• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinggal Pak Yulian, sudah masuk? Tidak ada ya.

Pak Airlangga bagaimana?

Kalau begitu karena seluruh anggota sudah menyampaikan pertanyaan dan pendalaman. Oh ada ya?

ANGGOTA FRAKSI PARTAI INDONESIA PERJUANGAN (Ir.H. DARYATMO MARDIYANTO):

Sebelah kiri kalau boleh Pak?

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Daryatmo, memang tidak kelihatan tadi Pak. Baru masuk Pak ya. Kelihatannya negosiasinya agak, silakan Pak.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (Ir.H. DARYATMO MARDIYANTO):

32 Ibu/Bapak sekalian,

Terima kasih, Pimpinan dan Dirjen. Sudah banyak disampaikan catatan, kami hanya menyampaikan catatan-catatan tambahan.

Yang pertama ya pengharagaan dan apresiasi kepada kalangan Dirjen, karena dalam catatan ini sudah ada MOMI (Minerba One Map Indonesia) ya. Kemudian juga rekaman yang mencakup tentang smelter. Karenanya ini ya catatan yang penting, tetapi catatan penting itu sebenarnya refleksi atau gambaran dari amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2009, undang-undang ini dibuat lima tahun di akhir 2009, dan memberikan kesempatan 5 tahun untuk diwujudkannya smelter. Dengan demikian ketika akhir periode kemarin dalam catatan yang kami baca ada kesepakatan kementerian ESDM dan Komisi VII untuk bersepakat bulat tidak menunda sedikit pun dan melaksanakan secara konsekwen Undang-Undang No.4 Tahun 2009. 9 fraksi dan kementerian bulat. Saya kira ini penting untuk dicatat, karena keputusan itu memberikan penghargaan yang memadai antara pemerintah dan DPR sendiri ketika sudah berhasil menyusun Undang-Undang Nomor No.4 Tahun 2009. Saya kira ini penting sebagai standing politik, posisi politik dari Pemerintah dan DPR RI. Ya undang-undang ini dibuat 5 tahun. Belum pernah undang-undang ini dibuat 5 tahun ya setelah selesai 2009 maka sering beberapa teman menyebut UU Merah Putih. Setelah 2009 masih ada 5 tahun mau bikin smelter. Itulah fungsi negara, fungsi pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap pengusaha sumber daya mineral. Karenanya ketika kemudian pada rencana yang disampaikan dalam paparan Dirjen tentang dukungan yang diperlukan untuk melakukan perpanjangan batas waktu pelaksanaan, pengolahan dan pemurnian di dalam negeri sebagai harapan yang ingin disampaikan dukungannya tentu harus ada pencermatan lebih jauh, karena kalau kita sepakat terhadap ini pada butir yang ke-3 kan dukungan yang diperlukan. Tentu kita berharap bahwa uraian terhadap permintaan dukungan itu menjadi jelas dan terperinci dengan tidak sedikitpun menyimpang dari Undang-Undang No. 4 Tahun 2009, dan berlaku sama terhadap semuanya. Itulah bentuk sebagai pengaturan regulasi dan perlindungan negara kepada kita, kepada seluruh masyarakat. Ya jadi apabila itu kemudian perpanjangan itu mengingkari undang-undang, itu rasanya kita akan menelan ludah kita sendiri ketika memutuskan institusi yang kita bersama di ruangan ini untuk melakukan penghormatan yang memadai terhadap undang-undang tersebut. Itu saya kira yang pertama.

Kemudian tadi melanjutkan oleh teman-teman, pada teman-teman, bahwa soal smelter, tadi sudah disampaikan saya kira juga sama tolonglah nanti dapat disampaikan skema dari smelter ini karena direncanakan ada tambahan hanya sedikit sekali yaitu hanya sekitar 7 atau berapa tadi, 12 pada tahun 2015. Kalau ini menyangkut soal penyediaan kapasitas dari masing-masing perencanaan smelter itu tidak sejalan dengan tingkat produksi maupun kemampuan kita memproduksi tentu harus dipaparkan terlebih dahulu, sebelum kita ambilkan keputusan-keputusan lebih

33 jauh. Karena forum ini adalah memperlancar dan memberikan rekomendasi terhadap evaluasi kinerja itu.

Kemudian yang ketiga mengenai IUP dengan adanya MOMI yang anda, Bapak sampaikan, yaitu pengendalian di tingkat meja untuk mengelola IUP yang jumlahnya 5.000 yang belum termasuk 5.000 yang sudah, skenario apa yang ingin disampaikan oleh Minerba terhadap 5.000 sisanya ya karena sekarang sudah datanya sudah lengkap di sini. Kalau itu ada keperluan untuk berhubungan dengan tingkat II dan tingkat I Undang-Undang 34 sudah mengamanatkan, jadi perlu ada sebuah langkah apakah memang diharuskan pertemuan seperti ini mengundang asosiasi atau pemerintahan atau dalam negeri untuk dapat melaksanakan Undang-Undang 34 yang menyangkut menarik kewenangan dari tingkat kabupaten kepada tingkat provinsi khususnya menyangkut IUP ini. Sementara MOMI-nya sudah ditangan, dan kita mempunyai itu, dengan demikian kita juga bisa mengontrol bersama-sama.

