• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Antibiotika

2. Antibiotika spektrum sempit (narrow spectrum) (Ganiswara, 1995).

C. Drug Related Problems (DRPs)

Drug related problems (DRPs) atau sering diistilahkan dengan drug therapy problems (DTPs) adalah kejadian atau efek yang tidak diharapkan yang dialami pasien dalam proses terapi dengan obat (Cipolle, 2004).

Drug related problem (DRPs) dibagi menjadi 4 kategori besar, yaitu: 1. Aspek indikasi yang terdiri dari perlu terapi tambahan dan pemberian obat

2. Aspek efektifitas yang terdiri dari salah pemberian obat dan dosis terlalu

rendah.

3. Aspek kemanan yang terdiri dari efek samping dan dosis terlalu tinggi.

4. Aspek kepatuhan (Cipolle, 2004).

Adapun penyebab untuk masing-masing kategori DRPs, antara lain:

a. Terapi tanpa indikasi (unnecessary drug therapy)

Disebabkan oleh terapi yang diperoleh sudah tidak sesuai,

menggunakan terapi polifarmasi yang seharusnya bisa menggunakan

terapi tunggal, kondisi yang seharusnya mendapat terapi non

farmakologi, terapi efek samping yang dapat diganti dengan obat lain,

dan penyalahgunaan obat.

b. Memerlukan terapi tambahan (needs additional drug therapy)

Disebabkan oleh munculnya kondisi kronik yang membutuhkan

terapi, memerlukan terapi untuk mengurangi resiko munculnya

kondisi medis baru, memerlukan terapi kombinasi untuk memperoleh

efek obat kuat atau efek tambahan.

c. Pemilihan obat yang tidak tepat (wrong drug)

Dapat disebabkan oleh obat yang efektif tetapi harganya relatif mahal

atau bukan obat yang paling aman untuk digunakan, kombinasi obat

yang tidak tepat sehingga efek yang dihasilkan tidak maksimal.

d. Dosis terlalu rendah (dosage too low)

Umumnya disebabkan oleh penggunaan obat dengan dosis yang

(respon), jarak pemberian obat dalam frekuensi yang panjang atau

jarang untuk dapat memberikan efek terapi, adanya interaksi obat

yang dapat mengurangi jumlah obat yang tersedia dalam bentuk aktif,

durasi terapi pengobatan terlalu pendek untuk dapat menghasilkan

efek terapi.

e. Efek obat yang merugikan (adverse drug reaction)

Dapat disebabkan karena obat menimbulkan efek yang tidak

diinginkan tetapi tidak ada hubungannya dengan menejemen dosis,

interaksi obat yang memunculkan efek atau reaksi yang tidak

diinginkan tetapi tidak ada hubungannya dengan menejemen dosis,

aturan dosis yang telah diberikan atau diubah terlalu cepat, obat yang

dapat menimbulkan alergi, dan obat yang mempunyai kontraindikasi

dengan keadaan pasien.

f. Dosis terlalu tinggi (dosage too high)

Dapat disebabkan karena dosis yang diberikan terlalu tinggi sehingga

memunculkan efek yang berlebihan, frekuensi pemberian obat terlalu

pendek sehingga terjadi akumulasi, durasi terapi pengobatan terlalu

panjang, interaksi obat dapat menghasilkan efek toksik, obat diberikan

atau dinaikkan dosisnya terlalu cepat.

g. Ketidakpatuhan pasien (noncompliance)

Dapat disebabkan karena pasien tidak memahami aturan pemakaian,

pasien lebih memilih atau suka untuk tidak menggunakan obat-obatan,

bagi pasien, pasien tidak mampu menelan obat atau menggunakan

obat itu sendiri secara tepat. Karena itulah diperlukannya peran

seorang farmasis dalam mencegah terjadinya ketidakrasionalan

penggunaan obat oleh pasien (Cipolle, 2004).

