Penelitian amitriptilin telah dikerjakan pada beberapa open label trials. Studi pertama pada 24 subyek dengan umur 6-12 tahun yang diberikan amitriptilin 1,5 mg/kg/hari selama 2 bulan memperlihatkan penurunan frekuensi serangan sebanyak 75% kasus, tetapi yang mengalami dropout sebanyak 20% karena efek sampingnya seperti peningkatan berat badan.29 Penelitian lainnya oleh Hershey et al.30, pada 192 subyek berumur 9-15 tahun dengan dosis 0,25-1 mg/kgbb/hari memperlihatkan efektifitas untuk perbaikan frekuensi dan penurunan rata nyeri kepala sebanyak 84,2% kasus dengan toleransi yang baik dan memberikan perbaikan untuk jangka panjang.
Studi ini kemudian dikonformasi oleh Lewsi et al6 yang mendapatkan efektifitas sebanayk 80% pada 73 subyek berumur 3-12 tahun dengan dosis 10 mg/hari. Dosis yang direkomendasikan adalah 0,25-1 mg/kgbb/hari. Efek samping yang timbul adalah mulut kering, mengantuk, peningkatn berat badan, hipotensi ortostatik. Indikasi kontra adalah penyakit jantung, glaucoma dan gagal ginjal dan liver.
Karena efek sampingnya oleh para ahli pemakaian amitriptilin sangat dibatasi.5
b. Trazodone
Suatu studi placebo-controlled crossover pada 40 pasien migren anak dengan umur 7-18 tahun dengan dosis 1 mg/kg/hari dengan dosis terbagi 3 kali memberikan perbaikan dalam fekuensi dan durasi nyeri kepala.16
5.Antiepilepsi a. Divalproate
Studi pertama divalproate adalah open-label study pada 42 subyek berumur 7-16 tahun dosis 15-45 mg/kg/hari selama 6 bulan.
Hasilnya terdapat perbaikan pola nyeri kepala setelah 4 bulan yaitu
terjadi penurunan 50% nyeri kepala pada 78,5% pasien dan 75% pada 14,2% dan 9,5% bebas nyeri kepala tetapi terjadi efek samping pada 29 dari 42 pasien.31 Hasil ini kemudian dikonfirmasi oleh Serdaroglu et al.,32 yang meneliti efek divalproate pada anak berumur 9-17 tahun dengan dosis 500-1000 mg/hari yang juga memberikan perbaikan pola nyeri kepala pada anak dengan migren. Penelitian multi senter besar divalproate extended release dengan dosis 250, 500 dan 1000 mg tidak memberikan hasil yang bemakna dalam efikasi penurunan nyeri dalam 4 minggu terapi, dan juga tidak lebih baik dalam kualitas hidup pasien yang dinilai dengan pediaricMidas (PedMIDAS), tetapi efek samping yang terjadi juga tidak berbeda bermakna antara terapi dan plasebo.33 Penelitian yang dilakukan oleh Unalp et al.,34 yang mebandingkan efektifitas divalprote (n=20 orang) dengan topiramate (n=28 orang) mendapatkan kedua obat berhasil menurunkan frekuensi, beratnya, durasi dan PedMIDAS. Dosis yang direkomendasikan adalah 15-30 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 2-3 kali. Efek samping adalah penambahan berat badan, rash kulit dan alopesia. Indikasi kontra penyakit liver.5
b.Topiramate
Studi open label pertama menggunakan topiramate dikerjakan pada tahun 2000 pada 75 subyek berumur 8-15 tahun dengan dosis 1,4±0,7 mg/kg/hari selama 3-11 bulan, memebrikan hasil yang baik dalam menurunkan frekuensi, durasi dan intensitas nyeri kepala dan PedMIDAS. Efek sampingnya adalah gangguan kognitif (12%) penurunan berat badan (6%) dan gangguan sensorik (3%).35 Stusi open-label 3 tahun kemudian pada 24 subyek yang tidak memberi respon dengan terapi propilaksis lainnya diberikan topiramate dengan dosis 3,5±1,7 mg/kg/hari mendapatkan hasil terjadi perbaikan durasi nyeri kepala sebanyak 87,5% dan intensitas nyeri kepala (58,3%), dengan efek samping yang ringan (33%).36
Peneltian oleh Winner al.20 pada 162 subyek dengan umur 6-15 tahun dengan dosis 2-3 mg/kg memperlihatkan penurunanan yang sangat banyak dalam frekuensi nyeri kepala, tetapi secara statistik penurunannya adalah borderline (p=0,06) tetapi ditoleransi dengan baik. Penelitian lain yaitu oleh Lakshmi et al.,37 dengan menggunakan topiramate 100 mg 2 kali sehari memperlihatkan terjadi penurunanan secara bermakna jumlah nyeri kepala, disabilitas dan absen di sekolah dalam sebulan. Peneltian oleh Lewis et al.,6 pada penderita migren berumur 12-17 tahun dengan dosis 50
atau 100 mg/hari selama 16 minggu memperlihatkan efikasi yang bermakna dalam menurunkan frekuensi nyeri kepala dalam sebulan dibandingkan dengan plasebo (72,2: 44,4%), tetapi hanya dengan dosis 100 mg.