Saya kira itu Ketua. Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Daryatmo. Silakan Pak Airlangga.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA (Ir. H. AIRLANGGA HARTARTO, M.M.T., M.B.A.:)

Baik, terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang kami hormati Bapak/Ibu Anggota Komisi VI, Pimpinan dan Pak, sorry Komisi VII, Ini terganggu oleh Pak Daryatmo sebenarnya saya karena Pak Daryatmo tadi mengatakan catatan dari Komisi VII terakhir, jadi terpaksa saya juga harus bicara ini. Karena yang pertama yang menjadi catatan bagi kami, Pak Dirjen, ini sejak tahun yang lalu pada saat kita membahas untuk undang-undang ini kan sebetulnya kita ingin meningkatkan nilai tambah termasuk PNBP dari pada sektor mineral batubara ini. Tapi sampai saat sekarang kelihatannya kita masih harus prihatin karena sektor seheboh ini, Minerba kan heboh, ada Freeport, ada Newmont, ada segala, tapi kontribusi PNBP-nya ini dari target 39,6 trilyun, ini hanya dapat 35 trilyun. Betul ya Pak Sukhyar ya? Nah, ini kalau kita bandingkan industri rokok yang notabene tidak diatur pemerintah malah pemerintah membebani industri, malah pemerintah dalam tanda petik dengan aturan bea keluar mematikan industri kecil, menghidupkan industri besar, ini hanya sekitar 6, ya kurang dari 60 persen

34 pendapatan cukai dari industri rokok. Nah, oleh karena itu menjadi tantangan bagi kita, tadi seperti dikatakan Pak Daryatmo, bahwa nilai tambah ini menjadi dalam tanda petik harus wajib dan kita jangan mundur.

Kemudian saya memberi catatan mengenai smelter, memang smelter ini yang paling susah dan paling mahal, salah satunya adalah bauksit, tetapi bauksit ini menjadi taruhan Republik Indonesia, karena kemarin kita mengakhiri kontrak dengan Jepang Nippon Asahan Alumunium, karena janjinya Nippon Asahan Alumunium adalah untuk membangun metal grade smelter, dan Pemerintah Republik Indonesia harus menarik kocek sebesar 7 trilyun, dan itu kemarin sudah diputuskan pemerintah membeli saham Jepang dengan mengambil over Nippon Asahan Alumunium, dengan target bahwa Nippon Asahan Alumunium akan meningkatkan ekspansi kapasitasnya sehingga mendekati 500.000 ton almunium, dan itu notabene membutuhkan 1 juta metal grade daripada alumina. Nah tentunya ini yang tadi dikatakan Pak Harry memang waktunya kita dukung yang namanya Asahan Alumunium untuk ekspansi lanjutan, apakah dia sendiri, apakah dengan Antam untuk membangun yang namanya smelter bauksit. Nah, ini sudah bagian dari komitmen Republik ini, kalau Republik mengambil Inalum kemudian Inalum-nya menjadi seperti Krakatau Steel artinya menjadi tidak bisa hidup, kemudian harus mengundang asing lagi untuk membangun smelter alumina, nah ini kesalahan bukan hanya dari pemerintah tetapi kita juga yang dari DPR ikut berperan serta dalam membuat industri ini tidak bangkit. Karena sebetulnya industri alumunium itu harus menjadi salah satu cluster unggulan Republik Indonesia. Karena end user dari industri alumunium adalah industri otomotif, industri elektronik dan industri konstruksi. Dengan konsumen sebesar ini, dengan penjualan motor yang 8 juta unit, penjual motor di Jepang itu hanya 500.000 unit, penjualan mobil yang besar, maka tidak masuk akal kalau Indonesia gagal membangun industri alumunium berbasis bauksit, karena industri ini mulai dari tanahnya, sampai hasil akhirnya seluruhnya dikonsumsi di Republik Indonesia. Saya pidato di depan Parlemen Jepang bagaimana yang namanya tanah Indonesia wara wiri dan dihitung berapa ribu kilometer yang akhirnya selalu nilai tambah itu tidak pernah ada di Republik. Nah, itu jangan kita mengulangi kesalahan yang sama. Tentunya keterlambatan pembangunan industri bauksit dan smelter alumunium atau pun kegagalan daripada dalam tanda petik belum berhasilnya membuat alumina grade, salah satunya kan tentunya pemerintah harus dorong. Dan kemarin rapat dari kita mengusulkan bahwa mereka yang akan membangun smelter alumunium, berdasarkan data BKPM ada 3, 4 perusahaan, termasuk yang kemarin kemudian ada Nalko, BUMN besar dari pada India kemudian waktu itu pernah bicara Dubai Alumunium, dan ada satu perusahaan lain di Kalimantan Timur, sebaiknya itu kita panggil semua juga, Pak Sukhyar ikut panggil, kita buat time frame-nya, kita carikan jalan keluar berdasarkan time frame yang ada. Karena bauksit itu tidak bisa dicuci untuk meningkatkan content daripada AL2 03-nya, dia harus melalui yang namanya smelting. Dan smelting itu selalu

capital intensif dan smelting itu harus selalu dikuasai mafia multinasional, apakah itu

35 Metal. Makanya konstelasi ini harus kita perhatikan karena mereka memang menghendaki Indonesia hanya mengekspor raw material saja.

Catatan berikutnya adalah yang kemarin Pak Aryo bicara mengenai rare earth

material, Indonesia bisa mengkoleksi rare earth material itu dari pada hasil dari pada copper smelter yang ada di Gresik. Nah saat sekarang rare earth material yang

dieskpor ke Jepang yang negara Cina melarang untuk mengekspor rare earth

material, mereka bisa mengambil yang dari bekas Freeport, dan saat sekarang

pemerintah tidak pernah menarik royalti dari situ. Nah, ini hal-hal yang perlu kita perhatikan juga. Nah ini mungkin menjadi PR bagi pemerintah karena potensi kita sebetulnya masih besar dan kalau kita betul-betul memikirkan secara keseluruhan secara Republik, tidak kewilayahan, maka tentunya program-program peningkatan nilai tambah ini bisa kita lakukan.

Baik, terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Dokumen terkait