• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. DATA DAN ANALISIS

B. Data dan Analisis Data Penelitian

2. Angket Langsung-Tertutup Inteligensi Ganda Siswa

a. Angket langsung-tertutup

Digunakan Skala Likert dengan 4 alternatif jawaban yang disusun secara bertingkat untuk menganalisis data berupa 40 pernyataan angket langsung-tertutup yang diperoleh dari angket inteligensi ganda siswa dan 14 pernyataan angket langsung-tertutup yang diperoleh dari angket kesenangan siswa terhadap pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan teori inteligensi ganda.

Skala Likert merupakan skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang suatu objek atau fenomena tertentu. Skala Likert memiliki dua bentuk pernyataan, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Skor masing-masing kriteria jawaban untuk pernyataan positif (+) dan pernyataan negatif (-) yang diajukan pada angket terdapat pada tabel 3.11 berikut ini (Siregar, 2013: 25-26).

Tabel 3.11. Penetapan Skor untuk Tiap Pernyataan Angket

Kriteria jawaban Skor

pernyataan + Skor pernyataan - Sangat Setuju (SS) 4 1 Setuju (S) 3 2 Tidak Setuju (TS) 2 3

Angket langsung-tertutup inteligensi ganda terdiri dari 39 pernyataan positif (+) dan 1 pernyataan negatif (-). Sedangkan angket langsung-tertutup kesenangan siswa terdiri dari 13 pernyataan positif (+) dan 1 pernyataan negatif (-). Maka, aturan skor yang dipakai adalah pada kolom skor pernyataan positif dan negatif. 1) Analisis angket langsung-tertutup inteligensi ganda siswa

Tiap nomor pernyataan pada angket yang telah diisi diskoring sesuai dengan kriteria pada tabel 3.11. Setelah dilakukan penyekoran untuk setiap inteligensi pada angket, skor masing-masing pernyataan untuk setiap inteligensi dijumlahkan. Lewat jumlah skor dari masing-masing inteligensi dapat diketahui kecenderungan inteligensi yang dimiliki oleh siswa, yaitu inteligensi dengan jumlah skor tertinggi.

2) Analisis angket langsung-tertutup kesenangan siswa

Analisis data pada angket langsung-tertutup ini terbagi dalam empat tahap. Pada tahap pertama, dilakukan analisis tiap nomor pernyataan untuk masing-masing kelas. Tiap nomor pernyataan pada angket yang telah diisi oleh siswa diskoring sesuai dengan kriteria pada tabel 3.11. Setelah dilakukan penyekoran pada seluruh angket untuk masing-masing kelas, skor yang diperoleh seluruh siswa untuk masing-masing nomor pernyataannya dijumlahkan. Kemudian, jumlah skor masing-masing nomor pernyataan diurutkan dari yang tertinggi ke terendah. Lewat pengurutan nomor pernyataan berdasarkan skor ini dapat diketahui pernyataan manakah yang lebih dominan sehingga dapat diketahui gambaran perasaan kesenangan yang dipunyai siswa pada saat treatment dilakukan.

Pada tahap kedua, untuk dapat mengetahui seberapa besar kesenangan masing-masing kelas terhadap pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan teori inteligensi ganda pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair maka skor pada masing-masing nomor pernyataan yang diperoleh pada tiap siswa dijumlahkan. Skor ini merupakan skor akhir setiap siswa.

Rentang interval untuk setiap tingkat kesenangan: Skor maksimal : 4 14 = 56 Skor minimal : 1 14 = 14 Banyak kelas : 4 Interval = = = 10,5 Dibulatkan menjadi 11.

Skor akhir setiap siswa dikelompokkan berdasarkan rentang intervalnya pada masing-masing kelas dan kemudian diprosentasekan pada tiap-tiap tingkat kesenangan seperti pada tabel 3.12.