c. Levitiracetam
Studi open-label pada 19 pasien berumur 3-17 tahun dengan dosis levetiracetam 250-500 mg mengurangi remisi sebanyak 53%, perbaikan 37% tidak efektif 10% dan efek samping 16%.38 Penelitian Palkanis e al.,39 pada 20 orang migren berumur rata2 10,6 tahun dengan dosis 20-40 mg/kg/hari selama 2-3 bulan memperlihatkan terjadi penurunan bermakna dalam frekuensi dan disabilitas, dan hanya 3 orang yang mengalami efek samping (iritabel dan agresif).
d. Gabapentin
Suatu studi open-label pada 18 pasien berumur 6-17 tahun dengan dosis 15-30 mg/kg/hari memeprlihatkan efikasi sebesar 80%. Efek samping yang terjadi adalah mengantuk, penambahan berat badan, rash pada kulit dan alopesia.4o
Pendapat para ahli dari studi meta-analisis disebutkan terapi preventif migren pda anak-anak dan pubertas kurang memberikan efek dibandingkan dengan terapi simptomatik. Hanya flunarizine mempunyai cukup bukti pada anak-anak. Flunarizin telah diakui di Eropa tetap tidak di Amerika Serikat.
Cyproheptadin, amitriptilin, divalproex dan lvetiracetan belum cukup bukti sebagai prevensi pada anak-anak. Efektifitas propranolol masih kontradiktif.
Pizotifen, nimodipine dan klonidin tidak efeltif, tetapi topiramate cukup menjanjikan sebagai prevensi pada migren anak.6
Untuk kepentingan praktek klinik dengan mempertimbangkan rasio efikasi dan toleransinya sebagai prevensi migren pada anak-anak obat yang digunakan adalah: flunarizine, serotonin antagonis (pizotipen, cyproheptadine dan neuromodulator (topiramate).5
Pendapat para ahli terhadap terapi migren pada anak yaitu dengan menggunakan obat over-the counter medication (OTC) seperti ibuprofen dan asetaminofen untuk nyeri ringan, sedang dan berat. Pemakaian obat ini tidak boleh lebih dari 2-3 kali/minggu. Pada nyeri kepala yang sedang dan berat yang tidak berespon dengan OTC, terapi yang direkomendasikan adalah triptan atau kombinasi NSAID/triptan. Jenis triptan yang direkomendasikan oleh FDA adalah almotriptan, tetapi cuma tersedia dalam bentuk tablet sehingga kurang baik penyerapannya pada penderita dengan mual dan muntah. Pada penderita dengan mual dan mntah yang lebih baik adalah pemberian triptan nasal spray,
karena telah cukup bukti efektifitasnya. Pemberian edukasi pada pasien dan keluarga adalah sangat penting.41
Terapi migren pada orang dewasa adalah terdiri menghindari faktor pencetus, terapi abortif dan profilaksis. Terapi abortif terdiri dari yang spesifik yaitu ergotamine dan golongan triptan, dan terapi abortif non spesifik yaitu:
analgetik sederhana, NSAIDs dan antiemetik. Terapi profilaksis yaitu obat golongan beta bloker, antidepresan trisiklik, dan obat anti epileptik.4
Kesimpulan
Patofosiologi migren pada anak tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, demikian juga penatalaksanaannya. Obat yang digunakan saat serangan akut adalah analgetik sederhana, NSAIDs dan triptan (nasal spary). Preparat ergotamine jarang digunakan. Untuk terapi pencegahan obat yang direkomendasikan adalah flunarizine, serotonin antagonis dan topiramate.
