Karena kekuatiran itu begitu akrab dengan kita, maka mungkin saja kita sulit untuk mendefinisikan secara tepat kebiasaan yang menyusahkan itu. Pergumulan kita persis sama seperti yang dialami oleh para ahli dalam membedakan antara kekuatiran dan kecemasan, kekuatiran dan ketakutan, kekuatiran dan kepanikan, kekuatiran dan keprihatinan, atau kekuatiran dan perencanaan yang masuk akal -- dalam pengertian umum. Pendekatan yang paling umum dari para peneliti adalah menempatkan
kekuatiran sebagai sisi kognitif (pikiran) dari kecemasan. Kecemasan mempunyai gejala fisiologis tambahan, yakni ketegangan urat-urat dan denyut jantung yang terasa lebih cepat. Pendekatan kepada definisi kekuatiran seperti berkaitan dengan konsep kecemasan itu sendiri. Bagaimanapun juga, konsep kekuatiran itu tidak membuang begitu saja arti kecemasan, karena sebenarnya pengertian kecemasan itu lebih luas dan terkait dengan berbagai faktor lain dari penderitaan batin manusia. Namun, para ahli tidak sepakat ketika membandingkan kekuatiran dengan ketakutan. Beberapa teoritisi menerima bahwa ketakutan dan kecemasan/kekuatiran merupakan saudara dekat dan di antara keduanya tidak ada perbedaan yang berarti. Sedangkan beberapa ahli lain melihat bahwa ketakutan atau kepanikan merupakan perasaan yang sama sekali berbeda. Perdebatan tentang hal itu tidak berhubungan langsung dengan yang kita bahas saat ini sehingga biarkan saja mereka terus berdebat.
Dr. Thomas Borkovec, seorang peneliti di Penn State University, yang diberi gelar "Dr. Kuatir" karena penelitiannya yang luas tentang kekuatiran, membantu kita dalam memberikan definisi yang lengkap dan sangat berguna bagi kita. Ia berpendapat, "Kekuatiran merupakan serangkaian pikiran dan gambaran-gambaran yang
menghasilkan perasaan-perasaan negatif. Pikiran-pikiran tersebut tidak dapat dikontrol, dan berkaitan dengan suatu masalah tertentu yang tidak pasti. Biasanya, para penguatir yakin bahwa kemungkinan besar akan terjadi satu hal atau lebih yang bersifat negatif." Jikalau Anda sendiri pernah mengkuatirkan tentang sesuatu hal, mungkin Anda dapat membandingkan pengalaman Anda sendiri dengan definisi tersebut, apakah cocok atau tidak.
117
Definisi di atas mengemukakan beberapa ciri khas dari kekuatiran.
1. Kekuatiran berhubungan dengan masa yang akan datang. Ketika kita kuatir, kita sebenarnya sedang mengantisipasi suatu kejadian yang akan mengancam kita. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa mereka kuatir tentang sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Tetapi, sesungguhnya, isi dari kekuatiran itu berhubungan dengan sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan, sebagai akibat dari kesalahan atau perbuatan yang keliru di masa lalu. 2. Kekuatiran merupakan suatu bentuk perhatian yang berlebihan terhadap diri
sendiri. Beberapa penguatir mungkin mengatakan bahwa kekuatiran mereka berkaitan dengan orang lain, tetapi sebenarnya ciri utama dari kekuatiran adalah bahwa pikiran- pikiran yang mengganggu tersebut biasanya bersifat pribadi dan tidak dibicarakan secara umum. Merasa sendirian atau kesepian merupakan salah satu gejala khas yang dialami oleh sebagian besar penderita kekuatiran. 3. Ungkapan lain yang dapat dipakai untuk menjelaskan kekuatiran adalah suatu
situasi dimana penderita terus-menerus merasa gelisah tentang masa depan. 4. Hilangnya daya tahan atau tingkat toleransi penderita terhadap stres. Makin
"sehat" orang yang menghadapi stres, makin dapat menyesuaikan diri dengan tekanan mental tersebut. Tetapi, para penguatir tampaknya mempunyai gejala yang sama, setiap kali mereka menghadapi situasi yang sangat menekan batin, mereka biasanya sangat terkejut dan terganggu, mereka tidak dapat
menyesuaikan diri terhadap situasi tersebut.
5. Akhirnya, para penguatir terombang-ambing oleh berbagai pikiran yang sangat mengerikan. Namun, mereka tidak mampu menghentikan pikiran yang kacau tersebut. Para penguatir seringkali tidak mampu mengungkapkan secara jelas akibat-akibat buruk manakah yang sungguh-sungguh akan terjadi.
Penguatir mendramatisir keadaan. Ini berarti bahwa mereka ahli dalam membayangkan hal-hal yang paling buruk yang akan terjadi di suatu waktu nanti. Orang lain sering menganggap bahwa hal-hal yang dikuatirkan itu sebenarnya tidak perlu dikuatirkan; namun, pasti para penguatir tidak setuju. Ketika penderita kekuatiran menjelaskan tentang hal-hal mengerikan yang akan terjadi di masa depan, kebanyakan keprihatinan mereka itu berkisar pada masalah-masalah sosial. Mereka takut akan menjadi bahan ejekan, dipermalukan, dihina, atau hal-hal lain yang merupakan perwujudan
ketidaksenangan masyarakat. Penderita sangat lihai dalam melihat suatu ancaman, kemudian mereka sungguh-sungguh membayang-bayangkan arti ancaman itu bagi mereka.
