Ada, begitu Undang-Undang 23 keluar harus di-adjust. Undang-undang kaitan dengan kewenangan.
PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA)
Baik, ada pemikiran. Lalu targetnya kira-kira kapan akan draft itu akan bisa masuk ke kita kalau itu inisiatif pemerintah, supaya kitanya siap-siap itu.
DIRJEN MINERBA :
Nanti kalau Raker dengan Pak Menteri akan ditanya itu.
PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA)
Yang kedua, itu terkait dengan Permen. Kaitan Permen dengan Undang-Undang Nomor 4. Kita tahu bahwa para ahli hukum mengatakan bahwa peraturan perundangan yang lebih bawah kalau bertentangan dengan yang di atasnya maka itu apa yang disebut batal demi hukum, jadi langsung batal. Dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dikatakan bahwa pemerintah dapat melakukan mengeluarkan kebijakan dengan berkonsultasi dengan DPR, kata kuncinya dengan berkonsultasi dengan DPR, tanpa berkonsultasi dengan DPR maka pemerintah tidak dapat mengeluarkan kebijakan untuk kepentingan nasional. ayat (2)-nya mengatakan kebijakan yang dimaksud itu adalah kewajiban tentang pembatasan ekspor. Pertanyaan saya terkait dengan Permen, Permen itu mengatur kebijakan pembatasan ekspor, pertanyaan saya, karena saya sudah tanya ke
incumbent atau mantan yang lama ini apakah sudah dikonsultasikan itu mengenai
kebijakan itu dengan DPR, ternyata tidak atau belum. Sedangkan itu Permennya itu sudah keluar. Jadi kalau orang ahli hukum menyatakan Permen itu bisa dicap batal demi hukum. Bahasa lain, ya bahasa lainnya begitu. Bahasa ahli hukumnya batal demi hukum.
ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (Ir. H. AIRLANGGA HARTARTO, M.M.T, M.B.A.):
Sebentar sedikit Pak.
Mengenai Permen itu sebetulnya dalam undang-undang kita yang mengatur dan konsultasi dengan DPR itu PP Pak. PP, Perpres, Keppres. Tapi yang terkait dengan Permen memang beda itu, level hukumnya beda itu.
38 PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA)
Artinya kan begini ini undang-undang, ini PP, ini permen, undang-undang mengatakan harus konsultasi, PP-nya apa ini mengatakan, begitu di sini di bawah tidak ada itu, jadi ada sesuatu. Saya kan DPR itu fungsinya antara lain dalam segi legislasi dan mengawalnya karena kita di sini yang membuatnya gitu, jadi ini yang kita-kita anukan ini-ini-ini bagaimana gitu.
Lalu yang berikutnya adalah tindak lanjut daripada IUP yang tidak CNC. Masalah IUP yang CNC ini setelah Desember 2014 menjadi perhatian banyak pihak karena itu batas waktu dan itu harus di kembalikan ke negara, negara nanti akan masukan kepada apa-apa cadangan nasional atau apa, tapi begitu dikembalikan pasti menjadi perhatian banyak, banyak pihak itu. Nah, tindak lanjut sudah disampaikan di sini meminta gubernur, walikota untuk mencabut IUP yang non CNC. Pertanyaannya kalau gubernur atau bupati tidak mau mencabut apa, mau apa? Apakah ada sanksi? Karena kalau meminta ya tergantung yang diminta. Tetapi yang kita perlukan adalah kepastian hukum. Kalau seandainya tidak maka apa, dan adakah batas waktu misalkan kita mempunyai landasan hukum mereka harus melakukan per tanggal sekian harus sudah ini, kalau tidak maka bla-bla. Ini yang penting. Jangan sampai selesai masalah CNC yang katakanlah cukup anu, cukup merepotkan, masuk ke masalah baru, masalah yang disuruh gubernur dan bupati mencabut. Ini sebetulnya bukan masalah sulit ini Pak Dirjen, tapi sangat sulit. Bukan sulit tapi sangat sulit. Karena sangat tergantung. Nah pertanyaannya adalah itu.