D. Keterangan Empiris

Penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi adanya Drug Related

Problems (DRPs) terkait penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) penggunaan

antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Emanuel Purwareja

Klampok Banjarnegara pada tahun 2013 merupakan jenis penelitian non

eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif dan menggunakan data

retrospektif.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental karena karena

tidak adanya perlakuan terhadap subjek uji. Rancangan penelitian deskriptif

evaluatif karena tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran dan

evaluasi mengenai Drug Related Problems (DRPs) penggunaan antibiotika pada

pasien demam tifoid kelompok pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok

Banjarnegara pada tahun 2013.

Penelitian ini menggunakan data retrospektif karena data yang diambil

menggunakan penelusuran terhadap dokumen yang terdahulu, yaitu berupa kartu

rekam medik pasien demam tifoid kelompok pediatrik di RS. Emanuel Purwareja

Klampok Banjarnegara pada tahun 2013.

B. Variabel dan Definisi Operasional

1. Profil karakteristik pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Rumah Sakit

Emanuel Klampok Banjarnegara yang meliputi usia, jenis kelamin, catatan

2. Profil penggunaan antibiotika oleh pasien demam tifoid kelompok pediatrik

yang terbagi menjadi jenis dan golongan antibiotika, indikasi dan pilihan terapi

antibiotika, dosis dan frekuensi pemberian antibiotika, serta durasi dan rute

pemberian antibiotika.

3. Pasien adalah seseorang atau sekelompok anak (pediatrik) yang terbagi

menjadi 3 bagian berdasarkan usia menurut Izenberg (2000), meliputi

kelompok neonatus (≤ 1 tahun), kelompok balita (> 1 – 5 tahun), dan kelompok usia anak-anak (> 5 – 12 tahun), baik laki-laki maupun perempuan yang didiagnosis positif menderita demam tifoid dan menerima terapi antibiotika di

Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara pada tahun 2013.

4. Subjek penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah semua pasien

pediatrik, baik pria maupun wanita yang didiagnosis positif menderita demam

tifoid dan menerima terapi antibiotika di Rumah Sakit Emanuel Purwareja

Klampok Banjarnegara pada tahun 2013.

5. Drug Related Problems (DRPs) yang akan dievaluasi pada penelitian ini dibagi

menjadi 6 kelompok, yaitu butuh tambahan obat (need additional drug

therapy), tidak butuh obat (unnecessary drug therapy), salah pemberian obat (wrong drug), dosis obat yang tidak mencukupi atau kurang (dosage too low),

efek samping obat (adverse drug reaction), dosis obat yang berlebih (dose too

high).

6. Wawancara dengan dokter anak (penulis resep) dalam penelitian dilakukan

setelah lembar data rekam medik pasien dianalisis. Hasil analisis tersebut

wawancara dengan dokter anak tersebut. Hasil wawancara digunakan untuk

melengkapi pembahasan terhadap hasil analisis sekaligus menjadi salah satu

guideline atau acuan untuk evaluasi pengobatan pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah semua pasien pediatrik yang berumur 0-12

tahun, baik laki-laki maupun perempuan, yang positif terdiagnosa positif demam

tifoid (didukung dengan catatan rekam medik dan hasil pemeriksaan laboratorium

yang lengkap dan dapat dikonfirmasi) dan mendapatkan terapi pengobatan

menggunakan antibiotika, serta menyelesaikan pengobatan di RS. Emanuel

Purwareja Klampok Banjarnegara sampai dinyatakan sembuh (diizinkan pulang)

oleh dokter. Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu pasien pediatrik dengan

catatan rekam medik yang tidak lengkap atau tidak bisa dikonfirmasi, pasien

pediatrik yang terdiagnosa demam tifoid dengan hasil pemeriksaan laboratorium

yang tidak lengkap atau tidak dapat dikonfirmasi sebagai penunjang utama

penegakan diagnosa dokter terhadap demam tifoid, pasien pediatrik yang tidak

mendapatkan terapi pengobatan menggunakan antibiotika, serta pasien pediatrik

yang terdiagnosa demam tifoid dengan beberapa penyakit penyerta.

Penelitian yang dilakukan juga melibatkan dokter anak RS Emanuel

Purwareja Klampok Banjarnegara (penulis resep) sebagai subjek penelitian yang

dilakukan melalui wawancara. Wawancara tersebut dilakukan untuk melengkapi

acuan untuk evaluasi pengobatan pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di

Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara.

