• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Anderson M pada penderita epilepsi usia < 18 tahun menemukan 1/3 anak mengalami efek samping obat selama terapi.13 Obat yang paling banyak digunakan adalah carbamazepine, asam valproate dan Lamotrigin.

1 dari 10 anak dihentikan karena rash yang disebabkan carbamazepine dan lamotrigine. Penelitian lain menunjukan penghentian obat dengan jumlah yang sama pada pemakaian carbamazepine dan asam valproate, dan ada juga yang menemukan pada carbamazepine dan phenobarbital. Hampir semua obat antiepilepsi mempunyai efektifitas yang sama dalam mengontrol bangkitan, tapi berbeda dalam hal keamanannya.

Sejak tahun 1970, monoterapi menjadi penatalaksanaan yang standar untuk menangani epilepsi , karena politerapi akan meningkatkan toksisitas, resiko efek samping dan interaksi obat terutama pada anak.12, 13 OAE sebagai monoterapi efektif pada 60-70% kasus.13. Monoterapi dengan OAE lama dapat membebaskan kejang pada 80% kasus.

Beberapa OAE mempunyai jalur pharmakokinetik yang sama, misalnya induksi dan inhibisi enzim menyebabkan masalah pada saat dikombinasikan.

Misalnya kombinasi asam valproate dan lamotrigine. Asam valproat akan menginhibisi lamotrigine glucuronidasi, sehingga meningkatkan konsentrasi dalam plasma dan toksisitas. OAE juga ada yang mempunyai mekanisme pharmakodinamik yang sama, sehingga akan menambah efek dan meningkatkan efek samping obat. Disarankan kombinasi obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.14

Politerapi akan meningkatkan kemungkinan efek samping obat pada anak. Pemberian politerapi hanya bila dosis terapeutik maksimal dari monoterapi tidak efektif. Pada pemberian OAE, tenaga medis dan orang tua harus memonitor adanya efek samping obat , terutama masalah perilaku dan somnolen.13

7. Kesimpulan

Penanganan epilepsi pada anak memerlukan perhatian khusus karena anak sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat beragam obat yang tersedia mulai dari OAE lama, generasi ke 2 dan generasi ke 3, tetapi pengobatan harus dimulai dengan OAE konvensional (lama).

Pemberian obat diusahakan monoterapi untuk menghindari interaksi antar obat yang akan meningkatkan efek samping obat dan toksisitas. OAE generasi baru, bisa diberikan dalam bentuk add on atau adjunctive pada kasus epilepsi refrakter.

Kepustakaan

1. Nice Technology Appraisal. The clinical effectiveness and cost effectiveness of newer drugs for epilepsi in children. Nice Technology Appraisal,. 2004;79.

2. Lyons B. Use of newer antiepileptic drugs in children : How NICE are we ? www.progressnp.com.

3. Ngugi A. Estimation of the burden of active and life time epilepsi: a meta analytic approach. Epilepsia. 2010;51:883-90.

4. Cardarelli W. The burden of epilepsi to patient and payers. Am J Manag Care.

2010;16:331-6.

5. Olesen J. The economic cost of brain disorder in Europe. Eur J Neurol.

2012;19:155-62.

6. Bellanti F. Integration of PKPD Relationship Into Benefit Risk Analysis. Br J Clin Pharmacol. 2015;80:979-91.

7. Dijkman S. Review Pharmacotherapy in pediatrc epilepsi : from trial and error to rational drug and dose selection- along way to go. Expert opinion on drug metabolism toxicology. 2016;12(10):1143-56.

8. Egunsola O. Anti epileptic drug utilisation in paediatrics : a systematic review.

BMJ Paediatrics open 2017. 2017;1.

9. Aneja S. Newer Anti epileptic drug. Review article. Indian Pediatrics.

2013;50(15):1033-40.

10.Appleton R. Drug treatment in Paediatric epilepsi.

11. Guerrini R. Safety and Tolerability of Antiepileptic Drug Treatment in Children with Epilepsi. Drug Saf. 2012;35(7):519-33.

12.Patsalos P. New antiepileptic drugs. AnnClin Biochem. 1999;36:10-9.

13.Anderson M. A prospective study of adverse drug reactions to antiepileptic drugs in children. BMJ Open. 2015;5.

14. St Louis E. Truly rational polytherapy : maximizing efficacy and minimizing drug interaction, drug load and adverse effect. Curr Neuropharmacol.

2009;7:96-105.

HOW TO DIFFERENTIATE A SEIZURE OR A MOVEMENT DISORDER IN CHILDREN Anna Marita Gelgel

Neurology Department, Medical Faculty Udayana University/Sanglah Hospital Denpasar, Bali

Neuropediatry and Epilepsy Study groups of Perdossi Denpasar

Abstract

A seizure is an abnormal synchronous burst of neuronal activity, with epilepsy defined as a propensity to having seizures. Epilepsy is differentiated from movement disorders by the presence of characteristic ictal and interictal discharges on electroencephalography (EEG) and events may evolve into or associated with generalized tonic-clonic or other seizures.

Cortical involvement is a key factor in epileptic seizures, with the disruption between cortical and subcortical pathways influencing the semiology of the events. Altered functioning of subcortical structures is primarily implicated in generating paroxysmal movement disorders, although hypersynchronous discharges have not been disproved as the basis for PMD.1

A movement disorder is a group of conditions characterized by alteration in normal motility, posture or tone, alone or in combination. Usually associated with abnormalities of the basal ganglia and their connections and occur in several different neurological disorders. Abnormal movements can be the main or initial features of disease or they can occur as a late manifestation.2

Sometimes it is difficult to differentiate other paroxysmal events such as epilepsy from a movement disorder. Brief paroxysmal stereotyped events are the cardinal feature in both epilepsy and paroxysmal movement disorders.3 References

1. Peeraully T., Kaji R., Tan EK. 2014. The borderland between epilepsy and movement disorders. In: Jankovic J., Poewe W. eds. Movement disorders in neurologic and systemic disease. Cambridge UnivPress.

