BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Obat Saluran Pencernaan
1 Antibiotika Sefalosporin 36 17,4 2 Obat Saluran Pencernaan Antitukak Laksatif Antidiare Antiemetik Antispasmodik 1 3 1 8 1 0,5 1,4 0,5 3,9 0,5
3 Suplemen dan Nutrisi Vitamin Nutrisi 13 13 6,3 6,3 4 Obat yang
Mempengaruhi Darah Antikoagulan 1 0,5
5 Analgetik dan Antipiretik Non-Opioid 36 17,4 6 Anti-inflamasi dan antialergi Kortikosteroid Non-steroid 32 3 15,4 1,4 7 Obat Saluran Pernafasan Antihistamin Antitusif Ekspektoran Nasal Dekongestan Mukolitik 5 1 15 4 2 2,4 0,5 7,2 1,9 1,0 8 Infus RL DS 5% 26 6 12,6 2,9
1. Antibiotika
Persentase penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok
pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara tahun 2013 adalah
sebesar 17,4%. Evaluasi penggunaan antibiotika dibagi menjadi jenis dan
golongan antibiotika, indikasi dan pilihan terapi antibiotika, dosis dan frekuensi
antibiotika, serta durasi dan rute pemberian antibiotika.
a. Jenis dan Golongan Antibiotika
Hasil penelitian berkaitan dengan jumlah serta persentasi jenis dan
golongan antibiotika dalam penatalaksanaan demam tifoid pada kelompok
pediatrik di RS Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara bertujuan untuk
mengetahui jenis dan golongan antibiotika apa saja yang diresepkan dokter
kepada pasien demam tifoid kelompok pediatrik dirumah sakit tersebut.
Gambar 4. Persentase Jenis Antibiotika yang Digunakan Sebagai Terapi Pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel Purwareja
Klampok Banjarnegara pada Tahun 2013
Berdasarkan data dari rekam medik, antibiotika yang digunakan dari total
32 pasien demam tifoid kelompok pediatrik di RS Emanuel Purwareja Klampok 86,1%
11,1% 2,8% 0
Jenis Antibiotika yang Digunakan pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel
Purwareja Klampok Banjarnegara tahun 2013
Ceftriaxone Cefixime Cefotaxime
Ceftriaxone, Cefotaxime dan Cefixime, yang mana ketiganya sama-sama berasal
dari golongan sefalosporin generasi ketiga.
Jenis antibiotika yang paling tinggi penggunaannya adalah jenis
antibiotika Ceftriaxone, yaitu sebesar 86,1% kemudian disusul dengan cefixime
sebesar 11,1% dan cefotaxime sebesar 2,8%. Dari kasus-kasus yang diteliti
tersebut, juga dijumpai beberapa kasus dengan penggunaan lebih dari satu jenis
antibiotika yang mana dimaksudkan sebagai terapi kombinasi (ceftriaxone dengan
cefixime) maupun sebagai antibiotika pengganti (cefotaxime diganti dengan
cefixime).
Gambar 5. Persentase Profil Penggunaan Terapi Antibiotika Tunggal dan Kombinasi pada Pengobatan Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS.
Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara tahun 2013
Terapi kombinasi digunakan pada kasus-kasus khusus dan beberapa tujuan
tertentu, seperti untuk mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotika yang
sifatnya mendadak, mendapatkan manfaat dari dua atau lebih antibiotika yang
mekanisme kerjanya saling bersinergi, menangani kemungkinan adanya infeksi 87,5%
12,5% 0 0
Penggunaan Terapi Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok
Banjarnegara tahun 2013
Terapi Tunggal Terapi Kombinasi
yang disebabkan oleh lebih dari satu jenis bakteri, memperluas spektrum aktivitas
kerjanya dalam membunuh bakteri, dan digunakan untuk menangani suatu kasus
infeksi yang berat (Murray et al., 2009). Dari hasil penelitian diperoleh terapi
antibiotika tunggal sebesar 28 kasus (87,5%) dan terapi antibiotika kombinasi
sebesar 4 kasus (12,5%).
Tabel III. Pemakaian Antibiotika Kombinasi No
Antibiotika Jumlah Kasus
1 Ceftriaxone + Cefixime
(Kombinasi) 3
2 Cefixime + Cefotaxime
(Ganti Obat) 1
Tabel IV. Pemakaian Antibiotika Tunggal No
Antibiotika Jumlah Kasus
1 Ceftriaxone 28
b. Indikasi dan Pilihan Terapi Antibiotika
Terapi antibiotika diindikasikan untuk menghambat serta membunuh
mikroorganisme atau bakteri penyebab infeksi pada pasien. Tatalaksana
pengobatan demam tifoid menggunakan antibiotika pada penelitian ini sudah tepat
adalah kloramfenikol, amoksisilin, ampisilin serta golongan sefalosporin generasi
ketiga seperti Cefixime, Cefotaxime, dan Ceftriaxone (Shah et al., 2006).