Angket langsung-tertutup kesenangan siswa terdiri dari dua indikator, yaitu indikator kesenangan terhadap model pembelajaran yang terdiri dari 6 pernyataan dan indikator kesenangan terhadap suasana pembelajaran yang terdiri dari 8 pernyataan. Pada tahap ketiga, untuk dapat mengetahui seberapa besar kesenangan

masing-masing kelas terhadap model pembelajaran yang digunakan pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair maka skor pada masing-masing nomor pernyataan yang diperoleh pada tiap siswa pada indikator kesenangan terhadap model pembelajaran dijumlahkan. Skor ini merupakan skor akhir setiap siswa pada indikator kesenangan terhadap model pembelajaran.

Rentang interval untuk setiap tingkat kesenangan: Skor maksimal : 4 6 = 24 Skor minimal : 1 6 = 6 Banyak kelas : 4 Interval = = = 4,5 Dibulatkan menjadi 5.

Skor akhir setiap siswa pada indikator kesenangan terhadap model pembelajaran dikelompokkan berdasarkan rentang intervalnya pada masing-masing kelas dan kemudian diprosentasekan pada tiap-tiap tingkat kesenangan seperti pada tabel 3.13.

Pada tahap keempat untuk dapat mengetahui seberapa besar kesenangan masing-masing kelas terhadap suasana pembelajaran pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair maka skor pada masing-masing nomor pernyataan yang diperoleh pada tiap siswa pada indikator kesenangan terhadap suasana

pembelajaran dijumlahkan. Skor ini merupakan skor akhir setiap siswa pada indikator kesenangan terhadap suasana pembelajaran.

Rentang interval untuk setiap tingkat kesenangan: Skor maksimal : 4 8 = 32 Skor minimal : 1 8 = 8 Banyak kelas : 4 Interval = = = 6

Skor akhir setiap siswa pada indikator kesenangan terhadap suasana pembelajaran dikelompokkan berdasarkan rentang intervalnya pada masing-masing kelas dan kemudian diprosentasekan pada tiap-tiap tingkat kesenangan seperti pada tabel 3.14.

Tabel 3.12. Distribusi Frekuensi Kesenangan Siswa Kelas Linguistik, Matematis-Logis, Kinestetik-badani, dan Interpersonal Terhadap

Pembelajaran Fisika Berdasarkan Teori Inteligensi Ganda Linguistik Matematis-Logis Kinestetik-Badani Interpersonal Tingkat Kesenangan Interval Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Sangat Senang 47 – 57 Senang 36 – 46 Tidak Senang 25 – 35 Sangat Tidak Senang 14 – 24

Tabel 3.13. Distribusi Frekuensi Kesenangan Siswa Kelas Linguistik terhadap Model Bercerita Berpasangan, Kelas Matematis-Logis terhadap Model Penemuan (Discovery), Kelas Kinestetik-Badani terhadap Model Tarian Molekul, dan Kelas Interpersonal terhadap

Model Diskusi dan Presentasi Linguistik Matematis-Logis Kinestetik-Badani Interpersonal Tingkat Kesenangan Interval Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Sangat Senang 21 – 25 Senang 16 – 20 Tidak Senang 11 – 15 Sangat Tidak Senang 6 – 10

Tabel 3.14. Distribusi Frekuensi Kesenangan Siswa Kelas Linguistik, Matematis-Logis, Kinestetik-Badani, dan Interpersonal Terhadap

Suasana Pembelajaran Linguistik Matematis-Logis Kinestetik-Badani Interpersonal Tingkat Kesenangan Interval Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Sangat Senang 26 – 32 Senang 20 – 25 Tidak Senang 14 – 19 Sangat Tidak Senang 8 – 13

3) Angket langsung-terbuka kesenangan siswa

Angket langsung terbuka kesenangan siswa akan dianalisis dengan cara pengodean (coding). Data-data angket terbuka pada tiap kelas akan dikode dengan cara menandai suatu kata yang menunjukkan keseluruhan isi dari data tersebut. Kemudian data-data yang berkode sama disatukan, misalnya kode yang menunjukkan kesenangan siswa disatukan. Setelah disatukan, kode-kode tersebut diberi nama dengan suatu kategori yang menyatukan isinya. Setelah kategori yang dekat disatukan dalam satu konsep yang sama Setelah data dikelompokkan dalam beberapa konsep, diurutkanlah konsep tersebut sesuai dengan alur atau jalan pikiran kemudian dari urutan alur tersebut dibuatlah analisis atau laporan yang sudah lengkap (Suparno, 2014: 106).