Kepustakaan
1. Lewis DW., Aswal S., dahl g. 2002. Quality standards Subcommitee of the America Academy neurology; Practice Committee of the Child Neurology Society. Practice parameter: Evaluation of children and adolescent with recurrent headaches: report of the quLITY Standard Subcommitee of The American Academy of neurology and the Practice committee of child Neurology Society. Neurology; 59(4) 490-498.
2. Molony MF., Johson CJ. 2011. Migraine headache: Diagnosis and management. Journal of Midwifery & Women Helath; 56: 282-292.
3. O'Brien HL., Kabbouche MA., Hershey AD. 2010. Treatmrnt acute migriane in pediatric population. Curr. Treat.Options Neurol; m12 (3):
178-185.
4. Perdossi. 20018. Konsensus Nasional V Kelompok studi Nyeri Kepala Perdossi.
5. Toldo I, De carlo, D., Bolzonela B., Sartori S., Battistella PA. 2012. The pharmacological treatment of migraine in children and adolescent: an overview. Expert Rev.Neurother; 12(9): 1133-1142.
6. Lewis DW., Winner P., Hershey AD., Wasiewski WW. 2007. Adolescent Migraine Steering Commitee. Efficacy of zolmitriptan nasal spray in adolescent migraine. Pediatric; 120(2): 390-396.
7. Halmalainen ML., Hoppu K., Santavauri P. 1997. Sumtriptan for migraine attack in children: a randomized placebo-controlled study.
Neurology; 48: 1100-1103.
8. Hamalainen ML. Migraine in children and adolescent: a guide to drug treatment. CNS drug; 20(10): 813-821.
9. Moorjani BI., Rothner AD. 2001. Indometahcine responsive headache in children ans adolescent. Semin. Pediatr. Neurol; 8 (1): 40-45.
10. Richer LP., Laycock K., Miler K. 2010. Treatment of children with migraine in emergency departemen: national practice variation study.
Pediatric. 126: e150-e155.
11. Vollono C., Vigevano F., Tarantino S., Valeriani M., Triptan other han sumtriptan in child and adolencent migraine: literature review. Expert Rev.Neurother; 11(3): 395-401.
12. Hamalainen ML., Hoppu K., Santovuori P. 1997. Sumatriptan for migraine attack in children; a randomized placebo-controlled sutdy.
Neurology; 48: 1100-1103,
13. Derosier FJ., lewis D., hershey AD., 2012. Randomized trila of sumatriptan and naproxen sodium combination in adolescent migraine. pediatric; 129 (6): e1411-e1420.
14. McDonald JT., 1994. Treatment of juvenile migraine with subcutaneus sumatriptan. Headache; 34(10): 581-582.
15. Linders SL. 1996. Subcutaneus sumtriptan in the clinical setting: the fist 50 concecutivie patiemts with acute migraine in pediatric neurology office pracitce. Hedache; 36(7): 419-422.
16. Batistella PA., 2007. Synptomatic treatment of pediatric migraine: an open-label study with sumtripatan nasal spray. J. Headche Pain 8(suppl.): S22.
17. Rothner AD., Wasieski W., Winter P. Lewis D., Stankowski J. 2006.
Zolmitriptan oral tablet in migraine treatmnent: high placebo respons in adolescent. Headache; 46(1): 101-109.
18. Visser WH., Winner P., Strohmaier K. 2004. Rizatriptan protocol 059 and 061 Study group. Rizatriptan 5 mg for the acute migraine in adolescent: a randomized, doubel blind, placebo-control study.
Headache; 44(9): 891-899.
19. Ahonen K., Hamalainen ML., Eerola M., Hoppu K., 2006. A randomized trial of rizatriptan in migraine attack in children.
Neurology 76(7): 1135-1140.
20. Winner P., Pearlman EM., Linders SL. 2005. Topiramate pediatric Migraine Study Investigators. Topiramate for mograine prevention in children: a randomized, double-blind, controlled trial. Hedache; 45:
1304-1312.