Kloramfenikol dan cefixime merupakan dua antibiotika yang digunakan
sebagai lini pertama dalam pengobatan demam tifoid. Cefixime yang merupakan
bagian dari golongan sefalosporin generasi ketiga terbukti dapat menjadi pilihan
antibiotika setelah pada beberapa penelitian ditemukan resistensi bakteri terhadap
kloramfenikol (Shah et al., 2006).
Jenis antibiotika dari golongan sefalosporin generasi ketiga seperti
cefotaxime dan ceftriaxone juga dapat digunakan sebagai antibiotika pilihan
pertama untuk pengobatan demam tifoid apabila ditemukan adanya riwayat
resistensi suatu bakteri terhadap antibiotika golongan kuinolon seperti ofloxacin
dan ciprofloxacin (WHO, 2003) atau pasien tidak menunjukkan adanya
perbaikkan gejala klinis setelah penggunaan antibiotika jenis kloramfenikol atau
amoksisilin (Roespandi dan Nurhamzah, 2007).
Namun dewasa ini, penggunaan ceftriaxone dan cefixime yang biasanya
digunakan sebagai pilihan ketiga terapi pengobatan demam tifoid mulai bergeser
menjadi pilihan utama dalam pengobatan demam tifoid. Ditemukannya beberapa
kasus mengenai resistensi bakteri terhadap kloramfenikol mendorong para peneliti
untuk mencari alternatif antimikroba untuk melawan penyakit demam tifoid.
Beberapa daerah endemik demam tifoid tidak lagi menggunakan kloramfenikol
sebagai first line therapy namun mulai menggunakan antibiotika golongan
sefalosporin generasi ketiga seperti cefixime dan ceftriaxone. Hal tersebut
dilakukan oleh Santillan, Garcia, dan Benavante (2000). Isolat yang digunakan
adalah isolat bakteri Salmonella typhii penyebab demam tifoid dan antibiotika
yang digunakan adalah kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan cefixime. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 24 isolat, 22 isolat sensitif terhadap ampisilin,
96% sensitif terhadap kloramfenikol dan kombinasi trimetoprim –
sulfametoxazole, serta 24 isolat (100%) sensitif terhadap cefixime
(Santillan et al., 2000).
c. Dosis dan Frekuensi Pemberian Antibiotika
Dalam terapi pengobatan pada pasien dosis dan frekuensi pemberian
antibiotika harus disesuaikan dengan diagnosis penyakit, tingkat keparahan
penyakit atau infeksi, mekanisme kerja obat, serta efek samping yang dapat
ditimbulkan oleh penggunaan antibiotika tersebut (adverse drug reaction). Dosis
yang diberikan untuk pasien kelompok pediatrik haruslah benar-benar
diperhatikan, sebab organ – organ yang digunakan untuk melakukan metabolisme obat (seperti hati dan ginjal) belum sempurna perkembangannya pada anak-anak.
Sehingga, apabila pemberian dosis antibiotika pada anak-anak tidak tepat, bisa
jadi antibiotika tersebut akan menimbulkan efek toksik atau menjadi racun
didalam tubuh anak yang mana berbahaya bagi keselamatan anak tersebut
(Benin dan Dowel, 2001).
Frekuensi penggunaan antibiotika dipengaruhi oleh sifat farmakokinetika
obat serta kondisi patofisiologis dari pasien. Salah satu faktor yang perlu
diperhatikan dalam suatu farmakokinetika obat adalah t½ eleminasi dari obat.
mencapai penurunan konsentrasi obat sebesar 50% dari konsentrasi awal pada
plasma. Nilai t½ eleminasi untuk masing-masing obat bervariasi. Tujuan dari
adanya interval pemberian suatu obat adalah untuk menjaga konsentrasi obat
dalam cairan plasma agar selalu berada pada konsentrasi terapeutik minimal
sehingga obat dapat bekerja dan memberikan efek yang diharapkan. Kondisi
organ hati dan ginjal sebagai organ ekskresi utama juga mempengaruhi frekuensi
pemberian obat. Jika terdapat gangguan atau kelainan pada organ ekskresi
tersebut, maka proses eleminasi obatpun akan terganggu atau berjalan lebih
lambat (Benin dan Dowel, 2001).