59 BAB IV

DATA DAN ANALISIS

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel siswa-siswi kelas XI IPA 1 s.d XI IPA 4 SMA Negeri 1 Nubatukan yang berjumlah 109 siswa. Jumlah siswa untuk setiap kelas ditampilkan dalam tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1. Jumlah Siswa Kelas XI IPA 1 s.d XI IPA 4 SMA Negeri 1 Nubatukan

No Kelas Jumlah Siswa

1. XI IPA 1 30

2. XI IPA 2 26

3. XI IPA 3 29

4. XI IPA 4 24

Penelitian ini dibagi ke dalam dua tahap. Penelitian tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 13, 14, 16, dan 17 Maret 2017. Pada penelitian tahap pertama, siswa-siswi dari kelas XI IPA 1 s.d kelas XI IPA 4 mengisi angket inteligensi ganda yang diberikan oleh peneliti. Angket inteligensi ganda berfungsi untuk mengelompokkan siswa ke dalam kelas baru sesuai dengan kecenderungan

inteligensi yang dimilikinya. Pada tanggal 24 dan 25 Maret 2017, peneliti mengumumkan hasil analisis angket inteligensi ganda berupa daftar nama siswa untuk masing-masing kelas inteligensi dan jadwal pelajaran fisika pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair untuk masing-masing kelas inteligensi.

Penelitian tahap dua dilaksanakan pada tanggal 27, 30, 31 Maret dan 1 April 2017. Pada penelitian ini peneliti berperan sebagai guru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan teori inteligensi ganda, dimana kelas linguistik menggunakan model pembelajaran bercerita berpasangan (paired story telling), kelas matematis-logis menggunakan model pembelajaran penemuan (discovery), kelas kinestetik-badani menggunakan model pembelajaran tarian molekul, dan kelas interpersonal menggunakan model diskusi dan presentasi. Diakhir pembelajaran peneliti memberikan angket kesenangan belajar kepada setiap siswa untuk diisi. Uraian pelaksanaan penelitian akan disajikan dalam dua bagian, yaitu sebelum penelitian dan selama penelitian.

1. Sebelum Penelitian

Sebelum penelitian, peneliti mempersiapkan instrumen-instrumen yang akan digunakan untuk penelitian. Instrumen-instrumen tersebut antara lain: angket inteligensi ganda, model pembelajaran berdasarkan teori inteligensi ganda untuk masing-masing kelas inteligensi pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair untuk setiap kelas inteligensi, soal pretest, soal posttest, dan angket kesenangan belajar siswa terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk memperlancar proses penelitian.

2. Selama Pelaksanaan Penelitian

a. Pengisian Angket Inteligensi Ganda

Jadwal pengisian angket inteligensi ganda oleh siswa-siswi kelas XI IPA 1 s.d XI IPA 4 SMA Negeri 1 Nubatukan ditampilkan dalam tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2. Jadwal Pengambilan Data Angket Inteligensi Ganda Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Nubatukan