218 populasi demam 42 pasien dengan Tifoid penyakit penyerta

118 pasien pediatrik Eksklusi 86 36 pasien dengan demam tifoid pasien catatan RM dan hasil laboratorium tidak lengkap

Inklusi 32 pasien 8 pasien suspect (terduga) demam tifoid

Gambar 1. Skema Pemilihan Subjek Penelitian di RS Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara Periode 2013

D. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu rekam

medik pasien demam tifoid kelompok pediatrik yang ada di RS. Emanuel

Purwareja Klampok Banjarnegara pada tahun 2013. Rekam medik adalah riwayat

pengobatan dan perawatan pasien yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian

yaitu yang memuat data karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, berat

badan, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa masuk, terapi yang diberikan, catatan

keperawatan, dan hasil pemeriksaan laboratorium.

E. Lokasi Penelitian

Pengambilan data dilakukan di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit

tepatnya di instalasi rekam medik Rumah Sakit Emannuel Purwareja Klampok

Banjarnegara.

F. Tata Cara Penelitian 1. Pengurusan Izin Penelitian

Penelitian diawali dengan mengurus izin penelitian yang diperoleh dari

Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara sebagai lokasi untuk

pengambilan data.

2. Analisis Situasi

Analisis situasi dengan cara mencari data kartu rekam medik pasien

demam tifoid kelompok pediatrik pada tahun 2013 yang diperoleh melalui

komputer di Instalasi Rekam Medik RS. Emanuel Purwareja Klampok

Banjarnegara.

3. Pengambilan data

Penulusuran data lembar rekam medik di Instalasi Rekam Medik

mengenai jumlah pasien kelompok pediatrik yang terdiagnosa positif menderita

demam tifoid, usia pasien, jenis kelamin pasien, berat badan pasien, data

laboratorium, jenis dan golongan antibiotik yang diberikan pada pasien, dosis dan

frekuensi pemberian antibiotik.

Pencarian pasien demam tifoid kelompok pediatrik dilakukan sesuai

dengan definisi operasional yang telah ditetapkan sebelumnya menggunakan

nomor rekam medik yang didapat. Pengumpulan data dari rekam medik tersebut

dilakukan dengan tanpa mengganggu aktivitas petugas kesehatan di rumah sakit

4. Pengolahan data dan analisis hasil

Data diolah secara deskriptif dengan memberikan gambaran karakteristik

pasien demam tifoid kelompok pediatrik sebagai subjek penelitian, profil

penggunaan obat pasien, serta profil penggunaan antiobiotika pasien. Pengolahan

data secara evaluatif dilakukan dengan mengevaluasi DRPs penggunaan

antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik.

Pengolahan data secara deskriptif dan evaluatif dijelaskan secara rinci

sebagai berikut:

a. Karakteristik pasien

Analisis deskriptif mengenai karakteristik pasien dilakukan dengan

mengelompokkan pasien demam tifoid kelompok pediatrik berdasarkan

distribusi umur dan jenis kelamin yang kemudian dinyatakan dalam

bentuk persentasi.

b. Profil penggunaan antibiotika pasien

Profil penggunaan antibiotika oleh pasien demam tifoid kelompok

pediatrik yang akan dianalisis terbagi menjadi jenis dan golongan

antibiotika, indikasi dan pilihan terapi antibiotika, dosis dan frekuensi

pemberian antibiotika, serta durasi dan rute pemberian antibiotika.

c. Evaluasi Drug Related Problems (DRPs)

a) Butuh tambahan obat (need additional drug therapy)

b) Tidak butuh obat (unnecessary drug therapy)

c) Salah pemberian obat (wrong drug)

e) Efek samping obat (adverse drug reaction)

f) Dosis obat yang berlebih (dose too high)