21. Badwin JR, Fleishaker JC, Azie nE, Carel BJ. 2004. A Comparasion of the pgarmacokinetics and tolerability of the anti-migraine compound almotriptaninhelathy adolescent adults. Cephalagia; 24(4): 288-292.
22. Linders SL., Mathew NT., Cady RK., Finlayson G., Iskhanian G., Lewis DW. 2008. Efficacy and tolerability of almotriptan in adolescent: a randomized, double-blind placebo-control trial. Headache 48 (9):
1326-1336.
23. Callenbach PM., Pels LP., Mulder PG. 2007. SUM30042 Trial Group.
Sumtriptan nasal spray in the acute treatment of migraine in adolsecent and children. Eur. J. Pediatr. Neurol; 11(6): 325-330.
24. Kienbacher C., Wober C., Zesch HE. 2007. Clinical features, classification and migraine and tension-type headache in children and adolescent: a long- term follow-up study. Cephalagia; 26(7): 820-830.
25. Sorge F., De Simone R., Marano E., Nolano M., Orefice G., Carrieri P.
1996. Flunarizine in prophylaxis of children migraine: A double blind, placebo-control, crossover study. Cephalagia; 8(1): 1-6.
26. Ludvigsson J. 1974. Propranolol used in prophylaxis of migraine in children. Acta Neurol Scand; 50(1): 109-115.
27. Giliies D., Sills M., Forsythe I. 1986. Pizotifen (Sanomigran) in childhood migraine. A double blind trial. Eur. Neurol; 25(1): 32-35.
28. Bille B., Ludvigsson J., Sanner G. 1997. Prophylaxis of migraine in children. Headache; 17(2): 61-63.
29. Sorge F., Barone P., Steardo L., Romano MR. 1982. Amitriptylin as prophylaxis for migraine in children. Acta Neurol. (Napoli). 4(5): 362-367.
30. Heshey AD, Powers SW, Bewntti AL, Degrauw TJ. 2000. Effectiveness of amitryptiline in the prophylactic management of childhood headches. Headache 40(7): 539549.
31. Caruso JM., Brown WD., Exil G., Cascon GG. 2000. The efficacy of divalproaex sodium in the prophylactic treatment of children with migraine. Headache; 40(8): 672-676.
32. Serdaroglu G, Erhan E, Tekgul H. 2002. Sodium valproate prophylaxis in childhoold migraine. Headache; 42(8): 819-822.
33. Apostol G., Cady RK., Laforet GA. 2008. Divalproaex extended release in adolescent migraine prophylaxis: results of a randomized, double-blind, placebo-controlled study. Headache; 48(7): 1012-1025.
34. Unalp A., Uran N., Ozturk A. 2008. Comparison of the effectiveness of topitamate and sodium valproate in pediatric migraine. J. Child Neurol; 23(12): 1377-1381.
35. Hershey AD., Poers SW., Vockell AL, LeCates S., Kabbouche M. 2002.
Effectivenes of topiramate in the prevention of childhood headache.
Headache; 42(8): 810-818.
36. Campistol J., Campos J., Cass C., Herranz JL. 2005. Topiramate in the prophylactic treatment of migraine in children. J. Child Neurol; 2005:
20(3): 251-253.
37. Lakshmi CV., Singhi P., Malhi P., Ray M. 2007. Topiramate in the prophylaxis of pediatric migraine: a double-blind placebo-controlled trial. J. Child. Neurol; 22 (7): 829-835.
38. Miller GS., Efficacy and safety of levetiracetam prophylaxis in pediatric migraine. Hedache; 44(3): 238-243.
39. Palkanis A., Kring D., Meier L., Levetiracetam prophylaxis in pediatric migraine-an open label study. Hedache; 4793): 427-430.
40. Belman AL, Milazo M, Savatic M. 2001. Gabapentin for migraine prophylaxis in children. Ann neurol. 50 (suppl 1): 109-
41. O'Brien HL., Kabbouche MA., Hershey AD. 2012. Treating pediatric migraine: an expert opinion. Expert Opinion.Pharmacother (early online): 959-966.