Lalu yang terakhir, last but not least, kita mengingatkan untuk kebijakan-kebijakan di sektor energi termasuk di mineral batubara, karena ada batubaranya, yang paling penting bahwa kebijakan itu harus konsisten dan tidak zig-zag, gitu. Itu yang harus harus. Karena energi ini sangat berkaitan dengan hajat hidup dan menjadi perhatian banyak pihak. Konsistensi adalah sangat penting. Terkait dengan ini maka saya ingin mendapatkan penjelasan konsistensi dulu mungkin Pak Dirjen masih ingat ada kebijakan mengenai pembangkit listrik mulut tambang. Jelas kebijakannya itu, ini begini, begini, begini, begini. Lalu tiba-tiba dikeluarkan lagi yang belok tidak sama. Semacam ini bagi sektor energi itu cost-nya sangat besar bagi negara. Investor jadi tidak masuk, dan yang sudah masuk yang tadinya tidak mengerti jadi bingung. Ini yang, nah yang semacam itu yang pembangkit listrik mulut tambang yang berubah tiba-tiba belok kayak supir bajaj tidak kasih sign, gak kasih aba-aba, belok saja begitu, bagaimana ini? Ini masalah-masalah kebijakan energi bukan hanya kebijakan yang ya katakan mulut tambang ini kebijakan energi dan itu terkait dengan listrik. Itu yang mengakibatkan sampai sekarang itu ketahanan listrik kita masih sangat-sangat memprihatinkan.
39 KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak,
Pak Kardaya Itu pertanyaan dari mantan Dirjen Pak, pasti lebih banyak tahunya Pak.
Silakan Pak Satya.
WAKIL KETUA KOMISI VII DPR RI (Ir. SATYA WIDYA YUDHA, ME, M.Sc./FRAKSI PG):
Terima kasih Pimpinan.
Bapak/Ibu sekalian Anggota Komisi VII yang saya hormati, Pak Dirjen beserta jajarannya,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jangan tadi disinggung-singgung apa yang pernah terjadi di Komisi VII masa lalu atau paling tidak periode sebelumnya. Saya ingin memberikan penjelaskan paling tidak ada memang ada beberapa yang tidak, tidak terakomodasi dengan baik. Jadi kita masih ingat bahwa menteri saat itu selalu mengasumsikan bahwa dispensasi diberikan asal tidak ore, itu diucapkan berkali-kali. Dan pada waktu itu saya sudah mengatakan bahwa di Pasal 106 itu clear sekali pemurnian dan pengolahan. Jadi ada dan-nya. Sehingga argumentasi pemerintah waktu itu karena apa, sudah berubah ore, bukan ore, tetapi tidak dimurnikan pengolahannya yang dtingkatkan itu sudah dianggap bisa menjadi dispensasi. Waktu itu saya mengatakan bahwa karena ini dilanggar seharusnya pemerintah mengeluarkan Perpu. Karena Perpu hanya satu-satunya cara dimana ada urgensi dari pada pemerintah saat itu menyangkut mengenai pendapatan yang tadi disinggung oleh Pak Airlangga ya pendapatan kita, PNBP kita dari sisi mineral dan batubara.