Hasil evaluasi Drug Related Probelms (DRPs) kemudian akan dianalisis

dengan metode subjektif, objektif, assesment, dan plan (SOAP). Subjektif

meliputi umur, jenis kelamin, lama dirawat, diagnosa, keluhan, perjalanan

penyakit, dan status keluar pasien. Objektif yaitu meliputi hasil laboratorium,

tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, dan respiratori), kondisi kesadaran pasien,

dan penatalaksanaan obat yang diterima oleh pasien. Assesment merupakan

penilaian yang dilakukan terkait evaluasi penggunaan antibiotika. Sedangkan plan

atau rekomendasi merupakan saran yang diberikan untuk mengatasi DRPs yang

muncul dalam penggunaan antibiotika berdasarkan acuan yang ada. Acuan yang

digunakan untuk evaluasi yang terjadi dalam pengobatan pasien demam tifoid

kelompok pediatrik adalah Standar Pelayanan Medis Rumah Sakit Emanuel

Purwareja Klampok Banjarnegara, Drug Information Handbook (Lacy et al.,

2006), Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit (Roespandi dan

Nurhamzah, 2007), dan Background Document: The Diagnosis, Treatment and

Prevention of Typhoid Fever (WHO, 2003). 5. Penyajian Hasil Analisis

Hasil atau data yang muncul akan disajikan dalam bentuk tabel dan

dilakukan pula analisis DRPs yang muncul berdasarkan acuan yang digunakan.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara evaluatif dengan cara

mengevaluasi DRPs yang terjadi pada penggunaan antibiotika dan dibahas dalam

G. Keterbatasan Penelitian

Penelitian dengan data retrospektif memiliki kelemahan bila dibandingkan

dengan data prospektif. Pada penelitian dengan data retrospektif tidak

memungkinkan mengamati lebih lanjut perkembangan kondisi pasien yang

sesungguhnya berkaitan dengan analisis DRPs. Sebagai contoh, kepatuhan pasien

terhadap regimen terapi. Oleh karena itu, pada penelitian ini hanya dapat

dilakukan menggunakan 6 aspek DRPs, sedangkan aspek ketidakpatuhan pasien

(noncompliance) tidak dapat dilakukan. Selain itu, kelemahan dari penggunaan

data retrospektif yang lainnya yaitu acuan yang digunakan untuk mengevaluasi

DRPs yang terjadi pada penelitian tidak dapat menggunakan acuan yang terbaru.

Keterbatasan lain yang terdapat pada penelitian ini adalah waktu. Pihak

Rumah Sakit Emanuel menyediakan waktu yang sangat terbatas untuk melakukan

wawancara dokter anak sebagai penulis resep, dimana hal tersebut menyebabkan

hasil wawancara dengan dokter anak yang digunakan bersifat menyeluruh, tidak

dapat digunakan untuk mengevaluasi satu per satu kasus yang diperoleh, serta

penelitian ini hanya mengevaluasi mengenai penggunaan antibiotika tanpa melihat

dan mengevaluasi secara lengkap keseluruhan pengobatan lain yang diberikan

pada pasien sehingga DRPs terkait perlu terapi tambahan (need additional drug

therapy) tidak teridentifikasi pada penelitian ini. Selain itu, dari dua dokter anak sebagai penulis resep di Rumah Sakit Emanuel, hanya satu dokter anak yang

bersedia dan dapat diwawancarai oleh penulis. Hal ini menyebabkan acuan

mengevaluasi DRPs terkait penggunaan antibiotika pasien demam tifoid

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Penggunaan Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di

Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara Tahun 2013” dilakukan dengan menelusuri lembar data rekam medik pasien pediatrik yang positif

terdiagnosa demam tifoid. Berdasarkan data hasil penelusuran dari bagian

instalasi rekam medik RS Emanuel, diperoleh 32 kasus sebagai bahan penelitian

yang mempunyai data rekam medik lengkap, yaitu mencantumkan usia, jenis

kelamin, berat badan, diagnosa utama, lama perawatan, catatan keperawatan, data

pemeriksaan laboratorium, dan terapi yang diberikan.