Jenis antibiotika yang digunakan berdasarkan hasil penelitian mengenai
“Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Penggunaan Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok
Banjarnegara Tahun 2013” ini adalah ceftriaxone, cefixime, dan cefotaxime yang berasal dari golongan sefalosporin generasi ketiga. Dosis antibiotika ceftriaxone
yang digunakan untuk pasien kelompok pediatrik yaitu 50 – 100 mg/kgBB/hari disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien, dengan frekuensi pemberian
setiap 12 jam. Untuk cefixime, dosis yang digunakan yaitu 15 - 20 mg/kgBB/hari.
Dosis cefixime yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
pasien dengan frekuensi pemberian setiap 12 jam. Sedangkan untuk cefotaxime
dosis yang digunakan yaitu 50 – 200 mg/kgBB/hari, yang juga disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien, dengan frekuensi pemberian setiap 8 jam
d. Durasi dan Rute Pemberian Antibiotika
Durasi pemberian antibiotika berkaitan dengan proses pembunuhan bakteri
atau mikroba penginfeksi. Tiap jenis antibiotika mempunyai waktu optimum
untuk membunuh suatu bakteri atau mikroba tertentu. Ceftriaxone optimal untuk
pengobatan demam tifoid apabila digunakan selama 5 – 7 hari, sedangkan cefixime optimal untuk pengobatan demam tifoid apabila digunakan selama 8 – 14 hari. Dengan kata lain, dapat diasumsikan bahwa ceftriaxone mampu
membunuh bakteri Salmonella typhii penyebab demam tifoid dalam waktu 5 -7
hari, sedangkan cefixime dalam waktu 8 – 14 hari. Durasi pengobatan yang ditingkatkan atau ditambah akan menghasilkan efek terapeutik yang tidak jauh
berbeda dengan durasi optimal, bahkan dapat meningkatkan risiko terjadinya
resistensi bakteri apabila penggunaan antibiotika melebihi waktu optimal
(Islam et al., 1993).
Tabel V. Durasi Pemakaian Antibiotika No
Antibiotika Durasi Jumlah Kasus
1 Ceftriaxone 2 3 3 7 4 10 5 11 2 Cefixime 3 1 4 1 5 2 3 Cefotaxime 3 1
Menurut pustaka yang digunakan sebagai acuan tidak disebutkan secara
spesifik mengenai rute pemberian antibiotika yang digunakan dalam pengobatan
demam tifoid dapat dibagi menjadi dua, yaitu secara intravena (i.v) dan secara
peroral (p.o). Rute pemberian secara i.v maupun p.o dilakukan dengan berbagai
maksud dan tujuan. Pemberian antibiotika secara i.v umumnya dilakukan agar
obat lebih cepat masuk kedalam tubuh dan memberikan efek. Pemberian obat
secara i.v juga memberikan beberapa keuntungan dibandingkan secara p.o, yaitu
menghindari first pass effect dan mencegah obat terdegradasi oleh asam lambung
(Cunha, 2007).
Gambar 6. Profil Rute Pemberian Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara
tahun 2013
Gambar 6 menunjukkan rute pemberian antibiotika pada pasien demam
tifoid kelompok pediatrik di RS. Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara pada
tahun 2013. Dapat dilihat bahwa rute pemberian antibiotika yang paling sering
digunakan adalah secara intravena (i.v). Total 36 penggunaan terapi antibiotika
pada 32 pasien tersebut, sebanyak 32 antibiotika diberikan secara intravena
(88,9%) dan 4 diberikan secara peroral (11,1%). 88,9% 11,1% 0 0
Rute Pemberian Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di RS. Emanuel Purwareja
Klampok Banjarnegara tahun 2013
Intravena (i.v) Peroral (p.o)
2. Obat Saluran Pencernaan
Demam tifoid merupakan penyakit yang menyerang saluran pencernaan
(infeksi). Gejala yang umum dialami oleh pasien demam tifoid adalah gangguan
gastrointestinal yang dapat berupa obstipasi, diare, mual, muntah dan kembung
(Ali, 2006). Maka dari itu, penggunaan obat-obatan untuk saluran pencernaan
sangat membantu pasien demam tifoid dalam mengatasi gejala atau manifestasi
klinis yang timbul akibat infeksi saluran pencernaan sehingga pasien dapat merasa
nyaman. Persentase penggunaan obat untuk saluran pencernaan pada penelitian ini
adalah sebesar 6,8%, yang terbagi atas golongan antitukak (0,5%), golongan
laksatif (1,4%), golongan antidiare (0,5%), golongan antiemetik (3,9%) dan
golongan antispasmodik (0,5%).