Tidak tercapainya nilai itu juga faktornya banyak, karena pada waktu saya di Badan Anggaran saya sudah menanyakan juga kenapa kok nilainya sedikit. Waktu itu dipengaruhi oleh harga batubara dan juga mineral yang kurang menguntungkan. Lantas kita minta supaya dicantumkan volume karena dengan volume bisa kelihatan peningkatan produksinya, karena kalau dikorelasikan menjadi US Dolar itu tegantung daripada fluktuasi harga mineral waktu itu. Tapi itu sudah menjadi pengamatan DPR, jadi bukan sesuatu yang over look seakan-akan kita tidak mengamati sisi itu, tidak. Nah permasalahan yang muncul Pak, ini kan sudah ganti rezim, jadi saya rasa, saya meminta supaya Pak Menteri yang sekarang juga diingatkan ini ada masalah, ada flaws ini sebetulnya di dalam penerapan daripada undang-undang ini. Ya dengan dikeluarkannya yang tadi dikatakan Permen dan lain sebagainya itu kan menganulir secara tidak langsung Pasal 106, itu sudah fakta
40 sudah. Tetapi kita kan tertutupi saat itu karena perlunya tambahan revenue daripada negara. Jangan sampai nanti kita ini stuck dan sebagainya, argumentasinya banyaklah dari para pengusaha agar diberikan dispensasi. Nah celakanya Pak, bahwa dispensasi yang kelihatan nyata itu dinikmati hanya oleh Freeport dan Newmont. Nah, ini yang membuat kemarin Asosiasi Bauksit mengatakan kenapa kita tidak diperlakukan yang sama tapi justru ada satu keputusan yang men-stop. Nah, ini maksud saya dalam rangkaian peristiwa, rangkaian implementasi dari pada regulasi ini yang menurut saya perlu menjadi catatan pemerintah sehingga nantinya jangan sampai ada hal-hal yang merasa tidak sama padahal dia juga mempunyai niatan untuk berkontribusi terhadap pendapatan negara sementara skenario negara untuk membikin smelter, untuk membikin tahapan-tahapan termasuk apakah pelibatan daripada BUMN di masa yang akan datang akan masuk, keterkaitan PIP di Departemen Keuangan mendanai sebagian daripada pembangunan kalau itu menjadi inisiatif daripadai pemerintah yang membangun smelternya sendiri. Nah ini kan mesti terpadu semua. Nah ini yang repotnya Komisi VII melihatnya sebagian, Badan Anggaran melihatnya lebih kepada nilai. Ya lantas tidak ada satu perpaduan yang menurut saya menjadi ini tidak nyambung gitu di dalam skenario besar tadi. Nah ini menurut saya Pak Dirjen, karena sekali lagi karena ini rezimnya sudah baru supaya hal-hal seperti ini dibuka saja gitu, karena kalau tidak nanti ini dianggap ini menjadi cacat hukum dan lain sebagainya gitu, padahal sudah jelas kita di pasal penjelasan dalam Undang-Undang Minerba kita juga tidak jelas, pengolahan itu sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan pengolah, mulai daripada grading-nya juga tidak dijelaskan. Nah ini yang kemarin coba diterjemahkan oleh pemerintah melalui permennya. Kan begitu, kan untuk menjustifikasi supaya ini sudah bukan ore lagi ini, tapi sudah sesuatu yang terolah, sehingga bolehlah mereka mengekspor. Nah ini yang menurut saya mesti di-clear-kan betul supaya nanti di dalam perjalanannya kita paling tidak cacat hukum. terus yang kedua kita bisa mengimplementasikan dengan baik.
Nah, yang terakhi yang dari saya, ini mohon Pak Dirjen juga membuka saja di sini bahwa tidak lama lagi akan ada penandatanganan. Itu paling tidak informasi yang saya peroleh ya kesepakatan dengan Freeport. Ini jangan sampai nanti penandatanganan-penandatanganan itu tidak dijelaskan paling tidak kepada DPR, sampaikan saja begitu. Karena jangan sampai nanti mereka sudah teken Menterinya baru ke sini dan mengatakan bahwasanya ini begini, begini, begini. Ini kan sudah terbuka sekali. Pak Dirjen sudah memberikan guideline di dalam presentasinya apa sih content daripada renegosiasi, item mana yang sebetulnya Freeport itu keberatan, item mana yang pemerintah memaksa supaya itu harus diturutin. Itu kan sebetulnya sudah menjadi domain publik. Tetapi kalau itu nanti tidak dijelaskan kalau dalam waktu dekat betul-betul memang akan dilaksanakan penandatangan atau peningkatan ilmu yu menjadi ikatan persetujuan yang apalagi dikaitkan dengan perpanjangan kontrak mereka ini kan menjadi hal yang menurut saya harus terbuka, harus transparan Pak. Karena kita tidak menginginikan nanti apa yang dilakukan oleh pemerintah itu tidak berkomunikasikan dengan kita atau kita dianggap cuma
41 post mortem aja sudah kejadian baru sampai kepada kita. Nah ini yang mohon kalau bisa pada kesempatan sore hari ini bisa disampaikan. Itu saja dari saya.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Sebelum saya lanjut Pak, saya sudah kelupaan hampir satu jam ini Pak. Sudah jam 16.00 WIB. Jadi kita sepakati sampai jam berapa Pak, tambahan?