ASSESSMENT AND MANAGEMENT OF PAIN IN CHILDREN Thomas Eko P
Neurology Department, Faculty of Medicine Udayana University/Sanglah Hospital
Denpasar, Bali
Abstrak
Asesmen dan managemen nyeri pada anak relatif lebih ribet dan sulit dibandingkan orang dewasa. Asesmen nyeri merupakan kunci utama untuk managemen nyeri yang efektif. Tanpa asesmen nyeri kita tidak dapat mengevaluasi efektivitas dari tindakan yang kita lakukan. Sayangnya sampai saat ini pasien anak yang menderita masih under-assessment dan under-treated sehingga mengakibatkan kualitas hidup pasien anak menurun.
Terdapat bermacam-macam cara untuk mengases nyeri pada anak tetapi belum ada alat asesmen yang bersifat universal dan tervalidasi. Asesmen nyeri pada anak tergantung pada umur. Pendekatan asesmen nyeri didasarlan pada 3 hal yaitu: skala nyeri subyektif (tergantung apa yang dikatakan oleh pasien anak), behavior dan indikator fisiologi. Alat asesmen yang banyak dipakai antara lain: CRIES scale untuk neonatus, FLACC untuk infant, Wong Baker dan Numeric Rating Scale untuk anak yang lebih besar.
Managemen nyeri pada anak pada prinsipnya dibagi menjadi non farmakologik dan farmakologik. Pendekatan non farmakologis merupakan lini pertama untuk managemen nyeri pada anak meliputi pemberian sukrose, masase, kompres panas/dingin, distraksi dan pemberian Air Susu Ibu (breast feeding), sedangkan terapi farmakologik sesuai dengan steppladder WHO dengan analgesik non opioid, analgesik adjuvan dan opioid.
SNORING IN CHILDREN: CAUSE, IMPACT, AND TREATMENT Desak Ketut Indrasari Utami
Neurology Department, Faculty of Medicine Udayana University/Sanglah Hospital
Denpasar, Bali
Abstract
Snoring is a phenomenon that is often encountered in everyday life both in adults and children. Snoring divided into rare (occasional snoring) and daily (habitual snoring). Occurrence rate of occasional snoring is about 26% -30%, while habitual snoring about 5% -7%. The most common cause of snoring in children aged 3-6 years due to differences in growth rates of tonsils and adenoid faster than jaw growth. Other causes are obesity and craniofacial anomalies. Habitual snoring in children should be cautioned as part of cardinal Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) symptoms. The OSAS can have an impact on daytime performance, cardiovascular disease, neurobehavior disturbance, insulin resistance, type 2 diabetes mellitus, metabolic syndrome, somatic growth disorders, decreased quality of life, and depression. Diagnosis of OSAS can be established based on complaints, physical examination, diagnostic investigation with Polysomnography (PSG) as the gold standard. Management of snoring by OSAS may include pharmacological therapy (decongestant drugs, intra nasal corticosteroids, mometasone furoate), surgical treatment (tonsiloadenoidectomy, reconstruction of craniofacial anomalies), Possitive Airway Pressure (PAP) therapy, weight loss, diet and exercise, and comorbid disease management.
Keywords: snoring, child, cause, impact, management
Abstrak
Tidur mendengkur (snoring) merupakan fenomena yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik pada dewasa maupun anak-anak.
Mendengkur ada yang jarang timbul (occasional snoring) dan ada yang timbul hampir setiap hari (habitual snoring). Angka kejadian occasional snoring lebih tinggi yaitu sekitar 26%-30%, sedangkan habitual snoring sekitar 5%-7%.
Penyebab snoring tersering pada anak usia 3-6 tahun karena adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan tonsil dan adenoid yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan rahang. Penyebab lainnya adalah obesitas dan anomali kraniofasal. Habitual snoring pada anak patut diwaspadai sebagai bagian dari gejala kardinal Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS). Bahaya OSAS dapat berdampak pada performa di siang hari, munculnya penyakit kardiovaskuler,
dampak neurobehaviour, resistensi insulin, Diabetes Melitus tipe 2, sindroma metabolik, gangguan pertumbuhan somatik, menurunnya kualitas hidup, serta depresi. Diagnosis OSAS dapat ditegakkan berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang maupun dengan alat Polysomnography (PSG) sebagai standar emasnya. Penatalaksanaan snoring akibat OSAS dapat berupa terapi farmakologi (obat-obat dekongestan, kortikosteroid intra nasal, mometasone furoate), terapi pembedahan (tonsiloadenoidektomi, rekonstruksi anomali kraniofasial), terapi Possitive Airway Pressure (PAP), penurunan berat badan, diet dan olah raga, serta penanganan penyakit komorbid.