No Hari, Tanggal Waktu Kelas Jumlah Siswa

1. Senin, 13 Maret 2017 09.15 – 10.00 XI IPA 4 23

2. Selasa, 14 Maret 2017 07.00 – 07.45 XI IPA 2 22

3. Kamis, 16 Maret 2017 11.00 – 11.45 XI IPA 1 30

4. Jumat, 17 Maret 2017 07.00 – 07.45 XI IPA 3 28

09.30 – selesai pengisian

XI IPA 2 4

5. Jumat, 24 Maret 2017 07.00 – selesai pengisian

XI IPA 3 1

6. Senin, 27 Maret 2017 09.15 – selesai pengisian

XI IPA 4 1

Pengambilan data angket inteligensi ganda dilakukan pada saat pelajaran fisika di kelas. Jam pelajaran pertama digunakan untuk pengisian angket inteligensi ganda oleh siswa. Sebelum kegiatan pengisian angket

inteligensi ganda dilakukan, peneliti memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan serta gambaran dari penelitian yang akan dilakukan. Setelah perkenalan, peneliti membagikan angket inteligensi ganda kepada siswa dan menjelaskan aturan yang harus diperhatikan dalam pengisian angket. Siswa kemudian mengisi angket inteligensi ganda sampai bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi.

b. Pengumuman Hasil Analisis Angket Inteligensi Ganda

Pada tanggal 24 dan 25 Maret 2017, peneliti mengumumkan hasil analisis angket inteligensi ganda kepada siswa-siswi kelas XI IPA 1 s.d XI IPA 4 SMA Negeri 1 Nubatukan. Pengumuman baru bisa dilakukan pada tanggal 24 dan 25 Maret 2017 karena pada tanggal 20 s.d 23 Maret 2017 sekolah mengadakan USBN untuk murid kelas XII sehingga murid kelas XI dan kelas X diliburkan. Hasil analisis yang diumumkan berupa daftar nama siswa untuk masing-masing kelas inteligensi dan jadwal pelajaran fisika pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair untuk masing-masing kelas inteligensi. Pengumuman kepada siswa-siswi kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Maret 2017 saat jam pelajaran fisika; kelas XI IPA 4 pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 saat jam istirahat; kelas XI IPA 1 pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 saat jam pelajaran fisika.

Hasil analisis berupa jumlah siswa dan jadwal pelajaran fisika pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair untuk setiap kelas inteligensi ditampilkan dalam tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3. Jumlah Siswa dan Jadwal Pelajaran Fisika Pada Pokok Bahasan Tegangan Permukaan Zat Cair untuk Setiap Kelas Inteligensi No. Kelas Inteligensi Jumlah Siswa Jadwal Pemberian Treatment Waktu

1. Linguistik 11 Senin, 27 Maret 2017 15.00 – 17.30

2. Matematis-Logis 36 Kamis, 30 Maret 2017 15.00 – 17.30

3. Kinestetik-Badani

28 Jumat, 31 Maret 2017 15.00 – 17.30

4. Interpersonal 34 Sabtu, 1 April 2017 07.30 – 10.00

Jadwal pada tabel 4.3 di atas telah mengalami perubahan dari rencana awal peneliti. Sebelumnya peneliti merencanakan pelajaran fisika pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair dilakukan di luar jam pelajaran fisika yaitu sore hari, karena setiap kelas inteligensi terdiri atas siswa-siswi dari kelas XI IPA 1 s.d XI IPA 4 sehingga tidak mungkin penelitian ini dilakukan pada pagi hari sebab setiap kelas memiliki jadwal pelajaran fisika yang berbeda-beda. Awalnya peneliti menargetkan untuk menyelesaikan pelajaran fisika pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair pada tanggal 31 Maret 2017. Namun sehubungan dengan libur nasional pada tanggal 28 Maret 2017 dan katekese mingguan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah pada setiap hari rabu sore di sekolah, maka target penyelesaian diubah menjadi 1 April 2017.

c. Proses Belajar Mengajar Fisika Pada Pokok Bahasan Tegangan Permukaan Zat Cair

Proses belajar mengajar menggunakan model pembelajaran berdasarkan teori inteligensi ganda pada pokok bahasan tegangan permukaan zat cair untuk setiap kelas inteligensi dilakukan dalam satu pertemuan dan di luar jam sekolah. Proses belajar mengajar fisika (pokok bahasan tegangan permukaan zat cair) pada kelas linguistik mengunakan model pembelajaran bercerita berpasangan (paired story telling); kelas matematis-logis menggunakan model pembelajaran penemuan (discovery); kelas kinestetik-badani menggunakan model pembelajaran tarian molekul; kelas interpersonal menggunakan model diskusi dan presentasi.