Pukul Jam 16.15 ya? Pukul 16.15 ya kita tambah waktu ya, setuju ya?
(RAPAT : SETUJU)
Terima kasih.
Tadi sudah dari meja Pimpinan Pak Satya, Pak silakan, dari meja Pimpinan
WAKIL KETUA KOMISI VII DPR RI (Dr. H.M. ZAIRULLAH AZHAR/F-PKB): Terima kasih.
Sebelumnya mohon maaf karena tadi ada tugas lain.
Pimpinan dan Anggota Dewan Anggota Komisi VII yang kami hormati, Pak Dirjen dan rombongan,
Kemarin kami reses ke Kalsel, kami dapat kasus PKP2B itu di Tanjung itu ada Adaro itu melakukan kegiatan itu menggusur enam sekolah, SD dan SMP dan desa itu. Kemudian masyarakat memang ikut saja. Tapi kemudian ada yang memberikan laporan ke DPR provinsi. DPRD situ membentuk Pansus. Kemudian mereka mau masuk dari lokasi itu di tutup. Mereka tidak bisa masuk. Jadi ini satu kasus yang mohon mendapat perhatian.
Kemudian yang kedua kami mensinyalir setelah ada kesulitan ekspor batubara sekarang ini, itu ada PKP2B yang bermitra kemudian produksi tambang itu dibuatkan surat kirim IUP, IUP daerah. Persoalannya kami melihat di sini ada
42 masalah di royalti, kalau PKP2B kan 13,5 persen, sedangkan daerah ini tentu tergantung kalori. Nah ada selisih banyak ini, selisih banyak ini. Nah, mohon ini bisa juga menjadi perhatian kita.
Kemudian yang ketiga diekspos tadi tentang luas wilayah untuk PKP2B, kalau tidak salah kayak Arutmin itu 30.000 lebih yaluasnya, ini kasus saja contoh, lalu selama 15 tahun, 20 ini mereka bisa melakukan operasi tidak, mungkin sekitar 6.000, mungkin data saya salah Pak. Nah, persoalannya kita tidak tahu sisa ini kapan mereka lanjutkan, sementara masyarakat sebagai pemilik lahan ini minta supaya ada kejelasan. Ada hubungan juga dengan religius ya, ini mungkin di Undang-Undang Pertambangan yang 2004 saya kira juga ada, ini kira-kira bagaimana ini pelaksanaannya.
Kemudian yang keempat ada juga kasus juga PKP2B Indoabara, Pak, ini melakukan penambangan di sebuah kampung gitu ini tanah rakyat sudah digusur kebun-kebunnya, tetapi hak kompensasi kepada masyarakat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pertambangan itu mereka tidak diberikan. Ada surat sebenarnya, tapi belum sempat kami sampaikan kepada Ketua.
Ini beberapa hal yang menurut kami perlu menjadi perhatian.
Kemudian yang batas CNC tadi, kami tidak melihat di Kalsel itu ada, kecuali Kaltim yang ada pencabutan hilir ya. Di Kalsel saya lihat belum terdata di sini.
Ini saya kira ini beberapa hal yang kami tambahkan. Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT: Terima kasih.
Sudah semua menyampaikan.
Silakan kalau ada Pak Kurtubi silakan.
ANGGOTA FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT (DR. KURTUBI, S.E., M.Sp., N.Sc.):
Ya terima kasih Pak Ketua.
Ini maaf saya terlambat karena ada acara. Nama saya Kurtubi, Nomor Anggota 26, Dapil Nusa Tenggara Barat, Fraksi Partai Nasdem.