Kata kunci: mendengkur, anak, penyebab, dampak, penatalaksanaan 1. Pendahuluan
Mendengkur atau mengorok merupakan hasil dari getaran atap lunak rongga mulut (palatum molle) dan uvula yang meimbulkan suara nyaring yang keluar dari saluran respiratori.1 Tidur mendengkur merupakan penomena yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidur mendengkur dapat terjadi pada laki-laki, perempuan, juga pada orang tua maupun anak-anak. Suara dengkuran seringkali mengganggu orang di sekitarnya. Penyebab tidur mendengkur pada dewasa dan anak-anak adalah berbeda, dan memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Seringkali mendengkur atau mengorok pada anak dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa ditemui dan dianggap sesuatu hal yang menurun dari orangtuanya. Mendengkur dapat menjadi salah satu gejala yang diyakini dapat menimbulkan masalah pernapasan di kemudian hari sehingga perlu diwaspadai. Kewaspadaan terhadap gejala mendengkur pada anak di beberapa negara maju cukup tinggi, tetapi di Indonesia masih kurang diperhatikan.1,2 Mendengkur ada yang jarang timbul (occasional snoring) dan ada yang timbul hampir setiap hari (habitual snoring). Angka kejadian occasional snoring lebih tinggi yaitu sekitar 26%-30%, sedangkan habitual snoring sekitar 5%-7%.2,3 Bila terdapat habitual snoring pada anak, maka perlu ditindaklanjuti karena hal tersebut dapat merupakan gejala atau dapat berkembang menjadi OSAS (Obstructive Sleep Apnea Syndrome), yang kelak dapat menyebabkan masalah serius pada anak.1 Spektrum mendengkur pada anak mulai ringan sampai berat adalah primary snoring (PS), upper airway resistance syndrome (UARS), obstructive hypoventilation (OH), dan OSAS. Perbedaan spektrum tersebut didasarkan pada patofisiologi dan gejala yang terjadi akibat mendengkur.2 Istilah primary snoring (mendengkur primer) digunakan untuk menggambarkan anak dengan kebiasaan mendengkur yang tidak berkaitan dengan apnea obstruktif, hipoksia atau hipoventilasi.4,5
2 Penyebab Snoring Pada Anak
Lebih cepatnya perkembangan tonsil dan adenoid dibandingkan dengan perkembangan rongga mulut pada anak usia 3-6 tahun menyebabkan kejadian mendengkur adalah tertinggi di usia tersebut. Perbedaan percepatan pertumbuhan tersebut mengakibatkan adanya sumbatan atau penyempitan jalan napas.3,6 Ukuran adenoid dan tonsil tidak berbanding lurus dengan berat ringannya OSAS. Hipertrofi adenoid dan tonsil dapat juga menyebabkan penyulit pada anak dengan kelainan dasar tulang. Walaupun pada sebagian besar anak OSAS membaik setelah dilakukan adenotonsilektomi, namun sebagian kecil akan menetap setelah dioperasi. Pada suatu penelitian sebagian kecil anak dengan OSAS yang telah berhasil diatasi dengan operasi adenotonsilektomi kemudian mengalami rekurensi gejalanya selama masa remaja.7 Pembesaran jaringan limfadenoid ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti paparan iritan lingkungan, seperti asap rokok, infeksi, rinitis alergi, dan asma.8 Faktor genetik juga kemungkinan berpengaruh pada pusat ventilasi, anatomi, atau keduanya, berdasarkan hasil studi kohort.8,9
Penyebab lain snoring adalah anak dengan anomali kraniofasial yang mengalami penyempitan struktur saluran nafas yang nyata (mikrognasi dan midface hipoplasia) akan mengalami OSAS. Pada anak dengan disproporsi kraniofasial dapat menyebabkan sumbatan saluran nafas meskipun tanpa disertai hipertrofi adenoid.10
Obesitas merupakan penyebab OSAS yang lain. Pada dewasa, obesitas merupakan penyebab utama OSAS sedangkan pada anak tidak demikian. Terjadinya OSAS pada obesitas karena adanya penyempitan saluran nafas bagian atas akibat penimbunan jaringan lemak di dalam otot dan jaringan lunak di sekitar saluran nafas, maupun kompresi eksternal leher dan rahang.10,11 Penentuan obesitas dapat dilakukan dengan cara menghitung body mass index (BMI) dan pengukuran lingkar leher. Untuk penentuan OSAS, yang lebih berperan adalah lingkar leher dibandingkan dengan BMI. Telah diketahui bahwa lingkar leher yang besar atau obesitas pada daerah atas berhubungan dengan peningkatan penyakit kardiovaskular, demikian pula diduga berhubungan dengan mendengkur dan OSAS. Diduga bahwa penumpukan lemak pada daerah leher dapat membuat saluran nafas atas menjadi lebih sempit.