Secara rinci, proses belajar mengajar untuk setiap kelas inteligensi dijelaskan sebagai berikut:

1) Kelas Lingustik (Senin 27 Maret 2017 Pukul 15.35 – 17.20 WITA) Sesuai dengan jadwal dan hasil analisis angket inteligensi ganda yang telah diumumkan, proses belajar mengajar untuk kelas linguistik seharusnya dimulai pada jam 15.00 dan dihadiri oleh 11 siswa. Namun dua siswa dari kelas XI IPA 4 tidak bisa mengikuti pelajaran karena sakit, sehingga jumlah siswa yang menjadi sampel penelitian berkurang menjadi 9 orang. Cuaca sore ini sangat cerah, meskipun siang tadi sempat berawan dan gerimis. Waktu menunjukkan pukul 15.02 ketika peneliti tiba di sekolah, namun belum ada satu siswa yang datang. Berselang dua menit kemudian siswa mulai berdatangan; satu siswa pada pukul 15.04 WITA; dua siswa pada

pukul 15.09 WITA; satu siswa pada pukul 15.14 WITA; satu siswa pada pukul 15.16 WITA; satu siswa pada pukul 15.26 WITA. Namun karena masih ada 3 siswa yang belum hadir, maka peneliti memutuskan untuk tetap menunggu sampai jam 15.30 WITA. Ternyata sampai jam 15.30 WITA tidak ada lagi siswa yang datang dan peneliti mengajak siswa yang telah hadir untuk masuk ke kelas.

Dalam penelitian ini peneliti tidak dibantu oleh siapapun sehingga sebelum pembelajaran dimulai peneliti harus mengatur sendiri kamera yang akan digunakan untuk merekam jalannya proses belajar mengajar dan mengambil gambar. Setelah semuanya siap, tepat pukul 15.35 WITA kegiatan pembelajaran dimulai dan diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh salah satu siswa. Setelah berdoa, satu siswa yang terlambat dipersilahkan masuk ke kelas. Setelah mengedarkan daftar hadir, peneliti mulai memberikan topik dan tujuan pembelajaran, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan pretest. Reaksi siswa ketika melihat lembar soal pretest adalah terkejut, kemudian mereka tertawa, dan protes karena mereka tidak ada persiapan. Waktu pengerjaan soal 20 menit. Selama mengerjakan soal siswa selalu tersenyum dan terkadang tertawa.

Setelah selesai mengerjakan soal pretest, pelajaran dilanjutkan dengan apersepsi. Sebagai apersepsi, peneliti menunjukkan gambar nyamuk yang berdiri di atas air, klip kertas yang dapat mengapung, dan tetesan air yang berbentuk bola. Namun karena tidak ada LCD Proyektor dan jumlah siswanya sedikit, maka peneliti menggunakan laptop dan langsung

menunjukkan gambarnya kepada siswa. Penelitian kemudian mengajukan pertanyaan kepada siswa mengapa fenomena-fenomena yang ditujukkan dalam gambar tadi bisa terjadi. Siswa diberikan kesempatan untuk menjawab dan peneliti kemudian memperjelas lagi jawaban siswa dengan menjelaskan pengertian tegangan permukaan zat cair.

Kegiatan selanjutnya adalah bercerita berpasangan. Kegiatan bercerita berpasangan dilakukan dengan mengambil topik proses terjadinya tegangan permukaan zat cair. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih pasangannya sendiri. Namun karena jumlah siswa adalah 7 orang dan salah satu siswa yaitu siswa dengan kode L.11 belum mendapatkan pasangan maka peneliti dalam kegiatan ini bertindak sebagai pasangan dari siswa L.11. Siswa kemudian mendengarkan penjelasan peneliti tentang langkah-langkah bercerita berpasangan.