43 Saya ingin menanyakan beberapa hal pertama terkait dengan Undang-Undang Minerba yang banyak sekali kelemahannya, tadi sudah diutarakan beberapa kelemahannya, tapi pada kesempatan ini saya juga akan memaparkan kelemahan sistem IUP (Izin Usaha Penambangan). Kita sudah lihat dampak negatifnya luar biasa, otoritas mungkin terlalu besar diberikan kepada bupati, sementara sistemnya di tingkat kabupaten itu belum meyakinkan begitu. Ada kasus tumpang-tindih lahan, lalu perkara Camber Line, apa, tidak tahu sampai dimana, pemerintah yang dituntut ya. Menurut pendapat saya adalah perbaikan Undang-Undang Minerba, mungkin evaluasi IUP ini perlu dilakukan secara tajam untuk dilakukan perubahan rezim IUP. IUP ini mirip sekali dengan konsesi zaman kolonial ya. Di dalam Undang-Undang Pertambangan zaman kolonial. Konsesi itu diberikan kepada perusahaan, yang memberikan konsesi adalah pemerintah kolonial, penerima konsesi itu berkuasa penuh atas wilayah itu, khusus menyangkut operasi pertambangan, berkuasa penuh produksi, cost, penjualan, produksi dan seterusnya, yang penting bayar royalty sama pajak. Royaltinya sangat-sangat rendah, untuk emas satu persen di kontrak karya yang kemarin juga sampai sekarang satu persen mungkin sekarang menjadi 3,75 begitu yang amat sangat rendah. Ini salah satu faktor mengapa penerimaan negara PNBP dari sektor pertambangan kita ini amat sangat rendah. Jadi kalau di total penerimaan negara dari pajak pertambangan PN plus PNBP pertambangan enggak sebanding dengan tingkat produksi sama tingkat ekspornya. Tidak sebanding
banget. Penyebabnya antara lain royalti yang sangat rendah meskipun batubara
sudah 13,5 dibanding sistem produksi sharing contract di perminyakan ya negara memperoleh pajak dari migas, PNBP dari Migas digabung dibikin prosentase terhadap nilai produksi relatif jauh di atas sektor pertambangan kita. Jadi saya cenderung berpendapat IUP-nya yang kita sempurnakan dalam Undang-Undang Minerba yang akan datang dimana orientasinya bagaimana penerimaan negara harus di tingkatkan ya. Lebih-lebih di Undang-Undang Minerba sedikit berbeda dengan di Migas, di Minerba ini masalah ownership, kepemilikan atas proven
reserve batubara, emas, perak, tambang itu yang memiliki itu siapa? Kalau di Migas
disebutkan milik negara, baru menjadi milik kontraktor setelah di pelabuhan tujuan atau di titik serah. Ya milik negara disebut. Di Minerba tidak disebut milik siapa
proven reserve ini, yang di perut bumi atau yang sudah diproduksikan di atas
permukaan bumi.
Nah bagian-bagian yang sangat-sangat penting yang masuk dalam hal-hal yang perlu di dalam perbaikan Undang-Undang Minerba ke depan. Kami mengharapkan pihak pemerintah ikut memikirkan ini agar kita tidak melanggar konstitusi, karena konstitusi mengatakan kekayaan di perut bumi itu dikuasi negara, dimiliki negara ya.
Lalu lebih spesifik pertanyaan saya sampai sejauhmana divestasi newmont PTNT yang sasarannya 51 persen, sampai dimana? Saya kebetulan Dapil ini Nusa Tenggara Barat ya.
44 KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Semuanya sudah menyampaikan.
Terkait dengan pemaparan yang disampaikan oleh Saudara Dirjen tadi mungkin ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan Pak Dirjen, walaupun ini catatan periode yang lalu, tapi ini masih 2014 ini ada Panja Minerba ya. Saya sampaikan supaya diingat kembali dan juga diketahui oleh kita semua kesepakatannya. Pertama adalah Dirjen Minerba untuk mengoptimalkan target PNBP Tahun 2014 yang disebutkan tadi Rp.39.665.000.000.000. Yang tadi disampaikan oleh Pak Airlangga baru tercapai 35 Pak ya. Ini sudah kesepakatan dengan pemerintah. Kemudian juga mendesak Dirjen Minerba untuk menyampaikan potensi produksi, pajak dan PNBP dari sektor Minerba tahun 2015 dan optimalisasi target yang bisa dicapai untuk peningkatan penerimaan negara dari sektor Minerba. Dan juga meningkatkan pembinaan penyelenggaraan pertambangan di daerah dalam rangka optimalisasi penerimaan negara. Selanjutnya Dirjen Minerba untuk mengambil tindakan tegas kepada perusahaan IUP, CNC, kontrak karya, dan PKP2B yang belum menyelesaikan kewajiban PNBP. Kemudian juga meningkatkan kerja sama dengan aparat penegak hukum melakukan penegakan hukum dan penindakan tegas pertambangan illegal di daerah. Selanjutnya juga melaporkan rencana WPN dan WUPK hasil penciutan wilayah KK, kontrak kerja, dan PKP2B sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 untuk mendapatkan persetujuan dari Komisi VII DPR RI.