333-47

2. Mauricio R. Delgado MR., Albright AL. 2003. Movement Disorders in Children: Definitions, Classifications, and Grading Systems. J Child Neurol. 18: S1–S8

3. Fenichel GM. 2009. Movement disorders. In: Clinical Pediatric Neurology. A sign and symptoms approach. 6th ed. Saunders Elsevier, Philadelphia. 293-311

BAGAIMANA MEMBEDAKAN KEJANG DENGAN GANGGUAN GERAK PADA ANAK

Anna Marita Gelgel

Pokdi Saraf Anak dan Epilepsi, Perdossi Denpasar

Departemen/KSM Neurologi FK. UNUD/RSUP. Sanglah Denpasar, Bali

Pendahuluan

Suatu bangkitan merupakan suatu letupan (burst) aktivitas neuronal sinkron yang abnormal, bila berulang, maka akan disebut sebagai bangkitan epileptik.

Epilepsi dibedakan dari gangguan gerak karena adanya lepas muatan listrik iktal dan interiktal khas pada elektroensefalografi (EEG) dan kejadian tersebut dapat menyertai bangkitan umum tonik klonik atau bangkitan yang lain.

Keterlibatan korteks merupakan faktor kunci dari bangkitan epileptik, dengan adanya disrupsi diantara jaras korteks dan subkorteks yang mempengaruhi semiologi bangkitan. Perubahan fungsi struktur subkorteks secara primer berimplikasi terhadap generator gangguan gerak paroksismal, meski lepas muatan hipersinkron tidak dapat dipungkiri sebagai dasar terjadinya gangguan gerak paroksismal (paroxysmal movement disorder /PMD).1

Sementara itu, gangguan gerak merupakan suatu kelompok keadaan yang ditandai oleh perubahan dalam motilitas, postur, baik secara sendirian atau dalam bentuk kombinasi keduanya. Biasanya disebabkan oleh abnormalitas ganglia basalis dan koneksinya yang timbul dalam beberapa gangguan neurologi yang berbeda. Gerakan abnormal dapat menjadi gambaran utama, gambaran awal dari sebuah penyakit atau dapat juga menjadi manifestasi akhir dari penyakit itu sendiri.2

Kadang-kadang sulit membedakan kejadian paroksismal lainnya seperti epilepsi dengan gangguan gerak karena kejadian stereotipik paroksismal singkat merupakan gambaran kardinal pada kedua gangguan baik epilepsi maupun gangguan gerak.3

Angka kejadian

Epilepsi didapatkan sekitar 0,5%-1% dalam populasi anak dan merupakan suatu keadaan neurologis kronik paling sering. Namun data untuk

seberapa banyak kasus salah diagnosis antara epilepsi dianggap sebagai gangguan gerak atau sebaliknya pada anak tidaklah diketahui secara pasti namun dari hasil penelitian di Inggris pada kasus dewasa, dikatakan bahwa kesalahan tersebut berkisar antara 20-30%. Kasus yang sama pada anak mengacu pada data dewasa tersebut dengan perkiraan lebih buruk lagi mengingat banyak kasus gangguan gerak pada anak disalah diagnosiskan sebagai epilepsi, begitu juga sebaliknya.4,5

Etiologi

Bangkitan epileptik dan gangguan gerak sering dikatakan memiliki penyebab yang berbeda, namun ada tumpang tindih dimana dari sudut semiologi saja pun tidak cukup untuk membedakan keduanya yang dapat bermanifestasi dalam beberapa kelainan tertentu, khususnya dalam channelopathies. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam beberapa kasus ada mekanisme genetik yang sama sebagai dasar kelainan.

Mekanisme kejadian

Berbagai mekanisme penyebab timbulnya epilepsi telah disampaikan oleh para ahli seperti adanya defek gen pada kasus mutasi kanal ion, perubahan fungsi sinaptik dan bagian intrinsik neuronal, mekanisme neurokimia yang menyebabkan terjadinya peningkatan eksitabilitas serta sinkronisasi sel neuron serta ketidakseimbangan antara system neurotransmitter glutamate dan gamma-aminobutyric acid memegang peranan penting dalam epileptogenesis.6

Jaras dopaminergic dalam otak, termasuk mesokortikolimbik dan jaras nigrostriatal, mempengaruhi regio kortikal yang terlibat dalam epilepsi baik secara langsung ataupun tidak langsung melalui proyeksi talamokortikal.

Observasi pada bangkitan fokal dengan versi kepala (head version) atau distonia iktal jarang menjadi umum, sebagai bukti tambahan dari sejumlah pemeriksaan molekular, imajing, studi neuromodulatorik menyatakan bahwa ganglia basalis berpengaruh dalam efek inhibitorik pada propagasi bangkitan. Terdapat bukti bahwa agonis dopamin menurunkan bangkitan, sementara neuroleptik meningkatkan, menurunkan aktivitas substansia nigra pars reticula, menekan bangkitan umum.

Gangguan metabolism atau transport monoamine neurotransmitters atau pterins (co-enzymes dalam jaras sintesis dopamin ditandai oleh epilepsi, dimana gambaran ekstrapiramidalis adalah tremor, distonia dan koreoatetosis.

Semua bukti ini menunjukkan peran sistem dopaminergik dalam interupsi propagasi bangkitan dengan peran ganglia basalis sebagai struktur gerbang (gating).7

Gambaran Klinik dan penanganan.

Dokumen terkait