Apakah ada kekuatiran yang berguna? Atau, apakah semua kekuatiran itu pasti buruk buat kita? Sama seperti kecemasan, kekuatiran dalam tingkat tertentu, misalnya yang tidak terlalu berat mungkin justru berguna bagi kita dan tidak mengganggu kehidupan kita. Sebagai contoh, seseorang yang sedang menghadapi ujian mungkin akan
mengerjakan ujian itu secara lebih baik apabila kekuatirannya berada pada tingkat yang rendah. Namun, kita biasanya menggunakan istilah lain ketika berbicara tentang
kekuatiran ringan tadi. Kita lebih suka memperhalusnya dengan istilah-istilah yang positif, misalnya sebagai "masalah", "kekuatiran yang membangun", "solusi masalah", atau bahkan "persiapan menangani masalah"! Sebagai suatu gambaran demografis,
118
dapat dikemukakan bahwa 15% dari penduduk merupakan penderita kronis, 30% dari penduduk bukan penderita kekuatiran, serta sisanya termasuk dalam keadaan di antara keduanya.
Bagaimana kalau kekuatiran itu dibandingkan dengan penyakit- penyakit mental
lainnya? Banyak peneliti mulai mengusulkan bahwa kekuatiran/kecemasan dan depresi mempunyai dasar yang sama, sehingga keduanya lebih banyak memiliki kesamaannya daripada yang kita bayangkan. Indikasi akan adanya kesamaan di antara keduanya tampak dengan adanya kenyataan bahwa pemberian obat antidepresan sering sangat berguna bagi pasien yang menderita kecemasan. Para ahli klinis juga mengamati bahwa semua pasien depresi pada tingkat tertentu menunjukkan gejala-gejala
kecemasan, tetapi tidak berarti bahwa semua klien yang cemas secara klinis menderita depresi. Mungkin cara terbaik untuk memahami kemungkinan adanya hubungan antara kekuatiran/kecemasan dengan depresi adalah dengan memahami tiga tahap
penderitaan batin. Pada tahap yang paling ringan, tidak terlalu merasa tidak berdaya; pada tahap kedua, kekuatiran yang lebih patologis (dimana orang datang kepada Anda untuk meminta pelayanan konseling), penderita merasa sangat tidak berdaya;
sedangkan pada tahap ketiga depresi, pasien mempunyai perasaan yang kuat tentang tidak adanya harapan sama sekali. Pada tingkat pertama dan kedua dari kecemasan atau kekuatiran, penderita masih berusaha untuk mengatasinya, namun pada tahap depresif mereka telah kehilangan harapan sama sekali.
Pandangan yang dikemukakan akhir-akhir ini mengenai hubungan antara
kecemasan/kekuatiran dan depresi digambarkan dalam kehidupan dua tokoh utama dari sebuah sandiwara berjudul Pilgrims Progress, yang ditulis oleh John Bunyan. Ketika orang Kristen dan orang-orang senegaranya sedang menyerang Istana
Keraguan dan membunuh penguasanya Raksasa Putus Asa, kemudian mereka dapat membebaskan dua perintis tahanan, yakni Pak Murung dan anak perempuannya, Bu Takut (Bunyan, 1675). Kondisi tersebut mungkin juga terjadi dalam kehidupan keluarga, bahkan 300 tahun yang lalu.
Bahkan, penelitian menemukan bahwa orang-orang tertentu mungkin mewarisi sifat kerentanan tertentu sehingga mereka cenderung menjadi penguatir yang selalu cemas. Kekuatiran juga mempunyai ciri lain. Kekuatiran dapat saja menimbulkan persoalan kesehatan lainnya. Kekuatiran itu dapat menjadi lebih rumit lagi, karena adanya kenyataan bahwa kekuatiran itu melingkar-lingkar naik, seperti spiral; yaitu, ketika kekuatiran itu terus berlangsung, maka semua usaha pertolongan justru membuatnya semakin ruwet. Kekuatiran sebenarnya merupakan sebuah raksasa menakutkan, yang kita ciptakan sendiri. Penelitian membuktikan bahwa para penguatir pada umumnya berpandangan sempit. Mereka cenderung hanya memusatkan perhatian pada
rangsangan (stimuli) yang dapat memicu munculnya kebiasaan merasa kuatir tentang sesuatu, yakni tanda-tanda akan adanya ancaman tertentu di masa depan. Mereka tidak menaruh perhatian kepada hal- hal lain yang ada di sekitarnya. Para penguatir kelas berat akan memikirkan pemicu-pemicu itu selama bertahun-tahun. Kekuatiran kelas berat sering muncul sebagai kekuatiran yang kronis. Kekuatiran kadang memang begitu kronis. Beberapa dokter mengusulkan agar kekuatiran yang demikian, lebih baik dianggap sebagai salah satu gejala kelainan kepribadian (pola kehidupan yang keliru
119
yang bersifat tetap) daripada memandangnya sebagai salah satu gejala kelainan yang bersifat sementara.
Akhirnya, di samping kekuatiran menjadi gejala dari gangguan kecemasan umum, kekuatiran juga merupakan gejala dari berbagai kondisi kejiwaaan yang lain. Kita dapat melihat kekuatiran sebagai gejala utama dari berbagai kelainan dalam penyesuaian diri, misalnya kelainan kecemasan yang berlebihan, dan kelainan kecemasan akan
perceraian atau perpisahan. Sumber:
Judul Buku: Kuatir
Penulis : James R. Beck dan David T. Moore Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000 Halaman : 32 - 39
120