Ini saya sengaja bacakan Pak, tolong juga nanti dilaporkan terkait dengan kesepakatan ini. Kemudian juga ada juga di 2014, 1 September rencana wilayah pencadangan untuk mendapat persetujuan DPR sesuai amanat Pasal 27, 28 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Progres secara komprehensif peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan permurnian mineral dan/atau batubara di dalam negeri sesuai amant Pasal 102, 103, dan 104 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Kemudian potensi pendapatan negara dan daerah sesuai amanat Pasal 128, 129,130, 131,132 , 133, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Kemudian proyeksi mengutamakan tenaga kerja setempat, barang dan jasa dalam negeri sesuai amanat Pasal 106 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Progres divestasi sesuai amanat Pasal 112 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Perubahan KK dan PKP2B menjadi IUPK sesuai amanat Pasal 169 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Karena ini salah satunya adalah evaluasi terhadap undang-undang makanya saya sampaikan ini Pak Dirjen, supaya selain apa yang sampaikan oleh teman-teman tadi juga ini dilaporkan kepada Komisi VII terkait apa yang sudah disepakati dan sekaligus ini merupakan bagian dari agenda kita mengevaluasi Undang-Undang Minerba yang berlaku saat ini.
45 Jadi memang tadi sudah cukup lengkap Pak Dirjen, mungkin saya hanya menambahkan sedikit saja, ada informasi bahwa ekspor pertambangan kita yang tercatat itu dengan realisasi riilnya katanya itu berbeda, lebih besar yang riilnya, sehingga ini kan menimbulkan potensi kerugian negara. Tentu itu salah satu yang harus dibangun adalah kerja sama yang intens dengan aparat hukum, Pak. Karena memang kalau ada yang ilegal tentu dia tidak membayar pajak dan lain sebagainya karena memang negara-negara lain memberi informasi lebih besar dari yang yang tercatat kita ekspor. Itu ada salah satu satu catatan yang disampaikan.
Kemudian untuk memudahkan kita, kita ingin tahu Pak Dirjen, tolong dibikinkan petanya, pertambangan nasional kita itu seperti apa eksistingnya dan potensi-potensi yang sudah di dicatat itu yang berpotensi untuk di eksplorasi dan lain sebagianya, mohon kira diinformasikan Pak secara tertulis, sehingga memudahkan kita untuk mempelajari terutama bagi kita-kita yang tidak bersentuhan langsung dengan pertambangan ini supaya kita bisa menganalisanya lebih komprehensif ya.
Begitu juga tadi disampaikan bahwa dari 10.000 itu ya, 10.000 berapa tadi Pak Dirjen, 10.653 IUP, kemudian yang CNC-nya 5.999, nah ini prosesnya apa betul-betul sudah transparan dengan meloloskan 5.999 ini, apakah tidak ada aspek-aspek lain yang menyebabkan yang 5.999 ini lolos, yang 4.694 ini tidak lolos. Ini perlu Pak, perlu kami mendapatkan datanya, supaya kita juga bisa melakukan fungsi pengawasan. Jangan sampai terjadi ada aspek-aspek lain yang bisa menyebabkan satu lolos, yang lainnya tidak lolos atau kalau tadi informasi dari teman-teman kalau diterapkan betul-betul CNC-nya secara ketat apakah betul bisa lolos sebesar itu