatan kepada Undang-Undang di Republik Indonesia. Kedua, mau mereka membangun smelter sesuai dengan undang-undangnya sudah berjalan. Jadi di kontrak sini harus dicantumkan bahwa kontrak ini terikat dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Itu harus ada, setiap kontrak karya harus begitu Pak, kalau tidak, biasa pemerintah ini lemah. Saya juga heran, pemerintah biasanya kalau negosiasi pasti lemah, akhirnya manut-manut saja. Padahal mestinya itu sudah, kalau tidak mau ya tidak apa-apa walaupun investor itu diundang di Indonesia, macam-macam supaya kita membuka lapangan kerja dan lain-lain, pertumbuhan ekomoni dan lain-lain ya itu okelah semuanya, tapi jangan menyepelekan hal yang seperti itu dan jangan mudah kita ini ditekan. Jadi biasanya

(30)

30 ini kita lemah dalam negosiasi selalu mengikuti saja dan memberikan alasan bahwa

wah ini kan kita lagi lagi mencari hati dari para investor supaya senang di Indonesia,

kita lagi membuat iklim investasi yang kondusif di Indonesia. Itu sebetulnya menurut saya pikiran-pikiran kuno yang harus ditinggalkan, karena pada akhirnya nanti orang itu yang dilihat adalah pada kontrak.

Jadi catatan saya adalah ketika kita akan melakukan perpanjangan-perpanjangan kontrak bagi pemegang PKP2B dan kontrak-kontrak yang lainnya itu harus ada ketentuan mau tunduk pada undang-undang, peraturan perundang-undangan di Indonesia. Jadi kalau ada undang-undang baru beda dengan kontrak bukan kontraknya merasa tidak terikat gitu loh. Kan sebenarnya yang sekarang terjadi kan kontrak merasa tidak terikat, karena kontrak itu punya posisi hukum yang lebih tinggi antar-pihak. Jadi dia tidak mau terikat dengan undang, undang-undang kan mengatur setelah kontrak dibuat, tidak berlaku surut dan lain sebagainya. Tapi kalau di dalam kontrak sudah dicantumkan bahwa dia terikat dengan seluruh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia dengan sendirinya setiap ada perubahan undang-undang kontrak ini menyesuaikan.

Jadi itu catatan saya selain, apa, selain soal smelter itu akan sungguh-sungguh di setiap jenis pertambangan itu pemerintah melakukan kajian maupun juga kontrol yang ketat supaya itu benar-benar terlaksana tapi terutama terhadap kontrak-kontrak karya terutama ketika ada perpanjangan pemerintah harus dengan tegas mengikutkan aturan yang tadi kita sarankan itu.

Demikian usul saya. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Sudah ya Pak Totok?

Karena Pak Tony sudah masuk, silakan Pak.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (TONY WARDOYO):

Terima kasih Pimpinan.

Ini kami hanya melanjutkan apa yang tadi saya titip dengan Bu Dewie untuk Pak Dirjen dan Pak Direktur Pembinaan Mineral, Pak Eddy, jadi kami sangat mengharapkan Pak, untuk mengenai perjanjian pemerintah dengan PT. Freeport Indonesia jangan dulu diperpanjang izin kontrak karyanya sebelum dia membangun

(31)

31 smelter di Papua. Ini pesan dan amanat dari masyarakat Papua. Karena nanti berkendala kalau ini diabaikan, akan berkendala di mengenai penggalian tambangnya di sana. Kan sifat masyarakat sana kan tahu sendiri Pak, ini kan kebetulan di tanah ulayat, bukan tanah negara Pak, mereka ini adalah mengambil tambang emas di tanah ulayat, di tanah hak milik suku mereka. Hanya itu pesan kami. Jadi tolong dilibatkan juga pemerintah daerah dalam hal ini suku mereka, gubernur, kepala provinsi, karena ini ada titipan amanat dari beliau. Biar dilibatkan, Gubernur Papua, kabupaten-kabupaten yang terkait di sekitarnya seperti Kabupaten Mimika, Kabupaten Puncak, karena ini yang berhubungan langsung dengan tanah ulayat asal usul nenek moyangnya Pak.

Itu saja pesan kami. Ini amanat rakyat. Terima kasih. Kami serahkan Pimpinan.

KETUA RAPAT: Terima kasih.

Tinggal Pak Yulian, sudah masuk? Tidak ada ya.

Pak Airlangga bagaimana?

Kalau begitu karena seluruh anggota sudah menyampaikan pertanyaan dan pendalaman. Oh ada ya?

ANGGOTA FRAKSI PARTAI INDONESIA PERJUANGAN (Ir.H. DARYATMO MARDIYANTO):

Sebelah kiri kalau boleh Pak?

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Daryatmo, memang tidak kelihatan tadi Pak. Baru masuk Pak ya. Kelihatannya negosiasinya agak, silakan Pak.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (Ir.H. DARYATMO MARDIYANTO):

Referensi

Dokumen terkait

F-PDIP (MINDO SIANIPAR): Terima kasih Bapak Ketua. Pak Sekjen serta para Dirjen yang saya hormati. Mungkin gak ya kita dalam membuat rancangan itu ada pemilahan yang jelas

Yang saya hormati Bapak Sekjen, Bapak Irjen, dan seluruh pejabat Esleon I Kementerian Pertanian. Dari paparan-paparan yang sudah disampaikan tadi, baik oleh Bapak

Komisi II DPR RI menyetujui penggunaan kembali belanja penghematan tahun 2011 sebesar Rp163.052.191.000,- (seratus enam puluh tiga miliar lima puluh dua juta

Terima kasih atas pertanyaannya yang memang sangat relevan dengan kondisi seperti sekarang ini. Kalau boleh kami bagi gitu Pak pertanyaannya ke dalam berapa hal. Karena ada

Terima kasih tadi atas paparannya yang diberikan cukup komprehensif, namun demikian ada beberapa pendalaman yang ingin saya lakukan. Kita tahu bahwa sejauh ini

Ini mungkin saya ingin menyampaikan karena kondisi rapatnya tidak kuorum dari mitra kita maka saya mengusulkan rapat untuk ditunda minggu depan dan kami minta kepada Ibu Dirut

Kalau saya melihat, bahwa salah satu penentu efektivitas konvensi ini adalah pada seberapa besar kepentingan pengorganisasian hal-hal yang terkait dengan counter

Bapak Ibu sekalian, Bapak kepala dengan mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya karena Fraksi-fraksi ingin laporan yang lebih komplit untuk dibicarakan lebih lanjut, oleh