Selanjutnya peneliti membagikan materi bercerita berpasangan yang sebelumnya dibagi menjadi dua bagian kepada siswa, dengan siswa pertama menerima bagian pertama dan siswa kedua menerima bagian kedua. Masing-masing siswa membaca bagiannya dan membuat daftar kata kunci. Sambil membuat daftar kata kunci, peneliti tetap memperhatikan seluruh siswa. Suasana kelas sangat hening karena setiap siswa sibuk dengan pekerjaannya. Setelah semua siswa selesai membuat daftar kata kunci, setiap pasangan saling menukar daftar kata kunci dan menyusun bagian yang belum dibacanya berdasarkan daftar kata kunci dari pasangan (Lihat gambar 4.1).

Gambar 4.1. Siswa Kelas Linguistik Membuat Tulisan Tentang Proses Terjadinya Tegangan Permukaan Zat Cair Berdasarkan Daftar Kata Kunci Pasangannya

Suasana kelas diawal pengerjaan bagian kedua ini tidak hening seperti saat pengerjaan daftar kata kunci karena siswa dengan kode L.3 protes kepada pasangannya yang hanya memberikan lima kata kunci. Siswa lain tertawa tetapi tetap sambil mengerjakan bagiannya ketika melihat kedua siswa tersebut sibuk protes dan membela diri. Namun aksi protes ini tidak berlangsung lama dan suasana kelas mulai tenang dan masing-masing siswa melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah selesai mengerjakan, masing-masing siswa menceritakan hasil pekerjaannya kepada pasangan. Pada sesi ini suasana kelas menjadi ramai. Setiap siswa menceritakan bagiannya dengan menggunakan gerakan tangan serta intonasi seperti lagi membacakan cerita, meskipun sesekali tertawa dan melihat kembali teks. Kemudian setelah selesai bercerita secara berpasangan, setiap siswa membaca bagian teks milik pasangan mereka. Suasana kelas menjadi hening. Setelah siswa selesai membaca, peneliti

kemudian melanjutkan dengan menegaskan kembali hasil bercerita berpasangan. Semua siswa memperhatikan peneliti saat menjelaskan dan mencatat hal-hal penting yang disampaikan. Namun siswa kode L.9 tidak mencatat dengan alasan sudah mengerti.

Diakhir pembelajaran, peneliti meminta siswa untuk merefleksikan materi yang belum dipahami dan apabila ada yang masih belum dipahami peneliti memberikan kesempatan untuk bertanya, tetapi tidak ada siswa yang bertanya. Peneliti kemudian mengingatkan kembali materi yang dipelajari dengan mengajukan pertanyaan seputar materi yang dipelajari kepada siswa. Selanjutnya peneliti memberikan soal posttest kepada siswa dan dikerjakan selama 20 menit. Suasana kelas saat pengerjaan soal posttest lebih tenang daripada saat mengerjakan soal pretest. Setelah siswa selesai mengerjakan soal posttest, peneliti membagikan angket kesenangan belajar untuk diisi oleh siswa. Setelah siswa selesai mengisi angket kesenangan belajar, pelajaran ditutup oleh peneliti dengan menyampaikan ucapan terima kasih, doa penutup, dan foto bersama.

Selama penelitian yang dilakukan di kelas linguistik, peneliti mengalami sedikit masalah yang disebabkan oleh kelalaian peneliti sendiri, yaitu yang pertama adalah tidak membawa kartu memori cadangan untuk kamera sehingga peneliti harus mengganti kamera yang digunakan untuk merekam kegiatan pembelajaran menggunakan smartphone. Namun menjelang akhir penelitian, smartphone yang digunakan peneliti kehabisan baterai dan peneliti terlambat memeriksanya sehingga kemudian peneliti

menggunakan aplikasi kamera laptop untuk merekam kegiatan pembelajaran. Karena smartphone yang digunakan kehabisan baterai sebelum video hasil rekaman disimpan, maka peneliti kehilangan data video untuk kegiatan inti pembelajaran. Peneliti kemudian mengatasi masalah ini dengan langsung menuliskan rincian proses belajar mengajar kelas linguistik ketika tiba di rumah.