Kemungkinan lain adalah pada pasien obesitas dengan leher yang besar mempunyai velofarings yang lebih mudah mengalami kolaps sehingga dapat mempermudah terjadinya sumbatan saluran nafas atas pada waktu tidur.10 Gambar 1. Turbulensi aliran udara yang disebabkan oleh hipertropi tonsilar dan jaringan adenoid.11
3. Dampak Snoring Akibat Osa Pada Anak 3.1 Dampak Neurobehavior
Salah satu dampak OSA pada anak adalah gangguan perilaku dan neurokognitif. Selain itu, juga dapat menyebabkan hiperaktivitas, gangguan perhatian, dan defisit kognitif. Mekanisme pasti hal ini belum dibuktikan. Namun, kemungkinan besar disebabkan karena fragmentasi tidur dan hipoksia episodik selama tidur menyebabkan perubahan substrat neurokimiawi korteks prefrontal yang berujung pada disfungsi dan hilangnya sel neuron.8,12
3.2 Mengantuk Berlebih pada Siang Hari
Pada 13-20% anak dengan OSA didapatkan mengantuk berlebih pada siang hari atau excessive daytime sleepiness (EDS). Hal ini sangat mengganggu kegiatan tumbuh kembang anak saat siang hari. Mengantuk berlebih pada siang hari mengganggu aktivitas belajar dan bermain di sekolah.8,13
3.3 Kualitas Hidup dan Depresi
Obstruktive Sleep Apnea yang dibarengi dengan obesitas dapat menurunkan kualitas hidup anak. Terganggunya tidur akan meningkatkan kelelahan yang menyebabkan iritabilitas, gangguan konsentrasi, mood depresif, dan penurunan minat pada aktivitas harian. Penurunan kualitas hidup harian berpengaruh pada hubungan anak dengan keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan antara OSA dengan kualitas hidup harian pasien.8,14
3.4 Dampak Kardiovaskuler
OSA pada anak dapat menyebabkan kelainan kardiovaskuler seperti yang terjadi pula pada dewasa. Pada anak dengan OSA ditemukan perubahan pengaturan tekanan darah, hipertensi sistemik, dan perubahan ukuran ventrikel kiri. Perubahan ini akibat peningkatan aktivitas dan reaktivitas simpatis yang terus berkembang seiring OSA.8,15
Pada OSA, terjadi respons inflamasi yang ditandai peningkatan nilai C Reactive Protein (CRP). Respons inflamasi pada pembuluh darah kecil pasien menyebabkan disfungsi endotel yang memperburuk kualitas kardiovaskuler pasien. Hipoksia yang terjadi saat anak tidur juga meningkatkan tekanan arteri pulmonal yang menyebabkan disfungsi ventrikel kanan.8,15
Pada OSA, terjadi respons inflamasi yang ditandai peningkatan nilai C Reactive Protein (CRP). Respons inflamasi pada pembuluh darah kecil pasien menyebabkan disfungsi endotel yang memperburuk kualitas kardiovaskuler pasien. Hipoksia yang terjadi saat anak tidur juga meningkatkan tekanan arteri pulmonal yang menyebabkan disfungsi ventrikel kanan.8,15