A. Karakteristik Pasien 1. Distribusi pasien berdasarkan usia

Pasien demam tifoid kelompok pediatrik yang diteliti adalah pasien yang

berusia 0 – 12 tahun. Izenberg (2000) membagi kelompok pediatrik menjadi 3 bagian berdasarkan usia, yaitu kelompok neonatus (≤ 1 tahun), kelompok balita (> 1 – 5 tahun), dan kelompok usia anak-anak (> 5 – 12 tahun). Dari hasil penelitian didapatkan kasus demam tifoid di RS Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara

pada tahun 2013 paling banyak terjadi pada kelompok usia anak-anak yaitu pada

rentang > 5 – 12 tahun sebesar 59,4 % dan kelompok usia balita yaitu pada rentang > 1 – 5 tahun sebesar 40,6%. Hasil penelitian ini mendukung hasil

penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Ochiai et al. (2008) mendapatkan

hasil bahwa anak pada rentang usia 6 – 12 tahun memiliki risiko terserang demam tifoid lebih besar, yaitu dari total kasus sebanyak 131 kasus demam tifoid pada

kelompok pediatrik sebesar 58 kasus (44,27%) terjadi pada rentang usia 6 – 12 tahun dan sisanya terjadi pada kelompok balita dan neonatus. Penelitian oleh

Rufaldi (2011) juga diperoleh hasil bahwa anak pada rentang usia 6 – 12 tahun paling banyak terserang demam tifoid, yaitu sebesar 42,9% dengan sisanya terjadi

pada kelompok balita dan neonatus. Hal ini disebabkan karena pada saat usia

tersebut (> 5 – 12 tahun) anak-anak sangat menyukai membeli makanan sembarangan dilingkungan sekitar yang higienitasnya tidak dapat dijamin.

Lingkungan, dalam hal ini salah satu contohnya adalah faktor higienitas,

merupakan salah satu faktor pendukung untuk mengurangi atau menambah luas

penyebaran demam tifoid (Musnelina et al., 2004).

Gambar 2. Persentase Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik Berdasarkan Distribusi Usia di RS Emanuel Purwareja Klampok

Banjarnegara tahun 2013 59,4% 40,6%

Distribusi Pasien Berdasarkan Usia

> 5 - 12 tahun

2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin

Jumlah pasien demam tifoid kelompok pediatrik yang diperoleh sebagai

subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi adalah sebanyak 32 pasien. Dari

total pasien tersebut, 16 adalah pasien laki-laki dan 16 sisanya adalah pasien

perempuan. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Musnelina et al.

(2004) dan Rufaldi (2011) diperoleh hasil yang berbeda dimana jumlah pasien

demam tifoid kelompok pediatrik jenis kelamin laki-laki lebih banyak

dibandingkan perempuan. Menurut Musnelina et al. (2004), anak laki-laki lebih

banyak menderita demam tifoid dibandingkan dengan anak perempuan

dikarenakan karena anak laki-laki umumnya memiliki aktifitas diluar rumah yang

lebih banyak daripada anak perempuan. Hal ini memungkinkan anak laki-laki

untuk memiliki risiko lebih besar untuk terserang demam tifoid dibandingkan

anak perempuan.

Gambar 3. Persentas Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik Berdasarkan Jenis Kelamin di RS Emanuel Purwareja Klampok

Banjarnegara tahun 2013

50% 50%

Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis

Kelamin

Laki-laki

B. Profil Penggunaan Obat dan Profil Penggunaan Antibiotika Profil penggunaan obat pada pasien demam tifoid pada kelompok

pediatrik di RS Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara merupakan gambaran

pengobatan yang diberikan, meliputi kelas terapi obat dan golongan obat yang

akan disajikan dalam bentuk tabel disertai beberapa penjelasan singkat. Gambaran

secara umum distribusi penggunaan obat pada pasien demam tifoid kelompok

pediatrik di RS Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara tahun 2013 menurut

kelas terapinya ditunjukkan pada tabel II.

Tabel II. Persentase Golongan Obat yang Digunakan Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara

tahun 2013

No Kelas Terapi Obat Golongan Obat Jumlah Kasus (n=207) Persentase (%) 1 Antibiotika Sefalosporin 36 17,4

Dokumen terkait