2) Kelas Matematis-Logis (Kamis 30 Maret 2017 Pukul 15.33 – 17.29 WITA)

Sesuai dengan jadwal dan hasil analisis angket inteligensi ganda yang telah diumumkan, proses belajar mengajar untuk kelas matematis-logis seharusnya dimulai pada jam 15.00 dan dihadiri oleh 36 siswa. Tetapi 11 siswa (tanpa keterangan) tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga jumlah siswa yang menjadi sampel penelitian berkurang menjadi 25 orang. Cuaca sore sangat cerah, namun sekitar jam 14.55 WITA hujan mulai turun dengan deras dan baru mulai reda sekitar jam 15.00 WITA. Waktu menunjukkan pukul 15.06 WITA ketika peneliti tiba di sekolah dan ternyata ada 5 siswa yang sudah tiba. Peneliti kemudian langsung mengatur posisi laptop yang akan digunakan untuk merekam seluruh aktivitas belajar mengajar pada kelas matematis-logis. Waktu menunjukkan 15.11 WITA ketika hujan sudah berhenti dan matahari mulai bersinar lagi. Siswa pun mulai berdatangan. Pada pukul 15.24 WITA, siswa yang telah tiba di kelas berjumlah 16 orang; pada pukul 15.27 WITA berjumlah 18 orang; pada pukul 15.32 berjumlah 20 orang. Karena jumlah siswa yang hadir telah mencapai jumlah lebih dari 50% sampel, maka peneliti memutuskan untuk memulai kegiatan pembelajaran pada pukul 15.33 WITA.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh salah satu siswa. Setelah mengedarkan daftar hadir, peneliti memberikan penjelasan tentang topik dan tujuan pembelajaran. Kemudian siswa diminta untuk mengerjakan pretest. Saat peneliti sedang membagikan

soal pretest, ada satu siswa baru tiba di kelas dan langsung dipersilahkan masuk oleh peneliti. Waktu pengerjaan soal pretest adalah 20 menit. Suasana kelas saat pengerjaan pretest cukup tenang, meskipun ada beberapa siswa yang sesekali melirik kepada teman sebangkunya. Ditengah pengerjaan soal pretest, ada 4 siswa yang baru tiba di kelas dan langsung dipersilahkan oleh peneliti untuk mengerjakan soal pretest. Karena ada beberapa siswa yang terlambat maka waktu pengerjaan pretest diperpanjang sampai pada pukul 16.14 WITA.

Setelah selesai mengerjakan pretest, pelajaran dilanjutkan dengan apersepsi dan siswa diminta untuk mempersiapkan buku catatan, buku cetak, serta hp. Sebagai apersepsi, peneliti menunjukkan gambar nyamuk yang berdiri di permukaan air dan klip kertas yang mengapung di permukaana air. Peneliti kemudian memberikan masalah yang akan dipecahkan siswa melalui kegiatan pertemuan berupa pertanyaan berdasarkan gambar yang telah ditunjukkan. Masalah yang diberikan kepada siswa yaitu “Mengapa nyamuk dapat berdiri dipermukaan air?” dan “Sesuai Hukum Archimedes klip kertas yang memiliki massa jenis yang lebih besar dari pada massa jenis air seharusnya tidak dapat terapung. Tetapi mengapa klip kertas tersebut dapat terapung?” Siswa kemudian diberikan waktu selama 20 menit untuk mencari jawaban dari masalah yang diberikan di buku cetak maupun internet, baik secara berpasangan atau

Dokumen terkait